Kamis, Desember 31, 2009

Peran Sebagai Ibu

Selalu ada perbedaan pendapat ketika mulai bicara lebih baik mana working mom dibanding full time mom. Aku pribadi sangat menghormati dan salut kepada full time mom, karena aku tau beratnya menjadi full time mom. Sebagai working mom....aku masih sempat berhaha-hihi dengan teman-teman kantor, nyelip ke mall buat liat-liat doang saat jam istirahat kantor..baca buku sepuasnya ketika loading pekerjaan cukup ringan...(ditambah main game juga...).

Coba bayangkan jadwal full time mom, pagi mesti nyiapin sarapan dan bekal buat anak dan suami, terus anterin anak sekolah, memulai pekerjaan domestik di rumah, menyusun menu makan siang dan makan malam sekaligus belanja dan memasaknya. Setelah masak selesai, mesti jemput anak pulang sekolah...nganterin lagi mereka kursus ini itu, pekerjaan domestik lagi....siapin makan malam dan nunggu suami pulang sambil menemani anak-anak belajar. OK, mungkin ada asisten di rumah yang bantuin...tapi tetap saja kontrol utama ada pada sang ibu.

Maka tak sekalipun ada pikiran merendahkan terlintas di otakku tentang full time mom. Aku justru kawatir bahwa aku ga akan sanggup menjalaninya jika itu jadi pilihan utamaku....

Tapi bukan berarti walaupun aku bekerja, aku meletakkan prioritas peranku sebagai ibu dibawah pekerjaanku. Justru peran sebagai ibu adalah prioritas utamaku. Aku lebih suka menjawab pertanyaan tentang anak-anakku daripada pekerjaanku...aku lebih suka menjawab apa yang aku lakukan dengan pendidikan anak-anakku daripada pendidikanku sendiri.

Dan aku juga bisa menjawab dengan yakin bahwa walaupun aku berkerja dengan baik, anak-anakku tetap dibawah pengasuhanku...bukan pengasuhan asisten rumah tangga. Karena aku sendiri yang meyiapkan sarapan dan bekal mereka di pagi hari, karena aku dan suamiku sendiri yang mengantar jemput mereka sekolah, karena kami selalu berdiskusi tentang perasaan dan aktivitas harian kami selama perjalanan di mobil menuju rumah, karena aku sendiri juga yang menemani mereka belajar menjelang evaluasi sekolah. Aku menyediakan waktu yang cukup dan berkualitas untuk anak-anakku. Aku tidak percaya hanya dengan quality time akan cukup buat anak-anakku. Aku percaya quantity sama pentingnya dengan quality. Semakin banyak waktu yang berkualitas kita habiskan dengan anak-anak kita maka akan semakin baik hasil yang bisa kita harapkan dari anak-anak kita.

Jadi, prinsip ini juga melatarbelakangi proses pencarian rumah tinggal buat kami sekeluarga. Dimanapun nantinya kami tinggal, aku tetap menyekolahkan anak-anakku di Istiqlal agar aku tetap punya quantity dan quality time itu tadi....artinya nyari rumah ya jangan jauh-jauh dari tempat kerja dan sekolah anak-anak...

Banyak yang berprinsip seperti aku ini di kantorku...makanya kami jadi tergantung dengan taman penitipan anak (TPA) di kantor sebagai tempat anak-anak kami menghabiskan waktu setelah sekolah dan menunggu jam kerja kami selesai. Maka ketika ada kebijakan di TPA tentang tidak bolehnya anak berumur 5 tahun ke atas dititipkan di kantor di susul dengan surat resmi yang menyatakan bahwa kami hanya bisa menitipkan anak-anak kami sampai dengan 31 Desember 2009....kami jadi kelabakan dan benar-benar tidak tau apa yang harus kami lakukan untuk mengatasi masalah kami.

Apakah ini saatnya anak-anak harus pulang ke rumah dan menjadi anak asisten kami? iya bagi yang ada asisten di rumah, bagaimana dengan yang tidak punya? Apakah harus dibawa ke kantor dengan menahan perasaan sungkan pada teman-teman kantor lainnya karena tiap hari harus membawa anak-anak? OK, seminggu, dua minggu mungkin mereka masih bisa menahan dan mengajak bercanda anak-anak kami...bagaimana jika tiap hari begini. Karena suatu kali aku pernah pasang status FB tentang doa semoga esok harinya, asistenku benar-benar balik ke rumahku setelah cuti hampir 3 minggu dan ada satu temen yang komentar bahwa jika bertahun-tahun melihat ibu yang membawa anaknya ke kantor membuat dia eneg dan terganggu....aku kan ga mau seperti itu....dianggap menganggu oleh yang lain-lainnya....

Waktu yang diberikan TPA pun terasa terlalu mepet karena kami hanya punya kurang dari 4 minggu untuk menyiapkan pengganti TPA, apapun bentuknya...dan seminggu pertama berlalu tanpa ada ide apapun mampir ke otakku. Mengantar anak-anak pulang denga sopir sudah pernah aku lakukan ketika aku diklat 6 minggu dulu dan hasilnya..sungguh-sungguh berat di ongkos dan anak-anak menjadi tidak terkendali dalam bermain dan menonton TV.

Aku dan suami sempat berkeliling daerah cempaka putih dan utan kayu untuk cari rumah kontrakan...tapi tetap saja ga semudah itu mencari tempat tinggal yang sesuai dengan selera dan kantong kami.

Pada saat yang hampir sama, tiba-tiba aku terpikir tentang TK dan day care yang ada di masjid dekat kantor suamiku. Kuminta suamiku kesana untuk tanya-tanya dan ternyata, menurut pengurus masjid itu, walau TK dan day care yang dulu itu sudah ditutp, saat ini mereka sedang menyiapkan program kerja untuk 2010 dan day care bisa menjadi salah satunya. Maka suamiku meminta aku untuk menindaklanjuti diskusi itu dengan mengunjungi sendiri masjid itu dengan ibu-ibu lain yang berprinsip sama denganku. Singkat kata, setelah kami bertiga sempat sama-sama bingung tentang mau dikemanakan anak-anak kami ini, Day Care di Masjid At-Taibin yang akhirnya bernama Ina Day Care ini disetujui oleh BPPH Masjid untuk diselenggarakan mulai awal tahun depan yaitu senin depan...pas saat anak-anak kami tidak bisa dititipkan lagi di TPA kantor....

Oooow...senangnya...hari ini adalah keputusan final setelah kami berdiskusi tentang tarif yang mesti kami bayar untuk jasa day care ini. Sempat membuat kami berhitung-hitung dengan tawaran awal yang mereka ajukan, akhirnya tawaran akhir kami mereka terima dengan menaikkan uang pangkal untuk biaya mereka menyiapkan sarana buat anak-anak kami agar tetap terkesan homy...tapi dengan biaya bulanan yang sama dengan yang biasa kami bayarkan di TPA kantor.

Dengan demikian sampai saat ini, kami-kami ini tetap bisa jadi full time mom and worker at the same time....

Read More..

Senin, Desember 28, 2009

Little Woman

Minggu lalu Gramedia Grand Indonesia diskon 30% lagi…bahkan 35% untuk pemakai BNI. Susah sekali mencari waktu yang pas agar bisa memilih buku dengan leluasa, karena seperti biasa..penduduk Jakarta akan kalap kalau Gramedia diskon 30% begini. Ini bikin aku bingung, sebenarnya…penduduk Jakarta ini sebegitu sukanya membaca…atau sebegitu maniaknya ama diskon? Beberapa bulan lalu ada midnight sale di Puri Indah Mall, dan karena lokasinya yang dekat tempat tinggalku, aku pun ikutan datang….ternyata…semua orang juga berpikir demikian, sampai jalan-jalan di sekitar mall itu penuh dengan 2 lajur parkiran mobil… Malam itu, aku akhirnya ga beli apa-apa karena duluan pusing ngeliat sebegitu banyaknya orang yang ngantri di kasir. Kesimpulanku siy, orang Jakarta lebih menyukai diskonnya daripada baca bukunya…(hehehe..kesimpulan yang maksa….padahal kan mungkin saja, semua orang suka membaca dan memanfaatkan diskonan ini..)

Seharusnya, sebelum berangkat ke Gramedia, sudah harus punya list buku-buku apa saja yang akan dibeli, mengingat betapa ramainya situasi Gramed. Tapi tetep saja, walau list sudah ada di tangan, aku tetap saja kerepotan mencari buku di daftarku itu (sekali lagi, karena banyaknya orang itu) dan akhirnya menyambar buku apapun yang ada disitu dan terlihat menarik. Salah satunya adalah ‘Little Woman’, buku klasik karya Loisa May Alcott tahun 1868. Sudah pernah dengar tentang filmnya walau belum pernah nonton dan ternyata sudah ada 14 film yang mengadaptasi novel ini.

Buku ini memang benar-benar menyenangkan, baik dari segi ceritanya maupun cara bertuturnya. Dan sempat membuatku minder (dan bertekat untuk menjadi lebih baik) karena tokoh ibu dalam buku ini digambarkan dengan luar biasa manis dan sangat disayangi oleh 4 anak perempuannya…bahkan ada satu adegan yang digambarkan dengan sangat menarik sehingga membuatku ingin menangis…. Dan yang paling kusuka adalah kata-kata yang dipakai terasa pas dan tidak berlebihan.

Aku paling tidak bisa membaca deskripsi yang terlalu detil dalam menggambarkan lokasi suatu kejadian, menurutku jadi bertele-tele dan kehilangan maknanya. Jika ada bagian seperti itu, bisa dipastikan akan aku lewati tanpa membacanya sama sekali (kata temanku justru itulah keasyikan membaca...membayangkan apa yang dideskripsikan pengarangnya...walau sekali lagi...aku bilang berlebihan...). Nah..di buku Little Woman ini semua digambarkan seperlunya tapi tetap dapat memberikan gambaran tentang apa yang terjadi.

Tentang tokoh Ibu...dari awal digambarkan sebagai sosok yang tenang dan begitu dibangga-banggakan anaknya..tapi ternyata untuk menjadi seperti itu, perlu perjuangan ekstra keras seumur hidupnya karena sifat awal sang Ibu yang mudah marah dan meledak-ledak dan cenderung menyakiti dengan kata-katanya.... walau tidak pernah digambarkan satu kalipun sang Ibu sedang kehilangan kontrol emosi, ada satu kejadian ketika dia menasehati anak keduanya dan menceritakan perjuangan dirinya untuk menjadi orang yang lebih baik. Nah, ada satu paragraf yang bisa jadi peganganku untuk jadi ibu yang baik seperti tokoh Ibu itu....
”Ibu harus mencoba melatih semua kebaikan yang Ibu inginkan untuk dimiliki anak-anak Ibu, sebab Ibu adalah contoh bagi mereka. Lebih mudah bagi Ibu untuk mencoba demi kamu daripada demi Ibu sendiri; tatapan kaget atau heran dari salah seorang di antara kalian ketika Ibu berkata kasar lebih mengingatkan Ibu, daripada kata-kata apapun; dan kasih sayang, rasa hormat, dan kepercayaan dari anak-anak Ibu merupakan hadiah paling indah yang akan Ibu terima atas usaha Ibu untuk menjadi wanita yang Ibu inginkan untuk mereka jadi kan teladan..”

Sungguh...aku belum lagi menamatkan buku ini...tapi kepalaku sungguh pusing menahan air mata karena begitu tersentuh dengan ceritanya....


Read More..

Selasa, Desember 22, 2009

Detya Naziha Wikrama

Ehem...ehem...agar dimaklumi kalau sebagai ibu, akan sukaaa sekali membanggakan anak-anaknya..

Kali ini aku ingin membicarakan Detya, anak pertamaku...
Aku sudah lama bikin blog atas nama masing-masing anakku....yang jarang-jarang kuisi...link-nya ada di header halaman blog ini. Namun karena memelihara satu blog ini aja susahnya ampun-ampunan (dalam hal konsistensi posting...)...maka blog atas nama anak-anakku itu jarang terurus.

Hari sabtu kemarin, kami jalan-jalan setelah menghadiri evaluasi akhir semester untuk Javas...dan sepulang dari perjalanan itu, Detya menulis beberapa kalimat di bukunya sendiri. Dari situ aku berpikir, kenapa ga tulisan Detya sendiri yang mengisi blog atas namanya? Apalagi sekarang aku sudah punya modem dan PC butut di rumah sudah bisa digunakan lagi. Sekalian biar Detya melek IT...

Maka besok harinya (hari minggu), kami (aku dan Detya) memindah catatan di buku tulisnya itu ke blog dia sendiri. Detya cukup senang, walau pada saat proses penulisan itu, Detya sempat bersedih karena diingatkan oleh Ayahnya.

Sekarang sudah ada satu post yang asli tulisan Detya dan selanjutnya....blog itu biar Detya sendiri yang mengisinya....Memang agak susah memotivasi Detya untuk menuangkan pikirannya dalam bentuk tulisan...ataupun membaca buku yang agak tebal dan tanpa gambar....dia lebih suka bermain sepeda keliling kompleks....atau menemaniku di dapur....

Aaaahhh...walaupun salah satu obsesiku adalah anak-anakku suka membaca....tapi biarlah...kalau sekarang ini mereka masih belum bisa memulainya....toh...aku dulu mulai membaca buku apapun pas kelas tiga SD....

Tapi setidaknya mereka semua sungguh suka dibacain cerita..... Bukankah itu awal yang baik..?....

Jadi...perkenalkan...anak perempuanku yang mulai belajar menulis...Detya Naziha Wikrama....

Read More..

Selasa, Desember 15, 2009

Taukah Anda...




Bahwa pohon bambu menyerap CO2 dan menghasilkan O2 35% lebih banyak daripada pohon lainnya?

Bahwa satu pohon besar dapat menyediakan kebutuhan oksigen untuk 16 orang?


..............maka banyak-banyaklah bertanam pohon demi hidup kita sendiri....


DAUR ULANG


Daripada segala rupa plastik tutup botol, spidol, baterai bekas dibuang begitu saja dan merusak lingkungan, mending dijadikan mainan yang cantik....(hmmmm.... bisa dijadikan agenda liburan niy...bareng anak-anak)


Termasuk segala rupa kemasan pembungkus bengkas ini...bisa jadi barang berguna......TRASHION....

Kebaca ga siy? ini mind map tentang apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi global warming

PAMAN GERY DAN SUPER KIDS
Dari acara radio tiap pagi jam 06.00 - 07.00 di Radio Female ini, kami tau ada acara hebat ini.... FYI, acara ini favorit anak-anakku....(thanks to mba devi yang mengenalkan acara bermutu ini)

note:catatan yang tertinggal dari Green Festival 2009 di Parkir Timur Senayan tanggal 5-6 Desember 2009

tak lupa juga lagu D'Masiv yang dinyanyiin langsung di akhir acara...Jangan menyerah...Jangan menyerah...Jangan Menyeraaaaaahhh



Read More..

Jumat, Desember 11, 2009

Uang Saku Anak


Sudah beberapa minggu ini aku pusing dengan cara jajan Detya. Semenjak kecil, aku ga pernah membiasakan anak-anakku buat beli jajan di luaran. Aku selalu sedia stock jajanan untuk mereka, dengan begitu aku bisa mengontrol apa-apa yang mereka cemil. Aturan utama adalah no MSG dan no benzoat....makanya ga ada itu T**o atau C***i atau segala rupa kripik kentang. Juga ga ada permen-permen atau anything with benzoat sebagai pengawet....(kata dokter, bikin batuk...dan emang terbukti).

Ketika mulai masuk TK, aturan di sekolah mendukung upayaku untuk tidak membuat anak-anakku jajan di luar, karena sekolah mewajibkan anak membawa bekal sekolah sendiri. Walau bekal anakku ga sekreatif bekal anak-anak mba devi atau penggemar bekal bento lainnya...tapi lemayanlah...(menghibur diri sendiri mode : ON)...walau kadang-kadang (baca:seringkali)..masih snack bungkusan juga...

Nah...akhir-akhir ini ketika jemput detya sepulang sekolah, aku sering melihat dia mengulum permen lolipop...atau coklat stick... Agak kaget karena aku ga pernah ngasih dia uang jajan..lalu dapat darimana dia?...tanya punya tanya..dia bilang dibeliin teman. Sesering itu? apakah dia diberi atau meminta dibelikan? Dia juga cerita kalau dibelikan teh botol oleh temannya...wah...wah...wah...berapa siy uang saku teman-temannya itu sampai sukarela jajanin Detya? Aku hawatir jangan-jangan Detya yang minta-minta dibeliin dan berulang-ulang kutanya, jawaban Detya tetap keukeuh bahwa temannya yang beliin dia dan dia ga minta-minta.

Selanjutnya Detya juga mulai mencari-cari uang recehan dan bahkan mengambil uang yang ada di mobil untuk parkir dan bayar tol....Wedew...kami mulai agak cemas dan mulai memikirkan apakah perlu memberi uang jajan? Aku lebih memilih untuk mulai mengajari tentang uang, tapi mengingat dia masih memilih makanan yang dibeli hanya sesuai keinginannya sendiri, kami masih merasa perlu meyakinkan Detya agar bisa memilih jajanan yang sehat. Tentu saja aku ga mau, apa yang kuusahakan dari dia kecil dulu untuk memilih makanan sehat, jadi berantakan karena pemberian uang jajan ini.

Jadinya pagi ini langsung browsing sana-sini tentang perlu tidaknya pemberian uang jajan ini, dan ternyata semua artikel menyarankan ini namun ga ada yang menyebut angka pastinya berapa...hanya harus disesuaikan dengan kebutuhan anak...ada artikel yang sangat membantu untuk menentukan jumlah pastinya berapa dan tips-tips lainnya di artikel Perlukah Anak Diberi Uang Saku? atau artikel PEMBERIAN UANG SAKU: MENCEGAH ANAK UNTUK MENCURI atau Uang Saku : Pengetahuan Dasar Keuangan Anak.

Weits...ternyata pemberian uang saku/jajan ini cukup mendesak...karena suamiku sendiri ingat dulu dia juga begitu...cari-cari recehan ibunya buat jajan. Suamiku ga mau Detya juga mulai seperti itu tapi masih khawatir Detya ga bisa ngontrol apa yang dibeli.

So...pagi ini kami mulai memberi Detya uang jajan 5.000 saja dengan pertimbangan dia sudah bawa bekal sendiri dan uang segitu cukup buat beli jus buah atau teh botol dan permen kesukaannya....langkah selanjutnya adalah mengingatkan Detya untuk memilih jajanan sehat dan menyisihkan uang itu untuk tabungan...(wew....5000 sekalian buat nabung..?...waaaa...cukup ga siy..)

Eniwei...tanggapan Detya tadi pagi bikin BT juga karena dia cemberut dengan jumlah uang segitu. Dia membandingkan dengan uang jajan teman-temannya yang minimal 10.000. Lalu negosiasi sampai berbusa-busa kami lakukan sehingga dia bisa netral lagi buat masuk sekolah...(tanpa cemberut maksudnya...)

Ada saran ga, sebenarnya berapa besaran uang jajan yang pas untuk anak kelas 1 SD yang udah bawa bekal sendiri dan ga perlu uang tansport serta hanya ada satu toko kecil di sekitar sekolahnya?

Read More..

Selasa, Desember 08, 2009

Training Di Bali


Sehabis lebaran lalu, ada permintaan peserta training "Fundamental of Bonds Market" di Bali. Dengan semangat 45, aku mendaftarkan diri karena kuota untuk divisiku cuma 1 orang. Semangatku muncul karena judulnya yang ga nyangkut sama sekali dengan bidang kerjakku, jadi bener-bener bisa nambah pengetahuanku. Selain itu.....Ini BALI booow....sapa yang ga demen Bali.

Lalu, trainingnya sendiri dilaksanakan minggu lalu tanggal 3-5 Desember dengan jadwal yang padat...di Hard Rock Hotel..... Antara kesenengen dan bingung (banyak senengnya siy)...bagaimana mungkin training diadakan di hotel dugem diseberang Pantai Kuta.....well...yang ada, pasti para peserta sibuk sendiri buat senang-senang...

Ternyata engga juga...kami serombongan, termasuk orang-orang serius yang taat jadwal..(karena kami tau bahwa waktu buat seneng-seneng juga telah disediakan). Hari pertama berangkat dari Jakarta jam 8 pagi dan nyampe di Bali pas makan siang. Semua akomodasi telah diurus dan lembaga yang ngundang kami training, telah menyerahkan semua urusan perjalanan ini ke sebuah biro travel. Jadinya semenjak di Bandara Soeta, aku sudah dilayani dengan baik....bagasi diurus, kami dikasih kupon untuk bisa masuk ke salah satu lounge selama menunggu boarding. Turun dari pesawat juga udah ga mikirin bagasi karena si bagasi bakal langsung diantar ke kamar masing-masing. Nyampe Hard Rock Hotel kami langsung makan siang dan setelah sholat...training langsung dimulai dan berakhir jam 09.30 malam....(wuihhh....what a schedule...). Tentu saja pas break menuju sesi malam...tak lupa menikmati sunset di pantai Kuta yang tinggal nyebrang jalan aja...(wow..what a beautiful sunset...)

Berada di pantai Kuta, serasa bukan berada di Indonesia...turis bersliweran di depan mata dengan kostum seminim mungkin untuk menikmati matahari....dan tiba-tiba aku merasa salah kostum, karena walaupun sudah berusaha casual...tetep saja jins panjang dan batik se-siku tampak ga matching dengan orang-orang yang minimal berhot pants dan thank top bahkan bikini disana sini...semua bule cowoknya pun bertelanjang dada....bikin pandangan mataku otomatis menunduk karena risih.... Bukan...aku bukan terpesona...karena banyak bule berperut buncit yang santai aja bertelanjang dada...coba kalau si Taylor Laurtner yang main New Moon itu ada juga di Kuta....bisa jadi aku ngences dengan sukses....

Besoknya jadwal penuh sehari...tapi sesi training berakhir sore hari dengan diakhiri ujian..(hmmmppppttt....training dua hari...tetep pake ujian dengan itung-itungan yang bikin mumet). Malamnya kami dinner di Laka Leke restaurant di Ubud sambil menikmati Tarian Kecak. Laka Leke ini terkenal dengan bebek gorengnya yang cruncy...dan biasanya setiap Senin malam, mereka mengadakan pertunjukan Tarian Kecak. Tapi...trainingku ini emang spesial sehingga bisa memesan Kecak secara privat...(kabarnya kalau pertunjukan private gini, biayanya bisa sampai puluhan juta...)


Nonton Kecak secara langsung gini sensasinya emang luar biasa dibanding hanya nonton di TV.....saking seriusnya menikmati tarian ini...bebek sepiring habis ga kerasa...(dasarnya emang jago makan!!...tapi aku lebih suka bebek goreng pak slamet yang lembut dan gurih daripada bebek goreng yang kering gini). Aku pikir, untuk meningkatkan tingkat budaya kita, perlu untuk sesering mungkin menikmati pertunjukan-pertunjukan seni semacam ini. Sensitifitas perasaan bisa diasah dengan sering-sering menikmati keindahan gini. Aku termasuk orang yang ga pedulian...tapi menikmati Kecak kemaren membuatku ingin menikmati keindahan-keindahan yang lainnya.

Dulu waktu training di Singapura mengenai anggaran berbasis kinerja dan mencoba mengerti bagaimana Singapura mengukur KPI di bidang budaya dengan indikatornya adalah memperbanyak pertunjukan seni di gedung-gedung seni mereka. Aku heran apa hubungan banyaknya pertunjukan dengan pencapaian KPI budaya? Aku pikir...apa banyak yang akan mendatangi pertunjukan itu? Ternyata setelah menikmati sendiri efek nonton Kecak secara langsung dengan peningkatan apresiasiku terhadap seni, aku bisa memahami kenapa KPI singapura seperti itu. Seni emang membuat perasaan menjadi halus....dan jika sudah halus gini...selamat tinggal kekerasan...anarki dan teror...

Back to the training...
Hari sabtu pagi..(hari terakhir training)...diisi dengan jalan-jalan di laut.... Kami pergi ke Sanur di Puri Santrian yang mengadakan Seawalker....sungguh pengalaman yang tak terlupakan...dengan sejenis helm astronot...kami menyelam di pantai Sanur...kira-kira 200m dari pinggir pantai di sebuah ponton. Aku ga bisa renang...tapi itu ga jadi penghalang buat acara seawalk ini... Selanjutnya walau sedikit terganggu dengan perbedaan tekanan yang menyerang telinga, jalan-jalan di dasar laut ini menjadi sangat menyenangkan dengan ikan-ikan yang bersliweran disekelilingku.... Buat pengalaman pertama..lokasi Sanur ini cukup menarik walau airnya tidak terlalu jernih sehingga pemandangan airnya cukup berkabut... Sayangnya..waktu di bawah lautnya tidak terlalu lama...kira-kira 30 menit termasuk proses turun naik dan jalan ke lokasi terumbu karang.


Pulang dari Seawalker ini, kami langsung check out dan makan siang. Aku lebih memilih ketemu sama temen diklatpimku yang ada di bali daripada mengikuti acara bersama...dan ketemu lagi di sore hari di Joger buat beli buah tangan..untuk selanjutnya menuju ke Jimbaran buat makan malam di pinggir pantai.... Woaaaa...Jimbaran emang asyik..walaupun makan malamnya ga terlalu mengundang minat karena ga ada rasa lapar....sebenarnya menu makan malam serba seafood (yang merupakan favoritku...), dengan tiap orang dapat satu piring besar yang isinya lengkap...dari udang, kerang, cumi, kepiting dan ikan bakar....tapi karena perut ga merasa lapar jadi yaaa.....ga bisa sampe habis...


Lalu kamipun ke bandara menunggu jadwal kepulangan...dan enaknya lagi...semua bagasi sudah diurus dan turun dari pesawat dapat priority sehingga ga pake lama nunggunya....

Training kali ini benar-benar menyenangkan karena gabungan business and pleisure-nya pas banget....dan yang paling enak...FREE OF CHARGE....hehehehe...


sumber foto: donlot dari facebook teman...(hiks...gara-gara males bawa kamera sendiri)
Read More..

Senin, November 23, 2009

Soft Skill Competency

Minggu lalu ada training wajib untuk level kerjaku, maksudnya semua levelku di kantor wajib ikut training ini. Berdasar assessment dua tahun lalu, kami-kami ini dinilai inovatif tapi ga ada continuous improvement, interpersonal skillnya juga kurang... Jadi dengan training softskill ini diharapkan interpersonal kami meningkat dan kami juga punya semangat untuk pengembangan diri dan juga sistem kerja...ga cuma apa adanya seperti sekarang. Kalau pembelaan kami siy...kami ini sudah cukup sibuk dengan kerjaan rutin sehingga ga sempet memikirkan bagaimana untuk memperbaiki sistem yang ada. Lah...lagian sistem yang ada sekarang udah bisa jadi dasar bagi kami untuk bekerja dengan baik dan inovatif...ngapain mesti ribet untuk mencari sistem lain lagi? (terbukti kan kalo improvement kami ga kontinyu? ...)

Kami juga dimotivasi untuk menjadi pribadi yang profesional dan diajarkan untuk bisa mengelola stress hingga ke level yang bisa mengoptimumkan hasil kerja kami..(kupikir...ngomong aja gampang...prakteknya niy...yang susah)

Eniwei...masalah improvement tadi bener-bener bakal butuh usaha yang keras dari kami sendiri untuk bisa menjalankannya. Beda dengan interpersonal skill, materi tentang ini sangat-sangat bermanfaat dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Tujuan utamanya siy untuk menjalin hubungan dengan bawahan. Tapi kupikir, apa yang disampaikan trainernya bisa diaplikasikan untuk semuanya...untuk anak, orang tua, suami, temen sekantor, atasan, bawahan, rekan kerja...semua orang bisa.

Pertama kita mesti mengenali diri sendiri dulu, baru mengenali orang lain. Selanjutnya jika kita sudah tau orang lain itu gimana maka perlakuan terhadap orang lain itu akan disesuaikan dengan karakter orang yang telah kita kenali.

Pas mengenali diri sendiri ini, trainer menanyakan warna favorit kita apa dan berdasar penelitian, warna favorit tersebut 85% sama dengan karakter pribadi kita.... memang ga 100%, tapi 85 dari 100 cukuplah untuk menebak karakter orang seperti apa (artinya kan 15 aja yang jawabannya bakal beda).

Ada namanya DISC Profiling yang mewakili 4 kuadran perilaku individu
  • D-Dominance : diwakili dengan warna biru, personifikasi adalah SINGA. Bisa dibayangkan kan, singa itu seperti apa? Pemimpin dan penguasa dengan keinginan dalam hati untuk jadi nomor satu. Dalam situasi nyaman orang Biru akan sangat suka bersaing, penuntut, teguh pendirian dan yakin akan dirinya dan keputusannya, dan punya tujuan tertentu. Tipe pemimpin lah.... Kalau dalam situasi yang menekan maka si Biru akan agresif, mengendalikabn, pemaksa dan bossy serta tidak bisa toleransi terhadap apapun yang menghyalangi tujuannya.
  • I-Influence : diwakili dengan warna merah dengan binatangnya adalah LUMBA-LUMBA. Lumba-lumba kan ramah, suka bermain-main dan suka berceloteh. Seperti itulah si Merah jika merasa nyaman, gaul, dinamis, terbuka, antusias dan persuasif. Jika tertekan, maka si Merah akan impulsif, gampang cemas, ceroboh, flamboyan dan terburu-buru.
  • S-Steadiness : diwakili warna kuning, dengan KOALA sebagai personifikasinya. Koala digambarkan bijak dengan pendirian yang tenang dan pasti, mudah didekati dan penuh kehangatan. Dalam keadaan nyaman si Kuning ini sangat peduli dan mendukung, gampang berbagi, sabar dan rileks. Tapi jika tertekan dia akan jadi pasif, hambar, sangat tergantung dan keras kepala.
  • C-Compliance : diwakili dengan warna hijau dengan hewannya adalah RUBAH karena banyak akal, cerdik, dan berhati-hati. Jika merasa nyaman, si hijau akan berhati-hati, precise, kritis dan formal. Jika tertekan, dia akan konvensional, tidak mantap, ga mudah percaya, dingin dan sangat-sangat menahan diri.

Ketika pertanyaan tentang warna favorit dari empat pilihan warna itu, dengan penuh pertimbangan aku memilih MERAH....maka semua hal yang disebutkan ketika si Merah tertekan....bener-bener..."aku banget"....tapi aku ga terlalu gaul...aku juga ga terlalu terbuka (temenku nyeletuk kalau aku lebih terbuka di blog-ku ini daripada di kehidupan nyata...tapi intinya dia bilang...aku ini terbuka), tapi aku memang dinamis, antusias terhadap hal-hal baru dan cukup persuasif... Jadi rasanya aku bisa dikategorikan sebagai hampir merah sempurna.... (huahahaha...maksa..!!)

Eniwei, bahasa tubuh masing-masing kuadran juga dijelaskan sehingga, kita bisa semakin mudah mengenali orang lain itu tipe yang mana. Nah jika kita sudah tau karakter lawan bicara kita seperti apa, maka topik-topik yang menarik untuk dibicarakan sesuai tipe adalah :
  • Dominance : Bisnis, pekerjaan/tugas, fakta, ekonomi
  • Influence : pribadi, pergaulan, hobi, cita-cita, inspirasi, ambisi dan gengsi...(engga aku deh....aku ga suka selfcenter seperti ini)
  • Steadiness : keluarga, rumah tangga, team spirit, sosial, humanisme, parental, dan service/pelayanan (aku lebih suka membicarakan hal-hal seperti ini...)
  • Compliance : ilmu, data/informasi, statistik, falsafah, teknologi, sistem, dan analisa.

Topik-topik itu bisa jadi awal yang baik untuk selanjutnya ngomongin kerjaan atau hal lain yang sebenarnya jadi tujuan utama kita. Artinya gini, jika kita ingin menuntut bawahan kita untuk perform dengan baik maka tentu saja kita mesti menjalin hubungan pribadi yang baik... Nah..topik-topik di atas bisa dijadikan permulaan untuk menjalin hubunngan...dengan siapa saja.

Kembali ke kenapa aku merasa ga merah sempurna, ya itu tadi..aku ga suka jadi pusat perhatian, beda dengan si Lumba-Lumba sejati yang cenderung ingin jadi pusat perhatian dan ga bisa distop kalo sudah ngomong. Aku ga suka gaul dalam hal dugem...nyobain tempat makan baru...(itu yg digambarkan trainernya). Aku juga ga suka ngomongin pribadi, pergaulan, hobi, cita-cita, inspirasi, ambisi dan gengsi....halah...apa pula itu...

So....Am red....almost pure red....I think I am red with a little yellow...


Read More..

Kamis, November 12, 2009

Hasil Check Up Gratis dari Askes

Bulan Juni lalu dapet cek kesehatan gratis dari Askes...dan hasilnya baru dua hari lalu aku terima....beuh...lama banget...apa proses birokrasinya ya yang bikin lama?
Karena ketika kulihat tanggal hasil lab-nya...sesuai dengan tanggal pelaksanaannya. Jadi apa yang bikin prosesnya butuh 5 bulan untuk sampai ke mejaku ya...?..Huh...bener-bener birokrasi itu menyebalkan..!! (dan aku salah satu pegawainya....shame on me...)

Eniwei..hasil cek darahnya cukup membuatku bersedih...kadar trigliseridaku tinggi sekali..hampir mencapai angka 300....juga asam uratku....inilah akibatnya bagi orang yang ga mengatur pola makan.... jerohan? ..ayooo....melinjo? ...asyik....seafood? ...sedaaap... Huaaaahhh...semua makanan yang bikin asam urat meningkat dan trigliserid naik adalah makanan favoritku.

Jadinya browsing sana-sini untuk nyari makanan apa aja siy..yang mesti dihindari agar 2 hal tersebut ga naik lagi..sebelum jadi penyakit yang parah.. Aku nemu artikel tentang cara alami menurunkan kolesterol dan trigliserida..

Untuk asam urat juga sama..makanan-makanan favoritku itu semuanya bikin kadar purin dan trigliserid juga naik...jadi jika menghindari jeroan dan sea food..maka dua hal itu juga ga akan mampir...

Duluuu..ketika memasuki umur 30..aku berjanji pada diriku sendiri untuk mengatur pola makan...ternyata sampai usia 34 ini aku belum melaksanakan janjiku sendiri itu. Sekarang, setelah hasil cek kesehatan itu keluar....baru aku teringat lagi akan janji mengatur pola makan itu....Beuh...ternyata butuh dipentung dulu baru bisa sadar.

Agenda hidupku ke depan..(Ya Allah....bantu aku untuk istiqomah melaksanakannya...amien):
  • mengatur pola makan (minimal tidak jeroan dan seafood secukupnya..)
  • olah raga (minimal jalan kaki rutin....ga kuat kalo disuruh lari...)
  • Banyak minum air putih...(kembung...kembung deh..yang penting aliran buangan zat tubuh lancar..)

Read More..

Jumat, November 06, 2009

Kelanjutan Parenting Class

Rabu sore lalu, ada Parenting Class lagi...cuman yang bikin bertanya-tanya..kok undangannya ditujukan untuk kelas A3 dan B3 bersama-sama? Eniwei...dengan semangat 45, aku datang, karena kupikir kita bakal sharing tentang apa yang telah terjadi ketika solusi awal dilaksanakan.

Sebelumnya, Javas cerita bahwa mulai minggu lalu dia mengalami perubahan kelas. Aku jadi bertanya-tanya, bagaimana dengan parenting class yang sebelumnya dilaksanakan? apakah berhenti begitu saja? apa bakal ada parenting class yang baru? apa alasan dibalik perubahan kelas ini? Bagaimana kelanjutan treatment Javas di sekolah? Banyak pertanyaan muter-muter di otakku tapi belum bisa terjawab. Sempat berpapasan dengan Bu Guru, dan beliau bilang akan dijelaskan kemudian..walau sedikit memberi clue bahwa sesuai kematangan emosi dan umur maka diadakan perubahan kelas.

Pertemuan rabu lalu itu menjawab semua pertanyaanku. Bahwa pertemuan ini dilakukan untuk penutup atas parenting class yang awal dan akan ada parenting class baru sesuai pembagian kelas yang sekarang.

Perubahan kelas dilakukan karena terdapat beberapa anak-anak kelompok B3 yang dinilai sudah lebih matang dibanding teman yang lain sehingga akan lebih baik jika dia bergabung dengan temannya yang lain. Guru Kelas yang baru sudah diserahi catatan khusus tentang si anak agar treatment sebelumnya tetap berlanjut untuk lebih memancing kreatifitas si anak. Beberapa anak yang masih dianggap perlu perhatian khusus tetap dibawah pengawasan Guru Kelas B3, sedangkan anak-anak lain yang bergabung di B3 merupakan anak-anak yang sudah sangat matang sehingga tidak akan terpengaruh dengan apa yang dilakukan anak-anak B3 awal. Intinya perombakan ini sudah melalui penilaian yang matang dari Tim Guru, sehingga dengan kondisi yang baru ini target pembelajaran bisa cepat tercapai..(you know lah...apa yang diinginkan orangtua TK B....termasuk aku juga... hehehehe...anaknya bisa membaca dan berhitung!!...terutama yang merencanakan untuk SD di luar Istiqlal)

Sigh...walau aku selalu membandingkan pencapaian anak-anakku dengan diriku sendiri di umur yang sama...tetap saja tuntutan lingkungan membuatku lebih menggenjot anak-anak agar jangan terlalu jauh dengan standar umum. OK..aku bisa baca pas akhir kelas satu dulu...tapi apa aku bakal tahan kalau semua orang tanya: 'Anakmu udah bisa baca belum?'...makanya sedapat mungkin melatih anak membaca..walaupun berusaha se-fun mungkin...jangan sampe anak merasa terpaksa dan tertekan.

Back to the topic. Dalam pertemuan itu Bu Guru juga menyampaikan bahwa ada sebagian orangtua yang khawatir ketika anaknya masuk ke kelompok yang diwalikelasi (idih bahasaku kok aneh gini) oleh Bu Guru karena di luaran dikenal bahwa kelompok yang ada 3-nya itu kelompoknya anak-anak nakal...Hah...APA?..anakku dianggap anak nakal....(iihh...itulah hasil ketidaksempurnaan informasi...bisa bikin salah ambil kesimpulan...bahkan yang sudah dapat informasi lengkap saja sering salah ambil kesimpulan...bagaimana dengan orang yang tau cuma sedikit sedikit tapi malah menyebarkan info berdasar interpretasinya sendiri...makanya daripada tanya ke orang lain yang belum tentu tau info yang lengkap mending konfirm langsung aja deh ama Bu Guru)

Makanya sekarang ini nama kelas diganti dengan nama-nama pejuang Islam jaman Rasulullah dulu untuk menghapus kesan itu. Dan perlu dijelaskan juga bahwa kelas A3 dan B3 dulu itu merupakan kumpulan anak-anak yang belum matang sosial emosinya...bukan karena nakal...ada yang super pendiem...(seperti anakku) dan super aktif (yang seringkali ga bisa mengontrol motoriknya sehingga dianggap tukang pukul). Jadi, kami sendiri memahami bahwa anak-anak kami bukan anak nakal...(jauuuh deh dari nakal)...tapi spesial....(ya...bisa disebut special need...walau bukan autis maupun hiperaktif).

OK..Javas dianggap sudah cukup matang, jadi bisa dilepas ke pengawasan guru yang lain dan sesuai selang umurnya (sudah lebih 5 tahun 6 bulan) maka dia masuk kelompok B Al Arqam...hmmmm...aku pribadi lebih memilih agar Javas tetap dalam pengawasan guru kelas yang awal...(karena beliau senior...pengalaman banyak...komunikatif....enak diajak ngobrol.....sekarang lagi kuliah dan ilmu-ilmu barunya banyak buat ngadepi anak-anak setipe Javas...wew...jadi ngiri ama ibu-ibu laen yang anaknya tetep dipegang Bu Guru ini...)

Eniwei...aku bersyukur anakku dinilai sudah cukup matang sosial emosinya dan sepanjang diskusiku dengan Javas dua minggu ini, dia tidak mengalami masalah apa-apa dengan perubahan kelompok ini. Beda dengan kelompok A3 yang anak-anaknya sampai ada yang mogok sekolah karena groupingnya sangat-sangat kuat dan mereka jadi resisten dengan kelas yang baru. Padahal mekanisme perubahannya sudah dilakukan bertahap dan kedekatan emosi antar teman juga dijadikan pertimbangan untuk mengatur kelompok. Jadi tinggal orangtua saja yang harus memotivasi anak agar bisa beradaptasi dengan lingkungan yang baru.

Perlu diingat bahwa dunia luar lebih beragam lagi, jadi dengan perubahan-perubahan seperti ini anak bisa belajar beradaptasi dengan lingkungan baru. Aku perlu menggarisbawahi hal ini, karena ada orangtua yang protes keras kenapa ada perubahan seperti ini saat anaknya sudah merasa nyaman dengan keadaan yang ada dan akibat perubahan ini dia mogok sekolah. Lingkungan RA Istiqlal sendiri lebih homogen dibanding TK di luaran sana, artinya...dengan guru-guru yang sangat kental mengajarkan nuansa keislaman di sekolah...lokasinya sendiri yang ada di masjid....ga ada murid non muslim....komunikasi orang tua & anak yang sudah seragam....komunikasi guru dengan orangtua yang terbuka...maka anak terbiasa dengan keadaan yang harmoni...

Bayangkan dengan kondisi yang homogen itu, tiba-tiba di SD nanti dia berhadapan dengan lingkungan yang heterogen...jauh berbeda dengan keadaan waktu RA.... Kalau tidak dari sekarang dibiasakan beradaptasi, bisa-bisa dia ga mau masuk SD...yang merupakan pendidikan formal...beda dengan TK yang masih dalam tahap bermain. Lalu harus bagaimana kalau sudah gitu...belum tentu juga sekolah terbuka dengan keluhan orangtua murid....apa terus pindah sekolah lagi?...

Waahh..malah ngomongin orang lain...intinya....apa yang kuomongin di atas ini juga kupikirkan buat anak-anakku. Sekarang aja aku masih menghadapi masalah Detya yang kurang istiqomah dengan pendapatnya sendiri...masih gampang ikut-ikutan temen. Padahal dia masih di lingkungan yang sama...gimana kalau dia sekolah di SD umum...bisa-bisa usahaku jadi lebih sulit untuk membuat dia jadi anak yang teguh pendirian.

Untung saja Javas sendiri merasa asik-asik saja dengan teman-teman barunya...(tapi aku perlu konfirm lagi dengan Guru kelasnya yang baru...).

Tetep, walau Javas dianggap cukup matang...aku sendiri merasa Javas masih perlu dukungan yang kuat untuk beraktivitas dengan benar sesuai umurnya... Jadi, hasil parenting class sebelumnya tetep akan dilanjutkan sampai kapanpun...karena lepas Javas...ada Wisam yang sekarang saja suka melipat tangan di dada kalau sudah mau sesuatu...(jadi pengen ketawa kalau dia sudah melakukan itu....karena lucu sekali gaya "ga mau diatur"-nya itu...)

Jadi orangtua artinya belajar seumur hidup....


Read More..

Senin, November 02, 2009

Parenting Calss : Bullying

Temuan 5 : Bullying (fisik/verbal)
seperti memukul atau mengata-ngatai..bahkan mengancam

temuan ini tentu saja temuan yang negatif...yang mungkin disebabkan oleh pengalaman negatif yang sebelumnya pernah dibullying atau mengalami bullying sendiri. Jadi si anak mempraktekkannya kepada anak lain yang dia anggap lebih lemah dari dia. Ini juga termasuk bagian dari imitasi..karena si anak meniru orang lain untuk melakukan bullying itu.

Cara mengatasinya adalah:
  • orang dewasa di lingkungan sekitar agar memberikan model yang baik sebagai contoh
  • action langsung dan katakan bahwa 'ini perbuatan tidak bail'
  • kurangi atau buat batasan dalam menonton TV
  • Disiplin with love (Bu Guru menyarankan untuk membaca buku ini)
  • tanyakan kepada anak kenapa mereka melakukan itu, apa yang sebaiknya dilakukan. Hal ini untuk membangun nilai tanggungjawab dan mengambil keputusan

Intinya gini..sebenarnya anak itu sudah bisa menalar apakah perilaku mereka itu baik atau benar. jadi kembalikan semua pertanyaan untuk di jawab anak sendiri.

Semua perbuatan yang tidak baik, pada dasarnya sudah bisa dinalar oleh anak sehingga tugas kita untuk menunjukkan bahwa itu salah dan tidak patut dilakukan.
Misalnya Javas suka sekali ngomong kasar (kalau Bu Guru bilang itu 'kata mutiara' misalnya bego, oon, toyol....) dan ternyata sebagian besar Ibu-Ibu juga mengeluhkan hal yang sama.

Pertama pastikan dulu apakah si anak mengerti arti dari perkataannya itu. Jika dia memang mengerti berarti dia kan memang memaksudkan kata-kata itu untuk siapapun yang dia sebut begitu. Lalu kembalikan kepada si anak bagaimana perasaannya jika ada orang lain yang menyebutkan hal itu pada si anak. hampir pasti jawabannya adalah si anak ga suka..lalu tanyakan kira-kira kita mesti gimana biar orang lain juga tidak merasa seperti itu.... Disitulah kita bisa menanamkan nilai tanggung jawab dan mengambil keputusan
Atau karena dia masih marah maka dia bisa saja menjawab 'ga papa kok..aku ga keberatan'..kalau dia menjawab begitu, sampaikan bahwa kalau kita pribadi diolok-olok begitu maka akan merasa sedih dan sampaikan bahwa membuat orang lain sedih dengan sengaja itu tidak sama dengan perilaku Nabi Muhammad dan sebagainya dan sebagainya...

Ada salah satu status mbak devi di FB setelah mendengar talkshow di radio tentang memotivasi anak agar tidak gampang ikut-ikutan teman-teman yang lain...kalau tidak salah begini kalimatnya:
Ibu : "Menurutmu kamu bisa tidak untuk tidak ikut-ikutan teman-temanmu melakukan itu"

intinya seperti itu deh...intinya tanyakan sendiri pada si anak tentang segala sesutu. Biarkan si anak sendiri yang menentukan jawabannya dan membuat keputusan tentang apa yang akan dilakukan si anak. Kita hanya bertugas mengarahkan agar keputusan itu muncul sendiri.... Kalau kita sendiri yang membuat keputusan banyak hal negatif yang akan terjadi, terutama anak tidak belajar untuk membuat keputusan dan bertanggung jawab terhadap keputusannya sendiri

Sebenarnya masih ada beberapa temuan lain yang memang masih belum dibahas ketika parenting class. Tapi ketika kubaca, intinya mirip dengan temuan-temuan sebelumnya sehingga pintar-pintar kita sendiri untuk terus mencoba berkomunikasi yang baik dengan anak-anak kita. Misalnya ketika anak suka teriak/marah-marah...merupakan hal yang mirip dengan bullying..jadi kita mesti memberi contoh untuk dapat ditiru ketika mengontrol emosi dan menerima emosi positif dan negatif dari orang lain. Atau tentang anak yang kurang inisiatif dapat diatasi seperti ketika ingin membuat anak kita bisa bekerja sama yaitu dengan menstimulasi anak dengan berbagai pilihan daripada kita sendiri yang sudah menentukan...

Ada satu temuan juga tentang aktif secara fisik yang merupakan karakter anak ketika menunjukkan energi yang tinggi, jarang terlihat lelah, mencari permainan dan lingkungan yang aktif dan sulit untuk diam.

Ada satu orang tua yang cerita bahwa anaknya banyak sekali makannya..lebih banyak dari si Ayah...baik dari frekwensi maupun jumlahnya...akibatnya si anak aktif sekali. Si Ayah tanya apakah perlu untuk membatasi makan si anak...
wohohoho....aku aja pengen Javas makan yang banyak dan ga pake disuruh...rasanya ngiri deh..ngeliat anak orang lain sampe mau disuruh menahan makan....

Jawaban Bu Guru (tentu saja jawaban ibu-ibu semua hampir sama)...yang perlu disalurkan itu energinya...bukan mengurangi makanannya..sehingga solusi yang tepat untuk keaktifan fisik itu adalah:
  • pastikan berimbang memberikan permainan/kegiatan yang aktif dan tenang. Misal: dalam ruangan berikan kegiatan yang membutuhkan banyak duduk di kursi agar anak dapat mengontrol fisiknya...
  • menyalurkan energi secara tepat, kapan diberikan waktu untuk bereksplorasi gerak dan kapan ia harus mengontrol diri.

OK...sudah semuanya niy....sekarang tinggal praktek terus setiap saat. Bukankan practice make perfect?
Semakin sering komunikasi yang baik ini dilaksanakan maka akan menjadi lebih mudah menemukan kata-kata positif yang bisa memotivasi anak-anak...dan jika sudah begitu...bukankan artinya kita sendiri menjadi pribadi yang lebih baik?

Apalagi siy yang kita inginkan selain menjadi orang tua yang sempurna buat anak-anak kita?...Kita ini hanya hidup sampai saat ini saja...sedangkan masa depan itu ya milik anak-anak kita....Lalu apakah kita mau masa depan itu menjadi gelap...? (halah...opo to iki..?)...

Intinya..aku ingin menjadi lebih baik untuk anak-anakku...titik...itu saja...



Read More..

Kamis, Oktober 29, 2009

Parenting Class : Follower

Temuan selanjutnya adalah Follower

Temuan 4 : Follower dengan Teman/Ketergantungan

Karakteristik ini termasuk temuan yang negatif, karena terkait dengan KETERGANTUNGAN artinya dia sangat tergantung dengan orang lain untuk merasa nyaman terhadap sesuatu. Penyebabnya bisa jadi :
  • Pengalaman masa lalu semasa bayi yang kurang membangun hubungan perpisahan yang baik
  • karekteristik perkembangan sosial anak usia 3 tahun yaitu anak tergantung pada pengalaman sebelumnya dengan teman sebaya, sampai ia merasa nyaman dengan anak-anak lainnya

Maksudnya gini fase umur 0-3 tahun adalah masa kita sebagai orang tua seharusnya mengenalkan perpisahan dengan benar. Jika orangtua akan berangkat kerja atau pokoknya mau berpisah sementara, selalu lakukan dengan benar, pamit dengan baik-baik, peluk cium dengan hangat dan yakinkan si anak bahwa walaupun orang tua sedang pergi, dia akan aman bersama dengan orang yang di rumah (entah pengasuh, nenek, saudara...). Jika si anak menangis, tenangkan saja dan yakinkan bahwa kita akan kembali nantinya. Jangan sekali-kali mengelabuhi anak setiap akan pergi dengan alasan agar dia tidak menangis..!! dengan begitu anak akan mempelajari bahwa orangtuanya bisa menghilang sewaktu-waktu dan dia akan merasa tidak yakin bahwa dia akan aman-aman saja selanjutnya.

Jika kita melakukan perpisahan dengan baik, walaupun pada saat itu dia menangis tapi dia jadi tau bahwa orangtuanya akan kembali lagi dan dia akan aman bersama orang rumah. Hubungan pemisahan yang baik ini harus dilakukan pada waktu umur 0-3 tahun jadi selanjutnya dia akan belajar walaupun nanti dia di lingkungan yang baru, dia akan baik-baik saja

untuk poin kedua tentang karakteristik pengalaman sebelumnya dengan teman sebaya...ada satu cerita tentang anak yang tanpa sengaja terkunci di ruang khusus oleh temannya dan baru ditemukan pengasuhnya setelah sore hari waktunya mandi...(pokoknya cukup lama dan si anak sudah berusaha teriak, menangis dan sebagainya). Akhirnya mulai saat itu, si anak jadi menjaga jarak dengan teman-teman sebayanya dan lebih menyukai bergaul dengan orang tua.

Akibat dari dua penyebab itu adalah....anak menjadi tipe pengamat dan hanya mengikuti saja apa yang teman-temannya lakukan....ga ada inisiatif atau ga mau gabung sama sekali dengan temannya (seperti yang kuceritakan sebelumnya...ada anak yang hanya jadi pengamat saja sampai acara selesai)

Teteeeep....ada solusi untuk hal-hal seperti itu...karena anak memang masih bisa belajar banyak hal asal kita bisa mengarahkannya dengan baik (ini solusi hasil penelitian Bu Guru ya...bukan hasilku sendiri...hihihihi).
  • Berikan pengalaman yang berhubungan dengan perpisahan : dengan salaman hangat, kecupan sebelum tidur, menerima ketakutan, kesedihan atau kemarahan bila muncul pada anak-anak kita.
  • Beri kesempatan anak mendapatkan pengalaman sosial yang beragam dengan berbagai teman di sekolah dan di rumah baik dari segi usia, lebih kecil, lebih besar, anak aktif, anak pendiam, anak agresif...jadi dia belajar bahwa banyak karakter orang yang harus dihadapi. Caranya bisa dengan diajak main ke tetangga..atau jika menolak minta dia untuk menemani kita arisan RT..atau main ke rumah sebelah...dan biarkan dia melihat bagaimana cara kita bergaul dengan orang lain. Bisa juga dengan bermain di tempat umum (yang pasti pesertanya sangat-sangat beragam) dan jika bertemu dengan anak lain yang cukup agresif jangan diminta untuk menghindar...tapi dihadapi saja dengan memberi pengertian bahwa mungkin si anak lain itu belum tau peraturan...dsb...
  • Dukung setiap keberhasilan yang mereka alami saat berteman dengan reward, misalnya : 'Hari ini ibu bangga sekali dengan kamu karena mau bermain dengan tetangga'

Untuk Javas sendiri...aku pikir dia lebih ke imitasi daripada follower apalagi yang sampai ke tahap ketergantungan karena seringkali dia bisa menentukan sendiri apa yang dia inginkan. Waktu Bu Guru coba memasukkan tamiya ke dalam tema bulan ini...hanya Javas yang bisa mengikuti alur Bu Guru dengan akhirnya menggambar tamiya besar yang bisa di bawa untuk mengantar ke sekolah (jadi dia menggambar tamiya besar di depan masjid sekolahku...).

Dari mereka bayi aku memang selalu melakukan perpisahan dengan baik-baik (pelum cium itu sudah pasti) sehingga ga ada lagi namanya uraian air mata setiap kali aku pamit pergi. Mereka juga biasa bermain dengan tetangga yang karakteristiknya beragam.

Masalah Javas lebih kepada kontrol emosi yang kurang ketika dia merasa terganggu..jadi diskusiku dengan Javas ketika dia sudah mulai mencakar dirinya sendiri atau memukul ketika keasyikannya terganggu adalah...."bicarakan pakai bahasa...memakai fisik hanya akan membuat orang lain sakit..jika orang lain sakit mereka akan menghindari berteman denganmu"

Mengenai reward, menurutku itu juga sangat penting....ingat selalu agar memberi reward sebelum memberi peringatan terhadap perilaku yang ingin kita perbaiki...misalnya ada ibu yang cerita bahwa anaknya seringkali terlambat karena ingin harus sholat dulu pas sesaat sebelum berangkat..maka si Ibu cerita ke anaknya saat selesai parenting class..."kata bu guru kamu hebat...kamu udah pinter..suka beramal....tapi karena datangnya seringkali telat maka jadi ga bisa ikut maen lama-lama deh..."..hasilnya besok paginya...bangun tanpa disuruh..langsung sholat subuh dan ga terlambat lagi deh... Itulah kekuatan pujian....

So...ibu-ibu...bapak-bapak...jangan pelit untuk memberi pujian terhadap semua hal yang dilakukan anak kita....

Read More..

Rabu, Oktober 28, 2009

Parenting Class : Banyak Bertanya

Pfuiiih...rasanya males banget akhir-akhir ini....males kerja...males nulis...mgantuuuks terus....ngopi bergelas-gelas ga mempan...tapi blogwalking kesini sanggup nelusuri arsipnya dari awwaaaal sekali dia nulis....(aku jadi ngerasa worthless banget...doing nothing but read this blog...).

Aku selalu saja terkagum-kagum sama anak muda yang punya pemikiran di luar mainstream....tapi tetep mengkedepankan kesopanan...seperti semua tulisan Margaritta ini...(dulu juga nelusuri semua tulisannya sejak awal..)...Kalau Diana Rikasari ini selera busananya yang menurutku di luar mainstream...and still look awesome on her...(gara-gara Diana juga aku jadi keinggris-inggrisan...maksudku....jadi nyelipin english di postingan atau status FB....lah gimana engga....dari minggu lalu aku sudah nelusuri arsip dia yang in english semua - hampir setiap waktu luang...yang rasanya sedang luang terus...jadi pikiranku juga kebawa in english...)

OK mau nerusin hasil parenting class kemaren...(beuh..kalo ga demi berbagi...rasa males ini masih melingkar-lingkar di otakku)

Temuan 3 : Banyak Bicara/Bertanya

Karakteristik ini termasuk temuan positif karena karakteristik anak secara umum adalah 'rasa ingin tahu yang besar' disamping itu perkembangan bahasa anak usia 5-6 tahun itu sudah bisa menggunakan 5000 - 8000 kata. Jadinya mereka ingin selalu mempraktekkan kemampuan mereka itu dengan mengajak diskusi setiap saat.

Ayo...apa pernah mereka berhenti bertanya setelah jawaban atas 'kenapa' yang pertama terjawab?

Bunda, kenapa traktor itu ada di sungai? karena akan dipakai untuk membersihkan dasar sungai.
Kenapa dasar sungai perlu dibersihkan? karena kalau hujan deras biar ga kena banjir
Kenapa hujan deras bisa bikin banjir? (sudah mulai capek jawab) karena kalau saluran air tidak lancar maka air hujan akan menggenang
Kenapa saluran air tidak lancar?....(bener-bener sudah capek)...hmmm...menurutmu kenapa?...muahahah....cara ini justru lebih sukses memancing mereka berpikir daripada kita hanya sekedar menjawab....mereka ternyata sudah bisa menalar apa yang terjadi....jadi respon pertama sekarang ketika ada pertanyaan 'kenapa' : menurutmu sendiri kenapa?.....nanti lama-lama mereka akan menjawab.."ah Bunda...aku kan tanya Bunda..."....hahahaha....lalu pertanyaan yang ga putus-putus itu akan terulang lagi...dan inilah yang membuat aku dan suamiku jarang bisa berdiskusi ketika sedang di mobil...

Back to the topic...
Solusi untuk menghadapi banyaknya pertanyaan ini adalah:
  1. Berikan jawaban yang kita yakin kebenarannya dengan pendukung (referensi:buku, Al-Qur'an, dll). Jika jawaban kita akan membuat mereka bingung (atau kita belum bisa menjawabnya) katakan bahwa kita belum bisa jawab saat ini, kita perlu cari dulu melalui ...... (buku, internet, ensiklopedia..dll). Tetapkan batas waktu kapan kita akan menjawabnya daaaaan...jangan lupa untuk tetap memberikan jawaban ini walau mereka sendiri sudah tidak mengingatnya lagi (ini ada hubungannya dengan memenuhi janji...jadi mereka belajar bahwa jika berjanji sesuatu harus ditepati...)
  2. Layani setiap pertanyaan atau pembicaraan anak ini dengan FOKUS dan 'EYE CONTACT' - jangan sambil ngobrol dengan orang lain atau sambil kerja. Ini penting untuk membangun dalam diri anak perasaan menghargai dan dihargai.

Kita juga bisa mengajarkan etika disini, maksudnya seringkali ketika kita sedang asik bicara dengan pasangan atau teman kerja (sesama orang dewasalah pokoknya), anak kita bertanya maka stop percakapan itu sebentar (tentu saja dengan ijin dulu - orang dewasa pasti akan lebih mengerti), eye contact dengan anak untuk menanyakan apa yang dia mau, jawab bahwa pertanyaan itu akan dijawab setelah pembicaraan orang dewasa selesai dan ingatkan bahwa lain kali jika ada orang lain sedang melakukan percakapan maka kita harus menunggu percakapan itu selesai baru bisa bertanya...

Jika semua itu konsisten dijalani (of course kita harus mengulang-ulang terus prosedur itu ) maka akhirnya tertanam dalam diri si anak bahwa dia harus menghargai orang lain maka dia pun akan dihargai...

OK...I have to admit that sometime (many time) I lost my patience when I remind my children that they sould wait before they start to ask something...all I say is : 'berapa kali siy bunda harus bilang kalau ada orang sedang bicara, kamu mesti nunggu dulu..jangan langsung menyela'...or...'Detya..masak setiap kali kamu makan bunda mesti ngingetin untuk menutup mulut ketika mengunyah..biar ga bunyi...'

I should say..'maaf Detya..Javas...jika bunda sedang bicara sama ayah...kamu boleh menunggu dulu sampai selesai baru bertanya'...or...'Detya jangan lupa menutup mulutmu ketika sedang makan'...just like that without adding...'berapa kali siy mesti diingetin.....'...beuh....they just kids that have short memory..so we have to keep on remind them.....patiently....

(awww......in english lagi)....




Read More..

Selasa, Oktober 27, 2009

Parenting Class : Imitasi

OK....temuan positif selanjutnya buat kelompok B3 adalah

Temuan 2.
IMITASI/PENIRUAN

Temuan ini tetep dianggap temuan yang positif karena ini merupakan karakteristik anak secara umum. Sejalan dengan temuan 1. Grouping, maka ketika anak-anak B3 mulai berkerumun di satu lokus, yang mereka lakukan adalah meniru apa yang dibuat temannya...dan sampai saat ini topik yang paling utama bagi mereka adalah TAMIYA......

Bu Guru siy sudah menegasakan bahwa setelah 3 bulan berlalu, mulai ada sedikit perubahan...dan karena Bu Guru ga bisa memaksa anak-anak untuk berhenti memikirkan TAMIYA maka langkah yang dilakukan adalah masuk ke dalam dunia TAMIYA mereka dan mengkaitkannya dengan tema bulan ini. Langkah ini cukup berhasil karena ada satu-dua anak yang tertarik untuk memadukan kesukaan pada TAMIYA dengan tema Masjid Sekolahku....

Intinya ketika groupin dan imitasi menjadi sangat kuat maka usaha untuk membuat mereka melupakan sama sekali tentang TAMIYA menjadi syusyah sehingga bagaimana kita blend kesukaan anak dengan topik yang kita maui...harus dilakukan agar pengalaman anak menjadi beragam...(seperti yang kulakukan ketika akhirnya membuat Javas memikirkan untuk membuat traktor seperti yang di depan masjid..daripada hanya sekedar memikirkan mobil saja...)

Pada dasarnya anak adalah miniatur kita sebagai orang tua yang sehari-hari mengurusi mereka. Bagaimana sikap kita, akan tercermin secara nyata pada tingkah laku anak kita.

Aku tau...aku bukan orang yang sabaran...aku bicara dengan nada yang cukup tinggi...sigh...aku tau itu akan jadi contoh buat anakku bertingkah laku dan berbicara...jadi aku sadar Javas suka tantrum dan teriak-teiak ga jelas mungkin karena melihat aku...(ehhhmmmm...tapi aku ga suka teriak-teriak ga jelas gitu kok.....swear....teriakku jelas kok.....muahahaha...enaugh about me...Am mature enough to know that I should behave better than the younger me...mature enough to know that in order to have great children..I should behave great as well...)

Seringkali aku hanya bisa melongo melihat gaya bicara Detya yang persis sis dengan yang kulakukan ketika kehilangan kontrol....sigh....bener-bener anak-anak akan jadi copycat kita plek makanya satu-satunya solusi untuk temuan 2 ini adalah:
  • orang dewasa di lingkungan sekolah dan rumah HARUS jadi model yang baik dalam bersikap dan berperilaku (bicara dan bertindak)
cara lainnya adalah:
  • memberikan pengalaman belajar yang tepat dan beragam, bahan dan alat, baik di sekolah maupun di rumah agar anak dapat berbagi pengalaman belajar mereka untuk anak lain saat imitasi berlangsung.

So...bapak-bapak...ibu-ibu...mari kita berusaha lebih baik lagi untuk menjadi pribadi yang sempurna agar dapat menghasilkan generasi yang sempurna juga...

Tetap Semangat...(ini penyemangat untukku sendiri...karena betapa syusyah untuk mengkontrol diri pada saat 'automatic me' selalu saja lebih dominan...sigh....*sambil tepuk-tepuk jidat sendiri*

Read More..

Jumat, Oktober 23, 2009

Prenting Class : GROUPING dan KERJASAMA

Sebenarnya waktu parenting class kemaren, ada 7 poin perjanjian yang harus kami sepakati bersama, salah satunya adalah AMANAH...artinya..apa yang kami bicarakan di pertemuan itu harus kita simpan untuk sendiri..karena mungkin saja ada yang curhat tentang anak-anak dan keluarganya...yang seharusnya tidak diketahui orang lain. Jadi karena kesamaan nasib bahwa anak-anak kami perlu perhatian tambahan, maka kami harus jujur... Untuk itu apa yang diceritakan disana merupakan rahasia sehingga ga perlu disebarluaskan di luar.

Intinya....aku tidak akan menceritakan bagaimana orang tua lainnya cerita tentang anaknya, tapi aku ingin sharing...bagaimana siy menghadapi anak-anak yang pola bermainnya sama dengan anak-anak B.3. Bener deh....pengetahuan ini (yang disharing oleh Bu Guru)..sangat sayang untuk sekedar disimpan sendiri...karena pasti banyak orang tua di luar sana menghadapi hal yang sama (dan mba devi pesen supaya aku sharing di blog ini...so mba devi...ini dulu yak)

TEMUAN I
Cara Bermain Grouping

Kelompok B3...sangat grouping. Ketika satu orang main di satu lokus..maka yang lainnya akan ikut bergerombol di lokus itu walaupun tersedia lokus-lokus lainnya untuk mereka mainkan. Jadi gini, pada tiap sentra, guru akan menyiapkan 5-7 lokus yang berbeda yang bisa merangsang semua motorik anak-anak. Misalnya sentra Ibadah (ini misalkan saja ya..karena aku juga kurang tau detilnya bagaimana), sesuai tema bulan ini maka akan disiapkan 5 lokus yaitu menggambar/mewarnai, mengunting dan menempel, berhitung dengan beraneka kancing baju, buku-buku untuk dibaca, dan balok kecil. Mereka boleh memilih salah satu dari 5 lokus itu untuk dimainkan dengan 2-3 teman lainnya. Jadi 5 lokus itu akan terisi dengan 5 kelompok anak.

Untuk kelas lain..pola seperti itu bisa berjalan. Guru akan menunjuk pemimpin kelas hari ini (biasanya 2-3 anak), untuk memilih terlebih dahulu lokus yang akan dimainkan dan dia boleh memilih teman untuk bergabung dengannya. Dengan begitu semua lokus akan penuh.

Tapi untuk kelas Javas...pengaturan seperti itu ga akan jalan...karena walau pada pengaturan awal mereka sudah disuruh memilih pada lokus yang berbeda, kenyataannya ketika ada satu anak menuju lokus balok kecil...maka yang lainnya akan mengikuti si teman dan bermain pada balok kecil. Ada dua-tiga anak yang biasanya akan menjadi pengamat. Meraka tidak langsung bergabung, tapi hanya melihat-lihat saja teman-temannya bermain di lokus itu. Satu orang akan tetap jadi pengamat sampe akhir (alias ga ngapa-ngapain...cuman liat doang), satu anak setelah beberapa lama akan ikut bergabung, dan seorang lainnya akan pindah ke lokus buku untuk minta diceritain Bu Guru.

Menurut Bu Guru, grouping seperti ini merupakan temuan yang POSITIF, karena perkembangan sosial anak umur 5-6 tahun adalah senang bermain kelompok dan mulai menuju ke kerjasama. Masalahnya untuk kelompok B3 ini, kerjasama sama sekali ga muncul. Walaupun mereka bermain bersama-sama di satu lokus, tapi mereka main sendiri-sendiri tanpa melibatkan teman yang lainnya. Untuk lokus balok kecil tadi...semua anak akan membuat TAMIYA...

Untuk itu...kami sebagai orang tua yang berperan di rumah mesti ikut menstimulasi anak agar grouping itu mengarah ke kerjasama. Di sekolah...setelah 3 bulan berjalan...arah kerjasama itu sudah mulai terlihat sehingga solusi agar lebih cepat lagi maaka di rumah harus dilakukan hal yang sama.

CARANYA:
  1. Buat aturan main yang jelas dalam kelompok, misal:setting alat main menunjukkan bahwa anak dapat bermain dengan sekelompok kecil di area tersebut (3-4 anak)
  2. Bantu anak kearah kerjasama bukan hanya bermain bersama atau berdampingan...

Sepertinya simpel ya...tapi in practice syusyah bener dan lammma...take it from my own experience:
Javas senang sekali membuat ketrampilan...tapi idenya seringkali abstrak dan susah diterjemahkan sehingga dia seringkali jengkel sendiri karena tidak bisa menerjemahkan apa yang dia inginkan. Jika begitu dia bisa teriak-teriak ga jelas dan berujung dengan kalimat.."aku mau dibeliin mainan..."...sigh...kalau sudah begini...aku yang jadi puyeng.

Yang aku lakukan adalah mendekati dia dan bertanya "Apa yang bisa Bunda bantu? Kamu mau bikin apa?"
Javas:"aku mau bikin pesawat"
Bunda:"ayo kita lihat ada kardus apa di belakang. Ini ada kardus odol, sekarang apa lagi yang kita punya...ada kardus susu. Yuk kita mulai. Kardus odol bisa buat badan pesawat, sekarang tinggal apanya?"
Javas:"sayapnya. Ya udah, Bunda yang bantu gambarin, aku yang gunting"
Sebentar kemudian pesawat dengan bentuk kasar sudah siap.
Bunda:"sekarang coba tanya Ayah, apa lagi yang bisa dilakukan"
Ayah membantu Javas dan akhirnya bentuk pesawat yang manis pun jadi.

Hal di atas aku ceritakan di pertemuan. Walau sudah bisa disebut kerjasama, namun ternyata banyak koreksi agar hal itu bisa benar-benar disebut kerjasama.
  1. Harus disebutkan ini KERJASAMA bukan membantu. Jadi pada saat memulai, maka disampaikan bahwa "ayo kita kerjasama untuk membuat pesawat" dan bla-bla-bla...(teeeet...yang kulakukan ternyata salah)
  2. Harus si anak yang memutuskan segala sesuatu, orang tua sebagai fasilitator. Jika anak tidak bisa menentukan maka orang tua memberikan lebih dari satu macam pilihan agar si anak yang memilih mana yang harus digunakan. Jika ide anak masih terlalu abstrak, berikan contoh dari gambar yang bisa dilihat anak secara riil dan dijadikan perbandingan. Intinya, kembalikan lagi kepada si anak untuk memutuskan segala sesuatunya....(teeeeeeeet...salah lagi deh)
  3. Untuk menunjukkan kerjasama, maka harus ada pembagian pekerjaan..walau diusahakan agar si anak sendiri yang mengerjakan. Jika semua anak-anak yang melakukan maka sebelum dimulai ada aturan main yang jelas..misalnya siapa yang menggambar pola..siapa yang menggunting...siapa yang menempel...jadi pada akhirnya pesawat itu merupakan hasil kerjasama...

beuh...beuh.....apa yang kupikir kerja sama ternyata belum sepenuhnya kerja sama...

Maka PR kami semua di rumah untuk dikerjakan adalah MELATIH KERJASAMA....dan melakukannya emang perlu energi lebih agar kata-kata MEMBANTU yang otomatis mau keluar itu beralih menjadi KERJASAMA...

Tadi malam Javas punya ide untuk membuat traktor seperti yang sekarang nangkring di sungai di Masjid Istiqlal... sebenarnya ide awal adalah membuat mobil (as always....sigh...I dunno why he is so in love with cars...). Tapi karena tema bulan ini adalah MASJID SEKOLAHKU....maka ide mobil itu kuarahkan ke tema sehingga dia punya ide untuk membuat traktor yang membersihkan sungai di Masjid Sekolahku....

Swear deh..untuk mencapai ide itu....lammmmaaa dan mesti diskusi panjang sampe akhirnya dia sendiri yang memutuskan....mengarahkannya menuju ide itu lo yang puyeng. Intinya...kita sebagai orangtua mesti KREATIF...ga ada manualnya siy...(thanks to this parenting class...so many example dan it's soooo aplicable).

Masih ada tapinya ding....karena sudah terlalu malam, aku harus menghentikan kegiatannya membuat traktor itu untuk dilanjutkan keesokan harinya...dan hal ini membuat dia frustasi karena dihentikan pada saat sedang asyik menyusun karton-kartonnya...akhibatnya dia tantrum lagi...dan ayah sempat marah karena dia main fisik sama adiknya. Jadi aku harus mengingat-ingat semua arahan Bu Guru agar tidak ikut marah seperti Ayah dan meredakan tantrumnya. Eniwei..Javas tidur dengan tenang...dan malam ini mesti praktek ilmu lagi...

OK...sementara ini dulu....ntar sambung lagi...



Read More..

Senin, Oktober 19, 2009

Laporan Mid-Semester

Setelah hari Jumat membahas laporan mid semester Javas...yang intinya Javas perlu dukungan lebih untuk meningkatkan level sosial emosinya..maka sabtu kemaren, kami (aku dan suamiku) harus mengambil laporan mid semester Detya...

Deg-degan...JELAS...karena waktu ujiannya kemaren..agak-agak kelewatan belajarnya. Maksudku gini..waktu Detya mulai sekolah kemaren, aku ga bisa mendampingi karena ikutan training....balik dari training pun...ga lama kemudian udah puasa dan lanjut lebaran..jadi banyak libur. Jadi aku sama sekali ga pernah baca buku-buku Detya untuk tau apa siy yang sebenarnya diajarin untuk semua pelajaran?..apa siy yang Detya dapat selama masuk MI?..aku cuman diskusi mengenai pergaulan dia dan hal-hal non akademis lainnya...

Maka ketika liburan lebaran sudah selesai dan tgl 1 Oktober Detya sudah harus masuk sekolah untuk nyiapin ujian mid-semester,...betapa paniknya aku...karena aku ga tau sama sekali apa yang sudah dipelajari...dan apa yang harus disiapkan menjelang ujian gini....(aku merasa jadi ibu yang ga care sama anaknya...hiks). Apalagi ketika benar-benar baca buku-buku pelajaran Detya, aku makin tambah panik...kok lemayan rumit ya...apa bisa Detya memahami soal-soalnya?...Bagaimana sikap DETYA sendiri?...alamak..dia cuek-cuek aja dan ga ngerasa ada yang penting dengan ujian ini..(setelah diskusi dengan mba devi, rupanya memang begitu tabiat anak kelas satu...mungkin karena mereka belum paham..apa konsekuensi jika tidak bisa ujian..)

Eniwei...tetep...tiap malam sebelum ujian...aku dan adikku bergantian...menemani Detya belajar sekaligus memotivasi dia tentang apa siy ujian itu...walaupun dia masih males-malesan..pada dasarnya detya itu quick learner...cuman cepet bosen aja...jadi belajar ya seadanya saja..

Balik lagi ke hasil laporan...seperti waktu di RA dulu...konsenku adalah diskusi tentang bagaimana Detya sehari-hari...mengingat dia susah sekali dimotivasi untuk datang sekolah tepat waktu dan bergegas jika terasa terlambat....dia juga masih bermasalah dengan temannya yang suka bullying dulu....juga sering mengeluh ada satu temannya suka banget meminta bantuannya...susah sekali memberi kesempatan adiknya untuk belajar baca ketika di mobil...hal-hal semacam itu lah...

Aku cuma sempet melirik sekilas hasil-hasil ujiannya....dan hasil lirikan itu membuat kepalaku sedikit membesar karena seneng...(bukan sedikit diing...asli besar banget karena aku seneng banget...)...yang nampak adalah angka 100, 9 brapa, 8 brapa...yang kulihat paling kecil cuma bahasa arab dapat 72....

Beda banget ketika suamiku yang melihat...beliau langsung pengen liat nilai penjaskes (pendidikan jasmani dan kesehatan)...dan ternyata sesuai dugaan suamiku....dapet 50....dan itu dihubungkan dengan perilakuku yang ga suka olah raga akibatnya Detya pun ancur di nilai itu....(hehehe...like mother like daughter...) Tapi akupun membela diri...antara buku pelajaran dengan soal ujian sama sekali ga nyambung....pantesan aja detya ga gitu paham...

Poin yang ingin kuceritakan disini adalah...kita mesti percaya ama kemampuan anak kita....ga perlu stress atau panik sendiri... Yaaa...memotivasi memang perlu tapi percaya pada si anak jauh lebih penting daripada memaksa anak untuk mengikuti aturan-aturan yang terlalu baku...bagaimanapun untuk usia segitu bermain masih jadi dunia yang utama...

Jadi tinggal kita sebagai orang tua mesti bisa mengarahkan anak sambil bermain...sehingga mereka justru lebih cepat belajar dari lingkungan yang seperti itu...

Read More..

Jumat, Oktober 16, 2009

Spesialnya Javas...

Minggu lalu dapat undangan untuk rapat orangtua khusus untuk kelas Javas, Kelompok B3. Tidak semua kelas dapat undangan itu, tapi karena ada kelas lain yang juga dapat maka aku hentikan kekhawatiranku....mungkin ini hanya bergiliran.

Rabu kemaren pelaksanaan rapatnya dan ternyata memang hanya kelas-kelas spesial saja yang perlu pertemuan seperti ini. Sekolah menyebutnya Parenting Class.

Di awal tahun ajaran, disebutkan bahwa kelas B3 ini merupakan penggabungan anak-anak yang secara tingkat sosial emosi belum sesuai dengan umurnya, sehingga agar penanganannya lebih fokus maka dijadikan satu kelas. Untuk TK A, juga diatur demikian.

Maka setelah tiga bulan berlalu dan melihat perkembangan selama ini, maka sekolah berinisiatif agar di kelas spesial ini diadakan Parenting Class. Tujuannya agar terjadi keselarasan antara perlakuan di sekolah dengan di rumah sehingga si anak dapat mencapai level sosial emosi yang sesuai dengan usianya.

Sebelum lebih jauh, Javas emang beda dengan Detya, disamping menurut penelitian perempuan itu lebih cepat matang sosial emosinya, secara keseluruhan Javas lebih cepat segalanya dari Detya dalam hal perkembangan motoriknya, sedangkan Detya cepat dalam aspek bahasa dan kognitifnya. Javas udah jalan ketika berumur 10 bulan sedang Detya jalan ketika seminggu sebelum ulang tahun pertamanya.
Dalam aspek sosial emosi, Javas sudah dari kecil dulu suka tantrum ga jelas dan bisa berlangsung berjam-jam. Tantrum itu berkurang ketika dia mulai sekolah di Istiqlal dan semakin hilang sampai sekarang ini. Tantrum hilang tapi dia suka menarik diri dari kelompok main jika dia ada hambatan dan berdiam diri (di sekolah)..kadang-kadang jika gemes ingin menyalurkan marahnya dia mencakar lantai, tikar, karpet atau meja dengan posisi gemas sekali (di rumah)...yang jelas nangis diam-diam di pojokan masih dilakukan jika dia merasa terganggu oleh temannya ketika bermain atau ketika ada keinginan dia yang tidak terpenuhi.

Intinya..aku terima ketika Javas dianggap perlu untuk masuk kelas khusus karena sosial emosinya yang belum sesuai (karena ada ibu yang sepertinya tidak terima ketika anaknya masuk kelas B3 ini). Bagiku pribadi, dengan hilangnya tantrum dan komunikatifnya dia dalam mengungkapkan apa yang dia pikirkan dengan kami, orangtuanya, sudah merupakan kemajuan yang cukup berarti.

Dari hasil parenting class hari rabu itu, rata-rata orang tua mengalami masalah yang sama sehingga masalah sudah teridentifikasi, tinggal cari solusinya gimana. Banyak yang baru kami ketahui dalam pertemuan itu dari penjelasan Bu Guru kelas, tentang anak-anak kami di sekolah . Kami jadi tau bahwa semua orang di kelas B3 itu demam TAMIYA karena model main mereka yang grouping....satu pilih mainan..yang lainnya akan maen yang sama. Ada dua tiga anak yang tidak terpengaruh tapi berdasar diskusi pengaruh tamiya itu munculnya di rumah. Dalam hati aku khawatir, jangan-jangan Javas yang membawa pengaruh Tamiya ini...tapi ternyata tidak..ada beberapa anak yang lebih kuat kesukaannya pada tamiya ini sehingga Javas yang memang sangat suka mobil...jadi suka tamiya juga. Apalagi lebaran kemaren kumpul dengan sepupu2nya yang doyan tamiya juga..(in fact..dulu aku yang ngado lintasan tamiya itu waktu mereka sunatan).

Maka pertemuan yang berakhir jam 5 sore itu cukup membuka pikiran kami semua dan sedikit contoh-contoh cara menangani anak-anak dari Bu Guru, sangat membantu kami untuk melakukan langkah selanjutnya.

Pada dasarnya Javas sangat mudah diajak bekerja sama artinya jika sedang ada masalah..kami berdiskusi sampai semua pertanyaannya terjawab..maka dia akan mudah mengikuti apa yang kita mau... Apalagi dengan trik diskusi yang disampaikan Bu Guru...makin mempermudahkanku berdiskusi dengan Javas (dan ini langsung kupraktekkan sepulang dari parenting class itu).

Tadi pagi adalah jadwal mengambil laporan tengah semester Javas...dan konsultasi yang sebelumnya diadakan hanya 15 menit saat mengambil laporan oleh masing-masing orangtua, sepakat kita ganti dengan model diskusi seperti saat parenting class sekaligus melanjutkan pertemuan pertama itu.

Pembahasan tadi sudah dalam tahap mencari/memberi solusi..(intinya kita bingung ga tau solusinya gimana, Bu Gurulah yang mencarikan solusi dari identifikasi masalah itu...thanks a lot Bu Guru... We love you full...). Dan solusi serta penjelasan yang sangat aplikatif dijelaskan dengan detil sehingga bertambahlah pengetahuanku dalam menangani Javas (dan berguna juga jika menghadapi Detya yang jagoan berargumen).

Sayang sekali suamiku ga bisa bergabung jadi harus menjelaskan ulang yang artinya belum tentu sebaik Bu Guru ketika menjelaskan tadi.... Dari sharing dua kali ini, rata-rata para Bapak yang memenuhi kebutuhan mainan bagi anak-anak cowoknya (dalam bentuk mobil dan tamiya)...jadinya cukup susah menghilangkan pikiran tamiya itu dari anak-anak jika si Bapak tetep memnuhi mainan itu.

Parenting Class ini akan rutin kami lakukan karena sebagai kelompok B yang akan masuk SD, kemampuan keaksaraan harus sudah bagus. Jadi akselerasi sosial emosi ini harus cepat kami lakukan agar mereka siap belajar keaksaraan. Aku tidak begitu panik karena toh Javas akan masuk di MI Istiqlal...walaupun begitu tetep kita latih dia untuk keaksaraan agar setidaknya dia sudah bisa membaca saat MI kelak.

Kepanikan dialami oleh ibu-ibu yang akan menyekolahkan anaknya di SD umum atau SDIT luar sana karena tes awal sudah ada yang dimulai Desember ini sehingga mereka sangat ingin anaknya sudah bisa membaca...(SD lain pasti menarget pada tes itu, anak-anak yang diterima adalah yang sudah bisa baca...). Menurut Bu Guru..bagaimana bisa mereka memulai keaksaraan kalau tahap sosial emosi mereka saja masih di level anak usia 3-4 tahun yang seharusnya sudah mereka lewati. Bu Guru pun paham tentang tuntutan bisa membaca, maka dari itu mereka mengadakan parenting class ini untuk bersama-sama akselerasi sosial emosi anak-anak.

OK Bu Guru...kami akan mempraktekkan trik-trik solusi yang dijelaskan tadi dan semoga hasilnya akan menjadikan anak-anak lebih baik lagi....

Read More..

Selasa, Oktober 13, 2009

Aksesoris

Duluuu, sekitar tahun 2005, semasa serial Korea "Full House" pertama kali diputer di TV...aku jadi suka aksesoris terutama anting, karena tokoh utamanya di situ suka sekali berganti-ganti anting, dengan model yang imut dan menarik.

Maka ketika pertama kali kembali kerja setelah 2 tahun off untuk kuliah, aku jadi rajin berburu anting dan akhirnya punya peralatan lengkap buat bikin anting dan kalung sendiri. Aku punya tiga jenis tang untuk bikin aksesoris, aku punya kotak peralatan untuk menampung koleksi manik-manik, kristal, batu atau mutiara serta pernak-pernik untuk aksesoris. Aku punya laci plastik kecil untuk menyimpan koleksi aksoesorisku yang sudah jadi. Bahkan dulu aku pernah menerima pesanan teman-teman yang ingin dibuatkan aksesoris. Benar-benar niat banget buat beraksesoris seperti yang nampak di serial Korea itu. Waktu itu suamiku masih di Korea, jadi tentu saja minta beliau buat nambahin koleksi aksesorisku, asli Korea.


Ki-Ka: Tang puter, Tang potong, Tang Jepit


Kotak Peralatan

Sebelumnya aku ga tahan pake perhiasan yang bukan emas (alergi banget!!jadi ga pernah bermain-main dengan aksesoris). Tapi pas aku mulai senang pake anting itu, gatau kenapa, aku jadi kebal ama logam bukan emas..jadi aku semakin bersemangat. Ga tau kenapa, tiba-tiba hampir setaun kemudian, alergiku muncul kembali. Aku ga tahan pake logam bukan emas, merah dan gatal. Jika diterusin bisa makin kacau, maka aku menghentikan kesenanganku bergonta-ganti anting. Ditambah lagi kesibukan kerja yang mulai meningkat, sehingga ga ada kesempatan buat bengkel aksesorisku. Maka semua peralatan aksesorisku kusimpan di laci meja kerjaku.

Awal Oktober kemaren, aku ketemu dengan salah satu lawyer ADB yang suka beranting panjang dan beraksesoris lengkap dengan warna ijo sehingga matanya yang hijau nampak semakin indah. Aku jadi tergoda untuk pake anting yang matching ama bajuku dan akhirnya besok harinya aku pergi ke pasar baru buat pesen cantolannya aja dari emas, sehingga aku ga khawatir kena alergi lagi. Cantolan itu cukup satu, tapi bawahnya yang akan berganti-ganti sesuai bajuku hari ini. Agak miris juga siy, ternyata harga dan ongkos bikinnya lemayan mahal (untuk ukuran kantongku..), tapi kupikir inilah harga yang harus kubayar untuk kesukaanku memakai anting macem-macem...

Cantolan Anting...yang mesti pesen itu...



Cantolan yang digabung dengan bagian bawah yang merupakan salah satu koleksiku...

Dan sekarang...voila....jangan kaget jika ngeliat antingku berganti-ganti tiap hari...matching dengan bajuku....dan setelah kubongkar semua koleksi lamaku...aku punya lebih dari 2 lusin anting berwarna-warni.....senengnya hatiku....

Update:
Ini sebagian kecil koleksiku....(abis Polar minta ada foto siy...)



Read More..

Rabu, Oktober 07, 2009

Batik

Agak telat ya, ngomongin batik minggu ini? Mestinya tanggal 2 Oktober lalu pas ditetapkannya batik sebagai warisan budaya asli Indonesia oleh UNESCO. Tapi gapapa lah, aku pengen sharing tentang apa yang sudah dan pengen aku lakukan dengan batik.

Yang Sudah Kulakukan...

Sudah beberapa bulan ini aku memakai batik sebagai baju kerjaku setiap hari. Aku lupa kapan tepatnya tapi beberapa minggu sebelum aku berangkat training akhir juni lalu. Sebagai modal awal, aku pakai batik koleksi pribadi yang hanya 3 buah dan batik seragam untuk acara-acara kantor kira-kira 3 buah juga. Ditambah batik seragam untuk sidang tahunan (ada empat tapi satu yang lengan panjang aku berikan buat adikku yang pakai kerudung...jadi biar dia juga suka berbatik). Yaaa...tentu saja waktu itu masih diselingi baju kerja biasa sekali dua kali.

Nah..pas diklat kemaren, karena lokasinya di Magelang dan akhir minggu ada acara ke Jogja, maka aku puas-puasin nyari batik murmer yang sesuai dengan seleraku. Dapat lah tambahan 3 baju..(hiks..cuman nambah 3 karena alokasinya ga cuma buatku...mesti beliin suami-yang ngiri karena aku nambah batik dari sidang tahunan kemaren, adikku, anak-anak, dan asisten serta anaknya sekalian....jadinya pengen nambah sebanyak-banyaknya jadi terhalang deh...).

Eniwei sepulang dari training kemaren, maka dipastikan deh kalau tiap hari aku berbatik. Ada teman sekantorku yang juga punya keinginan yang sama dan dia konsisten berbatik tidak lama sebelum aku juga konsisten. Bedanya, koleksi batik dia lebih banyak, termasuk batik seragam kantor juga lebih banyak karena event yang dia ikuti juga lebih banyak....belum lagi kalau Batik Keris ngeluarin koleksi terbaru, dia pasti punya beberapa yang dia sukai...Tsaaahhh...maklumlah...kebutuhan dia hanya untuk dia sendiri...ga seperti aku yang mesti mikirin keluarga juga (ngiri mode:on....)

Beberapa minggu lalu, ada juga satu teman cowok di kantor yang berbatik juga tiap hari....jadinya...di kantor ada tiga pegawai yang berbatik ria tiap hari...

Kemaren aku browsing tentang model baju batik yang bagus, karena aku punya tiga kain batik yang belum dijahit dan aku belum nemu penjahit yang bisa kupercaya menangani batikku. Maklum untuk kain batik yang ini agak spesial..ga murmer seperti biasa. Ada 2 batik sutra dan 1 batik tulis katun asli Banyuwangi. Tahun 2008 kemaren, aku sengaja beli batik tulis asli Banyuwangi, walaupun harganya bikin aku hampir batal beli (sengaja beli setelah baca artikel tentang motif batik se nusantara di KOKI dan sebagai Lare Osing...masak ga punya koleksi batik asli Banyuwangi?) . Sedang batik sutranya yah..merk casio dari klien suamiku....hehehe...

Nah ketika browsing kemaren, aku baca filosofi menarik dari situs ini Debatiqbutiq...The Goddes Way....bahwa yang disebut batik itu ya either Batik TULIS or Batik CAP...bukan batik printing yang beredar sekarang ini...(hiks...termasuk yang kupakai selama ini).. Motifnya memang batik tapi cara pembuatannya bukan batik...weh..weh....aku jadi merasa kesenggol niy....

Dengan definisi itu..jelas-jelas aku bukan pemakai batik....(kecuali kalau 3 kain batik itu sudah jadi...). Aku jadi merasa tertantang untuk benar-benar memahami dan menggunakan batik sebenar-benarnya....yang sangat kita banggakan sampai ketika negara tetangga kita mengklaimnya kita begitu mencak-mencak...yang kita daftarkan ke UNESCO untuk jadi warisan dunia asli Indonesia....yang dipopulerkan oleh Nelson Mandela...yang benar-benar ditulis pake canting atau dicap pake malam dan semua prosedur membatik diikuti....OK...pasti jadinya lebih mahal daripada yang kupakai selama ini....tapi kalau yang CAP..setaralah dengan baju kerja yang biasa kupakai dulu...so...kenapa ga mulai sekarang?

Yang Pengen Kulakukan....

Aku akan memulainya dengan menjahitkan kain batik spesialku itu menjadi baju siap pakai yang bisa kupakai kerja......selanjutnya untuk tambahan batikku yang baru...aku akan cari yang berbahan Batik TULIS atau minimaaaaal..Batik CAP....
Jadi aku akan bisa melestarikan batik sebenar-benarnya....bukan cuma memakai batik printing yang sebenarnya ga ada bedanya dengan baju bermotif yang lainnya...

Mari teman-teman...kita gunakan BATIK sebenar-benarnya.....

Read More..

Senin, Oktober 05, 2009

Sanggar Ananda...

Dulu waktu Detya masih belum di Madrasah Istiqlal, dia pernah ikutan balet di Sanggar Kreatifitas Bobo/Bona (SKB) di dekat rumah. Tujuannya siy biar gerak tubuhnya fleksibel, ga kaku kayak emaknya ini....(ampuun deh...aku beneran kaku karena ga pernah ikutan aktivitas seni dari kecil dulu.....beda dengan suamiku yang lentur karena dari kecil biasa olahraga, dan ngegambarnya juga jagoan.... SMA jagoan breakdance dan di Korea kemaren sempat dapat hadiah karena menang dance dengan gaya andalan:breakdance...)

Waktu itu hanya sempat ikutan balet satu semester lebih dikit dan berhenti karena dia harus mulai sekolah di Istiqlal ...jadi waktunya ga cukup buat ikutan balet lagi (sempat ikut pertunjukan tahunan juga siy di Gedung Kesenian...). Sejak itu Detya ga pernah ikutan olah tubuh lagi, kamipun udah nyoba nyari-nyari kursusan nari yang dekat-dekat dengan kantor. Tapi ga pernah dapet...(ya ga sempet nyari...gimana bisa dapet...)

Eniwei...sabtu kemaren ada kawinan temen suamiku di manggala wana bakti dan ketika lew3at Senayan, suamiku bilang bahwa ada kursusan nari di gelora bung karno tiap hari Sabtu. Dan dengan semangat suamiku minta agar minggu pagi kita olah raga kesana..(dalam hatiku sedih banget...karena aku pengen banget tidur lagi hari minggu itu....). Minggu pagi...walau dengan agak malas-malasan..kamipun bersiap ke Senayan dengan tujuan olah raga...maen sepeda atau jalan aja.

Ternyata suamiku juga mengagendakan untuk melihat kursusan nari itu karena bisa trial sebelum daftar beneran. Lokasinya di Pintu VII Gelora Bung Karno...sumpe de..aku ga ngerti agenda suamiku dan waktu baru nyampe, ga ada brosur atau tulisan apapun tentang kegiatan ini... tapi semakin siang semakin rame dan ternyata jam buka resminya emang jam 10.30...sedangkan kami sudah disana sedari 08.30.

Ngeliat anak-anak yang bareng datang denganku (akhirnya aku baru tau kalau mereka juga pengen trial)..aku sempat ga sreg, karena dandanan mereka seperti orang dewasa dikecilin...dengan rambut yang ditata keriting melingkar-lingkar dan baju up to-date (yang sangat-sangat kuharamkan untuk dipake anak cewekku)...aku sempet ngomel ke suamiku kenapa ikutan begini-ini.

Selanjutnya mulai banyak pengasuhnya yang dateng dan brosur-brosur serta spanduk mulai dipasang dan pelan-pelan mulai ngerti..sanggar apaan siy ini. Namanya Sanggar Ananda dipimpin oleh Aditya Gumay (wajahnya nampak familiar) dan ternyata yang ngasuh Lenong Bocah ya sanggar ini.

Programnya ada dua, kelas reguler dan kelas produksi. Kelas reguler mengajarkan 4 macam pelatihan secara bergantian yaitu akting, presenter, modelling dan modern dance. Setelah 6 bulan akan dilihat si anak bakatnya dikelas apa baru kemudian pendalaman di kelas produksi. Atau jika dalam waktu itu sudah terlihat si anak cenderung di kelas apa, maka bisa langsung masuk kelas produksi. Semua anak yang bergabung akan disalurkan ke dunia hiburan sesuai bakatnya.

Sebenarnya aku sama sekali ga sreg dengan kursus yang semacam ini. Aku cuma pengen Detya mempunyai olah tubuh yang lentur..aku ga pengen dia jadi sesuatu yang berhubungan dengan dunia hiburan...tapi ngeliat dia enjoy banget waktu ikut trial dan dia dengan senang hati minta ikutan gabung...aku juga ga tega menolak... Setelah diskusi dengan suami, beliau juga menyarankan agar cara pandang kita adalah ingin membuat Detya percaya diri dan mempunyai bahasa tubuh yang bagus...perkara nanti disalurkan kemana...itu kan masih dalam wilayah wewenang kita untuk menerima atau menolak...yang penting dengan bergabung di Sanggar Ananda, Detya menjadi PD dan gampang bergaul..

OK deh....walaupun hatiku masih ragu...aku setuju untuk ngikutin Detya ke kegiatan itu.
FYI, biaya yang harus dikeluarkan untuk masuk adalah:
uang pangkal Rp1.500.000,- (bisa dicicil)
uang seragam Rp200.000,- (menghindari pakaian yang berlebihan dan anak-anak lebih suka berseragam)
iuran bulanan Rp250.000,-

yaaaa...masih affordable lah...(apalagi yang pertama itu bisa dicicil)...
lagian entar-entar, kalau nganter Detya ke Senayan kan bisa nyambi jalan-jalan ke dekat-dekat situ....dan jam 10.30 ga pagi-pagi amat kok...(jadi masih sempet manjangin molor....qeqeqeqe...ibu yang malaaassss...)

Read More..

Jumat, Oktober 02, 2009

Super Sensitifnya Detya...

Ketika Detya mengalami Bullying pertama kali....aku coba berkonsultasi dengan guru kelasnya dan mereka mencoba cari solusi untuk itu. Guru-guru kelasnya memang melihat bahwa person yang bullying itu memang terlihat berbeda sehingga perlu ada solusi khusus. Setelah itu, curhatan Detya tentang teman itu memang agak berkurang dan dia cukup bahagia di akhir tahun ketika pentas seni dia mendapat kesempatan untuk berpasangan dengan cowok yang dia suka.

Tapi waktu diskusi akhir tahun ajaran dengan guru-guru kelasnya, baru dibicarakan bahwa ternyata Detya lebih sensitif dalam menanggapi banyak hal dibanding teman-temannya. Ya..aku memang sudah merasa bahwa Detya terlalu sensitif. Jika ada yang membuat dia ga enak dikit aja..dia langsung merengek-rengek dan meneteskan airmata. Kalau dia ingin aku menjemputnya sekolah sedangkan aku sendiri harus rapat keluar kantor maka pagi itu dia langsung berurai air mata memintaku tetap berusaha menjemputnya..

Guru TKnya bercerita bahwa pada dasarnya temannya yang bullier itu juga bullying ke teman-teman lainnya...tapi teman-temannya itu tidak menghiraukan si bullier itu sedangkan Detya langsung kepikiran dengan ancaman si bullier....itulah salah satu hal yang menunjukkan Detya lebih sensitif terhadap semua hal dibanding teman-temannya yang lain. Gurunya menyarankan agar ketika di MI nanti, dia harus dimotivasi agar bisa mengendalikan perasaan super sensitifnya....

Aku sendiri ga tau harus bagaimana memotivasinya kecuali selalu bilang bahwa menunjukkan perasaan boleh saja asal tidak berlebihan....
misalnya ketika tadi pagi aku tinggalin dia pas ngantar sekolah dia sudah mulai meneteskan airmata karena sedih berpisah denganku....aku bilang padanya agar sedih karena ditinggal bunda boleh saja tapi kan tidak perlu meneteskan air mata.

Bener-bener deh..aku agak keteteran juga mengatasi bagaimana agar Detya tidak terlalu sensitif....semenjak di MI ini keluhannya semakin bertambah....jadinya mesti ga boleh capek ngingetin dia untuk bisa mengungkapkan apa yang bikin dia ga suka dan memancing sebenarnya apa yang bisa dia lakukan untuk mengatasi keluhannya sendiri itu...

Tapi kadang-kadang tetesan air mata Detya bisa jadi penghambat frustasiku menghadapi Javas yang tantrum.... saat Javas mulai marah-marah ga jelas gitu...aku berusaha mendisiplinkannya dengan menyuruh dia duduk di pojokan nakal (kita menyebutnya begitu...meniru cara Nanny 911). Tentu saja ketika tantrum gitu mana mau Javas menurut dalam sekali perintah...bisa berkali-kali mendudukkan Javas sampai dia mau duduk tenang...nah dalam proses yang bikin frustasi itu.....Detya hanya memperhatikan sambil meneteskan airmata sedihnya melihat adiknya diangkat berkali-kali agar mau duduk diam di tempat.... Saat itulah....rasa frustasi yang makin meningkat menjadi turun dan kesabaran kembali lagi sehingga frustasi itu ga jadi rasa marah...

Beuh....susah sekali ya jadi orang tua....

Pak...Bu...maafin aku ya...pasti susah juga ngadepin aku yang pemberontak ini....
Read More..