Kamis, Desember 23, 2010

Laporan Akhir Semester Javas

Setelah merasa sedikit kecewa ga jelas yang ga patut dipelihara pas menerima laporan Detya, maka mengantrilah kami di kelas Javas. Sebenarnya kami sudah siap dengan apapun hasil yang Javas peroleh.

Toh dari awal ketika Javas harus memulai SD-nya, kami menyadari keadaan sosial emosi Javas yang masih nyaman dengan pola bermain di RA. Lalu kami mulai diskusi dengan wali kelasnya, yang ternyata hasilnya...tidak bisa tidak...tetap memunculkan kekecewaan di hati.

Dengan lebih dari separo nilai mata pelajaran di bawah KKM, kekecewaan bukan muncul dari nilainya. Tapi tentang bagaimana kondisi si Anak ketika ujian itu berlangsung. Sebelumnya sudah diskusi ringan dengan Mba Devi mengenai banyaknya jumlah murid yang ikut remedial di kelas Javas. Beda dengan murid-murid di kelas Rafif (anak Mba Devi) dengan peserta remedial hanya dibawah itungan 10. Dugaan kami bahwa di kelas Javas, ujian harus dibaca sendiri. Walaupun aku tidak memastikan saat itu apakah dalam semua pelajaran kelas Rafif masih dibacakan soalnya atau hanya pelajaran tertentu saja.

Nah pada saat diskusi dengan wali kelas Javas, disampaikan kondisi ujian bagaimana. Dari awal guru pengawas hanya mengawasi anak-anak mengerjakan soal, semua proses dilakukan si Anak sendiri. Jadi Guru tidak membacakan soal seperti waktu di mid-test lalu. Dengan kondisi itu, tentu saja akan susah bagi anak-anak kelas satu yang susah untuk konsentrasi membaca dalam waktu yang lama. Namun, tetap diperhatikan kondisi satu persatu anak ketika nampak sudah tidak bisa konsentrasi, guru akan mendekati dan membantu secukupnya saja. Alasannya adalah untuk mengapresiasi kemampuan membaca dan mengerti masing-masing anak.

Dengan waktu ujian yang rata-rata hanya 1.5 jam maka aku bisa membayangkan betapa susahnya Javas untuk membaca satu soal saja. Belum lagi rentang konsentrasi Javas yang masih pendek. Maka membaca soal ujiannya sendiri, akan menjadi tantangan berat bagi Javas. Untuk membaca satu-dua kata saja perlu rayuan tingkat tinggi. Bagaimana dengan membaca sendiri soal sepanjang dua halaman? Belum lagi, pada waktu ujian kemarin, Detya dan Javas beberapa kali tidak tepat waktu saat masuk kelas....biasalah...macet.com. Ini sangat mempengaruhi mood Javas. Ketika dia masuk kelas, teman-temannya sudah mulai mengerjakan sehingga mental dia udah jatuh duluan. Kalau sudah begini, menurut gurunya, Javas akan cukup lama memulai mengerjakan ujiannya.

Jadi bagaimana aku tidak kecewa jika sebelumnya aku dapat informasi bahwa di kelas 1 lainnya guru masih membacakan soalnya (tetap aku tidak tau hanya pelajaran tertentu saja atau semuanya..cuman yaaa..kecewa saja). Wali kelas memastikan bahwa aturan baca sendiri itu berlaku umum baik di 1A maupun 1B.

Aku menyadari tujuan utama dibalik membaca sendiri soal ujian adalah untuk mengapresiasi kemampuan masing-masing murid. Tapi membayangkan perjuangan Javas ketika ujian lalu....sungguh membuatku sedih.

Dari awal wali kelasnya tidak pernah meragukan kemampuan kognitif Javas..dia cepat mengerti..jika ditanya juga cepat menjawab...hanya konsentrasi dan fokus yang kurang sehingga mempengaruhi aspek lainnya.

Jadi, saat ambil laporan itu, kami diminta menandatangani perjanjian bahwa kami akan melakukan langakah-langakah tambahan agar Javas bisa semakin lancar membaca dan menulis...agar masalah utama Javas teratasi...

Maka..sambil menemani anak-anak liburan di Kediri, aku sengaja mengambil cuti di akhir tahun agar bisa lebih intens mendampingi Javas memperlancar bacaannya....(walaupun..sungguh..aku punya 2 deadline yang harus aku selesaikan sebelum 30 Desember....biarlah kumonitor lewat email saja)

Closure
Latar belakang : Di mobil dalam perjalanan pulang suatu ketika setelah lebaran..

Ayah: "Ayo Javas, tolong dipimpin berdoa naik kendaraan ya"
Javas: " Iya Ayah...SUBHAANAL LADZII SAKHKHORO LANAA HAADZAA WAMAA KUNNAA LAHU MUQRINIINA WA INNAA ILAA RABBINAA LAMUN' QOLIBUUN"

Javas : " Ayah..aku juga mau berdoa lagi...Ya ALLAH...lancarkanlah bacaanku"

Amien..ya Allah...

love you my dear Javas..
Read More..

Senin, Desember 20, 2010

Laporan Akhir Semester Detya

Hari Sabtu minggu lalu adalah saat pembagian laporan akhir semesteran Detya dan Javas. Datang kesiangan dan melewati waktu yang dijatahkan, namun akhirnya bisa juga diskusi dengan wali kelas. Tetap saja merasa tidak puas, karena ga tega membuat antrian di belakang nunggu terlalu lama.

OK, buat Detya tentu saja ga jadi masalah kalau tidak bisa lama-lama. Detya ga pernah bermasalah baik dari segi perilaku maupun prestasi sekolah. Ya..hanya sedikit keluhan tentang gampangnya dia terpengaruh orang lain, tapi itu masih bisa diarahkan ke hal yang positif.

Satu hal yang menganggu perasaanku sendiri. Aku berusaha menanamkan, terutama pada diriku sendiri, bahwa prestasi akademik itu adalah nomer sekian dibandingkan perilaku anak-anakku. Tapi ternyata tidak bisa tidak, aku cukup terpengaruh ketika melihat peringkat di raport Detya. Kelas satu dulu dia selalu jadi peringkat pertama dan di kelas dua ini, dua kelas satu dulu digabung jadi satu sehingga wajar jika dia ga dapat peringkat satu lagi.

Inilah masalahku, sudah tau itu kondisinya...sudah meyakinkan diri sendiri juga bahwa masalah akademik bukan prioritas, tapi tetap saja meresa sedikit kecewa karena pada dasarnya nilai ujian akhir Detya adalah yang terbaik dikelasnya. Hanya karena Detya jarang mengerjakan PR-nya dengan tuntas, maka nilai Detya hanya terpaut satu angka dibanding peringkat pertama.

Sebenarnya, jika Detya tidak tuntas mengerjakan PRnya adalah karena kontribusi kami sendiri. Sebagai orangtua, kami tidak bisa memberikan waktu yang maksimum untuk anaknya. Aku memaksakan anak-anakku untuk mengikuti jadwal kerjaku dengan tujuan agar aku tidak kehilangan waktu dengan mereka. Aku masih bisa berdiskusi dan berkomunikasi dengan baik jika anak-anak mengikuti jadwalku.

Suamiku berulang kali menyinggung masalah ini, bahwa keputusan menyekolahkan anak-anak dekat dengan kantor lebih karena keinginan kami saja dibanding keinginan anak-anak. Bagaimana jika dipandang dari sudut pandang si anak sendiri? Nyamankah mereka jika harus mengikuti jadwal orangtua? Bagaimana dengan waktu bermain dan istirahat mereka? Waktu yang normal seperti anak-anak yang lain?

Pada akhirnya, Detya menjadi bermasalah dengan PR-PRnya. Dia tau bahwa PR itu tidak bisa dikerjakan di rumah. Di TPA saja dia langsung bermain untuk kemudian mandi dan siap menunggu kami menjemput. Sepanjang perjalanan di mobil ditengah-tengah kemacetan adalah saat kami bersenang-senang...bicara...bercanda...dan akhirnya tertidur menjelang tiba di rumah. Besok pagi-pagi sekali, dia harus bangun untuk bersiap berangkat sekolah. Lalu kapan dia bisa mengerjakan PR-nya? Dia menyadari kondisi ini sehingga dia selalu kerjakan tugas-tugasnya di sekolah sedapat mungkin sesuai waktu yang tersisa. Kalau ada 5 soal, dia cuma sempat kerjakan 3..jika ada 10 soal, dia cuma sempat kerjakan 7, karena dia juga harus ekskul dan pulang...gurunya pun juga harus segera pulang.

Parahnya...apa yang terjadi itu baru kuketahui ketika diskusi waktu ambil raport itu. Aku sendiri tidak pernah mengingatkan tentang PR-nya. Detya tidak pernah mengeluh tentang PR-PRnya, jadi kami ga pernah bicara masalah PR ini. Bagi Detya, sepanjang dia merasa tidak bermasalah atau masalah sudah diselesaikan, biasanya dia ga cerita. Kami biasanya hanya diskusi tentang apa-apa yang mengganjal di hatinya.

Hal yang membuatku sedih adalah..kenapa aku masih merasa kecewa...padahal akar permasalahannya justru ada dari kami sendiri?..Detya saja masih senyam-senyum dengan pencapaian dia..lalu kenapa aku yang kecewa?..

Ternyata memang susah untuk tidak melihat pencapaian akademis sebagai hal yang paling utama... Aku masih harus belajar lebih banyak lagi untuk menjadi orang tua yang baik...dan selalu berpikir positif...
Read More..

Catatan Harian : Berhenti Menawar

Aku dan beberapa temanku sedang resah...tentang apa sebenarnya kontribusi nyata Government Spending untuk perekonomian nasional. Bangun jalan, jembatan, jalan tol, hal-hal semacam itu rasanya tidak lebih besar daripada sosialisasi, workshop, iklan,konsinyering... dan semua itu juga masih belum menyentuh level bawah masyarakat secara keseluruhan.

Maka kami berpikir, apa sih kontribusi dari kami yang bisa langsung menyentuh masyarakat? Satu hal bulat yang kami sepakati, terutama sebagai sesama ibu rumah tangga : belanja di pasar tradisional atau tukang sayur yang lewat..TANPA MENAWAR. Kalau belanja di supermarket bisa kami lakukan tanpa menawar, lalu kenapa ketika ke pasar tradisional harus menawar? Menawar lima ratus-seribu, ga akan ada pengaruhnya terhadap jatah harian belanja kita..maka BERHENTILAH MENAWAR.


Bahkan di pedagang kaki lima yang jual kaos kaki, jepit rambut, kerudung kaos dan lain-lain....mintalah harga pas saja dan ga usah ditawar lagi... Menawar 5ribu-10 ribu.. ga akan mempengaruhi kelangsungan isi dompet bulan ini..maka BERHENTILAH MENAWAR

Toh lima ratus-seribu, 5ribu-10ribu juga ga akan membuat pedagang-pedagang itu jadi kaya raya. Hanya sedikit tersenyum karena mereka dapat keuntungan sedikit lebih banyak...mungkin bisa untuk membelikan anaknya eskrim.

Memang masih saja ga berpengaruh banyak terhadap masyarakat langsung, tapi setidak-tidaknya...uang honor yang kami belanjakan...bisa langsung jadi multiplier effect untuk orang lain.

*sigh....tulisan ga penting.
Read More..

Selasa, Desember 14, 2010

Catatan Harian : Stay Positive

Waaah..ternyata sungguh susah untuk harus selalu berpikir positif. Jika tidak ada masalah sih, berpikir positif itu sama mudahnya seperti bernafas normal .

Tapi jika sedang ada gangguan maka berpikir positif sama susahnya seperti bernafas saat asmaku kambuh… dan asma itu baru hilang jika ventolin telah disemprotkan.

Gangguan itu tentu saja dari luar, dan walau sudah dibentengin setebal mungkin, tetap saja angin buruk yang berhembus itu mempengaruhi pikiran untuk memulai berpikir negative. Ada dua kemungkinan akibat adanya hembusan pikiran negative, sedih atau marah dan bisa dua-duanya (wew..tiga kemungkinan ya?..hueheheh)

Eniwei…semalem ada hembusan angin buruk yang membuatku susah untuk tetap berpikir positif…dan seharian ini aku menghadapi gangguan pikiran negative yang membuat perasaanku kacau balau.

Aku butuh ventolin biar jalan nafasku normal…

Read More..

Mencoba Adil

Sudah ga terbilang..teman-temanku mempertanyakan keputusan kami untuk meninggalkaan Wisam di Banyuwangi. Kok bisa sih? selalu itu yang ditanyakan.

Sudahlah..jangan ditanyakan lagi bagaimana perasaan kami ini. Ini si bungsu yang kita bicarakan...anak paling kecil..masih lucu-lucunya..masih banyak exploring sehingga ga ada yang ga lucu dari semua yang Wisam lakukan. Berat bagi kami sampai akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Wisam untuk sementara di Banyuwangi.

Kami sudah sering mengalami momen akhir tahun yang seperti ini, dengan suami yang selalu lembur bahkan menginap di kantor agar semua tanggung jawabnya terselesaikan. Dengan aku yang seringkali harus konsinyering bermalam-malam, maka bisa dipastikan akan berat bagiku untuk langsung pulang ke rumah. Tapi tahun lalu masih ada adikku sehingga aku bisa mengandalkan dia untuk mengurus Wisam di rumah.

Walaupun aku sudah usul agar Wisam juga bisa masuk kelompok bermain di Istiqlal sehingga aku tidak meninggalkan Wisam di rumah sendiri bersama pengasuh saja. Jadi bisa kubawa selalu kemanapun aku bertugas. Namun demi fisik Wisam jualah akhirnya aku tidak bisa egois memaksa Wisam mengikutiku kesana-kemari.

Nah dengan kondisi seperti itu dan juga karena ada adikku di Banyuwangi sana yang bisa kupercaya, maka kami memutuskan agar Wisam di banyuwangi sampai akhir tahun. Aku lebih mempercayai anakku diasuh adikku dengan resiko tidak bertemu Wisam sama sekali, dibandingkan harus meninggalkan Wisam di rumah saja bersama pengasuh dan hanya punya quality time di weekend saja.

OK itu latar belakang kami akhirnya ninggalin Wisam di Banyuwangi. Masalah selanjutnya adalah....Ibu Mertuaku juga menginginkan hal yang sama, bisa mengasuh Wisam seperti ibuku mengasuh Wisam di Banyuwangi. Beliau hanya melihat dari sisi bahwa Wisam ditinggal di Banyuwangi, bukan karena ada adikku disitu. Seandainya saja adikku tidak di Banyuwangi, ga akan kami rela meninggalkan Wisam. Toh dari dulu sekali permintaan mengasuh Wisam sudah ada, baik dari Ibuku maupun Mertuaku. Namun tidak sekalipun kami penuhi.

Nah, ketika minggu lalu aku ke Bali, sejatinya aku sangat ingin membawa Wisam kembali ke Jakarta. Namun setelah aku konfirmasikan ke kakak iparku, maka mau tidak mau kami harus merelakan Wisam untuk tinggal bersama Mertuaku sampai nanti kami jemput di akhir tahun.

Jadi jika lebaran lalu kami merelakan Wisam tinggal di Banyuwangi dengan alasan bahwa dia berada di tangan yang lebih baik daripada hanya dengan pengasuh...maka kali ini kami harus merelakan Wisam pindah ke Kediri dengan alasan...aku mencoba bersikap adil saja. Baik Ibuku ataupun Mertuaku dua-duanya butuh penghiburan dari cucu-cucunya. Bagi Ibuku anakku selalu jadi yang lebih utama daripada cucunya yang lain, walaupun aku sudah berulang kali mengingatkan beliau bahwa masih ada dua cucunya yang lebih dekat. Dan bagi mertuaku, anak suamiku adalah yang paling diinginkan karena suamiku sendiri adalah pengharapan utama bagi mertuaku. Jadi ketika Wisam sudah menghabiskan tiga bulan di Banyuwangi...apa salahnya jika aku menyenangkan Bapak dan Ibu Mertuaku untuk sebulan ke depan.

Dengan resiko..aku harus merelakan tidak ketemu Wisam dalam sebulan lagi...dan lagi..Wisam pun tidak keberatan harus tinggal dengan kakek neneknya yang lain lebih lama.

Dialog menjelang kepulangan Wisam ke Banyuwangi setelah menghabiskan waktu 3 hari denganku di Bali minggu lalu.
Bunda : "Wisam siap-siap yuk pulang ke Banyuwangi sama Tante"
Wisam : "Engga..aku mau ke Jakarta sama Bunda aja" ----> (rasanya hati ini seperti teriris)
Bunda : "Loh...kan Wisam mau ke Kediri dulu dijemput sama Mbah Tri dan Mbah Kung putih. Nanti Ayah yang jemput Wisam ke Kediri"
Wisam : "Oh iya ya...aku harus ke Kediri dulu nemenin Mbah Tri" ----> (semakin teriris-iris..kok anak sekecil ini sudah pengertian seperti itu)

Huwaaa...kalau Wisam saja bisa semengerti itu...aku pun harus ikhlas menunggu Wisam sebulan lagi...

Miss you a lot Wisam...
Read More..

Senin, November 29, 2010

Korban Diskon

Biasanya aku selalu memanfaatkan momen 'SALE' untuk mengupgrade baju anak-anakku. Jadi aku dapat baju dengan kualitas yang bagus namun dengan harganya separonya bahkan bisa lebih. Bukannya aku ini 'brand-minded', tapi karena barang-barang bermerk itu memang lebih awet dan lebih bagus. Lagipula brand disini juga hanya merek lokalan saja, sebangsa Cool, Popeye/Olive, Simpsons,..yaaa sejenis itu lah. Jadi momen-momen 'SALE' seperti itu menjadi sangat bermanfaat bagi kantongku dan aku bisa berkata dengan tegas bahwa aku tidak menjadi korban diskon...hanya berusaha MODIS...(MOdal DISkon...heheh). Aku hanya beli barang-barang diskonan itu sesuai dengan kebutuhan anak-anakku.

Dulu, aku sendiri juga menggunakan cara yang sama untuk meng-upgrade baju dan peralatanku. Nunggu ada diskon dulu, baru bela-beli sesuai kebutuhan. Makanya aku ga pernah mengikuti trend yang ada. Model baju dan peralatanku semuanya yang klasik, jadi dipakai kapan pun tetap pantes. Namanya juga nunggu diskon, jadi kalau maksa mengikuti trend ya pasti telat...ga cocok lah.

Tapi akhir-akhir ini, entah mengapa aku tidak lagi menunggu ada diskon. Jika sedang butuh sesuatu dan aku suka maka tanpa diskonan sama sekalipun tetap saja kubeli. Kupikir-pikir lagi, mungkin karena aku sudah bosan menahan diri, menahan untuk beli sesuatu karena menunggu barang itu didiskon. Teman-teman perempuan di sekelilingku ga ada yang menahan diri seperti aku. Saat mereka butuh ataupun ingin, langsung saja belanja tanpa pikir panjang.

Aku tau dan sadar bahwa tidak seharusnya terpengaruh orang lain seperti itu. Tapi setidak-tidaknya aku bisa beralasan bahwa aku memang membutuhkan barang-barang itu.

Parahnya..alasan 'butuh' itu tidak berlaku untuk barang yang satu ini. Aku sangat suka arloji...sukaaa banget dan arloji adalah satu-satunya aksesoris yang menonjol padaku. Aku ga pernah memakai perhiasan sebangsa gelang dan kalung seperti kebanyakan perempuan di sekitarku. Tapi aku memakai arloji.

Sebetulnya aku punya 3 arloji yang sering kupakai setelah ada yang aku hibahnya untuk adikku. Kemudian, pas training ke Singapore lalu aku dapat arloji cantik DKNY dengan separuh harga. Arloji cantik yang bisa juga berfungsi sebagai gelang... Sayang seribu sayang..belum genap setahun..aku sudah menghilangkannya karena kecerobohanku... Aku lupa..kutaruh dimana arloji itu.

Semenjak itu rasanya aku jadi terobsesi untuk punya arloji satu lagi. Sampai akhir Oktober 2010 lalu, di Puri Mall ada midnight sale, termasuk ada counter Guess dadakan disitu. Semua item diobral habis...dari baju anak sampai ikat pinggang. Dan aku melihat ada satu arloji cantik berwarna pink dengan harga yang didiskon 50%....wah aku langsung jatuh cinta dan tanpa pikir panjang kubayar di kasir. Ternyata masih diskon lagi 20%....rasanya seneng banget dapat arloji cantik dengan harga yang minimum.

Aku tetap bisa berdalih bahwa aku tidak menjadi korban diskon. Alasanku... hey...ditanganku ini hanya ada arloji saja..jadi wajar saja kalau aku punya beberapa. Apalagi sudah ada satu yang bolak-balik masuk tempat service.

Tappiii....akhir minggu lalu aku tidak bisa berdalih lagi.. Ya..aku korban diskon. Ketika mataku melihat ada arloji seiko yang macho tapi cantik dengan diskon 50%..aku tidak bisa menahan diri..aku seperti terpesona sehingga tanpa pikir panjang aku membelinya. Padahal belum lagi genap sebulan aku beli barang yang sejenis. Aku tetap beli lagi dengan alasan diskon yang lumayan...

Waaaaa....aku beneran jadi korban diskon...

Sedih banget ketika Detya bertanya tanpa maksud apapun...."Waah...arloji Bunda baru lagi ya..kan kemarin masih baru juga. Bagus Bunda"

Aku seperti tertampar dengan kata-kata terakhir.
Read More..

Senin, November 15, 2010

Melankoli Kota Batu

Selain 4 teman perempuan waktu kuliah yang kami sebut DEWIDANENI (dewi, Ida, Ade dan Eni), kami juga punya teman laki-laki yang kami sebut ALIWANDIPUL (Ali, Iwan, Andy dan Ipul atau Saiful). Hmmm..empat cewek dan 4 cowok...seakan-akan berpasangan ya...

Padahal yang akhirnya berpasangan adalah aku dan Saiful saja, selainnya murni berteman. Nah salah satu teman mainku adalah Iwan.

Iwan ini unik menurutku, dia tipe yang ga pernah absen bersenang-senang tapi selalu mendapat nilai terbaik di kelasku. Jadi aku sempat berpikir, kapan Iwan ini belajar kalau setiap acara bermain kami selalu saja dia tak pernah ketinggalan. Kalau teman yang pintar tapi ga gaul...banyak (apalagi di IPB)...Tapi yang seperti Iwan ini sangat jarang. Kalau yang seperti aku, pandai bersenang-senang dengan prestasi pas-pasan....nah ini juga cukup banyak :D

Nah, Iwan ini baru balik dari New York setelah 10 tahun bekerja disana. Beberapa bulan sebelum dia pulang kampung for good, aku sering baca status-statusnya di fesbuk yang mengisyaratkan dia telah mencapai semuanya. Baik secara materi maupun spiritual...terutama dari spiritualnya. Tentang betapa yoga telah membuat dia terinspirasi dan merasa kembali murni di dalam hatinya. Tentang perjalanannya keliling dunia. Kupikir dia telah mencapai suatu nilai spiritual dari semua pengalaman hidupnya.

Lalu dia kembali ke kota asalnya, dan rupanya dia sedang menulis memoar tentang hidupnya. Tentang dia yang bukan siapa-siapa yang besar di Kota Apel Batu sampai akhirnya mencapai karier tertinggi di Big Apple New York.

Dalam suatu dialog kami di fesbuk, dia menuliskan salah satu kutipan paragraf di memoarnya itu. Sungguh kalimat-kalimat yang khas Iwan...walaupun susunan kata seperti itu tidak terlalu menggugah minat bacaku. Hey..aku penggemar Pramudya Ananta Toer dengan kalimat-kalimatnya yang lugas dan apa adanya...jadi kalau ketemu tulisan yang halus seperti gaya bahasa Iwan..aku perlu berkali-kali baca untuk memahami maksud di balik kalimat itu. Intinya....daya ngehku rendah untuk kalimat-kalimat puitis...walaupun aku selalu kagum betapa para penulis puisi mempunyai perasaan yang halus sehingga bisa merangkai kata seindah itu.

Lalu ternyata awal november lalu Iwan sudah menerbitkan buku puisi dan fotografi bekerja sama dengan temannya. Jadi puisinya ditulis Iwan sedang fotonya oleh teman itu.

Puisi indah yang menggambarkan suasana keseharian di Kota Batu...lengkap dengan foto-foto yang mewakili puisi itu. Sebenarnya aku sendiri bertanya-tanya..ini foto dulu yang ada kemudian digambarkan melalui puisi atau puisinya dulu yang muncul untuk kemudian dicarikan foto lokasi yang sesuai...

Eniwei...sedikit banyak motivasiku memiliki buku ini adalah Iwan Setyawan sendiri...dia teman baikku...teman menjalani kehidupan Kampus IPB dalam kegembiraan. Humor-humor Iwan yang ga pernah keliatan sedih membantuku mengatasi ketidakberdayaanku....saat homesick...maupun saat kelabakan mengerjakan tugas...ataupun saat stress menghadapi ujian. Jadi aku harus punya...entah ketika membacanya aku butuh berulang-ulang untuk memahaminya..itu lain soal...

Jadi Iwan....good luck with your writing career....can't wait for your memoar and novel...



Pak Ponimin terus melangkah dengan sandal jepit birunya.
Dengan gagah menyambut pagi,
memecah batu-batu di sepanjang Kali Brantas

Ia terus melangkah.
Beban hidup, diangkat dipundaknya,
melewati arus kali yang tak pernah berhenti.

Otot bahu, tangan, dan punggungnya adalah sebuah garis hidup,
lukisan kekuatan seorang laki-laki yang berani merampungkan hari demi hari,
mengangkat pecahan batu-batu,
mengumpulkan serpihan-serpihan hidupnya.


*cuplikan dan foto di atas diambil dari fesbuk Iwan Setyawan.
Read More..

Jerawat Seksi

Seumur-umur aku tidak pernah bermasalah dengan jerawat. Jaman puber dulu, jerawat hanya muncul sekedarnya di jidat atau di pipi, tapi tidak pernah yang sampai meradang dan bermata kuning. Intinya, jenis mukaku yang kering ini menyelamatkanku dari bencana jerawat yang banyak dialami teman-temanku dulu.

Nah, dari minggu lalu, tiba-tiba nampak bentol merah kecil di daguku yang terasa tidak nyaman ketika disentuh. Waah...kenapa tiba-tiba ada jerawat ya dimukaku.

Eniwei, si bentol kecil ini rupanya meradang dan akhirnya...pagi ini aku punya jerawat meradang yang bermata kuning itu...huwaaa...rasanya nyeri tanpa disentuhpun. Dan suamiku hanya tertawa melihat jerawatku ini.

Sepanjang perjalanan dari rumah ke kantor, berulang-ulang aku tanya suamiku (karena aku tidak berpengalaman masalah jerawat yang begini ini), apakah perlu kupencet jerawat ini agar rasa nyerinya menghilang. Tapi suamiku meminta aku untuk membiarkannya kering sendiri...sigh...

Maka setibanya di kantor, aku merasa tidak percaya diri karena merasa semua orang memperhatikan jerawat besarku ini.

Tapi disamping merasa agak-agak malu, ada yang bikin aku serasa mau nari-nari di tengah hujan ala India. Ketika turun dari mobil dan cium tangan suamiku seperti biasanya...tiba-tiba suamiku bicara dengan lembutnya..."ciumnya mana...?"

Aih..aih....sepertinya beneran efek jerawatku ini deh...sudah dua taun aku berhenti melakukan ritual cium tangan dilanjutkan kecup ini *langsung ubek-ubek file pengen tau tepatnya sejak kapan*

Semenjak suamiku menolak ciuman berpisah di pagi hari ini, aku memutuskan hanya akan mencium tangan suamiku ketika berpisah dipagi hari. Beliau pun tak pernah merasa kehilangan dengan ritual kecup itu.

Sampai tadi pagi tiba-tiba beliau ingin kecupan itu lagi.....ah....gimana aku ga langsung pengen nari hujan dan berterima kasih pada jerawat seksi ini....

Jadi jerawatku satu-satunya yang berasa nyeri....beruntunglah kamu tidak kupencet hari ini....
Read More..

Senin, November 01, 2010

Menjemput Anak-Anak

Bagiku kegiatan menjemput Detya dan Javas sepulang sekolah selalu menjadi saat yang menarik. Berlomba dengan waktu, untuk menikmati sejenak lari dari rutinitas kantor. kenapa berlomba dengan waktu? Karena kadang-kadang, jika ada rapat jam 2, aku ga bisa bersantai sepenuhnya untuk menjemput dan berbincang dengan mereka. Hanya menjemput dan selalu menghitung mundur anak-anak agar mereka tidak lepas waktu.

Maksudnya begini, Detya dan Javas sangat menikmati waktu sepulang sekolah mereka dan menunggu aku datang menjemput. Mereka bermain-main segala rupa dengan teman-temannya sehingga susah untuk diajak bergegas pulang. Kalau tidak ada agenda lain sih, aku tidak mempermasalahkan menunggu mereka menikmati permainannya barang 10-20 menit. Tetap ga bisa lama-lama. Atau aku yang sengaja datang 15-30 menit lebih lambat dari jam pulang untuk memberi mereka waktu bermain. Namun apabila ada agenda rapat, maka baru datang pun sudah meminta mereka bersiap dalam sepuluh hitungan. Ya, kadang-kadang meminta mereka memilih antara sekarang juga atau dua menit lagi. Tentu saja mereka akan memilih dua menit lagi. Dan jika kurang 30 detik lagi, maka hitung mundur dimulai. Dan mereka akan otomatis bergegas menyesuaikan hitung mundur itu. Tepat dihitungan 1, mereka pun siap dan aku tidak kehilangan banyak waktu.

Andalanku pas menjemput anak-anak adalah ojek yang biasa nongkrong di depan kantor. Dan mereka sudah terbiasa dengan beberapa ibu-ibu yang minta di antar ke Istiqlal. Karena naik ojek yang sudah siap berangkat, maka waktu tercepatku menjemput Detya dan Javas terus langsung mengantar mereka ke penitipan adalah 10 menit. Ya..luar biasa cepat karena sudah memberi peringatan pada anak-anak di pagi hari agar mereka segera bersiap kalau siang nanti kujemput. Chit-chatnya ya selama di motor tukang ojek...tentu saja chit-chat yang tidak berkualitas tapi setidaknya mereka bisa cerita tentang perasaan mereka hari ini.

Bulan-bulan seperti ini, suamiku teramat sangat sibuk, bahkan malam pun selalu lembur dan tiba di rumah selewat tengah malam. Aku sudah memahami kondisi seperti ini sehingga jika tidak benar-benar mendesak, aku tidak meminta suamiku untuk menjemput anak-anak. Namun ada kalanya aku harus rapat di luar kantor sehingga aku sama sekali tidak bisa menjemput anak-anak. Kalau sudah begini, maka mau ga mau harus minta suamiku menjemput. Aku pikir toh suamiku hanya berkutat dengan berkas, tidak menghadapi orang lain sehingga jika disela barang 30-40 menit juga tidak akan mengganggu pekerjaannya.

Masalahnya, ternyata waktu yang dibutuhkan suamiku untuk menjemput selalu tidak kurang dari satu jam. Anak-anak selalu molor di sekolah jika Ayah yang menjemput. Belum lagi proses antara turun ke parkiran kantor dan akhirnya parkir lagi di Istiqlal butuh lebih dari 10 menit. Meminta anak-anak bergegas dan karena ga pernah dikasih batas waktu seperti yang kulakukan, jadi proses yang bikin bete Ayah. Maunya menjemput anak-anak bisa keluar sejenak dari rutinitas, tapi karena anak-anak molor jadi malah bikin Ayah berkeluh kesah. Belum lagi jika sampai di penitipan, anak-anak selalu minta ini itu sama Ayahnya dan Ayah ga bisa menolak. Ini itu maksudnya ya jajanan di depan penitipan anak-anak (yang masjid juga). Intinya adalah jika Ayah yang jemput, maka proses akan berlangsung ribet dan diakhiri dengan Ayah yang cemberut.

Maka suatu pagi saat aku tau bahwa seharian ini aku diluar kantor, aku sampaikan permintaanku agar kalau bisa Ayah yang menjemput. Jawaban suamiku adalah:

"Kalau bisa pekerjaan kecil-kecil seperti ini didelegasikan ke orang lain deh"...

Hmmm...rupanya kami berbeda pendapat tentang urgensi jemput-menjemput ini. Suamiku yang didasari dengan betapa ribetnya saat menjemput anak-anak, menganggap pekerjaan seperti ini merupakan pekerjaan kecil-kecil yang sebaiknya didelegasikan ke orang lain ya misalnya OB kepercayaan di kantor atau siapa lah.... sedangkan bagiku sendiri, saat menjemput seperti ini adalah hiburan sejenak keluar kantor untuk mendengarkan celoteh anak-anak tentang harinya tadi. Memang aku tidak memungkiri betapa ribetnya mereka saat-saat seperti itu, tapi aku bisa mangaturnya seperti yang kuceritakan tadi. Selain pijakan di pagi hari, juga hitung mundur mengatur waktu mereka agar tidak melenceng jauh. Dan jika aku bicara dengan tegas menolak rajukan mereka saat tiba di penitipan, maka semuanya berlangsung aman-aman saja. Lebih banyak senangnya malah.

Dan jika dengan sangat terpaksa kami berdua tidak bisa menjemput, maka aku lebih baik meminta bantuan teman-teman yang lain untuk nitip jemput anak-anakku (sebenarnya spesifik satu orang sih...bantuan Mba Devi dan suami).

Sebenarnya, jika tidak di bulan-bulan ini (september - desember), suamiku juga senang-senang saja tiap hari menjemput anak-anak, walau butuh waktu lebih dari sejam...walau diribeti anak-anak dengan berbagai rajukan dan permintaan. Tetap dengan laporan penuh keluhan tentang perilaku anak-anak, saat kami bertemu di sore sepulang kantor.

Jadi sampai bulan Desember nanti, aku akan berusaha agar Ayah ga perlu menjemput anak-anak. Dan jika aku sendiri tidak bisa...tetap akan minta bantuan orang lain saja daripada Ayah benar-benar menganggap pekerjaan jemput menjemput ini hanya pekerjaan kecil yang bisa didelegasikan ke orang lain...
Read More..

Kamis, Oktober 21, 2010

Missing Wisam






Missing Wisam so much.....
Read More..

Rabu, Oktober 20, 2010

Parents Day

Just Copy Paste From My FB's Note

Pada dasarnya, pihak Komite Sekolah sudah merencanakan agenda apa saja yang akan Komite lakukan bersama sekolah. Namun waktu pelaksanaannya sepertinya belum teragenda dengan baik. Jadi ketika mid-test telah dilaksanakan, pihak sekolah baru menyampaikan bahwa Komite bisa melakukan salah satu agendanya sambil mengisi waktu saat para guru mengkoreksi hasil ujian anak-anak. Praktis hanya ada 3 hari untuk menyiapkan segala sesuatunya. Dari agenda yang mana yang akan didahulukan, yaitu Career Day dan Cooking Class, bagaimana format dan prosedur pelaksanaannya, sampai menentukan siapa saja yang akan mengisi acara tersebut.

Karena agenda utamanya adalah Parents Day, maka peran orang tua sangat diharapkan agar acara bisa berjalan. Pihak Komite Sekolah, yang dimotori Mba Devi dan suami, sibuk menghubungi orang tua yang bersedia menjadi narasumber untuk menjelaskan profesi mereka maupun untuk mendampingi anak-anak pada waktu cooking class. Dan mengingat waktu yang terbatas maka yang dihubungi adalah orang tua yang biasa aktif di kegiatan sekolah. Saya ga ikutan di Komite Sekolah, juga bukan orang tua yang aktif di kegiatan sekolah. Tapi karena Mba Devi adalah teman baik di kantor dan juga anak-anak kami berada di penitipan yang sama, maka mau ga mau saya juga selalu terinformasi tentang kondisi terkini di sekolah. Jadi ketika dihubungi untuk bisa ikut serta, ya gimana lagi....cukup antusias walaupun sedikit bingung ketika harus menjadi narasumber Career Day.

Bagaimana tidak bingung, wong cuma PNS di Kementerian Keuangan kok ya disuruh nerangin profesi begitu. OK, walaupun bisa dibungkus sebagai profesi ‘Pengelola Keuangan Negara’, tetap saja tidak bisa dibandingkan dengan profesi Dokter, Akuntan, Koki, Pedagang dan profesi spesifik lainnya. Itupun juga masih bingung, apakah mesti menjelaskan Utang Negara seperti yang saya kerjakan saat ini, masak sih..anak SD mesti dikenalkan dengan Utang, belum lagi kalau nantinya merembet ke masalah bunga, ini kan Madrasah...masa mau menjelaskan tentang utang dan bunganya. Akhirnya berpikir untuk menjelaskan tentang tugas Kementerian Keuangan secara keseluruhan. Toh anak-anak tidak butuh rincian yang detil. Mereka hanya butuh dikenalkan dengan berbagai profesi yang mungkin bisa mereka pikirkan untuk karir di masa depan.

Nah, pada waktu pembagian kelas, rupanya guru sekolah menginginkan agar kelas IV bisa mendapat materi tentang utang negara....yowislah...penjelasan secara keseluruhan untuk kemudian fokus ke pembiayaan alias utang.

Jadi yang saya lakukan untuk mengawali adalah menjelaskan bahwa sebagaimana rumah tangga, pemerintah juga harus melakukan belanja sehingga perlu ada pendapatan. Nah jika pendapatannya kurang padahal belanja yang akan dilakukan itu penting, maka butuh pembiayaan. Samalah seperti ketika suatu rumah tangga butuh beli rumah padahal uangnya belum mencukupi sehingga perlu KPR. Intinya nerangin APBN lah...

Uniknya, ketika memancing pertanyaaan apa yang harus dilakukan ketika belanja lebih besar dari pendapatan, maka sebagian besar anak-anak menjawab agar pemerintah mengurangi gaji pegawainya agar dananya mencukupi. Permintaan ini berkali-kali disampaikan sampai ga bisa menahan tawa. Sepertinya jawaban ini mewakili permintaan rakyat juga ya... Ah, mereka kebanyakan baca berita tentang kenaikan gaji DPR dan Menteri saja. Kami-kami para pegawai biasa kan gajinya juga secukupnya, tidak berlebihan sehingga dengan apa lagi kami hidup, kalau penghematan dilakukan dengan mengurangi gaji pegawai. Bagaimanapun, ide anak-anak itu mestinya dibaca sebagai penghematan dalam semua belanja pemerintah agar digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang penting saja. Bukan sekedar kosinyering dan sosialisasi saja.

Dan anak-anak itu juga sangat tertarik dengan pajak, pertanyaan mereka cukup detil dan kritis. Misalnya siapa saya yang harus bayar pajak, apakah semua orang mesti bayar pajak, besarnya pajak berapa, gunanya uang pajak untuk apa, bahkan juga bertanya tentang korupsi dan penanganannya. Duh, saya harus berhati-hati menjelaskan masalah itu karena pada dasarnya, korupsi itu ulah oknum saja. Masih banyak pegawai yang menjalani hidupnya dengan lurus dan ikut sakit hati atas ulah para koruptor itu. Diakhir penjelasan, ternyata tak satupun dari anak-anak itu berminat untuk jadi pegawai seperti kami ini. Sepertinya penjelasan saya yang kurang menarik sehingga tidak menggugah minat mereka untuk jadi pegawai pemerintah. Lah gimana mau menarik, wong ga ada bahan sama sekali, saya cuma ngomong dan nulis di depan kelas. Next time mesti nyiapin sedikit tulisan yang menarik atau foto-foto apalah sehingga mereka lebih bisa mendapat gambaran tentang apa sih yang dilakukan Pemerintah. Dan mengingat pertanyaan tentang pajak ini cukup detil, lain kali pegawai pajak saja yang diminta mewakili Kementerian Keuangan, biar penjelasannya lebih baik lagi.

Dan sayangnya pula, saya hanya sempat memberikan presentasi di satu kelas saja. Tidak sempat pindah ke kelas lain karena ada panggilan dari kantor. Sedangkan penjelasan dari profesi lain tetap berjalan.

Jadi paket kegiatan Parents Day ini ada 3 hari. Hari pertama diisi dengan Penjelasan Jurnalistik, yang dilakukan oleh salah satu orang tua murid yang pernah ikut di Misi Kemanusiaan di Kapal Mavi Marmara yang waktu itu sempat diserang Israel. Hari kedua diisi Career Day untuk kelas 3 – 6, sedangkan kelas 1 dan 2 mengikuti Cooking Class. Hari ketiga dengan pengaturan terbalik yaitu anak kelas 1 dan 2 mengikuti Career Day sedangkan kelas 3 - 6 mengikuti Cooking Class namun dengan penjelasan tentang prinsip-prinsip berdagang. Bahkan di akhir jam sekolah, anak-anak itu diminta untuk berdagang di lobby sekolah.

Hari terakhir ini yang penuh improvisasi bagi saya. Karena ingin berpartisipasi juga, maka hari terakhir ini saya juga ikut menemani Cooking Class. Nah, dua orang yang jadi tutor utama di kelas itu juga belum paham konsep pengajarannya bagaimana. Apakah harus praktek memasak dulu baru menjelaskan prinsip berdagang, atau hasil praktek tersebut apakah akan dijual juga atau cukup mereka nikmati saja, juga belum kami ketahui, prinsip berdagang sejauh mana yang harus diterangkan. Akhirnya kami bertiga berimprovisasi saja sehingga hasil akhirnya jadi berbeda-beda antara kelas satu dengan kelas lainnya. Selembar materi yang dibagikan panitia ketika sudah masuk kelas, malah membuatku puyeng karena hanya poin-poin utama saja yang ditulis. Lah..manalah saya ngerti sedetil itu. Jadi pas nerangin prinsip berdagang itu ya ngikutin plek apa yang tertulis di kertas itu, ga bisa mengembangkan lebih jauh.

Dengan penjelasan dari kami yang seadanya itu, ditambah daya imajinasi anak-anak kelas tiga yang belum seadvance anak-anak kelas di atasnya, maka ketika hasil cooking class mereka dibandingkan dengan hasil kelas lain, nampak jelas perbedaannya.

Ah sudahlah, yang penting mereka antusias dan sangat menunggu momen berdagang di akhir jam sekolah. Dan seperti hari sebelumnya, saya tidak bisa bergabung sampai akhir acara, artinya saya melewati momen berdagang mereka. Kalau dengar cerita sesama tutor di kelas itu, sepertinya kelas yang kami bimbing malah rugi jualannya...hueheheheh...salah siapa ya?...salah tutornya....

Satu hal yang saya ingat sehingga menambah apresiasi saya terhadap guru-guru sekolah adalah betapa susah membuat anak-anak itu fokus terhadap materi yang kami sampaikan. Sepertinya sekali lagi karena penjelasan kami yang kurang menarik sehingga mereka jadi sibuk sendiri. Belum lagi harus berbicara dengan lantang agar semuanya bisa mendengar sehingga energi lebih harus dikeluarkan. Salut untuk para guru yang mampu membuat anak-anak fokus di sepanjang pelajaran. Betapa besar energi yang mereka keluarkan dan betapa mereka harus menjaga emosi agar tetap stabil.

Semoga pengalaman dan pendapat saya ini bisa berguna untuk evaluasi Komite Sekolah untuk pelaksanaan Parents Day berikutnya.
Read More..

Minggu, Oktober 17, 2010

Percakapan Sambil Lalu

Olahraga

Latar belakang : Diskusi dengan guru kelas Detya saat mengambil laporan hasil evaluasi Mid semester

Guru : "Alhamdulillah, nilai Detya cukup bagus semuanya...bla...bla....bla....na...na...na... Nilai terendah ada di Olahraga yang diambil berdasarkan hasil ujian praktek. Nilainya 76."

Ayah : "Bu, kira-kira ujiannya seperti apa ya? Saya itu inginnya anak-anak belajar hidup sportif melalui olah raga. Jadi bisa belajar menerima kekalahan dan tetap rendah hati ketika menang. Tapi Bu...susah sekali membuat Detya itu berminat di olahraga. Saya sudah siapkan raket bulutangkis, bola sepak, bola basket. Tapi Detya susah sekali diajak bergerak. Kira-kira gimana ya Bu, biar Detya berminat olahraga?"

Bunda : "....." (sambil merasa sedih kenapa penjelasan gurunya bagian Detya bisa mengemukakan argumennya untuk menilai jawaban temannya itu benar atau salah dan itu nilai lebih untuk anak seusianya, tidak membuat ayah kagum.)


Melihat Aurat

Latar belakang : di mobil setelah setengah harian berpuas-puas menikmati Festival Makanan Korea di Gandaria City.

Javas : "Mbak Eta, tadi aku liat auratnya muslimah yang liat pertunjukan korea tadi"

Detya : "Maaf Javas, seharusnya kamu ga usah cerita-cerita. Itu kan rahasiamu sama Allah, ga usah diceritakan ke orang lain"

Ayah & Bunda : ".........." (sambil saling berpandang-pandangan.... bengong)


Berpikir Positif

Latar belakang : di rumah, sedang melihat-lihat hasil mid-test Detya dan Javas. Anak-anak sendiri sudah tidur.

Bunda : "Ayah, ga nyangka nih, Javas bisa juga menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Padahal Javas sering ngeluh ga bisa pas pelajaran bahasa inggris."

Ayah : "Javas nyontek temennya kali..."

Bunda : "........." (sambil melemparkan lirikan maut ke Ayah yang selalu saja melihat sisi negatif dari keberhasilan anak-anaknya.


Read More..

Rabu, Oktober 13, 2010

Legenda Banyuwangi



Saya ingin berbagi cerita tentang asal muasal Banyuwangi, kota kelahiran saya. Keinginan saya ini diawali waktu menghadiri pertemuan Halal Bihalal IKAWANGI (Ikatan Keluarga Banyuwangi) yang diselenggarakan di Taman Mini Indonesia Indah, tepatnya di Anjungan Jawa Timur. Baru kali itu saya mengikuti acara Halal Bihalal Ikawangi, walaupun telah lama saya dengar bahwa acara ini selalu diadakan di TMII. Saya cukup heran, kenapa diadakan di TMII? Kenapa selalu saja ada Rombongan Budaya dari Banyuwangi langsung yang ikut datang di acara ini?

Rupanya, acara Halal Bihalal ini memang diselenggarakan bersamaan dengan waktu Budaya Banyuwangi dipagelarkan di Anjungan Jawa Timur. Hampir tiap minggu, Anjungan Jawa Timur mengadakan pagelaran budaya yang bergiliran dari semua daerah di Jawa Timur yang bersedia berpartisipasi. Misalnya di bulan Oktober ini, selain Pagelaran Budaya Banyuwangi yang diadakan tanggal 3 Oktober, juga ada Pagelaran Kesenian Madiun pada tanggal 17 Oktober dan Pagelaran Kesenian Pacitan pada tanggal 31 Oktober.

Nah, Pagelaran Budaya Banyuwangi kali ini mengambil tema Upacara Adat “Jelujur Laku Kemanten Adat Using”, Aneka Tari dan Sendratari “Sidopekso – Sritanjung”. Pagelaran ini selain memperagakan adat pernikahan ala Banyuwangi, termasuk pakaian khas pengantin Banyuwangi, juga terdapat sendratari yang menceritakan asal muasal daerah Banyuwangi.

Sungguh saya sangat terhibur dengan berbagai tarian dan lagu-lagu daerah yang ditampilkan di acara itu. Disamping kedatangan yang terlambat, saya juga tidak sempat mencatat nama-nama tariannya, sehingga tidak bisa saya jelaskan detil disini. Ada satu tarian yang dibawakan oleh para laki-laki yang berdandan Gandrung Bayuwangi, dan diakhir tarian ada bagian mereka kembali jadi laki-laki. Sangat menarik sehingga saya pikir tarian ini adalah tarian hermaprodit. Dijelaskan oleh pembawa acaranya bahwa tarian ini memenangkan penghargaan internasional.


Hampir di akhir acara, sebelum “Jelujur Laku Kemanten Adat Using”, ada penampilan Sendratari “Sidopekso – Sritanjung”. Nah, sendratari ini menggambarkan asal kata Banyuwangi. Dikisahkan bahwa Sang Raja sangat menyukai istri Patih Sidopekso sehingga merancang suatu penyakit agar menyerang seluruh rakyatnya. Nah Raja memerintahkan Patih Sidopekso untuk mencari obat yang hanya ada di hutan nun jauh disana dan sangat berbahaya. Maksudnya adalah agar Sidopekso pergi sehingga istrinya, Dewi Sritanjung, bisa didekati. Padahal senyatanya, obat itu tidak pernah ada dan Raja berharap Sidopekso bisa gugur dalam tugas. Maka ketika Sidopekso akhirnya pergi, leluasalah Sang raja menggoda Sritanjung.

Tak disangka-sangka, ternyata Sidopekso bisa kembali dan mendapatkan obat untuk penyakit yang menyebar itu. Agar ulah Raja menggoda Sritanjung tidak diketahui, maka Raja langsung memfitnah bahwa Sritanjunglah yang menggoda dan ingin diperistri Raja. Sidopekso yang termakan fitnah itu, langsung membunuh Sang Raja dan setelah itu menyerang Sritanjung. Sritanjung yang tidak merasa bersalah dan sudah sekarat, akhirnya menceburkan diri di sumber air kotor di dekat rumahnya dan berkata bahwa jika dia tidak bersalah, maka sumber air itu akan berubah jadi jernih dan wangi. Maka saat sumber air itu benar-benar jadi jernih dan wangi, menyesallah Sidopekso sambil terus menerus menggumamkan kata-kata ”banyu wangi...banyu wangi....”(air wangi). Maka itulah asal muasal kata Banyuwangi yang selanjutnya diabadikan menjadi nama daerah itu.



Walaupun saya sangat menikmati sendratari ini, tak urung saya jadi bertanya-tanya. Sepanjang yang saya tahu sejak jaman SD dulu, asal kata Banyuwangi melibatkan cerita tentang Raden Banterang dan Dewi Surati. Cerita itu juga melibatkan ketidakpercayaan pihak laki-laki atas kesetiaan pasangannya. Akhir ceritanya juga sama, Surati menceburkan diri di sungai yang kotor dan berkata bahwa sungai itu akan bersih dan wangi jika dia tidak bersalah. Dan menyesallah Banterang karena sungai akhirnya menjadi wangi.

Karena saya penasaran, maka saya coba cari informasi sana-sini. Dari bertanya ke orang tua, sampai menjelajahi internet. Orang tua saya mengkonfirmasi cerita sendratari itu sesuai dengan yang beliau ketahui, tapi beliau tidak tahu tentang kisah Banterang – Surati. Hasil browsing malah bikin saya bingung, ada satu versi lagi yang saya temukan. Walaupun sama-sama tentang Sidopekso dan Sritanjung, namun detilnya berbeda. Cerita ini melibatkan fitnah dari Ibu Sidopekso yang menyatakan bahwa anak sritanjung bukanlah benih Sidopekso. Bagian akhirnya masih tetap melibatkan sumber air kotor yang berubah jadi wangi.

Pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa, jika bertanya pada penduduk asli Banyuwangi maka cerita Sidopekso – Sritanjung versi sendratari akan lebih banyak dapat konfirmasi. Namun jika mengacu kedekatan lokasi antara Banyuwangi dan Bali, maka cerita tentang Banterang dan Surati lebih menggambarkan kedekatan itu.

Bagi saya pribadi, walaupun cerita Banterang – Surati lebih dulu saya kenal, tapi sebagai Lare Osing, saya lebih menyukai cerita versi sendratari.

Read More..

Sabtu, Oktober 02, 2010

Menang Undian

Pernah ga memperhatikan bahwa ada orang-orang tertentu yang selalu dapat keberuntungan. Orang itu mudah sekali dapat doorprize, menang undian, dapat hadiah langsung...ya sama seperti si Untung Bebek yang selalu beruntung di cerita Donald Bebek.

Nah,aku bukan termasuk orang yang beruntung. Seringkali aku berkhayal, aku menang undian mobil dari bank anu...seperti temanku yg menang Honda CRV, atau menang mobil sedan dari undian bank itu, seperti temanku yang lain....yaaah....cuman sekedar berkhayal....tanpa pernah terjadi.

Jangan yang itu deh...bahkan doorprize di acara gathering kantorku saja, aku ga dapat sama sekali. Padahal jumlah doorprize-nya separonya jumlah peserta. Artinya kan kemungkinan dapat doorprize mencapai 50%. Tetap saja doorprize terkecilpun ga dapat. Kalau suamiku masih agak beruntung di bidang doorprize, pernah dapat sprei dan bedcover dari dua acara yang berbeda.

Jadi aku agak-agak malas ikutan undian-undian apapun itu. Misalnya ngisi-ngisi kupon belanja yang nanti diundi...paling males deh. Kalau dapat kupon gitu...langsung remas-remas trus buang ke sampah.

Suatu ketika, sekitar 2-3 bulan lalu, aku juga dapat kupon sejenis dari pusat kulakan Makro yang sekarang berubah jadi LotteMart. Aku sudah hampir meremas-remas kupon undian itu, tapi kubatalkan. Malah akhirnya kuisi dan kumasukkan ke tempat undian.

Waktu itu syaratnya bagi pembelanjaan senilai 500 ribu berhak atas satu kupon undian. Namanya pusat kulakan, jadi batasan nilainya cukup besar. Hadiahnya pun cuma 3 macam yaitu 1 mobil pick up, 5 TV LCD, dan 10 modal usaha sebesar satu juta. Aku isi kuponnya karena cuma ada 3 kupon, dan karena undian ini berlaku di tiap-tiap cabang LotteMart. Iseng-iseng deh pokoknya.

Aku sudah lupa tentang undian ini sampai hari senin siang lalu aku dapat telepon pemberitahuan. Tapi nelponnya ga informatif gitu sehingga aku menjawabnya pun dengan judes. Bayangkan...tiba-tiba ada telpon yang bilang bahwa Anda menang undian. Di tengah-tengah berita penipuan yang berkedok undian seperti saat ini...tentu saja aku juga curiga duluan. Setelah bertanya jawab sebentar dan dia memberi tau tentang undian yang kumenangkan adalah dari Lottemart, maka aku jadi lumayan tenang karena toh aku bisa konfirmasi langsung ke Lottemart Meruya sepulang kerja nanti. Yaaa..jadi agak-agak ngarep gitu..walau tetep maunya berhati-hati.

Ketika malamnya aku dapat konfirmasi ke Meruya bahwa undian ini belum resmi diumumkan...maka aku sama sekali berhenti berharap walau customer service-nya memastikan bahwa no telepon yang telpon aku siangnya adalah memang nomor telpon Lottemart. Yaa..keberuntungan hanya milik orang-orang tertentu...bukan milikku. Namun besok paginya, si penelpon aku sebelumnya kembali menelpon dengan permintaan maaf karena memang belum resmi diumumkan... Ah..whateverlah..kalau memang rejeki kan ga akan kemana.

Dan pagi ini, CS lottemart kembali nelpon dan memastikan bahwa pengumuman resmi sudah dipasang dan jika aku mau mengklaim hadiahku maka aku harus membawa KTP dan kartu belanja plus bukti setor pajak undian 25%

Jadilah sepanjang hari ini aku senyum-senyum sendiri menyadari bahwa kali ini aku termasuk salah satu yang beruntung itu.

Jadi teman-teman....jika kamu pernah meragukan dirimu sendiri seperti yang pernah kulakukan....berhentilah..... Yakinkan bahwa keberuntungan itu bisa terjadi pada siapa saja.... Jika Allah sudah memberi rejeki..jalannya bisa darimana saja...

Dan sekarang....aku sudah ga sabar mau bayar pajak undian untuk mengklaim TV LCD 32 inchi itu....
Read More..

Kamis, September 30, 2010

Dua Anak Cukup.......bonusnya satu saja...

Sejak balik mudik kemarin, anak kami jadi dua saja. Wisam tinggal di Banyuwangi, jadi kesayangan disana. Bapakku tiap pagi nganterin Wisam ke playgroup...nungguin disana sampai waktu pulang. Lanjut ke mesjid untuk sholat dhuhur.

Tidur siangnya Wisam, menunggu adikku pulang dari ngajar. Walau di TK yang sama, Wisam tidak berangkat bersama tantenya karena adikku harus berangkat lebih pagi dan pulang lebih siang. Intinya, berdasar cerita Bapak Ibu dan adikku serta hasil telpon-telponan sama Wisam, sepertinya dia lebih terawat disana daripada di rumah saja bersama pengasuhnya.

Lalu bagaimana dengan kami sendiri disini?.... Hohohoho....kami membuktikan bahwa slogan pemerintah bahwa 'dua anak cukup' itu banyak manfaatnya... Jadi kan selama ini Detya dan Javas jadwal sekolahnya disamakan dengan jadwal kerja kami. Berangkat sama paginya...pulang sama malamnya. Diantara pulang sekolah dan menunggu kami pulang kantor, mereka ada di penitipan. Wisam sendiri dirumah saja dengan pengasuh kami yang ga nginep. Nah, ketika masih ada Wisam nunggu di rumah, aku selalu saja merasa resah jika harus pulang malam..entah karena ada rapat konsinyering...atau cuma karena macet. Aku kasihan karena dia pasti menunggu kami pulang, ga akan tidur kalau kami belum pulang. Jadi pada dasarnya, kami hanya bisa bersenang-senang dengan Wisam hanya pas Sabtu Minggu saja.

Dengan Wisam ada di Banyuwangi gini, ya kami hanya fokus pada dua anak saja, jadi jika semalam apapun kami harus pulang atau ga pulang sama sekali...ga ada perasaan resah dihatiku. Aku tau dan yakin sekali bahwa Wisam disana baik-baik saja. Itu baru hilangnya keresahan hatiku jika terlambat pulang....belum lagi masalah emosi yang meningkat ketika melihat Javas dan Wisam berebutan mainan. Wisam sebagai yang paling kecil, seringkali menjadi penguasa. Jika ada mainan baru, dia akan menguasainya walau kami sudah bilang bahwa itu punya kakaknya.

Suamiku ga setuju kalau aku membelikan masing-masing anak, satu mainan. Suamiku ingin agar anak-anak mengenal tentang berbagi, jadi cukup beli satu saja untuk mereka mainkan bersama. Nah, Wisam itu selalu menguasai semua mainan baru. Jangankan yang beli satu buat main bersama...dibeliin masing-masing satu saja selalu dikuasai dulu oleh Wisam. Javas biasanya bisa bersabar sebentar, dia asik-asik saja ketika Wisam jadi penguasa seperti itu. Tapi kan tidak selamanya dia bisa bersabar. sepuluh menit sampai setengah jam pertama dia bisa diam saja...setelah itu perang baratayuda dimulai karena Javas sendiri juga ingin bermain. Nah kalau sudah begitu, mulutku ini rasanya ga berhenti-henti mengingatkan Javas untuk bersabar dan Wisam untuk berbagi. Kalau kebanyakan ngomong gitu tapi suasananya masih tetep panas akhirnya..ya aku jadi ikutan esmosi... Jadi selama Wisam ga ada.....berbalas pantun antara Javas dan Wisam...Aku dan Javas..serta Aku dan Wisam juga ga ada......emosi jiwa juga jadi stabil....

Belum lagi ketika beraktifitas di rumah, karena hanya menemani dua anak saja maka kami ya hanya fokus dengan dua nak itu..tidak berbagi perhatian dengan tiga anak. OK aku memang sudah terbiasa dengan multitasking..tapi semakin sedikit multitasking yang dilakukan..beban di otak ini juga semakin ringan. Dan karena anak-anak ini sudah besar semua maka..bantuan kami juga tidak terlalu detil seperti jika harus menemani anak 3.5 tahun bermain. Akibat akhirnya...aku bisa sejenak menikmati istirahat...atau fokus nyetrika pakaian yang segunung...heheheh...*ternyata cepat selesai juga kalau kita fokus, padahal aku sudah agak-agak mabok ngeliat banyaknya setrikaan*

Jadi jika hati sudah tenang karena ga resah lagi, emosi jiwa sudah stabil karena ga pernah berbalas pantun....otak juga fokus karena jarang multitasking.....efek keseluruhan adalah suasana yang nyaman diantara kami berempat.

OK...kami semua merindukan Wisam..itu ga perlu dipertanyakan lagi...memang jadi terasa sepi karena bisanya selalu hiruk pikuk....tapi poinku adalah keluarga berencana dengan slogan dua anak cukup itu memang ada benarnya. Bukan hanya berarti mengatur masalah kependudukan saja..iya..bagi Pemerintah memang penanganan masalah kependudukan...tapi manfaat untuk keluarga itu sendiri juga banyak...Keluarga yang berkualitas itu hanya bisa didapat kalau semua orang di keluarga itu merasa nyaman.

Nah kesanggupan untuk nyaman bagi setiap orang itu kan berbeda-beda. Ada yang bisa nyaman justru jika berada dalam keluarga besar. Bagiku sendiri...dan selama beberapa minggu ini hanya dengan dua anak...aku ternyata bisa merasa lebih nyaman..walau sangat merasa sepi tanpa Wisam. Dan aku yakin tidak hanya aku saja yang merasa nyaman dengan anak yang secukupnya seperti slogan Pemerintah itu..


Jadi bagiku...aku setuju dengan program kependudukan Pemerintah yang itu tapi dengan sloganku sendiri

"Dua Anak Cukup.....bonusnya satu saja..."



Read More..

Senin, September 27, 2010

Grease atau High School Musical ?


Pernah nonton Grease?..Dulu aku bisa berkali-kali nonton film Grease ini. Bagiku Grease adalah film musikal remaja yang paling keren.

Pertama kali nonton kalau ga salah waktu acara TV tahun baru di TVRI. Saat itu sepertinya aku masih SMP, dan langsung suka banget sama Danny Zuko dan Sandy Olsson. Tentu saja langsung ngefans berat ama Jhon Travolta...sampai sekarang.

Setelah itu, setiap kali diputar di TV, entah TVRI lagi atau RCTI, aku ga pernah ketinggalan. Dulu kan ga pernah punya player..jadi bisanya cuma nunggu diputar di TV saja.

Pas lulus kuliah, aku numpang hidup di rumah saudaraku sambil menunggu panggilan kerja. Nah disana punya laser disc player....dan bisa diduga...yang kusewa adalah Grease dan kutonton berulang-ulang.... tetap ga pernah bosen. Saat itu, tahun 1998, adalah peringatan 20 tahun film Grease dan soundtrack film ini diluncurkan ulang.... Tentu saja aku ga ketinggalan beli...entah dimana kaset itu sekarang....:(

Saat High School Musical happening...aku kembali teringat film Grease ini. Sampai saat ini aku belum pernah nonton HSM, jadi rasanya ga fair kalau aku membanding-bandingkan dua film ini. Walau settingannya mirip, tapi sepertinya detilnya beda banget. Dua-duanya film musikal...dengan latar belakang sekolah SMA. Tapi kalau Grease, cowoknya anggota gank balap mobil T-Birds dan ceweknya masuk The Pink Ladies... nah HSM kaitannya ama basket dan teater gitu..

Grease isinya lebih dewasa daripada HSM. Apa ya...di Grease ada cerita tentang Leader Pink Ladies yang khawatir hamil...ada adegan ya mirip-mirip tawuran pelajar...balap mobil...kalimat-kalimatnya juga ga pas di denger anak kecil. Waktu pertama lihat si..aku ga ambil peduli sama jalan ceritanya ..pokoknya suka sama lagu-lagunya...tarian-tariannya....pacarannya Sandy sama Danny....gitu de..

Kalau HSM kan sepertinya tentang jagoan basket yang ketemu sama cewek yang cantik tapi juga pinter....kepengen ikutan drama sekolah..saingan sama jagoan nyanyi di sekolah itu..gitu-gitu deh. Jadi kalau anggota kerajaannya Paman Gery di Female FM, yang notabene banyak yang TK dan SD pada seneng sama HSM..kayaknya aman-aman saja. Namanya juga produksinya Disney, jadi pasti dijamin aman untuk anak-anak.

Jadi kalau anak-anakku juga suka HSM..ya memang film ini dibuat untuk mereka...Sedangkan aku?...tetep Grease is the best...

Berhubung kaset yang dulu ilang maka browsing di 4shared dapet file ini

Grease

Gambar diatas dapetnya juga dari situ...

Dan ini adegan favoritku



atau yang ini



Read More..

Jumat, September 24, 2010

Disparitas

Suatu ketika, saat assessment terakhir di unit kerjaku, aku merasa tersentak ketika diminta mengisi biodata pribadi bagian saudara kandung. Disitu aku diharuskan mengisi data detil orangtua dan saudara kandungku. Nama, tanggal lahir dan pendidikan keluargaku termasuk aku sendiri.

OK, sebelumnya aku memang menyadari bahwa banyak perbedaanku dengan saudara-saudara kandungku yang lain. Tapi aku tidak pernah sekaget ini ketika membaca ulang formulir yang sudah kuisi. Aku kaget melihat betapa berbedanya tingkat pendidikanku dengan saudaraku yang lain. Kakakku lulus SMA, adikku langsung, SMP saja ga lulus sehingga harus kutuliskan SD. Adikku setelahnya ga mau nerusin lagi kuliahnya jadi harus kutulis SMA dan adikku yang bungsu kutulis D2 karena baru tahun ini melanjutkan ke S1.

Sedangkan aku sendiri, alhamdulillah dapat beasiswa S2. Dari perbedaan pendidikan itu saja dapat terlihat betapa berbedanya gaya hidup kami.

Aku terpekur cukup lama membaca riwayat pendidikan itu. Aku jadi berpikir bagaimana perasaan saudara-saudaraku terhadap aku.

Bagaimana perasaan kakaku dulu ketika kami sama-sama lulus di tahun yang sama (kakakku harus mengulang kelas 2 SMAnya) dengan aku langsung melanjutkan kuliah sedangkan dia cukup di rumah saja. Bagaimanapun dia anak laki-laki..yang mestinya berharap dia yang mendapat kesempatan kuliah lebih dahulu. Dia juga pernah berharap jadi PNS dengan koneksi saudaraku yang dijamin pasti bisa dan sempat bertahun-tahun mengabdi kepada saudaraku itu, tapi kesempatan itu hilang begitu saja karena kesalahanku (salah bercanda yang ditanggapi serius oleh saudaraku itu- aku baru tau akhir2 ini saja bahwa candaanku dululah yang menghalangi kesempatan kakakku utk mendapat koneksi itu). Akhirnya kakaku ini sekarang bekerja sebagai sopir truk pengangkut di perusahaan eksportir udang di daerahku yang trayeknya sampai Sumbawa, Lampung dan Banjarmasin.

Adikku langsung, anak ketiga yang disebut medeking dan mengalami semua fenomenanya..akhirnya menyerah sekolah saat kelas tiga SMP. Saat itu aku sempat berpikir bahwa inilah kemampuan maksimal adikku dan kelak jika aku mampu, akulah yang akan bertanggungjawab atas hidupnya. Nyatanya sekarang ini dia punya satu anak dengan pekerjaan serabutan yang kadang-kadang bisa dapat 10-15 ribu sehari, namun seringkali ga ada pekerjaan sama sekali....dan ternyata aku juga ga sanggup berbuat apa-apa untuk adikku itu...aku ga bisa menanggung hidupnya walaupun aku tetap sangat ingin melakukannya. Aku tidak sendiri dan semua keputusanku harus atas persetujuan suamiku.

Adikku yang keempat....well aku sudah pernah menceritakannya. Setelah penyerahannya atas kuliah, dia merantau ke Bali dan bekerja jadi koki. Sudah berpindah di tiga restoran dan tiga-tiganya spesialis makanan italia. Jadi lebaran kemaren kami menikmati spageti buatannya yang memang delicioso..(bukan yang buatanku pake boloignese instant hehe..). Dan lebaran kemaren, dia berubah bentuk menjadi gemuk besar dan bikin aku harus mengingat-ingat..ini adikku atau sepupuku yang lain ya.. Hmmm..efek dari kewajiban mencicipi masakannya...dia bilang. Sepertinya dia cukup enjoy dengan hidupnya....tapi apakah itu semua cukup jika dia harus membina keluarga sendiri kelak?

Adik bungsuku...ok..sepertinya dia yang kuharapkan sedikit sekali perbedaannya denganku..

OK..aku ngerti bahwa jalan hidup masing-masing orang itu beda..bahkan di daerahku sendiri ada istilah..."telor ayam dari satu induk saja hasilnya bisa beda..apalagi kita..."...

Tapi jadinya semenjak kuliah dan akhirnya kerja, aku seperti berjarak dengan semua saudaraku..aku seringkali ga bisa menerima jalan pikiran mereka (walau tidak pernah aku tunjukkan)....apalagi bicara yang enak sama ipar-iparku. Ga pernah bisa..
Mereka sungkan sama aku..akupun bingung mo ngomongin apa sama mereka... Mau ngomongin anak-anak, takut dikira aku sok tau dan sok ngatur. Padahal aku sedih sekali melihat ponakanku yang umurnya baru lima udah direbonding rambutnya. Sedih banget ngeliat ponakanku itu sepertinya tidak terurus. Serba salah...walau sedapat mungkin kucoba untuk bicara..tapi tetap saja hasil akhir mereka sendiri yang nentuin.

Ketika berdiskusi apa saja dengan kakaku, aku harus menahan diri sekuat tenaga untuk hanya mendengarkan saja tanpa memberi komentar atau penilaian sama sekali. Betapa banyak hal yang tidak kusetujui dari cara bersikapnya..tapi..hei...aku ini adiknya...seharusnya aku menerima saudara-saudaraku apa adanya..tidak mengkritik mereka. Jika aku begini, bukan berarti mereka juga harus begini, dan sebaliknya.

Apalagi adikku langsung, walaupun sayangku padanya ga usah diragukan lagi, aku seringkali jengkel dengan cara berpikirnya yang dari dulu tidak sesuai dengan kemampuannya... Tapi itulah adikku..yang sekarang sudah punyak anak satu.

Jadi karena aku hanya bertemu mereka sesekali saja, maka akulah yang harus lebih banyak mengerti mereka..menyesuaikan diri dengan apa adanya mereka... semuanya berpulang lagi pada menerima apa adanya...

I love them all....very much...seberapapun besarnya perbedaan kami..
Read More..

Senin, September 20, 2010

Campur-Campur Selama Mudik

Aku dan Pulang Kampung

Tahun ini aku mudik ke Banyuwangi..ke rumah orang tuaku. Tahun lalu hanya ke Kediri. Bedanya jika mudik ke Banyuwangi, masih bisa transit di Kediri pergi dan pulangnya. Kalau sudah di Kediri, artinya ga akan ke Banyuwangi sama sekali. Tahun lalu si...semua keluargaku yang main ke Kediri. Ga tau bagaimana pengaturan tahun depan. Yang jelas...masa si ga ketemu keluargaku dalam dua tahun...

Aku sudah bingung bagaimana mengatur mudik kami tiap tahunnya. Jika bertahan harus kedua tempat itu setiap kali mudik, yang ada hanya capek di jalan. Kediri Banyuwangi butuh 8 jam perjalanan. Di rumah orang tua paling dapatnya cuma 2 malam saja. Setahun sekali pulang hanya untuk bertemu 2 malam saja.

Maka semenjak tahun lalu kami putuskan satu rumah saja setiap mudik, diawali dengan Kediri dulu. Jadi tahun lalu, kami sama sekali ga pulang ke Banyuwangi. Berpuas-puas kami habiskan tujuh malam di Kediri.

Tahun ini pun kami puaskan tujuh malam di Banyuwangi..termasuk dua hari satu malam jalan-jalan ke Bali. Kami pun masih sempat transit ke Kediri barang 12 jam pergi dan pulangnya. Yang jelas dengan full di satu tempat, bisa muas-muasin silaturahmi ke keluarga besarku...terutama bisa maen 2 kali ke rumah Mbah Putriku.

Tahun depan diurus tahun depan aja deh....toh..keluargaku senang-senang aja diminta maen ke Kediri.


Wisam dan Tante

Ga nyangka banget bahwa Wisam teramat sangat kangen dengan adikku. Kami sampai di Banyuwangi dini hari menjelang sholat Idul Fitri, jadi Wisam dalam keadaan tidur. Pagi-pagi ketika kami sibuk bersiap-siap berangkat sholat, Wisam bangun dalam keadaan kebingungan. Dan ketika dia lihat adikku, langsung yang dituju adalah adikku itu, ayahnya ga dianggap sama sekali. Dan setelah itu Wisam nempel kayak perangko sama Tantenya. Semua-muanya maunya sama Tante....Ayah sudah ga laku lagi.

Maka sorenya adikku meminta agar Wisam bisa ditinggal di Banyuwangi sampai tahun baru nanti. Yang aku tidak sangka juga adalah tanggapan suamiku atas permintaan adikku itu. Walaupun ga saat itu juga dijawab, ternyata malam harinya saat keadaan tenang, suamiku menanyakan kemungkinan permintaan adikku itu. Ini yang bikin surprise, biasanya apapun yang berhubungan dengan Wisam, suamiku sangat protektif sekali. Bukan sekali ini saja, baik orangtuaku maupun mertuaku minta Wisam tinggal dengan mereka barang sebulan dua bulan. Tapi jawaban suamiku adalah tidak, apapun kondisinya. Nah ketika suamiku membuka kemungkinan dengan menanyakan pendapatku, ini adalah hal yang luar biasa.

Setelah melalui berbagai pertimbangan selama kami berada di Banyuwangi, maka pagi hari menjelang kepulangan kami ke Jakarta, suamiku memutuskan bahwa Wisam bisa ditinggal di Banyuwangi. Nanti sekitar akhir Desember atau awal tahun baru, baru diantar balik ke Jakarta.

Jadi saat ini, Wisam ada di Banyuwangi dan aku hanya mengurus dua anak besar saja. Dan Wisam, setiap kali kutelepon...ga ada tanggapan yang luar biasa. Sepertinya dia menikmati tinggal dengan Kakek Nenek dan terutama Tantenya


Detya dan Bali

Setiap kali aku dinas ke Bali, selalu saja ada tato henna di kakiku dan ini membuat Detya ngiri sekali. Dia juga ingin digambari kakinya seperti aku. Jadi ketika kami benar-benar sampai di Bali, tidak bosan-bosannya Detya menanyakan kapan dia bisa dibuatkan tato yang sama. Bahkan ombak Tanah Lot yang berdebur-debur membasahi kami semua, tidak cukup menarik perhatian Detya. Dia ingin segera ditato.

Maka ketika akhirnya bertato, Javas dan Wisampun tidak ketinggalan. Tato beres kami menuju Kuta. Di Kuta, Detya rewel lagi minta dikepang...ga berhenti-henti juga merengek minta dikepang. Perhatiannya teralihkan ketika akhirnya bermain di pantai. Selesai makan, jam sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB artinya di Bali sudah satu jam lebih malam. Aku beralasan bahwa sudah tidak ada tukang kepang lagi, sampai pas jalan menuju parkiran mobil ada ibu-ibu yang menawari kepang. Langsung saja Detya memaksa untuk dikepang, ga peduli hari yang sudah malam.

Dan inilah Detya selama di Bali sampai 3 hari kemudian



Javas dan Belajar

Sampai saat ini, Javas masih belum lancar membaca. Masih harus mengeja satu-satu, jadi kami melakukan berbagai trik agar dia mau berlatih. Dari yang membaca tulisan disepanjang jalan, sampai barter apa yang dia mau dengan membaca. Misalnya dia mau aku menyuapinya makan selama di mobil, maka aku mau melakukannya asal dia membaca sebaris kalimat yang aku tunjukkan.

Tetap saja, cara-cara itu tidak cukup cepat membuat dia lancar membaca. Maka ketika dia mudik duluan bersama Detya dan Bapakku ke Banyuwangi, dia harus berlatih bersama Tante dengan imbalan, dia bisa mendapat mainan yang paling dia inginkan. Adikku berkali-kali telpon dan sms menceritakan betapa susahnya dia meminta Javas berlatih, sampai akhirnya dia mau berlatih di HP qwerty. Lumayan juga, dia cukup antusias tapi ini kan tidak menyelesaikan masalah dia malas menulis. Gurunya sudah berkomentar mengenai susahnya meminta Javas menulis.

Maka mudik kemarin diisi dengan tarik urat Tante dengan Javas untuk berlatih membaca dan menulis.


Suamiku dan Menyetir

Aku salut sekali dengan stamina suamiku ketika menyetir. Dari dulu aku pengennya kami sekeluarga mudik bareng dengan mobil yang sama, daripada anak-anak pulang duluan dengan naik kendaraan umum yang harga tiketnya selangit karena tuslah. Kalau nantipun anak-anak butuh istirahat, biaya menginap di hotel melati di kota-kota kecil sepanjang perjalanan kami, masih lebih murah daripada tiket bus ato kereta apalagi pesawat.

Suamiku ga mau model perjalanan seperti itu, yang harus berhenti berkali-kali untuk istirahat. Suamiku maunya ya sekali nyetir ya jalaaaan terus sampai tiba di tujuan. Kalaupun berhenti ya hanya untuk ke toilet sekalian makan dan sholat, tidak lebih dari satu jam. Atau jika kantuk ga dapat ditahan lagi oleh suamiku, cukup parkir di Pom Bensin barang sejam dua jam maka suamiku akan segar lagi. Istirahat total baru dilakukan jika sudah sampai tujuan.

Kemarin itu kami berangkat selasa malam tanggal 7 September, dan saat itu jalanan sudah sangat padat sehingga kami baru sampai Cirebon keesokan siangnya dan kami akhirnya transit di Kediri hari kamis dini hari jam 03.00. Perjalanan yang normalnya butuh 15 - 17 jam molor jadi 29 jam.

Di Kediri kami hanya transit sampai jam 15.00 sore lanjut ke Banyuwangi. Sampai di Bangil aku mampir dulu ke rumah sahabatku jaman kuliah dulu dan kami berhaha hihi sampai ba'da isya. Ditambah macet karena takbiran maka kami sampai di Banyuwangi pukul 00.30 dini hari.

Lalu selama di banyuwangi, masih suamiku yang nyetirin kesana kemari. Maka aku berpikir untuk meminta adikku yang cowok untuk menemani kami ke Bali, terutama karena dia kerja di bali jadi cukup tau jalanan dan tempat nongkrong di Bali. Disamping itu ya itu tadi, kupikir suamiku sudah cukup capek selama perjalanan mudik, jadi dia bisa santai selama ke Bali. Ternyata suamiku lebih meilih nyetir sendiri, jadi dari Gilimanuk menuju Tanah Lot berlanjut ke Kuta dan malamnya langsung ke Pantai Lovina lewat Bedugul, tanpa banyak kata cukup disetiri sendiri.

Bener deh..saat aku ini jadi PELOR..nemPEL langsung moLOR...suamiku ga henti-hentinya nyetir...

Perjalanan pulangpun tetap dengan pola yang sama...suamiku satu-satunya penyetir dan istirahat hanya secukupnya.


Nenekku dan Gunting Kuku

Beberapa kali Ibuku sempat cerita bahwa nenekku paling ga suka melihat kuku ibuku yang panjang-panjang. Bahkan ketika ibuku tidur, nenekku bisa saja momotong kuku-kuku yang dianggap panjang. Saat Ibuku cerita begitu, aku hanya menanggapinya sambil lalu..masa si..nenekku yang udah 95 tahunan masih bisa melihat dengan jelas?

Ternyata ketajaman mata nenekku terbukti kemarin saat kami berkunjung yang kedua kalinya ke rumah nenek. Karena sudah hari Rabu, maka rumah nenekku tidak crowded lagi dengan tamu-tamu yang berkunjung. Lalu nenekku memeriksa kuku-kuku tangan dan kaki ibuku seperti Bu Guru yang memeriksa kuku muridnya. Dan karena memang sudah panjang, maka langsung saja nenek ambil gunting dan cetak cetik kuku ibuku.

Aku hanya bisa melongo melihatnya.


Ibuku dan Foto Poster

Lebaran tahun lalu saat berkunjung ke Kediri, Ibuku membawakan mertuaku foto poster berukuran 75 x 100 cm...ukuran yang cukup massive dengan gambar bapak dan ibu mertuaku saat pernikahanku dulu. Tidak lupa juga aku dibawakan foto pernikahanku dengan ukuran yang sama. Dan saat kupasang di bagian dapur rumahku..sukses membuat tikus-tikus berkurang kunjungannya ke dapurku......*serius ini*

Ibu bilang bahwa di rumah terpasang semua foto cucu-cucunya dengan ukuran yang sama besarnya. Aku tidak bisa membayangkannya karena memang aku tidak pulang ke Banyuwangi.

Maka saat aku di rumah lebaran ini...aku dibuat melongo lagi dengan poster-poster segede gaban yang menempel di semua bagian rumahku. Ada Nanda keponakanku, ada Bella anak kakakku..belum lagi Detya. Ada foto keluarga kami ketika pertemuan keluarga 2008 dengan seragam merah hatinya. Ada juga foto pernikahan ibuku dulu dan foto ibu bapakku saat mereka berdua masih gemuk segar cantik dan cakep.

Dan aku harus selalu memelototi poster adikku menjelang tidur karena kami menggunakan kamarnya.....



================================================

Rasanya masih banyak yang ingin kukenang-kenang...tapi mungkin lain kali saja





Read More..

Jumat, September 03, 2010

Warna Favorit

Sejak SMP dulu sampe duduk di bangku kuliah, aku suka sekali dengan warna hijau. Dan untuk warna yang kubenci adalah pink. Bener deh, ketidaksukaan itu kudeklarasikan kemana-mana. Di buku-buku suka kutulis.."I hate pink". Entahlah kenapa segitu tidak sukanya aku dengan warna pink, mungkin karena terlalu girlie sedangkan aku pecicilan gini, jadi anti sama pink. Dan juga ketika melihat teman-temanku yang pemuja warna pink, begitu anggun dan cantik, sedangkan aku tidak bisa seperti itu, jadi pink sama sekali jauh dari sifatku.

Tentang hijau sendiri...ah..kupikir gampang dipahami kenapa hijau banyak disukai...warna yang lembut sekaligus tegas, tergantung gradasi hijau apa yang sedang dilihat. Daun-daun berwarna hijau meneduhkan...pupus daun pisang begitu segar dilihat. Atau hijau lumut yang gelap pun nampak misterius. Hijau is the best lah pokoknya...eeeh..kecuali hijau karpet mesjid ding...aku ga suka warna hijau yang mencolok mata seperti itu.

Nah, waktu kuliah adalah waktu memuaskan hasrat untuk menyukai warna hijau. Dengan uang saku yang bisa kuatur sendiri, aku membeli semua perlengkapan harianku dengan warna hijau. Peralatan makan:gelas, piring, mangkuk...peralatan tulis:kotak pensil, pulpen, tas. Ah...semuanya serba hijau deh...

Bahkan baju kuliah, bisa dari atas ke bawah semuanya nuansa hijau. Sampai suatu kali ada yang bilang aku KALEM...what? aku kalem?...ee..ternyata maksudnya KAya LEMper...muahahah....

Nah pas lulus kuliah itu, kesukaanku berubah..aku jadi suka warna kuning, bukan kuning terang gitu...tapi kuning telur yang lembut. Tapi itu tidak lama, pas mulai kerja sudah ga gitu suka kuning lagi, tapi ga ada warna spesifik yang aku sukai.

Menjelang menikah, aku tiba-tiba suka warna pink. Walaupun tidak punya barang-barang warna pink, tapi saking mulai suka sama pink, kartu undangan pernikahanku ada yang berwarna pink. Jadi ada dua set warna, satunya oranye abu-abu (warna pilihan suamiku), satunya lagi pink muda dan pink tua (apaaan coba?). Aku jadi penasaran, bagaimana tanggapan sahabat kuliahku dulu kalau tau undanganku berwarna pink. Dia paham sekali kalau aku ga suka warna pink. Sayang...aku ga tau apakah sahabatku itu menerima undanganku atau tidak. Aku ga bisa melacak dimana sahabatku itu berada.

Kesukaan akan pink semakin menggila setelah kelahiran anak perempuanku. Mendadak, mata ini ga pernah bisa lepas dari barang-barang berwarna pink, alasanku...beliin anak perempuanku itu. Padahal sebenarnya aku sendiri yang suka.

Entah kapan mulainya, warna pink itu berubah jadi warna merah, walaupun aku masih suka pink sampai sekarang. Ketika butuh tas, rasanya mataku selalu tertarik ke warna-warna merah, ketika lihat sepatu pun juga begitu. Belum lagi kaos-kaos harian....merah terus yang kupilih.

Dan ketika dalam suatu training, pengajarnya bertanya apa warna favoritku, dengan yakin aku jawab merah..dan ketika pengajar menceritakan kepribadian orang penyuka merah.. ah...sebagian besar "aku banget"..... Ya sudahlah...aku memang merah.

Hari selasa lalu aku menyadari betapa aku sangat suka warna merah (berlebihan kukira), ketika tanpa sengaja aku melihat refleksi diriku di kaca kantor:
Aku sedang memegang HP warna merah, dengan sepatu yang kupakai warna merah gelap, celana merah hati tua, atasan batik mega mendung warna merah, dan tas selempang hijau biru merah dengan warna merah yang dominan.

Ya ampun....aku merah sekali si...

Padahal aku tidak merencanakannya...
Read More..

Senin, Agustus 30, 2010

Single Parent

Hari Jumat kemarin, aku dapat sms dari teman SDku, rupanya dia dapat nomer hpku dari sahabat masa SDku dulu, UKE. Yaaa...biasalah sms standar tanya kabar, tinggal dimana, kerja dimana dan seterusnya. Temanku itu cowok. Dari teman-teman SDku, hanya tiga orang yang pernah telpon/smsan denganku, ya UKE itu, satu temen cowok anak dari teman kerja Bapakku dan yang kemarin sms itu, sebut saja Bobby.

SDku dulu termasuk SD pinggiran yang muridnya banyak sekali dari suku Madura atau keturunan Arab. Nah, setelah SMP aku seperti putus hubungan dengan dunia SDku karena rumahku yang jauh dan ga banyak teman SDku yang melanjutkan sekolah ke SMP. Bahkan ada temanku pas kelas 4 harus berhenti sekolah karena dinikahkan oleh orangtuanya. Bayangkan...umur 9 tahun sudah dinikahkan....

Jaman SD dulu, Bobby ini pendiem sedangkan aku juga pendiem *sebentar...pendiem ga ya...ralat deh..termasuk rata-rata ding*. Untuk jaman SD dulu, Bobby termasuk good looking, tapi saking pendiamnya...bukan dia yang diolok-olokin dengan aku (biasalah..anak-anak SD..saling meledek temannya pasangan siapa..). Artinya, aku sudah bisa menilai dia menarik tapi yang lebih banyak kuajak bertengkar..ya orang itu yang diledekin sebagai pacarku..dan karena dia pendiam maka ga pernah bertengkar denganku dan ga ada ledekan apa-apa antara aku dengan Bobby.

Setelah sms standar siang itu, kupikir ga akan ada sms lagi sampai malam-malam Bobby sms lagi nanyain lagi santai ato engga. Karena kupikir pertanyaan ga penting, ya aku ga layani sms itu. Cuma keanehan mulai kurasakan.

Lalu Sabtu sore dia mulai sms lagi nanya aku masak apa. Dan karena kupikir pertanyaan itu cukup menarik maka aku jawab sms itu. Kuanggap menarik karena tidak biasanya aku memasak. Sore itu, asistenku ijin ga ke rumah karena kedatangan tamu dari kampung, jadi aku masak sendiri. Lalu sms berlanjut menjadi pertanyaan yang kuanggap bercanda dan aku jawab juga dengan becanda. Misalnya:
Q:"denger-denger kamu masih secantik jaman sd dulu ya"
A:"yaelah....bukannya sd dulu aku item dan kumal.....ya sekarang.....beda dooong...jauh lebih cantik" (terang aja beda..yang belum terawat dengan yang sudah terawat. aku jawab dengan maksud bercanda)
Q:"andeng-andengmu (tai lalat) masih ada kan..masih semanis dulu?"
A:"masih ada..tambah besar..sama anak-anakku sering dijadiin bel" (masih becanda kan?)

Nah, aku sudah mulai ga nyaman dan aku mulai nanya kenapa dia yang dulu pendiam sekarang jadi gombal gini. Terus aku tanya, apa istrinya ga marah dia muji-muji perempuan lain seperti ini. Dia ga kasih jawaban, jadi kupikir memang dalam konteks becanda. Aku sendiri cerita ke suamiku tentang sms dari teman sdku ini, walau aku ga cerita detil. Lagian ngapain juga becandaan kok diceritain...ntar malah dipikir aku kegeeran.

Lalu malam-malam sms ga penting lagi seperti sebelumnya dan ga aku jawab. Aku pikir euforia karena menemukan teman lama makanya dia intens sms.
Sampai minggu sore kemaren, setelah sms yang kuanggap hahahihi, dia tanya apakah ada yg marah kami smsan seperti ini. Dan kujawab "emang kita ngapain? ga ngapa-ngapain kan? lagian aku udah cerita kok ke suamiku" lalu dia merespon dengan kalimat yang bikin aku bete berat.
"Sebentar...menurut informasi yang aku dengar, kamu katanya jadi single parent sekarang ini. Jadi yang bener gimana ni?"

Waaaaa.....gubrak deh....aku langsung flashback ke sms-sms sebelumnya....dari awal sampai akhir rupanya dia emang niat flirting berdasarkan info awal yang dia dengar.


Sial..sial..sial...aku jadi menyesal menanggapi semua sms itu dengan bercanda. Seandainya saja sejak awal aku sudah pasang tembok, jaim ga usah canda-candaan. Padahal aku merasa sudah cerita tentang keluarga...tentang anakku yang tiga..tentang mencoba resep baru untuk keluargaku. Walaupun ga secara eksplisit aku sebut-sebut suamiku..kupikir sudah jelas bahwa aku saat ini sedang dengan keluarga lengkapku.

Tapi ya itu tadi, kami berangkat dengan info yang berbeda, dia dengan info bahwa aku single parent, aku dengan anggapan bahwa kalau udah punya anak ya brarti punya suami.

Aku ga marah sama temanku itu, karena kupikir semua kalimat-kalimatnya masih sopan dan bahkan dia menyebut single parent instead of "janda". Dan selanjutnya aku tau emang dia niat serius ketemuan sama aku nanti pas lebaran karena posisi yang sama..dia single parent demikian juga aku menurut anggapannya (untung dari awal aku sudah menghindar untuk ketemuan).

Yang membuatku jengkel adalah info darimana bahwa aku ini single parent. Aku ga pernah ketemu teman-teman SD, teman SMP pun jarang..teman SMA hanya melalui fesbuk...temen kuliah sudah tau pasti aku menikah.

Lalu aku bisa memahami perasaan temanku yang ditulis di status fesbuknya, ketika ada laki-laki yang sudah beristri, menyepelekan dia karena dia yang sudah janda (suaminya meninggal). Ckckckck, bagaimanapun mandiri dan perkasanya seorang single parent...pasti akan sakit hati jika mengalami hal seperti itu.

Jadi...mulai hari ini.....kalau dapat kabar dari teman lama seperti ini (kecuali teman yang mengenal dan kukenal dengan baik)..aku akan langsung pasang tembok..jaim dan ga sok becanda-becandaan. Atau dari awal sudah cerita tentang suamiku dan anak-anakku secara eksplisit..tidak dengan asumsi....(asumsi bahwa punya anak pasti punya suami)

Read More..

Jumat, Agustus 27, 2010

Iuran Sekolah

Aku sudah terbiasa dengan metode pembayaran sekolah yang ada di Istiqlal karena dua anak pertamaku sekolah disana. Iuran bulanan, seperti biasa, dibayarkan tiap awal bulan sampai paling lambat tanggal 10 bulan berjalan. Uang pangkal dibayarkan pada waktu pertama daftar sekolah dan bisa dibayarkan dengan mencicil... Selain itu ada yang namanya uang KBM (kegiatan belajar mengajar) yang dibayarkan setahun sekali *boleh dicicil :D* yang sudah mencakup semua biaya alat, buku dan kegiatan selama setahun *termasuk biaya kunjungan-kunjungan belajar dan outbond*.

Selain itu ga ada lagi permintaan iuran ini itu, sehingga aku hanya perlu mengingat-ingat iuran bulanan saja. Menurutku jadi ringkas dan aku hanya perlu menabung sendiri untuk ngumpulin uang KBM yang mesti dibayar tiap tahun ajaran baru.

Bedannya, anak bungsuku sekarang ini belajar di Kelompok Bermain di dekat rumah. Dengan berbagai pertimbangan, kami memutuskan bahwa untuk kelompok bermain, biar Wisam di dekat rumah saja. Nanti kalau sudah TK kami berniat menyekolahkannya di Istiqlal. Sama seperti kakak-kakaknya.

Biaya sekolahnya lebih murah daripada sekolah di istiqlal walau aku tidak bisa bilang bahwa biayanya cukup murah. Lebih murah iya, tapi tidak murah..:D. Nah bedanya, di KB bungsuku ini, biaya yang ditulis di brosur hanya untuk uang pangkal *yang bisa dicicil :D* dan iuran bulanan saja. Sekolahnya juga hanya seminggu 3x dari pukul 08.00 - 10.00. Ya sudahlah...yang penting Wisam ada kegiatan yang terarah dan fisiknya pun bisa tetep sehat.

Masalahnya, walau tidak ada uang KBM, ternyata biaya lain-lainnya banyak juga dan berulang-ulang. Diawali dengan surat pemberitahuan bahwa masing-masing anak mesti membawa berbagai macam peralatan yang nantinya ditinggal di sekolah, sehingga perlu sejumlah rupiah untuk memenuhinya. Kemudian datang lagi surat pemberitahuan bahwa si anak perlu membayar uang buku sejumlah sekian rupiah yang juga nantinya ditinggal di sekolah. Kemudian ada lagi permintaan uang susu.

Wedew....ini sekolah baru berjalan 2 bulan, sudah 3 pemberitahuan yang harus kami siapkan pendanaannya. Aku jadi merasa ribet karena mesti berulang-ulang gini. Apalagi aku pelupa gini, jadi mesti berulang kali telat bayar karena lupa mempersiapkan dananya.

Lalu bagaimana kalau nanti ada kunjungan belajar? pasti ntar ditarik iuran lagi. Dan tentunya kunjungan itu ga cuma sekali dua kali.

Wah..wah....aku merasa uang KBM jauuh lebih ringkas daripada permintaan satuan gini. Mengenai jumlahnya memang belum bisa dibandingkan apakah lebih mahal dijadikan satu begini seperti di Istiqlal atau diminta satu persatu seperti di KB Wisam, yang jelas dari segi efisien..aku rasa uang KBM lebih baik.

Aku percaya bahwa sekolah tidak sembarangan menentukan jumlah uang KBM. Setiap sekolah pasti punya kalender akademik tahunan yang sudah merancang semua kegiatan selama setahun dan biaya KBM tentu mencakup semua kegiatan-kegiatan itu.

Jadi, sebagai orang tua yang pelupa seperti aku ini...akan lebih baik jika sekolah menerapkan uang KBM...ringkas..dan bisa dicicil...
Read More..

Selasa, Agustus 24, 2010

Diane atau Yasmin?

Setelah kuperhatikan, ternyata hit tertinggi atas tulisan-tulisanku ini adalah mengenai Pil KB dan Kutu Rambut. Tiap hari selalu saja ada yang googling masalah 2 hal itu dan berakhir nyasar di blogku ini. Kata kunci untuk Pil KB itu biasanya Diane 35 dan Yasmin. Ya, dua merk pil KB yang manfaatnya lebih dari sekedar mengatur kehamilan.

Namanya juga pil KB, maka merknya pun dilabeli nama-nama perempuan, Diane 35 dan Yasmin. Banyak juga si pil KB yang lain, tapi pil KB yang lainnya adalah pil KB standar yang isinya hanya berbagai bentuk hormon estrogen, bisa juga campuran dengan progesteron sintetis. Efeknya adalah manipulasi hormon tubuh sehingga seakan-akan ovulasi sudah terjadi, artinya sel telur ga akan dilepaskan sampai waktunya pil habis.

Dulu aku ga bisa memilih mau pakai pengatur kehamilan yang mana sampai akhirnya anak kedua dan ketiga lahir tanpa perencanaan. Berhubung ngurus tiga anak saja sudah membuatku kelabakan, maka aku memutuskan untuk pakai pil KB Diane 35. Dengan berbagai keunggulannya aku bertahan memakai Diane 35 sampai bulan Mei lalu.

Mulai bulan Juni aku coba pake Yasmin, karena sepertinya berat badanku ga turun-turun dan cenderung naik. Aku merasa kok lemakku terasa makin tebal, jadinya ga nyaman. Terutama lemak perut, bikin ga nyaman kalau duduk. OK, aku tau diri bahwa aku sangat malas berolahraga, jadi jangan berharap punya perut kencang. Tapi rasa tebal ini bener-bener menganggu sehingga aku putuskan untuk ganti pil KB. Kali aja dengan Yasmin aku lebih bisa menjaga berat badanku.

Aku belum bisa membandingkan apa beda antara Diane dengan Yasmin karena ini baru bulan ketiga aku ganti Yasmin. Hmmm...yang jelas harganya beda 50 ribu sendiri. kalau diitung-itung si memang ini pengeluaran sebulan sekali. Tapi ketika beli tetap saja terasa mahal. Apalagi belinya bareng dengan kebutuhan vitamin dan obat untuk anak-anakku.

Tapi kalau aku boleh subyektif, rasa-rasanya semenjak pakai Yasmin, berat badanku memang stabil di satu angka saja. Beda dengan ketika memakai Diane, seringkali beratku lebih 2-3 kg dari satu angka itu, lalu kembali ke angka itu untuk kemudian naik lagi, begitu terus. Makanya aku merasa banyak penebalan lemak dimana-mana.

Jadi kupikir, aku akan terus memakai Yasmin untuk kontrasepsiku karena aku ingin berat badanku jadi lebih stabil. Untuk harga yang lebih mahal, anggap saja sebagai ongkos untuk menjaga berat badan. Daripada coba-coba prosedur lain yang ga jelas hasilnya. Setidak-tidaknya, aku dapat kontrasepsi...ya kan?
Read More..

Jumat, Agustus 13, 2010

Anak Pintar, Anak Soleh

Dulu biasanya jika sedang merayu anak-anak, aku akan bilang.."Detya cantik"..."Javas ganteng"... Lalu kupikir-pikir, apapun yang diucapkan orangtua terhadap anak-anaknya adalah doa, sehingga kupikir betapa dangkalnya doaku untuk anak-anakku. Cuman pengen mereka ganteng dan cantik. Ya sebenarnya cantik dan ganteng yang kumaksud ya secara keseluruhan, tapi pasti yang ditangkap oleh yang mendengar adalah masalah fisiknya saja.

Maka aku berusaha keras merubah rayuan itu jadi "Detya pinter"..."Javas pinter"..."Wisam pinter".... Aku merasa senang sekali karena bisa merubah ucapan yang sudah keluar otomatis itu menjadi lebih berkelas, bukan hanya masalah penampilan saja. Aku merasa doaku kali ini lebih advance yaitu berdoa agar mereka pintar dalam segala hal.

Namun ternyata.....

Doa yang selama ini kuanggap sudah berkelas dan lebih advance, jadi jatuh nilainya ketika suatu ketika aku mendengar temanku merayu anaknya dengan..."Fulan sholeh"...waaaaaaaaaa....aku jadi benar-benar malu. Bahwa apa yang selama ini kuanggap doa yang cukup berkelas ternyata masih saja hanya menggambarkan kemampuan fisik saja..ga ada nilai spiritualnya..

Maka mulai saat itu kami berusaha keras merubah rayuan kami dengan doa yang paling ultimate..."Detya sholehah"..."Javas sholeh"....."Wisam sholeh"

Apalagi sih yang diharapkan orangtua agar amal ibadah tetap berjalan, walaupun sudah meninggal, selain doa anak yang sholeh..?
Read More..

Sabtu, Juli 31, 2010

Rumah Dan Masalahnya

Perbincangan masalah rumah antara aku dan suamiku selalu saja berakhir dengan ga ada kesimpulan. Aku paham bahwa banyak hal yang dipertimbangkan suamiku dalam rangka mendapatkan rumah idaman, beda denganku yang hanya mementingkan tampilan umum saja.

Semenjak kepindahanku dulu dari kontrakan ke rumah dinas tahun 2006, aku sudah memutuskan bahwa urusan memilih rumah aku serahkan sepenuhnya kepada suamiku. Ini dalam rangka menghindari konflik besar.

Waktu pindahan 2006 dulu, kami selalu argueing tentang segala hal. Saat itu rumah dinas yang kudapatkan sangat-sangat tidak layak huni sehingga butuh renovasi lumayan besar. Nah, dalam rangka renovasi itu kami diskusi dengan emosi yang diakhiri dengan saling membentak di hadapan Bapakku.

Bapakku memang datang membantu proses renovasi itu dengan membawa tukang dari kota asalku sehingga beliau juga mengamati semua pross diskusi kami tanpa sekalipun turut campur. Setelah insiden saling membentak itu, akhirnya Bapakku cerita tentang suatu hal yang tidak pernah diberitaukan padaku.

Alkisah....ketika suamiku dan keluarganya dulu datang melamarku, Bapakku sedang di Kalimantan ke rumah Pakdheku. Jadi beliau ga tau sama sekali bagaimana calon suamiku dulu kecuali dari ceritaku dan ibuku. Bapakku agak-agak mempertanyakan keputusanku mengingat betapa dekat jaraknya dengan putusnya pertunanganku dengan calon sebelumnya. Beliau khawatir aku belum terlalu mengenal pelamarku ini dan aku tergesa-gesa memutuskan untuk menerima karena umur yang semakin merambat naik.

Maka beliau melakukan hal yang wajar dilakukan orang-orang daerah tapal kuda. Daerah dengan penganut NU yang setipe Gus Dur gitu lah. Bapakku bertanya pada seorang Kyai yang terkenal mumpuni. Beliau bertanya bagaimana kira-kira masa depan antara aku dan calonku. Sebenarnya Bapakku adalah seoarng Muhammadiyah. Dan dalam pertunanganku sebelumnya, Bapakku tidak melakukan hal ini. Ini beliau lakukan karena mengkhawatirkanku saja.

Dan garis besar hasilnya adalah kami berdua sama-sama keras. Basicly ga ada masalah yang berarti, tapi kekerasanku itu membuatku ga akan ragu-ragu memutuskan sesuatu. Masalah besar yang bisa membuat kekeraskepalaan kami berakhir buruk adalah hal-hal yang berhubungan dengan rumah, entah pindah rumah, renovasi rumah ataupun beli rumah. Pokoknya apapun yang berhubungan dengan rumah.

Maka sejak itu aku memutuskan, apapun yang berhubungan dengan rumah, aku yang akan pasif. Aku ga akan keras kepala mempertahankan keinginanku. Asal hal-hal pokok terpenuhi maka detilnya biar jadi pilihan suamiku. Hanya renovasi rumah dinas saja bisa membuat kami saling membentak tanpa lihat situasi, bagaimana jika kami membeli rumah dan ga ada satupun yang mengalah? Bisa-bisa terjadi perang Baratayuda.

Maka ketika awal 2007, suamiku tiba-tiba saja ingin membeli rumah di Kediri, kota asalnya. Akupun ga banyak tanya, walaupun aku ga ikhlas sama sekali. Bayangkan...dari awal kami menikah, kami sudah keliling-liling kesana kemari tanya-tanya rumah yang mungkin bisa jadi tempat tinggal kami. Tapi waktu itu, dananya amat sangat terbatas, sedangkan dari dulu harga rumah sudah tinggi. Lalu setelah suamiku setahun di Korea dan mengumpulkan uang saku yang diterimanya setahun itu, maka cukuplah dana untuk membeli rumah di Jakarta (walaupun tentu saja tetap harus KPR). Aku sangat berharap kali ini kami bisa benar-benar mendapatkan rumah sendiri. Kami juga masih saja kesana kemari melihat-lihat perumahan yang ada di daerah pilihan kami. Dan betapa kecewanya aku, ketika ternyata suamiku memutuskan untuk membeli rumah di Kediri, ketika Ibu Mertuaku cerita bahwa ada orang yang butuh uang sehingga harga rumahnya lemayan rendah. Dan uang yang sedianya cukup untuk DP dan segala macam untuk rumah Jakarta, akhirnya habis untuk membeli rumah Kediri itu.

Aku memang menyerahkan urusan rumah ke suamiku tapi tentu saja kekecewaanku itu tetap aku sampaikan. Dan entah kenapa suamiku tetap memutuskan membeli rumah itu. Ya...kami memang sudah punya rumah....tapi di Kediri sana. Karena kecewa itu, sampai beberapa waktu lalu, aku ga merasa memiliki rumah itu. Aku ga tau perkembangannya bagaimana dan ga ingin tau. Terserahlah kalau bocor...terserahlah kalau dipasangi rolling door..terserahlah mau dicat lagi..terserahlah mau dipasangi kanopi untuk parkir mobilnya... Toh bukan kami sekeluarga yang menempati rumah itu. Sempat ada yang ngontrak selama setaun dan kosong lagi hampir dua tahun dan baru-baru ini saja ada lagi yang ngontrak selama dua tahun.

Hampir setahun terakhir ini, kami habiskan juga untuk mencari rumah idaman. Kami sempat suka banget daerah belakang terminal Kampung Rambutan dan aku sendiri sempat jatuh cinta dengan rumah second di daerah Perumahan Bulog Pondok Gede sana. Rumah tiga kamar yang cukup luas dengan luas tanahnya 180 meter persegi. Rumahnya masih rumah asli, belum direnovasi sama sekali, jadi kami bisa membentuk jadi apa saja sesuai keinginan kami. Aku benar-benar jatuh cinta dengan rumah itu. Lingkungannya pun asri dan tetangga-tetangganya sepertinya asik. Jalur tempuhnya pun mudah dengan adanya JORR, keluar pintu tol langsung belok kanan 10 meter, masuk deh ke perumahan itu.

Berkali-kali kami mendatangi daerah itu dan kupikir keputusan suamiku tentang rumah yang mana sudah meruncing. Kami pun sudah menghitung-hitung berapa dana cash yang kami butuhkan. Ternyata masih kurang dan kalau bertahan dengan pilihan rumah yang ada, maka satu-satunya cara adalah menjual rumah Kediri. Kupikir suamiku sudah setuju dan mulai menawarkan rumah itu melalui Mertuaku. Tapi apa yang terjadi? Malah dikontrakkan selama 2 tahun.

Jadi rumah idamanku....bye...bye...

Buat apalah gondok-gondok sendiri seperti ini. Toh aku juga sudah memutuskan, bahwa urusan rumah biar suamiku yang menentukan. Aku lepas tangan saja....

Jadi yang kupikirkan saat ini adalah yang sekarang benar-benar ada di tanganku...Apartemen Menteng Square....biarpun rusun sederhana selonjorpun sempit sekali....ini sudah pasti jadi milik kami untuk kami tinggali. Benar-benar dekat dengan kantor dan sekolah anak-anak dan tanpa macet... Perkara nanti ga akan ada isinya karena ga cukup diisi apa-apa, ga masalah...yang penting kami bisa tinggal disitu. Menurut perjanjian jual beli yang kemarin ketandatangani, serah terima lokasi adalah 30 Juni 2012...wedew..masih lama ya.... ya udahlah..toh masih ada rumah dinas ini. Asal ga ada surat pengusiran lagi aja....bisa stress mendadak aku...
Read More..