Senin, Desember 17, 2012

Guilty Pleasure

Beberapa tahun lalu, aku pernah posting tentang betapa aku merasa telah jadi korban diskon, tapi komen dari rekan blogku membuatku jadi tidak merasa terlalu bersalah lagi.

Daaaaan...ternyata memang arloji jadi guilty pleasure buatku dan syukurnya....suami dan anak-anakku memahami impulsifku ketika berhubungan dengan arloji.

Ketika baru nikah dulu..aku mendapat satu arloji Guess dari suamiku sebagai salah satu barang seserahan. Namun...ternyata arloji itu hilang di jalan ketika Javas masih bayi.  Lalu sepulang dari Korea tahun 2006, suamiku membawakanku oleh-oleh beberapa arloji yang cantik-cantik.  Nah...sejak saat itu kesukaanku memakai beragam arloji bergantian di mulai.

Lalu saat peringatan pernikahan kami yang kelima, kami sepakat untuk beli sepasang arloji GC yang sampai sekarang jadi kesayangan kami berdua....tak tergantikan deh pokoknya.

Sampai beberapa tahun arloji couple itu jadi arloji harianku, kecuali ketika pengen pakai arloji oleh-oleh suamiku itu.

Lalu tahun 2010 dimulailah guilty pleasure yang sebenarnya.  Oke..aku bukanlah pengkoleksi arloji..aku hanya suka memakai arloji beraneka model...  Aku tidak terpaku pada satu merek dan kebanyakan kubeli ketika ada diskon.

Maka, arloji yang saat ini kupakai berganti-ganti ya berikut ini:





Read More..

Selasa, Desember 11, 2012

Serah Terima


Akhirnya, Jumat 7 Desember kemarin aku sudah serah terima unit apartemen di Mentes (Menteng Square).
Well...setelah mendapat surat panggilan ketiga, mau ga mau kami harus menerima unit yang jadi hak kami.  

Kenapa harus menunggu sampai panggilan ketiga? ya karena tower C tempat unit kami pada dasarnya masih perlu banyak finishing...  Tapi setidaknya setelah menunggu 1,5 bulan sejak undangan pertama, kondisinya jauh lebih baik daripada saat pertama kesana.

Sebenarnya masih malas untuk mulai berpikir tentang interior apartemen...tapi mau gimana lagi..tetep harus mulai ngisi kan?

Ada rekomendasi ga, tukang yang biasa ngerjain furniture apartemen?  Entahlah...di lantai dasar tower B ada pameran interior....tapi aku kok ga minat pakai salah satunya yaa...

Read More..

Marseille Trip

Problem utama pergi keluar negeri adalah mencari makanan yang halal.  Tidak semua negara menyediakan makanan halal.  Sebenarnya definisi halal bukan hanya tidak mengandung babi saja..tapi termasuk perlakuan terhadap bahan makanannya apakah sesuai syar'i atau tidak...misalnya saja mengenai cara penyembelihan binatangnya.  

Walau tidak mengandung babi...apakah yakin bahwa sapi atau ayam yang disajikan itu disembelih dengan benar.  Jangan-jangan cuma disetrum saja seperti yang di TV itu.  Akhirnya, ketika pergi ke negara bukan muslim dan tidak menyediakan makanan halal...baliknya adalah ikan lagi..ikan lagi (atau any kind of seafood).

Nah...setelah check in dan beberes di Mercure Marseille Center maka kami memutuskan berkeliling sekitar hotel mencari makanan halal.  Kami disini adalah aku dan partisipan dari Malaysia.  Ternyata suami istri dengan 1 anak tadi adalah salah satu peserta dari Malaysia sedangkan seorang lagi tidak berkerudung (sama sekali tak terlihat olehku ketika transit di Amsterdam).  Saat check in kami bertemu di lobi hotel dan langsung berhaha-hihi...  Ah...bahasa Malaysia ini biarpun berbeda dengan bahasa Indonesia...tetap saja lebih mudah dimengerti...jadi aku berbahasa Indonesia dan mereka berbahasa Malaysia dan percakapan mengalir begitu saja.

Maka sore itu kami keliling hotel bareng-bareng mencoba mencari makanan halal.  Rupanya kalau hari minggu, pertokoan di sekitar hotel juga ikut libur.  Jadi cukup lama kami berkeliling dan bertanya kesana-kemari.  Dan kalau kami perhatikan, banyak sekali wajah Timur Tengah di situ.  Kami bahkan tidak melihat wajah kaukasian sama sekali.  Akhirnya kami menemukan juga restoran dengan tulisan HALAL di kaca depan.  Oke...berhubung sudah ada tulisan halalnya maka kami pesan makanan apa saja yang tersedia disitu tanpa ragu-ragu.  Jangan tanya rasanya cocok apa engga ya....yang pasti...porsinya itu looooo....seabreg...

Heran banget, bagaimana bisa orang Marseille menghabiskan porsi sebanyak itu.  Kami sudah terlanjur beli sendiri-sendiri dan akhirnya memang ga kuat ngabisin jatah sepiring (besar) itu... Eniwei...keesokan harinya kami juga mendapatkan pilihan restoran lain yang juga halal.  Urusan makanan halal...ga ada masalah... mungkin karena banyak orang timur tengah maka banyak juga pilihan makanan halalnya. Dan karena sudah mengerti seberapa besar porsi makanan, maka kami mulai pesan satu porsi untuk berdua..atau kalau tidak..sisanya dibungkus saja...lumayan buat makan malam.

Inti dari perjalanan kali ini...aku sangat menikmati perjalananku kali ini...entah karena sendirian jadi lebih tertantang...atau karena partisipan malaysia yang sendirian itu...menyenangkan sebagai partner jalan..walau gampang grogi ketika kita sudah mulai nyasar jalannya.  Akhirnya...aku ga sempat nyobain angkutan umum disana karena ga ada waktu (alesan diiing...buktinya..partisipan dari Thailand sempat jalan ke Butik Loewe dan LV yang lokasi entah dimana..jauh dari lokasi hotel).


 Mobil-mobil yang beredar di jalanan Marseille...sebagian mobil-mobil kecil sejenis Smart, Mini Cooper, ataupun Mercy (yang menurutku berukuran lebih kecil dr yang ada di Indonesia).  Jadi, dengan  orang-orang Marseille yang ukurannya cukup masive..(lebay)..maka ketika keluar dari mobil, tampak tidak imbang.  Eniwei..aku baru menyadi betapa kecil Smart ini ketika ada mobil Smart yang bisa parkir melintang dan ga mengganggu jalan sama sekali... Mini is spaceless...

Dan lagi-lagi...karena kamera yang rusak kemarin kalau diservice ongkosnya sama aja dengan beli baru, maka harus puas berfoto-foto dengan hanya menggunakan kamera HP saja..


Entahlah...berjalan-jalan menikmati Marseille serasa berada di dunia lain...dengan bangunan tingkat tiga yang seragam...berjalan kaki kemanapun jadi terasa nyaman
          


 Dan pencahayaan di malam hari yang sama di semua gedung...menambah efek artistiknya...


 Restoran Mix n Wok yang ada pas di depan hotel ternyata adalah restoran halal...tapi hari minggu itu tutup sehingga kami harus berkeliling dulu sampai akhirnya menemukan restoran halal lainnya....dan oh....jangan salahkan aku ketika tak dapat menahan diri untuk memfoto sayur-sayuran segar yang aneh...







Oh well....perjalanan kali ini sungguh sangat berkesan... Tak sabar untuk dapat kesempatan lagi di negara baru lainnya...

Read More..

Senin, November 26, 2012

Jakarta To Marseille



Well...perjalanan kali ini benar- benar kulakukan sendiri. Tak ada partisipan lain dari Indonesia. Tentu saja grogi setengah mati karena Eropa sebagai tujuannya.


Entahlah....pergi ke negara yang jauh lebih maju bikin nyali jadi ciut... Bukankah negara maju justru sistemnya akan lebih mudah dimengerti.... Tapi malah bikin aku grogi..

Eniwei....setelah sampai di Kula Lumpur dan berhenti 30 menit maka perjalanan 14 jam dimulai.  Sungguh..perjalanan berangkat selama 14 jam itu dengan KLM..terasa nyaman tanpa gangguan/turbulance sama sekali. dengan transit pertama di Schipol Airport. Luas banget dan ruang cuci matanya memuaskan (baca=area belanja..saya ga mungkin belanja soalnya..)


Dari konter segala macam barang bermerek maka konter bunga inilah yang paling sedap dipandang mata.

Setelah 4 jam menunggu maka penerbangan ke Marseille dimulai dan sampai dalam 1 jam 45 menit.  Sampai di Bandara Marseille langsung menuju pool taksi dan langsung menuju Hotel.



Sebenarnya..penyelenggara sudah menginformasikan bahwa ada 2 partisipan perempuan dari Malaysia yang juga menggunakan penerbangan yang sama jadi bisa share taksi saat dari bandara Marseille ke hotel.  Namun saat di Schipol Airport...aku sudah coba cari-cari wajah melayu yang mungkin jadi partisipan dari Malaysia.  Aku memang menemukan 2 wajah melayu berjilbab..tapi yang satu pergi dengan suami dan anaknya (berusia sekitar 1 tahun) dan satunya lagi...pergi bersama pasangannya.  Karena ragu-ragu..akhirnya aku tak berani menyapa lebih dahulu dan akhirnya memutuskan naik taksi sendiri.

Keputusan yang salah...karena perjalanan taksi yang cuma 30 menit ternyata menghabiskan 60 Euro (setara 750 ribu rupiah)..dan biaya taksi ini hanya ditanggung 30 Euro saja oleh penyelenggara...  Jadi menyesal...seandainya saja tadi tidak ragu-ragu untuk menyapa salah satu atau dua-dua wajah melayu tadi...tentu bisa sharing taksi...dan ga perlu nombok.

Eniwei...mengingat perjalanan ini semuanya gratis.....maka nombok-nombok sedikit..okelaaaaah



Read More..

Minggu, November 25, 2012

Selamat Hari Guru


Pagiku cerahku..matahari bersinar...
Kugendong tas merahku dipundak

Selamat pagi semua kunantikan dirimu
Didepan kelasku menantikan kami

Guruku tersayang...
Guruku tercinta
Tanpamu apa jadinya aku...

Tak bisa baca tulis...
Mengerti banyak hal...
Guruku terima kasihku...

Nyatanya diriku kadang buatmu marah
Namun segala maaf kau berikan

Guruku tersayang...
Guruku tercinta
Tanpamu apa jadinya aku...

Tak bisa baca tulis...
Mengerti banyak hal...
Guruku terima kasihku...


Buat Guruku... Guru anak-anakku.... Teman-teman dan saudaraku yang jadi guru....

SELAMAT HARI GURU....
Read More..

Senin, Oktober 29, 2012

(Hopefully) Enjoying Travelling

Oke..setelah training di Shanghai kemarin...dalam hati aku bertekad, jika nantinya ada penugasan lagi...aku akan mencari segala cara untuk MENOLAKNYA...

Dan memang aku berhasil menghindari beberapa penugasan...yang terakhir adalah ke Manila pas sesudah lebaran, menemani Big Bossku yang menghadiri seminar.  Alasan klasik adalah, aku masih cuti dan tiket balik Jakarta sudah terlanjur siap...lebaran-lebaran gitu akan susah untuk mereskedul jadwal penerbangan.  Untuk penugasan yang lain alasan yang andalan adalah TIDAK DIIJINKAN SUAMI...

Sungguh aku merasa tidak profesional dengan alasan terakhir...tapi mau bagaimana lagi, tanpa ada asisten yang full time gini maka jika aku pergi sampai menginap, maka akan berantakan jadwal pagi hari.

Jadi gini, anak-anakku semua berangkat sekolah bareng dengan kami karena sekolah mereka dekat dengan kantor.  Jadi kapanpun kami berangkat dan pulang kantor, maka anak-anak akan mengikuti.  Pagi hari adalah saat paling ribet...(kata Detya:REMPONG....hadew...sudah tau rempong dia).  Beberapa kali ketika aku tidak turut serta menyiapkan saat pagi gini, akhirnya anak-anak jadi terlambat sekolah..termasuk suamiku juga.  Maka akan sangat berat bagiku jika harus meninggalkan anak2 lebih dari semalam.  

Apalagi bulan Oktober-Desember gini, suamiku harus lembur, jadi aku harus selalu ada agar anak-anak tidak terlantar saat pulang.

Maka ketika tanggal 24 September kemarin adalah batas waktu pengiriman nominasi peserta training untuk ke MARSEILLE Perancis dan  Bosku memaksa aku untuk mencalonkan diri karena tidak ingin calon dari unit lain yang berangkat, maka langkah pertama yang kulakukan adalah menelpon suamiku untuk minta ijin dengan catatan bahwa aku jamin anak-anak akan tetap terurus walaupun aku tidak ada.

Ini perjalanan ke EROPA.....jadi tekadku untuk mencari segala cara untuk menolak penugasan langsung luntur.....EROPA....mimpipun aku tidak pernah membayangkan bakal ke EROPA.  Jadi walaupun saat itu aku tidak tau harus bagaimana dengan anak-anakku, aku langsung saja menjamin bahwa anak-anak akan terurus.

Jadi tanggal 3 November nanti aku harus segera berangkat.  Suamiku cerita ke Ibu Mertuaku bahwa aku akan ke Perancis, dan beliau langsung usul untuk datang ke Jakarta menjaga anak-anak (walaupun aku sebenarnya sudah punya cara lain untuk mengatasi urusan anak-anak).

Tapiiiii...sampai saat ini visa masih belum siap.  Ya..memang baru ngajuin hari Rabu minggu lalu.  Itupun setelah mencoba telpun langsung ke Kedutaan Perancis, staf Perancis bersedia membantu percepatan proses asal ada nomer referensi dari TLS Contact.  Kalau tanpa telpun, bisa-bisa baru tanggal 2 November nanti aku baru bisa nyerahin berkas ke TLS.  Ya...ini untungnya kalau pakai paspor biru (service passport).

Sebenarnya lama juga memproses paspor biru itu...entah apa penyebabnya.  Baru saja membaca surat mengenai pengurusan paspor dinas itu yang menjamin 7 hari kerja sampai exit permit keluar....ternyata butuh total  13 hari kerja (hampir 3 minggu) sampai akhirnya exit permit keluar.

Eniwei...sungguh sangat berharap bahwa VISA SCHENGEN bisa keluar paling lambat hari Jumat 2 November 2012....kalau engga...ya batal lah pergi ke MARSEILLE... 
Read More..

Selasa, September 25, 2012

Menemukan Rujak Soto di Jakarta

Kuliner khas Banyuwangi yang paliiiing aku suka adalah Rujak Soto.  Kalau pulang ke Banyuwangi, pasti harus makan rujak soto ini.

Dulu, ada penjual rujak soto yang menurutku paling enak, yaitu Bik Seni.  Sayang sekali beliau sudah meninggal dan rupanya anak-anaknya tidak ada yang bisa mempertahankan warung rujak soto ini.  Dan sampai saat ini, aku masih belum menemukan rujak soto yang seenak rujak Bik Seni itu.

Nah, suatu ketika, aku membaca artikel di Detik Food tentang rujak cingur Pak Hadi.  Selain bercerita tentang rujak cingur, juga cerita tentang soto sulung Madura, di lokasi yang sama, maka aku berpikir bahwa jika dua menu ini digabung, maka akan jadi rujak soto.  Selama ini, rujak cingur langgananku ada di Stasiun Senen, sedangkan soto sulung kesukaanku ada di Pintu Air Pasar Baru, jadi jika berniat menggabung rujak cingur dan soto sulung, maka tidak akan bisa segar.

Warung Pak Hadi ini letaknya di Jalan Wachid Hasyim dan karena lokasinya tidak begitu jauh dari kantorku, maka aku dan suamiku sengaja datang kesana.  Kami pesan seporsi rujak cingur matengan (tanpa buah) dan seporsi soto sulung tanpa nasi.  Setelah pesanan tersedia, maka rujak cingur itu kami bagi dua dan langsung disiram dengan soto sulung....  Waaaaaah.....penampilannya sudah sama dengan rujak soto kesukaanku dan rasanyaaaaa.....setara dengan enaknya rujak soto Bik Seni....



Jadi kalau dibayang-bayangkan saja dua makanan itu dicampur, mungkin akan berpikir seribu kali untuk mau mencicipinya.  Saran saya, jangan dibayangkan....langsung saja dicampur dan dirasakan...  bagiku, sensasinya bagaikan pulang kampung.   dan sekarang ini, ketika pulang ke Banyuwangi, aku ga terlalu ribet lagi nyari rujak soto, karena di Jakarta aku sudah bisa makan rujak soto versiku sendiri dengan gampang kapanpun aku mau....

Read More..

Selasa, September 04, 2012

Kawah Ijen

Dulu waktu masih kecil, aku berangan-angan bahwa nanti setelah aku kerja, aku masih tetap akan berpetualang ke tempat-tempat eksotis yang susah ditempuh.  Bapakku yang menjadi contohku, karena walaupun sibuk bekerja, tapi masih sempat berpetualang bersama teman-temannya.  Walaupun beberapa bulan sekali, tapi lokasi wisata di Banyuwangi yang susah dicapai, tetap menjadi tujuan Bapak dan teman-temannya.

Tentu saja duniaku dulu hanya Banyuwangi saja, pergi paling jauh adalah ke rumah nenekku yang memerlukan satu jam perjalanan dengan kendaraan umum.  Jadi melihat bapakku yang menjelajahi ujung-ujung Banyuwangi, merupakan sesuatu yang menginspirasi hidupku.  Bapakku pernah ke Baluran, melihat Banteng Jawa.  Pernah ke Sukamade, melihat penangkaran penyu.  Pernah ke Plengkung atau lebih dikenal dengan G-Land, yang kata orang adalah salah satu spot surfing paling terkenal di dunia. Dan yang paling sering adalah ke Kawah Ijen, tempat penambangan belerang, yang angkut langsung oleh penambang-penambang perkasa yang memanggul puluhan kilo belerang di pundaknya dan menempuh belasan kilometer sampai akhirnya tiba di pengepul belerang.

Jaman aku kecil dulu, akses ke lokasi-lokasi wisata itu  susah...masih perlu belasan kilometer perjalanan kaki.  Jadi Bapakku saat itu adalah inspirasiku untuk berpetualang, karena walaupun perjalanan yang ditempuh susah dan memberatkan, tapi tidak menghalangi beliau untuk pergi ke lokasi-lokasi tersebut.

Aku sendiri sudah pernah ke Baluran waktu kelas 3 SMP, tapi tidak pernah melihat Banteng Jawa (karena ga kuat jalan jauh ke sarang Banteng), hanya sempat histeris di kelilingi gerombolan babi hutan.  Pernah ke Kawah Ijen waktu kelas 2 SMA dan berjalan menanjak belasan kilo dan sempat termakan rayuan salah satu pengunjung sehingga aku sempatin jalan sampai ke lokasi penambangan belerang dan akibatnya sepanjang jalan balik dari penambangan ke pinggir atas kawah kulalui dengan menangis kecapekan ga kuat lagi jalan menanjak.  Bayangkan saja para penambang belerang yang jalan menanjak plus memikul 75-90 kg belerang beku, tanpa mengeluh sedikitpun karena itu mata pencaharian mereka.

Untuk lokasi-lokasi lain sampai saat ini masih belum kukunjungi, padahal saat ini akses kesana jauh lebih mudah dibanding dulu.

Maka, saat pulang hari raya kemarin, yang memang waktunya pulang ke Banyuwangi, aku  mengajak suami dan anak-anakku untuk mengunjungi Kawah Ijen.  Saat ini, jalan kaki belasan kilo sudah tidak perlu lagi, karena sudah ada jalan aspal yang menghubungkan sampai di Paltuding, lokasi terakhir untuk kendaraan bermotor.  Cukup jalan kaki sejauh 3 kilometer dari Paltuding sampai ke pinggir atas Kawah Ijen, tentu saja dengan ketinggian yang luwayan bikin kaki pegal.  Paltuding itu kira-kira 1800an di atas permukaan laut (dpl) sedangkan Kawah Ijen itu sendiri sekitar 2300an dpl. Jadi jalan sepanjang 3 kilometer itu untuk menempuh ketinggian kurang lebih 500 meter.

Setelah hari rabu acara sunatan Javas memakan waktu sampai malam, maka jam 9 semuanya kupaksa tidur untuk persiapan berangkat besok paginya.  Walaupun sebenarnya acara sunatan itu masih belum selesai.  Saudara-saudaraku yang lain masih lanjut menyewa electone untuk nyanyi-nyanyi bersama di depan rumah.  Jadi kami tidur diiringi saudaraku yang menyanyi segala rupa lagu.

Pagi hari sebelum jam 5, kami berangkat dan akhirnya sampai di Paltuding  jam 6.30 pagi.  Kami menyewa kendaraan 4WD seharga 450.000 untuk perjalanan pergi pulang.  Parkiran mobil nampak penuh pertanda sudah banyak pengunjung yang naik ke Kawah Ijen.

Kami menikmati sarapan mi rebus di kantin yang ada di Paltuding itu.  Jangan khawatir, walaupun hanya sedikit pilihan kantin dan lokasi yang terisolir, harga makanan dan minuman di Paltuding sangat bersahabat di kantong, 50ribu cukup untuk 6 orang...

Pukul 7.30, kami mulai pendakian sepanjang 3 kilometer itu.  Pendakian diawali dengan Wisam yang merajuk minta digendong, dan kami langsung deg-degan membayangkan bahwa Wisam minta gendong sampai ke Kwah...bisa patah punggung ini.  Untungnya Wisam hanya minta gendong 5 menit saja, untuk selanjutnya, dengan ceria Wisam dan Javas mendaki tanpa sedikitpun mengeluh, beda dengan Detya yang setiap lima meter mengeluh kecapean dan minta didorong ataupun di tarik.  Sepanjang perjalan kami banyak berpapasan dengan pengunjung lain, baik yang dalam perjalanan turun maupun disalip oleh rombongan lain yang mau naik.  Harap dimaklumi, kalau perjalanan kami lambat karena ada putri cantik yang banyak merajuk itu.



Ketika pertama kali ke Ijen, aku harus jalan kaki 15 kilometer dari Jambu-Glagah, sampai ke Paltuding, jadi perjalanan ke Kawah Ijen tidak cukup ditempuh dalam sehari saja.  Siang hari berangkat, sampai di Paltuding malam hari.  Lanjut istirahat dan tidur dalam suhu yang teramat sangat dingin (artinya ga bakal bisa tidur nyenyak) untuk kemudian jam 4 pagi mulai jalan kaki lagi sehauh 3 km.  Jika ingin lihat sunrise, maka harus mulai berangkat pukul 02.00 dinihari.

Kemarin itu, jam 7.30 mulai perjalanan, jam 10.00 sampai di pinggir atas kawah.  Dulu, ada nuansa yang mengejutkan ketika kita sudah diambang rasa capek yang teramat sangat saat meniti jalan setapak dengan sebelah kiri adalah tebing-tebing kecil dan sebelah kanan adah jurang.  Mengejutkan itu maksudnya begini, tiba-tiba saja saat aku melewati belokan kekiri dan pemandangan di depan hanya terlihat tebing, maka selepas belokan itu langsung terpampang pemandangan indah yang otomatis membuatku menahan nafas.  Jadi rasa capek yang luar biasa dan diambang mau pingsan itu, langsung saja hilang saat melihat panorama yang breathtaking....
Adikku menyebutnya suasana yang "ciluk ba"...saking mendadaknya perubahan antara tebing menjadi Kawah...
Pada kunjungan kemarin, suasana 'Ciluk ba' itu tidak ada lagi.  Tebing yang dulu menjulang dan jadi pembatas, terlihat longsor sehingga masih butuh 10-15 meter lagi untuk dapat melihat pemandangan yang mempesona



Benar-benar Allah Maha besar.....pemandangan dari atas ini sungguh luar biasa dalam bentuk aslinya.  Foto ini hanya menggunakan kamera HP adikku.  Sunnguh menyesal kenapa tidak menyempatkan diri service kameraku sendiri seblum pulang kampung, setidaknya kan hasil foto bisa lebih menangkap keindahan aslinya.

Kami hanya duduk-duduk di atas sini karena aktivitas belerang di dasar kawah rupanya sedang aktif dan karena perlengkapan kami seadanya, kami tidak berani turun ke bawah.  Lagipula dengan anak-anak yang sudah kecapekan, kami harus menghemat energi untuk perjalanan pulang.

Kalau baca Kawah Ijen versi wikipedia, lebar Kawah ini dari ujung ke ujung adalah 1 kilometer, jadi kalau dari foto seakan-akan terlihat sebagai danau kecil, wujud nyatanya lebih masif.  Untuk mencapai tambang belerang di dasar kawah, masih harus menempuh 300 meter lagi dengan kemiringan 45-60 derajat.  Jadi wajar saja kalau SMA dulu aku merasa terbujuk rayuan salah satu pengunjung untuk kemudian sambil menangis menempuh 300 meter yang curam ke atas.

Tapi aku sama sekali tidak menyesali bujukan itu, kalau tidak, ga akan pernah aku tau kondisi asli di bawah sana, aku bisa mencelupkan ranting pohon kering ke dalam belerang yang masih cair sehingga seluruh ranting itu tertutup belerang.  Nampak indah dan ganjil.  Aku juga bisa langsung mengambil air kawah yang ber pH 0.5 dan bisa dijadikan obat kulit atau sakit gatal  apapun, karena sudah mengandung belerang.  dan setidaknya aku juga bisa berempati kepada para penambang yang harus membawa puluhan kilo di pundaknya sambil menempuh jalan menanjak ke atas 300 meter dan turun ke Paltuding (kalau dulu sampai Jambu-Glagah) dan hasil yang didapatnya pun tidak seberapa.

Sekarang ini sudah banyak penambang yang juga menjual belerang yang dicetak lucu-lucu sehingga bisa jadi oleh-oleh para pengunjung, tanpa harus turun ke bawah sendiri.  Harganyapun sungguh murah, antara 5000-10.000 tergantung besaran belerang.


Dan mengingat tujuanku ke Ijen salah satunya dalah membawa pulang air kawah untuk obat, maka aku meminta bantuan salah satu penambang untuk turun lagi mengambil air dengan ongkos 30.000.  Aaah..angka yang cukup murah jika dibandingkan dengan merangkak naik sambil menangis..hehehehe.

Ketika menunggu penambang turun, Javas dan Wisam bergaya mengangkut belerang..


Perjalanan pulang juga membutuhkan waktu 2.5 jam.  Jangan disangka karena tinggal turun saja maka bisa lebih cepat, namun ternyata justru lebih membutuhkan kehati-hatian ekstra agar tidak terpeleset.  Belum lagi betis yang sudah pegal, menjadi semakin pegal karena harus ngerem.

Mudik kali ini sungguh luar biasa dengan nonton Jaranan dan ke Kawah Ijen....dua tahun lalu saat giliran ke Banyuwangi juga kami lanjutkan dengan berpetualang ke Bali.

Sayang...tahun depan waktunya ke Kediri dan jika ke Kediri ga ada tempat khusus yang dijadikan lokasi berpetualang....yang ada hanya wisata kuliner...

Jadi kemana saja Anda lebaran kali ini? Read More..

Kamis, Agustus 30, 2012

Sunatan Javas

Sudah sejak lama, mungkin sejak TK B, Javas berikrar bahwa dia akan sunat nanti kalau naik kelas 3.  Dan liburan kenaikan kelas kemarin adalah waktu yang dia tunggu-tunggu, Javas naik kelas tiga yang artinya dia bisa sunat.

Bagi Javas, pokoknya dia mau sunat, apapun metodenya.  Sedangkan bagi kami, setelah sangat tergoda dengan sunat bogem, akhirnya memilih SMARTKLAMP dengan alasan kepraktisan.  Yaaa...ternyata smartklamp itu praktis di awal tapi agak tricky di penyembuhan.  Jika anaknya tidak banyak beraktivitas, maka seminggu setelah alat dicopot, maka bekas luka akan sembuh sempurna.  Sedangkan Javas yang Alhamdulillah adalah anak yang aktif, bahkan setelah 3 minggu, lukanya masih ada yg belum kering.

Eniwei, saat Javas berikrar dulu, saat itu juga Ibukku ingin agar nanti slametan Javas dilaksankan di Banyuwangi.  Aku tidak terlalu banyak berpikir untuk itu, toh masih lama.  Tapi sejak awal tahun ini Ibukku semakin gencar mengingatkan agar sunat Javas dirayakan di Banyuwangi, karena Ibukku pengen ngadain arak-arakan Barong dan Jaran Kencak di rumah.

Akhirnya, diputuskan acara arak-arakan diadakan setelah Lebaran.  Aku pasrah saja dengan apa yang direncanakan Ibuk, karena beliau menekankan bahwa ini hanya acara senang-senang saja, tidak akan ada undangan, apalagi becekan ala Banyuwangi (di Banyuwangi, acara sunatan sama mewahnya dengan acara kawinan, dengan undangan yang buanyak dan kerepotan yang sama dengan pernikahan)

Ternyata...Ibukku merencanakan agenda yang lebih rumit dari sekedar arak-arakan.  Ada Jaranan Banyuwangi di pagi sampai sore hari, baru kemudian arak-arakan.  Arak-arakannya sendiri juga bukan hanya Javas sebagai anak yang sunat, tapi juga kakak adik dan sepupu.  Jadi Javas naik Ogoh-ogoh, Wisam dan Nanda (ponakan) naik Jaran Kencak, sedangkan Detya dan Bella (ponakan) naik kereta hias.  Dibelakangnya ada Barong, Macan Putih dan Ayam-ayam yang menari diiringi musik tradisional.

Sayang sekali kameraku sedang out of order, jadi hanya ada handycam dan kamera HP.









Sayang sungguh sayang...foto Barong, Macan Putih dan Ayam-Ayam tidak ada...dan juga ga ada foto Jaranan sama sekali.  Padahal acara Jaranan ini sangat khas, karena cukup menegangkan...

Pertama-tama hanya ada tari-tarian termasuk Jaran Kepang, tapi ketika masuk agenda pemain yang kesurupan, maka ketegangan dimulai.  Pemain ada yang makan sabut kelapa, bahkan ada yang makan beling...belum lagi acara perkelahian antar pemain yang kesurupan dari yang jambak-jambakan, banting-bantingan sampai gigit telinga lawan... semua ada.

Kalau antar pemain sudah ga jadi masalah karena pertunjukan Jaranan ini memang tentang itu...tapi yang lebih heboh adalah saat salah satu atau beberapa penonton ikut kesurupan dan tiba-tiba bergabung di tengah acara.  Waaah...keseruan Jaranan justru saat-saat seperti ini.

Akhirnya setelah mulai dari jam 9 pagi, acara Jaranan ini selesai jam 4 sore untuk kemudian dilanjutkan arak-arakan.

Bahkan setelah arak-arakan keliling kampung selesai, acara tidak berhenti disitu.  masih ada atraksi tersendiri dari masing-masing Barong, Macan dan Ayam, belum lagi tari-tarian asli Banyuwangi.

Bagiku sendiri, ini sudah sangat berlebihan...bukan gayaku sama sekali....  Tapi karena dari awal sudah didedikasikan untuk Ibuk...maka terserah beliau sajalah...asal beliau bahagia...dan memang Ibuk sangat bahagia..
Read More..

Rabu, Agustus 29, 2012

Menteng Square - Update

Setelah membaca salah satu komentar akhir bulan Juni lalu di artikel tentang Apartemen Menara Salemba Batavia yang sekarang berubah nama menjadi  Menteng Square, maka rasanya pengen cepat-cepat saja kesana untuk bisa nego serah terima.

Bukan apa-apa sih, tapi ini demi kenyamananku sendiri yang tiap 3 bulan menjelang akhir tahun harus selalu naik taksi pulang duluan sama anak-anak karena pada bulan-bulan tersebut, suamiku akan sangat-sangat sibuk dan biasa pulang dini hari.  Jadi selain memudahkanku dalam hal ongkos taksi (heheheh)...juga akan memudahkan suamiku dalam beraktifitas.  Bayangkan saja, biasanya suamiku akan pulang sekitar jam 2-3 dini hari untuk kemudian jam 5 sudah harus bersiap-siap untuk berangkat lagi...  Belum lagi weekend yang nantinya bisa full di kantor bahkan ga pulang sama sekali.  Jadi harapanku, sebelum proses itu terjadi, apartemen Menteng Square sudah bisa kami tempati.

Akhirnya, siang ini kami bisa datang ke lokasi untuk memperjelas masalah serah terima ini.

Jadi ternyata, tower yang memang sudah siap untuk serah terima adalah Tower A, bahkan saat ini sudah ada 10-15 unit yang sudah ditempati.

Tower B akan serah terima bulan September - Oktober 2012

Tower C serah terima paling akhir antara akhir Oktober - November 2012

Tower C lantai 19 unit idaman (yaitu apartemenku..heheh) rencananya akan serah terima tanggal 8 November 2012....hadeeew....masih lama dan melewati masa-masa sibuk suamiku....

Sekalian disana, maka aku juga tanya-tanya mengenai segala hal yang terlintas di otakku saat itu.  Hasilnya:

Biaya parkir untuk penghuni adalah Rp150.000,- sebulan dengan perbandingan lahan parkir 1:7, artinya siapa cepat dia dapat.  Tapi Pengembang/pengelola sudah bekerja sama dengan Kementerian Sosial dengan membuatkan jalan masuk antara Menteng Square dan Kemensos yang bisa diakses khusus malam hari, sehingga penghuni bisa parkir inap disana.

Biaya maintenance yang dibayarkan kepada pengelola sebesar Rp10.000,- per meter persegi yang harus dibayarkan tiap tiga bulan dimuka.

Akan ada pemberitahuan baik melalui surat maupun telepon kepada calon pemilik untuk serah terima unit dengan persyaratan sebagai berikut:
  1. Surat Keterangan Lunas dari Bahama Develop.
  2. PPJB asli
  3. Fotokopi KTP
  4. Fotokopi Kartu Keluarga
  5. Fotokopi NPWP
  6. Uang untuk biaya maintenance unit selama 3 bulan
Okay....nomer 3 sampai 6 masih bisa dihandel...tapi bagaimana dengan nomer 1 dan 2, karena seingatku dokumen asli PPBJ tidak aku terima.

Maka, petugasnya menyarankanku untuk menghubungi pihak Bahama, yaitu Sdr Putri/Riana untuk urusan surat keterangan lunas dan Pak Trisna untuk urusan PPBJ.

Nomer telpon Bahama adalah 021-78845905

Well, demi memperlancar urusan di kemudian hari, sebaiknya aku segera mempersiapkan dokumen yang diperlukan.

Di akhir diskusi, marketernya tak lupa untuk berpromosi bahwa akan segera diluncurkan Best View Unit seluas 45 meter persegi dengan view menghadap jalan raya yang seluruhnya merupakan kaca, jadi lebih terbuka.  Diperkirakan harganya mencapai Rp750.000.000,-

Siapa yang berminat?

Dan ternyata, ada unit-unit untuk investasi yang telah dijual kembali oleh pemiliknya.  jadi walaupun sudah sold out, jika anda berminat...sudah ada pemilik yang menjual kembali.  Kisaran harga antara Rp330-430 juta tergantung tipe apartemen.

Untuk Tower A yang sudah serah terima, bahkan sudah ada unit yang disewakan dengan kisaran sewa Rp17-21 juta 


Woaaaaa....ternyata harga jualnya sudah lumayan...bahkan harga sewa kosongannya pun juga lumayaaaan....

Read More..

Senin, Juli 23, 2012

Melarikan Diri

Judul yang provokatif....

Tapi memang begitulah keadanku ketika aku benar-benar memikirkannya dan bersikap jujur.  .
Jika orang bertanya kenapa aku tinggal di Jakarta sedangkan keluarga besar semua ada di Banyuwangi, aku selalu bilang ya takdir saja yang membuatku seperti ini.  Berawal dari penerimaan PMDK IPB yang membuatku keluar pertama kalinya dari Banyuwangi, berlanjut dengan kerja yang diterimanya ya di Jakarta ini.  Akhirnya jauhlah aku dari keluarga besarku.

Padahal kalau saja aku mau, aku bisa saja mencari kerja di Jawa Timur saja sehingga paling jauh aku hanya akan tinggal di Surabaya.  Tapi itu kan tidak aku lakukan.  Tetap saja aku memilih Jakarta dengan alasan bahwa daerah ini lebih familiar bagiku dibanding Surabaya.  

Sesungguhnya, pilihanku menjauh ini karena aku ingin melarikan diri....menjauhi potensi masalah yang dari kecil dulu sudah bisa aku bayangkan.  Aku menyayangi keluargaku..itu sudah tak perlu dipertanyakan lagi.  Tapi aku tau bahwa aku berbeda dibanding semuanya, dari dulu aku tau kalau aku berbeda, dalam cara berpikir khususnya.  Dan perbedaan itu akan sering menyebabkan gesekan jika kami berada di satu tempat yang sama. Maka aku melarikan diri....aku tidak mau gesekan-gesekan kecil itu malah berpotensi menimbulkan konflik.

Dan ternyata keputusan melarikan diri itu memang benar....ketika masalah timbul dan tenggelam di keluarga besarku sana...aku hidup damai dengan keluarga kecilku disini...tak terpengaruh oleh konflik itu.

Tapi jika konflik itu melibatkan langsung keluarga intiku (orang tua dan kakak adikku), aku tidak bisa serta merta melarikan diri begitu saja.  Tetap saja, aku juga merasa gundah gulana jika adik kakakku mengalami masalah.  Biasanya aku hanya akan mendengarkan saja semuanya ketika berkeluh kesah..tanpa bisa memberi saran apapun.  Hanya ikut resah saja.  Tapi dengan kondisi yang jauh dari masalah asli...aku terus saja berharap agar masalah itu teratasi sendiri oleh yang punya masalah dan aku kembali tenang.  Bayangkan saja jika aku tinggal dekat dengan masalah itu...mau tidak mau aku harus ikut serta mencari jalan keluarnya...
Dan akhirnya, masalahpun memang terselesaikan.  Aku tenang.

Kenapa aku akhirnya menuliskan hal ini?  Karena saat ini ada satu masalah kakakku yang sudah dalam keadaan kritis.....aku resah...aku gundah gulana...tapi aku bersyukur bahwa aku jauh sehingga tak harus ikut serta memikirkan jalan keluarnya.....inilah yang kusebut melarikan diri....yaaaa..aku mengandalkan lokasiku untuk melarikan diri dari potensi-potensi masalah...

"Mase...maafkan aku yoo..ga iso mbantu apa-apa?..."


Read More..

Rabu, Juli 04, 2012

Tutorial : How To Make Initial Pillow

Selama ini aku telah sangat terbantu dengan adanya tutorial-tutorial di blog crafting & sewing.

Ada tutorial membuat baju bayi dan sepatunya..bahkan ada juga tutorial celana dalam penutup diapers.  Jadi, ketika ada teman yang baru saja melahirkan anak perempuan, pelan-pelan menyiapkan set baju bayi ini.



Sayangnya, ga sempat mengabadikan foto set bayi itu dengan baik dan detil, jadi hanya tampak bersama-sama seperti di atas itu yang bisa terabadikan.

Nah...berhubung tutorial apapun sangat bermanfaat, maka aku juga ingin menyumbang satu tutorial yang rasanya masih belum banyak...(mungkin karena terlalu mudah..jadi ga ada yang mau bikin tutorial heheheh)

Bantal Initial 
  • Bagi yang ahli, membuat pola bisa langsung saja menggambar di kain inisial huruf yang diinginkan.  Tapi berhubung otak kananku sangat tidak kreatif, maka aku menggunakan sarana komputer.  Pertama buat word art di microsoft word sesuai inisial yang diinginkan.  Perbesar sampai ukuran kertas A4 atau F4.  Lalu print.
  • Hasil print out itu, dilipat jadi empat dan masing-masing lipatan difotokopi perbesar 200%.  Jadinya adalah 4 lembar hasil perbesar itu yang kemudian harus disambung-sambung sehingga membentuk huruf yang diinginkan.  Hasilnya akan seperti ini :



  • Jiplak pola pada kain yang dilipat 2 sehingga didapat dua pola yang berhadapan.


  • Jahit pola yang sesuai inisial tadi mengikuti pinggiran pola.  Jangan lupa sisakan sekitar 5-7 cm jahitan tersebut agar terbuka.  Jika dianggap perlu, buat 2 lubang bukaan di tempat berbeda untuk memudahkan ketika pengisian dacron. 
  • Balik kain melalui lubang bukaan tadi dan sebelumnya jangan lupa untuk menjahit pada sisi luar kain sehingga ketika dibalik, sisi kain yang tepat yang berada di luar.
  • Masukkan dacron sampai dirasa cukup melalui lubang bukaan.  Pastikan ujung-ujung huruf terisi dacron dengan penuh sehingga bantal akan tampak bagus.
  • Jahit lubang bukaan sehalus mungkin dengan tangan sehingga jahitan tidak tampak dari luar.
  • Jadilah bantal inisial yang cantik yang siap dipeluk-peluk...

Maaf ya...pola yang difoto huruf S tapi yang sudah jadi malah huruf J....secara yang huruf S masih dalam tahap pengisian dacron dan sampai saat ini masih belum jadi (maklumilaaah.....jadi crafter kalau weekend saja).

Bagaimana tutorial saya ini? apakah cukup membantu.....newbie nii..


Read More..