Postingan

Pembagian Kerja Terbaru:Menyenangkan atau Menyedihkan?

Sore ini posisi yang satu level denganku ditempat kerja bakal terisi..ada pelantikan buat yang baru-baru. Dan hasil diskusi dengn bosku dan teman sebelahku, sudah disusun pembagian beban kerja yang baru , yang kami harap seimbang sehingga 4 orang yang menangani detil pekerjaan bakal punya beban kerja yang sama. Maka kerjaan yang sebelumnya ditempatku, akan dibagi dua... Pfuuiiihh...aku merasa lega sekali.. sebelumnya dengan kerjaan rutin yang ada aja tiap hari ditambah kegiatan ekskul yang demanding, aku ngerasa overloaded. Untung aja kemaren, sama bosku ada beberapa kerjaan baru, dipindah ke temen sebelahku. Nah dengan tambah lagi tenaga baru maka kerjaan rutinku akan sangat sangat berkurang. Tappiiii....muncul juga kekhawatiranku...jika sudah berkurang gini...bukankan akan banyak waktu luang buatku? apa yang harus kulakukan...? Ngeblog...blogwalking...nge-fesbuk..?..(yaoloh...malah kegiatan sampingan gini yang dipikirin..sadar..sadar..sadar..) ........................******Sadar ...

Adik Terkecilku

Aku dengan adik bungsuku beda umur 12 tahun. Aku ingat sekali proses kelahirannya dulu pas aku kelas satu SMP. Dia lahir di rumah subuh-subuh karena udah ga nahan lagi buat ibuku pergi ke klinik atau bidan. Jadinya aku dan sepupuku kebagian jemput bu bidan di rumahnya. Sepanjang proses persalinan, aku mendengar semua prosesnya dari kamarku yang ada disamping persis kamar orang tuaku..walaupun begitu, tidak banyak yang kudengar. Kupikir bakal ada teriakan atau gimana ternyata hanya desis-desis kecil dan sedikit suara aktivitas orang (ketika mengalaminya sendiri baru nyadar bahwa yang ada di film-film itu semuanya ga pas...) Jadi dengan adanya adik bungsuku, aku tidak lagi menjadi anak perempuan satu-satunya..dan selanjutnya ketika aku keluar rumah untuk nerusin sekolah dan ga pernah balik lagi secara permanen..maka adikkulah yang menjadi Daddy's Little Girl.. Pas dia balita dulu aku masih di rumah, tapi rasa-rasanya aku tidak begitu mengikuti masa batitanya karena budeku ingin ...

Berapa Penghasilanmu?

Kok judulnya provokatif begitu ya? Aku bingung mau ngasih judul apa. Akhir-akhir ini aku kepikiran banget dengan berapa penghasilan orang-orang yang sudah kerja banting tulang dari pagi sampai sore.. Awalnya aku mikirin..apa ya yang nanti aku lakukan pada saat pensiun? pasti penghasilanku akan berkurang drastis dan karena sudah terbiasa dengan pola sekarang maka aku mesti nyari cara biar pengnhasilan itu ga turun drastis-drastis amat. Lalu aku membayangkan, jika buka warung kecil, berapa ya keuntungan bersih dalam sehari? paling poll juga 50rb. Lalu jika jualan air minum isi ulang, berapa untungnya ya untuk tiap botol..(ada temen kantor yang baru aja pensiun katanya buka isi ulang gini)..lalu tiap hari bakal laku brapa ya? Kalau punya konter di mall..apakah aku tahan duduk manis di toko nunggu pembeli datang?..OK..mungkin bukan aku sendiri yang bakal nungguin..tapi tetep aja kepikir begitu..aku ga bakalan tahan tanpa ada kesibukan yang nyata..lalu pikiran-pikiran yang masih bingung ...

Ekspektasi Pada Anak

Ketika baca lagi presentasi Bu Aries tentang anjuran dalam berkomunikasi , ada satu poin yang akhir-akhir ini kudiskusikan juga dengan suamiku..tentang "ubah ekspektasi kita". Sampai sekarang Detya ga terlalu dekat dengan ayahnya walaupun aku sangat-sangat ingin dia bisa jadi Daddy's Little Girl .. Dan dari hasil diskusi kami, aku bisa menduga bahwa ekspektasi Ayah terhadap Detya tidak sesuai dengan kenyataan sehingga Ayah jadi selalu menilai Detya dan Detya ga nyaman dengan penilaian itu. Ayah ga pernah punya saudara perempuan dan satu-satunya perempuan yang dikenal ayah adalah Ibunya sehingga harapan ayah ya perempuan itu seperti ibunya..seorang guru dan ibu rumah tangga yang mengabdi.. Namanya juga double tasking, jadi ibu mertuaku itu cekatan dan mandiri..juga open (bahasa jawa lo..) terhadap anak-anaknya.. Sedangkan Detya sendiri, menurutku sangat-sangat perempuan..(walau aku ga begitu..jadi heran darimana dia melihat dan mencontoh karakter merengek-rengek seperti ...

Komunikasi Dengan Anak : Berlatih Untuk Tidak Bilang "Jangan"

Pas pertemuan komite sekolah bulan Januari lalu, ada sedikit tema tentang komunikasi dengan anak. Ada banyak yang dibicarakan siy..(teutama ngingetin tentang 12 gaya populer dan mendengar aktif ) tapi yang sangat-sangat nempel di otakku adalah tentang mengatakan apa yang kita inginkan untuk anak lakukan....instead of ngelarang-larang mereka dengan kalimat "JANGAN....." Misalnya jika anak lari-lari maka otomatis kita bilang "Jangan lari-lari..!" maka anak akan tetep lari..karena yang diterima anak adalah kata kerjanya..."lari-lari"..maka kita harus mengatakan apa yang kita inginkan, yaitu: "Lebih baik kamu jalan saja karena tidak aman, banyak orang yang lalu lalang..". Jadi fokuskan ke kata kerja yang kita inginkan dan sebutkan alasannya apa. Lalu Bu Aries yang memberi materi pelatihan ngasih kita PR untuk merubah kalimat yang pakai awalan JANGAN dengan kalimat positif. Maka aku ingin berlatih disini. Setelah pertemuan itu, otomatis kalimatku...

Menuruti atau Tegas Menolak

Bingung mau ngasih judul apa...yang jelas semuanya berawal ketika bulan Desember kemaren, aku kenal sama teman maya dari sebuah postingan blog orang. Lalu kami mulai berdiskusi dan bales-balesan email dengan topik yang ga jelas...bisa apa saja dan karena kami sama-sama ga kenal dan ga tau kira-kira lawan email kami seperti apa maka bahan cerita bisa apa saja..artinya ya apa saja..sampe urusan sepele mengenai mengatasi bosen saat ikut training yang cukup lama pun kita bicarakan (dan saran edan dia adalah...flirting dengan sesama trainee...WADOH..) Nah, senin kemaren ada email terbaru dia yang rupanya cukup serius sehingga aku ingin membahasnya disini...karena kupikir bisa jadi pengingat buatku. ini email dia setelah editing sana sini: I have a problem. 4 bulan ini aku dekat sama seseorang karena dia sekretaris di organisasi yang aku pimpin. Jadi sebatas dekat dalam hal kerjaan, dan biasalah aku klo nyapa dia agak gombal gitu, tapi ama dia dimasukin hati. Akibatnya dia naksir abis samak...

Pengembangan Diri

Sebelumnya gara-gara ikutan daftar placement test untuk TOEFL Prep, jadi nyadar bahwa aku hampir dipertengahan tigapuluh ...(gosh...getting older...not getting wiser..). Waktu itu perhatianku lebih pada kesempatan untuk ikut gratisan dari kantor jadi berkurang karena jika umur sudah lebih dari 35 maka ga ada kesempatan buat dapat gratisan... Maka berhubung masih ada kesempatan, ikutlah aku test TOEFL itu walau sebenarnya dikhususkan untuk yang lulus S1 dan ingin nyari S2 di luar... Aku ingin ikut karena pengen pengembangan diri... baik-baikin grammarku (biar pas nulis surat ga perlu lagi nanya-nanya ke teman sebelah) dan ngomongnya biar lancaran dikit (biar kalau ada tamu, aku bisa ngomongin apa yang ada di pikiranku..bukan cuma ngobrol ama bosku biar dia yang nyampein pendapatku dengan lebih baik..) Kupikir-pikir lagi..TOEFL Prep kan hanya untuk yang nyari nilai bagus biar kalau mau sekolah, gampang dapat gratisan..?..La..aku kan udah ga perlu sekolah lagi dan untuk S3 pun juga udah...