Postingan

Catatan harian : Asertif

Sebelum aku kenal istilah asertif, sungguh bicaraku spontan banget. Apapun yang ingin kukomentari, akan aku komentari tanpa memilih kalimatku. Baru setelah kalimat-kalimat spontanku itu keluar, aku sadar bahwa mungkin saja lawan bicaraku jadi tersinggung dengan ucapanku. Setelah training softskill competency beberapa waktu lalu , aku mulai belajar mengatur kalimatku sehingga sedapat mungkin lawan bicara merasa nyaman. Misalnya ketika niatnya akan mengkritik kesalahan, maka bagaimana kalimatku itu tidak sampai menyinggung tapi justru membangun. Dengan berpikir terlebih dahulu, sifat spontanku menjadi jauh berkurang. Ketika aku tetap tidak menemukan kalimat positif yang baik, maka lebih baik aku diam saja. Nah, ketika aku ingin menyampaikan sesuatu ke suamiku aku juga berpikir terlebih dahulu karena dulu seringkali adu argumen hanya karena aku selalu bicara spontan. Kalau ke orang lain berusaha selalu asertif, kenapa sama suami tidak? Akibatnya, jika aku tidak kunjung menemukan kal...

Catatan Harian : Berhenti Ngomel

Ketika suatu masalah sudah terjadi, benar-benar ga ada gunanya bagi kita untuk ngomel panjang pendek mengenai penyebabnya. "Kamu sih ga dengerin...udah dibilang bla..bla..bla..". "Coba tadi kita bla..bla..bla...". Nah, untuk berhenti ngomel seperti itu, bagiku butuh usaha yang keras karena seperti otomatis saja mulut ini pengen ngomel 'kalau saja..'...'kalau saja..' Hari Kamis kemarin aku terlambat ke kantor karena kena macet. Kenapa kena macet, ya karena berangkatnya kelewatan cukup banyak. Kenapa berangkatnya kelewatan..ya...karena suamiku terlalu detil mengurus ini itu sehingga mandinya kesiangan. Sudah sepanjang pagi sudah kuingatkan agar ga usah terlalu detil...biar saja anak-anak mengurus dirinya masing-masing. Tapi tetap saja beliau ga tahan. Akhirnya ya itu tadi....kena macet. Sepanjang menghadapi macet, rasanya mulut ini sudah ga tahan aja ngomel panjang pendek. Tapi sungguh aku berjuang untuk diam saja..menutup mulut rapat-rapat. A...

Merasa Nyaman

Alhamdulillah...saya sedang ingin bersyukur...sangat ingin bersyukur dengan keadaan saya, baik sebagai anak...sebagai ibu...sebagai istri..sebagai pekerja.... Ah..sebagai semua fungsi saya di hidup ini... Saya sungguh merasa nyaman. Tadi malam, kami sampai di rumah sekitar jam 8 malam. Dengan anak-anak yang sudah tertidur di mobil menjelang sampai di rumah. Kurasa, anak-anak juga tertidur dengan perasaan puas...walau sempat rebutan mainan di mobil. Javas dan Wisam sudah aku suapin sepanjang perjalanan pulang. Detya sendiri sudah menghabiskan jatah makannya di TPA. Di mobil, suasananya meriah karena ada Wisam yang sudah mulai mendominasi jenis musik yang harus didengarkan. Kami mendengarkan anak-anak bercerita segala rupa... Sampai akhirnya keadaan menjadi hening menjelang sampai di rumah. Sampai di rumah, keadaan rumah sudah bersih. Walaupun tidak ada housemaid yang tinggal di rumah, tapi ada yang bantu cuci setrika dan beberes, sehingga ketika pagi hari kami tinggalkan rumah ...

Laporan Akhir Semester Javas

Setelah merasa sedikit kecewa ga jelas yang ga patut dipelihara pas menerima laporan Detya, maka mengantrilah kami di kelas Javas. Sebenarnya kami sudah siap dengan apapun hasil yang Javas peroleh. Toh dari awal ketika Javas harus memulai SD-nya, kami menyadari keadaan sosial emosi Javas yang masih nyaman dengan pola bermain di RA. Lalu kami mulai diskusi dengan wali kelasnya, yang ternyata hasilnya...tidak bisa tidak...tetap memunculkan kekecewaan di hati. Dengan lebih dari separo nilai mata pelajaran di bawah KKM, kekecewaan bukan muncul dari nilainya. Tapi tentang bagaimana kondisi si Anak ketika ujian itu berlangsung. Sebelumnya sudah diskusi ringan dengan Mba Devi mengenai banyaknya jumlah murid yang ikut remedial di kelas Javas. Beda dengan murid-murid di kelas Rafif (anak Mba Devi) dengan peserta remedial hanya dibawah itungan 10. Dugaan kami bahwa di kelas Javas, ujian harus dibaca sendiri. Walaupun aku tidak memastikan saat itu apakah dalam semua pelajaran kelas Rafif...

Laporan Akhir Semester Detya

Hari Sabtu minggu lalu adalah saat pembagian laporan akhir semesteran Detya dan Javas. Datang kesiangan dan melewati waktu yang dijatahkan, namun akhirnya bisa juga diskusi dengan wali kelas. Tetap saja merasa tidak puas, karena ga tega membuat antrian di belakang nunggu terlalu lama. OK, buat Detya tentu saja ga jadi masalah kalau tidak bisa lama-lama. Detya ga pernah bermasalah baik dari segi perilaku maupun prestasi sekolah. Ya..hanya sedikit keluhan tentang gampangnya dia terpengaruh orang lain, tapi itu masih bisa diarahkan ke hal yang positif. Satu hal yang menganggu perasaanku sendiri. Aku berusaha menanamkan, terutama pada diriku sendiri, bahwa prestasi akademik itu adalah nomer sekian dibandingkan perilaku anak-anakku. Tapi ternyata tidak bisa tidak, aku cukup terpengaruh ketika melihat peringkat di raport Detya. Kelas satu dulu dia selalu jadi peringkat pertama dan di kelas dua ini, dua kelas satu dulu digabung jadi satu sehingga wajar jika dia ga dapat peringkat satu ...

Catatan Harian : Berhenti Menawar

Aku dan beberapa temanku sedang resah...tentang apa sebenarnya kontribusi nyata Government Spending untuk perekonomian nasional. Bangun jalan, jembatan, jalan tol, hal-hal semacam itu rasanya tidak lebih besar daripada sosialisasi, workshop, iklan,konsinyering... dan semua itu juga masih belum menyentuh level bawah masyarakat secara keseluruhan. Maka kami berpikir, apa sih kontribusi dari kami yang bisa langsung menyentuh masyarakat? Satu hal bulat yang kami sepakati, terutama sebagai sesama ibu rumah tangga : belanja di pasar tradisional atau tukang sayur yang lewat..TANPA MENAWAR. Kalau belanja di supermarket bisa kami lakukan tanpa menawar, lalu kenapa ketika ke pasar tradisional harus menawar? Menawar lima ratus-seribu, ga akan ada pengaruhnya terhadap jatah harian belanja kita..maka BERHENTILAH MENAWAR. Bahkan di pedagang kaki lima yang jual kaos kaki, jepit rambut, kerudung kaos dan lain-lain....mintalah harga pas saja dan ga usah ditawar lagi... Menawar 5ribu-10 ribu.. ga a...

Catatan Harian : Stay Positive

Waaah..ternyata sungguh susah untuk harus selalu berpikir positif. Jika tidak ada masalah sih, berpikir positif itu sama mudahnya seperti bernafas normal . Tapi jika sedang ada gangguan maka berpikir positif sama susahnya seperti bernafas saat asmaku kambuh… dan asma itu baru hilang jika ventolin telah disemprotkan. Gangguan itu tentu saja dari luar, dan walau sudah dibentengin setebal mungkin, tetap saja angin buruk yang berhembus itu mempengaruhi pikiran untuk memulai berpikir negative. Ada dua kemungkinan akibat adanya hembusan pikiran negative, sedih atau marah dan bisa dua-duanya (wew..tiga kemungkinan ya?..hueheheh) Eniwei…semalem ada hembusan angin buruk yang membuatku susah untuk tetap berpikir positif…dan seharian ini aku menghadapi gangguan pikiran negative yang membuat perasaanku kacau balau. Aku butuh ventolin biar jalan nafasku normal…