Senin, Juni 24, 2013

Melepas Tukik di Sukamade

Perjalanan ini sebenarnya kulakukan akhir tahun lalu bersama anak-anak saat mereka libur semester.  Entahlah..semangat menulis sangat menurun jauh sehingga Humpala Kelana sebagus ini jadi tidak segera aku tuliskan.

Humpala Kelana...? Di acara radio pagi hari antara 5.30 - 6.30 di Female Radio ada segmen khusus anak-anak dan Paman Gery sebagai pengasuh mengenalkan istilah Humpala Kelana yang artinya jalan-jalan yang menyenangkan.  Bagi kami sendiri istilah itu kami gunakan jika kami sekeluarga berjalan-jalan ke lokasi wisata di Indonesia.  Sementara ini anak-anak sudah menikmati Gunung Merapi dan Candi Borobudur, Tanah Lot, Kuta dan Pantai Lovina, Kawah Ijen dan terakhir adalah Pantai Sukamade di Banyuwangi.

Perjalanan ke Sukamade kali ini cukup jauh karena ada di ujung barat daya Banyuwangi. Perlu kira-kira 5 jam menuju lokasi Penangkaran Penyu. Dua setengah jam perjalanan jalan aspal biasa dan dua setengah jam melintasi perkebunan coklat dengan jalanan yang membuat seluruh tubuh berguncang-guncang.  Untuk itu, tidak sembarangan jenis mobil yang bisa digunakan untuk melintasi jalanan ini.  Apalagi sepanjang kebun coklat terdapat dua sungai kecil dan 1 sungai yang cukup lebar, yang jika musim hujan air bisa naik dan tidak bisa dilewati.  Dan ongkos sewa mobil ini lumayan menguras kantong..tapi demi humpala kelana bersama anak-anak, ponakan, adik, kakak, ipar dan Ibukku..maka bolehlaah...



Ditengah perjalanan di antara kebun coklat, kami berhenti untuk menikmati makan siang.  Yaaah...makan siang yang menyenangkan ditengah gigitan nyamuk yang menganggu.  Sebenarnya dalam perjalanan ini ada lokasi pantai berpasir putih yang menarik untuk disinggahi...tapi karena semua sudah pengen segera sampai tujuan..maka kami hanya memandangi dari kejauhan saja.

Kalau mau melihat penyu bertelur, maka harus menginap dan ada dua pilihan penginapan. Di desa Sukamade yang masih berjarak cukup jauh dari pantai (mungkin sekitar 4-5 km) atau di Guest House yang disediakan Unit Pengelolaan Konservasi Penyu (UPKP) Sukamade yang hanya berjarak 200 meter dari pantai.  Kami memilih yang terakhir dan cukup hanya menyewa 1 kamar saja untuk kami serombongan.

Setelah cukup beristirahat maka kami mulai berkeliling dan bertanya ini itu ke Pemandu Penyu.



Dari telur penyu yang ditinggalkan induk penyu di pantai maka UPKP bertugas untuk mengamankan telur dan menyimpan di unit penetasan yang dibangun khusus.  Tiap tongkat penanda menunjukkan jenis penyu, tanggal bertelur dan jumlah telur.  Maka telur akan aman dari penjarah sampai akhirnya menetas.


Setelah menetas, maka di tampung dulu di bak khusus sampai dianggap cukup umur untuk dilepaskan.  Naah...para pengunjung diperkenankan untuk melepaskan penyu ini dengan memberikan donasi secukupnya untuk UPKP.  Proses ini mereka sebut Pelepasan Wisata.


Maka kami pun melakukan pelepasan wisata ini sore itu juga karena kami berniat besok pagi-pagi akan segera kembali demi menghindari air sungai naik.  Satu ember pun kami bawa ke pantai untuk kami lepaskan bersama-sama. 


Pantai tampak sepi dengan ombak yang berdebur-debur cukup kencang.  Anak-anak sudah tidak sabar untuk bermain dan melepaskan tukik.


Berpose dengan tukiknya masing-masing.


Proses melepaskan tukik ini sungguh membuat anak-anak senang.


Aku benar-benar terpesona dengan foto ini. jejak tukik ini seakan-akan menandakan satu langkah kecil untuk menuju lautan luas yang entah apa saja yang mungkin terjadi nanti.  Bisa saja ketika dia baru saja mencapai tengah laut, ada ikan besar yang menjadikan dia sebagai makanan.  Atau bisa juga 70-80 tahun lagi, tukik itu telah menjadi dewasa dan siap untuk bertelur di pantai yang sama.

Nah selesai melepas tukik ini, anak-anak menikmati pantai sampai puas. Dan ketika matahari beranjak tenggelam, kamipun kembali ke tempat penginapan.  Selanjutnya, pemandu penyu pun menyampaikan bahwa malam itu sekira pukul 20.00 kami sudah harus bersiap untuk memulai pencarian penyu yang bertelur.   Dari penanda yang ada di tempat penetasan telur penyu, dapat dilihat bahwa tidak setiap hari ada penyu yang bertelur.  Rata-rata seminggu bisa tiga sampai empat penyu yang bertelur.  Jadi bagaimanapun, walau dibilang bahwa bulan November sampai Maret biasanya merupakan waktu bertelur, tidak setiap hari ada yang turun ke pantai untuk bertelur.  Ada kalanya si penyu cuma mendarat saja tanpa bertelur.  Dan bisa jadi malam itu ketika kami mencoba ke pantai...tak ada satupun penyu yang mendarat.

Aku sudah menyampaikan hal tersebut kepada anak-anak agar harapan mereka tidak terlalu tinggi untuk melihat penyu.  Walaupun mereka mengerti resikonya, tak urung setiap lima menit mereka bertanya "Kapan kita ke pantai melihat penyu"...  Dan ketika sudah lewat dari pukul 20.00, pemandu masih belum juga memanggil kami, anak-anak pun semakin resah.

Ternyata, pemandu memanggil kami pukul 21.30 dan beserta rombongan lain, kami pun berangkat ke pantai.  Saat yang sama, ada rombongan anak SMA yang memanfaatkan lokasi camping ground untuk menginap disana.  Selain itu ada satu keluarga dengan 2 anak yang menginap di Desa Sukamade, juga bergabung dengan rombongan kami.  Keluarga itu rupanya memanfaaatkan jasa Biro Perjalanan, karena persiapannya sangat lengkap.  Kebetulan malam itu cuaca sedikit gerimis.  Kami sama sekali ga punya persiapan apa-apa, sedangkan mereka langsung dibagikan jas hujan dan topi.

Pada akhirnya, kami pun bersama-sama menunggu cukup lama di pantai.  Pemandu bertugas patroli sepanjang pantai.  Kami menunggu di titik tengah pantai.  Kami harus memastikan diri agar tidak menyalakan lampu dan bersikap tenang.  Jika penyu mendeteksi adanya manusia, maka dia akan kembali ke laut dan membatalkan untuk bertelur.  Malam  sebelumnya, ada 2 penyu yang hanya mampir di pantai tanpa bertelur sama sekali.  Betapa ruginya kami jika malam itu kejadiannya sama, karena kami hanya menyiapkan untuk ke Sukamade satu malam saja.  Tidak mungkin kami memperpanjang menginap, jika malam itu kami gagal melihat penyu bertelur.

Alhamdulillah, setelah satu jam bengong menunggu dan menikmati gigitan nyamuk pantai, pemandu memberi aba-aba kami untuk mendekat.  Ada penyu yang sedang bertelur.  Jika sang penyu sudah mengeluarkan telurnya, baru kami boleh menyalakan senter dan mengabadikan proses itu.


Setelah si penyu mengeluarkan 67 buah telurnya malam itu, maka dia mulai menggali pasir sekelilingnya untuk menutupi lubang telurnya.  Proses ini cukup lama, kira-kira 45 menit dan memerlukan usaha yang cukup keras dari sang penyu. Kadang-kadang dia berhenti sejenak karena kecapekan.  Saat kubangan sudah tertutup sempurna maka penyu pun kembali ke bibir pantai untuk kembali lagi ke lautan luas.  Para pemandu sudah memberi tanda lokasi telur.  Jika tidak, maka tidak nampak jejak sama sekali bahwa sebelumnya ada kubangan berdiameter hampir 1 meter dengan kedalaman kurang lebih 30cm.  Telurnya sendiri ada di lubang dalam seperti kantung.  Subhanallah...penyu sudah punya mekanisme pertahanan diri terhadap kemungkinan penjarahan.  Jejak penyunya sendiri pasti akan terhapus ombak pasang keesokan paginya.


Proses Pengurukan pasir.


Dan tak lupa kami berpose ketika sang penyu sudah selesai menuruk pasir dan mulai berjalan kembali ke arah bibir pantai.


Dalam perjalanan pulang, anak-anak minta naik ke atas mobil dan menikmati perjalanan sepanjang kebun coklat.  Pagi itu, ketika  dalam perjalanan pulang, kami berpapasan dengan keluarga yang malam sebelumnya bersama kami mencari penyu.  Mereka ke arah pantai sedangkan kami ke arah pulang.  Rupanya mereka melakukan pelepasan wisata di pagi hari itu.


video

Dan semoga video Pelepasan Tukik ini bisa dilihat dengan baik.

Hmmmm....jadi Humpala Kelana kita selanjutnya kemana?
Read More..