Selasa, Juni 28, 2011

Barang Yang Tak Terpakai

Jadi gini, dengan tiga anak yang semuanya aktif, seringkali baju-baju yang mereka pakai berumur pendek. Semuanya berakhir dengan kondisi mengenaskan yang sungguh tak layak jika disumbangkan kepada orang lain.

Begitu juga dengan mainan. Mainan itu cepat sekali rusak dan akhirnya dalam keadaan berantakan. Untung saja untuk mainan, anak-anak suka menggunakan kembali untuk dirangkai menjadi mainan imajinatif lainnya. Bekal tambahannya cuma lem tembak dan cat spray, maka jadilah mainan model baru.


Yaaaa...memang pada akhirnya mainan baru itu tetap saja tidak berumur lama, tapi setidaknya mengurangi volume beli mainan.

Nah, untuk baju bekas tadi, seringkali beralih fungsi menjadi serbet dan jika sudah kotor sekali, maka langsung masuk tempat sampah. Akhir-akhir ini stok baju bekas itu semakin menumpuk, sedangkan serbet masih banyak. Maka dengan bantuan mesin jahit, aku jadi punya banyak keset... dan karena suamiku sangat maniak terhadap keset, maka sebanyak apapun aku buat..tetap akan terpakai. Kaos-kaos bisa ditumpuk sehingga jadi cukup tebal untuk menyerap air jika ada air yang tumpah. Atau handuk-handuk butut yang aku sendiri bingung mau diapain, akhirnya beralih fungsi jadi keset kamar mandi. Kalau hanya digelar saja, tanpa ditumpuk dan dijahit, jadi malah cepat rusak dan sobek. Namun jika dilipat dengan tepat, jadi keset yang cukup manis untuk diletakkan di pintu depan.


Nah, ada baju-baju yang mau dibuat jadi keset kok ya sayang..apalagi buat serbet...ga tega. Maka meniru ide anak-anak untuk menjadikan barang lain yang lebih berguna...maka iseng-iseng, aku jadikan tas. Ini adalah seragam sekolah anak-anak yang warnanya udah buluk dan ada sisa-sisa cat, jadi sudah cukup lama tersimpan di lemari tak terpakai. Dan dengan ide yang sama seperti saat membuat tas bingkisan kemarin, maka jadilah tas punggung yang bisa dipakai untuk membawa baju untuk ganti di Daycare.


Waah...jadi semakin semangat untuk remake baju-baju lainnya...

Eh, ada satu yang menggantung nih dari tas tadi. Gimana ya caranya biar tas jadi ga letoy kalau dipakai di punggung. Karena penampakan ketika digantung kok jadi ga tegak ya...mesti dipasangi apa ya biar kaku.




Read More..

Jumat, Juni 24, 2011

Akhir Tahun Ajaran


Alhamdulillah...anak-anak sudah menerima laporan akhir tahunnya...Detya dengan nilai yang lebih baik dari semester lalu, tentu saja naik kelas masih dengan peringkat yang sama dan dengan alasan yang sama juga....Yaaaa...itu salah kami sendiri yang tidak bisa menyediakan Detya waktu yang normal selayaknya anak-anak lain. Dengan prestasi itu, aku sudah sangat bersyukur. Satu yang jadi bahan diskusiku dengan wali kelasnya adalah tentang Detya yang sudah jarang bercerita tentang segala hal di sekolah. Aku kawatir, jika ini dibiarkan, kami jadi jarang curhat-curhatan lagi dan aku jadi tidak tau bagaimana perasaan hatinya saat ini. Aku harap sikap rahasia Detya berkurang agar aku bisa tau segala hal tentang Detya lagi.

Gurunya bercerita bahwa sepertinya semua murid kelas dua juga mulai menyimpan cerita hanya untuk teman dekatnya saja, tidak mau berbagi cerita dengan guru. Beliau menyarankan agar aku saja yang searah dulu bercerita tentang keseharianku untuk memancing mereka cerita. Well, sudah aku lakukan sih, tapi sepertinya kurang intens. Harus lebih intens lagi kalau gamau anak gadisku semakin berahasia padaku, terutama tentang lawan jenis.

Untuk Javas sendiri, walau ketika menyampaikan laporan sambil meminta kami menandatangani kesepakatan dengan sekolah untuk selalu terlibat dalam pembelajaran Javas agar bisa mengikuti kelas dua dengan baik, wali kelas berulang-ulang menekankan bahwa sebenarnya Javas sangat mengerti dan tidak terlihat adanya tanda-tanda bahwa dia memerlukan kebutuhan khusus. Tipe Javas adalah auditory sehingga walau dia seakan-akan tidak ada perhatian ke pelajaran saat itu, dia mendengarkan dengan baik dan ketika recalling, dia dapat menyampaikan kembali apa saja yang tadi dipelajari (ketika dia sibuk menggambar mobil)

Namun apabila kami ingin mencari tau ke profesional apakah Javas perlu kebutuhan khusus, beliau tidak melarang bahkan menyambut baik keinginan kami untuk mengetahui masalah Javas sejak dini.

Pada akhirnya, beliau minta agar nanti ketika kelas dua, kami selalu memonitor perkembangan Javas dengan diskusi seminggu sekali bersama walikelasnya sehingga perkembangan Javas dapat dimonitor terus menerus dan segera dicari jalan keluar jika mengalami hambatan.

Mengingat tipe Javas adalah auditory maka gurunya menyarankan agar kami menyiapkan kliping di rumah yang berhubungan dengan materi saat itu. Kliping itu diberi penjelasan ringkas dan dipasang di tembok sehingga setiap saat bisa termonitor Javas dan akhirnya terbaca dan termengerti dengan baik.

Umumnya, anak-anak kelas satu dan dua sangat memerlukan aplikasi nyata dari teori yang diajarkan di sekolah. Dengan kliping yang merupakan wujud nyata dari pelajaran di sekolah, anak-anak dapat mengkaitkan langsung antara teori dengan kenyataan.

Well...I can do that.....

Aku sangat berharap bahwa apa yang disampaikan gurunya bahwa Javas baik-baik saja dan sangat bagus di Matematika dan IPA, akan memudahkanku dalam menemani Javas belajar. Tinggal semangatku sendiri yang harus terus menyala untuk dapat menemani pembelajaran Javas.

Love you dear Javas....mari kita sama-sama semangat menyongsong kelas dua nanti....
Read More..

Senin, Juni 20, 2011

Bingkisan Untuk Guru

Aku lupa tepatnya kapan, yang pasti saat itu aku masih bujang, aku perhatikan ada kebiasaan orang tua memberi bingkisan untuk guru anak-anaknya. Aku perhatikan para Ibu di kantor sibuk mencari sesuatu saat akhir tahun ajaran tiba. Reaksiku saat itu adalah: "Ya ampun sejak kapan ortu harus ngasih beginian sama guru ya? Untung jamanku dulu gaada yang model begini".

Sebenarnya bukan masalah ngasihnya yang jadi keberatanku, tapi jadi kewajiban memberi itu yang membuatku ga suka. Wajib memberi karena orang tua lainnya juga memberi, dan pemberian yang biasa-biasa saja jadi akan memalukan jika dibandingkan dengan orang tua lain. Maka, semakin bagus akan semakin baik, semakin mahal akan semakin berkelas (bagi yang ngasih). Pemberian kepada guru yang didasari oleh persaingan tak kasat mata diantara orang tua murid.

Eniwei, aku tidak pernah memikirkan masalah pemberian itu, karena di TK anak-anakku ada kebijakan ketat bahwa tidak ada pemberian orangtua kepada perorangan atau sekelompok guru. Di RA Istiqlal dengan model BCCT maka semua guru adalah satu tim karena tiap sentra ada tim yang bertanggung jawab dan anak-anak selalu berkeliling ganti sentra setiap waktu. Bahkan jika orangtua ingin diskusi dengan guru mengenai perkembangan anaknya, maka harus dengan perjanjian karena penanggungjawab kelompok harus mengumpulkan informasi dulu dari semua sentra, baru kemudian diskusi bisa dilakukan.

Kalau memang ada pemberian dari orangtua, harus dilakukan untuk semua tim guru. Makanya, bingkisan untuk guru selalu dikoordinir bersama dan hanya ada pada Hari Raya Idul Fitri dan kelulusan anak-anak RA. Saat itulah, jika orang tua ingin menyampaikan sesuatu maka dikoordinir bersama.

Saat Detya mulai SD pun juga tidak ada bingkisan karena kupikir kebijakan di RA tadi juga berlaku untuk MI.

Sampai akhir-akhir ini ketika aku menghadapi kesulitan dalam menemani Javas belajar. Dan wali kelas Javas adalah satu-satunya guru yang bisa membuat Javas belajar dan akhirnya bisa membaca dengan baik. Aku gabisa membayangkan bagaimana wali kelas itu bisa membuat Javas duduk manis dan berlatih terus, saat aku harus menggunakan berbagai rayuan dan kadang berakhir dengan nada tinggi yang aku kawatirkan malah membuat Javas semakin malas berlatih.

Aku jadi memikirkan ulang, apa saja yang telah aku lakukan buat Detya dan Javas sampai akhirnya mereka seperti ini. Detya sama sekali kami lepas begitu saja, tanpa pendampingan yang cukup untuk belajar, dia bisa jadi terbaik di kelas 1. Selama kelas 2 pun dia masih dengan pola yang sama dan mendapat nilai terbaik di ujiannya walaupun tidak jadi yang pertama karena kurang lengkapnya dia mengerjakan PR. Praktisnya, kami ga ngapa-ngapain tapi prestasi Detya sangat memuaskan. Darimana bisa begitu, tentu saja peran gurunya sangat luar biasa.

Begitu juga dengan Javas, walaupun pendampingan dengan Javas lebih intens, tapi tetap saja dia merasa bebas dengan orangtuanya sehingga bisa leluasa menolak jika ditemani belajar. Hanya dengan wali kelasnya dia jaim sehingga bisa duduk tenang ketika belajar. Dan wali kelasnya walaupun sempat kuanggap terlalu keras untuk anak kelas satu (ya..well..sebenarnya karena tidak ada excuse untuk Javas maka kuanggap terlalu keras) sungguh sangat komunikatif ketika aku curhat segala macam tentang Javas dan selalu memotivasiku untuk mencoba beragam cara ketika belajar dengan Javas.

Dengan sedikitnya yang kulakukan untuk anak-anakku dan aku mendapatkan anak-anak yang bersemangat belajar, membuatku rasanya ingin memberikan apa saja untuk guru-gurunya. Tapi sepertinya dengan kebijakan tidak ada pemberian apapun untuk guru perorangan maka aku harus menghormati aturan itu.

Tapi kalau handmade kan ga ada salahnya to?....Saat ini sedang mencicil satu persatu handmade untuk guru-guru Detya dan Javas. Dan ini salah satunya:


Aku lupa link-nya mana, tapi waktu itu aku sempat memperhatikan detil pembuatan tas dua sisi ini dan kemarin sukses mencobanya. Paling engga, tas ini bisa jadi pembungkusnya dan bisa dipakai untuk keperluan lain.
(Catatan: nemu link yang paling mirip dengan yang aku buat...walau waktu itu ga pake link ini...)

Balik lagi ke masalah pemberian kepada guru tadi, kemarin aku sempat membaca komentar seseorang yang mengeluhkan masalah bingkisan ini. Well...jika alasannya adalah kewajiban karena orangtua lain melakukan itu dan nilai barang menjadi penting...maka ya...aku tetap tidak setuju dengan pemberian yang seperti itu.

Tapi jika ikhlas dari dalam hati ingin mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya buat peran guru...maka itulah yang akan aku lakukan.....

Pagiku cerahku
matahari bersinar
kugendong tas merahku di pundak

selamat pagi semua kunantikan dirimu
di depan kelasku menantikan kami

Guruku tersayang
guruku tercinta
tanpamu apa jadinya aku
tak bisa baca tulis
mengerti banyak hal
Guruku terima kasihku

Nyatanya diriku kadang buatmu marah
namun segala maaf kau berikan



Guruku tersayang
guruku tercinta
tanpamu apa jadinya aku
tak bisa baca tulis
mengerti banyak hal
Guruku terima kasihku


Ciptaan : Melly Goeslaw dari Album Dara : Tiga Kata Ajaib


Read More..

Kamis, Juni 09, 2011

NAIA Beauty Gallery

Awal Mei lalu ada penawaran dari Deal Keren untuk paket perawatan Deluxe Whitening Nourishing Package dari NAIA Beauty Gallery dengan diskon 75% dari harga Rp401.500,- menjadi Rp99.000,-. Tentu saja aku jadi tertarik apalagi bahan untuk perawatannya adalah produk Kose yang cukup terkenal. Dengan harga segitu dapat 3 perawatan lengkap kan jadi menggiurkan.

Aku beli 3 kupon dan janji sama teman samping meja untuk berangkat kesana bareng-bareng. Hanya saja ternyata temanku itu gajadi beli dan ikut gantiin saja 1 kupon yang sudah kubeli. OK saja buatku karena toh aku masih punya dua sisanya.

Setelah gagal booking awal Juni lalu, maka akhirnya kami dapat slot untuk tanggal 8 Juni dan kemarin kami berdua langsung meluncur ke lokasi.

Hadew..ketika di lobi saja suasananya cukup menyenangkan. Walaupun sedikit kebingungan ketika baru masuk, tapi resepsionisnya cukup membantu sampai akhirnya petugas yang melayani kami datang



Mbak Saro yang kebagian melayani aku, menyapa dengan ramah dan langsung menunjukkan tempat untuk ganti bathrope dan perlengkapannya. Setelah beres, langsung diajak menuju kamar yang memang dikhususkan untuk pelayanan perorangan. Di kamar itu ada tempat tidur kecil yang memang didesain untuk pijat, yang kasurnya juga berfungsi sebagai penghangat, ada bathtub seperempat lingkaran yang nyaman untuk dipakai berendam bahkan jika berdua, juga westafel untuk cuci tangan. Bagus, bersih dan nyaman. Penerangannya pun bisa diatur jadi mau terang atau gelap sehingga mengundang kantukpun, bisa distel.





Catatan: Gambar dari NAIA

Lalu perawatan NAIA Signature Massage dimulai. Pijat ini merupakan pijat khas yang biasanya digunakan pada perawatan physiotherapy, yang berfungsi untuk membuat tubuh relaks, mengurangi kelelahan, menghilangkan gangguan dan menormalkan otot yang bermasalah di seluruh tubuh. Kebetulan sudah dari hari minggu aku sakit di pundak karena salah posisi tidur yang akibatnya ga bisa nengok dengan leluasa. Pijatan yang runut dan bertenaga sungguh membuat tubuh terasa nyaman.

Pijat selama lebih dari satu jam itu dilanjutkan dengan Milk Body Scrub dan Milk Body Mask . Nah pada waktu menunggu masker ini, aku sukses tertidur dengan nyaman...heheheh..

Pada akhirnya kalau harga bandrol sebesar Rp401.500,- dengan suasana dan pelayanan seperti itu...sepertinya cukup pantas apalagi disitu ditawarkan untuk perawatan sejenis selanjutnya dapat diskon 50%.

Aku sendiri si..tetap mikir berkali-kali dengan hasilnya ga akan rela kalau harus mengeluarkan 400 ribu untuk sekali perawatan...

Tapiii..untung saja ada Deal Keren...kalau kupon satunya sudah terpakai, tinggal tunggu saja penawaran lainnya yang masuk sesuai kantongku... I love discount...heheheh...

Thank you NAIA...thank you Deal Keren....

Update 9 Juni 2011
Cincinku ketinggalan di kamar perawatan.. karena teledor ketika terburu-buru keluar kamar untuk mandi. Hanya arloji dan kunci loker yang ingat kubawa. Baru teringat kamis malam ini bahwa cincinku ketinggalan di NAIA dan segera kutelepon.
Ternyata petugasnya bilang, ga ada barang ketinggalan disana. Mereka bilang, biasanya siapapun OB yang bertugas, akan mengumpulkan barang-barang yang ketinggalan, bahkan jepit pun akan di kembalikan. Dan cincinku ga ada sama sekali, baik di meja maupun di loker.

Yeah..rite....cincin dibandingkan sama jepitan rambut...

Eniwei..this is my own mistake...lain kali harus benar-benar aware akan barang-barangnya sendiri..

Read More..

Naik Motor

Sebenarnya kalau hanya sekedar naik motor, dari jaman SMP dulu aku sudah cukup lancar, SMA pun sudah punya SIM C pas saat berumur 17 tahun. Naik motornya pun cukup lancar cenderung nekat. Alhamdulillah, walaupun nekat tidak ada hal buruk yang terjadi kecuali pernah jatuh gara-gara ada benang layangan putus yang melintang di jalanan dan tidak terlihat sama sekali yang akhirnya pas mengenai leherku. Untung saja waktu itu aku sedang berjalan pelan sambil cekikikan dengan teman yang kubonceng. Jadinya leherku hanya lecet agak dalam setengah leher dan jatuhnya hanya gabruk ringan saja.

Efeknya adalah setelah itu aku ga berani bolos kursus lagi, takut kualat sama yang bayarin les :D

Beberapa waktu lalu aku nonton tayangan di tv kabel tentang "1000 Ways To Die" yang salah satunya adalah tentang pembuluh darah di leher yang sangat sensitif, yang apabila terkoyak maka dalam waktu lima menit akan segera bleeding to death dan ga ada lagi yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan korban. Waaaaah...setelah itu aku merasa sangat-sangat beruntung bahwa waktu kejadian benang layangan itu aku dalam keadaan nyetir santai cenderung pelan sehingga benang itu hanya sedikit menggores leherku....

What if at that time I drove my motorcycle very fast like I used to... Alhamdulillah Ya Allah....


OK..balik lagi ke masalah naik motor...setelah melahirkan Detya...tiba-tiba saja nyali untuk naik motor hilang entah kemana. Seluruh tubuhku jadi lemas ketakutan ketika bersiap-siap naik motor. Dan memang, selama keluar dari Banyuwangi, aku sudah jarang naik motor sehingga nyali itu sepertinya perlahan-lahan hilang sampai akhirnya habis sama sekali ketika Detya lahir.

Apalagi lalu lintas Jakarta sungguh mengerikan, maka ketakutanku semakin bertambah. Pada akhirnya, sekarang-sekarang ini aku hanya berani naik motor keliling kompleks saja. Pernah mencoba untuk keluar komplek yang berakhir hanya berani belok ke arah kiri. Itupun dengan jalan pelan di lajur paling kiri ditambah deg-degan ga karuan.

Sampai akhirnya long weekend kemaren...anak-anak ternyata tidak libur pas hari Jumat kejepit itu. Suamiku sendiri harus pulang kampung bersama Wisam karena harus mengurus perpanjangan SIM. Akhirnya, setelah memperhitungkan biaya taksi yang harus bolak balik dan pasti berat di ongkos, aku memutuskan untuk menitipkan anak-anak agar bareng temannya yang tinggal di Kebun Jeruk. Aku sendiri tinggal di Ciledug, jadi Ciledug - Kebun Jeruk tidaklah begitu jauh.

Masih saja berhitung bahwa taksi bolak-balik ke Kebun Jeruk pagi dan siang masih terasa berat, sehingga dengan nekat, aku beranikan naik motor ke Kebun Jeruk itu. Diawali dengan pada hari Kamis keluar kompleks untuk belajar belok kanan, maka jumat pagi itu aku sukses mengantar anak-anak ke Kebun Jeruk (walau tidak berani sampai di rumahnya langsung) dan akhirnya menunggu di dekat lampu merah. Jalanan masih agak sepi sehingga tidak terasa mengerikan. Baru setelah arah balik ke Ciledug, lalu lintas sudah mulai padat sehingga naik motornya dengan agak grogi.

Alhamdulillah...pada akhirnya perjalanan pulang bisa terselesaikan dan jemput pas sore harinya juga lancar semuanya. Hikmah hari itu adalah bahwa ketakutan itu memang hanya ada di otak, dan ketika sudah bisa menjinakkan rasa takut itu, Allah akan membantu memudahkan hal-hal lainnya.

Jadi perjalanan kepepet ngantar anak-anak itu ternyata bisa menumbuhkan rasa percaya diriku dan mengurangi ketakutanku secara cukup signifikan.

Langkah selanjutnya adalah semakin sering berlatih naik motor keluar kompleks untuk memudahkan jika nanti mulai belajar nyetir mobil....wish me luck...
Read More..

Rabu, Juni 08, 2011

Dompet, Nakas, Mobil dan Ventolin

Akhir-akhir ini, asmaku kambuh semakin parah dan tak kenal waktu. Semalaman ketika tidur, aku bisa bangun 2-3 kali dengan sesak nafas yang tiba-tiba dan akhirnya perlu semprotan Ventolin. Itu baru malam hari ketika tidur, bagaimana kalau saat siang atau saat terjaga?

Setidaknya, bisa butuh 7-8 kali semprotan total 24 jam. Aku tau, sudah waktunya aku ke dokter lagi menyelesaikan masalah ini. Tapi membayangkan apa saja yang akan dokter katakan, membuatku sedikit pesimis. Capek dengerin hal yang sama berulang-ulang. Ah...tetap aku harus segera ke dokter.

Beberapa waktu lalu, suamiku cerita kalau orang yang ngontrak rumah kami di Kediri, ditemukan meninggal dalam keadaan meringkuk dengan menggenggam ventolin. Rupanya beliau mendapat serangan asma yang tidak sempat tertolong, walau ventolin sudah dalam genggaman. Sebelum itu, ada teman yang cerita hampir serupa tentang seorang perempuan yang meninggal karena serangan asma yang tak tertolong.

Mendengar itu, Detya langsung ketakutan. Dia minta aku agar jangan lepas dari ventolin dimanapun aku berada. Ah, anakku sayang...dengar cerita-cerita itu membuat dia sangat mengkhawatirkanku. Dia pernah melihatku dalam keadaan serangan tanpa pegang ventolin sama sekali, untung suamiku langsung bergegas ke mobil. Jadi dia bisa membayangkan bagaimana jadinya jika ga ada yang membantu mengambilkan ventolin.

Sebenarnya untuk menyiasati itu, aku sudah menyiapkan ventolin di lokasi tertentu. Satu di mobil, satu di nakas dekat tempat tidur (bukan nakas sebenarnya, hanya satu spot dekat tempat tidur) dan di tas yang kubawa sehari-hari. Karena tas tidak selalu kubawa kemana-mana, maka aku sengaja mencari dompet yang cukup besar untuk bisa dimuati ventolin.

Jadi disemua lokasi sudah tersedia ventolin. Itu cukup mengurangi kekhawatiran Detya. Namun ternyata, seiring waktu, ventolin di mobil yang paling utuh sehingga ketika ventolin di dompet habis maka yang di mobil itu jadi ke dompet dan yang di dekat tempat tidur sering berpindah tempat tergantung posisiku saat itu ada dimana. Pada akhirnya, dompet, mobil dan nakas jadi tidak beraturan lagi.

Sabtu minggu lalu adalah saat terburuk dari semua seranganku. Karena libur panjang, maka ventolin yang di dompet posisinya jadi berubah entah dimana. Untungnya ventolin yang di rumah sempat berpindah di mobil. Nah, malam minggu itu aku menghadiri kondangan anak mantan bosku. Karena suamiku pulang kampung bareng Wisam, maka aku minta bantuan sopir tembakan untuk ngantar ke kondangan bareng anak-anak.

Suasana kondangan sangat ramai sehingga perlu antrian sangat panjang untuk bisa ngucapin selamat kepada mempelai dan orang tua. Karena terlalu panjang aku putuskan untuk mencoba berbagai pilihan makanan, lalu mulai ikut antri. Antriannya ada 4 lajur yang mengular sampai di pintu masuk gedung. Suasana sesak itu membuatku merasa sesak. Ketika kulihat di dompet, ternyata ga ada ventolin sama sekali. Kucoba tenang karena panik bikin sesakku tambah parah.

Ternyata sesak itu semakin hebat sampai ketika giliranku salaman, keringan dingin sudah mulai keluar dan aku hanya bisa tersenyum, gabisa bicara sama sekali. Setelah menyempatkan diri sms ke pak sopir, maka aku menunggu di lobi. Sesakku tambah hebat dan keringat dingin sudah membuat rambutku basah kuyup. Pak sopir belum datang juga. Rasanya sekelilingku semakin berputar dan aku semakin susah menarik nafas. Total dari awal serangan sampai akhirnya aku bisa mencapai ventolin di mobil sekitar 38 menit. Dalam waktu itu rasanya sungguh tersiksa dan ketika berlari masuk ke mobilpun, terasa semakin berputar. Perlu 4 kali semprotan sampai akhirnya aku bisa bernafas dengan baik....dan kepalaku terasa pusing luar biasa karena oksigen bisa leluasa masuk ke otak.

Detya kelihatan jauh lebih panik daripada aku karena dia tidak bisa melakukan apa-apa. Dan ketika semuanya usai, dengan pelan dia berkata : "Bunda..jangan lupa lagi bawa ventolin ya.."

Ketika aku selesai cerita ke suamiku, beliau juga berpesan agar aku berusaha keras untuk tidak melupakan ventolin disisiku karena hanya aku sendiri yang bisa bereaksi cepat sedangkan orang lain hanya bisa menatap putus asa karena gabisa membantu sama sekali.

Aku sendiri? Baru kali itu aku meneteskan airmata setelah mengalami serangan karena aku jadi bisa membayangkan betapa tersiksanya dua orang yang aku ceritakan di atas itu ketika akhirnya meninggal.

Jadi aku mulai membenahi lagi lokasi ventolin yang sudah kuantisipasi...Dompet, Nakas dan Mobil..

Ah..seandainya ada ventolin kecil yang bisa kukalungkan di leherku....
Read More..