Kamis, Januari 28, 2010

Facts About Me...(1)

Ada beberapa fakta tentangku yang ingiiiiiin banget kuubah....

Mi goreng dan Nasi

Mi goreng ----> karbohidrat ..... nasi ---> karbohidrat

Sigh...tapi setiap kali melihat mi goreng dihidangkan, aku ga tahan untuk melewatkan makan nasi dengan lauk mi goreng...rasanya nikmaaaat banget ketika dua karbohidrat itu bercampur di mulutku. Dan jika demikian, aku ga bisa mengontrol porsi makananku.

Aku ga bisa mengingat-ingat kenapa aku tidak bisa memisahkan mi goreng ini dengan nasi. Tapi aku bisa mengingat kenapa aku semakin tidak bisa memisahkan dua karbohidrat ini. Dulu, waktu hamil anak sulungku...aku pengen banget makan berkatan. Tau kan? bungkusan yang dibawa pulang ketika selamatan? entah itu ditaruh dalam kotak karton, besek, wadah plastik, yang isinya terdiri dari nasi, mi goreng, sambel goreng kentang, separo telur masak merah, ayam goreng dan oseng buncis atau kacang dengan posi yang kecil-kecil. Jika Bapakku pulang dari undangan selamatan, berkatan itu akan jadi rebutan kami berlima, anak-anaknya. Makanan yang cuma seporsi untuk berlima itu terasa sangat nikmat.

Ya, aku ingin sekali merasakan kenikmatan yang sama seperti masa kecil dulu, ketika aku hamil anak sulungku itu. Waktu itu aku tinggal dengan saudaraku di Pesing Jakarta Barat dan sangat jarang ada orang mengadakan selamatan. Lagipula berkatan di jakarta terasa beda dengan berkatan di daerahku. Ibu mertuaku bahkan mengusahakan untuk mengirimiku berkatan ala daerah...tapi karena makanan itu sudah menginap dua hari di perjalanan maka bisa dibayangkan hasilnya seperti apa.

Sejak itu, kesukaanku makan nasi dengan lauk mi goreng semakin menjadi-jadi. Dan sekarang, ketika ada rapat di hotel yang menyajikan mi goreng, maka piringku akan dipenuhi nasi dengan mi goreng saja...lain-lainnya hanya aksesoris..... Dan niat untuk diet karbohidrat menjadi menguap begitu saja

Duuuh....kenapa mi goreng dan nasi itu tampak begitu menggoda?

Read More..

Selasa, Januari 26, 2010

Melayat

OK, terus terang aku tidak banyak bersosialisasi dengan tetangga di kompleks. Yaaa...walaupun aku ikut arisan bulanan, tetap saja ga pernah sosialisasi yang gayeng gitu. Seperti biasa, alasannya karena pagi-pagi sekali kami sudah keluar rumah dan baru malam ketika hampir isya, lewat isya..atau pun jauuuh selepas isya. Sabtu minggu pun habis untuk beraktifitas dengan anak-anak, entah di rumah saja ataupun keluar rumah.

Tapi, tetep doong...kalau ada yang meninggal di dekat-dekat rumahku, aku selalu ikut melayat karena kupikir..teman saat suka itu sudah biasa tapi penghiburan di kala duka itu adalah wajib. Jadi aku selalu pergi melayat pada hari H-nya, jadi pada saat persiapan segala sesuatu menuju jenazah dikuburkan. Tentu saja pada saat seperti itu, tidak banyak yang bisa kita bicarakan dengan keluarga almarhum, selain ikut membantu prosesi atau paling engga ikut berdoa bersama. Tidak ada diskusi sama sekali. Jadi begitulah selalu yang aku lakukan ketika melayat pada hari H.

Maka ketika harus melayat tidak pada hari H, aku jadi bingung, kira-kira apa ya yang patut dan tidak untuk ditanyakan...diobrolkan bersama? Pada saat seperti itu, tentu keluarga sudah cukup tenang sehingga bisa mengobrol segala macam. Dua kali aku mengalami situasi seperti itu. Saat pertama kali, kami menghindari topik membicarakan almarhum karena kawatir akan membangkitkan kesedihan, kecuali sedikit menanyakan proses meninggalnya dan penyebabnya. Selanjutnya mencoba untuk tidak menyinggung lagi tentang almarhum. Tanya tentang keluarga, anak, cucu, saudara, pekerjaan dan sebagainya.

Tapi...berdasarkan pengalaman pertama itu, rupanya keluarga yang ditinggalkan, terutama istri atau suami, lebih suka untuk mengenang almarhum. Bagaimana dulu pertama kenalan, menikah, punya anak dan sebagainya. Intinya, mengenang segala rupa yang detil tentang almarhum, menunjukkan foto kenangan..tertawa bersama jika ada kenangan yang berkesan. Hal-hal seperti itu.

Lalu kemarin aku juga pergi melayat ke rumah salah seorang teman yang Bapaknya meninggal. Dari awal aku bingung, apa ya yang nanti kita bicarakan, karena aku tidak terlalu dekat dengan teman itu karena perbedaan umur yang lemayan. Beda generasi lah. Tapi mengingat kita pergi berlima, jadi aku mengandalkan teman-teman yang lain untuk memulai pembicaraan.

Ternyata oh ternyata, semuanya juga pada bingung untuk bicara apa. Kalau dengan si teman sendiri siy, kami masih bisa berdiskusi...tapi bagaimana dengan ibunya? ga mungkin kami menghibur beliau ala menghibur teman kami tadi. Akhirnya menit-menit pertama kami lalui dengan canggung. Dan kemudian kami malah membicarakan asal kami, asal ibu itu..lalu pelan-pelan menyentuh tentang almarhum. Bagaimana meninggalnya, bagaimana kesehatannya sebelum itu. Lalu aku ingat pengalamanku dulu bahwa keluarga cenderung mengingat-ingat tentang almarhum. Jadi pembicaraanpun mulai mengalir, sampai akhirnya sang ibu mengajak kami melihat kamar almarhum dirawat dan lokasi jatuhnya almarhum sehingga jadi koma selama 8 bulan sampai akhirnya meninggal.

Di awal kami sempat menolak untuk melihat karena kami ga tega. Tapi pada akhirnya kami sempatkan melihat dengan harapan bahwa sang ibu bisa berbagi perasaannya dengan kami. Dan rupanya, sang ibu juga memperlihatkan kelegaan ketika akhirnya kami mau melihat lokasi kejadian.

Dari dua kali melayat bukan pada hari H ini aku bisa belajar bahwa kita bisa berkontribusi mengurangi perasaan kehilangan keluarga justru dengan membicarakan segala rupa tentang almarhum. Tentu saja kenangan-kenangan yang menyenangkan sehingga kesedihan keluarga yang ditinggalkan sedikit terobati.

Pada akhirnya, ternyata bersosialisai itu tidak bisa dipelajari, tapi mesti dilaksanakan untuk kemudian dijadikan pengalaman. Dan aku merasa malu karena pengalamanku sungguh-sungguh sangat sedikit...


Read More..

Rabu, Januari 20, 2010

Kegiatan Detya di Sanggar

Dooh...pengen mengalihkan pikiran dari NGAJAR nanti sore niy... rasanya perutku kok panas....

Aku mau nyeritain Detya anakku. Dia kan ikut sanggar ananda,..yang waktu itu membuatku agak miris...bagaimana aku bisa tahan melihat anak-anak kecil didandani persis kayak orang dewasa... tapi setelah melalui banyak pertimbangan dan niat utama kami adalah membuat dia bersosialisasi dengan lingkungan luar selain sekolah dan TPA dan belajar untuk lebih PD dan aktif, maka kami pun sepaka. Tentu saja, setelah menanyakan sendiri ke detya apakah dia berminat setelah ikut trial sekali.

Sudah bulan keempat dia mengikuti sanggar itu, seminggu sekali dengan tema pelatihan yang berbeda-beda...akting....tari modern...presenter...dan modelling. Detya bilang, dia suka pas tari modern...tapi aku pernah liat dia latihan....ga terlalu bisa mengikuti gerakannya karena irama dan gerakan yang cepat... yang paling dia sebelin adalah Modelling....dia paling sebel bahwa harus pose...jalan dengan digoyang-goyang kaki dan pantatnya (ini istilah dia..)...

Yang membuat aku terus menerus berpikir ulang apakah ini kegiatan yang tepat untuk Detya adalah saat modelling itu...juga saat presenter. Terutama karena pada dua materi ini, peserta didik boleh berpakaian bebas. Untuk presenter, memakai pakaian kasual, sedangkan saat modelling, pakaian menyesuaikan dengan tema bulan itu. Temanya pernah bling-bling,Gypsi, sporty, dan bulan ini baju pesta.

Tau ga apa yang dipakai anak-anak lain ketika tema presenter? walaupun namanya kasual....saat Detya memilih mekai kaos dan celana selutut dengan sepatu kets, teman-temannya berpakaian aneka rupa seperti baju dewasa yang dikecilin dengan aneka sepatu tinggi atau boot sebetis..selutut...sepaha..you name it..lah...

Belum lagi ketika modelling...awwww...aku benar-benar kasian dengan penampilan Detya. Walaupun sedapat mungkin mengikuti tema....tetep..jauuuuhh banget dibanding anak-anak lain. Saat-saat seperti ini...egoku sebagai ibu yang pengen anak-nya tampil secantik mungkin (versi ibunya tentu)....pengen mengalahkan keinginanku agar anakku tampil sesuai umur. Bagaimana tidak, orang tua lain berlomba-lomba mendandani anak-anaknya (termasuk make-upnya)...sedangkan aku tetep keukeuh dengan idealku sendiri.

Doooh....itulah saat-saat aku ingiin sekali nyari sanggar lain yang lebih masuk akalku...(tapi mengingat uang pangkal yang harus dibayar cukup besar...maka aku menguatkan diriku agar tetep konsisten disini..). Yang membuatku terhibur untuk bersabar adalah bahwa 4 tema ini berlaku selama 6 bulan pertama, setelah itu akan ada penilaian, si anak lebih terampil dan berbakat dibidang apa...maka akan masuk ke kelas produksi. Jika gini, si anak hanya akan berlatih di satu bidang itu secara konsisten.

Tentang tema bulan ini yaitu baju pesta, minggu ini adalah saat modelling, jadi kemaren kami (aku dan detya)..nyari-nyari baju yang pantas untuk disebut baju pesta...secara Detya ga pernah punya baju-baju yang biasa disebut baju pesta....(itu..tu...yang model putri-putrian gitu....coba aja google baju pesta anak...keluarnya kan baju-baju gitu..). Setelah muter-muter nyari yang sesuai dengan selera Detya...ternyata kami ga dapat. Dan akhirnya memutuskan bahwa ada satu baju di rumah yang bisa disulap jadi baju pesta...dengan sedikit tambahan pita ditambah pakai stocking itam dan nyari sepatu yang layak serta rambut yang dihias jepit-jepit bling-bling...insya Allah...layak disebut baju pesta...hahahaha...

Tau ga kenapa kami ga nemu yang sesuai selera Detya? Dia ga suka pakai baju yang keliatan keteknya...sedangkan baju pesta yang saat itu kami liat...semuanya dengan sukses..menampilkan keteknya....

Syukur deh, Detya masih ga mau pakai baju ketek secara sekarang ini dia sudah mulai suka pake rok selutut dan kemaren malah minta celana pendek (hot pants) bahan kaos.....Duuuuuuhhh...

Ada satu kejadian pas ke sanggar minggu lalu. Rasa-rasanya, orang tua yang bijak seharusnya memikirkan perasaan anaknya apakah memang dia sendiri menyukai kegiatan seperti ini...bukan memaksakan anaknya untuk mengikuti kegiatan ini dengan harapan si anak bisa ditampilkan di acara komersial (sanggar ananda menjanjikan bahwa semua siswanya bisa diikutkan acara-acara TV...- hey...ini bukan tujuanku OK...*perlu penegasan ketat niy*). Nah, minggu lalu, ada Bapak-Bapak yang mencubiti anak cowoknya karena si anak ga minat ikut kegiatan kemaren...si anak tampak males-malesan dan ga mau bergabung di kelompoknya....dan si bapak...dengan muka melotot dan tangan mencubiti bagian paha dan perut anaknya, memaksa si anak untuk tetap mengikuti kegiatan...

Huwaaaaa...rasanya pengen (melempar Bapak pake sendal jepit) menceramahi si Bapak tentang 12 Gaya populer deh...


My Note: Ternyata menulis ini tidak mengurangi rasa panas di perutku memikirkan agenda ngajar siang ini......

Read More..

Senin, Januari 18, 2010

Menjadi Trainer...Part 2

Beuh...ternyata usaha untuk menghindari jadi trainer waktu itu, gagal total. Temanku, yang sukarela mengajukan diri, ternyata tetap membutuhkan satu orang lagi untuk materi yang lain. Dia bertanggungjawab untuk materi pinjaman selama 10 jamlat, sedang hibah selama 8 jamlat, dia minta aku yang melakukannya.

Berhubung beberapa hari sebelumnya aku curhat ama suamiku dan jawaban suamiku bahwa aku seharusnya mencoba kesempatan itu, maka ketika temanku minta berbagi kerjaan, akupun menyanggupinya. Lalu, minggu kemarin kuhabiskan waktuku untuk nyiapin materi dan bikin powerpoint.....wuiiih....lemayan puyeng karena materi yang terstruktur masih belum ada...jadinya mesti kumpul-kumpul dulu.

Sebenarnya, ketika kami membaca usulan resmi tentang siapa yang jadi trainernya, kami sudah cukup lega, karena nama yang tercantum disitu adalah salah satu Boss-ku. Jadi dengan semangat, aku susun materi dengan harapan beliaulah yang jadi trainer-nya...

Hmmmmpft...ternyata harapan tinggal harapan...Boss itu hanya bisa dihari pertama saja...jadi, temenku itu dapat bagian 5 jamlat (karena dia berbagi dengan si Boss) dan aku tetep harus 8 jamlat....

TETAP SEMANGAT....!!...wish me luck deh.....Rabu siang mulai jam 13.45 - 17.00 dan dilanjutkan Kamis...08.00 - 12.30....seenggak-enggaknya, dengan dipisah dua hari gitu, aku bisa review sendiri biar besoknya lebih baik lagi....

Read More..

Senin, Januari 04, 2010

Batik Pertamaku...

Akhirnya, aku punya batik yang sebenar-benarnya......batik tulis dan batik cap. Setelah muter-muter ke segala arah cari penjahit batik yang ongkosnya bisa kutanggung, aku dapat penjahit di pasar baru, di suatu toko batik yang juga nerima jahitan dan payet. Dan yang nyenengin...ongkosnya itu loh yang cukup murah...mulai dari 100 ribu....tergantung bahan dan pola batiknya...jika sutra dan pakai furing..maka bisa lebih mahal....jika katun dengan pola yang sudah dipatok (maksudnya, motif batik sudah ditentuin bentuk-bentuknya..mana yang buat muka, tangan, belakang, saku dsb) ongkosnya juga beda....tetep...masih lebih murah dari penjahit manapun yang pernah aku tanya...

Wuaahhhh....seneng deh pokoknya, walo untuk percobaan pertama aku hanya jahit dua bahan saja. Yaa....bagaimanapun aku ga mau beresiko, aku kan belum tau bagaimana kualitas jahitan dan potongan baju penjahit itu..jadi cukup nyoba dua bahan dulu.

FYI, aku kan punya modal 3 bahan batik tulis...dua dari sutra dan satu dari katun yang kubeli karena ingin punya batik banyuwangi asli.... Nah, ternyata suamiku dapat 3 bahan batik lagi...dan kali ini yang tanpa pola...jadi lebih fleksibel untuk dimodel macem-macem...Hehehehehe.....bisa dibayangkan betapa girangnya aku ketika suamiku membawa tiga bahan batik tambahan...

Dan minggu lalu, jadilah dua bahan pertama dan hasilnya sangat memuaskan...artinya..pola batiknya nyambung dengan halus dibagian kancing baju...jahitannya juga bagus ditambah potongannya juga jatuh dengan pas di badanku...jadi ga ada bagian yang mblendong (apa ya bahasa indonesianya...pokoknya kadang-kadang kan ada baju yang bagian punggungnya menggelembung karena ga pas...atau dadanya dekat dengan ketiak ada yang gembung juga....)..maka hari berikutnya, aku pasrahkan 4 bahan lainnya untuk dijahit. Pemilik toko juga bisa menyarankan model-model yang kira-kira cocok...sehingga aku ga bingung lagi nyari-nyari model.

Sebelumnya, masalah model baju ini juga bikin aku puyeng, karena penjahit lain minta kita sendiri yang nyari model...kan repot..apalagi batik...ga semudah bahan biasa. Belum lagi seleraku, yang aku sendiri sering mikir bahwa seleraku aneh... maka ketika pemilik toko juga bisa nyaranin model baju yang macam-macam..maka aku semakin suka aja jahitin baju disini.

Nah...mulai hari minggu sampai tanggal 6 Januari.. ada bazar di Depag, dan berhubung aku lagi butuh sprei, aku niatin buat jalan kesana. Sebenarnya, aku juga berharap ada bahan batik juga disana..jadi semakin semangat buat sengaja jalan kaki kesana.. Dan benar....aku dapat batik cap madura yang udah lama pengen aku punya. Batik madura motifnya beda dengan batik solo, dengan warna yang lebih berani..bukan hanya coklat seperti kebanyakan batik solo atau jogja. Harganya pun...harga bazar...cuma 90ribu (setelah tawar menawar yang alot...heheheh). Aku pun dapet batik cap cirebonan yang warnanya lebih jreng lagi dan motif yang rame...lagi-lagi dengan bazar...cukup 80ribu saja. Jadi dengan ongkos jahit 100 ribuan....dapetlah aku batik cap asli dengan harga dibawah 200 ribu... Lebih murah daripada batik keris favoritku dulu kan....

FYI, batik keris itu ternyata batik printing....samasekali bukan cap apalagi tulis... Tentu saja ada juga yang tulis....tapi dengan harga mencapai sejuta bahkan lebih...manalah rela aku beli yang seperti itu...hiks... Beginilah nasib orang yang ingin konsisten berbatik sebenar-benarnya tapi modalnya cekak...

Jadi dengan sedikit usaha bawa baju ke tukang jahit (sekalian jalan-jalan ke pasar baru) aku bisa dapat baju batik cap asli yang biayanya setara dengan batik keris printing....yang kayaknya... semua orang pake batik keris...sehingga siap-siap aja nemu kembarannya ketika lagi jalan...

Ayo semuanya...jangan ragu untuk pakai batik sebenar-benarnya....ga pake mahal asal mau sedikit repot...

Read More..

Menjadi Trainer

Ada permintaan dari training center kami untuk mengirimkan narasumber sekaligus trainer pada acara pelatihan yang berhubungan dengan pekerjaanku. Dan kebetulan Big Boss minta seseorang dilevelku yang kompeten untuk jadi trainer itu. dan Bossku- menugaskan aku atau temenku untuk menjalani itu..

Waaahhhh...jadi trainer?..walaupun untuk materi yang memang aku kuasai, tapi aku merasa ga sanggup.
Pertama, aku hanya pengalaman di satu lender saja....ada spesifikasi lender lain yg lebih kompleks masalahnya dan aku ga tau detil tentang itu. Aku sadar bahwa pengetahuanku sungguh parsial sehingga aku ga bisa bicara tentang bidang tugasku ini secara holistik. Kalau sekedar baca bahan siy mungkin bisa saja...tapi aku merasa ga fair dengan para peserta nantinya...
Kedua, lamanya training adalah 8 jamlat jadi ya kira-kira sehari penuh...walaupun ada kurikulum yang diinginkan untuk dijelaskan...tetap saja 8 jamlat itu lama sekali...aku ga punya kompetensi untuk menyampaikan materi selama itu. kalo jadi narasumber di sebuah workshop dalam 2 jaman siy mungkin aku bisa...tapi memberi materi selama itu tentu butuh kemampuan ice breaking dan simulasi materi yang memadai...sedangkan aku sama sekali ga tau mesti melakukan apa...

Maka, dengan sedikit manahan malu, aku menghadap boss-ku menyampaikan ketidaksanggupanku ini. Dan beliau, walaupun cukup memahami kakhawatiranku ini, tetep meminta salah satu dari kami untuk memenuhi permintaan itu. Lalu aku sampaikan ke temenku itu bahwa aku ga sanggup..!! sempat eyel-eyelan dikit..karena temenku itu juga merasa ga sanggup...tapi dia punya bayangan apa yang bisa dilakukan dalam 8 jamlat itu...jadi minggu kemaren berlalu tanpa ada kesimpulan, siapa yang akan mewakili tugas itu...bahkan temenku itu minta kami suit agar bisa ditentukan siapa yang jadi wakil....tentu saja aku ga mau...(karena aku paling ga bisa suit...kalo kalah kan..... waaaaa....aku ga sanggup...)

Pagi ini, ketika aku menawarkan kepada temenku itu untuk lapor ke boss pengganti (boss-ku sendiri sedang cuti) bahwa kami ga bisa mewakili....ternyata dia menyanggupi untuk mewakili...karena dia ga enak dengan boss yang jelas-jelas tetap meminta salah satu dari kami untuk mewakili....syukurlah.....karena aku pribadi sudah menyampaikan bahwa aku merasa ga kompeten...dan temanku itu belum bicara secara langsung...so dia merasa ga enak untuk begitu saja mengelak dari tugas pada saat beliau cuti.

Eniwei....aku jadi kepikiran untuk berlatih jadi trainer....bukannya ada TOT (training of trainer)?...mestinya di TOT itu dilatih untuk jadi trainer serta trik-trik untuk membuat peserta tetap bersemangat mengikuti materi yang disampaikan...

Aku kan ga bisa ngeles terus seperti ini kalo lain kali ada penugasan yang sama...lagian bisa juga untuk menambah pengalamanku sendiri sehingga bisa lebih beragam....

Hhmmmm....sepertinya bisa jadi resolusi tahun ini niy.....

SEMANGAT...SEMANGAT....

Read More..