Senin, November 29, 2010

Korban Diskon

Biasanya aku selalu memanfaatkan momen 'SALE' untuk mengupgrade baju anak-anakku. Jadi aku dapat baju dengan kualitas yang bagus namun dengan harganya separonya bahkan bisa lebih. Bukannya aku ini 'brand-minded', tapi karena barang-barang bermerk itu memang lebih awet dan lebih bagus. Lagipula brand disini juga hanya merek lokalan saja, sebangsa Cool, Popeye/Olive, Simpsons,..yaaa sejenis itu lah. Jadi momen-momen 'SALE' seperti itu menjadi sangat bermanfaat bagi kantongku dan aku bisa berkata dengan tegas bahwa aku tidak menjadi korban diskon...hanya berusaha MODIS...(MOdal DISkon...heheh). Aku hanya beli barang-barang diskonan itu sesuai dengan kebutuhan anak-anakku.

Dulu, aku sendiri juga menggunakan cara yang sama untuk meng-upgrade baju dan peralatanku. Nunggu ada diskon dulu, baru bela-beli sesuai kebutuhan. Makanya aku ga pernah mengikuti trend yang ada. Model baju dan peralatanku semuanya yang klasik, jadi dipakai kapan pun tetap pantes. Namanya juga nunggu diskon, jadi kalau maksa mengikuti trend ya pasti telat...ga cocok lah.

Tapi akhir-akhir ini, entah mengapa aku tidak lagi menunggu ada diskon. Jika sedang butuh sesuatu dan aku suka maka tanpa diskonan sama sekalipun tetap saja kubeli. Kupikir-pikir lagi, mungkin karena aku sudah bosan menahan diri, menahan untuk beli sesuatu karena menunggu barang itu didiskon. Teman-teman perempuan di sekelilingku ga ada yang menahan diri seperti aku. Saat mereka butuh ataupun ingin, langsung saja belanja tanpa pikir panjang.

Aku tau dan sadar bahwa tidak seharusnya terpengaruh orang lain seperti itu. Tapi setidak-tidaknya aku bisa beralasan bahwa aku memang membutuhkan barang-barang itu.

Parahnya..alasan 'butuh' itu tidak berlaku untuk barang yang satu ini. Aku sangat suka arloji...sukaaa banget dan arloji adalah satu-satunya aksesoris yang menonjol padaku. Aku ga pernah memakai perhiasan sebangsa gelang dan kalung seperti kebanyakan perempuan di sekitarku. Tapi aku memakai arloji.

Sebetulnya aku punya 3 arloji yang sering kupakai setelah ada yang aku hibahnya untuk adikku. Kemudian, pas training ke Singapore lalu aku dapat arloji cantik DKNY dengan separuh harga. Arloji cantik yang bisa juga berfungsi sebagai gelang... Sayang seribu sayang..belum genap setahun..aku sudah menghilangkannya karena kecerobohanku... Aku lupa..kutaruh dimana arloji itu.

Semenjak itu rasanya aku jadi terobsesi untuk punya arloji satu lagi. Sampai akhir Oktober 2010 lalu, di Puri Mall ada midnight sale, termasuk ada counter Guess dadakan disitu. Semua item diobral habis...dari baju anak sampai ikat pinggang. Dan aku melihat ada satu arloji cantik berwarna pink dengan harga yang didiskon 50%....wah aku langsung jatuh cinta dan tanpa pikir panjang kubayar di kasir. Ternyata masih diskon lagi 20%....rasanya seneng banget dapat arloji cantik dengan harga yang minimum.

Aku tetap bisa berdalih bahwa aku tidak menjadi korban diskon. Alasanku... hey...ditanganku ini hanya ada arloji saja..jadi wajar saja kalau aku punya beberapa. Apalagi sudah ada satu yang bolak-balik masuk tempat service.

Tappiii....akhir minggu lalu aku tidak bisa berdalih lagi.. Ya..aku korban diskon. Ketika mataku melihat ada arloji seiko yang macho tapi cantik dengan diskon 50%..aku tidak bisa menahan diri..aku seperti terpesona sehingga tanpa pikir panjang aku membelinya. Padahal belum lagi genap sebulan aku beli barang yang sejenis. Aku tetap beli lagi dengan alasan diskon yang lumayan...

Waaaaa....aku beneran jadi korban diskon...

Sedih banget ketika Detya bertanya tanpa maksud apapun...."Waah...arloji Bunda baru lagi ya..kan kemarin masih baru juga. Bagus Bunda"

Aku seperti tertampar dengan kata-kata terakhir.
Read More..

Senin, November 15, 2010

Melankoli Kota Batu

Selain 4 teman perempuan waktu kuliah yang kami sebut DEWIDANENI (dewi, Ida, Ade dan Eni), kami juga punya teman laki-laki yang kami sebut ALIWANDIPUL (Ali, Iwan, Andy dan Ipul atau Saiful). Hmmm..empat cewek dan 4 cowok...seakan-akan berpasangan ya...

Padahal yang akhirnya berpasangan adalah aku dan Saiful saja, selainnya murni berteman. Nah salah satu teman mainku adalah Iwan.

Iwan ini unik menurutku, dia tipe yang ga pernah absen bersenang-senang tapi selalu mendapat nilai terbaik di kelasku. Jadi aku sempat berpikir, kapan Iwan ini belajar kalau setiap acara bermain kami selalu saja dia tak pernah ketinggalan. Kalau teman yang pintar tapi ga gaul...banyak (apalagi di IPB)...Tapi yang seperti Iwan ini sangat jarang. Kalau yang seperti aku, pandai bersenang-senang dengan prestasi pas-pasan....nah ini juga cukup banyak :D

Nah, Iwan ini baru balik dari New York setelah 10 tahun bekerja disana. Beberapa bulan sebelum dia pulang kampung for good, aku sering baca status-statusnya di fesbuk yang mengisyaratkan dia telah mencapai semuanya. Baik secara materi maupun spiritual...terutama dari spiritualnya. Tentang betapa yoga telah membuat dia terinspirasi dan merasa kembali murni di dalam hatinya. Tentang perjalanannya keliling dunia. Kupikir dia telah mencapai suatu nilai spiritual dari semua pengalaman hidupnya.

Lalu dia kembali ke kota asalnya, dan rupanya dia sedang menulis memoar tentang hidupnya. Tentang dia yang bukan siapa-siapa yang besar di Kota Apel Batu sampai akhirnya mencapai karier tertinggi di Big Apple New York.

Dalam suatu dialog kami di fesbuk, dia menuliskan salah satu kutipan paragraf di memoarnya itu. Sungguh kalimat-kalimat yang khas Iwan...walaupun susunan kata seperti itu tidak terlalu menggugah minat bacaku. Hey..aku penggemar Pramudya Ananta Toer dengan kalimat-kalimatnya yang lugas dan apa adanya...jadi kalau ketemu tulisan yang halus seperti gaya bahasa Iwan..aku perlu berkali-kali baca untuk memahami maksud di balik kalimat itu. Intinya....daya ngehku rendah untuk kalimat-kalimat puitis...walaupun aku selalu kagum betapa para penulis puisi mempunyai perasaan yang halus sehingga bisa merangkai kata seindah itu.

Lalu ternyata awal november lalu Iwan sudah menerbitkan buku puisi dan fotografi bekerja sama dengan temannya. Jadi puisinya ditulis Iwan sedang fotonya oleh teman itu.

Puisi indah yang menggambarkan suasana keseharian di Kota Batu...lengkap dengan foto-foto yang mewakili puisi itu. Sebenarnya aku sendiri bertanya-tanya..ini foto dulu yang ada kemudian digambarkan melalui puisi atau puisinya dulu yang muncul untuk kemudian dicarikan foto lokasi yang sesuai...

Eniwei...sedikit banyak motivasiku memiliki buku ini adalah Iwan Setyawan sendiri...dia teman baikku...teman menjalani kehidupan Kampus IPB dalam kegembiraan. Humor-humor Iwan yang ga pernah keliatan sedih membantuku mengatasi ketidakberdayaanku....saat homesick...maupun saat kelabakan mengerjakan tugas...ataupun saat stress menghadapi ujian. Jadi aku harus punya...entah ketika membacanya aku butuh berulang-ulang untuk memahaminya..itu lain soal...

Jadi Iwan....good luck with your writing career....can't wait for your memoar and novel...



Pak Ponimin terus melangkah dengan sandal jepit birunya.
Dengan gagah menyambut pagi,
memecah batu-batu di sepanjang Kali Brantas

Ia terus melangkah.
Beban hidup, diangkat dipundaknya,
melewati arus kali yang tak pernah berhenti.

Otot bahu, tangan, dan punggungnya adalah sebuah garis hidup,
lukisan kekuatan seorang laki-laki yang berani merampungkan hari demi hari,
mengangkat pecahan batu-batu,
mengumpulkan serpihan-serpihan hidupnya.


*cuplikan dan foto di atas diambil dari fesbuk Iwan Setyawan.
Read More..

Jerawat Seksi

Seumur-umur aku tidak pernah bermasalah dengan jerawat. Jaman puber dulu, jerawat hanya muncul sekedarnya di jidat atau di pipi, tapi tidak pernah yang sampai meradang dan bermata kuning. Intinya, jenis mukaku yang kering ini menyelamatkanku dari bencana jerawat yang banyak dialami teman-temanku dulu.

Nah, dari minggu lalu, tiba-tiba nampak bentol merah kecil di daguku yang terasa tidak nyaman ketika disentuh. Waah...kenapa tiba-tiba ada jerawat ya dimukaku.

Eniwei, si bentol kecil ini rupanya meradang dan akhirnya...pagi ini aku punya jerawat meradang yang bermata kuning itu...huwaaa...rasanya nyeri tanpa disentuhpun. Dan suamiku hanya tertawa melihat jerawatku ini.

Sepanjang perjalanan dari rumah ke kantor, berulang-ulang aku tanya suamiku (karena aku tidak berpengalaman masalah jerawat yang begini ini), apakah perlu kupencet jerawat ini agar rasa nyerinya menghilang. Tapi suamiku meminta aku untuk membiarkannya kering sendiri...sigh...

Maka setibanya di kantor, aku merasa tidak percaya diri karena merasa semua orang memperhatikan jerawat besarku ini.

Tapi disamping merasa agak-agak malu, ada yang bikin aku serasa mau nari-nari di tengah hujan ala India. Ketika turun dari mobil dan cium tangan suamiku seperti biasanya...tiba-tiba suamiku bicara dengan lembutnya..."ciumnya mana...?"

Aih..aih....sepertinya beneran efek jerawatku ini deh...sudah dua taun aku berhenti melakukan ritual cium tangan dilanjutkan kecup ini *langsung ubek-ubek file pengen tau tepatnya sejak kapan*

Semenjak suamiku menolak ciuman berpisah di pagi hari ini, aku memutuskan hanya akan mencium tangan suamiku ketika berpisah dipagi hari. Beliau pun tak pernah merasa kehilangan dengan ritual kecup itu.

Sampai tadi pagi tiba-tiba beliau ingin kecupan itu lagi.....ah....gimana aku ga langsung pengen nari hujan dan berterima kasih pada jerawat seksi ini....

Jadi jerawatku satu-satunya yang berasa nyeri....beruntunglah kamu tidak kupencet hari ini....
Read More..

Senin, November 01, 2010

Menjemput Anak-Anak

Bagiku kegiatan menjemput Detya dan Javas sepulang sekolah selalu menjadi saat yang menarik. Berlomba dengan waktu, untuk menikmati sejenak lari dari rutinitas kantor. kenapa berlomba dengan waktu? Karena kadang-kadang, jika ada rapat jam 2, aku ga bisa bersantai sepenuhnya untuk menjemput dan berbincang dengan mereka. Hanya menjemput dan selalu menghitung mundur anak-anak agar mereka tidak lepas waktu.

Maksudnya begini, Detya dan Javas sangat menikmati waktu sepulang sekolah mereka dan menunggu aku datang menjemput. Mereka bermain-main segala rupa dengan teman-temannya sehingga susah untuk diajak bergegas pulang. Kalau tidak ada agenda lain sih, aku tidak mempermasalahkan menunggu mereka menikmati permainannya barang 10-20 menit. Tetap ga bisa lama-lama. Atau aku yang sengaja datang 15-30 menit lebih lambat dari jam pulang untuk memberi mereka waktu bermain. Namun apabila ada agenda rapat, maka baru datang pun sudah meminta mereka bersiap dalam sepuluh hitungan. Ya, kadang-kadang meminta mereka memilih antara sekarang juga atau dua menit lagi. Tentu saja mereka akan memilih dua menit lagi. Dan jika kurang 30 detik lagi, maka hitung mundur dimulai. Dan mereka akan otomatis bergegas menyesuaikan hitung mundur itu. Tepat dihitungan 1, mereka pun siap dan aku tidak kehilangan banyak waktu.

Andalanku pas menjemput anak-anak adalah ojek yang biasa nongkrong di depan kantor. Dan mereka sudah terbiasa dengan beberapa ibu-ibu yang minta di antar ke Istiqlal. Karena naik ojek yang sudah siap berangkat, maka waktu tercepatku menjemput Detya dan Javas terus langsung mengantar mereka ke penitipan adalah 10 menit. Ya..luar biasa cepat karena sudah memberi peringatan pada anak-anak di pagi hari agar mereka segera bersiap kalau siang nanti kujemput. Chit-chatnya ya selama di motor tukang ojek...tentu saja chit-chat yang tidak berkualitas tapi setidaknya mereka bisa cerita tentang perasaan mereka hari ini.

Bulan-bulan seperti ini, suamiku teramat sangat sibuk, bahkan malam pun selalu lembur dan tiba di rumah selewat tengah malam. Aku sudah memahami kondisi seperti ini sehingga jika tidak benar-benar mendesak, aku tidak meminta suamiku untuk menjemput anak-anak. Namun ada kalanya aku harus rapat di luar kantor sehingga aku sama sekali tidak bisa menjemput anak-anak. Kalau sudah begini, maka mau ga mau harus minta suamiku menjemput. Aku pikir toh suamiku hanya berkutat dengan berkas, tidak menghadapi orang lain sehingga jika disela barang 30-40 menit juga tidak akan mengganggu pekerjaannya.

Masalahnya, ternyata waktu yang dibutuhkan suamiku untuk menjemput selalu tidak kurang dari satu jam. Anak-anak selalu molor di sekolah jika Ayah yang menjemput. Belum lagi proses antara turun ke parkiran kantor dan akhirnya parkir lagi di Istiqlal butuh lebih dari 10 menit. Meminta anak-anak bergegas dan karena ga pernah dikasih batas waktu seperti yang kulakukan, jadi proses yang bikin bete Ayah. Maunya menjemput anak-anak bisa keluar sejenak dari rutinitas, tapi karena anak-anak molor jadi malah bikin Ayah berkeluh kesah. Belum lagi jika sampai di penitipan, anak-anak selalu minta ini itu sama Ayahnya dan Ayah ga bisa menolak. Ini itu maksudnya ya jajanan di depan penitipan anak-anak (yang masjid juga). Intinya adalah jika Ayah yang jemput, maka proses akan berlangsung ribet dan diakhiri dengan Ayah yang cemberut.

Maka suatu pagi saat aku tau bahwa seharian ini aku diluar kantor, aku sampaikan permintaanku agar kalau bisa Ayah yang menjemput. Jawaban suamiku adalah:

"Kalau bisa pekerjaan kecil-kecil seperti ini didelegasikan ke orang lain deh"...

Hmmm...rupanya kami berbeda pendapat tentang urgensi jemput-menjemput ini. Suamiku yang didasari dengan betapa ribetnya saat menjemput anak-anak, menganggap pekerjaan seperti ini merupakan pekerjaan kecil-kecil yang sebaiknya didelegasikan ke orang lain ya misalnya OB kepercayaan di kantor atau siapa lah.... sedangkan bagiku sendiri, saat menjemput seperti ini adalah hiburan sejenak keluar kantor untuk mendengarkan celoteh anak-anak tentang harinya tadi. Memang aku tidak memungkiri betapa ribetnya mereka saat-saat seperti itu, tapi aku bisa mangaturnya seperti yang kuceritakan tadi. Selain pijakan di pagi hari, juga hitung mundur mengatur waktu mereka agar tidak melenceng jauh. Dan jika aku bicara dengan tegas menolak rajukan mereka saat tiba di penitipan, maka semuanya berlangsung aman-aman saja. Lebih banyak senangnya malah.

Dan jika dengan sangat terpaksa kami berdua tidak bisa menjemput, maka aku lebih baik meminta bantuan teman-teman yang lain untuk nitip jemput anak-anakku (sebenarnya spesifik satu orang sih...bantuan Mba Devi dan suami).

Sebenarnya, jika tidak di bulan-bulan ini (september - desember), suamiku juga senang-senang saja tiap hari menjemput anak-anak, walau butuh waktu lebih dari sejam...walau diribeti anak-anak dengan berbagai rajukan dan permintaan. Tetap dengan laporan penuh keluhan tentang perilaku anak-anak, saat kami bertemu di sore sepulang kantor.

Jadi sampai bulan Desember nanti, aku akan berusaha agar Ayah ga perlu menjemput anak-anak. Dan jika aku sendiri tidak bisa...tetap akan minta bantuan orang lain saja daripada Ayah benar-benar menganggap pekerjaan jemput menjemput ini hanya pekerjaan kecil yang bisa didelegasikan ke orang lain...
Read More..