Senin, Juni 28, 2010

Evaluasi Akhir Tahun Detya

Ketika mengambil hasil evaluasi akhir tahun Detya hari Jumat kemarin, aku tidak terlalu memikirkan masalah nilainya. Setelah melewati 2 kali UTS dan 1 kali UAS lalu, aku sudah pasrah dengan pola belajar Detya di UAS kali ini.

Aku dulu bercita-cita bisa duduk bersama dengan anak-anakku setiap malam menemani mereka belajar apapun. Ternyata yang bisa aku lakukan adalah berbincang bersama mereka sepanjang perjalanan berangkat dan pulang kerja. Juga bercerita atau membacakan cerita ketika mau tidur. Mungkin juga kondisi untuk belajar seperti itu belum muncul di kelas satu karena anak kelas satu masih belum dapat PR pelajaran. Jadi ketika Detya ujian, aku juga tidak bisa membuat dia untuk mengulang pelajaran yang akan diujikan.

Dulu aku sering cemas, ketika Detya sama sekali ga belajar untuk ujian dan ketika kutanya tentang bagaimana ujian hari ini jawabannya selalu saja "aku lupa". Tapi ketika hasil ujian keluar dan semua nilainya baik-baik saja maka kecemasanku itu perlahan luntur dan ketika UAS kemarin, aku sama sekali pasrah dengan pola belajar Detya.

Maka ketika ambil raport kemarin, aku hanya bertanya bagaimana sih Detya ketika belajar di kelas karena dia selalu beralasan ketika ku ajak belajar di rumah. Gurunya meyakinkan aku bahwa Detya sangat fokus ketika di kelas dan sama sekali ga terpengaruh dengan perilaku teman-temannya. Guru hanya perlu mengingatkan sekali jika Detya belum melakukan sesuatu.

Aku juga berdiskusi tentang betapa masih sensitifnya Detya dalam menanggapi komentar teman-temannya. Gurunya menceritakan bahwa memang Detya gampang tersentuh atas komentar teman-temannya namun selalu bisa menyelesaikannya saat itu juga setelah diberi tawaran 'mau diselesaikan sekarang atau nanti?'. Mungkin karena dia cerita kepadaku saat sudah tidak bisa menyelesaikan langsung sehingga seakan-akan bagiku dia jadi teramat sensitif.

Satu hal yang menjadi poin bagi gurunya adalah untuk anak-anak seumur Detya sangat perlu pengulangan-pengulangan sehingga kemudian bisa menjadi perilaku dia. Bagi guru, bedanya dengan mengajar anak kelas 5-6 adalah anak besar sangat gampang membuat jengkel guru, tapi kalau anak kelas 1 bikin capek karena pengulangan-pengulangan itu, tapi lebih menyenangkan karena mereka melakukan sesuatu hanya karena tidak tau.

Jadi untuk mengatasi moody-nya Detya ya harus berulang-ulang memberikan 'Pesan Saya' dan 'Mendengar Aktif' karena ya hanya itu yang bisa dilakukan untuk membangun kepercayaan dirinya.

Satu lagi yang terpikirkan ketika menghadapi tingginya empati Detya dengan kurang mandirinya Javas. Pengalaman selama ini, Javas jadi kurang mandiri karena Detya selalu berusaha membantu Javas, sehingga kami berpikir untuk memisah Javas dan Detya di sekolah yang berbeda. Mengingat Detya yang lebih matang sosial emosinya, maka dia yang akan kami pindahkan ke sekolah lain. Tapi itu masih wacana dan kami perlu melihat bagaimana perkembangan setahun ini. Jika mereka bisa menjalankan kehidupannya secara terpisah (maksudnya Detya ga banyak membantu Javas) maka bisa jadi mereka berdua tetap sekolah di Istiqlal.

Yaaaah...inilah praktek nyata bahwa tiap anak adalah pribadi yang unik...jadi treatment untuk masing-masing anak harus sesuai dengan karakter masing-masing...ga bisa disamaratakan..

hmmmm...aku yang baru menangani 3 anak saja sudah sering kalang kabut begini...bagaimana dengan para guru ya...mereka benar-benar harus punya persediaan sabar yang ga terbatas....


Read More..

Kamis, Juni 24, 2010

Mbah Putriku



Mbah Putri dengan cucu dan cicitnya

Mbah Putriku sudah sangat sepuh, aku tidak tau berapa tepatnya umur Mbahku ini, yang jelas lebih tua dari umur pak Suharto, mantan presiden kita dulu. Yaa..sekitar 90 tahun lah. Alhamdulillah sampai sekarang mbahku masih sehat. Walau beberapa kali harus ke rumah sakit ketika beliau terjatuh, namun akhirnya beliau kembali sehat.

Pendengaran Mbahku juga masih tajam, terbukti berkali-kali aku telepon, beliau bisa mendengarkan ucapan-ucapanku, walau tidak bisa menebak suaraku kecuali aku beritahu sendiri bahwa aku ini Dewi, cucunya yang jauh di Jakarta.

Foto di atas adalah foto yang sangat berkesan buatku karena di foto itu ada Mbah Putriku dengan semua cucu dan cicitnya. Waktu itu orang tuaku dapat giliran untuk menjadi tuan rumah pertemuan rutin tahun yang waktunya dipasin dengan halal bihalal di Hari Raya Idul Fitri.

Cicit yang paling besar sekarang berumur 24 tahun dan sudah merencanakan pernikahannya. Aku sangat berharap Mbah Putriku ini diberi umur panjang dan kesehatan yang baik sehingga beliau bisa menimang canggahnya nanti. (tau kan canggah?..anak dari cicit..)

Menurutku foto ini adalah foto langka, karena kami belum pernah berkumpul selengkap ini. Walau tiap tahun selalu saja acara pertemuan ini diadakan, tapi selalu saja ada yang ga bisa datang ke pertemuan itu. Contohnya aku sendiri di tahun 2009. Aku ga bisa pulang kampung ke Banyuwangi karena waktu libur Lebaran yang mepet, hanya cukup untuk dihabiskan di Kediri saja.

Jadi Pakde Cholik, saya ikutkan foto ini di acara The Amazing Picture. Kalau dianggap tidak masuk kriteria karena foto dirinya tampak teramat kecil (lingkaran merah)...ya ga apa-apa. Disini aku sekaligus ingin mengenang Mbah Putriku yang selalu sabar dan telaten menghadapi semua kelakuan cucu-cicitnya... Dan terutama kepadaku....Beliau sangat perhatian kepadaku baik saat aku masih di Banyuwangi dulu, ketika kuliah di Bogor, ataupun saat ini ketika sudah beranak tiga dan jauh sekali dari Beliau....

Lain kali aku akan bercerita lebih detil tentang Mbah Putriku ini....

Mbah.... semoga sehat selalu ya...Insya Allah Lebaran ini Dewi bisa sungkem sama Mbah...
Read More..

Selasa, Juni 22, 2010

Menjadi Pemimpin

Hasil tes psikologi tahun lalu ketika training di Magelang menunjukkan kalau aku ga ada kompetensi untuk jadi pemimpin. Beberapa bulan lalu juga kembali ada assessment dari kantorku dan rasa-rasanya jawaban-jawabanku masih sama saja sehingga hasilnya bisa jadi juga menunjukkan kalau aku ga ada kompetensi untuk jadi pemimpin.

Bisa kumaklumi sih, karena memang itu juga yang aku rasakan. Aku ga berani mengatur sebuah tim agar berjalan dengan baik dengan pembagian pekerjaan yang adil. Aku juga kurang bisa meyakinkan diriku sendiri bahwa orang lain juga akan mengerjakan tugasnya dengan baik sehingga seringkali aku kerjakan semuanya sampai akhirnya badanku rontok sendiri. Aku juga sangat ga berani menghadapi konflik ketika ada beda pendapat dalam tim. Jadi rasanya bisa dipastikan akan susah mengharapkan aku akan bisa jadi pemimpin yang baik.

OK, seharusnya aku mulai belajar menghilangkan semua perasaan negatif tentang menjadi seorang pemimpin. Aku seharusnya banyak belajar dan mengamati bagaimana bos-bos di sekitarku menjalankan kepemimpinannya. Tapi aku belum menemukan contoh yang bisa kujadikan acuan. Bos yang terdekat di sekitarku, yang kuanggap terbaik dari yang lainnya saja, masih kurasakan kurang tegas. Beliau seorang penengah yang ulung, dalam setiap forum beliau bisa mengakomodasi semua kepentingan tanpa menjatuhkan kepentingan yang lain. Hanya saja, karena selalu mengutamakan jalan tengah, pada akhirnya ga ada keputusan final yang diputuskan. Semua serba tengah-tengah, masalah jadi ga terselesaikan secara tuntas. Selalu saja ada pending matters.

Kalau selalu di tengah-tengah gitu, jalan aman yang selalu ditempuh. Ga ada breaktrough yang ditawarkan. Ketika sudah begitu, aku jadi gemes sendiri karena bagaimanapun aku ga punya wewenang lebih untuk memunculkan ideku. Taaappiiii...ketika selang beberapa waktu aku memikirkan lagi ideku itu ternyata memang masih banyak bolongnya dan memang hanya untuk antisipasi sesaat saja.

Dulu, ketika aku baru pertama bekerja dulu, aku bekerja di bawah seseorang yang aku anggap ga pernah mau mengambil tanggung jawab ketika terjadi kesalahan. Aku selalu berpikir bahwa orang ini bisanya hanya cari kambing (hitam) saja. Ga mau mengambil tanggung jawab penuh. Bukankan beliau yang membubuhkan paraf dan tanda tangannya, jadi sudah sewajarnya bertanggung jawab jika ada masalah. Maka sejak itu aku berjanji, bahwa jika suatu ketika aku berada dalam posisi yang sama dengannya, aku ga akan mengorbankan anak buahku.

Momen itu pun ternyata terjadi, suatu ketika stafku menghilangkan satu surat teramat penting. Tentu saja aku jengkel setengah mati sama stafku itu, mana waktu itu aku masih junior di tempatku itu. Setelah berusaha tetap ga ketemu, aku berusaha cari solusi untuk menggantikan surat yang hilang itu dan langsung menghadap Bosku dan mengambil semua tanggung jawab kesalahan itu pada diriku sendiri, aku ga menyebut-nyebut tentang stafku itu. Yang membuatku salut adalah Bosku itu sama sekali ga memarahi, hanya menanyakan apa yang bisa kita lakukan, dan aku memang sudah punya solusi. Beberapa bulan kemudian, surat itu ketemu dan tentu saja aku lapor pada Bosku. Saat itulah beliau mengingatkanku panjang lebar tentang bertanggungjawab atas pekerjaanku. Tentu saja saat itu aku sudah ga sedih lagi, jadi nasehat beliau aku camkan dengan baik tanpa ada airmata yang terurai. Bisa dibayangkan kalau saat pertama lapor dulu, beliau langsung bereaksi seperti itu, bisa berurai air mata seharian aku.

Hadoh..jadi panjang lebar begini. Intinya karena aku masih belum menemukan contoh langsung pemimpin yang baik yang bisa kujadikan acuan, aku masih saja belum punya kepercayaan diri untuk jadi pemimpin.

Saat ini, aku dan teman-teman di kantornya sedang merencanakan acara santai bersama. Dari awal aku hanya jadi pendukung buat temanku yang berinisiatif untuk mengerjakan tugas ini. Dari awal, karena temenku itu harus training dalam waktu yang lama keluar kota, maka akulah yang melakukan pencarian informasi awal. Nah, ketika temanku itu balik, maka secara resmi tugas penyiapan itu dimulai dan pembagian pekerjaan dilakukan. Daaan ternyata kekawatiranku untuk jadi pemimpin itu muncul disini. Baru persiapan awal saja, bentrokan-bentrokan ide antara koordinator kegiatan mulai muncul. Melihat saja, membuatku keder. Mana bisa aku jadi leader dan memutuskan satu keputusan yang artinya mengabaikan ide yang lainnya. Belum lagi menghadapi orang yang ngambek karena idenya diabaikan...huwaaaaa......

Biarin deh.....aku selamanya jadi follower....daripada mesti bentrok dengan orang lain....

Saat-saat seperti ini aku jadi salut dengan Bosku itu yang selalu mengutamakan jalan tengah....
Read More..

Senin, Juni 21, 2010

Beda Pendapat Untuk Javas

Gimana ya memulainya..? Bahasan ini muncul ketika sabtu kemarin kami mengambil hasil evaluasi akhir tahun Javas yang terakhir di RA Istiqlal. Terakhir karena Javas sudah di TK B dan tahun ajaran depan dia sudah akan memulai babak baru di MI Istiqlal.

Sebenarnya sudah cukup lama aku dan suamiku beda pendapat mengenai perkembangan sosial emosi Javas. Janganlah Javas dibandingkan dengan Detya pada saat umur yang sama, karena dimana-mana, sosial emosi anak perempuan jauh lebih matang dibanding anak laki-laki. Namun tidak fair juga jika dibandingkan dengn sesama anak laki-laki diumur yang sama karena pada dasarnya tiap anak akan berbeda-beda kematangan pribadinya.

Nah, kalau membanding-bandingkan dengan teman-temannya, Javas memang terlihat berbeda, bahkan dari awal sebelum dia memulai pendidikannya di Istiqlal. Walaupun Javas sangat individual, tapi aku juga tidak bisa mengkategorikan dia sebagai anak dengan kebutuhan khusus karena dia tidak punya ciri-ciri tersebut. Dari awal suamiku khawatir sekali mengenai kebutuhan khusus Javas itu. Dan semakin yakin ketika memperhatikan Javas pada saat refleksi akhir tahun waktu itu. Javas tampak tidak fokus dan asik sendiri pada saat tampil di panggung

Disitulah letak beda pendapat kami tentang Javas. Aku masih menganggap dia masih normal sesuai tahapan umurnya, suamiku beranggapan perlu treatment khusus untuk Javas.

Pada akhirnya mempengaruhi diskusi kami dengan guru kelompok Javas waktu mengambil hasil evaluasi Javas. Suamiku butuh diyakinkan bahwa sosial emosi Javas adalah normal untuk anak seusianya dan dia sudah cukup cakap untuk melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi. Memang suamiku pernah mengemukakan wacana agar Javas mengulang TK-nya setahun lagi agar sosial emosinya semakin matang dan wacana itu kami diskusikan sabtu kemarin itu.

Pada dasarnya, guru kelompok menilai bahwa secara umum, untuk semua anak laki-laki, kecenderungan untuk memunculkan keakuan sangat tinggi, sehingga sangat susah untuk membuat anak laki-laki fokus ketika di lingkaran. Namun cara anak untuk memperhatikan pembicaraan guru juga beda-beda dan berdasarkan pengamatan selama ini, walaupun Javas tampak asik sendiri ketika dalam lingkaran, dia masih tetap nyambung ketika guru bertanya pada Javas. Ada anak yang ketika ditanya tetap ga nyambung walau dia tampak fokus, namun Javas cukup aktif ketika guru melempar pertanyaan atau memancing ide anak-anak. Jadi guru kelompok menilai itulah keunikan Javas.

Mengenai kekawatiran suamiku tentang perilaku Javas ketika di panggung, guru kelompok menyampaikan bahwa pada saat berlatih di kelompok, Javas tau mana perannya dan bisa tepat melakukan arahan guru. Namun kondisi panggung yang terbuka dengan panggung sendiri yang sudah penuh pernak-pernik, ditambah banyaknya penonton di depannya, bisa jadi membuat grogi Javas....demam panggung lah... Karena sebagian besar anak-anak jadi grogi dan sangat berbeda penampilannya dibandingkan saat gladi resik.

OK, perbedaan pendapat ini sungguh membuatku sedih. Seakan-akan kami tidak mempercayai kemampuan Javas. Aku percaya bahwa Javas baik-baik saja dan bisa melanjutkan ke MI walaupun terus terang aku kawatir dengan kemapuan kognitif Javas. Bukan berarti dia lambat mengerti...hanya saja konsentrasinya yang pendek dan rasa malasnya membuat dia memerlukan pengulangan-pengulangan yang terus menerus dan butuh usaha ekstra keras untuk dia bisa mengikuti irama belajar saat MI nanti. Usaha ekstra keras ini kumaksudkan bagi diriku sendiri agar tidak bosan-bosannya memotivasi Javas dan membantu konsentrasi belajar Javas.

Aku sudah terbiasa dengan kondisi Detya, yang walau kubiarkan begitu saja dia sudah dapat mengikuti kelas pertama MI ini dengan memuaskan. Aku tidak bisa melakukan hal yang sama untuk Javas. Pendampingan penuh harus aku lakukan untuk Javas.

Semoga aku bisa konsisten untuk itu...


Read More..

Jumat, Juni 18, 2010

Cacingan

Sungguh, saat ini kami sekeluarga ga ada yang cacingan. Hanya saja, sejak akhir tahun lalu kami merutinkan diri minum obat cacing (untuk anak-anak maksudnya, aku ga ikutan waktu itu).

Awalnya kami sedang berkunjung ke rumah teman yang berbaik hati ikut mencarikan rumah saat kami kasak kusuk mencoba cari rumah di sekitar kantor saja. Nah, percakapan teman tersebut dengan anaknya tentang segala macam jadwal kesehatan dengan dokter pribadinya (misalnya:imunisasi, periksa gigi, minum obat anti cacing), membuat kami terinspirasi untuk juga rutin minum obat cacing buat anak-anak kami. Jadi, langsung saja sepulang dari rumah teman tersebut kami beli obat cacing cair untuk anak-anak.

Lalu, mengingat sudah enam bulan berlalu semenjak minum obat cacing terakhir, maka awal bulan ini kami sudah mengingat-ingat untuk menyiapkan obat cacing itu sekaligus memotivasi mereka untuk hidup bersih. Kami janjikan untuk browsing masalah cacingan sehingga anak-anak tau sendiri masalah cacingan dan kebersihan ini.

Apalagi beberapa bulan lalu sudah ada berita heboh tentang anak umur 11 tahun yang cacingan dan ternyata ada 3 kg cacing di perutnya ketika akhirnya di operasi. Dengan bekal cerita tersebut, kami sekeluarga browsing sana sini dan hasilnya.....belum lagi selesai browsing itu, anak-anak dengan semangat 45 langsung minum obat cacingnya. Dan aku sendiri....karena sangat syok dengan gambar-gambar dan video tentang cacingan itu, langsung ikutan minum obat cacing. Begitu juga adikku, tapi suamiku rupanya cukup yakin bahwa beliau tidak cacingan sehingga tidak ikut-ikutan makan obat cacing.

Bener deh....segala informasi yang muncul itu benar-benar membuatku mual dan ngeri sendiri. Sejak itu, aku tidak perlu merepet panjang lebar saat memotivasi anak-anak untuk rajin-rajin cuci tangan dan berhenti ngemut-ngemut jari. Tinggal mengingatkan lagi apa-apa yang telah mereka lihat dan voila....langsung nurut cuci tangan pakai sabun.

Jadi teman.....jika anak-anak sangat sulit untuk sukarela cuci tangan pakai sabun....perlihatkan pada mereka betapa cacing-cacing itu akan beranak pinak di pencernaan kita.... Di jamin mereka akan mendadak sadar untuk selalu hidup bersih....(bahkan Wisam yang baru berumur 3 tahun itu teringat selalu untuk cuci tangan..)
Read More..

Senin, Juni 14, 2010

Javas dan Piala Pertamanya


Sabtu kemarin adalah acara Refleksi Akhir Tahun RA Istiqlal sekaligus pelepasan anak-anak TK B. Dan Javas termasuk yang dilepas tahun ini.

Kupikir acara bakal berlangsung seperti tahun lalu, yaitu orang tua dan anak maju ke panggung untuk menerima ijazah dan buku tahunan. Ternyata prosesinya lebih menarik dan aku yakin anak-anak pun menyukainya.

Anak-anak dibagi per kelompok masing-masing masuk dari depan dengan lampu yang sudah dimatikan, sedangkan Sang Anak memegang lampu kelap-kelip berbentuk tongkat yang biasa dijual di tempat-tempat ramai. Lalu Sang Anak dipanggil satu persatu untuk diserahkan kepada Orang Tuanya dan selanjutnya ke panggung bersama untuk menerima ijasah dan pernak-perniknya.

Yang bikin aku kaget (karena diluar rencana awal, yaitu ijazah dan buku tahunan), ternyata Sang Anak juga menerima piala yang berisi nama Sang Anak sendiri dan nama panggilan semua kelompok TK B.

Setelah kami menempati posisi di atas panggung, serta merta Javas, menarik-narik aku untuk kemudian berbisik: "Bunda, baru kali ini aku dapat piala begini", dengan wajah yang sumringah dan penuh senyum.....oouuuww...saat itu juga rasanya aku pengen langsung berterima kasih kepada siapapun yang punya ide memberikan piala itu.

Setelah acara selesai, aku dengar panitia dari orang tua cerita tentang asal muasal piala itu dan ternyata baru dipesan hari Kamis dan langsung jadi hari Jumat sehingga siap dibagikan di hari Sabtunya. Tak lupa aku sampaikan terima kasih atas segala upayanya sehingga perta kelulusan kali ini menjadi berkesan bagi anak-anak. FYI, tidak hanya anakku yang senang luar biasa dengan piala itu....banyak anak lainnya mengucapkan kalimat yang sama dengan yang diucapkan Javas.

Jadi buat para panitia, baik dari sekolah dan wakil orang tua, terima kasih atas segala kerja kerasnya ya.... Aku yakin Refleksi kali ini akan diingat oleh semua anak-anak, terutama yang diwisuda...
Read More..

Jumat, Juni 04, 2010

Cuka Apel dan Bir Pletok

Sepulang dari acara wisata Javas Mei Kemaren di Situ Babakan, Ayah membawa oleh-oleh Bir Pletok. Yaaah..sebenarnya aku yang penasaran dengan bir pletok ini, bagaimana rasanya. Makanya bolak-balik sms ayah untuk ngingetin jangan lupa beli bir pletok pas acara bebas.

Situ Babakan ya ini adalah kampung wisata Betawi dan sesuai tema bulan Mei di sekolah Javas, maka kunjungannya adalah ke Kampung Betawi itu, di Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan.. Kegiatannya selama kunjungan bermacam-macam, dari berlatih menari, silat Beksi, membuat ondel-ondel dari kok, menonton pertunjukan khas Betawi, termasuk acara bebas. Nah pas acara bebas ini, baru boleh belanja oleh-oleh makanan khas betawi.

Akhirnya aku dapat merasakan bir pletok. Dengan botol sebesar botol sirup (kurang lebih 650 ml), bir pletok dihargai Rp12.ooo,- dan menurutku jadi lumayan mahal. Coba bandingkan dengan minuman soda dengan harga yang lebih murah tapi dengan kemasan 1,5 liter. Dan rasanya pun begitu saja namun terasa lebih menyegarkan setelah dingin. OK, jadi inilah rasa bir pletok yang dominan rasa jahe dan entah rasa akar-akaran apa.

Saat yang sama di kulkas ada minuman bikinan adikku yang terpesona dengan kulit kencang sepupuku waktu pulang kampung lalu. Sepupuku cerita bahwa dia rajin minum cuka apel yang dicampur madu dengan perbandingan yang sama dan kemudian diencerkan dengan sedikit air. Sebelum-sebelumnya, aku ga ikut mencoba minuman itu karena pernah nyoba sesendok saja, rasanya sangat tajam di tenggorokan.

Nah, karena menurutku rasa bir pletok itu kurang tajam, maka aku berinisiatif mencampur minuman adikku itu dengan bir pletok. Dengan campuran yang dingin itu, rasanya menjadi lebih menyegarkan, sehingga berulang-ulang aku campur dua minuman itu. Walau tetap ada rasa panas ketika melewati tenggorokan, tapi terasa menyegarkan.

Maka ketika ramuan cuka apael itu habis, dengan semangat aku beli lagi cuka apel yang sama untuk bikin ramuan lagi. Setelah itu iseng-iseng browsing tentang cuka apel yang kubeli. Dan hasilnya, astaganaga....ternyata cuka apel yang diperbolehkan untuk dikonsumsi muslim itu yang berjudul 'Apple Vinegar' dan jika 'Apple Cider Vinegar' ga boleh dikonsumsi karena mengandung alkohol.

Dan yang sebelumnya kubeli dan selama ini kami minum dengan antusias adalah 'Apple Cider Vinegar'......ooo....pantesan terasa panas ketika lewat tenggorokan...pantesan kok malah jadi pengen minum lagi...minum lagi...

Ah..bir pletok yang jelas-jelas dikasih nama bir malah ga ada alkohol-alkoholnya sama sekali....malah cuka apel yang pengennya diminum untuk dapat kulit kencang, mengandung alkohol 0.01%....

Huaaaah...aku sudah pernah merasakan alkohol......


*tapi kalau sebelumnya ga tau, ga papa kan?...:(*
Read More..