Kamis, Juli 31, 2008

Mutasi

Waktu baru masuk kerja dulu, unit kerjaku terkenal karena kebijakan mutasinya yang luar biasa menyebar ke seluruh pelosok Nusantara. Kalau di tempat lain mungkin ada sistem zoning atau hanya di dalam satu provinsi yang sama, tapi di tempatku ini bisa sangat menyebar dari ujung timur ke ujung barat. Misalkan saya sekarang ditempatkan di Jakarta, tiga tahun lagi bisa saja saya dipindahkan ke Toli-Toli, atau jika sekarang ada di Biak bisa saja empat tahun lagi pindah ke Meulaboh. Benar-benar perpindahan yang tidak beraturan. Tidak ada yang bisa menduga kapan kita kena mutasi atau dimana kita akan dimutasi.
Dengan sistem yang demikian, setiap ada SK mutasi maka kehebohan akan melanda semua pegawai di unit kerjaku. Bahkan berita tentang kenaikan gaji masih tidak seberapa dibandingkan isu adanya SK mutasi yang baru. Saya sendiri juga menyadari bahwa kemungkinan yang sama akan terjadi mungkin di tahun keempat atau kelima dari masa kerjaku. Secara pribadi, kesempatan untuk mutasi saya tanggapi dengan berpikir positif, bahwa inilah kesempatan saya untuk menjelajahi bumi Nusantara dengan biaya dari kantor. Toh, tidak seterusnya saya akan berada di satu tempat tersebut. Paling lama mungkin 5 tahun kalau saya masih berstatus staf biasa. Jika posisi saya lebih tinggi sedikit maka paling lama 3 tahun saya akan pindah ke lingkungan yang baru. Saat itu saya masih single sehingga belum ada yang menjadi beban pikiran saya, cukup diri sendiri saja yang dipikirkan.
Namun memperhatikan kehebohan di antara teman-teman kerja yang lain saya mulai berpikir lebih jauh. Mencoba berpikir dari sudut pandang mereka yang telah berkeluarga. Bagi yang telah berkeluarga dengan anak-anak yang masih sekolah SD atau SMP, maka mutasi ini akan menyebabkan kepanikan yang amat sangat. Bagaimana orang tua harus menyiapkan perpindahan sekolah anak-anaknya, menyiapkan mental anaknya yang merasa sudah cocok dan punya teman akrab di tempat asal, menyiapkan angkutan pindah barang-barang rumah, menyiapkan rumah yang bisa disewa ditempat baru, dan sebagainya. Betapa repotnya…dan kejadian tersebut akan berulang setiap 3-4 tahun. Waah, tidak terbayang apa yang akan terjadi.
Ada satu cerita yang membuat hati saya miris jika memikirkannya. Suatu ketika ada pengumuman bahwa anak salah satu pejabat telah meninggal dunia. Dari bisik-bisik diketahui bahwa si anak yang sudah gadis melakukan bunuh diri karena tidak diijinkan ayahnya untuk berpacaran. Saya jadi kepikiran terus, apa yang menyebabkan si gadis untuk memutuskan mengakhiri hidupnya sendiri? Apa yang membuat hatinya menjadi lemah dan mengambil jalan nekat itu? Apakah karena terlalu seringnya dia berpindah tempat sehingga tidak pernah sempat menjalani pertemanan yang serius? Apakah karena selalu saja beradaptasi sehingga tidak bisa memantapkan pikiran? Sehingga kemudian ketika dia menemukan teman bicara yang pas di hati dan ternyata itupun dilarang oleh orang tua, menjadikan pikirannya buntu dan memutuskan untuk berhenti hidup daripada nanti harus beradaptasi lagi. Semua pertanyaan itu berputar terus di pikiran saya tanpa saya tahu jawabannya (membuat saya semakin pusing dan paranoid).
Cerita lain lagi tentang mutasi dialami kenalan dekat saya yang bekerja di tempat lain. Pada tahun 2001, dia dimutasi dari pemimpin cabang sebuah bank di daerah Biak untuk pindah ke kantor pusat di Jakarta. Anak terbesarnya saat itu kelas 1 SMP semester 2 yang baru saja merasa betah karena menemukan teman-teman yang cocok. Karena culture shock, maka si sulung stress sampai sering tidak sadarkan diri. Bukan pingsan tapi tidak menyadari apa yang sedang dirinya sendiri lakukan (seringkali bahkan sampai ngompol di kelas). Momen tidak sadar diri ini bisa berlangsung sampai satu jam. Orang tuanya sudah melakukan berbagai cara dan pengobatan untuk menyembuhkan penyakit anaknya ini. Salah satunya yaitu dengan memutuskan bahwa ibu dan semua anak akhirnya tinggal di kota asal sang ibu yang dianggap lebih familiar, sedangkan si bapak tetap di Jakarta sendirian. Tiap akhir pekan atau 2 minggu sekali, si Bapak mengunjungi keluarganya. Terakhir kabar yang saya dengar yaitu si sulung tadi menjalani operasi otak bulan Desember 2007. Beberapa inci bagian otak kirinya dibuang karena sudah rusak. Hmmm, betapa dahsyat akibat mutasi yang harus dijalani.
Pilihan berpisah seperti ini banyak dilakukan oleh teman-teman kantor saya. Sampai ada istilah BULOK, bujang lokal, artinya ya single di tempat kerja. Anak dan istri tidak menemani namun tetap tinggal di kota asal. Saya sendiri tidak membayangkan apa jadinya jika sebuah keluarga harus hidup terpisah seperti itu. Bukankan tujuan berumah tangga adalah untuk hidup bersama berbagi peran dalam keluarga?
Dari memikirkan kejadian yang menimpa orang lain ini saya mulai berpikir ulang tentang pendapat pribadi saya bahwa mutasi berarti keliling Nusantara gratis. Apalagi ketika saya sudah berkeluarga dengan anak yang berturut-turut lahir. Saya sudah tidak bisa lagi berpikir untuk keliling Nusantara lagi. Suami saya sudah pernah ditempatkan di luar Jawa selama 3 tahun. Dia sudah merasakan repotnya mengurusi perpindahan tempat kerja. Padahal saat itu dia masih single. Tapi kami tidak bisa lepas dari kebijakan mutasi selama kami masih kerja di unit yang sama. Jadi kami mulai menyiapkan mental untuk siap dimutasi. Apalagi waktu baru menikah dulu sudah merupakan tahun keempat buat saya dan tahun kelima buat suami di Jakarta. Untungnya pada tahun 2003, saya mendapat kesempatan tugas belajar sehingga minimal 2 tahun ke depannya, saya tidak akan terkena giliran mutasi. Ketika tahun kedua tugas belajar, giliran suami yang mendapat penugasan belajar ke luar negeri, sehingga nambah setahun lagi bakal bebas mutasi. Sampai ketika tahun 2005 saya kembali bekerja dan tetap ditempatkan di kantor pusat Jakarta maka saya cukup tenang karena dengan posisi saya sekarang minimal 3 tahun saya tidak akan kena giliran mutasi.
Namun ketika bulan Maret tahun 2006 suami saya juga kembali bekerja maka kami mulai lagi cemas akan mutasi yang mungkin menimpa suami saya, karena apapun yang terjadi saya memutuskan bahwa akan mengikuti kemana saja suami ditempatkan. Saya sudah bertekad untuk melepaskan posisi saya yang sekarang, jika nanti suami dimutasi keluar Jakarta. Dan untungnya, suami hanya dipindah di kantor daerah yang masih ada di Jakarta sehingga kami mulai menata lagi rencana masa depan, paling tidak sampai 3 tahun kedepan.
Nah, di akhir 2006 ini ada reorganisasi total di tempat saya bekerja sehingga saya bergabung di unit kerja baru yang kantornya hanya ada di Jakarta saja. Saya senaaang sekali bahwa sudah tidak ada kemungkinan mutasi keliling Nusantara lagi, namun tetap cemas memikirkan masa depan suami yang masih bekerja di unit yang lama. Artinya saya masih harus menyiapkan mental untuk pindah lagi karena prinsip saya yang tidak ingin hidup berpisah dengan suami. Sampai akhirnya pada pertengahan 2007, suami mendapat tawaran dari mantan bosnya untuk bergabung di unit yang lain yang juga hanya ada di kantor pusat Jakarta. Tanpa pikir panjang kami memutuskan untuk menerima tawaran itu dan sekarang kami berdua sudah pindah dari unit asal dan ada di unit baru yang tetap di Jakarta. Betapa leganya….

Sebenarnya, di hati saya yang paliiing dalam..saya masih memikirkan kemungkinan berkeliling Nusantara atas biaya kantor. Hehehe..bukan masalah gratisnya sih yang menjadi penekanan saya..tapi kesempatan untuk menikmati keberagaman Indonesia inilah yang masih menggelitik hati sanubari saya. Beberapa waktu yang lalu ada teman sekantor yang sudah mutasi ke Serui pada Oktober 2006 dan sekarang ditarik ke unit kerja saya. Dia menceritakan pengalamannya selama 1,5 tahun berada di Serui, walaupun berpisah dengan keluarganya dia berusaha menikmati Serui dengan segala pemandangannya yang menawan. Dia mengatakan bahwa Serui akan terasa indah jika kita hanya 3 hari disana, namun jika 3 tahun harus disana maka siksaan yang akan terasa. Dia merasa sangat kesepian disana karena jauh dari keluarga. Jika membawa keluarga pun belum tentu akan menyenangkan karena bahaya malaria yang mengancam setiap saat.
Namun melihat foto-foto pemandangan Serui yang diambilnya, diam-diam saya membayangkan apa yang akan saya lakukan dengan keluarga jika kami pindah ke daerah seperti itu. Akhir pekan akan kami isi dengan kamping sekeluarga di tempat-tempat special yang menawan. Bukan seperti sekarang ini, akhir pekan adalah saat beristirahat total di rumah saja setelah lima hari menghadapi jalanan ibukota yang luar biasa macet dan bikin capek lahir dan batin. Saya hanya bisa membayangkan momen ini dalam hati saja karena dengan intensitas kerja seperti sekarang, rasanya berlibur lama sekeluarga tidak akan bisa terjadi.
Awal Februari 2008 ada kabar yang berhembus kencang di tempat suami saya bahwa akan ada pembukaan kantor daerah untuk unit kerja suami. What?!?!... Kami berdua hanya bisa tersenyum lemah menanggapi kabar tersebut. Apakah ini jawaban dari isi hati terdalam saya? Setelah usaha keras menghindari mutasi…. akhirnya kemungkinan itu masih tetap harus kami pikirkan kembali…
Mutasi…mutasi….dikau akan tetap menghantui kami…
Tapi untungnya...sampai saat ini kabar itu hanya berhembus saja dan tidak sampai menjadi badai yang menghempas semua orang... O untungnya....untungnya... Read More..

Selasa, Juli 29, 2008

B2W ke-3..Lebih Cepat lagi 5 menit

Mulai minggu ini, aku dan adikku sepakat untuk mencoba B2W dua kali seminggu setiap hari Selasa dan Jum'at. Format tetap sama, aku jalur berangkat dan adikku jalur pulang. Kami ga mungkin berangkat berdua bersama-sama karena harus ada yang mengurus anak-anakku selama dalam perjalanan di mobil bersama ayahnya.
Adikku memintaku untuk mempertimbangkan mencoba jalur pulang, aku sanggupi dengan catatan jika aku sudah punya cukup nyali. Yaaa...kuingat-ingat sejak punya anak, nyaliku jadi ciut banget, sampai-sampai naik motor keluar kompleks aku sudah gemeteran setengah mati. Dari dulu suamiku sudah memintaku untuk belajar setir mobil agar aku mandiri, tapi sekali lagi aku ga punya cukup nyali untuk mencoba. Jadinya ya gini ini pasrah ke suami, kalau ga ada suami ya ngebis atau naksi (high cost banget...!).
Makanya suamiku ga setuju waktu aku bilang ingin beli sepeda biar bisa B2W. Buktikan dulu kalau berani baru boleh merencanakan apa saja. Tapi akhirnya kubatalkan sendiri rencana beli sepeda karena..ya seperti kubilang tadi..toh aku ga mungkin bersepeda bareng dengan adikku jadinya cukup pakai sepeda adikku dengan jalur yang bergantian. So..saat ini masih belum punya nyali jadi aku masih memilih jalur berangkat saja. Sebenarnya aku kawatir adikku berpikir aku memilih jalur brangkat karena biar ga repot nyiapin anak-anak pas brangkat, jadinya sedapat mungkin semua hal sudah siap ketika aku brangkat kecuali nyiapin anak-anak. Aku bangun tepat pukul 04.00 dan langsung preparation. Bekal, air dan jus kacang ijo, sarapan dan kentang goreng semua sudah siap ketika aku berangkat tadi pagi.
05.20 aku sudah keluar rumah tapi terpaksa harus kembali karena sarung tangan tertinggal. Jadinya tepat 05.25 aku brangkat...sudah lebih waspada dan agak lancar terutama ketika harus belok kanan. Aku sudah menemukan cara biar ga terlalu lama nunggu beloknya dan lumayan smooth belokannya kecuali yang di lapangan banteng barat, disitu kendaraannya galak-galak alias ga mau pelan sedikitpun walau aku sudah pasang pose melas dan ketakutan mo nyeberang. O ya..pas hampir nyampe lampu merah harmoni ketemu sama rombongan ayah, tante dan anak-anak, dengan semangat mereka teriak memanggil-manggilku...hehehe..seneng juga anak-anak ngeliat bundanya berusaha hidup sehat.
Dan tepat pukul 06.45 aku nyampe di parkiran kantor...wehehehe..1 jam 20 menit...sepertinya ini capaian maksimalku karena tadi aku nge-goesnya sekuat tenaga...Let's see this friday..Will I break this record?
Tapi sekarang ini aku sedang berpikir apakah sebaiknya jum'at ini aku coba jalur pulang aja ya...Kalau ga nyoba-nyoba trus kapan beraninya? Read More..

Jumat, Juli 25, 2008

B2W ke-2....lebih cepat 10 menit

Pagi ini aku bersepeda lagi. dengan berangkat 15 menit lebih siang menjadi 05.20 nyampe kantor hanya 5 menit lebih lambat menjadi 06.40. wehehehehe... lumayan lah. Soalnya..tadi pagi pas masih di daerah meruya, ada The real B2W nyalip aku dan melambaikan tangannya. Berhubung sebenarnya aku masih agak-agak grogi, maka aku brusaha ngebut barengin dia, dengan tujuan cari perlindungan kalau pas belok kanan gitu.. Tapi apa daya, diriku ini kan cuma pemula yang baru kali ke-2 bersepeda ke kantor..itupun cuma tiap hari jum'at, yaaaa mana bisa mbarengi biker asli...hiks..hiks...
Tapi dengan itu aku jadi bersemangat nge-goesnya dan hasilnya 10 menit lebih cepat...horeeee... dan nyampe kantor..kaki terasa lebih ketat..tapi keringat jadi lebih banyak...Hmmmm..puas deh.. Lagian pagi ini ada achievement baru lagi, aku ngikutin saran suamiku kalo ingin belok dari juanda menuju setneg maka pas abis lampu merah Harmoni langsung aja ambil kanan jadi ga usah bingung-bingung untuk nyeberang ke arah kanan. Taaapppiii...rupanya mobil-mobil itu tidak dengan sukarela membiarkan aku mepet ke kanan pas disamping jalur bis Trans, mereka dengan agak-agak sirik..ngebel terus dan langsung mepet karena mereka juga mau belok kanan. Huh..tega amat sih, ama orang bersepeda aja kok ga mau empati dikit.. Eniwei...akhirnya sukses ga harus lewat Pasar baru..
Nyampe kantor, gara-gara absen aku jadi kehilangan mood untuk ngelanjutin senam bersama. Akhirnya nongkrongin suami aja yang pasti habis nganterin anak-anak lewat jalur depan hotel Borobudur itu. Sekalian beli rebusan.
Walau ga ikut senam tapi menurutku kalori yang keluar udah cukup banyak....Sooooo....sampai jum'at depan. Read More..

Kamis, Juli 24, 2008

The Dark Knight

Tadi malem nonton Batman ama suami. Seru juga karena emang sudah lama ga nonton bioskop. Walaupun dapat tempat duduk yang ga enak (ato emang bioskopnya yang ga enak?Kan aku dapet di barisan no lima dari blakang, seharusnya kan udah cukup jauh dari layar) tetapi akhirnya bisa juga cari posisi melihat yang enak biar mata ga berkunang-kunang.
Joker diperankan oleh Heath Ledger yang beberapa waktu lalu meninggal karena OD di kamar hotel dan mainnya emang keren banget. Cristian Bale yaaa begitu itu mainnya. Cuma untuk yang meranin Harvey Dent tampangnya kok villain banget jadinya aku udah curiga aja jangan-jangan karakternya emang baik diluar tapi penjahat di dalam, yang jelas ga pantes kalau dibilang dia the white knight. Kenapa ga cari orang lain aja ya untuk peran itu. Dan emang akhirnya Harvey Dent brubah jadi jahat hanya gara-gara Rachel Dawes mati (ih...ga mutu banget..sama ga mutunya ama orang bunuh diri hanya gara-gara patah hati...STUPID!!). Dan yang mainin Rachel Dawes kok terkesan genit ya walaupun aku juga ga gitu suka pas Katie Holmes yang main.
Menurutku cuma Joker yang terkesan menonjol walau suamiku protes kok sampai akhir si Joker ga diapa-apain padahal udah bikin kekacauan kayak gitu.
Temanku cerita kalau dia habis baca buku dia bisa terbengong-bengong sampai dua hari agak blank karena mbayangin/visualisasi isi ceritanya Kalau aku baca ya cuma baca ga mbayangin apa-apa, tapi kalau abis nonton film bisa tiga hari bengong karena teringat-ingat adegan yang kutonton. Intinya...sampai saat ini aku masih agak blank ngurusin kerjaan karena nginget-inget cara bicara Joker, batpodnya Batman, cara berdirinya Rachel yang sok sekseh ato muka separonya Harvey yang ancur yang menurutku keren banget.
So...Bos...maaf ya kalau saya agak lelet sampai besok... Read More..

Rabu, Juli 23, 2008

Migren....?

Tadi malam rencananya pengen nonton The Dark Night, tapi ternyata badanku terasa lemaaass sekali. Jadinya nyampe rumah pengennya istirahat. Tetep aja ga bisa karena Javas belum punya sarung. Sekarang Javas ikut jadwal sholat dhuhur, jadi harus bawa sarung dan kopyah. Kalau ga bawa, dia akan sholat di barisan paling belakang bahkan lebih belakang daripada shaf muslimah. Dia sudah terang-terangan bilang ga mau ada di shaf belakang. Jadi dengan agak lemas terpaksa ke toko perlengkapan haji ke Ciledug. Dapat juga sih, sarung kecil warna biru plus kopyah kecil warna putih. Tambahan lagi, aku dapat minyak zaitun yang merk Le Roche. Lumayanlah....
BTW...sudah tau aku lagi lemaz tapi suamiku maksa ngajak Wisam karena kasihan dia ga pernah ke luar rumah. Yo wis, asal mbak ika juga di ajak biar aku ga repot2 banget. Pas di mobil, dalam hatiku sudah berniat mau mangku Wisam, tapi mendengar nada suara suamiku yang juga nyuruh mangku Wisam dengan nada yang ga enak banget...langsung saja kutolak. Dapat lima menit, kukatakan perasaanku bahwa aku ga suka cara dia bicara, dan suamiku ga merasa apa-apa. Ah...yo wis lah...mungkin salah paham aja. Akhirnya kupangku juga si Wisam.
Pagi ini, aku juga masih merasa pusing di sebelah kanan saja. Karena wajib nyiapin segala sesuatunya, tetap saja aku bangun jam 4-an dan mulai beraktivitas. Untung aja Detya ga minta kumandiin sendiri. Jadi aku malah sempat sarapan juga. Di mobil, Detya minta aku duduk belakang nemanin dia sarapan. Tapi kepalaku benar-benar ga bisa diajak kompromi, di sebelah kanan terasa seperti tertusuk. Jadinya pas nyampe pintu gerbang kompleks, aku minta pindah ke depan, gantian dengan adikku. Detya protes berat, tapi mo gimana lagi...daripada ntar malah aku jadi bicara kasar dan membentak, mending kucuekin aja protes dari Detya.
Akhirnya sepanjang jalan, aku merem dan brusaha tidur, bahkan ketika sampai di sekolah anak-anak aku tetap tidur. Anak-anak juga memahami dan ga maksa supaya aku yang ngantar mereka ke dalam. Suamiku yang melakukan semuanya termasuk ngasih obat dan vitamin.
Tentu saja ketika aku diantar sampai ke kantor, tak lupa kuucapkan terima kasih... Lumayan, istirahat sepanjang perjalanan membuat migrenku menghilang...
Makasih..Yobo... Read More..

Selasa, Juli 22, 2008

Pindahan Kantor

Senin pagi kemarin, sekitar pukkul 09.00 tiba-tiba bosku memutuskan untuk pindah ruangan saat itu juga.
Sudah sebulan ini kami diombang-ambingkan dengan keputusan kapan tepatnya kami menempati ruangan baru kami. Kami harus pindah ke gedung sebelah di lantai 3...hanya itu informasi yang kami dapat. Tepatnya kapan? hanya kasak-kusuk ga jelas...ada yang bilang tgl 14 Juli sudah harus pindah, ada yang bilang tgl 21 bahkan ada yang bilang kalau Pak Direktur maunya awal agustus sekalian. Subdit B2 sudah memutuskan untuk mengawali pindah tepat sesuai gosip awal, 14 Juli.
Dan akhirnya minggu ini kami pun juga ikut pindah. Kemarin angkat-angkat furniture, walaupun sebagian besar berkas sudah dipindah sejak 2 minggu lalu. Kupikir hari ini bisa unpacking berkas-berkas, tapi ternyata hanya merapikan komputer dan meja-meja sedangkan semua berkas masih rapi nangkring di kardus masing-masing...Kapan ya selesainya?
Aku sendiri sudah merapikan mejaku sendiri, tapi koleksi bukuku belum bisa kurapikan alias masih di kardus karena belum ada lemari penyimpanan... Belum bisa rapi juga deh.
Pagi tadi pengennya segera langsung beberes, tapi ternyata jam sepuluh kurang 10 menit ada undangan rapat mendadak di Bappenas jam 10.00, terpaksa deh berangkat rapat dan ga bisa nerusin beberes.
Selesai rapat jam satu-an, suami nelpon ngajak jemput anak-anak. Mumpung dia bisa jemput, ya udah aku langsung aja mau walaupun sama sekali belum makan siang. Kupikir bisa langsung makan siang, ngebakso di Juanda. Eeee, ga taunya pas nyampe disana pas mangkok terakhir diserahkan ke pembelinya. Sedih+jengkel (bawaan kalau kelaparan ya gini ini)
BTW, sekarang udah makan dan ngelanjutin beberes meja.. Read More..

Jumat, Juli 18, 2008

Bike To Work

Pagi ini aku bike to work dari Karang Tengah ke Lapangan Banteng Timur. Pertama kalinya mencoba bersepeda menuju kantor. Adikku pernah ngitung berdasar speedometer motor kalau jarak antara rumah ke kantor adalah 22 km. Jadi pagi tadi adalah pertama kalinya bersepeda sepanjang 22 km. Hmmmmm.....heran juga kalau ternyata aku bisa menempuh jarak itu dan sampai di kantor dilanjutkan dengan senam bersama tiap Jumat selama satu jam penuh. This is my one hell of achievement.
Perlu diketahui, bagiku olahraga itu hanya untuk suamiku yang maniak olahraga. Memang sih...olah raga itu penting...tapi aku paling malez kalau disuruh olah raga. Selalu saja cari alasan untuk tidak berolah raga. Sampai kemarin pagi sebelum nulis bahwa semangat kerjaku menurun, aku belum kepikir untuk memulai berolahraga. Untuk b2w memang sudah beberapa minggu ini berencana dengan adikku untuk melakukannya. Tapi teman samping mejaku juga merasa bahwa dia merasa lemas dan ngantuk, dan untuk menghilangkan rasa itu perlu sekali berolahraga. Jadi kami berjanji bahwa pagi ini kami akan ikut senam bersama. Dan berhubung suamiku menantangku untuk mencoba b2w dulu pakai sepeda baru adikku sebelum aku memutuskan beli sepeda sendiri, maka pagi ini aku melakukan dua-duanya :b2w 22 km dan senam sejam. Wuih....
Minggu lalu ketika kuterima brosur kartu kredit BNI dan Polygon bike menawarkan cicilan 0% 12 bulan untuk sepeda tertentu, aku langsung merasa pas:Pas butuh, pas ada tawaran 0%.
Adikku sudah mendahului beli sepeda united dengan harapan kami bisa b2w bersama, jika pun tidak maka dia akan memulainya sendiri ketika dia berangkat kuliah tiap sabtu-minggu. Namun ketika diskusi dengan suami, dia langsung menolak karena tidak melihat apa pentingnya beli sepeda dan tidak percaya komitmenku untuk b2w. Sedih juga sih, pada saat aku merasa pas, suamiku ga mendukung. Makanya dengan achievement pagi ini, aku bisa shout out ke suamiku kalo aku bisa dan aku ingin beli sepeda sendiri.
BTW, hari ini aku ngerasa segar sekali..tidak ada rasa malas...ataupun capek. Emang sih, jalur menuju kantor agak menurun sehingga kadar kecapekannya tidak maksimal. Sore ini adikku yang akan mencoba b2w untuk jalur pulang. Semoga dia sanggup karena jalur sebaliknya agak menanjak dan pasti ga ada jeda untuk berhenti mengayuh...wuih...kebayang deh capeknya.
Untung aku tadi milih jalur berangkat, jadi rasanya menyenangkan.
OK deh...ntar malam aku coba lagi diskusi sama suamiku untuk beli sepeda pakai kartu kredit BNI. Moga-moga aja disetujui.. Read More..

Kamis, Juli 17, 2008

Semangat Kerja yang menurun

Sudah beberapa hari ini, terasa sekali bahwa tiap pagi badan terasa lemas dan ngantuk sekali. Memang sih, bangun tidurku pagi sekali..jam 4 an, walau melek bener itu pas 4.30. Aktivitas selanjutnya adalah preparation untuk bekal anak-anak, jus untuk suami dan mandiin anak-anak. Untuk urusan detil (aku selalu bilang urusan naknik-naknik) ada asisten yang bantuin misalnya ngangetin nasi dan lauk, masak air untuk mandi anak-anak, cuci piring dan sebagainya. Tetap saja kontrol utama ada padaku, sehingga selalu saja heboh di pagi hari terutama jika waktu sudah menunjuk 05.00. Semua hal harus beres sebelum 05.45 agar kami tidak telat berangkat. Telat lima menit saja akibatnya bisa setengah jam lebih lambat sampai di kantor.
Memang sih, dengan berangkat pukul 05.45 kami sampai di kantor terlalu pagi, 06.30. Namun banyak hal yang sempat kami lakukan untuk mengisi waktu. Jadi kami pun tidak terburu-buru mengantar anak-anak sekolah. Anak-anak bisa ikutan ayahnya untuk absen sidik jari, masih ada waktu untuk minum vitamin dan madu buat anak-anak (kalau sarapin sih, kami lakukan di mobil sepanjang perjalanan), juga masih cukup waktu untuk nguncir rambut si sulung dan ngasih minyak rambut buat si tengah yang rambutnya selalu saja berdiri tegak dan merah seperti terbakar matahari. Jam 07.05 sampai di sekolah dan langsung nganter mereka

Tapi akibat dari semua itu, badanku terasa lemas dan mata masih terasa ngantuk. Akibat lanjutannya ya...semangat kerja jadi menurun. Aku tahu masih ada beberapa kerjaan yang belum beres, tapi pagi-pagi dengan aktifitas seperti itu, begitu sampai di kantorku pukul 07.20 aku hanya bisa nyalain komputer untuk mantengin internet. Untuk langsung fokus ke pekerjaan, rasanya maleeees sekali. Dan akhirnya tiba-tiba lihat jam sudah pukul 09.00. Aaaaargh, kok waktu berjalan cepat sedangkan ga ada output yang dihasilkan sama-sekali.
Kondisi ini sudah sejak senin kemarin kualami, sejak anak-anak mulai sekolah lagi.
Sepertinya aku harus punya trik agar perasaan seperti ini ga berkelanjutan...Bisa-bisa kinerja semakin turun dan stereotype bahwa ibu yang bekerja ga akan bisa optimal dalam bekerja karena terlalu sibuk ngurus rumah tangga bisa benar-benar kualami.
OK...wish me luck. Aku mau jadi ibu yang hebat di rumah dan sukses di kantor. Read More..