Rabu, Januari 21, 2015

Tas Lukis

Okay....satu pengakuan baru.  Setelah sebelumnya selalu ngiler lihat arloji cantik, dua tahun ini kesukaanku berubah...ngiler lihat tas cantik...eh..koreksi....ngiler lihat tas diskonan yang cantik. 

Suatu ketika, pas cuci mata di Moozee Bags, ada diskonan tas kanvas warna putih.  Tanpa pikir panjang, langsung order dengan tujuan si tas ini bisa buat tempat baju olah raga.  Pas tas kanvas ini sampai, terlihat besar dan polos saja sehingga berpikir ulang, kira-kira dikasih apa ya biar unik dan menarik?

Lalu browsing lah kemana-mana tentang lukis kanvas.  Sebenarnya, ada satu ilustrator cat air yang aku suka desainnya yaitu Ayang Cempaka.  Salah satu desain tentang family, jadi inspirasiku untuk desain lukisan tasku.  Hanya saja, aku ragu, apakah Ayang Cempaka menerima order yang seperti itu, mengingat Mbak Ayang ini tinggal di Dubai walaupun sering pulang ke Indonesia.

Lalu coba browsing instagram dan nemu desain lukis cat air yang aku sukaaaaaaa banget, desainnya mbak Nadya Andri.  


Setelah tanya-tanya, dia bilang kakaknya menerima order lukis tas kanvas.  Hanya saja, sampai saat ini aku masih belum dapat respon dari email yang aku kirim.



Sambil menunggu balasan email itu, aku terus saja browsing di Instagram dan kecantol di Mimpi Nglukis Art Studio.  Ngobrol-ngobrol-ngobrol, beliau setuju untuk melukis tasku dengan konsep yang aku inginkan.  Tas kanvas tadi langsung aku kirim dan Mimpi Nglukis Art kirim sketsa.

Okay, setelah memberi tambahan informasi, Mimpi Nglukis Art kirim desain awal.

Dari lukisan itu, paling mirip adalah gambar Detya,  Javas nampak marah sehingga aku pengen dihalusin tampak mukanya.  Sedangkan gambarku sendiri, aku merasa agak aneh karena hidungku keliatan kepanjangan.  Hasil final menjadi seperti ini:

Anak-anakku bilang yang bikin aneh dari wajahku adalah bentuk alisnya yang melengkung, seharusnya lurus saja.  Hanya saja, sudah tidak bisa revisi karena cat sudah kering. Secara keseluruhan, aku cukup puas dengan tas kanvasku yang sekarang jadi unik dan tiada duanya.

Ahem....dan tasku dua hari ini adalah tas itu..


Read More..

Senin, Januari 05, 2015

2014

Ga percaya rasanya bahwa posting terakhir yang aku lakukan adalah bulan November 2013.

Aku masih suka blogwalking...jalan-jalan baca tulisan bloger yang lain.  Sambung menyambung jika ada tulisan lain yang juga menarik.  Tapi hati ini sama sekali tak tergerak untuk menulis sendiri.

Banyak yang terjadi, banyak yang ingin aku bagikan, tapi tak sekalipun aku tergerak menulis.

Dari banyak yang telah terjadi, satu saja yang ingin aku tuliskan. Aku Mutasi...alias pindah lokasi walaupun masih di level yang sama.

Di tempatku, mutasi itu hampir-hampir seperti sesuatu yang tak mungkin terjadi.
Jadi gini, dari satu unit kerja..ada beberapa direktorat.  Direktoratku yang awal,itu seperti direktorat yang terpinggirkan.  Kalaupun ada mutasi, yang paling mungkin adalah mutasi internal direktorat saja.  Ga mungkin mutasi pindah direktorat apalagi dari direktorat lain masuk ke tempatku. MUSTAHIL (pakai huruf kapital).

Hari Kamis terakhir bulan Maret 2014, aku mendengar kabar kasak-kusuk beredar bahwa akan ada dua orang dari direktoratku yang masuk bursa mutasi.  Satu orang promosi sedang satu orang lainnya dipindah ke lantai bawah.  Ruanganku ada di lantai 6 dan lantai bawah artinya tempat yang tidak terpinggirkan.

Sesorean kabar kasak-kusuk itu santer terdengar, tapi tak sekalipun aku turut membahas.  Aku bosan dengan istilah terpinggirkan dan tak terpinggirkan...anak kandung dan anak tiri (tempatku)...aaah..whatever...

Sampai besok paginya sekitar jam 10, seseorang datang ke ruanganku dan menyerahkan undangan untuk mutasi itu.  Rasanya aku tidak bisa berkata apa-apa....aku?....AKU?....yang akan dipindah ke bawah ke tempat anak kandung itu AKU?

Well, tanggal 2 April aku resmi pindah.  Jangan ditanya kehebohan yang terjadi di tempatku.  "Kok Dewi dipindah siiih? Dewi yang mumpuni kok dibuang ke bawah?"....Mumpuni? emang aku punya ilmu silat yang mumpuni yaaa...

Waktu aku pamitan ke Big Bossku, beliau berpesan:"Saya ga akan ngasih orang yang biasa-biasa aja untuk pekerjaan di bawah, jadi saya percaya Mbak Dewi bisa bekerja dengan baik disana"...

O well....either way...aku anggap dua-duanya pujian.

Dan memang adaptasi di tempat baru itu cukup menyita perasaan.  Aku bukan orang yang suka berpindah-pindah....aku menikmati comfort zone.  Tapi memang sudah 8,5 tahun aku berada di tempat yang sama.

Dan memang..tahun 2013 itu aku sudah resah ingin menikmati tantangan baru.  Tapi tetap saja aku tidak menyangka bahwa harapanku itu menjadi kenyataan.

Eniwei....bulan ini adalan bulan kesepuluh di tempat baru.  Selama waktu itu, aku tetap tidak bisa mencari jawaban kenapa tempat ini disebut anak kandung....kenapa tempat ini dianggap paling diidam-idamkan di antara direktorat yang lain.  Pekerjaan yang aku lakukan justru lebih ringan daripada tempat yang lama.  Semuanya sudah ada SOP dan jelas alurnya.  Ga ada konflik-konflik kepentingan yang mungkin terjadi.  Ga ada koordinasi lintas kementerian yang luar biasa alot yang dulu biasa aku lakukan.

Jadi, kalau menurutku pribadi, tunjangan tambahan yang aku terima di tempat baru...lebih karena prestise saja....bukan karena beban kerja yang lebih berat daripada di tempat lain.

Kesimpulannya...Jangan takut keluar dari comfort zone...bisa jadi tambahan penghasilan menantimu...



Read More..