Jumat, September 30, 2011

Syair Lagu Indah

Perjalanan pergi-pulang Bangkok kemarin cukup melelahkan karena 3.5 jam di pesawat dengan makanan yang tidak menarik dan ga ada hiburan sama sekali membuat waktu sepanjang itu benar-benar terasa panjang. Mau tidur juga paling lama sejam, maka waktu-waktu selainnya hanya diisi dengan bengong dan merem-meremin mata biar bisa tidur.

Karena permintaan atasanku agar kami bisa berangkat serombongan, maka mau ga mau aku harus pesan tiket Thai Airways (aku dibiayai dari kantorku sendiri, sedangkan rombongan lain dibiayai dari sponsor yang ngundang). Ternyata ya itu tadi, thai airways minimalis banget, ga ada TV untuk masing-masing penumpang, bahan bacaanpun tidak beragam, koran hanya ada yang berhuruf Thailand itu.. Jadi lebih baik, lain kali kalau pakai biaya sendiri, mending memperkaya maskapai penerbangan sendiri yang fasilitasnya jauh lebih memuaskan.

Eniwei dalam keadaan suntuk seperti itu, ditambah lapar karena makanan di pesawat sungguh tidak dapat kutelan, sesampai di Bandara langsung menuju gerai makanan siap saji yang terkenal dengan paket makanan dengan CD lagu-lagu terbaru. Masalahnya, ketika duduk dan mulai menikmati makanan, di TV ditayangkan lagu baru yang judulnya makin tambah bikin bete..."Bertemu Selingkuh.."...oh my...


salahkah aku dan kamu bila bertemu selingkuh karna kita saling suka 
bila memang takdir kita memaksa untuk berpisah pasti aku masih suka 

Rasanya langsung pengen ngomel segala hal....betapa aku merasa kehilangan lirik-lirik indah yang dapat menyebarkan semangat positif.. Kenapa sih harus seperti itu judul dan lirik lagunya? Tidak bisakah menulis syair yang indah yang dapat menggungah semangat yang mendengarkan atau membangkitkan perasaan yang halus gitu? Mbok ya sudah susah-susah bikin lagu gitu harusnya diisi dengan syair yang menawan...bukan syair cemen yang ga memotivasi siapa-siapa gitu.


Pantes aja band-band dengan syair cemen gitu sesaat aja populernya. Musisi yang bersyair, pasti lebih awet karirnya. Lihat saja Melly Goeslaw, Yovie dengan Kahitna, Ebiet G Ade, Iwan Fals... Semua lagu-lagunya masih bertahan sampai sekarang. 


Kalau bicara lagu luar, malah ga bisa dibandingkan lagi. Kalau didengarkan, syair-syairnya cantik dan memotivasi dan memang lagu-lagu seperti itu yang disukai konsumen seluruh dunia, makanya akhirnya jadi terkenal. 


Ah sudahlah...kalau ga laku, tentu band itu ga akan bikin lagu dengan syair cemen seperti itu. Mereka hanya menuruti selera pasar. Dan pasar kita masih suka lagu cemen-cemen gitu. Aku sendiri, ga akan mendengarkan lagu-lagu cemen itu dengan sengaja. Rugi... Masih banyak kok musisi kita yang punya selera bahasa yang indah... 


BTW, ketiga anak-anakku sedang menyukai lagu-lagu Kahitna. Selama di Bangkok kemarin, rupanya suamiku beli CD koleksi 25 tahun Kahitna dan sepanjang perjalanan hanya lagu-lagu itu yang mereka dengarkan. Jadi saat aku sudah kembali, mereka sudah dengan rutinitas baru mendengarkan lagu Kahitna yang paling mereka sukai...woaaaaa..suprise jadinya, karena aku sendiri sebenarnya tidak terlalu menyukai lagu-lagu Kahitna (walau ga menolak mendengarkan ketika sudah ada). 


Jadi teman, mari kita asah sastra dan bahasa kita dengan hanya mendengarkan lagu-lagu yang indah. Read More..

Jumat, September 23, 2011

Sisa Mudik


Ok, tak seharusnya aku mengomentari pilihan mereka untuk mudik dengan motor...Tapi tidakkah orang-orang itu memikirkan kebutuhan anaknya? Aku selalu berpikir bahwa setiap orangtua akan rela berkorban apapun untuk anak-anaknya. Jadi, tidakkah mereka rela mengeluarkan sedikit lebih banyak uang untuk naik kendaraan umum yang tidak mengorbankan kenyamanan dan keselamatan anak-anaknya?

Aaaaarghh...
Read More..

Selasa, September 20, 2011

Eksplorasi Ketika Dinas

Dinas luar karena tugas kantor, kadangkala tidak bisa dihindari. Bagaimanapun aku menghindar, kadangkala tetap saja aku harus berangkat. Ketika hal itu terjadi, maka aku berusaha agar dinas itu secepat mungkin. Kalau bisa pagi berangkat, malam sudah pulang...atau kalau tidak, malam berangkat, besok sorenya sudah bisa pulang.

Pertimbangan utama tentu saja aku tidak tega meninggalkan anak-anak, karena tanpa ada asisten tetap di rumah maka prosedur persiapan pagi hari akan sangat menguras waktu. Jadi jika hanya suamiku dengan tiga anak, aku ga tega mebayangkan kerepotan itu lebih dari satu hari.

Jadi setiap kali tugas luar maka cari flight paling malem untuk berangkat dan flight secepat mungkin setelah acara untuk balik ke Jakarta. Ga ada waktu untuk eksplorasi daerah tugas.


Nah, waktu sakit-sakit puasa lalu, atasanku meminta untuk mewakili di sebuah acara workshop di Tokyo. Hmmmmm...Tokyo...lumayan menggoda. Sejauh ini beberapa kali penugasan keluar negeri bisa kutolak dengan berbagai alasan. Dan karena penugasan ke Tokyo ini berbarengan dengan rencana mudik lebaran, maka dengan berbagai alasan, terutama alasan tiket pesawat balik Jakarta yang non refundable, maka penugasan ini berhasil kutolak.

Namun ternyata....aku tetap mendapat penugasan yang lain untuk minggu berikutnya ke workshop berbeda di Bangkok. Karena tidak punya alasan lagi, maka aku tidak bisa menolak. Jadinya aku harus berangkat dari tanggal 12 - 16 September. Entah kenapa, Alhamdulillah, semua urusan jadi dimudahkan. Saat prosedur formal mengalami hambatan sehingga aku gabisa memakai paspor biru, paspor hijauku sudah jadi (setelah sebelumnya aku dan suami iseng-iseng menyiapkan paspor hijau). Saat aku bingung bagaimana harus meninggalkan anak-anak dan suami sendiri selama 5 hari penuh, ada saudara yang bersedia ikut denganku sehingga aku ga perlu kawatir tentang bagaimana sibuknya persiapan pagi hari.

Jadi aku bertekad bahwa penugasan kali ini harus diiringi dengan eksplorasi lokasi semaksimal mungkin. Okelah, dari jam 8.30 sampai jam 5 sore kadanng sampai jam 6 sore jadwal workshop penuh tanpa ada waktu jalan-jalan. Tapi sebelum dan sesudah itu, aku harus berani jalan sendiri keliling kota. Jangan hanya berdiam di hotel dengan alasan capek dan takut.

Takut itu karena aku ini buta peta dan gabisa mengingat-ingat jalanan yang sudah dilewati. Akibatnya, aku gabisa menemukan jalan kembali pulang kalau di tempat yang baru. Selama ini ada suamiku yang pembaca peta yang hebat dan sangat teliti dengan jalanan yang dilewati, makanya aku selalu aman ga pernah tersesat.

Maka trikku ketika harus eksplorasi sekitar hotel adalah menuju belokan yang searah. Keluar hotel ambil belokan ke kanan, ntar ketemu perempatan/pertigaan belok ke kanan lagi, ke kanan lagi dan ke kanan lagi...maka niscaya akan balik ke hotel. Heheheheh..memalukan.

Sorenya jalan lagi dua blok lebih jauh dan tetap ambil jalur kanan. Hari berikutnya nyebrang jalan dan ambil belokan kanan lagi.

Sekalinya berbeda adalah mencoba angkutan sungai. Harapanku jenis angkutannya sama seperti waktu di Manila dulu, artinya aku bisa lihat kanan kiri karena ada kaca. Ternyata sama sekali ga bisa lihat kanan kiri karena ditutupi dengan terpal setinggi 1 meter. Hadew...yang ada adalah sedikit mabok karena gelombang sungainya dibeberapa tempat cukup besar sehingga perahu itu jadi bergoyang-goyang keras. Lebar sungainyapun lebih kecil sehingga benar-benar angkutan sungai itu hanya efektif sebagai angkutan, bukan lokasi wisata.

Tapi itu mungkin karena di lokasi yang kutuju saja, dan tentu saja tujuanku cukup bolak balik dengan arah yang sama. Temanku cerita bahwa di tempat lain ada wisata Dinner Cruise di sungai juga, tapi gatau di sungai bagian yang mana.



Eniwei..walaupun kali ini sudah nekat harus eksplorasi keluar hotel..tetap saja ga ke lokasi wisata yang menarik atau yang sudah terkenal..hanya sekitar hotel..naik ojeg...naik tuk-tuk..naik perahu..mencoba makanan lokal yang pedam asem segar sangat pas dengan seleraku..makan durian bangkok di bangkok..beli oleh-oleh....keliling pasar/mall baju grosiran....pokoknya selain seharian penuh mengikuti workshop..sisanya habis untuk jalan dan sampe hotel dalam keadaan letih

Hasil akhirnya, hari terakhir ketika menuju bandara..kakiku terasa pegel banget...kesenggol dikit terasa nyeri...ckckck..efek ga pernah olahraga...
Read More..

Sabtu, September 10, 2011

Lebaran 2011

Lebaran kali ini giliran di Kediri. Anak-anak sudah berangkat duluan dengan Budenya karena libur sekolah mereka juga duluan.

Pengaturan awal adalah kami sama sekali ga ke Banyuwangi makanya libur sekolah lalu, kami menyempatkan diri ke Banyuwangi. Paling engga, walaupun lebaran ga pulang, tapi Bapak Ibuku masih bisa ketemu aku dan anak-anak, jadi aku harap, Ibu tidak terlalu bersedih.

Dengan adanya libur bersama hari raya, sebenarnya tidak perlu ambil cuti banyak-banyak, tapi karena mau nemenin anak-anak sekalian, maka aku ambil 5 hari cuti, sedangkan suamiku dibatasi hanya boleh ambil cuti 2 hari. Akibatnya, pulang kami pun tidak bersamaan. Suamiku pulang naik mobil hari senin, sedangkan aku dan anak-anak pulang hari jumat. Dan mengingat hari minggu itu (4 sept), rumah mertuaku sudah sepi, maka aku pun ingin menghabiskan sisa cuti di Banyuwangi.

Alhamdulillah, suamiku setuju dan urusan kendaraan PP ke Banyuwangi pun dimudahkan. Penerbangan Banyuwangi Surabaya dengan Merpati ternyata masih dalam harga promosi sehingga, setelah pasti dapat tiket, maka minggu malampun aku dan anak-anak langsung ke Banyuwangi via travel.

Sampai saat keberangkatan, aku sama sekali tidak memberi tahu orang tuaku bahwa kami akan mudik kali ini. Hanya adikku saja yang tau, bahkan dia yang mengusahakan travel pulang dari surabaya ke Banyuwangi. Bapak dan ibuk sudah pasrah bahwa kami ga akan mudik kali ini. Ketika menjelang subuh kami sampai di Banyuwangi dan Ibukupun baru keluar dari kamar mandi, nampak sekali bahwa beliau syok ketika melihat Detya langsung berlari ke arah beliau.

Ibu benar-benar senang melihat kami datang dan sama sekali ga bisa berkata-kata. Ah, aku pun senang bisa pulang ke rumah saat rencana awal ga akan ke Banyuwangi sama sekali.

Intinya, 5 hari di rumah sangat cukup untuk menyenangkan orangtuaku dan sempat juga dua kali menemani nenekku.

Bahkan, ketika hari jumat saat tiba waktunya kami ke Bandara Banyuwangi, nenekku pun memaksa ikut mengantar keberangkatan kami. Bahkan, berdasar penjelasan Ibuk, sampai pesawat kami menghilang di balik awan pun, Mbah Putriku tetap menunggu, gamau diajak pulang.

Sebenarnya, dengan adanya penerbangan Banyuwangi Surabaya ini, aku ingin sekali mengajak Mbah Putriku ke Jakarta, toh setengah hari saja bisa sampai Jakarta. Tapi keluarga besar ga sepakat karena bagaimanapun proses naik turun pesawat butuh penanganan tersendiri. Dan untuk orang susia Mbah Putri yang kemana-mana perlu kursi roda, maka prosedur itu jadi cukup menyulitkan.

Eniwei, lebaran kali ini cukup membahagiakan buatku karena rencana tidak mudik ke Banyuwangi ternyata berubah dan berakhir dengan menyenangkan.


Read More..