Jumat, Mei 29, 2009

Robinson Crusoe

Aku sedang ngecek daftar buku baru di inibuku.com yang mereview tentang buku baru Stephanie Meyer, The Host, ketika aku melihat ada link menuju budget book alias buku diskonan. Wedew...aku kan paling ga tahan kalau lihat ada diskonan, terutama diskonan buku. FYI, mulai tanggal 25 - 31 Mei ini, Gramedia Grand Indonesia kembali memberikan diskon 30% all item (kecuali elektronik) dalam rangka pembukaan Grand Indonesia... Silahkan..silahkan...bagi penggemar diskonan..eh maaf..penggemar buku, silahkan memuaskan belanja buku disana...(gosh...aku ngiler banget ama buku Arok Dedes dari Pramoedya....ada yang mau beramal buatku?).

Balik lagi ke link budget book di inibuku tadi. Ada beberapa judul yang merangsangku untuk memesan buku. Pertama karena diskonnya lebih dari 50%, kedua karena pengarangnya sepertinya bagus (such as Seno Gumira Ajidarma), ketiga karena ada satu judul cerita klasik yang membuatku tertarik untuk membaca,...Robinson Crusoe..

Aku tau judul ini dulu sekali ketika SD. Bapakku membelikan kami paket belajar bahasa inggris sekoper penuh yang salah satu isinya adalah kumpulan dongeng-dongeng klasik dalam bentuk komik seperti Mark Twain, Frankenstain, dan Robinson Crusoe ini..(seharusnya ada 10 judul..tapi yang melekat di otakku kok cuma 3 ini ya..). Waktu itu bentuk ceritanya adalah cerita bergambar dalam bahasa inggris, sehingga tentu saja sangat menarik. Dengan bahasa yang ringan dan gambar yang memvisualkan cerita, membuatku terkesan dengan cerita ini.

Kesan utama yang kutangkap waktu kecil dulu tentang Robinson Crusoe adalah perjuangan hidup setelah terdampar dari pelayaran ke tanah asing. Dia bisa beradaptasi dengan sempurna, dengan hidup sendiri dia bisa swasembada misalnya bikin tempat tinggal sendiri, bercocok tanam sehingga makan dari kebun sendiri. Jadi waktu itu aku berangan-angan untuk bisa sesempurna itu ketika hidup sendiri.

Maka ketika aku melihat ada judul itu di budget book maka aku penasaran, apakah ketika membaca kisah klasik ini pemahaman masa kecilku terhadap komik itu dulu apakah sama dengan cerita narasi yang asli? Sebenarnya aku agak ragu karena pengalamanku membaca buku klasik tidaklah menyenangkan.... Namanya juga buku jaman tahun 1700, tentu gaya bahasa dan lingkungan kala itu sangat jauh berbeda dengan saat ini. Aku kawatir ga bisa membawa diriku pada kondisi saat itu sehingga membaca narasi cerita, agak-agak bertentangan dengan logikaku. Seperti ketika aku membaca Lady Chatterley's Lover, review orang-orang tentang buku tahun 1928 ini cukup bagus, bahkan perancis juga sudah memfilmkannya. Tapi ternyata aku ga gitu memahami gaya bahasanya (atau terjemahannya) dan aku juga ga bisa masuk ke setting ceritanya sehingga aku hanya sanggup membaca separo buku dan berhenti begitu saja..

Belum lagi pendapat temanku, sesama penggila novel, dia sengaja membuka satu halaman acak di tengah dan membacanya keras-keras. Betapa bagian yang dibaca sungguh menonjolkan keakuan saja sehingga membuatku agak goyah untuk terus membacanya. Di bagian kata pengantar, baik dari penerbit asli maupun penerbit Indonesia, juga meresensi masalah gaya bahasa pengarang yang seadanya dan sering salah tulis, jadi membuatku tambah gentar saja. Tapi untungnya aku tetap memulai membaca buku ini karena rasa penasaran masa kecil itu lebih besar daripada kegentaran untuk berhenti di tengah buku. Lagipula, harga bukunya cukup murah sehingga jika ternyata aku ga suka toh...ga mahal-mahal amat (bukan seperti lima buku gajah mada yang nyesel banget kubeli semuanya...).

Nyatanya, setelah membaca halaman-halaman awal, aku bisa memahami kenapa gaya aku sangat menonjol. Karena buku ini bergaya sejenis jurnal atau buku harian sehingga tentu saja semua dilihat dari sudut pandang aku. Yaaa...seperti aku menulis blogku ini, tentu saja semuanya serba tentang aku dan lingkunganku dengan sudut pandangku sendiri...(dan ternyata ada juga yang baca...). Atau seperti jurnalnya Lea, yang menceritakan semua hal dengan sudut pandangnya yang cerdas dengan gaya cerita yang asyik, melebar kemana-mana tapi tetap berhubungan dan kembali ke fokus masalah..(gosh...aku ingin sekali bisa bercerita secerdas itu...). Aku ga pernah memperdulikan gaya bahasa gaul yang menurut sebagian orang bikin pusing, karena aku membaca bukan sebagai tulisan tapi sebagai lambang... Misalnya nama tokoh, aku ga pernah menghapal nama-nama tokoh dalam novel apapun, tapi kuanggap nama-nama itu sebagai lambang. jadi aku tidak kesulitan, ketika membaca Karenina-nya Leo Tolstoi yang nama-nama tokohnya super sulit dieja. Jadi ketika Lea menuliskan akyu, kamyu, ampyuuuuun atau kata-kata lain dengan banyak pengulangan huruf, tetap saja aku membacanya sebagai lambang...so...ga masalah...

Balik lagi ke Robinson Crusoe....swear deh...bukunya bagus..aku baru nyampe halaman 57 dari 385 halaman buku, tapi rasanya aku ga bisa berhenti dan terus saja membayangkan semua kejadian yang dituliskan.

Cerita diawali dengan penuturan Robinson Crusoe tentang latar belakang dia dan keluarganya dan keinginannya untuk pergi melaut. Bagaimana ayahnya berusaha melarang dia untuk melaut dan tetap saja berada dalam kehidupan kalangan menengah. Menurut Sang ayah, kehidupan di tengah-tengah inilah yang paling baik, paling sesuai dengan kebahagiaan manusia. Tidak menghadapi penderitaan dan kerja keras tanpa hasil yang dilakukan kalangan bawah dan tidak dipermalukan oleh kebanggaan, kemewahan, ambisi dan iri hati manusia kelas atas. Penjelasan tentang konsep kelas menengah ini cukup menarik perhatianku karena kupikir memang benar adanya.

Tapi penjelasan Sang ayah itu tidak menyurutkan keinginan Robinson untuk melaut. Maka tanpa restu orang tua, akhirnya dia bisa berangkat memulai pelayarannya yang pertama. Setelah perjuangan di laut menghadapi badai yang membuat dia memikirkan kembali nasehat ayahnya, Robinson kembali lagi pada keputusannya bahwa mengarungi dunia dan mengetahui dunia luas adalah lebih membahagiakan daripada kehidupan kelas menengah. Kemudian dia mengalami kapal karam pertama kali dan sempat menjadi budak orang lain walaupun akhirnya dia bisa melarikan diri dan selanjutnya memulai hidup di Brazil sebagai pekebun tembakau. Bertemu dengan orang-orang yang baik dan berhati lurus, Robinson akhirnya kembali melaut setelah 4 tahun menetap di Brazil dan cukup sukses.

Saat ini aku tiba di bagian Robinson terdampar lagi di suatu daratan antah berantah setelah kapalnya karam..dan kupikir cerita selanjutnya akan semakin menarik.

Intinya...tidak selamanya novel klasik membosankan...yang utama adalah bagaimana penulis menyampaikan ceritanya dengan menarik sehingga pembaca betah membacanya sampai tuntas. Seperti Leo Tolstoi yang piawai meramu cerita, nama-nama yang susah dieja dan setting cerita jaman dulu kala yang sulit dibayangkan menjadi tidak masalah lagi....sekali lagi..kekuatan cerita yang utama....

Bagi yang belum membaca Robinson Crusoe ini, aku rekomendasikan buat di baca, sambil membayangkan Cast Away-nya Tom Hanks...(BTW..aku belum pernah nonton Cast Away...tapi bisa dibayangkan situasinya serupa lah...)

Read More..

Selasa, Mei 26, 2009

Surat Cinta Anak Gadisku

Kemaren sore, ketika menunggu suamiku jemput sepulang kantor, aku ajak anak-anakku untuk menunggu di kantorku saja. Mereka setuju asal boleh bermain komputer. maka ketika sampai di ruanganku, Detya langsung ingin menulis di komputer sedangkan Javas, bermain kertas seperti biasanya.

Ga berapa lama, Detya minta ditemani menulis dan di layar komputer sudah ada tulisan seperti ini:

FA, aku suka sekali sama kamu soalnya kamu itu putih

dan dia minta ditemani untuk terus mengetik sehingga menjadi seperti ini :

FA, aku suka sekali sama kamu soalnya kamu itu putih tapi ko kamu suka sama A. Padahal aku orangnya baik lo, tapi cuma N aja yang bilang aku ga baik.

Selama membantu Detya menulis, berbagai pikiran berkecamuk di otakku....
pikiran pertama.....OMG, anak gadisku udah mulai suka-sukaan...bagaimana ini?
pikiran kedua.....wedew...kok udah menilai masalah kulit gini ya?..pantesan tadi sempat nanya-nanya apakah kalau sudah dewasa nanti kulit kita bisa berubah jadi putih...(hiks...efek iklan yang menyesatkan..)
pikiran ketiga.......yaelah...anakku udah bisa promosi diri sendiri...

Setelah itu, aku hanya bisa membantunya ngeprint dan Detya langsung melipatnya dengan rapi dan menulis alamat suratnya dengan tangan dengan ditambahi kalimat "Maaf ya kalau kamu ga suka, balas aja lewat komputer"...hmmmm, apa coba maksudnya?

Aku ga tahu harus memulai darimana, karena suatu waktu aku pernah diskusi dengan Mbak Devi, dan dia bilang wajar jika sudah mulai bisa menilai sosok anak laki-laki seperti apa yang menarik. Waktu itu aku ga terlalu intens membahas karena Detya masih asyik aja berteman dengan banyak teman laki-laki, tidak spesifik menyebut satu anak tertentu.

OK, masalah suka kepada lawan jenis ga terlalu jadi bahan pemikiranku karena kami sering diskusi masalah pertemanan baik dengan sesama jenis ataupun lawan jenis. Satu hal yang membuat keningku berkerut adalah masalah stereotip kulit putih....

Sekecil ini sudah concern masalah kulit, gimana jika besar nanti? Suatu ketika, pas javas masih belum 4 tahun, dia pernah mempertanyakan "Apakah aku ini anak Bunda juga, kok aku hitam sedang Mbak Eta dan Wisam kulitnya putih?". Aku menjelaskan tentang keberagaman ciptaan Allah dan Javas bisa mengerti.

Tapi pendapat Detya ini hubungannya dengan anggapan bahwa orang yang menarik itu adalah yang kulitnya putih. Jadi ketika si FA ini berkulit putih, dia jadi suka sedangkan karena kulit Detya tidak seputih FA, dia berharap ketika dewasa kulitnya jadi berubah sehingga dia gampang disukai. Menurutku anggapan seperti ini lebih mendesak untuk segera diberi pengertian agar dia menjadi open mind. Tapi aku ga ngerti caranya gimana...

Tsaaahhh...jadi orang tua memang ga ada manualnya...semua hal mesti dikira-kira sendiri gimana menyelesaikannya. Banyak diskusi dengan yang lebih pengalaman dan harus pintar menarik pelajaran dari sekitar kita....

Seandainya ada SOP untuk jadi orang tua, sehingga jika nemu masalah seperti ini, tinggal buka manual dan menjalankan petunjuk yang ada...

Waaaaaaaaaaaaaaaaa...ada yang bisa ngasih saran ga? dari semalem udah nyelipin dikit-dikit siy..tentang berteman dengan semua orang, tentang pentingnya bersikap baik biar banyak teman, atau tentang penampilan bukanlah yang utama... tapi aku ngerasa itu belum cukup...dan memang diskusi masalah seperti ini ga cukup kalau cuma semalam saja...mesti tiap saat, setiap kali ngobrol bersama....

Read More..

Problem Rambutku

Aku punya rambut yang aneh, helaiannya tipis dan halus, warnanya ga hitam, dan bergelombang ga jelas (ga mau kalau dibilang keriting). Dari jaman kecil dulu, pengeeeeen banget punya rambut yang panjang sepunggung, tapi ga pernah kesampean. Tentu saja karena bentuk rambutnya ga layak untuk dipanjangin.

Semenjak 2005 aku mulai manjangin rambutku, dengan perawatan ini itu, sampai akhirnya mencapai pundak lewat dikit. Pernah juga bonding, maksudnya biar gelombang ga jelas itu cukup mengarah ke satu arah. Hasil bonding membuat rambutku lebih aneh lagi. Ya iyalah...wong rambut tipis gini kok dibonding. Jadinya ya lepek. Ketika rambut baru numbuh, bayangin keanehannya. Dibawah lurus lepek, di arah akar rambut mulai bergelombang ga jelas lagi.

Maka suamiku berinisiatif memotong rambutku dengan tujuan di shaggy (bener gini kan nulisnya?), jadi yang lurus lepek itu bisa menyatu dengan gelombang liar di atasnya. Aku pun dengan polosnya (bodohnya) nurut aja. FYI, suamiku selalu potong rambut sendiri dan hasilnya good enough, gunting dan trimmer juga ada. Guntingnya juga lengkap, sehingga aku yakin aja ketika suamiku mulai motong rambutku. Setelah dua jam yang melelahkan, aku pengen nangis ngeliat hasilnya.

Besoknya ketika masuk kerja, rambut kekuncir (untuk menyamarkan hasil yang bikin aku pengen nangis) dan agak siang berangkat ke salon di Pasar Baru. Tukang potongnya, dengan sabar memperbaiki potongan rambutku dan hasilnya....voila....jadi kayak rambut singa...megar dengan shaggy yang manis dan gelombang tak tentu arah itu jadi lebih teratur. Teman-teman kantorku terutama yang cowok, terang-terangan menyebut rambutku kayak singa, jika jalan berkibar kibar. Tapi aku sukaaa banget dengan penampakannya, seenggak-enggaknya aku ga perlu repot dengan arah yang berantakan ga jelas. Aku juga ga perlu repot nyisir rambut setiap saat, karena disisir ataupun tidak, tetap aja berkibar-kibar.

Mengenai panjangnya, juga sesuai harapanku yaitu mencapai punggung atas sehingga aku merasa perempuan banget. Beberapa kali aku merapikan rambutku ke tukang potong itu. Sampai awal tahun lalu, aku pindah tempat potong dan hasilnya sangat mengecewakan, sehingga 2 bulan kemudian aku pendekin sampai di atas pundak. Beberapa teman bilang, rambut pendekku ini membuatku keliatan cerah dan lebih muda...(kupikir mereka hanya saying something nice aja).

Lalu akhir-akhir ini, rontoknya tambah parah dan modelnya juga makin ga jelas, sehingga aku mulai sering nguncir rambut lagi. Tingkat kerontokannya adalah ketika aku sedang berapi-api bicara dalam rapat tiba-tiba di meja depanku telah tersaji 5 helai rontokan rambutku...atau ketika aku mau membuat kopi instanku dan hendak menuang air panasnya, di cangkir (yang sudah ada kopinya) telah ada dua helai rontokan rambutku...(yaiks...kan malu banget kalau ada yang merhatiin...).

Maka hari minggu kemaren aku tanya suamiku, bolehkah aku memotong pendek rambutku? Beliau dengan bersemangat menawarkan diri untuk memotong rambutku sependek rambut beliau sendiri. OMG, keledai aja ga terperosok lubang yang sama dua kali...masak aku mau merelakan rambutku untuk diexplore suamiku lagi?...setidaknya, suamiku setuju jika aku potong pendek, sependek apapun..

Siang ini, ketika tamu (yang udah janji dari minggu lalu) udah pulang dan kupikir ga ada jadwal apapun, aku potong rambut, dan hasilnya: pendek sesuai keinginanku. Walaupun sudah kuniati untuk sependek mungkin, kenapa ya ketika melihat tukang potongnya mengacak-acak rambutku, aku masih merasa ga rela? aku merasa keinginanku untuk punya rambut panjang muncul lagi ditengah-tengah aksi tukang potongnya, yang sungguh nggegirisi...

Oh...rambut-rambut....sepertinya aku mulai kehilanganmu sedikit demi sedikit. Mungkin sampe akhirnya tipis sekali dan memaksaku untuk pakai hair extension seperti Ibuku...(kalau sudah demikian...apa ya kira-kira tanggapan Ibuku?)

Read More..

Jumat, Mei 22, 2009

Ibuku



Aku sedang mikir-mikir kenapa aku 3x lebih sayang ke Bapakku walaupun seharusnya bakti ke Ibu itu lebih utama 3x dibanding bakti ke bapak. Tapi walau demikian, kupikir aku sudah cukup berbakti kepada Ibuku...(pembelaan diri niy...kan berbakti ga ada hubungannya dengan lebih sayang pada siapa....)

Dari beberapa list yang mampir di otakku, pada prinsipnya semua berpangkal pada cara masing-masing Bapak dan Ibu dalam memperlakukan aku. Bapak selalu memanusiakan aku. Maksudnya gini, dari semua tahapan umurku, Bapak tau kapan memperlakukan aku sebagai person, kapan sebagai anak, kapan sebagai teman diskusi, kapan memberi masukan, kapan meminta masukan. Yaaaah...hal-hal seperti itulah....jadi aku bisa merasa sebagai manusia utuh di depan Bapakku, bukan hanya sebagai anak.

Beda dengan Ibuku, beliau dari dulu selalu menganggap aku sebagai anak saja. Jadi tidak pernah ada pertanyaan, yang ada hanya perintah. Tidak ada diskusi, yang ada cuma curhat searah. Jika aku curhat sedikit saja maka hasilnya bisa didramatisir dan yang Ibu rasakan bisa lebih parah daripada yang kurasakan, ga bakal ada saran-saran membangun yang bisa mendinginkan situasi. Jadi akhirnya, aku tidak pernah berbagi rasa dengan Ibuku. dengan Ibuku, aku bisa menjadi pendengar yang baik yang cuma mendengarkan tanpa pernah bisa memberi masukan, sehingga lama-lama aku hanya bersikap pasif saja...mendengarkan. Karena jika aku urun rembuk sedikit saja, Ibu bisa salah mengerti dan berbalik marah padaku.

Kami semua, Bapak dan saudara-saudaraku yang lain, sudah paham bagaimana sikap Ibu jika sedang curhat atau menghadapi masalah apapun. Kami cukup diam mendengarkan, apapun yang diomongkan Ibu. Ga ada bantahan, ga ada kalimat apapun. Karena sedikit saja jawaban, maka nada bicara Ibu akan semakin meninggi dan akibatnya Ibu sendiri bisa tambah histeris, yang berefek pingsan. Yaaaah...begitulah Ibuku sepanjang ingatanku dari kecil dulu sampai sekarang. Efek dari semua itu adalah cara bicaraku yang tone-nya meninggi sehingga orang seringkali mengira aku sedang marah, jika aku kehilangan kontrol atas tone itu.

Ada lagi tentang Ibuku yang aku protes habis-habisan, tapi seperti biasanya..ga bakal didengerin Ibuku. Pertama dulu, Ibu mentato garis mata bawahnya seperti eyeliner... Wedew...bukannya tato ga boleh? Kedua, suntik silikon di hidung dan bibir bawahnya. Suntikan di hidung siy, ga terlalu kelihatan, tapi bibir bawahnya jadi dower ga imbang dan aneh. Batapapun aku dan adikku protes mengenai bahaya silikon, Ibu mati-matian nolak bahwa itu bibir asli Ibuku...(bibir asli darimana bisa sedower itu...). Dan yang terakhir kemarin adalah...hair extention...alamaaaak......aku benar-benar speechless ngeliat Ibuku yang super gaul ini.... Beliau ini berkerudung (karena sudah berhaji...), tapi kok ya sempet-sempetnya nyambung rambut dengan alasan biar rambutnya keliatan tebelan dikit. Toh, tertutup kerudung...

Untungnya untuk yang terakhir ini, akhirnya pas aku pulang nengok Bapak kemarin, Ibu mau mencopot semua rambut tambahannya ini... Pada akhirnya Beliau melakukan apa-apa yang ga dibolehin ama aturan agama... dan ga ada yang bisa aku lakukan lagi...

BTW, di foto atas itu, Ibuku agak menahan bibir bawahnya biar ga kelliatan dower...so jangan ketipu ama penampilan polos di atas.... tapi tato matanya keliatan kan?...

Eniwei, bagaimanapun Ibuku ini, tetap saja aku sedih ketika beliau harus dirawat berkali-kali karena diabetesnya itu kambuh lagi. Kambuh karena Ibu bilang, ga tahan makan nasi sedikit...lapar terus, ga tahan minum air putih biasa makanya suka banget beli ekstra joss, marimas, segar sari dan minuman-minuman manis lainnya. Sayang ada banyak makanan pas musim lebaran dan maulid nabi, daripada kebuang mending kan dihabisin sendiri...(padahal udah dianter ke saudara yang lain).

Aku juga menangis parah ketika melahirkan anakku yang kedua sambil menahan sakit kontraksi hasil induksi membayangkan betapa Ibuku juga kesakitan seperti itu ketika melahirkan aku (waktu itu ada masalah sangat besar yang menimpa Ibuku, yang ga bisa aku ceritakan disini). Setiap kali harus bangun malam untuk nyusui ataupun bikin susu, aku tau bahwa Ibu juga melakukan hal yang sama untukku.

Ketika anak ketigaku sakit-sakitan dan sering kambuh asmanya pas malam-malam, maka aku bisa membayangkan betapa panik dan helpless-nya Ibuku dulu ketika mengurus asmaku yang juga sering kambuh kala aku balita.

Maka walaupun pada akhirnya Ibuku tidak pernah memanusiakan aku seperti Bapakku..aku ga keberatan..karena aku memang anak beliau...selalu dan selamanya...

My Note:
Banyak yang bilang aku mirip banget dengan Ibuku sedang adikku yang paling kecil adalah fotokopi Bapakku

Read More..

Rabu, Mei 20, 2009

Addicted to Coffee

Aku ga inget sejak kapan aku suka ngopi, karena dari kecil sampai kuliah aku ga pernah tiap hari minum kopi...hanya kadang-kadang saja. Kenyataannya sekarang, aku ga bisa melepaskan diri dari kopi ini. OK, kopi yang kuminum tidak sekelas, kopi asli yang kental dan item itu. Aku cukup minum kopi instan sebangsa nescafe atau torabika capucino, atau kapal api duo plus susu. Hayah..pokoke cuma kopi sasetan itu deh..

Tapi ternyata, biarpun cuma kopi sekelas itu, jika sehari aja ketelatan ga ngopi ternyata bisa bikin kepalaku pusing dan jadi migren...belum lagi kantuk yang menyerang dan terutama...rasa malas memulai kerjaan di pagi hari. Kupikir ini hanya masalah sugesti saja, kalau sedang males...ya males aja. Ga pake alasan karena belum ngopi.

Beberapa bulan lalu, tepatnya Oktober 2008, aku dapat coffeemaker gratis gara-gara ngumpulin poin dari tinta printer HP. Akibatnya tiap hari bikin kopi dari bubuk kopi asli. Dan karena bikinnya seteko, maka komitmen untuk minum kopi maksimum sekali sehari jadi ga tercapai. Temen-temen seruangan pada ga ada yang nyentuh kopi yang seteko itu, jadi karena sayang daripada kebuang maka sehari bisa empat sampai lima cangkir...kopi asli..bukan instan lagi.

Dan demi kopimeker itu, aku nyobain kopi bubuk dari berbagai daerah, dari Bali, Medan, Toraja, Lampung...pokoknya setiap temen dinas luar kota, aku nitip dibeliin kopi bubuk asli dari daerah itu. Dan istimewanya pake kopimeker, rasa kopi itu bener-bener muncul. Artinya, aku ga perlu banyak gula untuk menahan rasa pahit kopi, tapi gula hanya secukupnya sekedar melengkapi rasa kopi yang sudah ada (walau aku juga ga sanggup kalau tanpa gula). Apalagi kalau pakai brown sugar...lebih nikmat..(brown sugarnya dapet ngambil segepok dari hotel saban kali konsinyering...hmmm...ga modal blas..)

Nah, gara-gara kopimeker ini aku jadi makin takut kalau konsumsi kopiku ini jadi berlebihan. Karena kalau baca tentang makanan-minuman yang mempercepat pertumbuhan kanker...ya salah satunya kopi ini... Maka aku hentikan rutinitas bikin kopi via kopimeker...(sedih juga siy...karena sudah terlanjur merasakan nikmatnya kopi asli..) dan kembali ke kopi sasetan.

Eniwei...menyadari bahaya kopi, pengennya aku ga ngopi sama sekali. Cukup air putih sebanyak-banyaknya atau bikin jus buah asli di rumah (maksudnya tanpa gula gitu...). Tapi rupanya taraf kecanduanku ini parah banget...aku tetep ga bisa melepaskan diri dari kopi sasetan ini. Tiap pagi aku mencoba hanya meminum apa yang tersedia di meja (yaitu air putih) dan meniadakan stok kopi saset di laci, akhirnya malah bela-belain ke kantin buat beli kopi lagi...

Hiks...bahkan ketika chatting dengan temanku yang suka ngopi malah dipanas-panasi buat nyoba kopi luwak asli..(maksudnya yang bener-bener dikeluarin oleh luwak..). Harganya bisa mencapai $70 sekilonya... Wedew, walau suka kopi, rasanya belum serela itu deh buat ngeluarin 700ribu cuman buat beli kopi...(mending nabung buat vaksin kanker serviks deh..). Aku juga belum serela itu buat nyoba ngopi di Starbuck atau kedai kopi yang lain. Cukup torabika capuccino yang sesachet cuma 1.300 saja...(qiqiqiqi....perhitungan banget ya..)

BTW, kalau masih perhitungan buat ngopi mestinya aku ga bisa mengklaim bahwa aku addicted to coffee ya...

Sooo...sekarang ini sedang mencoba ngurangi konsumsi kopiku...dengan mengganti jadi konsumsi teh Tarikk instan...(halah sama saja......tetep aja merangsang si kanker buat bertumbuh...mana hidup sehatnya...)...






Read More..

Senin, Mei 18, 2009

Menu Sarapan Anak-Anakku

Tiap pagi adalah saat yang ribet banget buatku...sebenarnya dengan adanya adikku, ga ribet-ribet amat siy.. Aku hanya perlu konsentrasi nyiapin sarapan dan bekal mereka. Lalu setelah aku selesai bersiap-siap sendiri, maka yang kulakukan selanjutnya adalah nemenin (bantuin) anak-anak pakai baju. Dulu ketika anak ketiga dan adikku juga ikutan ke kantor..maka suasana ribet lebih terasa lagi. Dan rasanya, aku juga harus mulai bersiap-siap ngatur waktuku, jika nanti (abis lebaran) adikku pulang kampung, dan semua hal aku yang harus nyiapin...(hiks....betapa ribetnya nanti ya...).

Maka untuk menyiasati keribetan itu, aku mengakalinya dengan nyiapin pernak-pernik buat sarapan di malam hari (kalo ga males...). Dan ada menu andalan buat sarapan di mobil, yang mengandalkan bumbu instan cap bamboe untuk sop buntut, saus tirem, saus tomat, kecap inggris dan kecap ikan. Cukup itu...tentu saja bawang putih digeprek dan daun bawang itu tetep wajib. Sumber proteinnya bisa macem-macem, telur diorak-arik, bakso, sosis, daging giling ataupun ayam cincang. Nah karbohidratnya bisa bihun, mie telor, spagetti, atau makaroni (kesukaan anak-anakku adalah makaroni kerang..).

Kalo pas lagi males banget, alias ga pengen ngoseng-ngoseng wajan....maka cukup nasi telor dadar keju (kejunya diparut dan diublek dalam telornya) dan....kecap.....(betapa aku coba ngindari kecap ini, tapi ternyata mereka benar-benar KFC, Kecap Fans Club... dan emang terasa nikmat siy....nasi hangat diuleni pake kecap....dan telor dadar..)....Atau jika malam sebelumnya masak lele goreng...maka pagi itu sarapan nasi dan lele goreng (ga lupa pake kecap..). Demikian juga jika malam sebelumnya ada semur atau rawon (atau apapun yang berdaging), pasti besok paginya itulah sarapan mereka. Karena ada alergi dan hipersensitif makanan, maka aku ga pernah bawain ikan laut dan berbagai seafood. BTW, dua minggu lalu (saat aku masih di Bali), tiba-tiba mata Detya timbilan, dan makin hari makin besar sehingga dua hari dia terpaksa tidak masuk sekolah karena bengkaknya sudah menutupi mata kanannya. Ketika ke dokter, dinyatakan alergi ikan laut terutama ikan asin...dan benar, sebelumnya dia makan siang ikan asin di sekolahnya. Sebenarnya bukan jatah makan siang siswa siy, tapi guru kelas yang ingin berbagi dengan murid-muridnya sehingga ikan teri asin itu nyampe ke murid-murid. Dan Detya dengan nikmatnya ikut merasakan ikan asin itu...

Bagaimana dengan sayuran? Hiks...inilah beban berat hidupku dalam memotivasi anak-anakku untuk makan sayur. Javas sudah mendeklarasikan diri bahwa dia hanya akan makan sayur di sekolah. Selain itu tidak. Betapapun aku membujuk dan mengancam...mulutnya akan tertutup dan jika ada sayuran yang diselipin...dia akan lepeh makanan yang sudah di mulut itu. Tapi dia suka sekali bakwan yang ada di tukang gorengan, sehingga sabtu minggu selalu kuusahakan untuk bikin gorengan itu dengan isian wortel dan taoge...atau irisan bayam..dan tepunya diuleni pake telor. Aku sudah ga tau lagi bagaimana caranya membuat anak-anakku suka sayuran. Detya masih agak suka sayuran walau juga sering menolak.

Untuk bekal yang dibawa ke sekolahnya, seringkali bawa biskuit yang udah jadi (terutama cracker beras) atau roti tawar aneka isi (keju, meses, burger, telor dadar) yang dicetak macam-macam. Kadang-kadang pisang atau buah yang lain (jeruk, pear). Kalau sempat beli, maka ada kue-kue basah sebangsa kue pisang, kue mangkok, bubur sum-sum (kebiasaan ketika Javas harus diet tepung terigu...jadi snack serba tepung beras deh..). Kalau bungkusan sebangsa taro, ciki dan teman-temannya...waaaaa....ga bakal ada di menu mereka...

Sebenarnya, kalo ngomongin nyiapin bekal sarapan gini...aku ga ada apa-apanya dibandingkan Mbak Devi.... Aku udah usaha beli cetakan nasi ala jepang buat anak-anak..e...hanya beberapa kali pakai, mereka udah bosen dan declare ga mau nasinya dicetak-cetak lagi...beli cetakan telur..ga pernah dipake karena gagal terus (lagian anak-anak ga gitu suka telur rebus). Bikin kimpap (itu lo..nasi yang dibungkus pakai nori/kim)...sama detya dibongkar...diambil isinya doang..dia ga suka rumput lautnya...kalau Javas siy.....hajar aja...dia suka banget...tapi masak aku mesti nyiapin 2 macem buat 2 anak...cuape deh...ya mending yang mereka berdua sama-sama suka...

Eniwei..poin postinganku kali ini:...Deuh...Terima kasih sedalam-dalamnya aku ucapkan buat bumbu instan rasa sop buntut cap Bamboe.....rasanya benar-benar nendang dan ga pake repot....


Read More..

Kamis, Mei 14, 2009

JeKaWin, NoNo atau Mega Pro..?

Siang ini di tempatku diskusi masalah 3 pasangan capres dan cawapres yang ada. Dan diskusi ga jelas itu berakhir dengan singkatan untuk masing-masing pasangan.

Jekawin...tau kan...? JK dan Wiranto

Nono....Yudoyono dan Budiono

Mega Pro....merek sepeda motor...qiqiqiqi..maap...Mega dan Prabowo...

singkatan yang njelehi...dasar temen-temen udah pada bete semua...

BTW, dari mulai denger kabar SBY bakal nggandeng Budiono..suamiku ngomel-ngomel ga jelas masalah SBY yang sakkarepe dewe dalam milih wakil, ga ada komunikasi minta pendapat pada partai-partai yang berkoalisi dengan Demokrat..

Kalo aku sendiri?...tsaaaahhhh..aku sudah cinta buta ama PKS...ga pake mikir lagi...pokokna PKS bilang milih siapa...maka aku akan nyontreng pasangan itu...(mesti jika itu kemungkinanna...Mega Pro...yaiks...meski menjijikkan akan aku jalani...biar PKS yang nanggung dosana..)

Tapi aku inget suatu pagi di acara radio Ramako (kalo ga salah ya) tahun 2004 pas lagi gencar-gencarna kampanye pilpres waktu itu, mama lauren (yupe...tukang ramal itu...) meramalkan bahwa pada pemilu 2009 akan muncul satria piningit yang akan membawa Indonesia dalam kemakmuran..(ceile..bahasanya itu..ga kuku..). Dia bilang orangnya biasa-biasa saja, bukan dari kalangan islamis, bukan turunan ningrat (artinya bukan jawa), bukan militer, pokoknya dia biasa-biasa saja yang akan mulai muncul setaun sebelum pemilu...dan dia bakal menang jadi presiden.

Sumpeh deh...walopun aku ga ingin percaya, tapi diem-diem aku menunggu saat itu...menunggu saat-saat pembuktian bahwa mama laurent itu cuma tukang nggedabrus saja.. taon 2008 tiba-tiba iklan gencar di Metro tentang Rizal Mallarangeng....abis itu Prabowo....yang ..ampyun...duitnya banyak banget siy sampe bisa ngiklan sehebat itu.. Udah sempet mikir...jangan-jangan yang dimaksud adalah Rizal Mallarangeng...(kan dia memenuhi semua yang diramalkan mama laurent)

Tapi pada akhirnya...yang muncul adalah 3 pasangan itu..dan aku simpulkan MAMA LAURENT itu tuti (tukang tipu)...hayah...untuk nentuin gitu aja kok ya nunggu 5 taon...

So teman-teman..mau milih sapa? Jekawin, Nono ato sepeda motor...eh...Mega pro..?

Read More..

Rabu, Mei 13, 2009

Scarlett O'Hara

Pernah nonton Gone With The Wind ga? Atau malah baca bukunya sekalian? Dulu, jaman kuliah aku pernah baca (numpang baca gratis di gramedia..) buku itu. Waktu itu masih terdiri dari 4 jilid. Kalau sekarang sih, udah dalam bentuk edisi kolektor yang setebel bantal dan pake hard cover (jadi ga bisa baca gratis lagi deh...).

Jaman dulu juga, pernah juga diputar film Scarlett yang merupakan lanjutan dari Gone With The Wind. Aku terkesan banget dengan film lanjutannya ini karena beda dengan di buku pertama, Scarlett di film baru ini digambarkan lebih matang dan ga egois lagi sehingga pas jaman kuliah juga, aku pontang-panting nyari novel Scarlett ini dan nemu di rental buku (di gramed ga ada sehingga ga bisa baca gratis deh...). Di rental buku itu, kalau pinjem mesti naruh deposit dulu yang jumlahnya gede banget untuk ukuran mahasiswa yang biasa baca gratis, sehingga aku cukup sewa untuk baca ditempat. Bayangkan baca ditempat sewa buku itu yang panas dengan bangku seadanya (beda banget dengan ngelesot di gramed yang adem). Dan baca bukunya ternyata jauh lebih mengesankan daripada liat filmnya... Sehingga sejak itu aku berpikir bahwa buku ini adalah "must have book"-ku...dan buku itu sudah aku miliki....

Entah kenapa aku ga pengen punya (atau baca ulang) Gone With The Wind, tapi tahan baca Scarlett ini berkali-kali...mungkin karena aku ga tahan dengan karakter selfishnya Scarlet di buku pertama...mungkin juga karena aku ga suka sad ending...jadinya...ga pernah kepengen baca ulang lagi.. Satu hal utama karakter Scarlett baik di buku pertama ataupun lanjutannya adalah semangat pantang menyerahnya...demi apa yang diyakininya..Scarlett akan berusaha keras mempertahankan semuanya..dengan segala cara...yang ga lazim di jamannya sehingga membuat dia jadi penentang arus....

Bagian yang paling kusuka adalah ketika Scarlett memutuskan untuk pindah ke Irlandia dan memulai hidup baru disana. Dalam kondisi hamil dan kemudian diceraikan oleh Rhett, Scarlett menemukan arti mencintai tanpa syarat ketika anaknya lahir (dan akupun jadi paham, bahwa cinta pada anak itu bener-bener murni tanpa mengharapkan timbal balik...) dan Scarlett pun jadi semakin matang dan dewasa sampai akhirnya tamat...

Waaaaa, senengnya baca cerita yang happy ending....walo ending di film ama ending di novel beda jauh...tapi sama-sama happy ending lah....

Satu juga yang bisa dijadikan pelajaran yaitu pentingnya komunikasi yang jujur antara suami istri. Coba kalau dari awal Rhett dan Scarlett bisa berkomunikasi dengan baik dan terus terang pasti ketebalan bukunya ga kayak bantal....cukup 100 halaman aja udah beres deh... Tapi sekali lagi, makanya dimana-mana hubungan suami istri itu selalu pasang surut ya karena reality-nya, sungguh sulit menjaga komunikasi yang baik antara 2 orang yang tinggal serumah... Tinggal usaha sebaik mungkin dan selama-lamanya untuk tetap memegang janji nikah aja yang hatus tetap dilakukan..

So...happily ever after?...I think it should be...trying to be happy ever after...

Read More..

Selasa, Mei 12, 2009

Lembaga Pemeringkat

Sudah lama aku agak-agak bingung dengan peringkat yang diberikan oleh Rating Agency seperti Moody, OECD atau Standar & Poor.. Mungkin karena cara berpikirku yang sempit atau emang aslina ga ngerti, aku selalu heran kenapa S&P ngasih peringkat Indonesia itu BB-, atau OECD ngasih peringkat 4 (atau 5 ya...kok aku lupa). Padahal kan Pemerintah ga pernah ngemplang utang..bahkan jaman orde baru dulu Indonesia dibilang Golden Boy...ya itu tadi karena ga pernah telat bayar utangnya.

Kemudian aku baru tau bahwa bukan hanya utang pemerintah saja yang dijadikan bahan penilaian tapi termasuk utang swasta. Selain itu kondisi sosial ekonomi juga diperhitungkan. Nah..petinggi-petinggi di instansiku gencar banget roadshow di berbagai negara untuk menunjukkan bahwa ekonomi kita ini stabil dan bond kita juga bagus pasarnya sehingga layak untuk dapat dinaikkan peringkatnya. Tapi ternyata utang Garuda yang default itu bikin noda hitam rating kita sehingga, sepanjang Garuda ga bisa nyelesein defaultnya..rating Indonesia yang tetep segitu-gitunya...

Pas sidang tahunan ADB kemaren, salah satu seminar yang kami selenggarakan bertujuan untuk mengkritisi lembaga pemeringkat ini. Judul seminarnya "Oversight Rating Agencies: A Developing Country Perspective". BTW, The Jakarta Post menurunkan beritanya tentang seminar ini. Sebenarnya aku ga terlalu mengikuti seminar ini karena di awal seminar, sebagai organizer, tentu saja aku sibuk di belakang layar..sampai pas sesi kedua, ketika pembicara dari Citi Group Singapura, memberikan presentasinya... Benar-benar menarik apa yang dia bicarakan, terutama double standard lembaga pemeringkat ketika memberi peringkat pada negara maju dan negara berkembang. China yang punya cadangan devisa US$2 trilliun akan dengan mudah membayar semua utangnya tapi tetap rating China hanya "A", padahal Lehman Brothers yang akhirnya collapse dapet grade tertinggi "AAA".

Masalah rating ini bener-bener penting buat unitku karena berhubungan dengan biaya pinjaman. Jika rating RI bagus maka biaya akan semakin kecil...dan beban APBN pun untuk bayar ini itu bisa mengecil. Makana, tiap mau launching international bond...seluruh jajaran petinggi di tempatku, pada roadshow kemana-mana, terutama negara-negara penentu kebijakan di OECD, untuk menunjukkan kemajuan perekonomian Indonesia....(padahal dalam hatiku juga mikirin...berapa biaya yang udah dikeluarkan untuk itu ya..).

Selain untuk memperkecil yield bond, rating yang baik juga akan mengurangi insurance premium yang harus dibayar jika kita pinjam uang untuk beli barang dari luar negeri (yang kebayakan untuk kebutuhan militer..).

Balik lagi ke masalah rating tadi...walau pembicara dari S&P ngasih penjelasan bahwa pemeringkatan ini juga mempertimbangkan bagaimana kemampuan untuk mengelola utang biar tetap sustain...tapi tetep aja kan...bukti sekarang menunjukkan bahwa banyak lembaga keuangan yang dikasih rating triple A ternyata collapse juga....

Padahal saban dengerin Menteri Keuangan ngomong di banyak forum, lokal maupun internasional, selalu menonjolkan ekonomi kita yang stabil dan reformasi kebijakan dimana-mana untuk menunjang iklim investasi. Dan dengan kondisi ekonomi yang parah sekarang ini, negara-negara yang masih mampu bertumbuh positif..itu merupakan outlier sehingga semestinya hal-hal kayak gini juga dipertimbangkan...

Eniwei, Biggest Boss-ku juga nyampein pandangan di seminar itu bahwa mestinya ada peringkat juga bagi rating agencies itu, sehingga bisa diliat...peringkat yang dikeluarkan oleh rating agencies mana yang layak dipercaya....(halah..kok malah ruwet siy...)..

Read More..

Kamis, Mei 07, 2009

Turbulance

Wedew...hari ini aku maruk banget nulis di blog...sehari bisa produce 3 tulisan, setelah seminggu ga sempet menulis.

Siang kemaren aku balik dari Bali naek Garuda jam 14.30 WITA. Kupikir pesawatku berangkat pagi, jadi bisa jemput anak-anak dan nyempetin pijit bila sampe rumah. Ternyata, jika berangkat jam segitu maka nyampe cengkareng sekitar jam 15.30, ga bakal sempet pijit deh.... tapi seenggaknya bisa ketemu anak-anak....kangeeeeen banget sama mereka.

Tapi ternyata rencana tinggalah rencana karena sekitar setengah jam di dalam pesawat, terjadi turbulence yang bikin pesawat harus mendarat darurat di Surabaya. Swear deh..kejadiannya berlangsung cepat dan ribet sehingga aku ga sempat merasakan apa-apa. Tapi ketika sudah mendarat di Surabaya, para penumpang saling bandingin cerita. Dari dari cerita orang-orang itu, aku baru nyadar bahwa yang kami alami tadi sudah cukup gazwat...

Sebenarnya, ketika kuingat-ingat runtutan kejadiannya, aku begitu konsentrasi dengan bacaanku sehingga tiba-tiba masker udah jatuh di depan mataku dan terdengar teriakan-teriakan pramugari agar segera memakai masker tersebut karena perubahan tekanan membuat ac mati dan oksigen menipis. Banyak penumpang yang balas teriak (termasuk aku) menanyakan bagaimana memakai masker ini karena setelah ditarik berulang ulang (sampai langit langit penahan masker juga ikut jebol)..oksigen tetep ga keluar. Setelah entah berapa detik yang terasa panjang, masker itu terpasang dengan benar, namun penumpang sampingku (aku duduk di samping gang), tetap kebingungan ga bisa memakainya. Jadi aku ribet bantuin dia untuk masang masker..walo ga banyak yang bisa kulakuin karena keiket di tempat duduk.

Jadi aku melewatkan saat yang mendebarkan pas naik mendadak (pas aku konsen baca) dan pas turun mendadak (saat aku ribet bantuin orang itu). Bossku yang tidak terganggu apa-apa, bener-bener merasakan momen ketika pesawat harus belok tajam menghindari awan hitam yang tebal dan berbentuk kerucut, dan karena belokannya itu ternyata ga cukup, Bossku juga merasakan gerakan pesawat yang menanjak naik tajam karena mencoba melalui awan hitam itu dari atas. Saat di atas inilah (kurang lebih ketinggian 35.000), masker otomatis langsung turun karena udara yang menipis (dan ac juga mendadak mati). Dan setelah di atas ini, pesawat juga langsung menukik sampai ketinggian 10.000, tukikan yang tajam ini juga dirasakan oleh orang-orang (kecuali aku...hiks..)...

Ketika sampai dibawah, semua orang sibuk menenangkan diri dan coba cari solusi untuk meneruskan ke Jakarta. Ada ibu-ibu yang langsung refund dan mutusin buat naik kereta api gara-gara beliau ini sudah setaon ga berani pergi naik pesawat gara-gara trauma...eee...giliran udah nekat memberanikkan diri..malah kena turbulance separah itu....jadi..semaleman di kereta plus kemungkinan kecopetan, dijalanin aja daripada ngotot nunggu pesawat tapi nyali udah ga ada... Penumpang lainnya akhirnya ditransfer pake citilink jam 18.30....(termasuk aku..)

Kalau ditanya apakah aku trauma, dengan yakin aku jawab TIDAK. La wong, aku ga ngerasain apa-apa... Lagian, aku pasrah aja..umur itu kan Allah yang nentuin....kalau emang sudah waktunya....ga pake turbulance atau kanker serviks, ya langsung aja terjadi...

Tapi...setelah nyampe rumah dan menjelang tidur...kebayang juga rekaman blackbox-nya Adam Air yang meledak itu....waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa................

Read More..

Naik Travel

Pernah naik travel? Itu lo...angkutan antar kota yang anter jemput sampe tujuan..? Aku baru naik dua kali. Pertama, waktu pulang kampung lebaran kemaren, dari Banyuwangi menuju Surabaya. Aku dijemput paling akhir, sehingga setelah menjemputku, langsung meluncur menuju Surabaya. Tapi di tengah jalan, mobilnya rusak sehingga aku ditumpangkan ke kendaraan yang lain. Dan karena ditumpangkan, maka harus pasrah dengan kondisi tempat duduk yang terjepit, sama sekali ga bisa gerak dari ujung Banyuwangi, sampai Probolinggo..(yaaa....hampir empat jaman lah...). Setelah itu, baru bisa duduk lega sampai Surabaya dan jadi orang pertama yang dianter (karena tujuanku di Wage sidoarjo yang meruapakn pinggiran perbatasan Surabaya).

Kedua kalinya adalah hari senin malam kemaren, ketika aku memutuskan untuk menengok Bapakku di Banyuwangi. Aku tinggal di Grand Bali Hotel, Nusa Dua, sehingga akulah penumpang pertama yang dijemput (kata sopirnya, Nusa Dua itu ujungnya Bali...).

Ternyata oh ternyata...jadi yang pertama dijemput sungguh tidak mengenakkan. Pertama, petugas travel bilang bahwa aku akan dijemput sekitar jam 5 - 5.30 pm, tapi setelah telepon berulang-ulang yang bikin aku dan petugasnya bete, aku baru dijemput jam 7 pm (aku bener-bener ga bisa menunggu tanpa kepastian kayak gini..). Padahal gara-gara menunggu ga jelas itu, aku sampe lari dari seminar terakhir yang harus kuurus, dan kutitipkan pekerjaan yang tertinggal pada rekan tim yang lain...(dan hasilnya bikin aku kecewa banget...titipanku yang kujelaskan dengan detil, tidak dijalankan juga..!!) dan aku ga berani makan malam karena khawatir, jangan-jangan pas aku makan si travel ntar malah dateng...

Kedua, karena aku yang pertama maka masih ada 7 penumpang lain yang harus dijemput dan lokasi ketujuh orang itu menyebar dari kuta, jimbaran, sanur, denpasar sehingga baru jam 9.30 pm, travel itu meluncur menuju gilimanuk. Wuaaaaaa, 2.5 jam keliling denpasar...mana aku laper banget..sehingga dari jimbaran, aku ngotot berenti di McD buat beli makan. Penumpang yang lain berbisik-bisik kenapa harus muter dan masuk McD? Ah...biar aja deh...yang penting perih dan kepala yang udah mulai muter-muter ini bisa ilang...

Balik dari Banyuwangi menuju Nusa Dua juga berulang. Sekali lagi, karena Nusa Dua adalah ujung Bali, maka aku adalah penumpang terakhir yang diantar....waaaaa.....kejadian muter-muter ga jelas keliling Denpasar pun berulang... Mana penumpang yang dianter itu, lokasi rumahnya masuk ke jalan-jalan tikus yang cuma cukup dilewati satu mobil. Jadinya, walau hanya mengantar 7 penumpang lainnya, tapi lamanya bikin bete dan nafsu marah meningkat.

My Note:
Baaahhhhh...ga lagi-lagi deh naik travel, mending repot dikit naik turun kendaraan daripada 2,5 jam ngabisin waktu ga jelas buat muter-muter kayak gitu....MABOK...!!



Read More..

Bapakku

Aku tau bener bahwa bakti kepada Ibu itu 3 kali lebih utama daripada bakti kepada Bapak. Tapi aku tidak bisa memungkiri bahwa sayangku kepada Bapakku 3 kali lebih kuat daripada sayangku kepada Ibu.

Aku pernah cerita tentang enaknya jadi Daddy's Little Girl sehingga dalam anganku Detya pun akan mendapatkan hal yang sama walaupun sampai sekarang hal itu ga pernah terjadi. Aku merasa, walau Bapakku jelas bukan orang yang sempurna, tapi beliau adalah panutanku dalam bertindak. Aku ga pernah meragukan Bapakku dan aku selalu mempercayai apa yang beliau katakan. Intinya...Bapak adalah segalanya buatku.

Minggu lalu saat hectic menyiapkan ST ADB itu, Selasa pagi Ibuku SMS mengabarkan bahwa Bapak harus dirawat di rumah sakit karena mengalami kecelakaan sepeda motor. Bisa dibayangkan bagaimana perasaanku saat itu. Bapak di rumah sakit karena tabrakan?..rasanya tiba-tiba aku merasa ga bisa bernapas...(alias sesak napasku tiba-tiba muncul..). tapi aku tau, jika aku bereaksi histeris, Ibuku akan lebih histeris lagi dan itu sangat-sangat menyusahkan...

Maka dengan gaya sok cool aku telepon Ibuku untuk menenangkan beliau dan mengatakan semua akan baik-baik saja. Jangan kuatir tentang tambahan biaya karena aku akan berusaha sekuat tenaga untuk cari tambahannya...yang penting Bapak harus mendapatkan pengobatan sebaik mungkin. Nada bicara ibuku sudah penuh tangisan, tapi mungkin mendengar cara bicaraku, Ibuku ga meneruskannya dengan nangis beneran...

Rasanya bener-bener beda ketika mendengar bapakku masuk RS dibandingkan ketika mendengar Ibuku yang harus dirawat. Aku tau sekali bagaimana Ibuku, sehingga jika beliau harus ke rumah sakit itu karena hal-hal yang beliau lakukan sendiri..(Ibuku kena diabetes...dan kadar gula akan naik jika ga displin diet karbohidrat dan gula... Jadi Ibuku biasanya dirawat jika habis ada momen2 banyak selametan..misalnya lebaran.....idul adha..atupun maulid nabi...). beda dengan Bapakku yang sangat anti rumah sakit. Dari dulu, ketika aku masih tinggal bersama orang tua, walau asma Bapakku kambuh sampai ga bisa napas...Bapak tetep ga mau masang oksigen di RS. Padahal...napaspun tinggal satu-satu.. Bahkan bulan lalu ketika Bapak terdeteksi juga kena diabetes...(gula darah naik sampai 250)..beliau ga mau di rawat sama sekali...beliau bilang sakit itu masalah sugesti..selama Bapak tidak merasa apa-apa, maka beliau merasa ga sakit apa-apa..(walo dengan gula setinggi itu).

Maka ketika kali ini Bapak bersedia di rawat, artinya ini hal yang benar-benar membuat beliau kesakitan... Aku bener-bener panik, ingin curhat ama adikku, tapi aku ga sanggup. Aku tau perasaan dia terhadap Bapak sama seperti perasaanku, sehingga aku kawatir kalo aku langsung nelpon dia..maka kami akan nangis bersama...(waduh..kan aku sedang di kantor...ntar pada heboh ngeliat aku menangis bombay..). Tapi aku bener-bener butuh ditenangkan...butuh dihibur bahwa semua akan baik-baik saja....aku tau bagaimana reaksi suamiku jika aku telpon beliau....maka aku ga ingin telpon. Tapi perasaan panik ini bener-bener butuh ditenangkan sehingga akhirnya aku telpon suamiku..(siapa lagi coba..)...dan sesuai dugaanku tanggapan suamiku bukanlah penghiburan...tapi aspek teknis..tentang siapa yang nabrak...gimana tabrakannya....bagaimana tentang pertanggungjawaban yang nabrak...dan ketika aku bilang yang nabrak langsung lari..beliau langsung bilang..itu harus diurus..harus dicari sampe dapet untuk dimintai tanggung jawab..dan sebagainya dan sebagainya...

OMG...aku ini panik....Bapakku tersayang sedang dirumah sakit....mbok ya bilang..."sabar ya...kita berdoa aja, semoga ga ada yang parah...yang penting kita pastikan saja ke rumah sakit agar menangani bapak dengan baik..."..yah hal-hal semacam itu lah...maka ketika suamiku masih sibuk membicarakan hal-hal teknis...aku mutusin untuk berhenti curhat dan bilang bahwa aku masih banyak urusan nyiapin ST ADB ini karena hari kamis pagi aku sudah harus berangkat ke Bali... mungkin suamiku berpikir betapa tidak berperasaannya aku, di saat orang tuanya di rumah sakit..yang dipikirin hanya kerjaan ga penting...

Setelah itu..aku ga tau lagi harus curhat ke siapa, maka aku bener-bener nyibukin diri sendiri dengan persiapan ke Bali..sampai aku ga sempat berpikir apa-apa. Sorenya sepanjang perjalanan pulang, aku menangis bombay diam-diam dan anak-anakku pun tau diri dan ga menanyakan apa-apa.

Di rumah, aku dan adikku langsung mengurung diri di kamar. kami berdua sudah bisa mengendalikan diri dan ga ada tangisan bombay lagi...(walo aku sempet mewek dikit). Kami hanya diskusi untuk melegakan perasaan dan cerita apa yang tadi kami lakukan ketika dapat berita pertama kali. Aku menghindari nelpon adikku dan begitu juga adikku, menghindari nelpon aku dengan pertimbangan tidak ingin ganggu kesibukanku nyiapin ST ADB... Adikku ga sengaja bisa ketemuan sama sahabat SMAnya sehingga bisa memuaskan tangisnya pada sahabatnya itu...

Lalu ketika di Bali, aku minta ijin semua rekan kerja se tim dan juga ijin ke Big Bossku bahwa aku tidak bisa ikut serta di hari terakhir karena harus menjenguk orang tuaku di Banyuwangi, 4 jam dari Bali. Mereka semua mengijinkan sehingga tanggal 4 Mei malam, aku berangkat dan langsung turun di RS. Bapakku sudah cukup baik dan dapat beraktifitas normal dan Rabu kemaren sudah bisa pulang ke rumah. Betapa leganya dapat bertemu orang tuaku...memastikan semua baik-baik saja dan selasa malam langsung kembali ke Nusa Dua. Rabu pagi nyampe, dan siangnya langsung cabut ke Jakarta...

Ah....sungguh resah rasanya jika tau orang tua sedang tidak sehat....rasanya pengeeeeen tinggal dekat mereka sehingga bisa nangani langsung jika ada kejadian apa-apa. Makanya...semoga nanti jika adikku jadi pulang kampung dan tinggal bersama orang tua..kecemasanku sedikit berkurang..karena ada anak perempuan yang lain yang merawat mereka...


(hmmmmmm...jadi mikir ...kayaknya perlu nambah anak perempuan satu lagi niy....)

Read More..