Jumat, Juli 29, 2011

Cincau Hijau

Aku kenal cincau hijau itu waktu kuliah di Bogor karena di Banyuwangi, adanya cuma cincau hitam yang biasa dijadikan campuran es campur.

Ketika pertama kali merasakan cincau hijau, aku langsung suka sekali karena teksturnya yang lembut seperti puding terasa meluncur di tenggorokan. Beda dengan cincau hitam yang harus dikunyah dengan cukup kalau tidak mau kesedak pas nelan.

Waktu itu (dan sampai sekarang) yang kuutamakan adalah rasanya yang enak, aku yakin saja sih kandungannya pasti baik untuk kesehatan terutama untuk panas dalam.

Setelah di Jakarta, kadang-kadang kalau ada tukang cincau keliling lewat, aku sengajakan beli dan menikmati cincau hijau itu. Sampai suatu ketika aku nonton liputan investigatif di salah satu TV yang rutin menanyangkan hal beginian (beuh...benar-benar mengurangi nafsu jajan sembarangan). Itu loh tayangan yang biasa menampilkan bakso tik*s, ayam tiren, ikan asin formalin, kue boraks..yang begitu-begitu deh.

Nah, suatu ketika ada tayangan tentang cincau hijau ini yang ternyata ditambahi dengan pewarna tekstil dan bahan dasar bedak untuk lebih mempercepat proses pembekuan. Sejak saat itu aku jadi menahan diri dengan amat sangat ketika melihat tukang jualan cincau keliling lewat. Padahal kan aku suka banget dengan cincau hijau ini.

Sampai lama aku menahan diri seperti ini karena setiap kali sudah mau nekat beli di abangn-abang jualan, setiap kali itu pula keingat denga tayangan itu. Maka kalau makan di resto yang jelas saja aku mau minum cincau hijau ini. Dan tidak banyak restoran yang menyajikan cincau hijau sebagai minuman, sehingga masih terbatas saja pilihanku.

Sampai suatu ketika, aku iseng-iseng saja mampir di The Food Hall Kebun Jeruk dan menemukan cincau hijau kemasan gelas dijual disini. Aku senang sekali dan langsung ambil 3 gelas. Anak-anak suka dan aku tidak perlu cemas dengan keaslian si cincau hijau ini.


Jadi sekarang setiap saat pengen cincau hijau, maka tinggal mampir saja ke The Food Hall Kebun Jeruk.

Tapi rupanya mesti bersaing juga belinya, karena sempat berapa kali ketika kami sengaja kesana, si cincau hijau ini sudah habis ga tersisa satupun.

Hmmm....rupanya bukan aku saja penggemar cincau hijau ini.
Read More..

Rabu, Juli 27, 2011

Anak Perempuan II : Anakku Sendiri

Dua tahun lalu saat aku menghabiskan lebaranku di rumah Mertua, aku bisa memahami kenapa seorang Ibu ingin punya anak perempuan. Aku mengamati bahwa seorang anak perempuan adalah tambatan hati untuk Sang Ibu. Yaaah..saat itu yang aku amati adalah diriku sendiri dibandingkan Mertuaku yang tiga anaknya laki-laki semua. Saat itu aku di rumah Mertuaku dan merasa bahwa aku tidak bisa senyaman ketika di rumahku sendiri. Pada akhirnya anak perempuan akan menjadi kebutuhan luar biasa disaat seorang Ibu beranjak tua.


Saat ini aku ingin berbicara tentang anak perempuan dari sisi kebutuhanku terhadap anakku sendiri.
Sepulang kerja kemarin, tiba-tiba aku merasa tidak enak badan dan terasa mau demam. Maka sepanjang perjalanan pulang naik taksi, aku hanya berdiam diri memejamkan mata mencoba istirahat. Namun keadaan semakin memburuk ketika kami sampai di rumah.

Aku ga bisa melakukan apa-apa kecuali bergelung dibawah selimut dan menggigil tidak karuan. Dan saat ga ada satu orang dewasapun yang membantuku, Detya dengan cekatan mengurusku. Menyelimutiku, menyiapkan air minum bahkan merebus air agar aku bisa minum air hangat. Menelepon ayahnya menyampaikan keadaanku dan mengurus adik-adiknya agar membiarkanku istirahat.

Entahlah, demam tadi malam itu benar-benar membuatku tidak bisa melakukan apa-apa. Padahal Wisam masih belum makan...padahal gaada makanan apapun di rumah. Dan Detya, langsung menanggapi ketika kuminta mengurus makan malam adiknya. Yaa..walau cukup dengan beli nasi goreng yang lewat depan rumah...tetap saja aku merasa sangat bangga ketika dia melakukannya dengan baik dan bertanggung jawab.

Detya pun juga segera menyiapkan keperluan sekolahnya besok pagi dan menyiapkan tempat tidurnya. Walau pada akhirnya anak-anak tidak tidur tepat waktu karena ga ada yang nemenin tidur...tetap saja tadi malam itu momen luar biasa yang membuatku sangat bersyukur punya anak perempuan.

Bagaimanapun Detya baru 8 tahun dan aku sudah bisa mempercayai dia untuk mengurusku dan adik-adiknya..

Jadi wajar kan jika aku merasa bangga luar biasa...
Read More..

Senin, Juli 18, 2011

Celengan Bambu

Suatu ketika Detya merajuk ingin punya celengan kaleng bergambar Barbie. Namun suamiku yang menyukai barang-barang buatan tangan, akhirnya berangkat ke toko bambu dan membuatkan celengan bambu seperti ini

Aku lupa tepatnya kapan membuat celengan ini, yang jelas sudah setahun lebih...mungkin akhir 2009.

Dan Sabtu lalu, mengingat si celengan ini sudah penuh maka anak-anak minta untuk dibongkar. Agar si celengan ini ga mubazir, maka setelah beberapa lama aku membatasi bahwa koin yang bisa masuk di celengan ini adalah koin 500 atau seribu.


Setelah dihitung-hitung, hasilnya kira-kira 200an ribu... Anak-anak sepakat untuk memasukkan uang ini ke tabungan mereka.. (walau sempat diambil sedikit-sedikit untuk beli mainan di abang-abang yang nongkrong dekat masjid..)

Sepertinya waktu untuk membuat celengan bambu yang baru lagi...
Read More..

Rabu, Juli 06, 2011

Bonus Deal keren



Gara-gara nulis tentang NAIA Beauty Gallery dan beberapa review tentang kupon Deal kerenku, rupanya salah satu Humas Deal Keren ada yang bertugas mencari berita tentang Deal Keren dan menemukan tulisan di blogku ini.

Diawali dengan komen di artikel NAIA:

Halo Mbak Dewi,

Aku Reza dari DealKeren.
Senang DealKeren bisa memberikan penawaran yang disukai Mbak Dewi.

Boleh aku minta alamat emailnya?
Kalau boleh kirim ke reza.yazdi@dealkeren.com

DealKeren mau kasih sesuatu buat Mbak Dewi, gak besar tetapi mungkin berguna hehehehe...

12 Juni 2011 21.38


Dilanjutkan dengan email-emailan dua kali, maka tadi malam Mas Reza mengirimkan email berikut :

Hai Mbak Dewi,
Kami baru saja menambahkan kredit sebesar Rp. 50.000 ke dalam akun Mbak Dewi.
Terima kasih sudah berbagi pengalaman di dalam blognya.
:)

--

Regards,

Reza Yazdi
Search Engine Specialist


DealKeren.com
STC Senayan Lantai 7/E
Jl. Asia Afrika IX Gelora Senayan
Jakarta


Tel: 021 - 5793 1988
Fax: 021 - 5793 1932


Rasanya pengen senyum-senyum terus sepagian ini....lumayan dapat tambahan kredit. Bisa aku pakai kalau ada deal lagi dari Chewy Junior dan New Zealand Ice Cream...

Dua deal ini sangat-sangat menarik....dan semoga ada lagi..

Thank you Deal Keren..
Read More..

Senin, Juli 04, 2011

Batik Banyuwangi

Dari sekian banyak koleksi batikku, sebagian besar adalah batik madura. Untuk Batik Banyuwangi sendiri, aku hanya punya satu. Kenapa Batik Madura? Karena harganya yang cukup terjangkau dan sudah bisa dapat batik tulis.

Beda dengan Batik Banyuwangi, kalau mau yang tulis harganya bisa dua kali lipat batik madura. makanya aku jadi perhitungan walaupun ini batik asli daerahku sendiri.

Lalu saat pulang kampung kemarin, aku mampir di toko batik Banyuwangi langgananku yaitu Sayu Wiwit. Biasanya aku langsung ke workshopnya tapi ternyata sekarang sudah ada toko batiknya tersendiri. Dan tampilannya membuatku ngiler...aduuuh...bagus semuanya.


Dengan warna-warni yang bikin aku suka dan motif yang beragam, langsung saja aku telpon teman baikku yang juga kolektor Batik. Hasilnya sukseslah aku membawa pulang 4 batik tulis, satu kombinasi dan satu cap. Harga batik tulisnya sudah naik, tapi karena aku beli agak banyak dan yang jual teman SMAku sendiri, aku dapat harga yang sama dengan saat aku beli tahun 2008 lalu.

Satu hal yang menyenangkan adalah, Sayu Wiwit sekarang juga menyediakan batik kombinasi dan Cap sehingga pilihan harganya jadi beragam dan ga berat di kantong.




Alamat Batik Sayu Wiwit
Jalan Sayu Wiwit No.61 Temenggungan
Banyuwangi Jawa Timur
telp: 0333-422642
HP: 085859392244
Read More..

Banyuwangi dan Wisata Kuliner

Hal yang pasti kurindukan saat pulang ke Banyuwangi adalah makanannya. Ada banyak makanan khas yang ada di Banyuwangi.

Sebut saja Rujak Soto, makanan ini hanya ada di Banyuwangi. Kalau rujak cingur rasanya sudah umum bagi para Jawa Timuran dan memang termasuk makanan wajib di Jawa Timur. Tapi Rujak Soto...hmmm..hanya ada di Banyuwangi. Sesuai namanya, Rujak Soto adalah campuran rujak cingur dengan soto madura dengan isi jerohan (babat dan iso/usus)...dan memang begitu cara buatnya. Rujak cingur yang sudah siap, disajikan dalam mangkuk dan disiram dengan soto jerohan... Hasilnya? yummy luar biasa buatku.

Bagi orang yang bukan Jawa Timur, mencoba rujak cingur butuh keberanian karena warna rujak yang hitam karena efek petis, membuat orang jadi tidak berselera. Nah bagi orang yang sudah terbiasa makan rujak cingur, rujak soto tetap produk yang aneh. Untungnya suamiku mau mencobanya dan sekarang beliau yang paling bersemangat nyari rujak soto kalau pulang ke Banyuwangi.

Makanan wajib lainnnya adalah Sego Janganan. Walaupun janganan artinya sayuran, tapi sego janganan yang biasa dijadikan makanan untuk sarapan ini sama sekali tidak ada unsur sayuran sama sekali, kecuali jagung bakar dan parutan kelapa yang berkuah. Selainnya adalah unsur ikan laut, baik yang dipelas (pepes) atau di pindang kuah. Ditambah sambal kemiri dan kerupuk, juga separo telor pindang..maka Sego Janganan jadi sarapan yang nikmat dan mengenyangkan..


Sayang, aku ga sempat mengabadikan sendiri gambar sego janganan ini, foto dari sini kurasa cukup mewakili (walau ga kelihatan detilnya)

Naaah..ada satu makanan khas yang ga perlu aku beli...cukup dibuatkan ibuku sendiri yaitu Sego Tempong. Tempong artinya tempeleng, jadi disebut sego tempong karena sambalnya pedas luar biasa sehingga rasanya seperti abis ditempong...Sego Tempong buatan ibuku sungguh dengan sambal yang luar biasa pedaaasss....I miss her sambel already :(

Sego tempong hanya terdiri dari nasi dengan sayuran rebus standar misalnya terong mini, bunga turi, kangkung atau daun kenikir di siram dengan sambal yang puedess tadi dengan lauk tahu/tempe dan ikan asin goreng. Dimakan kapanpun, baik pagi siang atau malam akan tetap terasa nikmat...

Selain makanan khas tadi, ada lagi makanan wajibku jika pulkam yaitu pangsit mi. Bukan seperti Mie Ayam walaupun ingridientnya sama..tapi kering seperti Cwie Mie Malang, daging ayamnya dicacah kering tapi bumbunya terasa. Ah, pangsit mi itu harus masuk dalam menu wajib makan.

Untuk snack, ada yang namanya Uceng-Uceng dan Orog-Orong, dua-duanya berbahan dasar tepung beras hanya berbeda cara pengolahan. Dimakan dengan taburan kelapa dan gula pasir...Uceng-Uceng dan Orog-orog masuk dalam menu wajib makanku.

Hasilnya....beberapa hari ini perutku terasa penuh terus karena kebanyakan makan selama di Banyuwangi...

Ahh...tak sabar menunggu waktu pulang kampung tiba lagi...

Read More..