Rabu, Mei 07, 2008

Pesan Saya & Mendengar Aktif

Setelah sebelumnya kita sudah mengenali 12 gaya populer dan berusaha memahami bahasa tubuh anak, sekarang adalah bagian untuk melakukan komunikasi aktif yang baik antara orang tua dan anak.

Ketika menghadapi lawan bicara yang bermasalah, kita perlu untuk break sebentar dan bertanya pada diri sendiri “Masalah siapakah ini ?“. Kita tidak mungkin menjadi Super Problem Solver, semua kita coba untuk kita tangani sendiri sehingga akhirnya anak tidak belajar untuk mandiri. Anak tidak bisa menalikan sepatunya, ibu yang akan membantu. Anak bertengkar dengan temannya, ibu akan segera mendatangi anak itu bahkan mungkin orangtuanya untuk menyelesaikan masalah. Anak tidak bisa masuk ke sekolah favorit, orang tua akan menggunakan segala cara agar si anak dapat memasuki sekolah tersebut. Begitu terus, orang tua yang menyelesaikan semua permasalahan anak. Bagaimana anak bisa mandiri jika selalu orang tua yang turun tangan? Bahkan dia akan mempelajari bahwa walaupun itu masalah orang lain, dia bisa ikut campur mengurusi.

Kita seharusnya mengajari anak untuk bertanggung jawab dan menyelesaikan masalahnya sendiri serta tidak ikut campur dengan urusan orang lain. Selanjutnya anak akan belajar mandiri. Ada empat pertanyaan yang harus kita tanyakan kepada diri sendiri untuk dapat menentukan masalah siapakah ini.

1. Apakah tingkah laku anak mengganggu hak (kita) pribadi sebagai manusia?

2. Apakah tingkah laku anak mengganggu keselamatan dirinya atau orang lain?

3. Apakah tingkah laku anak mengganggu keselamatan harta benda kita?

4. Apakah anak tidak mampu menyelesaikan masalahnya karena usianya yang masih kecil?

Jika dari semua pertanyaan tersebut jawabannya adalah YA, maka itu berarti masalah tersebut adalah masalah orang tua solusinya adalah PESAN SAYA. Jika jawabannya adalah TIDAK, maka merupakan masalah anak dan solusinya adalah MENDENGAR AKTIF.

PESAN SAYA

Dalam berbicara dengan anak, seringkali kita menggunakan bahasa kamu, padahal dengan cara ini justru tidak menyampaikan akibat yang ditimbulkan oleh perilaku anak dan berpusat pada kesalahan anak serta cenderung tidak membedakan antara anak sebagai pribadi dan perilakunya. Hal ini akan membuat anak merasa direndahkan, disudutkan dan disalahkan dan akibatnya anak akan mudah merasa dendam/benci. Jika menggunakan PESAN SAYA maka lebih menekankan perasaan orang tua sebagai akibat dari perilaku anak, jadi anak akan mengerti bahwa perilakunya mempunyai akibat kepada orang lain. Dengan PESAN SAYA, anak akan merasa nyaman tetapi sadar akan akibat perilakunya tersebut.

Contoh situasi:

Ibu masuk ke kamar anak dan melihat kamar sangat berantakan, buku berserakan, mainan bertebaran, pakaian bergantungan dimana-mana. Si anak sendiri sedang asyik membaca komik di tempat tidur tanpa terganggu dengan keadaan kamar

Pesan Kamu : “Ya ampun, Kakak….kok malah asyik baca sih… Coba lihat kamarmu berantakan gini, sudah dibilang berkali-kali…kamar itu mesti rapi. Kamu kok ga dengerin Ibu sih…”

Pesan Saya : “ Kakak…Ibu tuh merasa kesal kalau melihat kamarmu berantakan begini karena jadi kelihatan sumpek, kotor dan terutama lagi bisa jadi sarang nyamuk”

Coba perhatikan beda antara Pesan Kamu dan Pesan Saya. Pertama kali tentukan dulu masalah siapa ini dengan menjawab 4 pertanyaan di atas, untuk kasus di atas, saya yakin semua setuju bahwa kondisi itu merupakan masalah orang tua. Jadi clue kalimat dalam pesan saya adalah:

Ibu merasa ……....kalau kamu…….…..karena…….….

Atau kalimat lain yang sejenis, yang jelas poin kalimatnya adalah penekanan perasaan orang tua terhadap kondisi yang terjadi dan jangan lupa jelaskan alasannya kenapa. Karena saya yakin anak sekarang tidak mudah menerima pendapat orang tua jika tidak disertai alasan yang logis. Ingat juga bahwa dalam menyampaikan Pesan Saya tersebut kita melandasinya dengan perasaan kasih, tegas dan tidak merusak harga diri dan perasaan anak.

Waktu pelatihan tersebut Ibu Rani memberi contoh kejadian yang dialaminya dengan anak bungsunya. Waktu itu si Bungsu pulang terlambat dari sekolah tanpa pemberitahuan. Sejam pertama Bu Rani merasa masih bisa terima karena mungkin saja terlambat akibat macet Dua jam terlambat mulai merasa khawatir karena takut terjadi apa-apa. Tiga jam-empat jam berikutnya berubah jadi jengkel dan selanjutnya marah. Sambil menunggu di depan pintu dengan kemarahan yang memuncak, Bu Rani berusaha menghapus kemarahannya dengan membayangkan betapa sangat sayangnya beliau kepada si anak. Dia mengingat-ingat hal yang indah-indah dari si anak sehingga ketika sang anak muncul di depan pintu Ibu Rani langsung memeluk si anak dan mengucapkan “Aduh sayang…ibu khawatir dan takut sekali kalau kamu pulang terlambat tanpa pemberitahuan begini karena mungkin saja terjadi apa-apa sama kamu sedangkan ibu tidak bisa menghubungi siapa-siapa. Lain kali jangan lupa untuk memberitahu Ibu ya”.

Ibu Rani selalu memberi contoh kejadian nyata antara si bungsu dengan dirinya karena dulu beliau sengaja terjun ke bidang parenting ini karena ingin membesarkan si bungsu dengan cara yang benar. Hasilnya adalah si bungsu yang saat ini sudah SMP menjadi anak dengan rasa empati yang tinggi dan selalu berkomunikasi dengan kedua orang tuanya sehingga diharapkan dengan kondisi pergaulan yang seperti sekarang ini si anak dapat menjadi pribadi yang tangguh dan peka.

MENDENGAR AKTIF

Jika dalam penentuan masalah, jawaban dari empat pertanyaan di atas adalah tidak maka merupakan masalah anak sehingga ada dua kemungkinan yang dapat dilakukan yaitu membantu (sejauh mana?) dan membiarkan si anak mengatasinya sendiri. Nah, dalam menanggapi anak inilah kita melakukan MENDENGAR AKTIF artinya berusaha mendengar tidak hanya dengan telinga tapi juga dengan mata dan hati. Dengan demikian yang kita lakukan adalah pemahaman empatik, memahami dari sudut pandang anak bukan dari yang kita lihat atau kita pikirkan. Mendengar aktif akan sangat tepat digunakan jika:

- anak sedang bermasalah dan menunjukkan emosi yang kuat (marah, sedih, menangis)

- emosi anak tidak cukup kuat, namun bisa kita rasakan perasaannya sedang tidak nyaman

- kita ingin menolak permintaan anak

- ketika kita tidak menerima “ejekan atau cap” yang diberikan anak (misalnya:”aku benci sama Mama..”)

dengan mendengar aktif, kita membantu anak untuk mengenali, menerima, mengerti dan sadar akan perasaannya sendiri. Selain itu dapat membantu mereka mengatasi perasaann dan masalahnya, sehingga mereka dapat mengekspresikan perasaannya secara tepat dan dapat diterima. Pada akhirnya mereka pun akan belajar untuk peduli dan memahami orang lain.

Pada saat kita melakukan Mendengar Aktif, kita sebagai orang tua harus mampu menghargai perasaan dan apa yang diucapkan anak, terbuka terhadap makna dibelakang kata dan bahasa tubuhnya dan mau mengerti dan memahami apa yang dialami anak. Hal yang paling utama adalah perhatian penuh kepada anak, artinya jangan sambil melakukan pekerjaan lain dan lakukan kontak mata. Carikan kata yang paling menggambarkan perasaan anak, dengan rumus: Kamu …………… (perasaan) karena …………(alasan).

Satu hal lagi, jangan menggunakan 12 gaya populer.

Contoh kasus misalnya dari dialog yang saya contohkan di tulisan pertama.

I. Mendengar Biasa

menggunakan 12 gaya popular terutama mengkritik,menasehati, memberi peringatan/mengancam

Anak : “Aku benci sama Ibu Guru”

Ibu : “Eh, kok ngomongnya gitu sih. kamu harus hormat pada gurumu”.

Anak : “Ibu Guru bikin aku malu. Masak aku dimarahin di depan teman-teman..”

Ibu : “Bu Guru marah pasti karena kamu berbuat salah, ya kan?”

Anak : “Aku kan cuma mau pinjam selembar kertas.”

Ibu : “Kamu tidak membawa kertas? Itulah hukumannya kalau kamu tidak mempersiapkan peralatan sekolah di malam hari. Berapa kali Ibu harus mengingatkanmu untuk selalu menyiapkan peralatan sekolahmu sebelum berangkat? Kalau saja kamu turuti kata-kata Ibu pasti hal itu ga akan terjadi.”

Anak : Ah, Ibu cerewet..”

Ibu : “Jangan bicara seperti itu pada Ibumu..!”

Anak : “Iya,iya aku yang salah, aku teruus yang salah, ibu yang benar. Ah..Ibu ga pernah ngerti perasaanku.”

II. Mendengar Aktif

menerima dan merefleksikan perasaan dan harapan anak

Anak : “Aku benci sama Ibu Guru”

Ibu : “Kamu kedengarannya sedang kesal ya?”

Anak : “Bu Guru marah-marah di depan temanku dan ga jelas alasan marahnya”.

Ibu : Waaah, kamu pasti malu dan kesal ya”.

Anak : “Bu Guru marah karena aku lupa bawa kertas.”

Ibu : Oooo, begitu.. Terus gimana?”

Anak : “Ya..kadang-kadang aku memang lupa bawa perlengkapan sekolah.”

Ibu : “Dan sebenarnya kamu ga ingin lupa kan?”

Anak : “Ya, Bu. Makanya mulai besok, aku akan mempersiapkan dulu semua peralatan sekolah di malam hari. Jadi ga akan ketinggalan lagi”

Ibu : “Kelihatannya kamu sudah menemukan jawaban untuk masalahmu itu.”

Anak : “Ya, Bu. Terimakasih ya.”

Bagaimana menurut Anda setelah membaca contoh di atas?

Dengan menggunakan 12 gaya popular, perasaan anak tidak diakui dan membuat anak untuk berhenti menceritakan apa yang dialaminya, karena tanggapan orang tua selalu menidakkan perasaan yang dialaminya. Anak akan merasa daripada disalahkan terus oleh orang tua lebih baik baginya untuk tidak bercerita. Dan mandeglah komunikasi orang tua dan anak.

Dengan mendengar aktif maka, perasaan anak diakui dan orang tua dapat mengarahkan dengan benar apa yang sebenarnya terjadi. Tanpa ikut serta memutuskan, orang tua juga dapat mengarahkan anak untuk memutuskan sendiri langkah apa yang harus diambil untuk mengatasi masalahnya.

Sebagai latihan Anda dapat memecahkan masalah yang ada dalam contoh 12 gaya popular untuk diselesaikan apakah melalui PESAN SAYA atau MENDENGAR AKTIF.

Selanjutnya praktek yang paling nyata adalah bagaimana Anda melakukan komunikasi aktif dengan orang-orang yang Anda sayangi dengan menggunakan teori di atas. Saya sendiri pun masih dalam tahap belajar, seringkali apa yang saya lakukan masih kembali lagi menggunakan 12 gaya popular (bagaimanapun reflek yang sudah seumur hidup nempel ya gaya itu). Namun dengan membaca kembali modul seperti yang saya lakukan sekarang, membuat saya teringat lagi untuk melakukan yang lebih baik. Bukankah kita ingin membangun generasi mendatang yang jauh lebih baik? Tidak usah terlalu jauh, cukuplah dimulai dari lingkungan terdekat.

Jika Anda tanya apa yang saya dapat dengan metode di atas diterapkan di sekolah dan di rumah ? Anak-anak saya menjadi mudah untuk mengungkapkan apa yang dia rasakan dan terutama sekali adalah si sulung yang sangat pandai berempati (bahkan guru-gurunya mengatakan bahwa si sulung sangat mudah diajak berkomunikasi dan sangat mengerti terhadap orang lain, baik itu guru maupun teman sebaya). Anak kedua pun menjadi mudah berbicara padahal sebelumnya dia seringkali tantrum sampai saya kewalahan mengatasinya.

Terima kasih semua…. Semoga bisa bermanfaat…

Read More..

Selasa, Mei 06, 2008

12 Gaya Populer

Saya ingin berbagi sedikit hasil yang saya dapatkan dalam suatu pelatihan komunikasi orang tua pada bulan Juli 2007. Berhubung ada dua sub topik yang saling berhubungan maka saya bagi sharing saya ini dalam dua bagian juga. Semoga bermanfaat….

Tahun ajaran 2007/2008 saya mendaftarkan dua anak saya ke taman kanak-kanak. Anak pertama masuk ke TK A, sedangkan anak kedua di kelompok bermain. Pada saat membereskan urusan administrasi, saya diberitahu mengenai kewajiban orang tua murid untuk mengikuti pelatihan komunikasi. Alasan utama disebutkan bahwa agar pendidikan dan metode komunikasi yang diterapkan di rumah sama dengan yang diterapkan di TK tersebut. Jangan sampai apa yang diatur di sekolah tidak dilaksanakan di rumah sehingga hasil akhir yang diharapkan dari si murid menjadi tidak konsisten. Pertimbangan saya waktu itu sih karena wajib ya sudah saya laksanakan demi anak-anak saya (Tapi akhirnya, justru saya sangat bersyukur mengikuti pelatihan ini).

Pelatihan dilaksanakan 2 hari dari pukul 09.00 – 15.00, lumayan lama berarti saya harus izin atasan karena harus meninggalkan pekerjaan. Saya pikir sebagian besar rumah tangga Indonesia menyerahkan urusan sekolah anak-anaknya kepada Sang Ibu terutama ketika menghadapi pertemuan-pertemuan sekolah seperti ini. Dan tebakan saya benar bahwa sebagian besar peserta pelatihan adalah si Ibu, ada beberapa Bapak (kurang dari 5 termasuk 2 guru dari TK tersebut) dan ada juga satu pasangan yang datang.

Sesi pembukaan masih merupakan perkenalan dari pembicaranya. Namun dari cara sang pembicara mengenalkan diri dan materinya, saya tahu bahwa pelatihan ini akan menarik. Pembicara berasal dari Yayasan Kita & Buah Hati, yayasan yang mengkhususkan diri di bidang parenting, namanya Ibu Rani. Sebenarnya banyak pembicara dari yayasan tersebut, namun Ibu Rani lah yang menjadi favorit sehingga TK itu selalu minta Ibu Rani sebagai pembicara. Apa yang dipaparkan dalam pelatihan ini benar-benar membuat pikiran saya terbuka bahwa apa yang selama ini saya lakukan justru dapat mematikan perasaan anak (sehingga akhirnya saya meminta suami untuk bisa mengikuti pelatihan ini juga). Seharusnya kita dapat mengajari anak untuk dapat mengenali perasaan yang sedang dialaminya. Namun seringkali kita menjawab dan menerangkan dengan apa yang menjadi pikiran kita bukan berdasarkan sudut pandang si anak.

Pada dasarnya kebutuhan manuasia yang paling dalam adalah keinginan agar perasaannya didengar, diterima, dimengerti dan dihargai. Jadi dalam komunikasi, kita perlu meningkatkan kemampuan kita dalam mencoba memahami perasaan orang lain, apakah itu teman, pasangan hidup, rekan kerja, atasan, anak atau siapapun juga yang menjadi lawan bicara kita. Untuk anak-anak, seringkali mereka belum mampu untuk mengatakan apa yang mereka rasakan, bisa jadi karena perbendaharaan kata mereka yang belum banyak. Maka mereka akan menggunakan bahasa tubuh bahkan jauh ketika mereka belum pandai berbicara. Sebagai orang tua maka kita harus meningkatkan kepekaan kita dalam menangkap makna dibalik bahasa tubuh dan perasaan apa yang mendasari sehingga kita bisa memahami perasaan yang ingin disampaikan si anak. Rasa kurang percaya diri biasanya muncul karena kita “menidakkan perasaan” sehingga lawan bicara menjadi bingung, kesal, tidak mengenali perasaannya sendiri akhirnya tidak percaya pada perasaannya sendiri. Misalkan dialog dibawah ini:

Anak : “Ma, aku benci sama Bu Guru. Tadi aku dimarahi di depan kelas”

Mama : “Pasti kamu melakukan kesalahan makanya Bu Guru marah sama kamu. Tidak mungkin kan Bu Guru tiba-tiba marah”

Rasanya otomatis kita akan menyalahkan anak tanpa berusaha memahami lebih dahulu perasaan si anak dibalik kata-kata “benci” itu. Nah disinilah kami diterangkan mengenai 12 Gaya Populer yang biasa dilakukan orang tua ketika menghadapi anak. 12 gaya inilah yang merupakan penghalang bagi orang tua untuk dapat memahami si anak. Sebelum ada yang protes, tulisan ini selain dari ingatan saya juga sambil buka-buka lagi modul yang dulu diberikan.

12 Gaya Populer

1. Memerintah

Tujuan orang tua adalah untuk mengendalikan situasi dan menyelesaikan masalah dengan cepat, sedangkan pesan yang ditangkap anak adalah mereka harus patuh dan tidak punya pilihan

Anak:”Pa, aku engga mau berangkat sekolah”

Papa:”Apa-apaan sih, engga boleh malas ah. Pokoknya besok harus sekolah”.

2. Menyalahkan

Orang tua ingin menunjukkan kesalahan si anak, sedangkan tanggapan si anak adalah mereka tidak pernah benar/baik.

Anak: “Ma, kakiku luka nih…sakit sekali. Tadi habis jatuh..”

Mama: “Nah, kan? Dari tadi Mama bilang jangan lari-lari, makanya jatuh.. Ga pernah mau dengerin Mama sih

3. Meremehkan

Tujuan orang tua menunjukkan ketidakmampuan anak dan orang tua lebih tahu, anak menangkap bahwa dirinya tidak berharga/merasa tidak mampu

Anak:”Ayah, aku tidak bisa mewarnai gambar yang ini..”

Ayah: “Masa mewarnai begini saja ga bisa. Bisanya apa dong?”

4. Membandingkan

Orang tua ingin memberi motivasi dengan memberi contoh tentang orang lain, tapi anak menanggapi bahwa dia tidak disayang, pilih kasih dan merasa dirinya memang selalu jelek.

Anak:”Aku mau digosokin gigiku sama Bunda..”

Bunda : “ Iih, masak sudah besar masih dibantu..lihat adikmu sudah bisa gosok gigi sendiri”

5. Mencap

Maksud orang tua ingin memberitahu kekurangan agar anak berubah, anak menanggapi dengan merasa itulah saya

Anak: “Ayah, gendong Yah…aku ga mau jalan..dengkulku sakit nih”

Ayah : “Kamu ini memang anak cengeng, begini saja minta gendong. Jalan sendiri..!”

6. Mengancam

Orang tua melakukan agar anak menurut/patuh dengan cepat, tapi anak akan merasa cemas dan takut

Anak : “Bunda, tungguinbantuin aku pakai sepatu dulu..”

Bunda : “Pakai sendiri ah. Cepetan, ntar Bunda tinggal lo..Biar kamu pulang sendiri”

7. Menasehati

Maksudnya agar anak tahu mana yang baik dan mana yang buruk, namun anak menganggap bahwa orang tuanya sok tau, bawel dan membosankan

Anak: “Ma, tadi Rahma ngetawain aku..”

Mama: “Makanya kamu jangan suka ngetawain orang, kalau dibalas begitu baru tahu rasanya kan? Lain kali sama teman yang baik, jangan maumu sendiri”

8. Membohongi

Maksudnya agar urusan menjadi gampang, namun anak akan menilai bahwa orang dewasa tidak dapat dipercaya

Anak:”Ayah, kenapa sih kok bulannya cuma kelihatan setengah…?”

Ayah:”Iya, kan setengahnya dimakan Buto Ijo…..”

9. Menghibur

Tujuan orang tua adalah agar anak tidak sedih/kecewa, sehingga anak jadi senang dan tidak larut dalam kesedihan, namun anak akhirnya akan lupa dan melarikan diri dari masalah

Anak:”Pa, aku ngga mau temenan sama Ruri…dia suka nakalin aku…”

Papa:”Ya sudah…berteman sama yang lain saja. Kan masih banyak temen yang lain”

10. Mengkritik

Orang tua menginginkan agar anak memperbaiki kesalahan dan meningkatkan kemampuan diri, namun anak akan merasa bahwa dirinya selalu kurang dan salah

Anak:”Ayah, nih aku sudah selesai mewarnai..”

Ayah:”Masak begini dibilang selesai, coba lihat masih banyak yang belum diwarnai”

11. Menyindir

Memotivasi, mengingatkan agar tidak selalu melakukan seperti itu dengan cara menyatakan yang sebaliknya, anak akan menganggap hal ini menyakiti hati

Anak:”Aku ga mau minum vitaminnya..rasanya ga enak”

Ayah:”Ooo..kakak suka ya kalau sakit..vitamin kan membuat badan jadi ga gampang sakit..kalau ngga mau berarti kakak emang seneng sakit ya..”

12. Menganalisa

Orang tua ingin mencari penyebab positif/negative anak atau kesalahannya dan berupaya mencegah agar tidak melakukan kesalahan yang sama lagi, namun anak akan menganggap orang tua sok pintar

Anak:”Ayah, aku ngga mau belajar sepeda lagi..”

Ayah:”Itu karena cara belajarmu yang salah. Mestinya tanganmu jangan kaku dan pandangan harus ke depan. Kamu kan selalu melihat ke bawah. Terus rambutmu itu mestinya dikuncir biar kamu bisa leluasa bergerak ngga bingung aja sama rambut.”


Ketika mendengarkan penjelasan mengenai 12 gaya popular ini saya pun menjadi bingung, bukankan ini sudah wajar dilakukan? Kalau tidak boleh dilakukan lalu kita harus berbicara bagaimana agar anak menjadi mengerti apa yang baik dan benar? Saat itu saya benar-benar tidak habis pikir, namun Ibu Rani kembali menerangkan mengenai “penentuan masalah siapakah ini”. Dari penjelasan ini saya jadi paham bahwa benar 12 gaya tersebut merupakan penghalang dari komunikasi orang tua dan anak, terutama ketika anak dalam posisi labil (marah, sedih, jengkel, kecewa dsb) maka system limbic (penyimpan perasaan) dalam otak akan tertutup sehingga apapun yang dibicarakan orang lain tidak akan masuk dalam pemikiran anak. Jadi agar komunikasi berlanjut maka yang harus dilakukan adalah mendengarkan dengan hati, memperhatikan bahasa tubuh anak, memahami perasaannya dan menerima. Hal ini akan membuat anak merasa perasaannya penting dan perlu mendapat perhatian sehingga dia merasa nyaman yang membuat dia cenderung untuk berkomunikasi lebih lanjut.

Misalkan anak menangis menjerit-jerit tidak jelas apa yang diinginkan. Apabila kita bereaksi langsung dengan marah dan menyuruh dia diam, maka hal sebaliknya yang akan dia lakukan. Bahkan jika hukuman fisik diberikan, dia akan tetap menjerit-jerit. Tentu semua orang tua pernah mengalami ini, hal ini karena saat dia labil, system limbic-nya tertutup. Maka yang dapat kita lakukan adalah menunggu saat yang tepat ketika system limbic-nya terbuka, misalkan saat dia mengambil nafas, tentu tangisannya saat itu berkurang sehingga kita bisa merespon dengan “Kakak marah ya…?” Jika ini bukan perasaan yang dia rasakan tentu dia akan membetulkan sendiri…”Nggaaaa, kakak nggak marah…huhuhuhu” tangisannya masih berlanjut. Kita tunggu sampai dia menarik nafas lagi “oooo, kakak sedih ya?”

Disinilah pentingnya kita memahami bahasa tubuh anak, jadi kita bisa menebak suasana hati anak. Kalaupun kita salah menebaknya, anak akan memberikan petunjuk sampai kita bisa tahu apa yang sebenarnya dirasakan anak dan anak sendiri akhirnya mengenali perasaan apa yang dia rasakan.

Mungkin cara ini akan makan waktu lama, namun demi terjalin komunikasi antara anak dan orang tua maka tetap harus dilakukan. Bisa dibayangkan jika anak menangis menjerit-jerit di Mall, betapa malunya kita jadi tontonan orang lain. Biar saja ditonton orang, daripada kita melakukan 12 gaya popular di atas namun akibatnya masalah yang sebenarnya terjadi tidak terselesaikan. Bahkan mungkin anak akan diam hanya karena takut kepada kita. Selanjutnya mandeglah komunikasi antara orang tua dan anak. Anak akan mempelajari untuk menidakkan perasaannya daripada dia mendapat hukuman. Lalu akan terciptalah seorang anak yang kebal perasaannya dan siapa yang tahu apa yang akan terjadi pada orang yang tidak punya perasaan.

bersambung..........

Read More..

Tetralogi Pulau Buru

Pertama kali saya mengenal karya Pramoedya Ananta Toer adalah pada bulan Juni 2001 melalui buku berjudul Gadis Pantai. Saya yang punya nafsu baca besar tapi modal seadanya, mendapat pinjaman buku ini dari teman se-kost. Dia juga meminjami 3 buku pertama dari Tetralogi Pulau Buru: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa dan Jejak Langkah (pada akhirnya buku ini menjadi milik saya). Dari membaca buku-buku tersebut, saya langsung jatuh cinta setengah mati terhadap semua karya Pramoedya Ananta Toer. Selanjutnya saya buru semua karya Pramoedya Ananta Toer setiap kali saya punya rizki berlebih.

Tetralogi Pulau Buru menceritakan tentang biografi (?) dr salah satu toko kebangkitan nasional yg tidak tercatat dalam sejarah, RM Tirto Adhi Soerjo. Dalam buku tersebut RM TAS dinyatakan dalam tokoh yang bernama Minke. Bumi Manusia menceritakan masa saat Minke menjalani HBS di Surabaya. Saat itulah Minke mengenal Nyai Ontosoroh, melalui anak perempuannya, Annelis. Nyai ini banyak sekali mempengaruhi kehidupan dan jalan pikiran Minke sehingga menjadi pribadi yg berpikiran jauh lebih maju dari generasi lain seusianya. Annelis yg merupakan keturunan indo dari Nyai Ontosoroh dan seorang belanda bernama Robert Mellema, akhirnya menikah dgn Minke secara Islam. Pernikahan ini tidak diakui Pemerintah Belanda. Dan karena perebutan warisan antara Nyai dengan anak sah Robert Mellema, Annelis terpaksa berpisah dengan Minke untuk dibawa ke Belanda. Dalam buku ini lebih banyak menceritakan proses pembelajaran Minke yang merupakan anak sekolahan yang mendasarkan semua pemikirannya pada buku dan ajaran guru sekolahnya. Wujud dari pembelajaran itu adalah mulainya Minke menulis artikel dalam bahasa belanda pada sebuah surat kabar lokal.

Nyai Ontosoroh diceritakan sebagai perempuan pribumi yang berotak cemerlang, yang menjadi istri simpanan dan mendapat pembelajaran dari Robert Mellema dan membaca koleksi buku-bukunya sehingga berpikiran sangat modern dan mandiri. Nyai Ontosoroh menjadi sangat spesial jika dibandingkan dengan kondisi umumnya saat itu, dia adalah seorang otodidak yang terlalu independen. Satu hal yang dapat saya tangkap dari buku ini yaitu belajar, belajar dan belajar akan dapat membuka wawasan dan cara berpikir kita. Artinya adalah open minded terhadap semua hal, sedangkan belajar sendiri dapat dilakukan dengan membaca, baik dari buku maupun kejadian nyata yang ada di sekitar kita, sehingga kita dapat mengambil hikmahnya. Saat saya membaca tetralogi ini, saya juga mengandaikan jika saya hidup di jaman Minke maka saya akan menjadi orang biasa yang hanya bisa mengikuti arus yang ada, bukan seorang Minke yang sanggup melawan arus dan menjadi pionir. Hmmmm….membaca buku ini membuat saya berpikir ulang terhadap semua tokoh-tokoh pembaharu, baik dari jaman kebangkitan nasional dulu atau tokoh-tokoh masa kini yang kelihatannya menantang arus. Salut untuk mereka semua

Buku kedua Anak Semua Bangsa, pada bagian awal menceritakan tentang perjalanan Annelis ke Belanda dan penderitaanya sampai kemudian meninggal. Selanjutnya Minke sendiri tidak berlarut-larut dalam kesedihan, dia tetap melanjutkan menulis. Ibunda Minke menginginkan agar Minke mencoba menulis dalam bahasa Jawa, akar budaya Minke, sedangkan teman-teman Minke yang lain menginginkannya menulis dalam bahasa Melayu, yang pada saat itu merupakan bahasa sehari-hari yang paling banyak digunakan di Hindia. Namun Minke menolak dengan alasan bahwa bahwa koran berbahasa Melayu merupakan bacaan bagi orang yang berpendidikan rendah. Menurut Minke tulisannya akan lebih berarti apabila dalam bahasa Belanda. Namun perkenalannya dengan salah seorang angkatan muda Tiongkok, dan juga diskusinya dengan Nyai Ontosoroh, mulai membuka pikiran Minke tentang kebangkitan suatu bangsa.

Selanjutnya, Minke mulai membuat tulisan dengan perspektif yang baru setelah berlibur bersama Nayi Ontosoroh di perkebunan tebu Sidoarjo. Dengan kepercayaan diri yang tinggi, dia berharap tulisan ini akan terbit dan dapat mempengaruhi pembaca. Namun ternyata pihak penerbit yang biasanya menunggu karya-karyanya malah menolak mentah-mentah karena ternyata hal-hal yang berhubungan dengan gula sudah menjadi semacam mafia yang menyangkut hajat hidup para penguasa. Dengan rasa sakit hati Minke menghancurkan tulisan kebanggaannya itu. Namun ternyata penerbit yang sudah pernah membacanya bergerak lebih maju dan akhirnya terjadi keributan besar di perkebunan tebu itu sehingga diputuskan agar Minke segera berangkat ke Betawi untuk melanjutkan pendidikannya di STOVIA sekaligus melupakan semua kejadian yang telah lalu.

Dalam perjalanan ke Betawi menggunakan kapal laut, Minke berkenalan dengan penulis belanda yang pindah bekerja ke surat kabar Semarang. Dari penulis itu Minke semakin mengetahui mafia seperti apa yang berhubungan dengan gula. Dalam pemberhentiannya di Semarang, Minke dijemput oleh petugas sekaut untuk kembali lagi ke Surabaya dalam rangka sidang lanjutan kasus keluarga Annelis. Di akhir buku diceritakan tentang kedatangan anak kandung Robert Mellema yang datang untuk mengklaim harta warisan ayahnya. Inti dari buku kedua ini adalah pengenalan Minke terhadap lingkungan sekitar yang lebih nyata yang ternyata berbeda jauh dengan apa yang selama ini diketahui dan dipelajarinya dari buku dan sekolah.

Buku ketiga Jejak Langkah, merupakan buku favorit saya diantara tetralogi pulau buru. Buku ini menceritakan perjalanan Minke dalam menyelesaikan sekolahnya di sekolah kedokteran STOVIA di Batavia. Pada masa inilah, rasa kebangsaan Minke muncul. Dia banyak berinteraksi dengan tokoh-tokoh nasional saat itu, misalnya dr Wahidin, dr Sutomo & RA Kartini. Minke juga berkenalan dan akhirnya menikah dengan Ang San Mei, wanita tionghoa yang merupakan aktivis pergerakan revolusi China yang melarikan diri ke Hindia Belanda. Namun pernikahan ini tidak berumur lama karena Ang San Mei akhirnya meninggal. Karena merawat Mei ini, Minke dikeluarkan dari STOVIA dan harus membayar biaya sekolah selama ini. Dengan bantuan dari Nyai Ontosoroh, Minke dapat menyelesaikan masalah dan mulai menjajagi untuk mendirikan organisasi. Walaupun belum sesuai harapan, organisasi itu bisa berdiri. Buku ini menceritakan detil tentang sepak terjang Minke dalam berorganisasi maupun menjadi penulis bahkan sampai memiliki surat kabar sendiri. Juga pernikahan selanjutnya dengan Princess dari kerajaan di Maluku yang juga berpendidikan tinggi sehingga bisa bahu membahu dengan Minke dalam mengurusi surat kabarnya. Karena suatu kesalahan dalam menulis yang dilakukan oleh anak buahnya, Minke akhirnya ditangkap polisi dan diasingkan ke luar Jawa.

Membaca buku ketiga ini benar-benar membangkitkan perasaan nasionalisme saya. Bukan rasa yang muncul ketika mendengar dan membaca pelajaran IPS jaman SD dulu, namun rasa cinta tanah air yang tumbuh dari pemahaman yang mendalam dari penjelasan Pramudya yang detil dalam buku ini. Sekali lagi, cara bertutur Pramudya yang sungguh sangat luar biasa, membuat saya lebih mengerti daripada saat membaca buku-buku sejarah jaman sekolah dulu. Saya selalu memotivasi adik-adik saya untuk membaca tetralogi ini untuk menggugah rasa kebangsaan mereka. Namun mungkin cara bertutur Pram yang unik masih terlalu berat buat adik-adik saya sehingga mereka lebih memilih untuk membaca Harry Potter atau yang lebih tinggi sedikit, Tetralogi-nya Andrea Hirata (yang keempat belum terbit dan membuat saya sangat penasaran) dan karya-karya Habiburrahman el Shirazy.

Buku terakhir Rumah Kaca, merupakan cerita dari sudut pandang seorang polisi Belanda bernama Jaques Pangemanann. Bagaimana Pangemanann yang merupakan intel Belanda mengawasi seluruh aktivitas pergerakan yang ada di Hindia Belanda, terutama pengamatannya terhadap sepak terjang Minke sampai akhirnya Minke diasingkan di luar Jawa. Setelah itu juga diceritakan apa yang terjadi terhadap organisasi dan surat kabar yang dimiliki Minke yang semuanya dibredel dan dikuasai pemerintah Belanda. Bahkan harta benda Minke juga dikuasai oleh Pangemanann. Setelah selesai menjalani pengasingan, Minke menjadi terlunta-lunta dan akhirnya mati mengenaskan karena semua akses kepada harta dan teman-temannya telah terputus. Bahkan Minke tidak bisa menghubungi Nyai Ontosoroh, yang sekarang tinggal di Perancis, untuk meminta pertolongan seperti biasanya.

Pangemanann sendiri akhirnya dijerat oleh perasaan bersalahnya sendiri dan kekuasaan yang semakin menurun seiring bertambahnya usia. Di akhir buku diceritakan tentang kedatangan Nyai Ontosoroh, yang sekarang dipanggil Madame Le Boucq yang berusaha mencari tahu tentang Minke namun hanya menemukan makamnya saja. Pangemanann mengembalikan semua naskah-naskah karya Minke kepada Madame Le Boucq diiringi penyesalan yang mendalam dan penyakit yang menggerogoti kesehatannya.

Demikian ulasan saya …semoga bisa menimbulkan keinginan membaca bagi yang belum membacanya…

Read More..