Selasa, April 28, 2009

First Bullying

Aku merasa, komunikasi dengan anakku ga ada masalah. Artinya kami sering berbagi cerita, mendongeng, baca bersama dan banyak kegiatan bersama. Jadi momen berangkat dan pulang bersama setiap hari, kujadikan kesempatan sebagai ajang komunikasi dengan anak...(kadang ajang diskusi yang bikin migrenku kambuh...la anak-anakku...talkative semua je..dan ga gampang nerima jawaban orang tua begitu saja...belum lagi dua-duanya ingin duluan ngomong....wiiiiiii....migren beuneur...)

Tapi seringnya, diskusi itu berkutat pada apa yang sedang kami lakukan...entah belajar membaca semua tulisan sepanjang jalan...denger cerita di radio..nyanyi bareng di mobil...recalling kegiatan mereka ketika di sekolah...cerita kegiatanku sendiri...dan seputaran itu saja.
Aku jarang kepikir untuk tanya bagaimana perasaan dia hari ini, bagaimana pergaulan dia dengan teman-temannya yang lain....pokoknya..hal-hal seputar perasaan lah...

Sampai ketika aku denger dari salah satu ibu di sekolah bahwa si anu naksir si ini, maka aku baru bertanya tentang hal itu pada anak-anakku...dan dia menjawab apa saja yang kutanyakan tanpa cengar-cengir..artinya dia mengganggap hal itu bukan hal penting..(sehingga wajar aja ga pernah muncul di ajang diskusi kami).

Lalu ada lagi yang bikin aku bingung harus bersikap.... Di awali dengan cerita Detya bahwa bajunya basah karena jatuh ketika praktek menanam padi minggu lalu. Dia protes berat kenapa aku ga bawain baju ganti sehingga ketika bajunya basah dia malu sekali harus memakai baju sentra makro (baju-baju orang dewasa untuk bermain peran). Detya bilang dia sebal sekali dengan teman perempuannya yang bikin dia terjatuh. lalu aku saranin dia untuk bicara pada temannya itu. Tapi jawaban Detya sungguh membuatku speechless...Detya ga berani ngingetin temannya itu (sebut saja si H) karena nanti si H ini akan lapor kepada temen perempuannya yang lain (si N) sehingga kalau sudah demikian, si N akan memerintahkan temen-teman perempuan yang lain untuk tidak berteman dengan Detya....wots..?...sudah ada bullying di taman kanak-kanak...?

Apalagi cerita lanjutan Detya, jadi lebih ga masuk akal lagi. Si N itu sering ngeledek detya dengan ngejek bahwa bajunya jelek dan tahi lalat gede.......wots?....otomatis kami jadi ketawa deh..padahal Detya cerita dengan cemberut.....Waaah...jadi ikutan jengkel juga dengan si N itu...dan Ayah langsung bilang (dengan nada bercanda): "Oooo...si N yang gendut itu ya...". Ah ayah, kan ga boleh labeling. Ayah jadi ganti sebutan : "Oooooo...si N yang sering ganti mobil itu ya...". Ini lagi, bikin anak kecil minder aja...

OK.... kalau aku langsung komen..."Baju yang mana yang dibilang jelek..?"...iiihhh..kan aku paling serius dandanin anak2 biar bajunya selalu rapi, bersih dan indah dilihat...(namanya juga dendam masa kecil...yang dibeliin baju cuma pas lebaran aja...terlampiaskan dengan dandanin anak-anak...)...dan detya ga ngasih jawaban yang spesifik...yang jelas aku yakin, baju anak-anakku pantas pakai semuanya...(tiba-tiba kok jadi inget syarat nyumbang baju pas ada bencana...'menerima sumbangan baju pantas pakai'...).

Hoho...yang ini niy yang bikin ketawa kenceng..."TAHI LALAT GEDE...?".....ya ampun...padahal pas aku SD dulu sering naik angkot gratis gara-gara sopirnya terpesona dengan tahi lalat imutku ini...eeeeee...anakku kok malah jadi minder gara-gara tahi lalat manis yang nongkrong di ujung bibirnya


Tahi lalatku sekarang.....


Atau yang ini...tetep segede jagung...(kayaknya bukan tahi lalat lagi deh...tapi kata suamiku tahi kebo...)


Nah, bandingkan dengan yang ini... tahi lalat anakku...manis kan..?...kok ya dikomentari seperti itu ya...

Dulu pas anakku beberapa bulan saja, tahi lalat itu sudah muncul setitik dan sekarang sudah sebesar itu walaupun ga timbul sama sekali. Beda denganku, tahi lalat itu muncul setitik ketika aku kelas satu SD dan sekarang menjadi tahi kebo itu. Aku ga pernah risih, atau malu, atau minder dengan tahi lalatku ini. Dan teman-temanku ga pernah ada yang komen jelek tentang tahi lalatku ini.

Maka kami lanjutkan diskusi dan ternyata si N itu sering mempengaruhi teman-teman perempuan lainnya untuk menjauhi Detya. Dan Detya ga suka kalau sendiri gitu. Kami hanya bisa menyarankan bahwa berteman ga terbatas di kelompok saja, atau dengan perempuan saja. Kan masih banyak teman perempuan dari kelompok lain atau dari temen di MI. Atau berteman dengan laki-laki juga ga masalah karena pernah Detya cerita bahwa dia suka berteman dengan si A, teman cowoknya karena si A itu asyik diajak temenan. Selanjutnya kami sibuk menduga-duga kenapa si N itu jadi bersikap seperti itu.....Lalu kami sadar bahwa menganalisa itu bukannya salah satu dari 12 gaya populer yang kami coba hindari...?

So....kami hanya bisa memotivasi Detya agar selalu PD dengan dirinya sendiri, karena bukankah semuanya ini merupakan karunia Allah?...dan meyakinkan dia untuk jangan tergantung dengan pendapat satu orang yang jago bullying itu...
Kalau kita selalu bersikap manis dan positif...maka teman akan datang sendiri...

Ada saran lain lagi ga ya...? Bingung juga ngajari cara ngatasi bullying seperti ini, di tingkat yang masih dasar seperti ini....




Read More..

Selasa, April 21, 2009

Pap Smear dan Kanker Serviks

Senin kemarin aku dapat info lagi, bahwa istri salah satu rekan kerjaku meninggal karena kanker serviks. Padahal umur pernikahan mereka baru satu tahun...

Aduh...hatiku makin miris dengar berita-berita seperti ini. Minggu lalu aku dan teman-temanku banyak diskusi masalah ini, ada yang merasa biasa saja karena tidak pernah menemukan orang-orang disekitarnya yang dia kenal meninggal karena penyakit ini. Jadi dia ga begitu terpengaruh, walaupun setuju untuk deteksi dini dengan pap smear. Untuk vaksin, karena merasa belum perlu, dia tidak ingin ikutan..(dia lebih memilih pengobatan untuk asam uratnya yang sudah jelas-jelas dinyatakan positif). Temanku yang lain, walaupun sedang banyak kebutuhan untuk renovasi, bersedia mengalokasikan dana untuk vaksin karena suaminya selalu memasang tampang linglung (karena ketakutan) setiap kali berdiskusi masalah kanker serviks. Mereka juga punya banyak kenalan yang meninggal karena kanker serviks ini.

Jumat minggu lalu, aku jadi periksa pap smear sendiri karena teman-temanku masih banyak acara lain. Aku tetap berangkat, walaupun sendiri, demi ketenangan hatiku sendiri. Hasilnya baru bisa didapat, dua minggu setelahnya. Aku periksa di Yayasan kanker Indonesia di Jalan Cut Meutia, Menteng sana. Lokasinya cukup mudah dilihat kok, pas sebelum pengkolan menuju Menteng - Kuningan (walau aku kesasar juga karena infonya ga cukup jelas...)

Sebenarnya, selain pap smear, aku berencana mau konsultasi dengan dokter yang bertugas. Tapi ternyata sudah ga ada dokter, yang ada para perawat (atau bidan?) saja. Mungkin karena aku datang benar-benar pas menit terakhir, jadi para dokter sudah pulang. Ga banyak yang bisa kutanyakan pada perawat itu karena mereka juga ga bisa jawab dengan detil, misalnya tentang vaksin Cervarix itu. Perawat bahkan taunya masih dalam harga yang lama, dua juta rupiah sekali suntik belum ongkos dokter..(ALAMAK......!)

Cuman ada info yang cukup membuat hatiku sedikit tenang (walau aku masih mempertanyakan kebenarannya) yaitu tentang efektivitas vaksin itu untuk perempuan seumuranku. Perawat itu bilang bahwa vaksin akan sangat efektif untuk perempuan yang belum aktif secara seksual... Jadi seperti bayi yang wajib imunisasi ini itu..maka diharapkan si bayi akan kebal dengan penyakit-penyakit tertentu....demikian juga vaksin ini, bagi perempuan yang masih murni (ceileeee....)..maka vaksin ini akan melindungi dari virus HPV 16 dan 18 yang paling sering menyebabkan kanker serviks. Jadi aku cukup tenang, ga rugi juga kalau aku ga mampu vaksin...toh efektivitasnya masih belum jelas.

Terus satu lagi info yang berguna, pap smear ini alat yang sangat efektif untuk deteksi dini dan harus dilakukan setaun sekali karena dari gejala awal sampai jadi sel kanker itu butuh satu taun sehingga jika rutin pap smear maka sebelum jadi sel kanker sudah terdeteksi dan pengobatan akan lebih mudah..(tentunya lebih murah juga....hmmmm...murah mana ya sama vaksin?)

Sudah bertaun-taun yang lalu, sejak ngelahirin anak kedua sebenarnya aku ingin pap smear. Tapi berada dalam posisi "itu"...membuatku maju mundur sampe akhirnya mundur sama sekali..ga berani nyoba. Tapi ternyata, setelah mengalami sendiri berada dalam posisi "itu" untuk pap smear ini, ternyata tidak terlalu menakutkan dan tidak juga memalukan. Asal rileks dan pasrah, maka proses pengambilan sample akan berlalu tanpa terasa.

OK, sekarang tinggal nunggu hasilnya...dan jika negatif, maka taun depan di saat yang sama, akan pap smear lagi untuk deteksi dini...

Sebenarnya ada situs yang dipersembahkan untuk mencegah kanker serviks ini tapi ternyata setelah kubuka, tulisannya "masih dalam perbaikan". Suatu ketika jika sudah siap tayang, mungkin info disini akan cukup lengkap. nama situsnya www.cegahkankerserviks.org

Ayo...semua perempuan yang sudah aktif bercinta....jangan lupa pap smear untuk deteksi dini...dan yang masih murni, sisihkan penghasilanmu untuk vaksin Cervarix.... Mencegah jauh lebih baik daripada mengobati...

Info yang bisa kusalin dari booklet yang tersedia:

Gejala yang timbul pada stadium lanjut(70% penderita umumnya datang periksa pada stadium ini, sehingga banyak menyebabkan kematian karena terlambat ditemukan dan diobati):
  • pendarahan sesudah bercinta;
  • keluar keputihan atau cairan encer dari vagina;
  • pendarahan sesudah menopause;
  • pada tahap lanjut dapat keluar cairan kekuningan, berbau atau bercampur nanah, nyeri panggul atau tidak dapat buang air kecil


Faktor yang menjadi resiko:
  • mulai melakukan bercinta pada usia muda;
  • sering berganti pasangan tanpa pake pelindung;
  • sering infeksi pada daerah kelamin;
  • melahirkan banyak anak;
  • merokok (resiko 2x lebih besar);
  • defisiensi vitamin A, C dan E

info lain bisa dibaca disini


Read More..

Senin, April 20, 2009

Keputusan Akhir Adikku

Aku pernah cerita tentang ketergantunganku pada adik terkecilku ini...dan ternyata walaupun kejadiannya berbeda, akan terjadi juga saat dimana adikku punya keputusan sendiri sehingga harus memisahkan diri dariku.

Minggu lalu saat aku menunggu suamiku selesai futsal, iseng2 aku buka fesbuk dan tiba-tiba adikku menyapa dengan sapaan andalannya..."Mboook..."...yah...percakapan terus dilanjutkan dalam bahasa daerah kami, bahasa OSING....(sungguh susah menuliskan bahasa daerahku itu dalam bentuk tulisan...)

Adikku cerita bahwa dia sedang bingung dalam membuat keputusan. Beberapa waktu lalu dia cerita bahwa dia ingin melanjutkan PGSDnya (Pendidikan Guru SD), yang saat ini di level D2, menjadi S1. Dia sudah cari2 info dan ada satu universitas swasta yang bisa menerima nilai-nilai yang sudah dia terima di D2nya itu..jadi dia ga harus ngulang dari awal..(apa siy istilahnya..?..). Waktu itu dia juga nyinggung-nyinggung masalah kembali ke Banyuwangi dan ngajar disana, terus ngelanjutin S1-nya di IKIP....(tapi untuk opsi ini dia ngerasa berat ninggalin aku sendiri disini...)

Nah...dalam chatting itu dia mulai bingung lagi, karena dia sungguh tidak tega dengan ibu bapakku yang sudah lanjut usia dan sering sakit-sakitan. Mereka ga ada yang ngerawat dan menjaga. Walaupun ada kakak dan adikku yang lain, tapi mereka kan laki-laki...kurang care dengan hal beginian..dan tentu saja ipar-iparku juga ga akan setelaten anak sendiri jika merawat orang tuaku. Aku ngerti alasan dia..dan aku juga sangat paham bahwa dia butuh untuk berdiri sendiri tanpa aku ada dibelakang dia.

Maka aku pastiin lagi padanya, bahwa jangan karena ga tega ama aku maka sangat mempengaruhi keputusannya... (nah ketika aku bilang ini, dia bilang ga tahan untuk ga mewek...hiks...demikian juga aku..) Iya sih..aku sangat tergantung sama adikku ini. Pagi hari ketika ribet preparation untuk berangkat ke kantor/sekolah anak-anak, dia bantu aku dalam nyiapin baju anak-anak dan nemenin mereka mandi, mastiin barang-barang sudah masuk mobil semua, jangan sampe ada yang ketinggalan. Sedang aku sendiri, bangun paling awal untuk nyiapin sarapan dan bekal mereka, mastiin apa-apa yang harus dibawa dan nemeni mereka ganti baju. Saat di pagi hari itu yang ribet banget karena bagaimanapun memotivasi anak-anak untuk cepat bangun dan bersiap di usia itu perlu usaha ekstra...

Jadi aku katakan pada adikku bahwa, bagaimanapun mereka anak-anakku dan adalah tugasku sepenuhnya untuk melakukan semua yang sekarang ini kami kerjakan bersama. Aku hanya minta dia untuk memastikan agenda dia saat pulang nanti, apa yang akan dia kerjaan, bagaimana kesempatan dapat penghasilan dari apa yang dia lakukan dan sebagainya. Jika semuanya beres, maka bulatkan saja tekat untuk pulang kampung.

Tadi pagi, secara ga sengaja, pembicaraan kami sambil nyiapin rutinitas pagi adalah tentang hal ini. Adikku sudah memutuskan akan pulang kampung. Dia sudah berkoordinasi dengan temannya, yang biasa ngasih privat anak-anak sekolah, untuk berbagi pekerjaan ngelesin. Setelah itu, dia akan mulai nabung untuk daftar S1 di IKIP. Jadi cita-citanya untuk ngerawat orang tuaku akan bisa dilaksanakan dan dia tetep dapat menjalankan rencana sekolahnya...

Bagaimana dengan aku? Tentu saja aku akan mendukung semua keputusannya dan aku konsisten dengan apa yang aku ucapkan buat adikku...

Mereka anak-anakku dan tentu saja tanggung jawabku sendiri untuk membesarkan mereka (Mbak Devi selalu bilang bahwa pasti ada jalan keluar untuk masalah ketakutanku bahwa tanpa adikku aku ga bisa ngatasi anak-anak)

So...My Sis...Luv U..always...and thanks for everything...

Read More..

Jumat, April 17, 2009

Rumah Idaman

Tau ga siy..bahwa apartemenmen berubsidi, yang aku ikutan inden dengan semangat 45, luas brutonya hanya 33 m2?

Mbayangin aja udah merasa ruangan itu (inget ya..ruangan..bukan rumah..) ga manusiawi banget... Bagaimana bisa aku, suamiku dan 3 anakku (mungkin juga adikku masih bersama aku) tinggal bersama di ruangan seluas 33 m2 yang dibagi menjadi 2 kamar tidur, 1 kamar mandi, ruang tengah dan dapur sekalian?....Jadi walaupun DP dan surcharge-nya udah lunas...kami masih aja ragu, apakah kami akan terus nekat mau tinggal di kandang burung itu?

Hiks....ga tega banget mbayanginnya...bagaimana nanti anak-anakku yang super duper aktif bisa melakukan kegiatan favorit mereka?...(lari-lari dan petak umpet...)

Kamar tidur utama cuma 2.5 x 2.75 m, kamar tidur satunya 2.5 x 1.9 m...in between kamar-kamar itulah ruang tengah yang lebarnya 1.5an m. Di belakang pintu masuk ada kamar mandi yg ukurannya kira-kira 1.5 x 1.5 m..jadi cuman ada kloset ama shower doang...nah lurusan kamar mandi itu langsung dapur deh...abis itu ga ada apa-apa lagi....pada dasarnya ukuran seluruhnya adalah 5 x 6 m.....hiks... (peringatan..ukuran ini bukan sebenarnya..cuma kira-kira karena dari tadi nyari denah ruangan kok ga ketemu2..bedanya paling juga dikit banget...tapi susunannya inget banget seperti itu..)

Maka kami membuat rencana alternatif yang sangat-sangat tergantung ketersediaan uang buat DP... Kami berencana untuk beli rumah untuk sabtu minggu....ceileee...kayak udah tajir bener aja, sampe pengen punya rumah sabtu minggu...makanya itu semua sangat-sangat tergantung ama ketersediaan dana buat DP. Rumah itu ga perlu harus deket-deket Jakarta, kan sudah ada kandang burung itu buat ngaso sementara di hari kerja. Dan harapan kami..(sesuai teori ekonomi perkotaan)...semakin jauh dari CBD maka harga rumah akan semakin murah...atau paling engga..dengan harga yang sama maka luasan tanah dan rumah akan semakin besar...jadi bisa untuk memenuhi hasrat lari-lari dan petak umpet anak-anakku...

Tapi apakah rumah idaman seperti itu akan terwujud...? Benar-benar susah buat kami...(hiks...). Waktu itu aja, udah sempet inden 2 unit di kandang burung itu, dengan harapan..biar agak legaan dikit kandangnya...eeee..ga taunya duitnya ga cukup buat mbayar DP dan surcharge...mampunya cuman satu itu....

Sekarang ini kami tinggal di rumah dinas...setelah sebelumnya jadi kontraktor tetap...
Benernya..akhir tahun kemaren kami udah diusir secara resmi...pake surat segala...bener-bener ngenes rasanya. Kami kan masih dinas aktif walaupun sudah pindah unit...tapi kan kami masih di instansi yang sama...makanya ampe sekarang masih tetep nekat tinggal di rumah dinas itu...

Eniwei...tetap semangat buat punya rumah sendiri...walau yang paling cepat yang kami bisa ...ya cuman kandang burung itu...

Read More..

Kamis, April 16, 2009

Peran Prioritas

Dari aku mulai bisa mengingat sampai sekarang ini, kupikir aku menjalankan beberapa peran berbeda..yang dari waktu ke waktu prioritasnya berubah-ubah.

Dulu waktu masih kecil, peranku cuma dewi sebagai dewi, dewi sebagai saudara dan dewi sebagai anak...saat mulai punya teman tambah lagi peran dewi sebagai teman..

Pas kuliah punya pacar..tambah lagi dewi sebagai pacar. Waktu kuliah ini prioritas pertama adalah sebagai mahasiswa, kemudian sebagai pacar, sebagai diri sendiri, sebagai teman, dan terakhir sebagai anak dan saudara..kenapa demikian? Karena aku jauh dari keluargaku...jadi peran sebagai anak dan saudara cukup diwakili dengan telpon dua kali seminggu.

Prioritas itu maksudnya...jika pacarku minta ditemeni nonton sedangkan pada saat yang sama aku ingin creambath...maka aku akan mbatalin creambathku...pokoknya gitu deh urutannya..

Saat pertama kali kerja dulu, maka urutannya jadi pertama sebagai pekerja, sebagai anak, sebagai kakak, sebagai diri sendiri, sebagai teman dan seterusnya..artinya jika aku ingin beli baju baru sedangkan ibuku ingin mbenerin kamar mandi..maka aku ga akan beli baju baru...jika adikku harus beli buku maka aku ga akan beli baju baru....gitu deh intinya..

Nah..ketika menikah dan kemudian punya 3 anak maka prioritasnya juga makin beda
1. jadi ibu
2. jadi istri
3. jadi pekerja
4. jadi anak
5. jadi kakak
6. jadi diri sendiri
7. jadi teman dan seterusnya..

Dengan posisi jadi diri sendiri ada di urutan keenam bisa dibayangkan bahwa kebutuhan pribadi akan terpenuhi kalau 5 kebutuhan lain sudah beres semuanya..

Jadi ibu artinya mesti nyisihin buat SPP, TPA dan asuransi mereka, jadi istri artinya nyediain belanja dan tetek bengek rumah tangga, jadi pekerja artinya bedak dan lipstik harus siap ganti per 2 bulanan, jadi anak artinya tiap kali Ibuku harus dirawat inap aku harus siap menuhin kekurangan asuransinya, jadi kakak artinya harus siap bayarin sekolah dan tetek bengek adikku...baru setelah itu aku bisa memenuhi kebutuhanku sendiri...
Aku merasa kebutuhanku yang remeh temeh bisa digabungkan sebagai kebutuhan sebagai pekerja..(misalnya...pekerja kan ga mungkin rambutnya berantakan...jadi nyalon dan nyepa termasuk kebutuhan jadi pekerja dan juga istri) ....jadi aku merasa ga ada masalah...

OK, sebelum ada yang protes...suamiku harus siap untuk kebutuhan yang besar-besar seperti..bayar uang muka mobil dan cicilan bulanannya...bayar uang muka aparteman bersubsidi dan nanti cicilannya jika sudah ada...harus siap dana jika tiba-tiba ada anak yang sakit (yang tiap kali ke dokter biayanya bikin sesak napas...)....dan muter sisa tabungan yang ada biar uang yang bekerja....jadi kurasa sudah cukup fair...

Cuman beberapa waktu ini ada kebutuhan pribadiku yang ingiiiiin sekali aku lakukan tapi karena semua alokasi sudah habis untuk 5 prioritas di atasnya...maka jadi ga terpenuhi...dan baru kali ini aku merasa sediiiiih sekali...

Aku ga yakin apa kebutuhanku ini cukup penting atau aku saja yang sedang sensitif sehingga ketika ga bisa terpenuhi membuatku merasa seperti ini?

OK, aku ingin vaksinasi kanker serviks...sudah lama ingin melakukannya karena banyak contoh yang kutau dan kenal sendiri, meninggal di usia yang cukup muda gara-gara penyakit ini..

Informasi tentang adanya vaksin ini sudah cukup lama..sekitar awal 2007 (atau sebelum itu..aku lupa...pokoknya waktu itu yang jadi ikon adalah anaknya sophia latjuba)...tapi aku hanya memendam keinginan karena harganya yang mahal sekali..sekali suntik 1,5juta dan harus 3 kali suntik...misalnya sekarang suntik maka suntikan kedua sebulan lagi dan suntikan ketiga 5 bulan berikutnya....Waktu itu ga kebayang bakal mampu ikutan vaksin..jadi ga ada harapan apa-apa..

Tapi awal tahun ini tiba-tiba berita tentang tingginya angka kematian karena kanker ini muncul lagi...sehingga teringat lagi pengalaman orang-orang yang mati muda karena penyakit ini..(ingat ga sih..kakaknya armand maulana? nita tilana?..)..

Diikuti dengan iklan gencar di radio favoritku tentang "Apa yang bisa Anda lakukan dalam 4 menit?"..dan di iklan itu ada yang jawab..bisa bikin mi instan...benerin make up di toilet...dan lain-lain...lalu ada narator yang crita...."Taukah Anda bahwa tiap 4 menit..1 orang perempuan di Asia meninggal karena kanker serviks..?"...waaaaaaaa......semakin dalamlah keinginanku untuk bisa ikutan vaksin ini...

Apalagi kemudian ada talk show yang nerangin bahwa harga vaksinasi sudah sangat-sangat turun sehingga dibawah 1 juta (sekitar 800-900 ribu belum dengan dokternya..). Aku ingiiiiiin sekali....

hey..ga salah kan kalo aku usaha biar ga kena penyakit itu..jadi aku ga akan seperti ibunya temenku yang ninggal ketika dia masih SMA (umur ibunya belum 50)...atau temen sekolah anak sahabatku (baru berumur 5 tahun) yang udah ditinggal ibunya gara-gara penyakit ini... (OK...OK...aku tau bahwa jodoh, rizki dan umur hanya Allah yang tau...tapi Allah kan juga mewajibkan hambanya berusaha...)

Pengennya sih nabung dikit-dikit biar menjadi bukit...tapi mana sempat nabung kalau adikku masih harus bayar uang pangkal sekolah?..kalau dia ingin kursus untuk nambah ketrampilan...kalau dia ingin nerusin sekolahnya..kalau ibuku bulan lalu harus dirawat dua kali...kalau nenekku harus dirawat dan sebagai anak, ibuku harus ikut iuran biaya RS...

hwaaaaaa......cukup deh sedihnya..!!!....bagaimanapun prioritas peranku ga bakal berubah jadi aku harus punya alternatif lain...kalau ga bisa mencegah maka mesti deteksi dini...melalui pap smear..(gosh...mbayangin harus dalam posisi itu saja membuatku mual...)...teorinya...sekali tiap tahun mesti pap smear..jika 3 tahun berturut-turut hasilnya negatif maka selanjutnya cukup 2 tahun sekali...

Pap smear ini hanya deteksi dini...artinya jika diketahui ada sel yang berubah maka harus segera ditanggulangi...jangan sampe tiba-tiba udah stadium III (kalau udah gini mending...sholat taubat saja deh dibanyakin...). Dengan rutin pap smear..setidaknya menghindari ketauan pas stadium akhir...

So..perempuan usia 10 tahun ke atas, vaksin itu akan mencegahmu agar ga kena virus HPV 16 dan 18 yang merupakan 70% virus yang nyebabin kanker serviks..nama vaksinnya Cervarix dari GSK...harganya 900ribu untuk sekali suntik..(kata dokter di klinik kantorku)...

Rencanaku (dan beberapa temanku), besok mau pap smear...kami kan udah aktif secara seksual bertaun-taun yang lalu..jadi kudu..mesti...wajib..pap smear..

Wahai semua perempuan...jagalah hidupmu dengan deteksi dini...




PS: aku jadi bingung sendiri...mestinya artikel ini dikasih judul seperti ini atau malah tentang Kanker Serviks..ya?

Read More..

Rabu, April 15, 2009

Bilangan Fu - Ayu Utami

Sudah lama ga sempet baca novel karena ekskul yang mengganggu itu. Biasanya sesibuk-sibuknya kerjaan rutin (kantor dan rumah)..aku masih bisa nyempatin baca...tapi gara-gara ada tambahan ekskul..jadinya sering migren...so...ga sempat baca Bilangan Fu (yang udah ada di top list "must read book" ini)

Tiga malam ini, aku sudah mulai baca buku ini...dan baru 91 halaman saja..rasanya susah banget melepas buku ini...pengennya lembur ampe selese..kalau ga inget bahwa pagi-pagi sekali harus nyiapin segala-sesuatu buat anak-anak sekolah...

Betapa tulisan Ayu Utami ini lebih lembut sekaligus keras dibanding tulisan Pramudya...dia dengan ringan menjelaskan (melalui pandangan tokoh utamanya) betapa perempuan tanpa sadar dikendalikan oleh uterus dan perlengkapannya yang dia gambarkan sebagai makhluk ubur-ubur atau monster gelembung cerdik dan manipulatif, sedangkan lelaki dikendalikan oleh makhluk moluska yang bodoh yang dapat dipengaruhi dengan mudah oleh makhluk ubur-ubur...penggambarannya membuatku ketawa sendiri (tentu saja karena mbayangin apa yang dia tulis).

Di buku LARUNG, Ayu menuliskan bahwa vagina itu sama jenisnya dengan nephentes . Ini kutipannya:
"Sebab vagina adalah sejenis bunga karnivora sebagaimana kantong semar. Namun ia tidak mengundang serangga, melainkan binatang yang lebih besar, bodoh, dan tidak bertulang belakang, dengan manipulasi aroma lendir sebagaimana yang dilakukan bakung bangkai. Sesungguhnya bunga karnivora bukan memakan daging melainkan menghisap cairan dari makhluk yang terjebak dalam rongga dibalik kelopak-kelopaknya yang hangat. Otot-ototnya yang kuat, rerelung dindingnya yang kedap, dan permukaan liangnya yang basah akan memeras binatang yang masuk, dalam gerakan berulang-ulang, hingga bunga ini memperoleh cairan yang ia hauskan. Nitrogen pada nephentes. Sperma pada vagina"

Ampun deh...selalu bagian laki-laki digambarkan bodoh dan tidak bertulang belakang serta sangat dikendalikan oleh kebutuhan mengeluarkan sperma..sedang bagian perempuan digambarkan hangat, basah, lembut tapi kuat...selalu begitu..(dan bagaimana aku tidak setuju..kalau kenyataannya memang demikian...

Aku masih belum selesai membacanya karena buku ini terdiri dari 531 halaman (dan aku baru nyampe halaman 91...hiks..)..tapi aku yakin, riset Ayu Utami sangat dalam karena dia bisa menggambarkan dengan detil proses panjat tebing, sejarah Tangkuban Perahu ataupun kisah Perang Bubat. Dia juga serius menerangkan tentang struktur geologis dan mengartikan falsafah jawa melalui penggambaran bentuk wayang....

Dan memang, aku sempat ngintip baca ucapan terima kasih Ayu di bab paling akhir..(aku ga baca endingnya dulu kok...swear...aku ingin baca dari depan ke belakang...bukan baca belakangnya dulu seperti biasa...)..dan dia berterima kasih pada orang-orang yang ngajari dan nemeni dia panjat tebing, nyari buku tentang geologi dan sejarah...dan buku-buku lain yang menerangkan apa yang dia jelaskan di novel ini

AYU UTAMI....I lop u....

Read More..

Perilaku Merusak

Pagi ini aku ngantuk banget sehingga begitu masuk tol, aku langsung merem. Walaupun begitu aku masih denger suara Javas yang sibuk sarapan pagi sendiri dan suara Ayah yang mengingatkan agar tidak berantakan. Detya ga ada suaranya karena konsentrasi mendengar acara Paman Gery.

Tiba-tiba saja aku terbangun karena mendengar suara orang teriak-teriak dan menggedor kaca jendela. Kulihat kami sudah sampai di perempatan tomang dan ada entah sopir bis atau kondekturnya, yang jelas memakai seragam biru mayasari bakti, sedang menggedor-gedor kaca jendela suamiku dengan berteriak-teriak marah menyuruh suamiku turun. Suamiku juga dalam posisi marah tapi tidak ikutan teriak (mungkin karena anak-anak ada di mobil). Si sopir/kondektur itu semakin ganas menggedor-gedor kaca jendela dan karena ada orang yang menengahi, dia akhirnya ngeloyor pergi dengan tetap marah...tapi...sambil tangannya mbaret pintu mobil bagianku duduk di belakang samping kanan.....

Waaaaaaaaaaaaaaa............rasanya pengen langsung mbuka jendela dan nonjok muka orang itu deh kalau ga karena Detya yang langsung nangis bombay ketakutan...(engga ding...aku sendiri juga takut kok...biar Detya ga nangis..paling aku cuma melongo aja ngeliat perilaku merusak orang itu..)

Aku beneran ga tau apa yang telah terjadi sehingga insiden itu terjadi, dan tentu saja aku belum berani tanya ke suamiku karena situasi masih panas...hmmm...mungkin malam nanti (sambil pijit-pijit dikit...)

Cuman..menurutku..kenapa sih harus menyelesaikan masalah dengan perilaku merusak? Dan biasanya perilaku seperti ini dilakukan oleh orang-orang yang ga pendidikan..yang hidupnya di jalanan sehingga semua masalah hanya fisik jawabannya (jadi keinget demo-demo yang berujung anarki..pasti dipenuhi orang-orang seperti kondektur itu...).

Di sekolah anakku, selalu ditekankan untuk menyelesaikan masalah dengan bahasa bukan menggunakan fisik. Jadi anak-anak sudah terbiasa argueing tanpa pukul-pukulan..walau sesekali masih cakar-cakaran..(halah...masih parah)

Maka aku tadi sibuk menenangkan anak-anakku dan menerangkan bahwa begitulah orang yang tidak tau peraturan dan kalaupun tau tapi tidak mau taat dan menggunakan fisik untuk menyelesaikan masalah. Dan ketika kutanya apakah mereka mau menyelesaikan masalah dengan fisik seperti orang itu? Dengan koor mereka jawab...TIDAAAK..(jadi lega..)

Tapi kelegaan itu sesaat karena ketika turun dan melihat betapa dalam baretan di pintu itu...rasanya pengen maki dengan segala jenis makian yang ada deh....


Read More..

Selasa, April 14, 2009

Jawaban "Hati-Hati Dengan Dokter"

Aku ngedarin email dari suamiku itu ke milis angkatanku dan ga brapa lama ada temenku yang ngedarin tanggapan seseorang atas email itu. Dan ini tanggapannya:

Ini ada crossposting tentang postingan hal tersebut.
dari milis sebelah :

Saya lihat ini merupakan masalah komunikasi saja.

Nanti tolong om Taufiq sebagai pihak yang mem-forward tulisan ke milis, berkewajiban untuk meneruskan jawaban ke penulis ybs.

1. Pemerikasaan darah untuk pasien DBD bisa dilakukan tiap jam (ulangi : tiap jam ) untuk melihat progress nya. Justru RS tersebut harus dipersalahkan jika tak cek darah ulang
mengingat tak ada data dasar saat masuk rumah sakit di mana penyakit DBD merupakan penyakit yang progress nya cepat. ( Hitungan hari )

2. Injeksi Ranitinide bukan untuk penyakit lambung. Itu adalah beta-2 bloker. Pada pasien DBD sering terjadi luka di lambung, ingat : mirip maag, sehingga agar luka tersebut tak terkena asam lambung. Produksi asam lambung harus diblok. Di sini Ranitinide mendapat tempat

3. EKG ulang? Iyah masa' thrombosit 82rb nggak di-EKG. Kalau ada perdarahan jantung gimana? Lagi pula threadmill yang dilakukan itu kan sekian minggu yl. Thrombosit itu berfungsi sebagai "lem" bila ada bagian tubuh yang luka. Bagian tubuh kita sangat mudah terluka. Even oleh benturan kecil. Nah tugas thrombosit membekukan luka-luka kecil seperti itu.

4. Ondansetron merupakan obat anti muntah yang bekerja di susunan syaraf pusat (otak). Ondansetron merupakan obat yang sangat kuat dan bagus sehingga dipergunakan di pasien kanker.
Jadi jangan keliru, itu bukan obat kanker, namun karena bagusnya ( i repeat : sangat bagus ) dipergunakan di pasien kanker yang pada kondisi obat anti muntah biasa tak mampu lagi bekerja.
Gampangan nya gini, obat muntah terbaik di level 6rb. Obat muntah biasa di level 1500rp. Pilih mana? Ntar diberi yang 1500rp malah......

5. Pada kondisi krisis seperti ini, sejak th 1997 lalu, setiap RS menerima kembalian obat dari pasiennya, selama bon/nota ada, selama segel/kemasan belum rusak.

6. Lagi?
Duh capek ngetiknya


My Note:
Eniwei...eniho...mengutip yang Yessy pernahbilang pas mriksain anaknya yang lagi sakit...kita ini konsumen medik, yang berhak tau setiap detil informasi atas apa yang kita alami..bukan cuma nyuruh tes ini itu...trus ngasih resep ini itu...tanpa pernah njelasin apa-apa. Seandainya dalam tulisan awal itu si dokter yang nungguin Abangnya dikasih info sejelas ini ama dokternya, tentu dia akan bisa menentukan, apakah terus dengan obat generik atau milih yang paten...apakah tetep ngikutin tes ini itu atau menolak.
Intinya adalah kesetaraan informasi...jangan hanya karena SOP-nya gitu maka kita harus ngikut. Kalau ada keterangan yang masuk akal, kan keputusan bisa berubah...

So..teman-teman semuanya...jangan lupa untuk selalu minta informasi sedetail mungkin kepada dokter yang merawat kita...tanya pilihan-pilihan apa yang bisa kita dapatkan...jangan hanya pasrah....jadilah konsumen medis yang smart...

Read More..

Senin, April 13, 2009

Setahun Nikah 2 kali?....Mau Marah Rasanya..

Beneran deh..saking ga tahannya aku ama temenku ini, sampe-sampe..aku niatin ngegosipin dia di blogku ini.

Bener..maapin aku Ya Allah..aku niat banget ngegosipin orang...hiks..

Jadi gini ceritanya, Bosku tiba-tiba cerita ke Big Bossku kalo temenku itu sedang ada kasus rumah tangga dan Big Boss mesti siap-siap kalau kasus ini bakal melebar kemana-mana dan bakalan ada pemeriksaan tingkat tinggi...Tentu saja, aku yang sedang semobil dengan dua orang itu jadi ikut denger cerita yang mengalir...dan aku hanya bisa melongo ga jelas...
Si A (temenku itu) lapor bahwa istri pertamanya (B) akan menuntut karena dia menikah lagi dengan perempuan lain (C). Menurut si A ini, dulu dia menikah dengan B tanpa bilang-bilang ke orang tuanya. Tiba-tiba diajak menikah oleh B, dia mau..langsung deh ke penghulu..bahkan KTP juga dibuatin oleh B. Maka dia merasa pernikahan itu tidak berjalan wajar.

Lalu, dua bulan kemudian..dia menikah lagi dengan C dan pernikahan ini yang dilaporkan di kantor dan diakuinya secara resmi karena semua proses pernikahan..(dari lamaran sampai ke pelaminan) diikuti oleh orang tuanya. Inilah yang membuat si B melaporkan kasus ini dan akhirnya memang..kasus ini melebar kemana-mana.. (semua proses ini terjadi tahun lalu)

Waktu itu aku ga gitu peduli dengan cerita-cerita itu dan bagiku itu urusan pribadi dia, sepanjang ga mempengaruhi kerja harian...ya ga masalah buatku... Tapi akhir-akhir ini aku ga bisa cuman diem aja (dan ga ada juga yang bisa kulakuin..) makanya kutulis disini uneg-unegku ini.

Kira-kira sebulan yang lalu aku dapat berita terkini dari si A. Seminggu sebelum berangkat training ke Jogja tahun lalu, dia chatting dengan si C (orang jogja) dan akhirnya dilanjutkan selama training mereka ketemuan (training 5 hari). Balik ke kantor, si A ngajuin cuti minggu depannya untuk menikah...Wots..?..secepat itu..(totally 3 minggu setelah kenalan..via net...mereka dah mutusin mau nikah..). Kami semua waktu itu belum tau kalau sebelumnya dia udah nikah..yang A ceritakan cuma proses dengan C...jadi kami cuma bisa ngasih selamat, semoga jadi keluarga SAMARA...

Nah, ketika si B lapor ke kantor, aku ga gitu merhatiin...none of my business....sampe pemeriksa datang berkali-kali ke tempatku...still..none of my business...tapi sebulan yang lalu ketika si C datang ke kantor, ikutan lapor bahwa si A sudah 2 minggu ga pulang..maka keperempuananku terusik.. Apalagi ditambah informasi bahwa ketidakpulangan si A ke tempat si C adalah perintah dari dukun yang ngasih terawangan kepada si A bahwa dulu...dia itu dipelet ama si C...

OMG..hari gini maen pelet-peletan..(emangnya anakku yang suka meletin lidahnya..)..dan info lanjutannya bikin aku tambah muak ama si A ini...berdasarkan info mbah dukun, A harus menghindari pertemuan dengan C sama sekali agar pengaruh pelet itu hilang... Padahal reality-nya..si C ini sudah hamil...dan tambah muak lagi..si A bilang bahwa ga mungkin bayi ini anaknya..wong habis nikah itu si C langsung ga mens lagi alias positif hamil... A curiga bahwa dia hanya jadi kambing hitam saja atas kehamilan itu...dan perut C yang udah langsung gede, bikin A makin ga percaya...

Tau ga...ya iyalah emang langsung gede..wong model body si C ini ginuk-ginuk banget macam...hmmmm...bingung mau ngasih contoh siapa...ok deh..tika panggabean versi 150cm gitu...jadi wajar aja perutnya udah gede dari sononya...

Ih...ga punya perasaan banget sampe ga mau ngakuin calon anaknya hanya karena alasan itu. Maka hari-hari terakhir ini, sungguh malas aku ngelihat, apalagi berbicara dengan si A..begitu juga teman seruangan yang lain. Aku perhatikan, si A ini jadi tersingkirkan dari pergaulan...atau dia sendiri yang menyingkirkan diri?

Menurutku dia sudah cukup dewasa untuk menentukan semua yang telah dia putuskan dulu...dia seharusnya sadar ketika menikah dengan B artinya sudah komit seumur hidup dengan satu orang...bukan langsung nyari ganti yang baru hanya selang dua bulan kemudian.. (walaupun si B ini lebih tua 15 tahun...yaoloh...oidiepus complex apa?)

Dan kalaupun dia memutuskan untuk serius dengan si C (sampe bikin surat pernyataan waktu diperiksa) maka dia juga harus komit dengan pilihannya itu dan segera menyelesaikan urusan yang tertinggal dengan si B...bukan malah ninggalin C begitu saja karena mbah dukun said so..(walau..sekali lagi..si C ini lebih tua 3 tahun daripada si A)

Maka kupikir rasa enegku pada temanku ini cukup wajar karena sebagai sesama perempuan..aku juga merasa tersakiti..(baik dengan si B maupun si C)

Sebenarnya umur 24 tahun itu sudah cukup dewasa bukan? sudah bisa berpikir matang bukan? bukan hanya nurutin pikiran sesaat saja...

Waaaaaaaaa.....aku eneg banget ngeliat si A ini..sampe ga tau mesti bersikap bagaimana...(setiap hari mesti ngadepin wajahnya itu....)

Read More..

Yang Tersisa Dari PEMILU

Ternyata cukup repot melakukan proses pencontrengan. Dengan kartu suara yang besar dan terlipat berkali-kali, sehingga harus benar-benar terbuka tiap lipatannya (agar ga malah kejepit) maka bukaan terakhir benar-benar seperti membuka koran yang perlu ruangan cukup lebar....ah semua itu ga penting. yang paling penting, hak suara ini tersalurkan.

Ketika mulai proses pecontrengan, aku tau kotak partai mana yang akan dicontreng, sedangkan untuk calegnya, yang penting perempuan (biar terwakili 30% anggota legislatif perempuan...mungkin dengan banyak anggota dewan yang terhormat berjenis kelamin perempuan..maka suasana DPR akan berubah..semoga..). Tapi tetep aja bingung karena caleg perempuannya lebih dari satu, maka aku pilih yang paling atas aja deh..biar kemungkinan terpilihnya lebih besar...(eh...ga gitu ya cara ngitungnya?..). Pokoknya caleg perempuanlah...

Sesorean setelah itu, kami hanya mantengin TV, ngikuti quick count..dan ga gitu kaget dengan hasil yang ada... cuman, paling sebel dengerin para komentator dan para wakil partai yang sibuk cela sana..cela sini...(kenapa yang ditonjolin cuma nyela-nya aja sih...heran...ga bisa berterima kasih ya..), dengan pasang tampang yang kayak ngajakin berantem..(mata melotot, mulut manyun...ga ada senyum sama sekali....).

Yang bikin sedih adalah kenyataan bahwa 38% pemilih tidak menggunakan hak pilihnya...hiks..sedih banget..angka yang cukup besar. Apapun alasannya, ntah karena ga tercantum sebagai DPT...asyik liburan keluar kota..(kapan lagi libur 4 hari penuh kayak gini)..atau sengaja GOLPUT.

Dan yang bikin aku agak eneg adalah komentar asisten rumah tanggaku yang cerita bahwa dia milih partai anu karena partai itu udah ngasih kerudung buat dia...waaaaaaaaaa.....suaramu hanya senilai kerudung...hiks... Dan pasti banyak pemilih yang punya kriteria sama dengan asistenku itu...

Aku ga nyalahin dia...bener...setidaknya dia semangat buat memilih (kerjaan belum beres, dia udah ijin buat ikutan nyontreng..) dan karena bingungnya dia pada banyaknya pilihan di kartu suara, dia memilih dengan patokan itu.
Aku cuman sedih, seharusnya 38% pemilih itu bisa membuat hasil yang ada jadi lebih beragam...

So...masih ada satu putaran lagi buat milih PRESIDEN...ayo semangat...yang ga bisa milih karena ga tercantum dalam DPT, cepat diurus biar ga kehilangan suara lagi buat nentuin pemimpinmu 5 tahun ke depan.....

Read More..

Rabu, April 08, 2009

Hati-Hati Dengan Dokter

Dapet forward email dari suamiku, tentang tulisan yang dikirim oleh seorang dokter tentang pelayanan rumah sakit saat ini. Aku yakin, bagi yang pernah berurusan dengan rumah sakit pasti mengiyakan tulisan ini. Begitu juga dengan aku.

Sebelum lebih jauh, ini tulisannya:

halo rekan-rekan. ..

Ini tulisan yang mungkin 'aneh', saya sebagai seorang dokter justru meminta rekan-rekan untuk berhati-hati pada dokter. Ini mengikuti tulisan Pak Irwan Julianto di Kompas 4 Maret 2009 lalu, yaitu mengenai 'caveat venditor' (produsen/penyedia jasa berhati-hatilah) .
Ceritanya begini, beberapa hari ini saya mengurusi abang saya yang sakit demam berdarah (DBD). Saya buatkan surat pengantar untuk dirawat inap di salah satu RS swasta yang terkenal cukup baik pelayanannya. Sejak masuk UGD saya temani sampai masuk ke kamar perawatan & tiap hari saya tunggui, jadi sangat saya tau perkembangan kondisinya.
Abang saya paksa dirawat inap karena trombositnya 82 ribu, agak mengkuatirkan, padahal dia menolak karena merasa diri sudah sehat, nggak demam, nggak mual, hanya merasa badannya agak lemas.

Mulai di UGD sudah 'mencurigakan' , karena saya nggak menyatakan bahwa saya dokter pada petugas di RS, jadi saya bisa dengar berbagai keterangan/penjelas an & pertanyaan dari dokter & perawat yang menurut saya 'menggelikan' . Pasien pun diperiksa ulang darahnya, ini masih bisa saya terima, hasil trombositnya tetap sama, 82 ribu.
Ketika Abang akan di-EKG, dia sudah mulai 'ribut' karena Desember lalu baru tes EKG dengan treadmill dengan hasil sangat baik. Lalu saya tenangkan bahwa itu prosedur di RS. Yang buat saya heran adalah Abang harus disuntik obat Ranitidin (obat untuk penyakit lambung), padahal dia nggak sakit lambung, & nggak mengeluh perih sama sekali. Obat ini disuntikkan ketika saya ke mengantarkan sampel darah ke lab.
Oleh dokter jaga diberi resep untuk dibeli, diresepkan untuk 3 hari padahal besok paginya dokter penyakit dalam akan berkunjung & biasanya obatnya pasti ganti lagi. Belum lagi resepnya pun isinya nggak tepat untuk DBD. Jadi resep nggak saya beli. Dokter penyakit dalamnya setelah saya tanya ke teman yang praktik di RS tersebut dipilihkan yang dia rekomendasikan, katanya 'bagus & pintar', ditambah lagi dia dokter tetap di RS tersebut, jadi pagi-sore selalu ada di RS.

Malamnya via telepon dokter penyakit dalam beri instruksi periksa lab macam-macam, setelah saya lihat banyak yang 'nggak nyambung', jadi saya minta Abang untuk hanya setujui sebagian yang masih rasional.

Besoknya, saya datang agak siang, dokter penyakit dalam sudah visite & nggak komentar apapun soal pemeriksaan lab yang ditolak. Saya diminta perawat untuk menebus resep ke apotek. Saya lihat resepnya, saya langsung bingung, di resep tertulis obat Ondansetron suntik, obat mual/muntah untuk orang yang sakit kanker & menjalani kemoterapi. Padahal Abang nggak mual apalagi muntah ama sekali. Tertulis juga Ranitidin suntik, yang nggak perlu karena Abang nggak sakit lambung. Bahkan parasetamol bermerek pun diresepkan lagi padahal Abang sudah ngomong kalau dia sudah punya banyak. Saya sampai cek di internet apa ada protokol baru penanganan DBD yang saya lewatkan atau kegunaan baru dari Ondansetron, ternyata nggak. Akhirnya saya hanya beli suplemen vitamin aja dari resep.

Pas saya serahkan obatnya ke perawat, dia tanya 'obat suntiknya mana?', saya jawab bahwa pasien nggak setuju diberi obat-obat itu. Perawatnya malah seperti menantang, akhirnya dengan terpaksa saya beritau bahwa saya dokter & saya yang merujuk pasien ke RS, Abang menolak obat-obat itu setelah tanya pada saya. Malah saya dipanggil ke nurse station & diminta tandatangani surat refusal consent (penolakan pengobatan) oleh kepala perawat. Saya beritau saja bahwa pasien 100% sadar, jadi harus pasien yang tandatangani, itu pun setelah dijelaskan oleh dokternya langsung. Sementara dokter saat visite nggak jelaskan apapun mengenai obat-obat yang dia berikan. Saya tinggalkan kepala perawat tersebut yang 'bengong'.

Saat saya tunggu Abang, pasien di sebelah ranjangnya ternyata sakit DBD juga. Ternyata dia sudah diresepkan 5 botol antibiotik infus yang mahal & sudah 2 dipakai, padahal kondisi fisik & hasil lab nggak mendukung dia ada infeksi bakteri. Pasien tersebut ditangani oleh dokter penyakit dalam yang lain. Saat dokter penyakit dalam pasien tersebut visite, dia hanya ngomong 'sakit ya?', 'masih panas?', 'ya sudah lanjutkan saja dulu terapinya', visite nggak sampai 3 menit saya hitung.

Besoknya dokter penyakit dalam yang tangani Abang visite kembali & nggak komentar apapun soal penolakan membeli obat yang dia resepkan. Dia hanya ngomong bahwa kalau trombositnya sudah naik maka boleh pulang.

Saya jadi membayangkan nggak heran Ponari dkk laris, karena dokter pun ternyata pengobatannya nggak rasional. Kasihan banyak pasien yang terpaksa diracun oleh obat-obat yang nggak diperlukan & dibuat 'miskin' untuk membeli obat-obat yang mahal tersebut. Ini belum termasuk dokter ahli yang sudah 'dibayar' cukup mahal ternyata nggak banyak menjelaskan pada pasien sementara kadang kala keluarga sengaja berkumpul & menunggu berjam-jam hanya untuk menunggu dokter visite.

Abang sampai ngomong bahwa apa semua pasien harus ditunggui oleh saudaranya yang dokter supaya nggak dapat pengobatan sembarangan? Abang juga merasa bersyukur nggak jadi diberi berbagai macam obat yang nggak dia perlukan & jadi racun di tubuhnya.
Sebulan lalu pun saya pernah menunggui saudara saya yang lain yang dirawat inap di salah satu RS swasta yang katanya terbaik di salah satu kota kecil Jateng akibat sakit tifoid. Kejadian serupa terjadi pula, sangat banyak obat yang nggak rasional diresepkan oleh dokter penyakit dalamnya.

Kalau ini nggak segera dibereskan, saya nggak bisa menyalahkan masyarakat kalau mereka lebih memilih pengobatan alternatif atau berobat ke LN.

Semoga bisa berguna sebagai pelajaran berharga untuk rekan-rekan semua agar berhati-hati & kritis pada pengobatan dokter.

rgds
Billy

My Note:
Bener deh, pas PIK AIF harus dirawat pertama kali, kami ga punya pilihan. Dokter meresepkan obat paten yang harganya 175rb untuk satu hari dan PIK AIF harus di rawat minimal 7 hari, ga boleh kurang... Pas hari kelima, dokter jaga salah meresepkan obat generik yang kasiatnya sama persis dengan obat yang harus kutebus dengan beda harganya hanya 20ribu...langsung saja nyesek deh.. Kalu sama-sama harus disuntik minimal 7 hari...kenapa harus beli obat mahal?..dan kenapa, si pasien tidak diberi tau bahwa ada pilihan obat paten ato generik..? Kalaupun nantinya si pasien tetep beli yang paten, tapi setidaknya dia sudah terinformasi... (kejadian sih..pas PIK AIF harus dirawat untuk kedua kali. aku maksa nanya, apa ada pilihan generiknya? dan ternyata setelah beberapa jam, ada jawaban bahwa ada generik yang kasiatnya sama. Tapi berhubung obat paten membuat rasa sakit cepat ilang, kami tetep milih yang paten..)

Kejadian yang paling akhir adalah sakitnya ibuku. Ibuku kena diabetes, jadi kalau kadar gulanya udah tinggi banget, mau ga mau harus di rawat (walau ibuku seringkali mengeluhkan rasa sakit diinfus dan disuntik lewat infus itu). Aku ga pernah bisa nemeni ibuku di RS karena beliau ada di Banyuwangi sana, sedangkan aku disini. Jadi aku ga bisa cerewet nanya-nanya ke dokter. Bapakku pun hanya bisa mengiyakan apa saja yang dokter bilang, walaupun aku sering mengingatkan agar beliau lebih aktif nanya perkembangan sakit ibuku. Yang membuatku heran, biaya RS ibuku itu hariannya bisa nyampe 1,2jt (dan ga pernah kurang dari seminggu...hiks..). Macem-macem siy keperluannya, tes ini itu, biaya rontgent, obat suntikan, dan sebagainya...Bapakku hanya iyain saja, karena beliau ga tau bahwa kita bisa milih obat generik. Beliau pikir semua obat yang disuntikan ga ada yang generik. Aku hanya membandingkan dengan ibu mertuaku, yang harus dirawat juga karena diabetes tapi biayanya ga semahal itu (dan beliau pakai askes..artinya obat-obatnya pasti dicarikan yang generik). yang penting kan, obat itu untuk sarana kesembuhan...generik atau paten...toh sama-sama sembuh..

Bapakku memang masih dapet asuransi pensiun dari tempat kerjanya, seharinya 600ribu dan setaun maksimal 25 hari. tapi pengalaman selama ini, kami masih harus nambah banyak untuk biaya rumah sakit itu..atas pengeluaran yang tidak terinci jelas..dan atas obat yang entah apa saja itu...

Hiks...kapan kita bisa berobat dengan tenang..jika perasaan dirongrong itu terus muncul...

Read More..

Nama Panggilan Anak-Anakku

Beginilah untungnya ngasih nama anakku tidak cuma dua kata seperti namaku, tapi terdiri dari 3 kata. Jadi jika sewaktu-waktu mereka tidak nyaman dengan panggilan yang biasanya, mereka bisa memilih pilihan nama lainnya.

Anak perempuanku, kupanggil ETA, nick name dari Detya. Tapi sejak masuk TK B, dia ingin dipanggil lengkap, DETYA..karena dia ga suka ketika teman-temannya meledek dengan "Saha eta?" dari bahasa Sunda. Maka kami lapor ke gurunya dan sejak itu semua atribut dia, diganti dengan DETYA, sesuai keinginannya. Dia mau dipanggil ETA asal menyebutnya lengkap : MBAK ETA...

Anak keduaku, dulu pas baru lahir, kami panggil dia SEAN..sesuai nama depannya SEANTAQI. Tapi beberapa minggu kemudian, Ayah minta dia dipanggil JAVAS, nama keduanya...dan akhirnya sampai sekarang kami panggil dia JAVAS. Tapi sejak minggu lalu, dia ingin dipanggil UMAR, nama ketiganya...(maklum, emaknya ini ngefan berat ama Umar Bin Khattab). Maka mulailah masa-masa sulit bagi kami semua untuk berubah memanggil dia jadi UMAR... Aku ga tau apakah permintaan dia ini berlaku selamanya atau sekedar sedang mood dia aja yang pengen ganti...

Lagian susah kan merubah total panggilan itu setelah 5 tahun terbiasa dengan JAVAS. Kalau DETYA kan, ga terlalu beda dengan ETA dan seringkali juga kami panggil dia nama lengkap, jadi ketika dia ga mau dipanggil ETA, ga terlalu masalah buat kami semua..

Lalu minggu ini, anak ketigaku pun mulai memilih sendiri jawabannya ketika ditanya.."Namanya siapa?"..dia akan menjawab..."PIK AIF" (maksudnya SYAFIQ HULAIF)...dia tidak lagi menjawab "ICAM"...Apakah ini berarti dia ga mau dipanggil WISAM lagi?...

Eniwei...dari dulu memang pengennya ngasih nama anak dengan 3 kata (dan keuntungannya ya pas gini ini..). Pas SMP dulu sempet nyesel kenapa namaku hanya ini...jadi walau merasa sangat tomboi..tapi kok namanya DEWI (ga cocok blas..). Tapi setelah tau kenapa Bapakku memberi namaku ini...jadi ingin menjaga amanah orang tua... So,..NO REGRET...ga ada penyesalan lagi..

Aku harap anak-anakku ngerti kenapa nama mereka seperti itu dan bisa mewujudkan harapan orang tuanya ini...

Jadi apakah panggilan ini akan tetap DETYA, UMAR dan PIK AIF..?...kita lihat saja nanti...

Read More..

Senin, April 06, 2009

Daun Ular....Obat DBD Ampuh

Just sharing from my milist:


DAUN ULAR...... obat DBD paling ampuh.

Masalahnya yang satu ini ndak ada dijual, tapi cukup gampang didapat, nyari sendiri dan murah. Jadi iklannya ndak mempromosikan produk obat dan ndak butuh POM untuk melegalisir Obat DBD demam berdarah dengue yang paling top dan ampuh saat ini, dan perlu dimasyarakatkan adalah Daun ULAR, alias Daun UBI JALAR.

Ambil pucuk daun ubi jalar sebanyak porsi ikatan sayuran, rebus dengan seliter air selama lebih dari 5 menit [godok 1 jam juga bisa]. Minum sebagai pengganti air minum, berarti sekitar seliter sehari. Ubi jalar ya Bung, bukan daun singkong. Ubi Jalar. Makanya saya pendekin jadi DAUN ULAR, biar pade inget, karena sudah beberapa teman jadi kekenyangan makan daun singkong.

Resep ini sudah saya coba beberapa kali. Ponakan kena DBD, trombosit turun ke 80 ribu, sehari diberi rebusan daun ular, langsung naik diatas 150 ribu. Rumah sakit pada marah, kehilangan pasien. hehehe..
Beberapa teman juga saya sudah suruh coba, ampuh Boss. Isteri saya 3 minggu lewat di "vonis" DBD oleh dokter, tanpa lihat hasil labnya, langsung saya kasih daun ular kita, besoknya test lagi Trombositnya jadi 396. Gila,
maximumnya biasanya 400 ribu. Ternyata waktu dibilang DBD, trombosit
istri saya masih 150 ribu. Hebat tenan.
Resep ini dari mana? Dari teman di Philippine, dan sedang populer sekali
disana dan beberapa kali menjadi topik seminar kesehatan disana. Untuk
lebih afdolnya anda googling saja " comote" atau "kamote", begitu bahasa
sononya, supaya ndak merasa dikadali... Jangan googling nya "daun ular", yang keluar nanti gambar kobra ngantuk.. hehehe.
Selamat mencoba dan tolong diterusin ke teman dong. Ini murah meriah
dan HEBAT. Effek sampingan mestinya nggak ada, karena daun ini biasa juga
dibikin jadi sayur di kampung oweh atau paling nggak dibikin menjadi
makanan ternak.

MAILING LIST DOKTER INDONESIA (MLDI)

Informasi di atas adalah informasi kesehatan umum dan tidak dimaksudkan
untuk menggantikan nasehat, diagnosis dan pengobatan dari tenaga
kesehatan profesional
____________ _________ _________ _________ ________
Baru browsing ternyata artikel ini, aslinya dari Kompasiana.

My Note:
Semoga informasi di atas bermanfaat. Sampai saat ini belum pernah kena DBD siy...sekeliling rumah juga bebas DBD..jadi Insya Allah kami aman..

Mengenai daun Ubi Jalar ini, di rumahku ada kakek-kakek tua yang suka jualan sayur mayur petikan dari kebunnya sendiri, dan sebagai salah satu caraku mengurangi perasaan bersalah terhadap orang-orang yang berpenghasilan rendah, aku selalu membeli jualan kakek itu (walau kadang bingung sendiri mo dimasak apa)..Kadang beli daun pepaya...kangkung, daun singkong...apapun yang dia jual (walau kadang teronggok begitu saja sampe kering...hiks...ibu yang malas masak).
Suatu hari si Kakek nawarin daun ULAR ini, dan karena ga tau sama sekali mau dimasak apa (bahkan wondering..apa iya bisa dimakan), maka aku ga pernah beli daun yang ini. Nah dengan adanya info ini, maka aku bisa tau kepada siapa mesti beli daun ini jika suatu ketika membutuhkannya...

So..., jika teman-teman ada yang berniat mencoba...ntar aku carikan ke kakek yang lewat depan rumahku...pastinya ada stok daun ini di kebunnya..

Read More..

Omzet

CATATAN: postingan ini ga penting banget...

Dulu aku mengira omzet itu adalah keuntungan yang didapat dari pekerjaan/usaha yang dilakukan. Ternyata baru tau bahwa omzet itu meliputi semua transaksi yang dilakukan (dasar pns...ga ada jiwa usaha...informasi gini aja baru ngerti...)

Lalu suatu sore, ketika di mobil denger acara Talk To CEO di radio favorit kami, ada cerita tentang pemuda yang baru berusia 23 tahun, sudah punya usaha sendiri yang beromzet miliar rupiah. Bidang usaha dia adalah properti untuk menengah ke bawah. Kami hanya bisa tercengang denger talk show itu, betapa pada umur segitu aku baru lulus kuliah dan baru mulai hunting kerjaan, sedangkan dia udah punya omzet milyaran.

Tiba-tiba suamiku berkata..."ah..omzetku lebih gede dari itu...sekitar 350 milyar..."
Gubrak deh... Dengan penuh tanda tanya aku tanya..."omzet segitu dari Hongkong?"...
Suamiku bales "Lo, omzet itu kan dihitung dari berapa nilai total yang kita kerjakan, nah aku meriksa APBN departemen A, nilai totalnya ya segitu...perkara yang kita dapet sebagai gaji jauuuuuuh dari itu kan gapapa..yang penting omzetku segitu....hahaha.."

Yaelah...kalau ngitungnya gitu maka omzetku ratusan juta dolar dong....(dalam bentuk utang...hiks)
Lalu dengan penuh canda dan dengan dasar "ga mau kalah dengan anak muda itu", kami mulai menghitung omzet kami sendiri per tahun....

Ah...ginilah nasib public servant...kerjanya cuman melayani...dan menghitung angka-angka fantastis....dan melongo mendengarkan keberhasilan orang lain di usia semuda itu...

Tapi setidaknya kami berusaha menjadi public servant yang baik, yang tidak menyulitkan orang lain (hanya melakukan segala sesuatunya berdasar aturan yang ada), yang berusaha sekuat tenaga memenuhi sumpah jabatan yang telah diucapkan...

So....berapa omzet Anda?...

Read More..

Kamis, April 02, 2009

Your Voice Do Make A Different

Sebenarnya nggak pengen ngomongin pemilu...yang penting diri sendiri udah punya pilihan mantap..dan sedikit mempengaruhi sekitar untuk ikutan pilihan mantapku itu. Tappppiiii..jadi ga tahan untuk komentar buat orang-orang yang memilih GOLPUT karena semalem denger suamiku komentar juga tentang orang yang memilih GOLPUT.

Jadi semalem ada komentar apaan gitu di TV dan suamiku langsung menimpali dengan "Kan yang penting dapat kepuasan hati dengan memilih GOLPUT"....Jeddeerrr...wah, ga nyangka bahwa sebenarnya suamiku begitu bersimpati pada orang-orang yang GOLPUT..atau jangan-jangan sebenarnya beliau lebih memilih golput kalau saja aku ga selalu ngisik-ngisik beliau agar milih pilihanku itu.

Jadi keinget acara OPRAH waktu mo pemilu presiden yang intinya dia ikut kampanye agar orang-orang itu ikutan milih..jangan hanya pasif...Your Voice Do Make A Different...(makanya jadi judul deh..)

Sekali lagi, aku hanya menyayangkan kenapa harus memilih GOLPUT...aku ga masalahin fatwa MUI yang bilang golput itu haram dan sebagainya... cuman logika ku gini aja:

misal jumlah pemilih itu 100 juta, jumlah kursi di DPR ada 500, maka satu kursi itu mewakili 200ribu suara, diperebutkan oleh brapa partai ya..ya ampun aku kok ga tau..kira-kira 42 deh...
Jika ada 50% yang milih golput..tetep aja 500 kursi itu akan terisi oleh wakil-wakil dari 42 partai itu yang dipilih oleh 50juta pemilih...
Catatan:apakah 50% GOLPUT itu bakal dapet 250 kursi? tentu saja engga. Dengan adanya golput maka 1 kursi cuma butuh 100ribu suara..

Lalu bagaimana dengan susunan para partai yang punya anggota di legislatif?

Akan ditentukan oleh kualitas 50% pemilih yang ada.

Sekarang kalau dipikir, pemilih yang memilih GOLPUT kira-kira orang yang bagaimana?
Tentu yang sudah cukup berpendidikan dan merasa muak dengan sistem yang ada.

Dan yang akhirnya memilih dan memberi kontribusi terhadap susunan partai di DPR?
bisa dibayangkan jenis pemilih seperti apa...bisa seperti aku, yang agak muak dengan sistem yang ada, cukup berpendidikan dan tau benar apa yang dipilih, ingin perubahan dan percaya itu bakal terjadi.

Seberapa besar kira-kira pemilih yang seperti aku?
pasti tidak akan sebesar pemilih yang cukup diberi uang 100ribu saja sudah bisa menentukan dia mau milih apa...yang bisa digoda dengan iklan "dulu tahun 2004 bensin 2500..sekarang 4500"...(suebbel banget aku dengan iklan ini...lalu kenapa ga sekalian aja dibandingin dengan harga bensin pas 600 dulu)...yang bisa dirayu dengan janji desanya akan diberi 1 milyar jika partainya punya 100 kursi di DPR...dan janji-janji manis lainnya...

Jadi bisa dibayangkan susunan anggota Dewan yang terhormat...yang akan tergantung dari sisa-sisa pemilih GOLPUT....(yang notabene adalah pemilih yang educated, yang seharusnya bisa cerdas dalam menentukan 1 pilihan dari 42 yang ada)

Rasanya semalem sampe sesak napas deh aku njelasin hal ini ke suamiku...

So..calon pemilih...jangan sia-siangan suaramu tanggal 9 April ini...suaramu sungguh-sungguh berarti untuk menentukan arah mana yang akan ditempuh bangsa kita ini..
Ibaratnya seperti menikah...memang kita punya calon ideal dengan kriteria yang sangat terinci..tapi apakah kita akan terus bertahan menunggu prince charming dengan kriteria detil tadi akan datang? Paling tidak kita punya rencana cadangan, bahwa yang akan mendampingiku kelak minimal harus gini dan gitu..artinya ada kriteria minimal yang sanggup kita terima...kalau dapat lebih sih...seneng juga..

Begitu pula dengan memilih partai ini...pasti dari 42 pilihan yang ada..ada satu yang agak-agak mewakili aspirasi kita..yang arah perjuangannya kira-kira mirip dengan apa yang kita inginkan untuk bangsa ini...ga harus 100% sama..tapi yang paling mirip lah dengan mau kita...

Jangan biarkan susunan anggota Anggota Dewan Yang terhormat hanya ditentukan oleh sisa pemilih yang ada...suara Anda sangat-sangat berharga...

Hiks...jadi sesak napas bener deh...

Read More..