Kamis, September 30, 2010

Dua Anak Cukup.......bonusnya satu saja...

Sejak balik mudik kemarin, anak kami jadi dua saja. Wisam tinggal di Banyuwangi, jadi kesayangan disana. Bapakku tiap pagi nganterin Wisam ke playgroup...nungguin disana sampai waktu pulang. Lanjut ke mesjid untuk sholat dhuhur.

Tidur siangnya Wisam, menunggu adikku pulang dari ngajar. Walau di TK yang sama, Wisam tidak berangkat bersama tantenya karena adikku harus berangkat lebih pagi dan pulang lebih siang. Intinya, berdasar cerita Bapak Ibu dan adikku serta hasil telpon-telponan sama Wisam, sepertinya dia lebih terawat disana daripada di rumah saja bersama pengasuhnya.

Lalu bagaimana dengan kami sendiri disini?.... Hohohoho....kami membuktikan bahwa slogan pemerintah bahwa 'dua anak cukup' itu banyak manfaatnya... Jadi kan selama ini Detya dan Javas jadwal sekolahnya disamakan dengan jadwal kerja kami. Berangkat sama paginya...pulang sama malamnya. Diantara pulang sekolah dan menunggu kami pulang kantor, mereka ada di penitipan. Wisam sendiri dirumah saja dengan pengasuh kami yang ga nginep. Nah, ketika masih ada Wisam nunggu di rumah, aku selalu saja merasa resah jika harus pulang malam..entah karena ada rapat konsinyering...atau cuma karena macet. Aku kasihan karena dia pasti menunggu kami pulang, ga akan tidur kalau kami belum pulang. Jadi pada dasarnya, kami hanya bisa bersenang-senang dengan Wisam hanya pas Sabtu Minggu saja.

Dengan Wisam ada di Banyuwangi gini, ya kami hanya fokus pada dua anak saja, jadi jika semalam apapun kami harus pulang atau ga pulang sama sekali...ga ada perasaan resah dihatiku. Aku tau dan yakin sekali bahwa Wisam disana baik-baik saja. Itu baru hilangnya keresahan hatiku jika terlambat pulang....belum lagi masalah emosi yang meningkat ketika melihat Javas dan Wisam berebutan mainan. Wisam sebagai yang paling kecil, seringkali menjadi penguasa. Jika ada mainan baru, dia akan menguasainya walau kami sudah bilang bahwa itu punya kakaknya.

Suamiku ga setuju kalau aku membelikan masing-masing anak, satu mainan. Suamiku ingin agar anak-anak mengenal tentang berbagi, jadi cukup beli satu saja untuk mereka mainkan bersama. Nah, Wisam itu selalu menguasai semua mainan baru. Jangankan yang beli satu buat main bersama...dibeliin masing-masing satu saja selalu dikuasai dulu oleh Wisam. Javas biasanya bisa bersabar sebentar, dia asik-asik saja ketika Wisam jadi penguasa seperti itu. Tapi kan tidak selamanya dia bisa bersabar. sepuluh menit sampai setengah jam pertama dia bisa diam saja...setelah itu perang baratayuda dimulai karena Javas sendiri juga ingin bermain. Nah kalau sudah begitu, mulutku ini rasanya ga berhenti-henti mengingatkan Javas untuk bersabar dan Wisam untuk berbagi. Kalau kebanyakan ngomong gitu tapi suasananya masih tetep panas akhirnya..ya aku jadi ikutan esmosi... Jadi selama Wisam ga ada.....berbalas pantun antara Javas dan Wisam...Aku dan Javas..serta Aku dan Wisam juga ga ada......emosi jiwa juga jadi stabil....

Belum lagi ketika beraktifitas di rumah, karena hanya menemani dua anak saja maka kami ya hanya fokus dengan dua nak itu..tidak berbagi perhatian dengan tiga anak. OK aku memang sudah terbiasa dengan multitasking..tapi semakin sedikit multitasking yang dilakukan..beban di otak ini juga semakin ringan. Dan karena anak-anak ini sudah besar semua maka..bantuan kami juga tidak terlalu detil seperti jika harus menemani anak 3.5 tahun bermain. Akibat akhirnya...aku bisa sejenak menikmati istirahat...atau fokus nyetrika pakaian yang segunung...heheheh...*ternyata cepat selesai juga kalau kita fokus, padahal aku sudah agak-agak mabok ngeliat banyaknya setrikaan*

Jadi jika hati sudah tenang karena ga resah lagi, emosi jiwa sudah stabil karena ga pernah berbalas pantun....otak juga fokus karena jarang multitasking.....efek keseluruhan adalah suasana yang nyaman diantara kami berempat.

OK...kami semua merindukan Wisam..itu ga perlu dipertanyakan lagi...memang jadi terasa sepi karena bisanya selalu hiruk pikuk....tapi poinku adalah keluarga berencana dengan slogan dua anak cukup itu memang ada benarnya. Bukan hanya berarti mengatur masalah kependudukan saja..iya..bagi Pemerintah memang penanganan masalah kependudukan...tapi manfaat untuk keluarga itu sendiri juga banyak...Keluarga yang berkualitas itu hanya bisa didapat kalau semua orang di keluarga itu merasa nyaman.

Nah kesanggupan untuk nyaman bagi setiap orang itu kan berbeda-beda. Ada yang bisa nyaman justru jika berada dalam keluarga besar. Bagiku sendiri...dan selama beberapa minggu ini hanya dengan dua anak...aku ternyata bisa merasa lebih nyaman..walau sangat merasa sepi tanpa Wisam. Dan aku yakin tidak hanya aku saja yang merasa nyaman dengan anak yang secukupnya seperti slogan Pemerintah itu..


Jadi bagiku...aku setuju dengan program kependudukan Pemerintah yang itu tapi dengan sloganku sendiri

"Dua Anak Cukup.....bonusnya satu saja..."



Read More..

Senin, September 27, 2010

Grease atau High School Musical ?


Pernah nonton Grease?..Dulu aku bisa berkali-kali nonton film Grease ini. Bagiku Grease adalah film musikal remaja yang paling keren.

Pertama kali nonton kalau ga salah waktu acara TV tahun baru di TVRI. Saat itu sepertinya aku masih SMP, dan langsung suka banget sama Danny Zuko dan Sandy Olsson. Tentu saja langsung ngefans berat ama Jhon Travolta...sampai sekarang.

Setelah itu, setiap kali diputar di TV, entah TVRI lagi atau RCTI, aku ga pernah ketinggalan. Dulu kan ga pernah punya player..jadi bisanya cuma nunggu diputar di TV saja.

Pas lulus kuliah, aku numpang hidup di rumah saudaraku sambil menunggu panggilan kerja. Nah disana punya laser disc player....dan bisa diduga...yang kusewa adalah Grease dan kutonton berulang-ulang.... tetap ga pernah bosen. Saat itu, tahun 1998, adalah peringatan 20 tahun film Grease dan soundtrack film ini diluncurkan ulang.... Tentu saja aku ga ketinggalan beli...entah dimana kaset itu sekarang....:(

Saat High School Musical happening...aku kembali teringat film Grease ini. Sampai saat ini aku belum pernah nonton HSM, jadi rasanya ga fair kalau aku membanding-bandingkan dua film ini. Walau settingannya mirip, tapi sepertinya detilnya beda banget. Dua-duanya film musikal...dengan latar belakang sekolah SMA. Tapi kalau Grease, cowoknya anggota gank balap mobil T-Birds dan ceweknya masuk The Pink Ladies... nah HSM kaitannya ama basket dan teater gitu..

Grease isinya lebih dewasa daripada HSM. Apa ya...di Grease ada cerita tentang Leader Pink Ladies yang khawatir hamil...ada adegan ya mirip-mirip tawuran pelajar...balap mobil...kalimat-kalimatnya juga ga pas di denger anak kecil. Waktu pertama lihat si..aku ga ambil peduli sama jalan ceritanya ..pokoknya suka sama lagu-lagunya...tarian-tariannya....pacarannya Sandy sama Danny....gitu de..

Kalau HSM kan sepertinya tentang jagoan basket yang ketemu sama cewek yang cantik tapi juga pinter....kepengen ikutan drama sekolah..saingan sama jagoan nyanyi di sekolah itu..gitu-gitu deh. Jadi kalau anggota kerajaannya Paman Gery di Female FM, yang notabene banyak yang TK dan SD pada seneng sama HSM..kayaknya aman-aman saja. Namanya juga produksinya Disney, jadi pasti dijamin aman untuk anak-anak.

Jadi kalau anak-anakku juga suka HSM..ya memang film ini dibuat untuk mereka...Sedangkan aku?...tetep Grease is the best...

Berhubung kaset yang dulu ilang maka browsing di 4shared dapet file ini

Grease

Gambar diatas dapetnya juga dari situ...

Dan ini adegan favoritku



atau yang ini



Read More..

Jumat, September 24, 2010

Disparitas

Suatu ketika, saat assessment terakhir di unit kerjaku, aku merasa tersentak ketika diminta mengisi biodata pribadi bagian saudara kandung. Disitu aku diharuskan mengisi data detil orangtua dan saudara kandungku. Nama, tanggal lahir dan pendidikan keluargaku termasuk aku sendiri.

OK, sebelumnya aku memang menyadari bahwa banyak perbedaanku dengan saudara-saudara kandungku yang lain. Tapi aku tidak pernah sekaget ini ketika membaca ulang formulir yang sudah kuisi. Aku kaget melihat betapa berbedanya tingkat pendidikanku dengan saudaraku yang lain. Kakakku lulus SMA, adikku langsung, SMP saja ga lulus sehingga harus kutuliskan SD. Adikku setelahnya ga mau nerusin lagi kuliahnya jadi harus kutulis SMA dan adikku yang bungsu kutulis D2 karena baru tahun ini melanjutkan ke S1.

Sedangkan aku sendiri, alhamdulillah dapat beasiswa S2. Dari perbedaan pendidikan itu saja dapat terlihat betapa berbedanya gaya hidup kami.

Aku terpekur cukup lama membaca riwayat pendidikan itu. Aku jadi berpikir bagaimana perasaan saudara-saudaraku terhadap aku.

Bagaimana perasaan kakaku dulu ketika kami sama-sama lulus di tahun yang sama (kakakku harus mengulang kelas 2 SMAnya) dengan aku langsung melanjutkan kuliah sedangkan dia cukup di rumah saja. Bagaimanapun dia anak laki-laki..yang mestinya berharap dia yang mendapat kesempatan kuliah lebih dahulu. Dia juga pernah berharap jadi PNS dengan koneksi saudaraku yang dijamin pasti bisa dan sempat bertahun-tahun mengabdi kepada saudaraku itu, tapi kesempatan itu hilang begitu saja karena kesalahanku (salah bercanda yang ditanggapi serius oleh saudaraku itu- aku baru tau akhir2 ini saja bahwa candaanku dululah yang menghalangi kesempatan kakakku utk mendapat koneksi itu). Akhirnya kakaku ini sekarang bekerja sebagai sopir truk pengangkut di perusahaan eksportir udang di daerahku yang trayeknya sampai Sumbawa, Lampung dan Banjarmasin.

Adikku langsung, anak ketiga yang disebut medeking dan mengalami semua fenomenanya..akhirnya menyerah sekolah saat kelas tiga SMP. Saat itu aku sempat berpikir bahwa inilah kemampuan maksimal adikku dan kelak jika aku mampu, akulah yang akan bertanggungjawab atas hidupnya. Nyatanya sekarang ini dia punya satu anak dengan pekerjaan serabutan yang kadang-kadang bisa dapat 10-15 ribu sehari, namun seringkali ga ada pekerjaan sama sekali....dan ternyata aku juga ga sanggup berbuat apa-apa untuk adikku itu...aku ga bisa menanggung hidupnya walaupun aku tetap sangat ingin melakukannya. Aku tidak sendiri dan semua keputusanku harus atas persetujuan suamiku.

Adikku yang keempat....well aku sudah pernah menceritakannya. Setelah penyerahannya atas kuliah, dia merantau ke Bali dan bekerja jadi koki. Sudah berpindah di tiga restoran dan tiga-tiganya spesialis makanan italia. Jadi lebaran kemaren kami menikmati spageti buatannya yang memang delicioso..(bukan yang buatanku pake boloignese instant hehe..). Dan lebaran kemaren, dia berubah bentuk menjadi gemuk besar dan bikin aku harus mengingat-ingat..ini adikku atau sepupuku yang lain ya.. Hmmm..efek dari kewajiban mencicipi masakannya...dia bilang. Sepertinya dia cukup enjoy dengan hidupnya....tapi apakah itu semua cukup jika dia harus membina keluarga sendiri kelak?

Adik bungsuku...ok..sepertinya dia yang kuharapkan sedikit sekali perbedaannya denganku..

OK..aku ngerti bahwa jalan hidup masing-masing orang itu beda..bahkan di daerahku sendiri ada istilah..."telor ayam dari satu induk saja hasilnya bisa beda..apalagi kita..."...

Tapi jadinya semenjak kuliah dan akhirnya kerja, aku seperti berjarak dengan semua saudaraku..aku seringkali ga bisa menerima jalan pikiran mereka (walau tidak pernah aku tunjukkan)....apalagi bicara yang enak sama ipar-iparku. Ga pernah bisa..
Mereka sungkan sama aku..akupun bingung mo ngomongin apa sama mereka... Mau ngomongin anak-anak, takut dikira aku sok tau dan sok ngatur. Padahal aku sedih sekali melihat ponakanku yang umurnya baru lima udah direbonding rambutnya. Sedih banget ngeliat ponakanku itu sepertinya tidak terurus. Serba salah...walau sedapat mungkin kucoba untuk bicara..tapi tetap saja hasil akhir mereka sendiri yang nentuin.

Ketika berdiskusi apa saja dengan kakaku, aku harus menahan diri sekuat tenaga untuk hanya mendengarkan saja tanpa memberi komentar atau penilaian sama sekali. Betapa banyak hal yang tidak kusetujui dari cara bersikapnya..tapi..hei...aku ini adiknya...seharusnya aku menerima saudara-saudaraku apa adanya..tidak mengkritik mereka. Jika aku begini, bukan berarti mereka juga harus begini, dan sebaliknya.

Apalagi adikku langsung, walaupun sayangku padanya ga usah diragukan lagi, aku seringkali jengkel dengan cara berpikirnya yang dari dulu tidak sesuai dengan kemampuannya... Tapi itulah adikku..yang sekarang sudah punyak anak satu.

Jadi karena aku hanya bertemu mereka sesekali saja, maka akulah yang harus lebih banyak mengerti mereka..menyesuaikan diri dengan apa adanya mereka... semuanya berpulang lagi pada menerima apa adanya...

I love them all....very much...seberapapun besarnya perbedaan kami..
Read More..

Senin, September 20, 2010

Campur-Campur Selama Mudik

Aku dan Pulang Kampung

Tahun ini aku mudik ke Banyuwangi..ke rumah orang tuaku. Tahun lalu hanya ke Kediri. Bedanya jika mudik ke Banyuwangi, masih bisa transit di Kediri pergi dan pulangnya. Kalau sudah di Kediri, artinya ga akan ke Banyuwangi sama sekali. Tahun lalu si...semua keluargaku yang main ke Kediri. Ga tau bagaimana pengaturan tahun depan. Yang jelas...masa si ga ketemu keluargaku dalam dua tahun...

Aku sudah bingung bagaimana mengatur mudik kami tiap tahunnya. Jika bertahan harus kedua tempat itu setiap kali mudik, yang ada hanya capek di jalan. Kediri Banyuwangi butuh 8 jam perjalanan. Di rumah orang tua paling dapatnya cuma 2 malam saja. Setahun sekali pulang hanya untuk bertemu 2 malam saja.

Maka semenjak tahun lalu kami putuskan satu rumah saja setiap mudik, diawali dengan Kediri dulu. Jadi tahun lalu, kami sama sekali ga pulang ke Banyuwangi. Berpuas-puas kami habiskan tujuh malam di Kediri.

Tahun ini pun kami puaskan tujuh malam di Banyuwangi..termasuk dua hari satu malam jalan-jalan ke Bali. Kami pun masih sempat transit ke Kediri barang 12 jam pergi dan pulangnya. Yang jelas dengan full di satu tempat, bisa muas-muasin silaturahmi ke keluarga besarku...terutama bisa maen 2 kali ke rumah Mbah Putriku.

Tahun depan diurus tahun depan aja deh....toh..keluargaku senang-senang aja diminta maen ke Kediri.


Wisam dan Tante

Ga nyangka banget bahwa Wisam teramat sangat kangen dengan adikku. Kami sampai di Banyuwangi dini hari menjelang sholat Idul Fitri, jadi Wisam dalam keadaan tidur. Pagi-pagi ketika kami sibuk bersiap-siap berangkat sholat, Wisam bangun dalam keadaan kebingungan. Dan ketika dia lihat adikku, langsung yang dituju adalah adikku itu, ayahnya ga dianggap sama sekali. Dan setelah itu Wisam nempel kayak perangko sama Tantenya. Semua-muanya maunya sama Tante....Ayah sudah ga laku lagi.

Maka sorenya adikku meminta agar Wisam bisa ditinggal di Banyuwangi sampai tahun baru nanti. Yang aku tidak sangka juga adalah tanggapan suamiku atas permintaan adikku itu. Walaupun ga saat itu juga dijawab, ternyata malam harinya saat keadaan tenang, suamiku menanyakan kemungkinan permintaan adikku itu. Ini yang bikin surprise, biasanya apapun yang berhubungan dengan Wisam, suamiku sangat protektif sekali. Bukan sekali ini saja, baik orangtuaku maupun mertuaku minta Wisam tinggal dengan mereka barang sebulan dua bulan. Tapi jawaban suamiku adalah tidak, apapun kondisinya. Nah ketika suamiku membuka kemungkinan dengan menanyakan pendapatku, ini adalah hal yang luar biasa.

Setelah melalui berbagai pertimbangan selama kami berada di Banyuwangi, maka pagi hari menjelang kepulangan kami ke Jakarta, suamiku memutuskan bahwa Wisam bisa ditinggal di Banyuwangi. Nanti sekitar akhir Desember atau awal tahun baru, baru diantar balik ke Jakarta.

Jadi saat ini, Wisam ada di Banyuwangi dan aku hanya mengurus dua anak besar saja. Dan Wisam, setiap kali kutelepon...ga ada tanggapan yang luar biasa. Sepertinya dia menikmati tinggal dengan Kakek Nenek dan terutama Tantenya


Detya dan Bali

Setiap kali aku dinas ke Bali, selalu saja ada tato henna di kakiku dan ini membuat Detya ngiri sekali. Dia juga ingin digambari kakinya seperti aku. Jadi ketika kami benar-benar sampai di Bali, tidak bosan-bosannya Detya menanyakan kapan dia bisa dibuatkan tato yang sama. Bahkan ombak Tanah Lot yang berdebur-debur membasahi kami semua, tidak cukup menarik perhatian Detya. Dia ingin segera ditato.

Maka ketika akhirnya bertato, Javas dan Wisampun tidak ketinggalan. Tato beres kami menuju Kuta. Di Kuta, Detya rewel lagi minta dikepang...ga berhenti-henti juga merengek minta dikepang. Perhatiannya teralihkan ketika akhirnya bermain di pantai. Selesai makan, jam sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB artinya di Bali sudah satu jam lebih malam. Aku beralasan bahwa sudah tidak ada tukang kepang lagi, sampai pas jalan menuju parkiran mobil ada ibu-ibu yang menawari kepang. Langsung saja Detya memaksa untuk dikepang, ga peduli hari yang sudah malam.

Dan inilah Detya selama di Bali sampai 3 hari kemudian



Javas dan Belajar

Sampai saat ini, Javas masih belum lancar membaca. Masih harus mengeja satu-satu, jadi kami melakukan berbagai trik agar dia mau berlatih. Dari yang membaca tulisan disepanjang jalan, sampai barter apa yang dia mau dengan membaca. Misalnya dia mau aku menyuapinya makan selama di mobil, maka aku mau melakukannya asal dia membaca sebaris kalimat yang aku tunjukkan.

Tetap saja, cara-cara itu tidak cukup cepat membuat dia lancar membaca. Maka ketika dia mudik duluan bersama Detya dan Bapakku ke Banyuwangi, dia harus berlatih bersama Tante dengan imbalan, dia bisa mendapat mainan yang paling dia inginkan. Adikku berkali-kali telpon dan sms menceritakan betapa susahnya dia meminta Javas berlatih, sampai akhirnya dia mau berlatih di HP qwerty. Lumayan juga, dia cukup antusias tapi ini kan tidak menyelesaikan masalah dia malas menulis. Gurunya sudah berkomentar mengenai susahnya meminta Javas menulis.

Maka mudik kemarin diisi dengan tarik urat Tante dengan Javas untuk berlatih membaca dan menulis.


Suamiku dan Menyetir

Aku salut sekali dengan stamina suamiku ketika menyetir. Dari dulu aku pengennya kami sekeluarga mudik bareng dengan mobil yang sama, daripada anak-anak pulang duluan dengan naik kendaraan umum yang harga tiketnya selangit karena tuslah. Kalau nantipun anak-anak butuh istirahat, biaya menginap di hotel melati di kota-kota kecil sepanjang perjalanan kami, masih lebih murah daripada tiket bus ato kereta apalagi pesawat.

Suamiku ga mau model perjalanan seperti itu, yang harus berhenti berkali-kali untuk istirahat. Suamiku maunya ya sekali nyetir ya jalaaaan terus sampai tiba di tujuan. Kalaupun berhenti ya hanya untuk ke toilet sekalian makan dan sholat, tidak lebih dari satu jam. Atau jika kantuk ga dapat ditahan lagi oleh suamiku, cukup parkir di Pom Bensin barang sejam dua jam maka suamiku akan segar lagi. Istirahat total baru dilakukan jika sudah sampai tujuan.

Kemarin itu kami berangkat selasa malam tanggal 7 September, dan saat itu jalanan sudah sangat padat sehingga kami baru sampai Cirebon keesokan siangnya dan kami akhirnya transit di Kediri hari kamis dini hari jam 03.00. Perjalanan yang normalnya butuh 15 - 17 jam molor jadi 29 jam.

Di Kediri kami hanya transit sampai jam 15.00 sore lanjut ke Banyuwangi. Sampai di Bangil aku mampir dulu ke rumah sahabatku jaman kuliah dulu dan kami berhaha hihi sampai ba'da isya. Ditambah macet karena takbiran maka kami sampai di Banyuwangi pukul 00.30 dini hari.

Lalu selama di banyuwangi, masih suamiku yang nyetirin kesana kemari. Maka aku berpikir untuk meminta adikku yang cowok untuk menemani kami ke Bali, terutama karena dia kerja di bali jadi cukup tau jalanan dan tempat nongkrong di Bali. Disamping itu ya itu tadi, kupikir suamiku sudah cukup capek selama perjalanan mudik, jadi dia bisa santai selama ke Bali. Ternyata suamiku lebih meilih nyetir sendiri, jadi dari Gilimanuk menuju Tanah Lot berlanjut ke Kuta dan malamnya langsung ke Pantai Lovina lewat Bedugul, tanpa banyak kata cukup disetiri sendiri.

Bener deh..saat aku ini jadi PELOR..nemPEL langsung moLOR...suamiku ga henti-hentinya nyetir...

Perjalanan pulangpun tetap dengan pola yang sama...suamiku satu-satunya penyetir dan istirahat hanya secukupnya.


Nenekku dan Gunting Kuku

Beberapa kali Ibuku sempat cerita bahwa nenekku paling ga suka melihat kuku ibuku yang panjang-panjang. Bahkan ketika ibuku tidur, nenekku bisa saja momotong kuku-kuku yang dianggap panjang. Saat Ibuku cerita begitu, aku hanya menanggapinya sambil lalu..masa si..nenekku yang udah 95 tahunan masih bisa melihat dengan jelas?

Ternyata ketajaman mata nenekku terbukti kemarin saat kami berkunjung yang kedua kalinya ke rumah nenek. Karena sudah hari Rabu, maka rumah nenekku tidak crowded lagi dengan tamu-tamu yang berkunjung. Lalu nenekku memeriksa kuku-kuku tangan dan kaki ibuku seperti Bu Guru yang memeriksa kuku muridnya. Dan karena memang sudah panjang, maka langsung saja nenek ambil gunting dan cetak cetik kuku ibuku.

Aku hanya bisa melongo melihatnya.


Ibuku dan Foto Poster

Lebaran tahun lalu saat berkunjung ke Kediri, Ibuku membawakan mertuaku foto poster berukuran 75 x 100 cm...ukuran yang cukup massive dengan gambar bapak dan ibu mertuaku saat pernikahanku dulu. Tidak lupa juga aku dibawakan foto pernikahanku dengan ukuran yang sama. Dan saat kupasang di bagian dapur rumahku..sukses membuat tikus-tikus berkurang kunjungannya ke dapurku......*serius ini*

Ibu bilang bahwa di rumah terpasang semua foto cucu-cucunya dengan ukuran yang sama besarnya. Aku tidak bisa membayangkannya karena memang aku tidak pulang ke Banyuwangi.

Maka saat aku di rumah lebaran ini...aku dibuat melongo lagi dengan poster-poster segede gaban yang menempel di semua bagian rumahku. Ada Nanda keponakanku, ada Bella anak kakakku..belum lagi Detya. Ada foto keluarga kami ketika pertemuan keluarga 2008 dengan seragam merah hatinya. Ada juga foto pernikahan ibuku dulu dan foto ibu bapakku saat mereka berdua masih gemuk segar cantik dan cakep.

Dan aku harus selalu memelototi poster adikku menjelang tidur karena kami menggunakan kamarnya.....



================================================

Rasanya masih banyak yang ingin kukenang-kenang...tapi mungkin lain kali saja





Read More..

Jumat, September 03, 2010

Warna Favorit

Sejak SMP dulu sampe duduk di bangku kuliah, aku suka sekali dengan warna hijau. Dan untuk warna yang kubenci adalah pink. Bener deh, ketidaksukaan itu kudeklarasikan kemana-mana. Di buku-buku suka kutulis.."I hate pink". Entahlah kenapa segitu tidak sukanya aku dengan warna pink, mungkin karena terlalu girlie sedangkan aku pecicilan gini, jadi anti sama pink. Dan juga ketika melihat teman-temanku yang pemuja warna pink, begitu anggun dan cantik, sedangkan aku tidak bisa seperti itu, jadi pink sama sekali jauh dari sifatku.

Tentang hijau sendiri...ah..kupikir gampang dipahami kenapa hijau banyak disukai...warna yang lembut sekaligus tegas, tergantung gradasi hijau apa yang sedang dilihat. Daun-daun berwarna hijau meneduhkan...pupus daun pisang begitu segar dilihat. Atau hijau lumut yang gelap pun nampak misterius. Hijau is the best lah pokoknya...eeeh..kecuali hijau karpet mesjid ding...aku ga suka warna hijau yang mencolok mata seperti itu.

Nah, waktu kuliah adalah waktu memuaskan hasrat untuk menyukai warna hijau. Dengan uang saku yang bisa kuatur sendiri, aku membeli semua perlengkapan harianku dengan warna hijau. Peralatan makan:gelas, piring, mangkuk...peralatan tulis:kotak pensil, pulpen, tas. Ah...semuanya serba hijau deh...

Bahkan baju kuliah, bisa dari atas ke bawah semuanya nuansa hijau. Sampai suatu kali ada yang bilang aku KALEM...what? aku kalem?...ee..ternyata maksudnya KAya LEMper...muahahah....

Nah pas lulus kuliah itu, kesukaanku berubah..aku jadi suka warna kuning, bukan kuning terang gitu...tapi kuning telur yang lembut. Tapi itu tidak lama, pas mulai kerja sudah ga gitu suka kuning lagi, tapi ga ada warna spesifik yang aku sukai.

Menjelang menikah, aku tiba-tiba suka warna pink. Walaupun tidak punya barang-barang warna pink, tapi saking mulai suka sama pink, kartu undangan pernikahanku ada yang berwarna pink. Jadi ada dua set warna, satunya oranye abu-abu (warna pilihan suamiku), satunya lagi pink muda dan pink tua (apaaan coba?). Aku jadi penasaran, bagaimana tanggapan sahabat kuliahku dulu kalau tau undanganku berwarna pink. Dia paham sekali kalau aku ga suka warna pink. Sayang...aku ga tau apakah sahabatku itu menerima undanganku atau tidak. Aku ga bisa melacak dimana sahabatku itu berada.

Kesukaan akan pink semakin menggila setelah kelahiran anak perempuanku. Mendadak, mata ini ga pernah bisa lepas dari barang-barang berwarna pink, alasanku...beliin anak perempuanku itu. Padahal sebenarnya aku sendiri yang suka.

Entah kapan mulainya, warna pink itu berubah jadi warna merah, walaupun aku masih suka pink sampai sekarang. Ketika butuh tas, rasanya mataku selalu tertarik ke warna-warna merah, ketika lihat sepatu pun juga begitu. Belum lagi kaos-kaos harian....merah terus yang kupilih.

Dan ketika dalam suatu training, pengajarnya bertanya apa warna favoritku, dengan yakin aku jawab merah..dan ketika pengajar menceritakan kepribadian orang penyuka merah.. ah...sebagian besar "aku banget"..... Ya sudahlah...aku memang merah.

Hari selasa lalu aku menyadari betapa aku sangat suka warna merah (berlebihan kukira), ketika tanpa sengaja aku melihat refleksi diriku di kaca kantor:
Aku sedang memegang HP warna merah, dengan sepatu yang kupakai warna merah gelap, celana merah hati tua, atasan batik mega mendung warna merah, dan tas selempang hijau biru merah dengan warna merah yang dominan.

Ya ampun....aku merah sekali si...

Padahal aku tidak merencanakannya...
Read More..