Jumat, Oktober 31, 2008

Yudhistira31 dan Queena Lea

Hadoh..aku benar-benar suka deh ama postingan si Lea ini...sampai kujadikan bookmark alias bacaan wajibku setiap pagi. Cuman ada dua bookmark dan satu inspirasi yang wajib kubaca..

Bookmark-ku sangat bertolak belakang...


yang satu tentang belajar dari anak-anak sedang satunya tentang macem-macem (terutama tentang penganten yang baru explore macem-macem)...
yang satu bikin aku merasa kecil dalam mengasuh anak (yang kulakukan buat anak-anakku ga ada apa-apanya deh dibandingkan ibu ini) dan satunya bikin aku kecil tentang bagaimana mencintai dan mengabdi kepada suami (dia baru 6 bulan menikah tapi usahanya untuk bahagia bersama suaminya sungguh luar biasa, aku saja baru ikhlas mengabdi ke suamiku setelah 6 tahun menikah)
yang satu dengan bahasa yang santun sedang satunya dengan bahasa khasnya yang kacau yang sering bikin aku terbahak-bahak..

Aduh, aku addicted terhadap dua blog ini sampe ga pengen jalan-jalan ke blog lain.

OK tentang inspirasiku..ini situs dari jamil Azzaini, pertama tau tentang beliau adalah di acara radio trijaya...abis itu nyari blog ini dan keterusan deh...buat motivasi diri untuk HIDUP MULIA...(tapi susah bener sih)
Read More..

How to Understand Current Financial Crisis

Rasa-rasanya ga produktif nih...beberapa hari ini ga ada postingan made in myself...cuman nge-forward tulisan dari millist... termasuk ini. Email dari teman pas di Singapore kemaren

Good one to make your day lil happy ....when u r down with loads of office work;

If you have difficulty understanding the current world financial
situation, the following should help...

Once upon a time in a village in India, a man announced to the villagers that he would buy monkeys for $10.


The villagers seeing there were not many monkeys around, went out to the forest and started catching them.
The man bought thousands at $10, but, as the supply started to diminish, the villagers stopped their efforts. The man further announced that he would now buy at $20.

This renewed the efforts of the villagers and, they started catching monkeys again. Soon the supply diminished even further and people started going back to their farms. The offer rate increased to $25 and the supply of
monkeys became so little that it was an effort to even see a monkey, let alone catch it !
The man now announced that he would buy monkeys at $50!

However, since he had to go to the city on some business, his assistant would now act as buyer, on his behalf.
In the absence of the man, the assistant told the villagers: 'Look at all these monkeys in the big cage that the man has collected. I will sell them to you at $35 and when he returns from the city, you can sell them back to him for $50.'

The villagers squeezed together their savings and bought all the monkeys.
Then they never saw the man or his assistant again, only monkeys everywhere!


Welcome to WALL STREET.
Read More..

Rabu, Oktober 29, 2008

SELINGAN - Cerita Lucu

Ada lagi selingan dari milis angkatanku yang sangking lucunya bikin aku tertawa sampe nangis karena nahan biar ga terbahak-bahak...apalagi aku baca pas negosiasi sedang berlangsung, sampe harus balik kanan biar bigbosku ga notice kalo stafnya ternyata nyambi buka email...
Selamat ketawa...

Mbak-mbak yang nyetir mobil pas sampe di lobi hotel: "Mas mobilnya tolong di delay ya..." [valet maksudnya]
Grand Hyatt, didengar oleh temen-temen mbak-mbak itu yang udah mati akal ga tau musti ngebilangin gimana


Pelanggan : Mas, ada tusuk gigi ga..?
Pelayan : Kenapa mba?
Pelanggan : tusuk gigi...
Pelayang : ohh.. tooth pis...
di sebuah restaurant yang pelayannya merasa hanya dia yang bisa berbahasa inggris


Bapak tua: "Aduuuuh . . . Haduuuuh"
Cowok panik kepada ibu penjaga warung: "Bu! Bu! Itu Ada orang di luar teriak-teriak. Itu . . . Gembel kali ya bu?"
Ibu penjaga warung: "Itu suami sayaaaaa!"
Tebet, didengar dari dalam Mobil oleh istri is cowok panik, yang tanpa sengaja telah melindas kaki is bapak tua

Aku tiba-tiba gak nyaman di sini...
Anak lelaki 4 tahun: "Arti pecah belah apa sih, ma?"
Ibu: "Kalo itu kamu pecah, kamu mama belah."
Toko pecah belah Pondok Indah Mal, didengar oleh wanita yang sampai hampir memecahkan belanjaannya.

Mase Mase Basi...
Pelayan Cewe: "Arigato go zai mas..."
Pemuda Playboy sok tahu: "Arigato go zai mbak..."
Sushi Tei, didengar oleh teman yang ingin menjadi orang-orangan sawah.

Itu mah sekali jepret langsung lari...
Pembeli rese: "Mas, Ada kamera paranoid Ga?"
Penjaga bingung: "Hah?"
Pembeli rese: (nada sok tau) "Itu yg sekali jepret langsung jadi..."
Studio Foto, didengar oleh wanita yang membayangkan ekspresi kamera ketakutan.


Gak bisa diusahain, mas?
Internet addict: "Mas, di sini Ada hotspot-nya gak?"
Pelayan: "Kebetulan restoran kami hanya menyediakan makanan Indonesia dengan penyajian standard, mbak."
Restoran di Kemang, didengar oleh seseorang yang hampir menelan sendok.

Kan sekarang jaman Mahal!
Si bungsu perempuan ke Ibunya: "Jadi nanti Kita daftar TV Kabelnya di Kebon Jeruk yah"
Ibu dengan wajah berseri-Seri: "Ya, mending begitu. Kebon Jeruk kan enggak terlalu jauh dari rumah. Jadi nanti kabelnya bisa lebih pendek. Lebih murah."
Rumah di Kemanggisan, didengar oleh kakak lelaki yang ingin menjedutkan kepalanya ke tembok.

Tapi kan bentuknya beda...
Cewe manja: "Beliin aku sepatu itu dong, Yang..."
Cowo sinis: "Ukuran kaki kamu berapa?"
Cewe manja: "36."
Cowo sinis: "Yakin itu ukuran kaki, bukan ukuran BH kamu?"
Mal di Jakarta, didengar oleh seseorang yang tiba-tiba konsen memperhatikan bentuk tubuh is cewe.

Kalo sinyalnya menipis mungkin namanya berubah...
Nyokap: “Ini hape ibu Ada G-String-nya ngga?”
Anak: (bengong, berharap salah denger) “Hah?”
Nyokap: “Ini Nokia 3300 ibu Ada G-String-nya apa ngga?”
Anak: (masih bengong Dan masih berharap salah denger) “G-String?”
Nyokap: “Iya. Itu lho, yang kalo nelepon Kita bisa liat muka orang yang teleponan sama Kita.”
Anak: “Yaoloh! 3G?”
Nyokap: “Nah itu dia. Emang tadi ibu ngomongnya apa?”
Didengar oleh anak yang sempat takut ibunya mulai bercerita tentang kumbang Dan bunga.

Tambah satu kilo, saya lapar...
Pembeli: "Mas, beli paku tembok..."
Penjual: "Berapa?"
Pembeli: "Setengah kilo aja..."
Penjual: "Dibungkus?"
Pembeli: (dengan wajah kesal) "Gak! Makan sini!"
Toko bangunan Bekasi, didengar pelanggan yang ingin menyediakan sambal.

Waduh, gua ngomongnya keras ya?
Cewe #1: "Ehh... Malem ini Kita nonton apa jadinya?"
Cewe #2: "Nih liat di websitenya.. . Yang seru kayanya cuma Hancock sama Get Smart."
Cewe #1: "Hancock gua mau tuh... Tapi Get Smart kurang ah..."
Cowo Nimbrung: (tiba tiba muncul) "Iya tuh Getcock emang lebih seru!"
Perkantoran Sudirman, didengar oleh satu ruangan yang mempertanyakan orientasi cowok itu.


Buah simalakama.. .
Ibu pengemudi yang tiba-tiba panik: "De, pegangin setirnya. Mama mau garuk pantat!"
Anak laki-laki berusia 18 tahun: "Ah, Mama! Gak mau ah!"
Ibu pengemudi yang tiba-tiba panik: "Kamu mendingan megangin setir apa garukin pantat Mama?"
Tol Jagorawi, didengar anak perempuan di belakang yang ingin melompat keluar Mobil.

Sehat bener ya, jaringannya. ..
Programmer 1: "Kemaren Internet gua udah onlen, cuy"
Programmer 2: "Wah selamat-selamat, download pelm lah Kita, gak perlu nonton serial di tipi!"
Coordinator: " Gaya bener lo pada, mentang-mentang udah pada pasang Internet bearbrand... "
Sebuah warung makan, didengar oleh teman-teman yang langsung bergulingan.

Kami perlu yang representatif. ..
Brand Manager: "Hmmm, bagus, visual-nya bagus. Sayang copywriternya jelek."
Copywriter: "MAKSUD LOE?"
Didengar oleh Creative Director yang langsung menawarkan mengganti copywriter sambil terbahak.

Yang horisontal kalau bisa!
Di sebuah restoran,
Teman #1: "He udahan yuk, kite cabs.."
Teman #2: "Gua aja yang panggilin.. Mas! Billboardnya ya!
Restoran di Jakarta, didengar oleh banyak orang yang merasa kasihan dengan pelayannya

Dulu di percetakan ya, mas?
Penjaga Parkir: "Wah mas, stiker parkir langganannya udah exemplar nih, besok diperpanjang ya."
Perkantoran Sudirman, didengar oleh pengemudi yang akhirnya sadar ada tulisan EXP di stikernya.

Otomatis ya, mbak?
Kasir: "Mau order apa, mas?"
Pembeli: "Coca-Cola large satu, sama french fries satu... Itu aja, mbak."
Kasir: "Oke, saya ulang ya, Coca-Cola large satu, french fries large satu. Mau tambah kentang gorengnya, mas?"
Restoran fastfood di Jakarta, didengar oleh pembeli yang merasa dicekokin.

Terus jangan kemanisan ya...
Istri terlambat datang: "Yang, kamu tadi pesan apa?"
Suami: "Escargot."
Istri (ke pelayan): "Saya pesan itu juga, tapi es-nya jangan banyak-banyak ya. Lagi agak flu."
Restoran Perancis di Jakarta, didengarkan oleh semua hadirin di meja yang terbengong sambil menahan ketawa.

Cewek & Rokok: Tidak baik untuk kesehatan?
Cowok berisik: "Jadi waktu itu gue lagi ngeliatin cewek cakep bener, terus gue nyalain rokok. Tapi yang kebakar malah BULU HIDUNG gue!"
Trotoar dekat Plaza Senayan, didengar oleh pejalan kaki yang hampir tersandung.

Yuk,mareeee. ..
Petugas Atmosfear sambil menunjuk ke panel kamera: "Mas, nanti waktu meluncur jangan lupa melambai ya?"
Pemuda gemulai: "Ngondek maksud loe?"
FX, didengar oleh pengunjung yang terpingkal-pingkal sendiri.

Walaupun killer, boleh lah...
Ibu Dosen Killer membacakan jawaban ujian: "Tiga enam, D ya anak-anak... "
Mahasiswa Tengil: (Spontan dan keras) "Wew, gede yo!"
Didengar sekelas yang tidak mau membayangkan nasib akademis mahasiswa itu.

Mungkin kacamata plus, Pak?
Lelaki Paruh Baya: "Mbak, pesanan saya yang kwetiau ganti deh."
Pelayan: "Jadi apa pak?"
Lelaki Paruh Baya: "Mau coba Ayam Nangkring deh..."
Pelayan: "Ayam Nanking maksud bapak?"
Lelaki Paruh Baya: "Eh, gak jadi deh." (berpikir sambil liat menu) "Ini aja deh kalo gitu, Chicken Garden Blue..."
Solaria, Mal Pondok Indah, didengar oleh pengunjung yang berasa ditonjok hidung dan kemudian ulu hatinya.

Money can't buy everything.. .
Cowo Tajir: "Wah, gua baru beli notebook baru, canggih, keren..."
Cowo Kere: "Oh ya, notebook loe merknya apaan?"
Cowo Tajir: "Microsoft."
Perkantoran Hijau di Jakarta Selatan, didengar oleh cowo kere yang ngerasa otaknya lebih tajir.
Read More..

Renungan Perkawinan

Dapat artikel dari milis angkatanku dan dia dapat dari milis lainnya juga. Eniwei..enihau...perlu untuk direnungkan bersama

renungan perkawinan

Ibu saya adalah seorang yang sangat baik, sejak kecil, saya melihatnya dengan begitu gigih menjaga keutuhan keluarga. Ia selalu bangun dini hari, memasak
bubur yang panas untuk ayah, karena lambung ayah tidak baik, pagi hari hanya bisa makan bubur.
Setelah itu, masih harus memasak sepanci nasi untuk anak-anak, karena anak-anak sedang dalam masa pertumbuhan, perlu makan nasi, dengan
begitu baru tidak akan lapar seharian di sekolah.


Setiap sore, ibu selalu membungkukkan nbadan menyikat panci, setiap panci di rumah kami bisa dijadikan cermin, tidak ada noda sedikiktpun.

Menjelang malam, dengan giat ibu membersihkan lantai, mengepel seinci demi seinci, lantai di rumah tampak lebih bersih dibanding sisi tempat tidur orang
lain, tiada debu sedikit pun meski berjalan dengan kaki telanjang.

Ibu saya adalah seorang wanita yang sangat rajin. Namun, di mata ayahku, ia (ibu) bukan pasangan yang baik.

Dalam proses pertumbuhan saya, tidak hanya sekali saja ayah selalu menyatakan kesepiannya dalam perkawinan, tidak memahaminya.

Ayah saya adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab.

Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius dalam pekerjaan, setiap hari berangkat kerja tepat waktu, bahkan saat libur juga masih mengatur jadwal
sekolah anak-anak, mengatur waktu istrirahat
anak-anak, ia adalah seorang ayah yang penuh tanggung jawab, mendorong anak-anak untuk berpretasi dalam pelajaran.

Ia suka main catur, membuat kaligrafi, suka larut dalam dunia buku-buku kuno.

Ayah saya adalah seoang laki-laki yang baik, di mata anak-anak, ia
maha besar seperti langit, menjaga kami, melindungi kami dan mendidik kami.

Hanya saja, di mata ibuku, ia juga bukan seorang pasangan yang baik, dalam proses pertumbuhan saya, kerap kali saya melihat ibu menangis terisak secara
diam diam di sudut halaman.

Ayah menyatakannya dengan kata-kata, sedang ibu dengan aksi, menyatakan kepedihan yang dijalani dalam perkawinan.

Dalam proses pertumbuhan, aku melihat juga mendengar ketidakberdayaan dalam perkawinan ayah dan ibu, sekaligus merasakan betapa baiknya mereka, dan mereka
layak mendapatkan sebuah perkawinan yang baik.

Sayangnya, dalam masa-masa keberadaan ayah di dunia, kehidupan perkawinan mereka lalui dalam kegagalan, sedangkan aku, juga tumbuh dalam kebingungan, dan
aku bertanya pada diriku sendiri : Dua orang
yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia?

Pengorbanan yang dianggap benar.
Setelah dewasa, saya akhirnya memasuki usia perkawinan, dan secara perlahan -lahan saya pun mengetahui akan jawaban ini.

Di masa awal perkawinan, saya juga sama seperti ibu, berusaha menjaga keutuhan keluarga, menyikat panci dan membersihkan lantai, dengan sungguh-sungguh
berusaha memelihara perkawinan sendiri.

Anehnya, saya tidak merasa bahagia ; dan suamiku sendiri, sepertinya juga tidak bahagia.

Saya merenung, mungkin lantai kurang bersih, masakan tidak enak, lalu, dengan giat saya membersihkan lantai lagi, dan memasak dengan sepenuh hati.

Namun, rasanya, kami berdua tetap saja tidak bahagia. .

Hingga suatu hari, ketika saya sedang sibuk membersihkan lantai, suami saya berkata : istriku, temani aku sejenak mendengar alunan musik!

Dengan mimik tidak senang saya berkata : apa tidak melihat masih ada separoh lantai lagi yang belum di pel ?

Begitu kata-kata ini terlontar, saya pun termenung, kata-kata yang sangat tidak asing di telinga, dalam perkawinan ayah dan ibu saya, ibu juga kerap berkata
begitu sama ayah.

Saya sedang mempertunjukkan kembali perkawinan ayah dan ibu, sekaligus mengulang kembali ketidakbahagiaan dalam perkwinan mereka.

Ada beberapa kesadaran muncul dalam hati saya.

Yang kamu inginkan ?

Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu memandang suamiku, dan teringat akan ayah saya. Ia selalu tidak mendapatkan pasangan yang dia inginkan dalam
perkawinannya,

Waktu ibu menyikat panci lebih lama daripada menemaninya.

Terus menerus mengerjakan urusan rumah tangga, adalah cara ibu dalam mempertahankan perkawinan, ia memberi ayah sebuah rumah yang bersih, namun, jarang
menemaninya, sibuk mengurus rumah, ia berusaha mencintai ayah dengan caranya, dan cara ini adalah mengerjakan urusan rumah tangga.

Dan aku, aku juga menggunakan caraku berusaha mencintai suamiku.

cara saya juga sama seperti ibu, perkawinan saya sepertinya tengah melangkah ke dalam sebuah cerita, dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan
perkawinan yang bahagia.

Kesadaran saya membuat saya membuat keputusan (pilihan) yang sama.

Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu duduk di sisi suami, menemaninya mendengar musik, dan dari kejauhan, saat memandangi kain
pel di atas lantai seperti menatapi nasib ibu.

Saya bertanya pada suamiku : apa yang kau butuhkan ?

Aku membutuhkanmu untuk menemaniku mendengar musik, rumah kotor sedikit tidak apa-apa-lah, nanti saya carikan pembantu untukmu, dengan begitu kau bisa
menemaniku! ujar suamiku.

Saya kira kamu perlu rumah yang bersih, ada yang memasak untukmu, ada yang mencuci pakianmu..dan saya mengatakan sekaligus serentetan hal-hal yang dibutuhkannya.

Semua itu tidak penting-lah! ujar suamiku. Yang paling kuharapkan adalah kau bisa lebih sering menemaniku.

ternyata sia-sia semua pekerjaan yang saya lakukan, hasilnya benar-benar membuat saya terkejut.
Kami meneruskan menikamti kebutuhan masing-masing, dan baru saya sadari ternyata dia juga telah banyak melakukan pekerjaan yang sia-sia, kami memiliki
cara masing-masing bagaimana mencintai, namun, bukannya cara pihak kedua.

Jalan kebahagiaan
Sejak itu, saya menderetkan sebuah daftar kebutuhan suami, dan meletakkanya di atas meja buku, Begitu juga dengan suamiku, dia juga menderetkan sebuah
daftar kebutuhanku.

Puluhan kebutuhan yang panjang lebar dan jelas, seperti misalnya,
waktu senggang menemani pihak kedua mendengar musik, saling memeluk kalau sempat, setiap pagi memberi sentuhan selamat jalan bila berangkat.

Beberapa hal cukup mudah dilaksanakan, tapi ada juga yang cukup sulit, misalnya dengarkan aku, jangan memberi komentar.

Ini adalah kebutuhan suami. Kalau saya memberinya usul, dia bilang
akan merasa dirinya akan tampak seperti orang bodoh.

Menurutku, ini benar-benar masalah gengsi laki-laki.

Saya juga meniru suami tidak memberikan usul, kecuali dia bertanya
pada saya, kalau tidak saya hanya boleh mendengar dengan serius, menurut sampai tuntas, demikian juga ketika salah jalan.

Bagi saya ini benar-benar sebuah jalan yang sulit dipelajari, namun, jauh lebih santai daripada mengepel, dan dalam kepuasan kebutuhan kami ini, perkawinan
yang kami jalani juga kian hari semakin penuh daya hidup.

Saat saya lelah, saya memilih beberapa hal yang gampang dikerjakan, misalnya menyetel musik ringan, dan kalau lagi segar bugar merancang perjalanan keluar
kota.

Menariknya, pergi ke taman flora adalah hal bersama dan kebutuhan
kami, setiap ada pertikaian, selalu pergi ke taman flora, dan selalu bisa menghibur gejolak hati masing-masing.

Sebenarnya, kami saling mengenal dan mencintai juga dikarenakan
kesukaan kami pada taman flora, lalu bersama kita menapak ke tirai merah perkawinan, kembali ke taman bisa kembali ke dalam suasana hati yang saling mencintai
bertahun-tahun silam.

Bertanya pada pihak kedua : apa yang kau inginkan, kata-kata ini telah menghidupkan sebuah jalan kebahagiaan lain dalam perkawinan. Keduanya akhirnya melangkah
ke jalan bahagia.

Kini, saya tahu kenapa perkawinan ayah ibu tidak bisa bahagia, mereka terlalu bersikeras menggunakan cara sendiri dalam mencintai pihak
kedua, bukan mencintai pasangannya dengan cara pihak kedua.

Diri sendiri lelahnya setengah mati, namun, pihak kedua tidak dapat merasakannya, akhirnya ketika menghadapi penantian perkawinan, hati
ini juga sudah kecewa dan hancur.

Karena Tuhan telah menciptakan perkawinan, maka menurut saya, setiap orang pantas dan layak memiliki sebuah perkawinan yang bahagia,
asalkan cara yang kita pakai itu tepat, menjadi orang yang dibutuhkan pihak kedua! Bukannya memberi atas keinginan kita sendiri, perkawinan yang baik, pasti dapat diharapkan.
Read More..

Rabu, Oktober 22, 2008

Nasihat Teman Masa Remajaku

Pas reuni kemarin ketemu lagi ama temen deket pas SMP. SMA kita bareng tapi ga pernah sekelas. Temen pecicilanku, jadi kami cukup dekatlah walau ga sekelas. Bahkan ketika aku kuliah, dia sempat mengunjungiku dan aku sempat mengunjunginya karena dia menikah dengan orang Jabar.

Kalau pulang kampung, aku berusaha menghubunginya walo udah dua tahun terakhir ini ga ketemu sama sekali. Pas aku mau menikah, dia sudah cerai dengan suaminya setelah punya satu anak dan terakhir ketemu dia sudah punya dua anak lagi dari suami keduanya. Kulihat hidupnya waktu itu sudah mapan sedangkan aku sendiri masih dalam tahap prihatin. Aku ikut senang bahwa dia sudah lepas dari bayang-bayang perceraiannya dulu dan bahagia dengan suami dan anak-anaknya

Pas reuni itu, aku baru tau bahwa sekarang dia sudah sendiri lagi...belum cerai resmi...hanya sudah ditinggal suaminya 1,5 tahun ini tanpa nafkah sama sekali. Aku syok banget dan ga percaya mengingat dia cerita itu sambil nyantai dengan gaya pecicilannya yang biasa. Maka sebelum berangkat ke Singapur aku sempatin untuk maen ke rumahnya...want to know the truth..

Dan ternyata dia hanya menikah siri dengan suaminya ini dan merupakan istri kedua (dia cerita tetap dengan gaya santainya). Saat ini ekonomi suaminya sedang jeblok dan agar bisa memulai lagi dari awal, temenku itu setuju ketika suaminya harus kembali ke Lampung, kota tempat istri pertamanya berada. Pertama-tama masih balik setelah 2 bulan di Lampung namun terakhir setahun yang lalu suaminya sama sekali ga pulang dan ga ada khabar sama sekali. Bahkan ongkos pulang pergi selama bolak balik Lampung Banyuwangi mesti nyedot tabungan temanku itu bahkan sampai utang-utang. Dan selama setahun ini temanku mesti berjuang dengan setumpuk utang-utang dan kewajiban memelihara anak tanpa pekerjaan sama sekali dan suami yang hilang tanpa khabar..

Rasanya aku speechless banget..ga tau mesti ngomong apa.. ternyata dua tahun lalu ketika aku melihatnya bahagia hidup mapan dengan suami dan anak-anaknya, suaminya mulai bertingkah aneh dengan memiliki WIL. Temanku masih mau nerima tapi dengan cara menuntut dan menghabiskan uang suaminya dengan sengaja. Walaupun diam-diam dia menabung uang itu tapi pada akhirnya ga mencukupi ketika dia harus menanggung utang dan menghidupi anak-anaknya sendiri.

Namun ada satu pesannya yang dia ucapkan berkali-kali penuh penekanan..(dan ini membuatku ngeri). Dia bilang kalau semua laki-laki itu pasti akan cari celah untuk tidak mengatakan yang sebenarnya ...istilahnya mereka itu pada dasarnya ya buaya...entah ntar cari perempuan lain...entah tidak terus terang masalah penghasilan, entah punya aset sendiri yang istrinya ga tau..dan entah..entah yang lain. Untuk itu sebagai seorang istri kudu lebih pinter mengakali suami. untuk keamanan diri..dia bilang.. Dia menyarankan agar aku punya aset/tabungan sendiri yang tidak diketahui suamiku...untuk berjaga-jaga bila sesuatu yang tidak diinginkan terjadi...

Huwaaaa....ngeri...aku ga mau membayangkan yang tidak-tidak...aku ga mau memikirkan apa yang dikatakan temenku itu...apalagi sekarang saat aku sudah 100% ikhlas terhadap suamiku...saat yang kupedulikan adalah bagaimana memberi tanpa harap tuk kembali...

Lalu kenapa kata-katanya terngiang-ngiang di telingaku terus menerus?..lalu kenapa sempat terlintas untuk menyimpan uang sendiri...walo kubantah lagi sendiri, untuk apa? Bukankan milikku adalah milikmu juga dan milikmu...wait a minute... ini mungkin yang membuatku sempat terlintas...aku selalu sensitif masalah uang..sangat ingin tidak tergantung pada siapa-siapa. aku sangat menjaga agar aku tidak merepotkan suamiku dalam hal keuangan, sehingga aku ga pernah minta-minta uang ke suamiku. Dulu semua rekening aku yang pegang tapi semenjak ada cicilan mobil maka dipegang sendiri sendiri dengan pembagian bahwa semua urusan mobil (cicilan, bensin dan perawatan) suamiku yang bayar. Selain itu semuanya aku yang handel. Temanku tadi heran setengah mati kenapa bisa begitu? cuman urusan mobil? bagaimana dengan uang sekolah anak-anak? bagaimana dengan belanja sehari-hari? bagaimana dengan susu dan makanan anak? bagaimana dengan asuransi? ...Mana bisa begitu sih? lalu buatmu sendiri apa yang kamu lakukan dengan penghasilanmu?

Yaaa...tentu saja dengan semua lainnya ada padaku..aku ga melakukan apa-apa untuk diriku... Tapi bagiku ga masalah kok...kan pada akhirnya semua untuk anak-anakku...aset masa depanku...

Sampai sekarang kata-kata temanku itu terngiang-ngiang dan aku khawatir bisa tertanam dalam pikiranku untuk kemudian menjadi racun keikhlasanku..
Aku belum diskusi dengan suamiku mengenai hal ini...wiets..kalo niatnya harus disembunyikan..kok malah pengen diskusi?

Eniwei...sepertinya aku ga akan bisa melakukan pesan temanku itu...aku hanya ingin keterbukaan...dan jangan sampai hanya karena masalah materi...semuanya malah berantakan..
Waaah...jangan-jangan karena temanku itu sembunyi-sembunyi seperti itu maka hasil yang didapatkan jadi seperti ini....(maaf teman, bukan aku berpikir negatif...tapi berusaha cari hikmahnya saja)
Read More..

Selasa, Oktober 21, 2008

Merlion



MERLION...makhluk berkepala Singa dan berbadan ikan ini merupakan ikon Singapura yang sangat terkenal. Melihat gambar ini orang akan langsung mengasosiasikan dengan Singapura seperti halnya Sphinx dengan Mesir.

Kepala singa melambangkan singa yang terlihat oleh Pangeran Sang Nila Utama saat ia menemukan kembali Singapura, ekor ikan sang Merlion melambangkan kota kuno Temasek (berarti “laut” dalam bahasa Jawa), nama pertama Singapura sebelum sang Pangeran menamakannya “Singapura” (berarti “kota” (“pura” di bahasa Sansekerta) “singa”).

Merlion dan anaknya
Merlion ini terletak di dekat Marina Bay tepatnya di depan Gedung Fullerton yang sekarang menjadi hotel. Pas dibalik Merlion besar, ada merlion kecil yang disebut sebagai anak Merlion. Semua bentuknya sama persis, termasuk bentuk tatakan dasarnya. Namanya anak ya ukurannya lebih kecil bahkan pancuran airnya pun juga jauh lebih kecil, sekecil pancuran patung anak-anak yang lagi kencing yang sering ada ditaman-taman itu lo.. Ga sebanding dengan Merlion induk yang pancurannya luar biasa.


Sebenarnya ada satu Merlion lagi di Pulau Sentosa yang lebih besar lagi, tapi ga dapet fotonya..jadi ya udah mending menikmati gambar merlion dan anaknya ini.




Read More..

Singapura...Hmmmmm....


Pertama ngeliat Singapura...hmmmm...bingung mo ngomong apa. Sepanjang jalan nampak hijau banyak tanaman dan seringkali melihat hutan kecil yang aku jamin pohon-pohon ini sudah ditanam lebih dari 30 tahun. Lalu kapan Singapura mulai membangun sampai sedemikian tanpa menghancurkan pohon-pohon ini?



Dan finally aku tau bahkan sebelum Singapura merdeka dari Malaysia, tahun 1957 Lee Kuan Yee telah mencanangkan Singapura menjadi "Garden City" dan sejak itu pohon-pohon ditanam dan jadilah Singapura seperti sekarang... Hijau sejauh mata memandang...menyenangkan...
Read More..

Senin, Oktober 20, 2008

Laskar Pelangi

Kupikir setelah 3 minggu, antrian di bioskop untuk laskar pelangi sudah menurun..makanya kemaren niat ngajak anak-anak nonton bareng. Walaupun perlu proses dan usaha keras mengajak anak-anak fokus nyiapin berangkat, akhirnya kami bisa berangkat keluar.

Nyampe di Puri Mall, langsung antri untuk yang jam 12.30 tapi ternyata tinggal 2 baris di depan saja yang tersedia jadi kami putuskan untuk nonton sesi berikutnya. Detya semangat sekali karena temannya sudah cerita tentang film ini. Aku sih sudah yakin pasti film ini beda dengan buku indah yang kubaca jadi kalau ga demi anak-anak, aku malez banget nonton. Finally jam 14.10 kami sudah masuk ke dalam bioskop.

Anak-anak semangat aja tapi wisam langsung ngumpet di pelukan karena dia selalu takut dengan suara keras...kalo ada alarm mobil bunyi...atau bel pagi bunyi..dia langsung aja ngumpet. Apalagi suara di dalam gedung yang menggelegar langsung aja membuat dia diam tak bergerak di pelukan. Bahkan elusanku dipunggungnya, ditolak oleh Wisam. Dia hanya diam merangkulku. Jadilah sepanjang film aku dengan posisi menggendong sampai akhirnya 30 menit kemudian Wisampun tertidur.

Benar juga perkiraanku, cerita filmnya beda dengan khayalanku but at the end...lumayan menarik lah. Suamiku aja sampai ketawa terbahak-bahak... I wish dia mau baca bukunya..pasti lebih lucu dan menarik...

Malamnya, Detya ingin dibacain novelnya langsung dan kami berjanji setiap malam akan membaca satu bab atau sekuatnya.. Tapi reaksi Detya pertama adalah.."Mana gambarnya Bunda..kok tulisan doang.." Yaaah....dia belum tertarik cerita setebal itu dan aku sendiripun bingung untuk membacakan cerita itu karena sebenarnya cukup serius untuk dibacakan sebagai cerita pengantar tidur..

Yang jelas...aku ingin sekali anak-anakku suka membaca tapi sampai saat ini susah sekali memotivasi Detya untuk mengeja sendiri.. Dia lebih suka dibacakan dan kalaupun mau mengeja tidak sampai satu kalimat penuh dia udah bosen...Gimana dong..?
Read More..

Senin, Oktober 06, 2008

Lebaran

Rasanya banyak banget yang pengen kutulis tapi ga ada komputer, ga ada waktu (sibuk belajar dan belanja..hahaha..OK..mumpung ada komputer..mo nulis tentang lebaran kemaren deh..

Lebaran kali ini adalah giliran berlebaran di rumahku dan kebetulan sekali arisan keluarga sampai pada giliran ibuku, sehingga jauh-jauh hari kami sudah merencanakan untuk melaksanakan acara keluarga itu pada hari raya kedua. Aku dan adikku bahkan sudah merencanakan apa yang akan kami pakai sekeluarga, makanan apa yang akan kami suguhkan (karena ibuku terkenal dengan sambelnya yang bikin nambah terus), dan kira-kira gimana acara akan berlangsung.

Walaupun aku tidak terlalu antusias berkumpul dengan keluarga besarku, tetap saja aku yang mempelopori semua hal. Maklum saja keluarga besarku masih menilai bahwa ukuran keberhasilan adalah materi saja (untung saja aku hidup di Jakarta sehingga ga setiap saat tau intrik apa yang sedang terjadi…benar-benar bikin panas kuping dan hati jika dengar cerita ibuku)

Hari raya kedua itu juga bertepatan dengan acara reuni SMA untuk angkatanku (wow sudah 15 tahun ga bikin acara reuni sama sekali). Untungnya waktu pelaksanaan ga tabrakan sehingga 2 acara itu bias kuhadiri semuanya. Suamiku ikut ngantar ke reuni SMA itu tapi tidak ikut gabung, dia berkunjung di rumah atasannya yang kebetulan dekat dengan acara reuniku (ternyata disitu juga ada acara reuni keluarga juga). Acara reuni SMA berlangsung menyenangkan dank arena arisan keluarga di rumahku sudah mulai maka aku harus segera pulang.

Selanjutnya acara di rumahku juga berlangsung meriah dan sukses. Sekali lagi sukses disini adalah ukuran keluarga besarku karena kalau diukur dari segi kekhidmatan maka sama sekali ga khidmat. Tapi aku dan semua keluargaku sangat senang karena standar keluarga besar terpenuhi semua. Tapi ada satu hal yang bikin aku ga enak. Ketika kami ngobrol tentang bagaimana acara berlangsung tadi dan aku, adikku dan ibuku sudah merasa puas, tiba-tiba suamiku membandingkan dengan acara keluarga atasannya yang tadi dihadiri suamiku. Dia bilang pada acara itu semua yang hadir duduk dengan khidmat dan tenang sehingga nuansanya syahdu dan meresap ke dalam hati. Sangat berbeda dengan acara di rumahku yang terkesan hanya berhura-hura saja tanpa ada perenungan sama sekali.

Yang bikin aku ga enak adalah bahwa aku pikir suamiku benar. Itulah kenapa aku ga terlalu antusias berkumpul seperti ini. Tapi itulah keluarga besarku…bukannya aku bangga…tapi that’s the way it is. Suka ga suka, pandangan merekalah yang harus kuikuti ketika aku bersama mereka. Aku harus berhati-hati bersikap agar tidak berlawanan dengan mereka karena orang tuaku yang setiap saat bersama mereka akan menanggung akibatnya jika aku memaksakan diri. Dulu waktu tahun pertama aku kuliah, aku pernah bikin masalah yang berakibat sangat parah pada kakakku (padahal aku cuma bercanda). Sampai sekarang ini becandaanku itu diingat-ingat terus dan membuatku merasa bersalah pada kakakku. Makanya aku sangat berhati-hati saat ini jangan sampai menyalahi norma keluarga besarku. Suamiku ga setuju seperti itu. Kalau kita punya nilai-nilai sendiri, jangan kebawa ama keluarga besar seperti itu.

Well, menurutku kita harus bisa berpikir dari semua sudut pandang sehingga kita bisa tau bagaimana menempatkan diri pada situasi apapun. Tentu saja kita harus punya nilai-nilai sendiri, tapi jangan karena nilai-nilai itu kita menutup diri terhadap nilai-nilai orang lain. Intinya jangan prejudice lah…

Read More..

Belajar atau Belanja

Kemarin nyampe singapur dengan sukses. Maksudku, aku berangkat sendiri dari Surabaya sedangkan 5 orang lainnya dari Jakarta bersama-sama. Jadi dengan pengalaman ke luar negeri cuman sekali maka aku berangkat dengan agak grogi. Nyampe di Singapura ternyata semua tertata rapi dan sesuai dengan petunjuk yang diberikan sehingga ga nyampe 15 menit sudah ketemu ama 5 teman yang lainnya.

Nyampe di hotel, istirahat setengah jam, langsung aja keluar sama mbak megi. Wuih..mbak megi udah hapal Singapur jadinya sore itu langsung jalan di Orchard road. Hehehehe...padahal pas di pesaawat rasanya mumets en mual kena turbulance tapi kalo soal jalan-jalan...ga bisa tidak. Walo cuma sightseeing tapi cukup melelahkan dan pagi ini kelas dimulai. Materi pertama benar-benar bermanfaat buat pengembangan diri. Jadi bukan langusng pelajaran atau pengenalan Singapur tapi tentang human behavior. Bagaimana kita dapat belajar dengan efektif dan efisien, bagaimana kita dapat memorized dengan baik semua materi yang kita dapatkan.

Jadi materi pertama ini tentang bagaimana menyiapkan diri agar apa yang akan kita pelajari nanti tidak menguap begitu saja. Mungkin nanti akan ku refresh ulang melalui tulisan mengenai how to memorized and mind mapping. Dua kunci utama ini akan dapat membuat kita mengingat dengan baik apa-apa yang telah dipelajari.

So...apakah aku ke Singapura untuk belajar atau belanja? Maka dengan yakin aku akan menjawab..kedua-duanya.. Aku benar-benar ingin tau tentang Performance based budgeting dan aku juga benar-benar ingin explore Singapore in everyway...including shopping..
Read More..