Kamis, Oktober 29, 2009

Parenting Class : Follower

Temuan selanjutnya adalah Follower

Temuan 4 : Follower dengan Teman/Ketergantungan

Karakteristik ini termasuk temuan yang negatif, karena terkait dengan KETERGANTUNGAN artinya dia sangat tergantung dengan orang lain untuk merasa nyaman terhadap sesuatu. Penyebabnya bisa jadi :
  • Pengalaman masa lalu semasa bayi yang kurang membangun hubungan perpisahan yang baik
  • karekteristik perkembangan sosial anak usia 3 tahun yaitu anak tergantung pada pengalaman sebelumnya dengan teman sebaya, sampai ia merasa nyaman dengan anak-anak lainnya

Maksudnya gini fase umur 0-3 tahun adalah masa kita sebagai orang tua seharusnya mengenalkan perpisahan dengan benar. Jika orangtua akan berangkat kerja atau pokoknya mau berpisah sementara, selalu lakukan dengan benar, pamit dengan baik-baik, peluk cium dengan hangat dan yakinkan si anak bahwa walaupun orang tua sedang pergi, dia akan aman bersama dengan orang yang di rumah (entah pengasuh, nenek, saudara...). Jika si anak menangis, tenangkan saja dan yakinkan bahwa kita akan kembali nantinya. Jangan sekali-kali mengelabuhi anak setiap akan pergi dengan alasan agar dia tidak menangis..!! dengan begitu anak akan mempelajari bahwa orangtuanya bisa menghilang sewaktu-waktu dan dia akan merasa tidak yakin bahwa dia akan aman-aman saja selanjutnya.

Jika kita melakukan perpisahan dengan baik, walaupun pada saat itu dia menangis tapi dia jadi tau bahwa orangtuanya akan kembali lagi dan dia akan aman bersama orang rumah. Hubungan pemisahan yang baik ini harus dilakukan pada waktu umur 0-3 tahun jadi selanjutnya dia akan belajar walaupun nanti dia di lingkungan yang baru, dia akan baik-baik saja

untuk poin kedua tentang karakteristik pengalaman sebelumnya dengan teman sebaya...ada satu cerita tentang anak yang tanpa sengaja terkunci di ruang khusus oleh temannya dan baru ditemukan pengasuhnya setelah sore hari waktunya mandi...(pokoknya cukup lama dan si anak sudah berusaha teriak, menangis dan sebagainya). Akhirnya mulai saat itu, si anak jadi menjaga jarak dengan teman-teman sebayanya dan lebih menyukai bergaul dengan orang tua.

Akibat dari dua penyebab itu adalah....anak menjadi tipe pengamat dan hanya mengikuti saja apa yang teman-temannya lakukan....ga ada inisiatif atau ga mau gabung sama sekali dengan temannya (seperti yang kuceritakan sebelumnya...ada anak yang hanya jadi pengamat saja sampai acara selesai)

Teteeeep....ada solusi untuk hal-hal seperti itu...karena anak memang masih bisa belajar banyak hal asal kita bisa mengarahkannya dengan baik (ini solusi hasil penelitian Bu Guru ya...bukan hasilku sendiri...hihihihi).
  • Berikan pengalaman yang berhubungan dengan perpisahan : dengan salaman hangat, kecupan sebelum tidur, menerima ketakutan, kesedihan atau kemarahan bila muncul pada anak-anak kita.
  • Beri kesempatan anak mendapatkan pengalaman sosial yang beragam dengan berbagai teman di sekolah dan di rumah baik dari segi usia, lebih kecil, lebih besar, anak aktif, anak pendiam, anak agresif...jadi dia belajar bahwa banyak karakter orang yang harus dihadapi. Caranya bisa dengan diajak main ke tetangga..atau jika menolak minta dia untuk menemani kita arisan RT..atau main ke rumah sebelah...dan biarkan dia melihat bagaimana cara kita bergaul dengan orang lain. Bisa juga dengan bermain di tempat umum (yang pasti pesertanya sangat-sangat beragam) dan jika bertemu dengan anak lain yang cukup agresif jangan diminta untuk menghindar...tapi dihadapi saja dengan memberi pengertian bahwa mungkin si anak lain itu belum tau peraturan...dsb...
  • Dukung setiap keberhasilan yang mereka alami saat berteman dengan reward, misalnya : 'Hari ini ibu bangga sekali dengan kamu karena mau bermain dengan tetangga'

Untuk Javas sendiri...aku pikir dia lebih ke imitasi daripada follower apalagi yang sampai ke tahap ketergantungan karena seringkali dia bisa menentukan sendiri apa yang dia inginkan. Waktu Bu Guru coba memasukkan tamiya ke dalam tema bulan ini...hanya Javas yang bisa mengikuti alur Bu Guru dengan akhirnya menggambar tamiya besar yang bisa di bawa untuk mengantar ke sekolah (jadi dia menggambar tamiya besar di depan masjid sekolahku...).

Dari mereka bayi aku memang selalu melakukan perpisahan dengan baik-baik (pelum cium itu sudah pasti) sehingga ga ada lagi namanya uraian air mata setiap kali aku pamit pergi. Mereka juga biasa bermain dengan tetangga yang karakteristiknya beragam.

Masalah Javas lebih kepada kontrol emosi yang kurang ketika dia merasa terganggu..jadi diskusiku dengan Javas ketika dia sudah mulai mencakar dirinya sendiri atau memukul ketika keasyikannya terganggu adalah...."bicarakan pakai bahasa...memakai fisik hanya akan membuat orang lain sakit..jika orang lain sakit mereka akan menghindari berteman denganmu"

Mengenai reward, menurutku itu juga sangat penting....ingat selalu agar memberi reward sebelum memberi peringatan terhadap perilaku yang ingin kita perbaiki...misalnya ada ibu yang cerita bahwa anaknya seringkali terlambat karena ingin harus sholat dulu pas sesaat sebelum berangkat..maka si Ibu cerita ke anaknya saat selesai parenting class..."kata bu guru kamu hebat...kamu udah pinter..suka beramal....tapi karena datangnya seringkali telat maka jadi ga bisa ikut maen lama-lama deh..."..hasilnya besok paginya...bangun tanpa disuruh..langsung sholat subuh dan ga terlambat lagi deh... Itulah kekuatan pujian....

So...ibu-ibu...bapak-bapak...jangan pelit untuk memberi pujian terhadap semua hal yang dilakukan anak kita....

Read More..

Rabu, Oktober 28, 2009

Parenting Class : Banyak Bertanya

Pfuiiih...rasanya males banget akhir-akhir ini....males kerja...males nulis...mgantuuuks terus....ngopi bergelas-gelas ga mempan...tapi blogwalking kesini sanggup nelusuri arsipnya dari awwaaaal sekali dia nulis....(aku jadi ngerasa worthless banget...doing nothing but read this blog...).

Aku selalu saja terkagum-kagum sama anak muda yang punya pemikiran di luar mainstream....tapi tetep mengkedepankan kesopanan...seperti semua tulisan Margaritta ini...(dulu juga nelusuri semua tulisannya sejak awal..)...Kalau Diana Rikasari ini selera busananya yang menurutku di luar mainstream...and still look awesome on her...(gara-gara Diana juga aku jadi keinggris-inggrisan...maksudku....jadi nyelipin english di postingan atau status FB....lah gimana engga....dari minggu lalu aku sudah nelusuri arsip dia yang in english semua - hampir setiap waktu luang...yang rasanya sedang luang terus...jadi pikiranku juga kebawa in english...)

OK mau nerusin hasil parenting class kemaren...(beuh..kalo ga demi berbagi...rasa males ini masih melingkar-lingkar di otakku)

Temuan 3 : Banyak Bicara/Bertanya

Karakteristik ini termasuk temuan positif karena karakteristik anak secara umum adalah 'rasa ingin tahu yang besar' disamping itu perkembangan bahasa anak usia 5-6 tahun itu sudah bisa menggunakan 5000 - 8000 kata. Jadinya mereka ingin selalu mempraktekkan kemampuan mereka itu dengan mengajak diskusi setiap saat.

Ayo...apa pernah mereka berhenti bertanya setelah jawaban atas 'kenapa' yang pertama terjawab?

Bunda, kenapa traktor itu ada di sungai? karena akan dipakai untuk membersihkan dasar sungai.
Kenapa dasar sungai perlu dibersihkan? karena kalau hujan deras biar ga kena banjir
Kenapa hujan deras bisa bikin banjir? (sudah mulai capek jawab) karena kalau saluran air tidak lancar maka air hujan akan menggenang
Kenapa saluran air tidak lancar?....(bener-bener sudah capek)...hmmm...menurutmu kenapa?...muahahah....cara ini justru lebih sukses memancing mereka berpikir daripada kita hanya sekedar menjawab....mereka ternyata sudah bisa menalar apa yang terjadi....jadi respon pertama sekarang ketika ada pertanyaan 'kenapa' : menurutmu sendiri kenapa?.....nanti lama-lama mereka akan menjawab.."ah Bunda...aku kan tanya Bunda..."....hahahaha....lalu pertanyaan yang ga putus-putus itu akan terulang lagi...dan inilah yang membuat aku dan suamiku jarang bisa berdiskusi ketika sedang di mobil...

Back to the topic...
Solusi untuk menghadapi banyaknya pertanyaan ini adalah:
  1. Berikan jawaban yang kita yakin kebenarannya dengan pendukung (referensi:buku, Al-Qur'an, dll). Jika jawaban kita akan membuat mereka bingung (atau kita belum bisa menjawabnya) katakan bahwa kita belum bisa jawab saat ini, kita perlu cari dulu melalui ...... (buku, internet, ensiklopedia..dll). Tetapkan batas waktu kapan kita akan menjawabnya daaaaan...jangan lupa untuk tetap memberikan jawaban ini walau mereka sendiri sudah tidak mengingatnya lagi (ini ada hubungannya dengan memenuhi janji...jadi mereka belajar bahwa jika berjanji sesuatu harus ditepati...)
  2. Layani setiap pertanyaan atau pembicaraan anak ini dengan FOKUS dan 'EYE CONTACT' - jangan sambil ngobrol dengan orang lain atau sambil kerja. Ini penting untuk membangun dalam diri anak perasaan menghargai dan dihargai.

Kita juga bisa mengajarkan etika disini, maksudnya seringkali ketika kita sedang asik bicara dengan pasangan atau teman kerja (sesama orang dewasalah pokoknya), anak kita bertanya maka stop percakapan itu sebentar (tentu saja dengan ijin dulu - orang dewasa pasti akan lebih mengerti), eye contact dengan anak untuk menanyakan apa yang dia mau, jawab bahwa pertanyaan itu akan dijawab setelah pembicaraan orang dewasa selesai dan ingatkan bahwa lain kali jika ada orang lain sedang melakukan percakapan maka kita harus menunggu percakapan itu selesai baru bisa bertanya...

Jika semua itu konsisten dijalani (of course kita harus mengulang-ulang terus prosedur itu ) maka akhirnya tertanam dalam diri si anak bahwa dia harus menghargai orang lain maka dia pun akan dihargai...

OK...I have to admit that sometime (many time) I lost my patience when I remind my children that they sould wait before they start to ask something...all I say is : 'berapa kali siy bunda harus bilang kalau ada orang sedang bicara, kamu mesti nunggu dulu..jangan langsung menyela'...or...'Detya..masak setiap kali kamu makan bunda mesti ngingetin untuk menutup mulut ketika mengunyah..biar ga bunyi...'

I should say..'maaf Detya..Javas...jika bunda sedang bicara sama ayah...kamu boleh menunggu dulu sampai selesai baru bertanya'...or...'Detya jangan lupa menutup mulutmu ketika sedang makan'...just like that without adding...'berapa kali siy mesti diingetin.....'...beuh....they just kids that have short memory..so we have to keep on remind them.....patiently....

(awww......in english lagi)....




Read More..

Selasa, Oktober 27, 2009

Parenting Class : Imitasi

OK....temuan positif selanjutnya buat kelompok B3 adalah

Temuan 2.
IMITASI/PENIRUAN

Temuan ini tetep dianggap temuan yang positif karena ini merupakan karakteristik anak secara umum. Sejalan dengan temuan 1. Grouping, maka ketika anak-anak B3 mulai berkerumun di satu lokus, yang mereka lakukan adalah meniru apa yang dibuat temannya...dan sampai saat ini topik yang paling utama bagi mereka adalah TAMIYA......

Bu Guru siy sudah menegasakan bahwa setelah 3 bulan berlalu, mulai ada sedikit perubahan...dan karena Bu Guru ga bisa memaksa anak-anak untuk berhenti memikirkan TAMIYA maka langkah yang dilakukan adalah masuk ke dalam dunia TAMIYA mereka dan mengkaitkannya dengan tema bulan ini. Langkah ini cukup berhasil karena ada satu-dua anak yang tertarik untuk memadukan kesukaan pada TAMIYA dengan tema Masjid Sekolahku....

Intinya ketika groupin dan imitasi menjadi sangat kuat maka usaha untuk membuat mereka melupakan sama sekali tentang TAMIYA menjadi syusyah sehingga bagaimana kita blend kesukaan anak dengan topik yang kita maui...harus dilakukan agar pengalaman anak menjadi beragam...(seperti yang kulakukan ketika akhirnya membuat Javas memikirkan untuk membuat traktor seperti yang di depan masjid..daripada hanya sekedar memikirkan mobil saja...)

Pada dasarnya anak adalah miniatur kita sebagai orang tua yang sehari-hari mengurusi mereka. Bagaimana sikap kita, akan tercermin secara nyata pada tingkah laku anak kita.

Aku tau...aku bukan orang yang sabaran...aku bicara dengan nada yang cukup tinggi...sigh...aku tau itu akan jadi contoh buat anakku bertingkah laku dan berbicara...jadi aku sadar Javas suka tantrum dan teriak-teiak ga jelas mungkin karena melihat aku...(ehhhmmmm...tapi aku ga suka teriak-teriak ga jelas gitu kok.....swear....teriakku jelas kok.....muahahaha...enaugh about me...Am mature enough to know that I should behave better than the younger me...mature enough to know that in order to have great children..I should behave great as well...)

Seringkali aku hanya bisa melongo melihat gaya bicara Detya yang persis sis dengan yang kulakukan ketika kehilangan kontrol....sigh....bener-bener anak-anak akan jadi copycat kita plek makanya satu-satunya solusi untuk temuan 2 ini adalah:
  • orang dewasa di lingkungan sekolah dan rumah HARUS jadi model yang baik dalam bersikap dan berperilaku (bicara dan bertindak)
cara lainnya adalah:
  • memberikan pengalaman belajar yang tepat dan beragam, bahan dan alat, baik di sekolah maupun di rumah agar anak dapat berbagi pengalaman belajar mereka untuk anak lain saat imitasi berlangsung.

So...bapak-bapak...ibu-ibu...mari kita berusaha lebih baik lagi untuk menjadi pribadi yang sempurna agar dapat menghasilkan generasi yang sempurna juga...

Tetap Semangat...(ini penyemangat untukku sendiri...karena betapa syusyah untuk mengkontrol diri pada saat 'automatic me' selalu saja lebih dominan...sigh....*sambil tepuk-tepuk jidat sendiri*

Read More..

Jumat, Oktober 23, 2009

Prenting Class : GROUPING dan KERJASAMA

Sebenarnya waktu parenting class kemaren, ada 7 poin perjanjian yang harus kami sepakati bersama, salah satunya adalah AMANAH...artinya..apa yang kami bicarakan di pertemuan itu harus kita simpan untuk sendiri..karena mungkin saja ada yang curhat tentang anak-anak dan keluarganya...yang seharusnya tidak diketahui orang lain. Jadi karena kesamaan nasib bahwa anak-anak kami perlu perhatian tambahan, maka kami harus jujur... Untuk itu apa yang diceritakan disana merupakan rahasia sehingga ga perlu disebarluaskan di luar.

Intinya....aku tidak akan menceritakan bagaimana orang tua lainnya cerita tentang anaknya, tapi aku ingin sharing...bagaimana siy menghadapi anak-anak yang pola bermainnya sama dengan anak-anak B.3. Bener deh....pengetahuan ini (yang disharing oleh Bu Guru)..sangat sayang untuk sekedar disimpan sendiri...karena pasti banyak orang tua di luar sana menghadapi hal yang sama (dan mba devi pesen supaya aku sharing di blog ini...so mba devi...ini dulu yak)

TEMUAN I
Cara Bermain Grouping

Kelompok B3...sangat grouping. Ketika satu orang main di satu lokus..maka yang lainnya akan ikut bergerombol di lokus itu walaupun tersedia lokus-lokus lainnya untuk mereka mainkan. Jadi gini, pada tiap sentra, guru akan menyiapkan 5-7 lokus yang berbeda yang bisa merangsang semua motorik anak-anak. Misalnya sentra Ibadah (ini misalkan saja ya..karena aku juga kurang tau detilnya bagaimana), sesuai tema bulan ini maka akan disiapkan 5 lokus yaitu menggambar/mewarnai, mengunting dan menempel, berhitung dengan beraneka kancing baju, buku-buku untuk dibaca, dan balok kecil. Mereka boleh memilih salah satu dari 5 lokus itu untuk dimainkan dengan 2-3 teman lainnya. Jadi 5 lokus itu akan terisi dengan 5 kelompok anak.

Untuk kelas lain..pola seperti itu bisa berjalan. Guru akan menunjuk pemimpin kelas hari ini (biasanya 2-3 anak), untuk memilih terlebih dahulu lokus yang akan dimainkan dan dia boleh memilih teman untuk bergabung dengannya. Dengan begitu semua lokus akan penuh.

Tapi untuk kelas Javas...pengaturan seperti itu ga akan jalan...karena walau pada pengaturan awal mereka sudah disuruh memilih pada lokus yang berbeda, kenyataannya ketika ada satu anak menuju lokus balok kecil...maka yang lainnya akan mengikuti si teman dan bermain pada balok kecil. Ada dua-tiga anak yang biasanya akan menjadi pengamat. Meraka tidak langsung bergabung, tapi hanya melihat-lihat saja teman-temannya bermain di lokus itu. Satu orang akan tetap jadi pengamat sampe akhir (alias ga ngapa-ngapain...cuman liat doang), satu anak setelah beberapa lama akan ikut bergabung, dan seorang lainnya akan pindah ke lokus buku untuk minta diceritain Bu Guru.

Menurut Bu Guru, grouping seperti ini merupakan temuan yang POSITIF, karena perkembangan sosial anak umur 5-6 tahun adalah senang bermain kelompok dan mulai menuju ke kerjasama. Masalahnya untuk kelompok B3 ini, kerjasama sama sekali ga muncul. Walaupun mereka bermain bersama-sama di satu lokus, tapi mereka main sendiri-sendiri tanpa melibatkan teman yang lainnya. Untuk lokus balok kecil tadi...semua anak akan membuat TAMIYA...

Untuk itu...kami sebagai orang tua yang berperan di rumah mesti ikut menstimulasi anak agar grouping itu mengarah ke kerjasama. Di sekolah...setelah 3 bulan berjalan...arah kerjasama itu sudah mulai terlihat sehingga solusi agar lebih cepat lagi maaka di rumah harus dilakukan hal yang sama.

CARANYA:
  1. Buat aturan main yang jelas dalam kelompok, misal:setting alat main menunjukkan bahwa anak dapat bermain dengan sekelompok kecil di area tersebut (3-4 anak)
  2. Bantu anak kearah kerjasama bukan hanya bermain bersama atau berdampingan...

Sepertinya simpel ya...tapi in practice syusyah bener dan lammma...take it from my own experience:
Javas senang sekali membuat ketrampilan...tapi idenya seringkali abstrak dan susah diterjemahkan sehingga dia seringkali jengkel sendiri karena tidak bisa menerjemahkan apa yang dia inginkan. Jika begitu dia bisa teriak-teriak ga jelas dan berujung dengan kalimat.."aku mau dibeliin mainan..."...sigh...kalau sudah begini...aku yang jadi puyeng.

Yang aku lakukan adalah mendekati dia dan bertanya "Apa yang bisa Bunda bantu? Kamu mau bikin apa?"
Javas:"aku mau bikin pesawat"
Bunda:"ayo kita lihat ada kardus apa di belakang. Ini ada kardus odol, sekarang apa lagi yang kita punya...ada kardus susu. Yuk kita mulai. Kardus odol bisa buat badan pesawat, sekarang tinggal apanya?"
Javas:"sayapnya. Ya udah, Bunda yang bantu gambarin, aku yang gunting"
Sebentar kemudian pesawat dengan bentuk kasar sudah siap.
Bunda:"sekarang coba tanya Ayah, apa lagi yang bisa dilakukan"
Ayah membantu Javas dan akhirnya bentuk pesawat yang manis pun jadi.

Hal di atas aku ceritakan di pertemuan. Walau sudah bisa disebut kerjasama, namun ternyata banyak koreksi agar hal itu bisa benar-benar disebut kerjasama.
  1. Harus disebutkan ini KERJASAMA bukan membantu. Jadi pada saat memulai, maka disampaikan bahwa "ayo kita kerjasama untuk membuat pesawat" dan bla-bla-bla...(teeeet...yang kulakukan ternyata salah)
  2. Harus si anak yang memutuskan segala sesuatu, orang tua sebagai fasilitator. Jika anak tidak bisa menentukan maka orang tua memberikan lebih dari satu macam pilihan agar si anak yang memilih mana yang harus digunakan. Jika ide anak masih terlalu abstrak, berikan contoh dari gambar yang bisa dilihat anak secara riil dan dijadikan perbandingan. Intinya, kembalikan lagi kepada si anak untuk memutuskan segala sesuatunya....(teeeeeeeet...salah lagi deh)
  3. Untuk menunjukkan kerjasama, maka harus ada pembagian pekerjaan..walau diusahakan agar si anak sendiri yang mengerjakan. Jika semua anak-anak yang melakukan maka sebelum dimulai ada aturan main yang jelas..misalnya siapa yang menggambar pola..siapa yang menggunting...siapa yang menempel...jadi pada akhirnya pesawat itu merupakan hasil kerjasama...

beuh...beuh.....apa yang kupikir kerja sama ternyata belum sepenuhnya kerja sama...

Maka PR kami semua di rumah untuk dikerjakan adalah MELATIH KERJASAMA....dan melakukannya emang perlu energi lebih agar kata-kata MEMBANTU yang otomatis mau keluar itu beralih menjadi KERJASAMA...

Tadi malam Javas punya ide untuk membuat traktor seperti yang sekarang nangkring di sungai di Masjid Istiqlal... sebenarnya ide awal adalah membuat mobil (as always....sigh...I dunno why he is so in love with cars...). Tapi karena tema bulan ini adalah MASJID SEKOLAHKU....maka ide mobil itu kuarahkan ke tema sehingga dia punya ide untuk membuat traktor yang membersihkan sungai di Masjid Sekolahku....

Swear deh..untuk mencapai ide itu....lammmmaaa dan mesti diskusi panjang sampe akhirnya dia sendiri yang memutuskan....mengarahkannya menuju ide itu lo yang puyeng. Intinya...kita sebagai orangtua mesti KREATIF...ga ada manualnya siy...(thanks to this parenting class...so many example dan it's soooo aplicable).

Masih ada tapinya ding....karena sudah terlalu malam, aku harus menghentikan kegiatannya membuat traktor itu untuk dilanjutkan keesokan harinya...dan hal ini membuat dia frustasi karena dihentikan pada saat sedang asyik menyusun karton-kartonnya...akhibatnya dia tantrum lagi...dan ayah sempat marah karena dia main fisik sama adiknya. Jadi aku harus mengingat-ingat semua arahan Bu Guru agar tidak ikut marah seperti Ayah dan meredakan tantrumnya. Eniwei..Javas tidur dengan tenang...dan malam ini mesti praktek ilmu lagi...

OK...sementara ini dulu....ntar sambung lagi...



Read More..

Senin, Oktober 19, 2009

Laporan Mid-Semester

Setelah hari Jumat membahas laporan mid semester Javas...yang intinya Javas perlu dukungan lebih untuk meningkatkan level sosial emosinya..maka sabtu kemaren, kami (aku dan suamiku) harus mengambil laporan mid semester Detya...

Deg-degan...JELAS...karena waktu ujiannya kemaren..agak-agak kelewatan belajarnya. Maksudku gini..waktu Detya mulai sekolah kemaren, aku ga bisa mendampingi karena ikutan training....balik dari training pun...ga lama kemudian udah puasa dan lanjut lebaran..jadi banyak libur. Jadi aku sama sekali ga pernah baca buku-buku Detya untuk tau apa siy yang sebenarnya diajarin untuk semua pelajaran?..apa siy yang Detya dapat selama masuk MI?..aku cuman diskusi mengenai pergaulan dia dan hal-hal non akademis lainnya...

Maka ketika liburan lebaran sudah selesai dan tgl 1 Oktober Detya sudah harus masuk sekolah untuk nyiapin ujian mid-semester,...betapa paniknya aku...karena aku ga tau sama sekali apa yang sudah dipelajari...dan apa yang harus disiapkan menjelang ujian gini....(aku merasa jadi ibu yang ga care sama anaknya...hiks). Apalagi ketika benar-benar baca buku-buku pelajaran Detya, aku makin tambah panik...kok lemayan rumit ya...apa bisa Detya memahami soal-soalnya?...Bagaimana sikap DETYA sendiri?...alamak..dia cuek-cuek aja dan ga ngerasa ada yang penting dengan ujian ini..(setelah diskusi dengan mba devi, rupanya memang begitu tabiat anak kelas satu...mungkin karena mereka belum paham..apa konsekuensi jika tidak bisa ujian..)

Eniwei...tetep...tiap malam sebelum ujian...aku dan adikku bergantian...menemani Detya belajar sekaligus memotivasi dia tentang apa siy ujian itu...walaupun dia masih males-malesan..pada dasarnya detya itu quick learner...cuman cepet bosen aja...jadi belajar ya seadanya saja..

Balik lagi ke hasil laporan...seperti waktu di RA dulu...konsenku adalah diskusi tentang bagaimana Detya sehari-hari...mengingat dia susah sekali dimotivasi untuk datang sekolah tepat waktu dan bergegas jika terasa terlambat....dia juga masih bermasalah dengan temannya yang suka bullying dulu....juga sering mengeluh ada satu temannya suka banget meminta bantuannya...susah sekali memberi kesempatan adiknya untuk belajar baca ketika di mobil...hal-hal semacam itu lah...

Aku cuma sempet melirik sekilas hasil-hasil ujiannya....dan hasil lirikan itu membuat kepalaku sedikit membesar karena seneng...(bukan sedikit diing...asli besar banget karena aku seneng banget...)...yang nampak adalah angka 100, 9 brapa, 8 brapa...yang kulihat paling kecil cuma bahasa arab dapat 72....

Beda banget ketika suamiku yang melihat...beliau langsung pengen liat nilai penjaskes (pendidikan jasmani dan kesehatan)...dan ternyata sesuai dugaan suamiku....dapet 50....dan itu dihubungkan dengan perilakuku yang ga suka olah raga akibatnya Detya pun ancur di nilai itu....(hehehe...like mother like daughter...) Tapi akupun membela diri...antara buku pelajaran dengan soal ujian sama sekali ga nyambung....pantesan aja detya ga gitu paham...

Poin yang ingin kuceritakan disini adalah...kita mesti percaya ama kemampuan anak kita....ga perlu stress atau panik sendiri... Yaaa...memotivasi memang perlu tapi percaya pada si anak jauh lebih penting daripada memaksa anak untuk mengikuti aturan-aturan yang terlalu baku...bagaimanapun untuk usia segitu bermain masih jadi dunia yang utama...

Jadi tinggal kita sebagai orang tua mesti bisa mengarahkan anak sambil bermain...sehingga mereka justru lebih cepat belajar dari lingkungan yang seperti itu...

Read More..

Jumat, Oktober 16, 2009

Spesialnya Javas...

Minggu lalu dapat undangan untuk rapat orangtua khusus untuk kelas Javas, Kelompok B3. Tidak semua kelas dapat undangan itu, tapi karena ada kelas lain yang juga dapat maka aku hentikan kekhawatiranku....mungkin ini hanya bergiliran.

Rabu kemaren pelaksanaan rapatnya dan ternyata memang hanya kelas-kelas spesial saja yang perlu pertemuan seperti ini. Sekolah menyebutnya Parenting Class.

Di awal tahun ajaran, disebutkan bahwa kelas B3 ini merupakan penggabungan anak-anak yang secara tingkat sosial emosi belum sesuai dengan umurnya, sehingga agar penanganannya lebih fokus maka dijadikan satu kelas. Untuk TK A, juga diatur demikian.

Maka setelah tiga bulan berlalu dan melihat perkembangan selama ini, maka sekolah berinisiatif agar di kelas spesial ini diadakan Parenting Class. Tujuannya agar terjadi keselarasan antara perlakuan di sekolah dengan di rumah sehingga si anak dapat mencapai level sosial emosi yang sesuai dengan usianya.

Sebelum lebih jauh, Javas emang beda dengan Detya, disamping menurut penelitian perempuan itu lebih cepat matang sosial emosinya, secara keseluruhan Javas lebih cepat segalanya dari Detya dalam hal perkembangan motoriknya, sedangkan Detya cepat dalam aspek bahasa dan kognitifnya. Javas udah jalan ketika berumur 10 bulan sedang Detya jalan ketika seminggu sebelum ulang tahun pertamanya.
Dalam aspek sosial emosi, Javas sudah dari kecil dulu suka tantrum ga jelas dan bisa berlangsung berjam-jam. Tantrum itu berkurang ketika dia mulai sekolah di Istiqlal dan semakin hilang sampai sekarang ini. Tantrum hilang tapi dia suka menarik diri dari kelompok main jika dia ada hambatan dan berdiam diri (di sekolah)..kadang-kadang jika gemes ingin menyalurkan marahnya dia mencakar lantai, tikar, karpet atau meja dengan posisi gemas sekali (di rumah)...yang jelas nangis diam-diam di pojokan masih dilakukan jika dia merasa terganggu oleh temannya ketika bermain atau ketika ada keinginan dia yang tidak terpenuhi.

Intinya..aku terima ketika Javas dianggap perlu untuk masuk kelas khusus karena sosial emosinya yang belum sesuai (karena ada ibu yang sepertinya tidak terima ketika anaknya masuk kelas B3 ini). Bagiku pribadi, dengan hilangnya tantrum dan komunikatifnya dia dalam mengungkapkan apa yang dia pikirkan dengan kami, orangtuanya, sudah merupakan kemajuan yang cukup berarti.

Dari hasil parenting class hari rabu itu, rata-rata orang tua mengalami masalah yang sama sehingga masalah sudah teridentifikasi, tinggal cari solusinya gimana. Banyak yang baru kami ketahui dalam pertemuan itu dari penjelasan Bu Guru kelas, tentang anak-anak kami di sekolah . Kami jadi tau bahwa semua orang di kelas B3 itu demam TAMIYA karena model main mereka yang grouping....satu pilih mainan..yang lainnya akan maen yang sama. Ada dua tiga anak yang tidak terpengaruh tapi berdasar diskusi pengaruh tamiya itu munculnya di rumah. Dalam hati aku khawatir, jangan-jangan Javas yang membawa pengaruh Tamiya ini...tapi ternyata tidak..ada beberapa anak yang lebih kuat kesukaannya pada tamiya ini sehingga Javas yang memang sangat suka mobil...jadi suka tamiya juga. Apalagi lebaran kemaren kumpul dengan sepupu2nya yang doyan tamiya juga..(in fact..dulu aku yang ngado lintasan tamiya itu waktu mereka sunatan).

Maka pertemuan yang berakhir jam 5 sore itu cukup membuka pikiran kami semua dan sedikit contoh-contoh cara menangani anak-anak dari Bu Guru, sangat membantu kami untuk melakukan langkah selanjutnya.

Pada dasarnya Javas sangat mudah diajak bekerja sama artinya jika sedang ada masalah..kami berdiskusi sampai semua pertanyaannya terjawab..maka dia akan mudah mengikuti apa yang kita mau... Apalagi dengan trik diskusi yang disampaikan Bu Guru...makin mempermudahkanku berdiskusi dengan Javas (dan ini langsung kupraktekkan sepulang dari parenting class itu).

Tadi pagi adalah jadwal mengambil laporan tengah semester Javas...dan konsultasi yang sebelumnya diadakan hanya 15 menit saat mengambil laporan oleh masing-masing orangtua, sepakat kita ganti dengan model diskusi seperti saat parenting class sekaligus melanjutkan pertemuan pertama itu.

Pembahasan tadi sudah dalam tahap mencari/memberi solusi..(intinya kita bingung ga tau solusinya gimana, Bu Gurulah yang mencarikan solusi dari identifikasi masalah itu...thanks a lot Bu Guru... We love you full...). Dan solusi serta penjelasan yang sangat aplikatif dijelaskan dengan detil sehingga bertambahlah pengetahuanku dalam menangani Javas (dan berguna juga jika menghadapi Detya yang jagoan berargumen).

Sayang sekali suamiku ga bisa bergabung jadi harus menjelaskan ulang yang artinya belum tentu sebaik Bu Guru ketika menjelaskan tadi.... Dari sharing dua kali ini, rata-rata para Bapak yang memenuhi kebutuhan mainan bagi anak-anak cowoknya (dalam bentuk mobil dan tamiya)...jadinya cukup susah menghilangkan pikiran tamiya itu dari anak-anak jika si Bapak tetep memnuhi mainan itu.

Parenting Class ini akan rutin kami lakukan karena sebagai kelompok B yang akan masuk SD, kemampuan keaksaraan harus sudah bagus. Jadi akselerasi sosial emosi ini harus cepat kami lakukan agar mereka siap belajar keaksaraan. Aku tidak begitu panik karena toh Javas akan masuk di MI Istiqlal...walaupun begitu tetep kita latih dia untuk keaksaraan agar setidaknya dia sudah bisa membaca saat MI kelak.

Kepanikan dialami oleh ibu-ibu yang akan menyekolahkan anaknya di SD umum atau SDIT luar sana karena tes awal sudah ada yang dimulai Desember ini sehingga mereka sangat ingin anaknya sudah bisa membaca...(SD lain pasti menarget pada tes itu, anak-anak yang diterima adalah yang sudah bisa baca...). Menurut Bu Guru..bagaimana bisa mereka memulai keaksaraan kalau tahap sosial emosi mereka saja masih di level anak usia 3-4 tahun yang seharusnya sudah mereka lewati. Bu Guru pun paham tentang tuntutan bisa membaca, maka dari itu mereka mengadakan parenting class ini untuk bersama-sama akselerasi sosial emosi anak-anak.

OK Bu Guru...kami akan mempraktekkan trik-trik solusi yang dijelaskan tadi dan semoga hasilnya akan menjadikan anak-anak lebih baik lagi....

Read More..

Selasa, Oktober 13, 2009

Aksesoris

Duluuu, sekitar tahun 2005, semasa serial Korea "Full House" pertama kali diputer di TV...aku jadi suka aksesoris terutama anting, karena tokoh utamanya di situ suka sekali berganti-ganti anting, dengan model yang imut dan menarik.

Maka ketika pertama kali kembali kerja setelah 2 tahun off untuk kuliah, aku jadi rajin berburu anting dan akhirnya punya peralatan lengkap buat bikin anting dan kalung sendiri. Aku punya tiga jenis tang untuk bikin aksesoris, aku punya kotak peralatan untuk menampung koleksi manik-manik, kristal, batu atau mutiara serta pernak-pernik untuk aksesoris. Aku punya laci plastik kecil untuk menyimpan koleksi aksoesorisku yang sudah jadi. Bahkan dulu aku pernah menerima pesanan teman-teman yang ingin dibuatkan aksesoris. Benar-benar niat banget buat beraksesoris seperti yang nampak di serial Korea itu. Waktu itu suamiku masih di Korea, jadi tentu saja minta beliau buat nambahin koleksi aksesorisku, asli Korea.


Ki-Ka: Tang puter, Tang potong, Tang Jepit


Kotak Peralatan

Sebelumnya aku ga tahan pake perhiasan yang bukan emas (alergi banget!!jadi ga pernah bermain-main dengan aksesoris). Tapi pas aku mulai senang pake anting itu, gatau kenapa, aku jadi kebal ama logam bukan emas..jadi aku semakin bersemangat. Ga tau kenapa, tiba-tiba hampir setaun kemudian, alergiku muncul kembali. Aku ga tahan pake logam bukan emas, merah dan gatal. Jika diterusin bisa makin kacau, maka aku menghentikan kesenanganku bergonta-ganti anting. Ditambah lagi kesibukan kerja yang mulai meningkat, sehingga ga ada kesempatan buat bengkel aksesorisku. Maka semua peralatan aksesorisku kusimpan di laci meja kerjaku.

Awal Oktober kemaren, aku ketemu dengan salah satu lawyer ADB yang suka beranting panjang dan beraksesoris lengkap dengan warna ijo sehingga matanya yang hijau nampak semakin indah. Aku jadi tergoda untuk pake anting yang matching ama bajuku dan akhirnya besok harinya aku pergi ke pasar baru buat pesen cantolannya aja dari emas, sehingga aku ga khawatir kena alergi lagi. Cantolan itu cukup satu, tapi bawahnya yang akan berganti-ganti sesuai bajuku hari ini. Agak miris juga siy, ternyata harga dan ongkos bikinnya lemayan mahal (untuk ukuran kantongku..), tapi kupikir inilah harga yang harus kubayar untuk kesukaanku memakai anting macem-macem...

Cantolan Anting...yang mesti pesen itu...



Cantolan yang digabung dengan bagian bawah yang merupakan salah satu koleksiku...

Dan sekarang...voila....jangan kaget jika ngeliat antingku berganti-ganti tiap hari...matching dengan bajuku....dan setelah kubongkar semua koleksi lamaku...aku punya lebih dari 2 lusin anting berwarna-warni.....senengnya hatiku....

Update:
Ini sebagian kecil koleksiku....(abis Polar minta ada foto siy...)



Read More..

Rabu, Oktober 07, 2009

Batik

Agak telat ya, ngomongin batik minggu ini? Mestinya tanggal 2 Oktober lalu pas ditetapkannya batik sebagai warisan budaya asli Indonesia oleh UNESCO. Tapi gapapa lah, aku pengen sharing tentang apa yang sudah dan pengen aku lakukan dengan batik.

Yang Sudah Kulakukan...

Sudah beberapa bulan ini aku memakai batik sebagai baju kerjaku setiap hari. Aku lupa kapan tepatnya tapi beberapa minggu sebelum aku berangkat training akhir juni lalu. Sebagai modal awal, aku pakai batik koleksi pribadi yang hanya 3 buah dan batik seragam untuk acara-acara kantor kira-kira 3 buah juga. Ditambah batik seragam untuk sidang tahunan (ada empat tapi satu yang lengan panjang aku berikan buat adikku yang pakai kerudung...jadi biar dia juga suka berbatik). Yaaa...tentu saja waktu itu masih diselingi baju kerja biasa sekali dua kali.

Nah..pas diklat kemaren, karena lokasinya di Magelang dan akhir minggu ada acara ke Jogja, maka aku puas-puasin nyari batik murmer yang sesuai dengan seleraku. Dapat lah tambahan 3 baju..(hiks..cuman nambah 3 karena alokasinya ga cuma buatku...mesti beliin suami-yang ngiri karena aku nambah batik dari sidang tahunan kemaren, adikku, anak-anak, dan asisten serta anaknya sekalian....jadinya pengen nambah sebanyak-banyaknya jadi terhalang deh...).

Eniwei sepulang dari training kemaren, maka dipastikan deh kalau tiap hari aku berbatik. Ada teman sekantorku yang juga punya keinginan yang sama dan dia konsisten berbatik tidak lama sebelum aku juga konsisten. Bedanya, koleksi batik dia lebih banyak, termasuk batik seragam kantor juga lebih banyak karena event yang dia ikuti juga lebih banyak....belum lagi kalau Batik Keris ngeluarin koleksi terbaru, dia pasti punya beberapa yang dia sukai...Tsaaahhh...maklumlah...kebutuhan dia hanya untuk dia sendiri...ga seperti aku yang mesti mikirin keluarga juga (ngiri mode:on....)

Beberapa minggu lalu, ada juga satu teman cowok di kantor yang berbatik juga tiap hari....jadinya...di kantor ada tiga pegawai yang berbatik ria tiap hari...

Kemaren aku browsing tentang model baju batik yang bagus, karena aku punya tiga kain batik yang belum dijahit dan aku belum nemu penjahit yang bisa kupercaya menangani batikku. Maklum untuk kain batik yang ini agak spesial..ga murmer seperti biasa. Ada 2 batik sutra dan 1 batik tulis katun asli Banyuwangi. Tahun 2008 kemaren, aku sengaja beli batik tulis asli Banyuwangi, walaupun harganya bikin aku hampir batal beli (sengaja beli setelah baca artikel tentang motif batik se nusantara di KOKI dan sebagai Lare Osing...masak ga punya koleksi batik asli Banyuwangi?) . Sedang batik sutranya yah..merk casio dari klien suamiku....hehehe...

Nah ketika browsing kemaren, aku baca filosofi menarik dari situs ini Debatiqbutiq...The Goddes Way....bahwa yang disebut batik itu ya either Batik TULIS or Batik CAP...bukan batik printing yang beredar sekarang ini...(hiks...termasuk yang kupakai selama ini).. Motifnya memang batik tapi cara pembuatannya bukan batik...weh..weh....aku jadi merasa kesenggol niy....

Dengan definisi itu..jelas-jelas aku bukan pemakai batik....(kecuali kalau 3 kain batik itu sudah jadi...). Aku jadi merasa tertantang untuk benar-benar memahami dan menggunakan batik sebenar-benarnya....yang sangat kita banggakan sampai ketika negara tetangga kita mengklaimnya kita begitu mencak-mencak...yang kita daftarkan ke UNESCO untuk jadi warisan dunia asli Indonesia....yang dipopulerkan oleh Nelson Mandela...yang benar-benar ditulis pake canting atau dicap pake malam dan semua prosedur membatik diikuti....OK...pasti jadinya lebih mahal daripada yang kupakai selama ini....tapi kalau yang CAP..setaralah dengan baju kerja yang biasa kupakai dulu...so...kenapa ga mulai sekarang?

Yang Pengen Kulakukan....

Aku akan memulainya dengan menjahitkan kain batik spesialku itu menjadi baju siap pakai yang bisa kupakai kerja......selanjutnya untuk tambahan batikku yang baru...aku akan cari yang berbahan Batik TULIS atau minimaaaaal..Batik CAP....
Jadi aku akan bisa melestarikan batik sebenar-benarnya....bukan cuma memakai batik printing yang sebenarnya ga ada bedanya dengan baju bermotif yang lainnya...

Mari teman-teman...kita gunakan BATIK sebenar-benarnya.....

Read More..

Senin, Oktober 05, 2009

Sanggar Ananda...

Dulu waktu Detya masih belum di Madrasah Istiqlal, dia pernah ikutan balet di Sanggar Kreatifitas Bobo/Bona (SKB) di dekat rumah. Tujuannya siy biar gerak tubuhnya fleksibel, ga kaku kayak emaknya ini....(ampuun deh...aku beneran kaku karena ga pernah ikutan aktivitas seni dari kecil dulu.....beda dengan suamiku yang lentur karena dari kecil biasa olahraga, dan ngegambarnya juga jagoan.... SMA jagoan breakdance dan di Korea kemaren sempat dapat hadiah karena menang dance dengan gaya andalan:breakdance...)

Waktu itu hanya sempat ikutan balet satu semester lebih dikit dan berhenti karena dia harus mulai sekolah di Istiqlal ...jadi waktunya ga cukup buat ikutan balet lagi (sempat ikut pertunjukan tahunan juga siy di Gedung Kesenian...). Sejak itu Detya ga pernah ikutan olah tubuh lagi, kamipun udah nyoba nyari-nyari kursusan nari yang dekat-dekat dengan kantor. Tapi ga pernah dapet...(ya ga sempet nyari...gimana bisa dapet...)

Eniwei...sabtu kemaren ada kawinan temen suamiku di manggala wana bakti dan ketika lew3at Senayan, suamiku bilang bahwa ada kursusan nari di gelora bung karno tiap hari Sabtu. Dan dengan semangat suamiku minta agar minggu pagi kita olah raga kesana..(dalam hatiku sedih banget...karena aku pengen banget tidur lagi hari minggu itu....). Minggu pagi...walau dengan agak malas-malasan..kamipun bersiap ke Senayan dengan tujuan olah raga...maen sepeda atau jalan aja.

Ternyata suamiku juga mengagendakan untuk melihat kursusan nari itu karena bisa trial sebelum daftar beneran. Lokasinya di Pintu VII Gelora Bung Karno...sumpe de..aku ga ngerti agenda suamiku dan waktu baru nyampe, ga ada brosur atau tulisan apapun tentang kegiatan ini... tapi semakin siang semakin rame dan ternyata jam buka resminya emang jam 10.30...sedangkan kami sudah disana sedari 08.30.

Ngeliat anak-anak yang bareng datang denganku (akhirnya aku baru tau kalau mereka juga pengen trial)..aku sempat ga sreg, karena dandanan mereka seperti orang dewasa dikecilin...dengan rambut yang ditata keriting melingkar-lingkar dan baju up to-date (yang sangat-sangat kuharamkan untuk dipake anak cewekku)...aku sempet ngomel ke suamiku kenapa ikutan begini-ini.

Selanjutnya mulai banyak pengasuhnya yang dateng dan brosur-brosur serta spanduk mulai dipasang dan pelan-pelan mulai ngerti..sanggar apaan siy ini. Namanya Sanggar Ananda dipimpin oleh Aditya Gumay (wajahnya nampak familiar) dan ternyata yang ngasuh Lenong Bocah ya sanggar ini.

Programnya ada dua, kelas reguler dan kelas produksi. Kelas reguler mengajarkan 4 macam pelatihan secara bergantian yaitu akting, presenter, modelling dan modern dance. Setelah 6 bulan akan dilihat si anak bakatnya dikelas apa baru kemudian pendalaman di kelas produksi. Atau jika dalam waktu itu sudah terlihat si anak cenderung di kelas apa, maka bisa langsung masuk kelas produksi. Semua anak yang bergabung akan disalurkan ke dunia hiburan sesuai bakatnya.

Sebenarnya aku sama sekali ga sreg dengan kursus yang semacam ini. Aku cuma pengen Detya mempunyai olah tubuh yang lentur..aku ga pengen dia jadi sesuatu yang berhubungan dengan dunia hiburan...tapi ngeliat dia enjoy banget waktu ikut trial dan dia dengan senang hati minta ikutan gabung...aku juga ga tega menolak... Setelah diskusi dengan suami, beliau juga menyarankan agar cara pandang kita adalah ingin membuat Detya percaya diri dan mempunyai bahasa tubuh yang bagus...perkara nanti disalurkan kemana...itu kan masih dalam wilayah wewenang kita untuk menerima atau menolak...yang penting dengan bergabung di Sanggar Ananda, Detya menjadi PD dan gampang bergaul..

OK deh....walaupun hatiku masih ragu...aku setuju untuk ngikutin Detya ke kegiatan itu.
FYI, biaya yang harus dikeluarkan untuk masuk adalah:
uang pangkal Rp1.500.000,- (bisa dicicil)
uang seragam Rp200.000,- (menghindari pakaian yang berlebihan dan anak-anak lebih suka berseragam)
iuran bulanan Rp250.000,-

yaaaa...masih affordable lah...(apalagi yang pertama itu bisa dicicil)...
lagian entar-entar, kalau nganter Detya ke Senayan kan bisa nyambi jalan-jalan ke dekat-dekat situ....dan jam 10.30 ga pagi-pagi amat kok...(jadi masih sempet manjangin molor....qeqeqeqe...ibu yang malaaassss...)

Read More..

Jumat, Oktober 02, 2009

Super Sensitifnya Detya...

Ketika Detya mengalami Bullying pertama kali....aku coba berkonsultasi dengan guru kelasnya dan mereka mencoba cari solusi untuk itu. Guru-guru kelasnya memang melihat bahwa person yang bullying itu memang terlihat berbeda sehingga perlu ada solusi khusus. Setelah itu, curhatan Detya tentang teman itu memang agak berkurang dan dia cukup bahagia di akhir tahun ketika pentas seni dia mendapat kesempatan untuk berpasangan dengan cowok yang dia suka.

Tapi waktu diskusi akhir tahun ajaran dengan guru-guru kelasnya, baru dibicarakan bahwa ternyata Detya lebih sensitif dalam menanggapi banyak hal dibanding teman-temannya. Ya..aku memang sudah merasa bahwa Detya terlalu sensitif. Jika ada yang membuat dia ga enak dikit aja..dia langsung merengek-rengek dan meneteskan airmata. Kalau dia ingin aku menjemputnya sekolah sedangkan aku sendiri harus rapat keluar kantor maka pagi itu dia langsung berurai air mata memintaku tetap berusaha menjemputnya..

Guru TKnya bercerita bahwa pada dasarnya temannya yang bullier itu juga bullying ke teman-teman lainnya...tapi teman-temannya itu tidak menghiraukan si bullier itu sedangkan Detya langsung kepikiran dengan ancaman si bullier....itulah salah satu hal yang menunjukkan Detya lebih sensitif terhadap semua hal dibanding teman-temannya yang lain. Gurunya menyarankan agar ketika di MI nanti, dia harus dimotivasi agar bisa mengendalikan perasaan super sensitifnya....

Aku sendiri ga tau harus bagaimana memotivasinya kecuali selalu bilang bahwa menunjukkan perasaan boleh saja asal tidak berlebihan....
misalnya ketika tadi pagi aku tinggalin dia pas ngantar sekolah dia sudah mulai meneteskan airmata karena sedih berpisah denganku....aku bilang padanya agar sedih karena ditinggal bunda boleh saja tapi kan tidak perlu meneteskan air mata.

Bener-bener deh..aku agak keteteran juga mengatasi bagaimana agar Detya tidak terlalu sensitif....semenjak di MI ini keluhannya semakin bertambah....jadinya mesti ga boleh capek ngingetin dia untuk bisa mengungkapkan apa yang bikin dia ga suka dan memancing sebenarnya apa yang bisa dia lakukan untuk mengatasi keluhannya sendiri itu...

Tapi kadang-kadang tetesan air mata Detya bisa jadi penghambat frustasiku menghadapi Javas yang tantrum.... saat Javas mulai marah-marah ga jelas gitu...aku berusaha mendisiplinkannya dengan menyuruh dia duduk di pojokan nakal (kita menyebutnya begitu...meniru cara Nanny 911). Tentu saja ketika tantrum gitu mana mau Javas menurut dalam sekali perintah...bisa berkali-kali mendudukkan Javas sampai dia mau duduk tenang...nah dalam proses yang bikin frustasi itu.....Detya hanya memperhatikan sambil meneteskan airmata sedihnya melihat adiknya diangkat berkali-kali agar mau duduk diam di tempat.... Saat itulah....rasa frustasi yang makin meningkat menjadi turun dan kesabaran kembali lagi sehingga frustasi itu ga jadi rasa marah...

Beuh....susah sekali ya jadi orang tua....

Pak...Bu...maafin aku ya...pasti susah juga ngadepin aku yang pemberontak ini....
Read More..