Sabtu, Juli 31, 2010

Rumah Dan Masalahnya

Perbincangan masalah rumah antara aku dan suamiku selalu saja berakhir dengan ga ada kesimpulan. Aku paham bahwa banyak hal yang dipertimbangkan suamiku dalam rangka mendapatkan rumah idaman, beda denganku yang hanya mementingkan tampilan umum saja.

Semenjak kepindahanku dulu dari kontrakan ke rumah dinas tahun 2006, aku sudah memutuskan bahwa urusan memilih rumah aku serahkan sepenuhnya kepada suamiku. Ini dalam rangka menghindari konflik besar.

Waktu pindahan 2006 dulu, kami selalu argueing tentang segala hal. Saat itu rumah dinas yang kudapatkan sangat-sangat tidak layak huni sehingga butuh renovasi lumayan besar. Nah, dalam rangka renovasi itu kami diskusi dengan emosi yang diakhiri dengan saling membentak di hadapan Bapakku.

Bapakku memang datang membantu proses renovasi itu dengan membawa tukang dari kota asalku sehingga beliau juga mengamati semua pross diskusi kami tanpa sekalipun turut campur. Setelah insiden saling membentak itu, akhirnya Bapakku cerita tentang suatu hal yang tidak pernah diberitaukan padaku.

Alkisah....ketika suamiku dan keluarganya dulu datang melamarku, Bapakku sedang di Kalimantan ke rumah Pakdheku. Jadi beliau ga tau sama sekali bagaimana calon suamiku dulu kecuali dari ceritaku dan ibuku. Bapakku agak-agak mempertanyakan keputusanku mengingat betapa dekat jaraknya dengan putusnya pertunanganku dengan calon sebelumnya. Beliau khawatir aku belum terlalu mengenal pelamarku ini dan aku tergesa-gesa memutuskan untuk menerima karena umur yang semakin merambat naik.

Maka beliau melakukan hal yang wajar dilakukan orang-orang daerah tapal kuda. Daerah dengan penganut NU yang setipe Gus Dur gitu lah. Bapakku bertanya pada seorang Kyai yang terkenal mumpuni. Beliau bertanya bagaimana kira-kira masa depan antara aku dan calonku. Sebenarnya Bapakku adalah seoarng Muhammadiyah. Dan dalam pertunanganku sebelumnya, Bapakku tidak melakukan hal ini. Ini beliau lakukan karena mengkhawatirkanku saja.

Dan garis besar hasilnya adalah kami berdua sama-sama keras. Basicly ga ada masalah yang berarti, tapi kekerasanku itu membuatku ga akan ragu-ragu memutuskan sesuatu. Masalah besar yang bisa membuat kekeraskepalaan kami berakhir buruk adalah hal-hal yang berhubungan dengan rumah, entah pindah rumah, renovasi rumah ataupun beli rumah. Pokoknya apapun yang berhubungan dengan rumah.

Maka sejak itu aku memutuskan, apapun yang berhubungan dengan rumah, aku yang akan pasif. Aku ga akan keras kepala mempertahankan keinginanku. Asal hal-hal pokok terpenuhi maka detilnya biar jadi pilihan suamiku. Hanya renovasi rumah dinas saja bisa membuat kami saling membentak tanpa lihat situasi, bagaimana jika kami membeli rumah dan ga ada satupun yang mengalah? Bisa-bisa terjadi perang Baratayuda.

Maka ketika awal 2007, suamiku tiba-tiba saja ingin membeli rumah di Kediri, kota asalnya. Akupun ga banyak tanya, walaupun aku ga ikhlas sama sekali. Bayangkan...dari awal kami menikah, kami sudah keliling-liling kesana kemari tanya-tanya rumah yang mungkin bisa jadi tempat tinggal kami. Tapi waktu itu, dananya amat sangat terbatas, sedangkan dari dulu harga rumah sudah tinggi. Lalu setelah suamiku setahun di Korea dan mengumpulkan uang saku yang diterimanya setahun itu, maka cukuplah dana untuk membeli rumah di Jakarta (walaupun tentu saja tetap harus KPR). Aku sangat berharap kali ini kami bisa benar-benar mendapatkan rumah sendiri. Kami juga masih saja kesana kemari melihat-lihat perumahan yang ada di daerah pilihan kami. Dan betapa kecewanya aku, ketika ternyata suamiku memutuskan untuk membeli rumah di Kediri, ketika Ibu Mertuaku cerita bahwa ada orang yang butuh uang sehingga harga rumahnya lemayan rendah. Dan uang yang sedianya cukup untuk DP dan segala macam untuk rumah Jakarta, akhirnya habis untuk membeli rumah Kediri itu.

Aku memang menyerahkan urusan rumah ke suamiku tapi tentu saja kekecewaanku itu tetap aku sampaikan. Dan entah kenapa suamiku tetap memutuskan membeli rumah itu. Ya...kami memang sudah punya rumah....tapi di Kediri sana. Karena kecewa itu, sampai beberapa waktu lalu, aku ga merasa memiliki rumah itu. Aku ga tau perkembangannya bagaimana dan ga ingin tau. Terserahlah kalau bocor...terserahlah kalau dipasangi rolling door..terserahlah mau dicat lagi..terserahlah mau dipasangi kanopi untuk parkir mobilnya... Toh bukan kami sekeluarga yang menempati rumah itu. Sempat ada yang ngontrak selama setaun dan kosong lagi hampir dua tahun dan baru-baru ini saja ada lagi yang ngontrak selama dua tahun.

Hampir setahun terakhir ini, kami habiskan juga untuk mencari rumah idaman. Kami sempat suka banget daerah belakang terminal Kampung Rambutan dan aku sendiri sempat jatuh cinta dengan rumah second di daerah Perumahan Bulog Pondok Gede sana. Rumah tiga kamar yang cukup luas dengan luas tanahnya 180 meter persegi. Rumahnya masih rumah asli, belum direnovasi sama sekali, jadi kami bisa membentuk jadi apa saja sesuai keinginan kami. Aku benar-benar jatuh cinta dengan rumah itu. Lingkungannya pun asri dan tetangga-tetangganya sepertinya asik. Jalur tempuhnya pun mudah dengan adanya JORR, keluar pintu tol langsung belok kanan 10 meter, masuk deh ke perumahan itu.

Berkali-kali kami mendatangi daerah itu dan kupikir keputusan suamiku tentang rumah yang mana sudah meruncing. Kami pun sudah menghitung-hitung berapa dana cash yang kami butuhkan. Ternyata masih kurang dan kalau bertahan dengan pilihan rumah yang ada, maka satu-satunya cara adalah menjual rumah Kediri. Kupikir suamiku sudah setuju dan mulai menawarkan rumah itu melalui Mertuaku. Tapi apa yang terjadi? Malah dikontrakkan selama 2 tahun.

Jadi rumah idamanku....bye...bye...

Buat apalah gondok-gondok sendiri seperti ini. Toh aku juga sudah memutuskan, bahwa urusan rumah biar suamiku yang menentukan. Aku lepas tangan saja....

Jadi yang kupikirkan saat ini adalah yang sekarang benar-benar ada di tanganku...Apartemen Menteng Square....biarpun rusun sederhana selonjorpun sempit sekali....ini sudah pasti jadi milik kami untuk kami tinggali. Benar-benar dekat dengan kantor dan sekolah anak-anak dan tanpa macet... Perkara nanti ga akan ada isinya karena ga cukup diisi apa-apa, ga masalah...yang penting kami bisa tinggal disitu. Menurut perjanjian jual beli yang kemarin ketandatangani, serah terima lokasi adalah 30 Juni 2012...wedew..masih lama ya.... ya udahlah..toh masih ada rumah dinas ini. Asal ga ada surat pengusiran lagi aja....bisa stress mendadak aku...
Read More..

Jumat, Juli 30, 2010

Uang Asia Pasifik Koleksiku


Seperti yang pernah kuceritakan, waktu aku di Manila dulu, aku mengumpulkan beberapa mata uang kertas negara-negara Asia Pasifik sebagai souvenir.

Aku sudah browsing di www.banknotes.com dan aku dapat gambar mata uang yang sama persis dengan koleksiku. Dan akhirnya aku menemukan mata uang negara mana yang tulisannya bukan latin sehingga menyulitkanku mengingat-ingat dari teman yang mana mata uang kertas ini.

ASIA
10 Rupees Pakistan

100 Rupees Srilanka

10 Rupees India

5 Rufiyaa Maldives

10 Taka Bangladesh

100 Rupees Nepal

1000 Kyats Myanmar

10 Bath Thailand

1 Ringgit Malaysia

20 Piso Philiphine

5000 Kip Laos

1 Lari Georgia

10000 Manat Turkmenistan

1000 Sum Uzbekistan

10 Tyn Kyrgyzstan

5 Som Kyrgyzstan


PASIFIC

200 Vatu Vanuatu

5 Dolars New Zealand


Kesulitan yang cukup berarti kualami ketika mengidentifikasikan mata uang dari Nepal, Laos, Uzbekistan, dan Kyrgyzstan. Terutama yang 5 Som Kyrgyz...aku cukup pusing mengira-ngira darimana uang kertas ini karena aku tidak ingat sama sekali bahwa teman Kyrgyz-ku itu memberiku 2 lembar uang.

Eniwei, aku ingin menata uang-uang itu dalam satu pigura sehingga bisa jadi hiasan dinding. Untuk mengingatkanku agar jangan jadi katak dalam tempurung... Agar selalu ingat betapa luas dan beragamnya dunia ini...

Sebenarnya masih banyak teman lain yang tidak sempat memberi mata uang mereka, ada yang selalu saja lupa membawanya dan memintaku menelpon kamarnya untuk mengingatkan. Tapi giliran kutelepon, dia selalu saja tidak di kamar (Mongolia, dan Azerbaijan). Salahku juga sih, minta souvenirnya menjelang pulang, jadi semua sibuk dengan urusan beli oleh-oleh

Ada yang membawa mata uang yang paling besar (setara US 10 dolar), yang rencananya akan dia gunakan untuk taksi pulang dari bandara sehingga tidak bisa memberikannya padaku (Afganistan).

Ada yang ga punya mata uang sendiri tapi menggunakan dolar Australia (sebagian besar Negara Pasifik) atau dolar Amerika (Timor Leste). Ada yang memang ga membawanya dan ada juga yang terlalu pendiam sehingga aku ga berani mintanya (Bhutan dan Tajikistan)..hahahah...

Dan inilah wujud asli uang-uang kertas koleksiku...


Read More..

Mendadak Puitis



Ketika rasa egois itu membakar seluruh nalarku, senyum tulus mereka mampu memadamkan apinya...

Ketika kurasa bagai berkubang dalam kesedihan yang tak berkesudahan, tawa riang mereka menarikku perlahan-lahan

Ketika kurasa tak ada guna hidupku ini, pelukan hangat mereka mampu membuatku menyadari tujuan hidupku

Oh buah hatiku....untuk kalianlah aku berjuang tuk berubah
Berubah jadi lebih baik untuk kalian jadikan panutan

Oh belahan hidupku...untuk kalianlah kupadamkan panas membara didadaku
Agar kalian tak ikut terbakar dalam pelukanku

Doakan Bundamu yang lemah ini..
Agar senantiasa kuat menemani hari-hari kalian

Betapa Bunda sangat membutuhkan kalian.....


=======================================

Doooh...aku tak pernah bisa menyusun kalimat-kalimat rapi sebelumnya. Betapa aku mengagumi orang-orang yang bisa menyusun kata-kata yang menggugah perasaan.

Aku pernah baca di blog-nya Raditya Dika saat dia in-love ama Sherina tentang:

"Kata orang, kalo mau ngeblog,
tulislah perasaan paling kuat yang lagi kamu rasakan"


Dan hari Rabu kemarin aku mengalami satu perasaan yang kuat (walau aku tidak bisa mendefinisikan apa) dan tanpa dapat dibendung tertulislah kata-kata di atas di HPku. Itupun ga ada judulnya.


Read More..

Kamis, Juli 29, 2010

Perkembangan Apartemen Menara Salemba Batavia

Setelah setahun lebih ga ada perkembangan berarti, akhirnya kemarin aku sudah mengikat perjanjian kredit KPA untuk Apartemen Menara Salemba Batavia. Karena ada perhitungan ekonomis maka nama apartemen itu berganti menjadi Menteng Square.... Kedepannya ga cuma apartemen saja di tiga tower kawasan itu. Dari awal memang konsumen diberitahu bahwa lantai 1-5 semua tower akan dijadikan kawasan bisnis, jadi ga jadi masalah buatku perubahan nama dan peruntukan lantai 1-5 itu.

Ada tiga tower dalam kawasan itu, tower Sunda Kelapa (yg ke arah matraman), tower Batavia (yang tengah) dan tower Jayakarta (yg arah pramuka). Lantai 1-5 tower Sunda Kelapa akan jadi kawasan perkantoran dengan tengah lantai dasar merupakan fasum lapangan olahraga, sedang tower Batavia akan jadi Pusat Perbelanjaan dengan tengah lantai dasar adalah fasum taman, dan tower Jayakarta akan jadi hotel dengan tengah lantai dasar adalah kolam renang.

Kami dari awal memilih tower Jayakarta, dapetnya lantai 19 dan memilih nomer idaman dengan view arah Senen. Entahlah...suamiku memilih daerah berview Senen dengan pertimbangan arah angin dan matahari sehingga memutuskan view itu yang paling nyaman.

Jadi, ketika awal kami booking apartemen itu, marketingnya (century) tidak memberi informasi yang lengkap sehingga harga yang diterangkan saat itu hanya Rp144 juta. Tidak diterangkan mengenai biaya lain-lainnya, dan karena kami belum pernah tanya-tanya tentang perumahan lain, maka kami pun pasrah aja ga banyak tanya.

Pada waktu melunasi booking fee, kami dikenai surcharge sebesar Rp43.5 juta untuk membangun fasilitas tambahan. Sebelumnya kami sempat pesen dua unit, tapi karena adanya surcharge itu jadi hanya mampu beli satu unit saja.

Dan ketika hampir akad (minggu lalu) kami diinformasikan biaya-biaya tambahan yang harus kami bayar lagi...sigh....
PPN 10% Rp14.4 juta karena kami tidak berhak mendapatkan subsidi
biaya sertifikat dan lain-lain Rp7.35 juta
biaya provisi bank dan lain-lain Rp8.5 juta...
Bisa dibayangkan kagetnya kami bahwa masih banyak biaya-biaya lain yang harus kami keluarkan. Akhirnya keluar jurus andalan....minta dicicil 6 bulan...hehehehe (kecuali biaya bank yang harus tersedia sebelum KPA disetujui).

Ada temen kantorku yang tidak harus membayar lagi PPN 10% itu karena sudah dimasukkan ke harga beli. Lebih enak begitu kan? sehingga dari awal semua DP dan KPA dihitung dari harga plus PPN yaitu Rp158.4 juta....lebih meringankan.

Saat penjelasan dari pihak bank itulah tragedi airmata tumpah saat argueing masalah rekening tabungan terjadi. Jadi begini, dari awal kami berniat bahwa suamikulah yang akan membayar cicilan apartemen ini dan karena beliau sudah punya rekening BNI maka rencanaku biar rekening itu yang nantinya di-autodebet untuk membayar cicilan per bulan. Ringkas, kan? Toh ketika akad, surat nikah asli mesti dibawa dan pasangan juga harus ikut hadir dan tandatangan semua berkas. Jadi daripada aku harus membuka rekening baru lagi yang akhirnya harus diisi juga oleh suamiku setiap bulan, kan lebih ringkas jika langsung memotong dari tabungan suamiku. Toh gaji suamiku masuknya ke BNI sehingga human error karena lupa transfer bisa dihindari.

Ternyata, rencanaku itu tidak diperbolehkan, karena nama yang ngajuin KPA adalah namaku, jadi autodebet-nya juga harus direkening atas namaku. Setelah argueing ini itu, akhirnya mau ga mau aku tetap harus buka tabungan....sigh....dasar bank-nya saja yang ingin memperluas cakupan customer baru....makanya harus rekening atas nama yang ngajuin...dan sebagai pihak yang butuh...ya konsumen harus nurut...

Eniwei..masalah kekhawatiran human error (lupa transfer) itu bisa diatasi dengan mengajukan autotransfer dari rekening suamiku ke rekening baruku tadi....mengingat kebiasaanku dan suamiku...kami sangat sadar bahwa lupa transfer itu bakal terjadi. Dengan semuanya serba auto seperti itu....ya kalo ada keterlambatan berarti banknya yang salah...

Ngomong-ngomong tentang lupa bayar, bulan ini simcard-ku sempat keblokir karena lupa bayar tagihannya....hahahaha...bayangkan betapa bingungnya aku ketika berkali-kali sms gagal terus dan baru tau kalau keblokir setelah telpon keluar. "Anda tidak dapat melakukan panggilan keluar karena telpon Anda diblokir"..itupun ga langsung mudeng kalau penyebabnya adalah belum bayar tagihan.

Satu hal yang kuperhatikan ketika akad kemarin, yaitu betapa muda-mudanya para pembeli apartemen ini. Hampir semuanya suami istri dan sepertinya belum punya anak atau sedang hamil. Dengan kondisi pasangan muda maksimal satu anak, apartemen ini terasa mencukupi. Tapi apabila sudah beranak tiga dan sudah SD seperti aku ini, apartemen itu akan terasa sesak dan ga banyak barang yang bisa masuk.

Waktu melihat unit contoh tahun lalu, aku bertanya ke petugasnya, dimana harus naruh kulkas dan mesin cuci dan hanya dijawab dengan tawa....sigh....

Bayangkan sajalah 33 m2 sudah mencakup 2 kamar tidur, kamar mandi, ruang tengah dan dapur.....mau kearah mana saja ga lebih dari 5 langkah.....

Tapi sepertinya, dengan lokasi yang sangat dekat dengan kantorku, maka bisa menjawab doaku agar aku tidak terlalu banyak menghabiskan waktu dan energi di tengah macetnya Jakarta. Jadi aku bisa lebih konsentrasi menemani anak-anakku belajar...

Semoga semuanya bisa berjalan dengan lancar.
Read More..

Kebetulan-Kebetulan

"Jika kebetulan-kebetulan terjadi terlalu banyak dan cocok satu sama lain, apakah kita tetap percaya bahwa itu adalah serangkaian kebetulan belaka?"

Manjali dan Cakrabirawa
a novel by Ayu Utami


Aku baru saja selesai membaca novel Ayu Utami yang terbaru. Banyak resensi yang bilang bahwa Ayu Utami terjebak pada penjelasan berlebihan mengenai G 30 S PKI dan terlalu berulang-ulang menceritakan sisi lain atau sudut pandang lain dari peristiwa 1965 itu.

Walaupun aku juga merasakan keberulang-ulangan itu, tapi menurutku tidak terlalu menganggu jalan cerita yang ingin dijelaskan Ayu Utami...(hmmmm...atau aku yang udah terlanjur suka Ayu Utami ya..sehingga memaklumi semua usaha pencerahan dia?).

Eniwei, bukan itu yang jadi bahan pemikiranku kali ini, tapi mengenai kutipan kalimat di atas yang juga berulang-ulang disampaikan sehingga membuatku berpikir dalam tentang "kebetulan-kebetulan" yang kualami akhir-akhir ini.

Di novel itu dijelaskan, bahwa jika terlalu banyak kebetulan seperti itu, seorang ilmuwan akan mencari pola-pola yang ada, sedangkan orang beriman akan mencari rencana Tuhan...

Kebetulan-kebetulan yang kualami, pada akhirnya sungguh meruncing kepada satu kesimpulan saja dan itu membuatku luar biasa takut...atau khawatir?..

Beberapa hari sebelum aku menemukan info yang bikin aku syok, aku membaca tentang sebuah artikel di majalah tentang keuangan keluarga. Ada satu contoh disitu yang mirip sekali dengan apa yang aku lakukan, ternyata berakhir menyedihkan. Aku tidak lagi memikirkan tentang artikel itu sampai aku tanpa sengaja menemukan info yang bikin syok itu. Seperti yang kuceritakan sebelumnya, aku benar-benar kaget sehingga pertahanan fisikku lemah dan aku jatuh sakit.

Kemudian, email ngaco dari teman mayaku membuatku membulatkan tekad untuk melupakan dua kebetulan itu.

Tapi membaca novel Ayu Utami dengan definisi kebetulan-kebetulan itu, ditambah kemarin aku menemukan satu kebetulan lagi, membuatku jadi teringat kembali akan kekhawatiranku...maka berurailah air mataku dihadapan tiga orang asing hanya karena argueing masalah rekening tabungan... Sungguh kasihan orang asing itu yang melihatku dengan tampang bingung saat aku tidak bisa menahan air mataku. Mungkin mereka berpikir, hanya untuk ga mau buka rekening baru lagi, perempuan ini menangis sedemikian rupa?...betapa lemahnya..

Aku menyalahkan jarak yang terlalu dekat antara menemukan kebetulan baru lagi dengan argueing masalah tabungan itu yang membuatku ga bisa menahan diri untuk tidak menangis....sigh...betapa memalukan. Tau kan betapa cepatnya pikiran di otak berkelebat menghubung-hubungkan semua kejadian? Itulah yang terjadi sehingga semuanya meledak menjadi airmata...

OK, setelah sehari semalam mengendapkan semua masalah..aku benar-benar berpikir harus menyelesaikan semua kebetulan ini agar tidak memberati pikiranku.

Jadi haruskah aku melihatnya dari sudut pandang ilmuwan dengan mencari pola-pola dari kebetulan itu dan sengaja mencari kejadian lain untuk mencari pola? Atau sebagai orang yang beriman, aku cukup menunggu rencana Tuhan dan menerima apa yang akan terjadi dengan lapang dada?

Dua-duanya tetap saja akan membuatku sakit....

atau lebih baik aku menjadi orang biasa saja yang menganggap bahwa kebetulan-kebetulan itu hanya suatu kebetulan..ga ada arti yang lain....dan berpikir seperti teman mayaku tadi...GET OVER IT.....

Ya....GET OVER IT....
Read More..

Senin, Juli 26, 2010

Pengumpul Uang



Waktu aku training ke Manila tahun 2007 lalu, aku bertemu dengan teman-teman dari seluruh negara berkembang di Asia yang merupakan anggota ADB. Sungguh menyenangkan bertemu dengan orang-orang dari berbagai negara dan cukup membuka mataku tentang geografi Asia.

Aku jadi menyadari bahwa Kepulauan Pasifik itu terdiri dari berbagai negara, dari Palau, Tonga, Cook Island, Fiji Island, Tuvalu, Vanuatu, Micronesia, Solomon Island, Marshall Island (apalagi ya..?). Aku juga jadi mengerti bahwa terdapat negara negara STAN (berakhiran STAN, seperti Turkmenistan, Uzbekistan, Kazakstan, dan STAN yang lain) yang dulunya tergabung dalam Uni Soviet. Aku juga tau bahwa Maldives, satu negara kecil di bawah Srilanka, adalah negara yang memiliki pantai terindah di dunia.

Woaaa...pokoknya sebelum ke Manila dulu, aku bagaikan katak dalam tempurung, yang taunya cuma negaranya sendiri. Aku baru menyadari betapa luasnya dunia di luar sana dan betapa beragamnya orang-orang dan budayanya...

Kenapa tiba-tiba aku menulis lagi tentang hal yang telah berlalu 3 tahun yang lalu? Karena beberapa hari yang lalu aku membersihkan laci lemariku dan menemukan uang kertas dari berbagai negara yang dulu aku kumpulkan. Ketika menjelang berakhirnya training tersebut, iseng-iseng aku tukeran uang kertas negara masing-masing. Saat itu ada beberapa uang baru 5000an di dompetku dan aku tuker uang itu dengan uang kertas negara mereka. Aku hanya punya beberapa lembar 5000an sehingga tidak semua teman-temanku mendapat ganti mata uang rupiah. Tapi kebanyakan, dengan sukarela memberi aku kenang-kenangan mata uang mereka. Mereka menyebutku, padagang mata uang...:)

Sekarang setelah aku lihat-lihat lagi, berbagai mata uang itu, aku cukup kesulitan mengingat lagi..mata uang ini darimana. Ada banyak mata uang yang tidak menyebutkan nama negaranya, ada juga yang tulisannya bukan latin sehingga aku tidak bisa membacanya.

Jadi teringat bahwa aku harus menata ulang lagi uang-uang ini dan mencari asal negaranya. Sungguh koleksi berharga yang seharusnya kudokumentasikan dengan baik.

Nanti...kalau sudah tercatat dengan baik akan aku dokumentasikan disini.
Read More..

Jumat, Juli 23, 2010

Dan Masalah Javas pun Dimulai....

Hari ketiga sekolah minggu lalu, Javas sudah off karena panas tinggi. Baru masuk lagi senin minggu ini, dan perjuangan hari senin itu adalah membangunkan Javas dan membuat dia bergegas mandi. Dengan berurai air mata dia berteriak, "Aku ga mau sekolah, aku ga suka di MI. Di MI susah, belajar terus. Aku mau di RA saja" (sigh...yang pertama)

Hari Rabu, ketika aku minta jadwal pelajaran pada gurunya karena minggu sebelumnya Javas ga sekolah, guru kelas berkata "Bu, Javas makannya susah...juga susah diminta menulis. Tolong dimotivasi di rumah ya Bu" (sigh...yang kedua)

Hari Kamis, aku minta pengasuh di TPA untuk lebih aktif meminta anak-anak melakukan kegiatan yang bermanfaat. Semenjak tahun ajaran ini, kelas 1 sampai 3 hanya belajar di sekolah sampai pukul 13.00, tidak 14.30 seperti tahun lalu, sehingga akan banyak menghabiskan di TPA. Untuk Detya dan teman-teman bisa lebih banyak belajar Iqro, karena jam belajar Iqro di sekolah berkurang. Untuk Javas, setelah malam sebelumnya saling mengingatkan untuk lebih serius berlatih membaca dan menulis, aku sudah bawakan buku aktivitas agar Javas banyak berlatih dan meminta pengasuh TPA untuk menemani Javas berlatih. Apa yang terjadi? Pukul 15.30, Detya telpon cerita bahwa Javas tantrum, teriak-teriak ga jelas minta mainan....acara berlatih baca tulis?...buyar begitu saja. (sigh..yang ketiga)

Hari ini, aku sudah menjanjikan kepada Detya dan Javas untuk belajar memelihara binatang dengan membeli entah binatang apa nantinya, di Flona Lapangan Banteng. Setelah Javas tantrum kemarin aku berdiskusi dengan suamiku, dan menurut suamiku di TPA kegiatan bermainnya ga banyak pilihan karena peralatanpun ga ada. Jadi kami berpikir, dengan memberi binatang peliharaan (mungkin kura-kura atau keong atau hamster...suamiku menyarankan ULAR...hah?), kami harap kegiatan Javas di TPA lebih beragam sehingga mengurangi kefrustasian dia akan mainan....

Jadi, siang ini sepulang sekolah kami akan langsung ke FLONA. Aku sudah meminta Javas, dengan adanya binatang peliharaan ini, dia akan berusaha lebih fokus berlatih baca tulis.

Semoga berhasil...

Ngomong-ngomong, ternyata mertuaku juga prihatin masalah sosial emosi Javas ini yang memang terlihat belum siap memasuki dunia SD. Mertuaku ini mantan Guru SD, sehingga memahami bagaimana dunia anak SD dan menilai Javas belum siap memasukinya. Berulang kali telpon suamiku menanyakan bagaimana perkembangan Javas dua minggu ini.

Detya sendiri kuperhatikan tidak ikut campur sama sekali dalam urusan Javas sehingga kekawatiranku tentang ketergantungan Javas pada Detya, bisa kusingkirkan.

Kalau sudah begini, aku sangat berharap punya tempat tinggal dekat kantor sehingga waktu tidak habis di jalan menghadapi macet dan bisa kukonsentrasikan untuk menemani Javas belajar. Hampir seminggu ini aku naik jemputan sehingga bisa sampai rumah lebih sore. Tapi tetap saja karena sepanjang perjalanan ajrut-ajrutan naik jemputan (puanas, goyang-goyang...mabok..), sampai rumah pun langsung kelenger ga bisa fokus belajar.

Hmmm...ga bisa hanya terus mengeluh seperti ini...harus cari solusi......*berpikir keras....*

Sigh...apa ya?
Read More..

Senin, Juli 19, 2010

Menghadapi Masalah

Ada banyak cara yang kulakukan ketika aku dihadapkan pada satu masalah besar. Sebagian besar aku selesaikan diam-diam tanpa ada pihak lain yang tau, cukup aku dan partner in crime saat aku tertimpa masalah itu saja.

Aku tau problem itu sangat berat dan tidak seharusnya kuselesaikan sendiri. Tapi egoku yang luar biasa tinggi menyebabkan aku ga ingin merepotkan orang lain atau juga agar ketika akhirnya usai, dampak kerusakannya minimal.

Dulu, waktu kuliah aku pernah menyelesaikan masalah beratku sendiri (dengan partner in crime itu tadi). Dari mencari informasi, melaksanakan hajat itu dan cooling down kami selesaikan berdua saja. Aku yakin, ga ada yang bisa menduga bahwa aku mendapat masalah besar kalau aku tidak menceritakannya.

Masalah hampir sama juga muncul ketika aku bekerja. Dengan partner in crime yang baru, selesai juga masalah itu. Ada seorang yang kuberi tau, tapi ternyata itu hanya jadi langkah salah saja. Semakin sedikit yang tau maka semakin kecil juga tingkat kerusakannya.

Saat ini, aku mendapat masalah yang lain. Sayangnya, aku ga punya partner in crime untuk kuajak berembug nyari solusi. Untuk menyelesaikan sendiri aku ga punya energi. Akhirnya, aku mengemail teman mayaku yang ga pernah kukenal dengan baik. Kupikir, semakin random partner in crime-ku kali ini, maka dampak kerusakannya akan minimal. Sungguh, pilihan pertamaku ini kulakukan karena kemiripan masalah dengan apa yang dilakukan teman mayaku ini. Walau kadar teman mayaku ini jauuuuuh lebih parah. Dan memang, solusi yang dia tawarkan bikin aku ketawa ngakak....melupakan masalah yang sebelumnya seakan-akan memberati kepalaku dan bikin mau pecah saja...

OK, aku ga akan melakukan satupun saran yang dia tawarkan kecuali satu hal....GET OVER IT.... Entah mengapa, walaupun aku tau bahwa aku harus melupakan detil masalah itu segera, aku ga dapat melakukannya sampai aku menerima saran ngawur temanku itu. Seenggak-enggaknya...dia bisa mencerahkan hariku walau ga memberi saran yang bermutu.

Hasilnya, aku bisa tersenyum dan bisa segera kembali berpikir positif.
Read More..

Sakit Semua

Minggu lalu adalah minggu yang aneh buatku. Setelah selasa dan rabu terpaksa off dari kantor, aku masih saja ngerasa belum fit bahkan sampai sekarang.

Lalu hari Rabu-nya, Javas menyusul panas tinggi, Kamis Wisam kena cacar air, Jumat suamiku demam juga dan terakhir Malam Minggu, Detya juga panas tinggi.

Jadi, malam minggu itu, semua orang di rumah sedang panas. Dari panas yang slemenget sampai panas tinggi...semua ada..

Seharusnya, Sabtu itu ada acara family gathering di kantorku. Kami sudah mempersiapkan even ini sejak jauh-jauh hari. Kami maksudnya termasuk aku sebagai salah satu seksi sibuk. Ternyata dari awal minggu aku sudah jatuh sakit, ditambah kekacauan pendanaan di awal minggu membuat kami kalang kabut menyusun ulang semua rencana pembiayaan. Alhamdulillah semua akhirnya beres.

Dan Detya yang hari Jumat masih baik-baik saja, rewel terus menginginkan untuk ikut bergabung di acara gathering itu. Dia berharap bisa ikut bergabung berdua saja denganku. Aaaa...walaupun aku ingin juga bergabung, tapi kondisi Javas yang ga jelas sakit apa walaupun sudah ke dokter anak dan Wisam yang semakin parah cacarnya membuatku harus menolak keras rengekan Detya.

Aku tau lokasi gathering ini cukup mengundang keingintahuan Detya. Pulau Bidadari...salah satu Kepulauan Seribu yang paling dekat dengan Jakarta. Cukup 20 menit dengan speedboat maka sudah bisa sampai kesana. Seluruh cottage yang sejumlah 49 cottage kami booking semua. Aku dapat kamar yang ada di tengah pantai...special request...yang ternyata ga kutempati juga...



Dari cerita teman-teman pagi ini, rupanya acara berjalan sukses....suasana yang mendung membuat acara gathering jadi nyaman. Padahal di tempatku sepanjang sabtu siang sampai malam, hujan deras ga berhenti-henti. Doorprize yang kita siapkan agar menarik dengan hadiah yang lemayan diinginkan (panitia ngarep juga maksudnya) ternyata jatuh ke tangan pegawai-pegawai bujang. Ada TV LCD, kulkas, microwave, voucher menginap..untuk doorprize utama. Atau yang kecil-kecil bangsa sprei, lunch box lock & lock dan lain-lain.

Benteng Mortello


Pantai Pulau Bidadari

Sudahlah....mungkin lain kali jika punya rizki berlebih, kami bisa main-main ke Kepulauan Seribu yang lain... Toh aku sudah dapat ikut surveynya walaupun ga ikut acaranya...hahahaha...menghibur diri ceritanya....
Read More..

Senin, Juli 12, 2010

Campur-Campur di Hari Pertama Sekolah

Akhir minggu lalu, aku mengalami berbagai kejadian yang membuat emosiku berubah-ubah. Dari kesedihan dan kekosongan mendadak atas kabar meninggalnya Zeverina, ditambah kesedihan dan kehilangan yang telah terencana atas pulangnya adikku, dan syok mendadak atas suatu informasi yang tidak bisa aku ceritakan disini. Akibatnya minggu pagi kondisiku langsung drop, aku demam.

Padahal hari minggu itu aku harus menjemput Detya dan Javas di Terminal Rawamangun setelah berlibur di rumah Neneknya di Kediri. Melihat persiapan suamiku, rupanya beliau ingin langsung mengajak anak-anak jalan-jalan…..

Untung saja setelah menyampaikan bahwa aku belum mempersiapkan perlengkapan sekolah anak-anak sama sekali, suamiku akhirnya mau langsung pulang

Dengan kondisi yang semakin parah, akhirnya semua urusan persiapan sekolah beres dan kami bisa beristirahat bersama-sama.

Senin pagi ini, semua rutinitas sudah kembali. Detya memulai kelas duanya, Javas memulai hari pertama masuk MI dan Wisam masuk Kelompok Bermain di dekat rumah. Kami berbagi tugas, suamiku mengantar Detya dan Javas sekolah sekaligus menghadiri pertemuan orang tua, aku mengantar Wisam memasuki sekolah pertamanya di dekat rumah.

Dan aku, masih dengan demam yang sama, memulai rutinitas pagi itu tanpa adikku. Biasanya, adikku yang membantu anak-anak menyiapkan pakaiannya serta memotivasi mereka untuk mandi mandiri. Aku bagian menyiapkan bekal dan sarapan pagi. Tadi malam, aku dan anak-anak sudah mulai menyiapkan pakaian dan tasnya. Jadi pagi ini tinggal menyiapkan bekal dan sarapan serta mempersiapkan mandi pagi.

Urusan persiapan pagi beres, bahkan aku masih sempat tidur lagi setengah jam sebelum berangkat mengantar Wisam. Dan rupanya aku salah perhitungan, karena Wisam ternyata tidak langsung bisa bergabung dengan teman-temannya, dia butuh waktu untuk beradaptasi. Sebelumnya ketika Wisam harus ke TPA kantor, dia gampang sekali beradaptasi dan bisa langsung kutinggal saat itu juga. Aku pikir, dia bisa juga cepat beradaptasi di sekolah barunya ini, namun ternyata dia masih butuh waktu. Baru ketika hampir pulang dia menunjukkan minatnya untuk bergabung dengan gurunya.

Semoga besok lebih baik lagi. Pada dasarnya, Wisam butuh seseorang yang dia tau untuk dapat bergabung di kelompok baru. Waktu di TPA, dia sudah cukup familiar dengan Syafa, sehingga ketika ada Syafa, dia bisa langsung bergabung. Selanjutnya dia cukup dekat dengan Bu Dewi, salah satu guru di TPA, sehingga ketika sudah di TPA dia akan bergabung dan dengan ringan..cium pipiku dan langsung dadah dadah.

Aku masih belum tau bagaimana pagi ini dengan Detya dan Javas, yang jelas suamiku sempat memintaku langsung bergabung di pertemuan orang tua karena materinya menarik. Tapi karena aku masih dalam perjalanan menuju kantor dengan kondisi yang masih tidak keruan maka aku tidak bisa bergabung.

Semoga besok keadaan juga bisa selancar ini dan ketergantunganku pada adikku bisa teratasi. Sebenarnya bukan masalah bantuan fisik adikku yang menjadi berat karena dengan bangun lebih pagi, atau disiapkan sebisa mungkin di malam hari maka semua kesibukan pagi akan dapat teratasi. Tapi lebih ke dukungan moril dari adikku yang menjadikan aku tergantung padanya, dukungan itu yang bisa membuatku bersemangat menjalani hari-hariku. Seperti yang kubilang, adikku ini adalah sahabat terbaikku dan kami bisa bicara apa saja tanpa kendala. Tanpa adikku dan aku dapat info yang bikin aku syok saja, aku langsung demam....(eh...engga ding....ini sudah takdir Allah bahwa aku harus sakit....harus istirahat...).

Eniwei, tadi malam rupanya aku baru tau bahwa adikku meninggalkan bingkisan buat anak-anakku disertai ucapan selamat tinggal karena tidak sempat berpamitan langsung. Adikku berangkat sabtu, sedangkan anak-anaknya sampai minggu. Maka berurai airmatalah aku membacakan pesan Tante buat Javas dan mendengar Detya membaca pesannya sendiri.

Ah sudahlah...kalau hanya memikirkan apa yang sudah terjadi ga akan menghasilkan apa-apa. Lebih baik merelakan saja semua yang telah terjadi termasuk info ga berguna itu dan maju menghadapi masa depan....(semoga bisa...). Dari status adikku pagi ini saja aku tau bahwa adikku telah memulai langkah pertamanya....maka aku pun harus bersiap diri dan selalu berpikir positif....

TETAP SEMANGAT.....

Read More..

Jumat, Juli 09, 2010

Kepulangan Adikku

Rasanya ga bosan-bosan aku cerita tentang adikku ini. Dulu aku pernah cerita tentang betapa tergantungnya aku kepada adikku ini dan aku juga pernah cerita betapa bersyukurnya aku ketika adikku tetap cari pengalaman di Jakarta dengan menjadi shadow teacher untuk anak berkebutuhan khusus.

Nah kali ini aku mau cerita bahwa adik perempuanku ini, besok siang akan pulang kampung untuk selamanya. Ya...besok siang, setelah satu tahun menunda keputusannya karena masih ingin menambah pengalamannya, kali ini dia benar-benar akan pulang kampung.

Senin kemaren sebagian besar barang-barangnya sudah dikirim via paket. Termasuk sepeda kayuh yang dulu sering kami pakai bergantian untuk bike 2 work ciledug - lapangan banteng. Sedangkan buku-buku dan barang tidak mendesak lainnya juga dipaketin dalam 2 kardus besar seberat 30kg lebih. Tapi, tadi pagi dia masih mengeluh bagaimana harus packing untuk keberangkatan besok karena ternyata masih banyak barang yang belum terbungkus.

Adikku sudah merencanakan keberangkatannya pada tanggal 10 besok ini sejak jauh-jauh hari. Aku, tentu saja berusaha tidak terlalu memikirkan kepergian adikku ini, karena jika kupikirkan pasti aku akan merasa sediiiih sekali. Adikku ini bagiku adalah teman yang sangat menyenangkan, sahabat yang selalu tau bagaimana harus bersikap menanggapi seluruh keluh kesahku. Aku bisa berbicara tentang apa saja pada adikku ini. Rasanya adikku ini ya diriku sendiri. Artinya gini, mungkin karena terbawa 5 tahun hidup bersamaku, dia jadi tau bagaimana aku dan terbawa dengan nilai-nilai yang jadi acuan hidupku. Jadi ketika membicarakan sesuatu, kami selalu seide sehingga seakan-akan aku berdiskusi dengan diriku sendiri.

Aku bisa diskusi tentang novel-novel yang sama-sama kami baca...tentang perkembangan anak-anakku...tentang keinginan-keinginan suamiku yang harus dilaksanakan...tentang perasaan kami terhadap orang tuaku...tentang pekerjaan...tentang teman-teman...tentang segala hal. Bahkan aku sendiri ga pernah diskusi tentang novel dengan suamiku karena beliau bukan pembaca, dengan adikku ga ada yang ga bisa dibicarakan.

Ya, saat menuliskan ini aku merasa sedih sekali...dadaku terasa sesak menahan air mata (berhenti 5 menit untuk benar-benar menangis). Rasanya dari 5 tahun kebersamaan kami, hanya aku yang mendapat keuntungan maksimal..aku mendapat bantuan penuh mengurus anak-anakku...aku mendapatkan pendengar yang baik yang selalu mendengarkan keluh kesahku......rasanya aku lebih banyak berbicara padanya daripada mendengarkan dia...

Sampai saat ini aku tidak tau bagaimana kehidupan pribadinya..aku ga tau bagaimana tipe lelaki yang dia idamkan...aku ingin sekali mencarikan jodoh buatnya tapi aku juga kawatir jadi terlalu turut campur dalam urusan pribadinya. Sudah cukup lima taun ini aku merepotkannya...jangan sampai aku jadi pribadi yang selalu turut campur atas hidupnya.

Jadi adikku tersayang..jika kau lihat beberapa hari ini aku sepertinya menganggap biasa-biasa saja rencana kepergianmu itu....jangan merasa bahwa itu karena aku tidak memperdulikanmu...itu kulakukan agar aku tidak membebanimu dengan kesedihanku...

Cukup kau dengar dari ibu saja, keluh kesah beliau yang berat hati karena kamu meninggalkanku... aku tidak berkeluh kesah..aku mendukung semua rencanamu...

Gapailah cita-citamu....teruskan pendidikanmu...jangan pernah ragu, karena apapun yang terjadi aku akan mendukungmu 100%....

Love you always my little sister....




Read More..

Kamis, Juli 08, 2010

Mengenang Zeverina

Bagi penggemar KOKI (Kolom Kita), Zeverina adalah nama yang pasti disebut dengan antusias, karena beliaulah yang menggawangi Kolom Kita dari awal sampai saat terakhirnya.

Kenal KOKI pertama kali sekitar pertengahan 2006, dan menjadi pembaca setianya sampai saat ini. Waktu itu KOKI hanya satu kolom kecil bagian dari Artikel Kesehatan di Kompas.com, isinya tentang pengalaman orang-orang Indonesia yang tersebar di seluruh dunia. Satu penerbitan bisa terdiri dari 3 artikel dan terbitnya 3-4 kali seminggu. Lama-lama jadi semakin banyak artikel yang tertampung setiap kali upload edisi baru. Artikelnya berisi segala macam rupa tulisan karena konsepnya adalah Citizen Journalism, Siapa Saja Menulis Apa Saja. Pembaca diberi kesempatan untuk berkomentar.

Waktu itu aku sama sekali belum mengenal dunia blogging, jadi KOKI adalah satu-satunya wahanaku dalam membaca tulisan orang lain. Setelah setahun lebih membaca KOKI, awal 2008 aku mencoba mengirimkan tulisan tentang pengalaman lucuku waktu SMA untuk KOKI Hahahihi, satu bagian dari KOKI yang berisi tentang pengalaman-pengalaman lucu. Dan hanya beberapa hari setelah tulisan 2 paragraf itu kukirim, ternyata langsung diupload oleh Zeverina untuk edisi terbaru. Saat itu, aku teringat ketika hari minggu sedang jalan di sebuah mall dan melihat ada warnet, maka aku langsung buka Kompas.com untuk mencari KOKI terbaru, betapa senangnya saat itu, senyam-senyum sendiri ketika melihat artikelku muncul. Lalu sejak saat itu, berusaha mencari topik menarik untuk ditulis dan dikirim ke KOKI. Waktu itu hit KOKI bisa sampai 3 juta lebih perhari yang berasal dari seluruh pelosok dunia, dan penulis yang mengirim artikel sungguh sangat banyak sehingga sangat sulit untuk bisa menembuskan artikel di KOKI untuk ditayangkan.

Baru pada bulan April 2008, aku memulai dunia per-blogging-an. Walau tetap mengikuti KOKI sebagai bacaan utama dan tetap berusaha mengirim salah satu tulisan di blog untuk KOKI, tapi hasrat menulis sudah tertampung melalui blog. Jadi tidak terlalu ngoyo lagi untuk mengirim artikel ke KOKI.

Aku juga mengikuti semua masa naik turun KOKI dan mengikuti semua komentar positif maupun negatif untuk Zeverina. Sungguh aku salut atas kesabaran Zeverina mengelola KOKI dengan segala huru-haranya. Sehingga waktu peringatan Kartini tahun 2008, teman-teman KOKI-ku mengajak bikin satu artikel khusus untuk Zeverina. Artikel ini isinya sepatah dua patah kata tentang masing-masing kokiers terhadap Zeverina, dan aku sendiri tidak bisa mengungkapkan perasaanku terhadap Zeverina dalam sepatah dua patah kata. Membicarakan Zeverina, tidak bisa hanya sebaris dua baris. Inilah pendapatku tentang Zeverina:

============================================================

Zeverina…Kartini masa kini

Semenjak membaca Tetralogi Pulau Buru, saya mencoba untuk membaca karya-karya Pramudya yang lain. Terutama “Panggil Aku Kartini Saja”, karena selama ini yang saya ketahui tentang Kartini ya cuma dari bacaan wajib pelajaran IPS/sejarah sejak SD sampai SMA. Menurut saya pelajaran sejarah tentang Kartini ya hanya begitu-begitu saja, saya tidak merasa ada yang istimewa dengan Kartini karena saya berpikir dari kondisi yang saat ini saya jalani. Bahkan saya sempat berpikir bahwa apa istimewanya Kartini..toh dia tidak menolak untuk menjadi istri kesekian? Dari membaca buku Pram maka saya merubah sudut pandang saya dengan membayangkan diri saya berada pada situasi saat Kartini hidup… dari sini saya dapat memahami betapa istimewa-nya Kartini. Sekali lagi, cara bertutur Pramudya membuat saya berpikir ulang tentang semua tokoh pembaharu.

Demikian juga ketika saya memikirkan tentang Zeverina, seseorang yang bentuknya bagaimana tidak pernah saya ketahui. Tapi dari cara Z menggawangi Kolom Kita maka saya bisa menganalogikan Z dengan Kartini yang saya baca dari buku Pram. Bagaimana tidak? Kalau Kartini menjadi dikenal karena surat-suratnya kepada beberapa orang sahabatnya dengan menggunakan bahasa Belanda (bukan bahasa ibu), maka Z mengundang orang sedunia untuk mengirim artikel apapun dan kemudian menyusunnya hingga seperti sekarang ini. Z sendiri pun sering memberi sambutan atau cukilan buku yang menunjukkan kualitas diri Z pribadi. Ketika Kartini menggalakkan usaha ukiran di Jepara dan menyalurkannya ke Belanda sehingga bisa dikatakan Kartini ini seorang entrepreneur wanita, maka Z menyelipkan artikel-artikel motivasi ataupun tips-tips untuk berusaha (usaha restoran, main saham,dll) sehingga bisa menjadi panduan pembaca untuk sukses. Ketika Kartini berusaha mengajari perempuan-perempuan di sekitarnya untuk belajar baca dan tulis, maka Z selalu membuka kesempatan bagi orang Indonesia di seluruh dunia untuk mulai belajar mengemukakan pikirannya dalam bentuk tulisan. Ketika Kartini harus menjadi istri kesekian dan dia harus menerima keputusan itu dengan lapang hati, Z menerima semua protes bahkan caci maki, yang ditulis tanpa berpikir, dengan hati lapang dan emosi yang terkelola dengan baik (untuk ini, saya benar-benar tidak habis pikir kenapa Z bisa sesabar itu).

Rasa-rasanya semua yang dilakukan Kartini pada jaman dulu, juga dilakukan Z dalam bentuk yang berbeda. Bagi saya Z adalah salah satu pembaharu di zaman sekarang karena ketelatenannya dalam memperjuangkan sesuatu yang baru. Terakhir, jika Kartini terkenal dengan istilah “Habis Gelap Terbitlah Terang” , maka Z patut dikenal dengan slogannya “Citizen Jurnalism, Siapa Saja Menulis Apa Saja”.

============================================================

Lalu, kemarin malam ketika iseng membuka fesbuk, aku membaca status teman KOKI-ku yang berisi "Selamat Jalan Zeverina....".....hatiku langsung terasa kosong.... aku ingin cerita kepada seseorang, tapi dirumah tidak ada yang tau tentang Zeverina dan Kolom Kita....jadi aku hanya terdiam dan langsung cari berita sana sini dan ternyata benar...KOMPAS.COM memastikan berita meninggalnya Zeverina.

Dari berita kompas itu aku baru bisa mendapat gambaran lebih jelas tentang Zeverina, perempuan tegar yang ternyata sudah beranak dua yang menjelang remaja. Memang sejak Zeverina mengundurkan diri dari Kompas karena KOKI dan selanjutnya berusaha menggabungkan KOKI ke dalam DETIK, Zeverina sudah tidak bisa begitu aktif lagi. Sedang tidak bisa berperan fulltime, katanya. Dari komentar-komentar di artikel Zeverina, aku tau bahwa dia sedang sakit dan butuh perawatan terus menerus. Bukan kanker katanya, hanya sakit yang perlu perawatan, selalu itu yang dibilang ASMOD yang juga saudara Zeverina. Kami tidak pernah tau apa sakitnya Zeverina, tapi doa kami selalu kami tujukan untuk kesembuhan Zeverina. Baru sekitar April lalu kami tau bahwa kanker-lah yang membuat Zeverina harus menjalani perawatan.

Ternyata Tuhan berkata lain, Zeverina harus berpulang kepada-Nya....dan kami semua bagai anak-anak yang kehilangan induknya....

Zeverina......terima kasihku untukmu yang dapat menumbuhkan semangat menulis bagi semua orang, belajar untuk tak hanya berbicara dengan baik tapi juga menulis dengan santun tanpa menyakiti siapapun..

Selamat jalan Zeverina...semoga kamu mendapat tempat terbaik disisi-Nya... Love you...
Read More..

Senin, Juli 05, 2010

Souvenir Piala Dunia 2010

Pernah liat deretan souvenir Piala Dunia 2010 di Indomaret kan? Dari awal melihat souvenir-souvenir itu, sudah pengen banget beli salah satunya. Entah mug, boneka zakumi gantung, bola, kaos dan sebagainya.

Paling engga, boneka gantungnya deh... Tapi waktu itu harganya kok ya terasa mahal. Rp59.900,- untuk barang segede 10 cm. Jadinya sayang untuk beli walaupun ingiiin sekali.

Lalu, Sabtu malam kemarin, kami mampir ke Indomaret dan ternyata harga pernak-pernik itu didiskon banyak sehingga harganya jadi affordable. Misal kaos anak-anak jadi Rp29.000,- (dari harga sebelumnya Rp59.900,-) kan lumayan buat kaos anak-anakku. Disamping bisa buat baju keluar, sensasi Piala Dunianya kan ada.

Akhirnya setelah kami di kasir, numpuk di situ 3 kaos anak, 1 Zakumi kecil (gantung), 1 Zakumi sedang, bola sepak kecil, 1 mug dan 1 figurin Looney Tunes. itu aja aku masih pengen kaos cewek dan tas besar bergambar Zakumi.

Harga diskon ini berlaku sampai tanggal 11 Juli 2010. Setelah itu barang akan dikembalikan ke gudang francise-nya. Sebenarnya mau nungguin sampe tas itu lebih murah lagi, tapi mau gimana lagi, setelah barang dikembalikan di gudang masih belum ada kejelasan barang-barang itu akan dikemanakan.

Kalau ada yang tau info tentang apa yang terjadi setelah souvenir digudangkan..pasti akan sangat menyenangkan. Kalau diobral habis kan lemayan, ga mungkin kan mau disimpen terus di gudang.

Ayo..sapa yang punya info setelah barang digudangkan, bagi ya....
Read More..

Jumat, Juli 02, 2010

Like Mother Like Children

DETYA

Detya : Susah untuk diajak belajar di rumah, tapi fokus di kelas (kata gurunya). Hal ini terbukti ketika ujian semua nilainya baik-baik saja. Kalau dia sama sekali ga fokus di kelas tentu nilainya tidak akan memuaskan, karena ketika kubaca, soal-soal ujiannya cukup rumit dan kalau ga punya daya ingat yang cukup pasti akan kelabakan apalagi malam sebelumnya ga pernah mengulang pelajaran.

Aku : Hehehehe..kuingat-ingat lagi, waktu SD - SMP, rasa-rasanya aku hanya belajar di rumah kalau pas ada PR saja. SMA agak mending karena kalau mau ulangan/ujian aku juga belajar, SKS-lah..(sistem kebut semalam). Jaman dulu kan guru itu mengajar kayak monolog saja, menerangkan pelajaran di depan sampai waktunya selesai. Misal aku ga ngerti, aku ga akan berani nanya...(kebanyakan di-sstttttt sama ibuku kalau pengen nanya segala hal). Untungnya aku bisa melewati semua masa sekolahku dengan baik-baik saja.

Jadi sampai saat ini aku ga tega untuk membuat Detya rutin belajar setiap malam, secara sudah seharian penuh beraktifitas baik di sekolah maupun di TPA. Mungkin nanti, ketika dia sudah punya tanggungjawab mengerjakan PR, baru akan mengkondisikan belajar setiap malam. Semoga nanti ketika saat itu tiba, rumah burung di Salemba itu sudah bisa digunakan.

JAVAS

Javas : Gurunya bilang, ketika di lingkaran Javas dan teman-teman muslimnya suka ribut sendiri. Javas seringkali ga menghadap ke gurunya ketika di lingkaran, dia sibuk dengan urusannya sendiri. Tapi, dia ternyata bisa menjawab umpan-umpan pertanyaan yang diberikan gurunya sesuai dengan materi yang sebelumnya diceritakan Guru. Ada beberapa temannya yang ketika sibuk sendiri sama sekali ga nyambung dengan pertanyaan yang diberikan gurunya. Tapi Javas tetep nyambung. Jadi Gurunya menyimpulkan bahwa walaupun kelihatannya Javas sibuk sendiri, tapi telinganya mendengarkan semua ucapan gurunya. Jadi ya itu tadi, masih nyambung dengan kegiatan di lingkaran.

Aku : Heheheh..yang dilakukan Javas itu kan bentuk lain dari multitasking. Sebagai Ibu, siapa sih yang ga melakukan multitasking di rumah. Jadi mungkin Javas kebiasaan melihatku melakukan segala sesuatu di rumah pada saat yang bersamaan, tapi tetap bisa melayani pertanyaan dan permintaan Javas.

Tetap saja, karena ga fokus seperti itu, susah untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Jadi kupikir, lain kali aku akan lebih fokus ke Javas saja tiap kali dia minta bantuan, agar diapun bisa fokus ketika belajar di MI nanti.

WISAM

Wisam : apa ya...belum ada yang spesifik dari Wisam yang sama denganku, dia itu anak ayah jadi hampir semua perilakunya mirip ayah misalnya demanding, penglihatannnya tajam. Dia bisa melihat seekor cacing di tengah rerumputan hanya sekali saja ayahnya menunjukkan dari jauh(padahal aku sendiri kelimpungan nyari si cacing itu, sampai akhirnya ditunjukin langsung oleh Wisam). Dia juga punya ingatan tajam atas orang-orang dan lokasi yang pernah di kenalnya. Bahkan cucu teman suamiku yang baru ketemu dalam satu malam di bulan Maret lalu saja, dia ingat baik namanya (aku udah lupa sama sekali).

Aku : karena ga bisa menemukan kesamaan perilaku....ini aja deh...dia itu anak ayah...sedangkan aku sendiri juga anak ayah....heheheh itu kesamaannya...

Demandingnya Wisam ini parah banget, apalagi karena kontrol motoriknya masih belum bagus, dia selalu memukul ketika keinginannya tidak terpenuhi. Aku tau kalau sebenarnya dia tidak bermaksud memukul, hanya karena belum bisa mengontrol gerakannya dengan bagus, jadinya seakan-akan memukul (aku jadi paham, kenapa ketika ada teman Javas yang katanya suka memukul, Gurunya selalu menekankan bahwa teman itu tidak bermaksud menyakiti...begitulah Wisam). jadi sekarang ini, kami sedang mengingatkan dan mencontohkan Wisam berulang-ulang agar bisa mengontrol gerakannya..

Jadi teman-teman......kalau anakmu melakukan sesuatu yang tidak biasa.....instropeksi dulu diri sendiri....jangan keburu menghakimi anak-anak itu...
Read More..