Senin, Februari 22, 2010

Facts About Me....(3)

Aku punya alergi,yang akhirnya menurun ke anak-anakku. Walaupun bentuk alerginya beda-beda,tapi tetep saja hasilnya mengganggu...

Alergiku menghasilkan asma, sedang Detya jadi sering bisulan dan bintitan. Nah, Wisam anak bungsuku, menghasilkan asma juga.

Asma itu bahasa kerennya,intinya ya sakit bengek...penyakit yg muncul jika alergennya terpicu. Sampai sekarang aku ga bisa menentukan, sebenarnya alergenku apa siy? Terutama akhir-akhir ini, yang mana dimana....sangat sering kambuh dengan tiba-tiba. Kambuhnya juga ga parah-parah amat, tapi cukup menganggu sehingga aku jadi sangat tergantung dengan ventolin (inhaler). Tapi walaupun ga parah, kalau kubiarkan saja tanpa kusemprot pake inhalerku itu...lama-lama akan semakin parah dan biolanya berbunyi semakin kencang...ngik..ngiiik...ngiiiiik. SUNGGUH MEMALUKAN...!!

Duluu sekali, aku ingat ketika kelas tiga SD, aku seringkali kambuh jika musim penghujan. Orangtuaku bilang, waktu aku masih balita, bengekku itu seringkali muncul jika cuaca sedang dingin. Dan obat andalan waktu itu adalah vick (balsem itu loo..) yang digosokkan di seluruh dada, leher dan punggung. Setelah tidur dalam keadaan hangat maka paginya ngik-ngok itu langsung hilang.

Setelah kelas 3 SD dulu, aku ingat ga pernah kambuh lagi samapi kelas 6 SD, kelas 3 SMP dan kelas 3 SMA. Kuingat-ingat, semua kejadian kambuhnya asmaku berhubungan dengan masa ujian akhir alias EBTANAS. Jadi setiap kali aku stress mikirin ujianku, maka si asma muncul. Sembuh dengan minum napacin, dengan efek samping...dada berdebar kencang.

Ketika kuliah di Bogor, asmaku menghilang. Padahal Bogor kan terkenal sebagai kota hujan yang dingin...tapi kemunculan asmaku bukan karena cuaca dinginnnya, tetapi lagi-lagi karena stress mikirin ujian pas tingkat tiga. Aku merasa ga siap ujian akhir semester....saking ga siapnya sampai nangis-nangis nelpon Bapak cari dukungan...dan si asma muncul dengan suksesnya menambah beban ujianku....sigh... Waktu itu aku minum dextrametason (obat alergi), sembuh tapi tetep dengan dada berdebar kencang.

Lalu aku mencoba mengontrol emosiku ketika menjelang ujian dan tentu saja lebih rajin belajar biar ga kelimpungan kalo ujian. Jadinya ga ada serangan asma lagi, sampai aku kerja. Paling-paling, pas puasa ramadhan yang membuatku bangun dini hari untuk keluar cari makan sahur. Hawa dingin membuatku sering sesak napas, dan kuobati dengan minum bricasma (efek berdebarnya sangat minor, sehingga bisa kutahan)

Setelah menikah, si bengek ini hanya muncul sesekali dan aku sudah kenal dengan yang namanya ventolin...... Sungguh aku bersyukur dengan adanya si inhaler ini, sudah efeknya ga sampai satu menit sesaknya langsung hilang, juga ga menimbulkan efek berdebar, karena salbutamolnya langsung bekerja melonggarkan saluran pernapasan. Sampai sekarang aku belum nemu efek negatif dari ventolin ini. Jadi masih terus kupakai jika aku merasa sesak napas... Tinggal sret...langsung hilang...

Tentang akhir-akhir ini asmaku jadi sering kambuh, aku ga bisa menebak lagi apa faktor utama yang jadi penyebabnya. Bisa karena ketawa kekencengen, bisa karena ketika berbaring tidur, posisi kepala sama dengan posisi badan (mestinya bantalnya lebih tinggi), bisa karena kesedak ludah sendiri (pas tarik napas bareng ama nelen ludah), bisa karena jalan terlalu cepat sehingga napasku terganggu, bisa karena pindah posisi tidur (sehingga si ventolin ini harus ada di samping bantalku)...ga jelas deh penyebab utamanya....

Cukup tentang asmaku sendiri, sekarang tentang Wisam. Setelah periksa sana sini dan sempat ada dokter yang mendiagnosa Wisam kena TB, akhirnya dokter yang terakhir (dan yang paling asik) menyimpulkan bahwa Wisam juga kena asma, pemicunya adalah jika dia batuk ga sembuh-sembuh...maka si asma akan muncul. Lalu kami juga sempat berkonsultasi dengan dokter khusus alergi dan setelah penjelasan yang panjang lebar (yang pada pokoknya juga sudah aku mengerti) aku semakin yakin bahwa seringnya Wisam batuk pilek dan dilanjutkan asma, adalah karena alergi. Dokter menyarankan, selain penggunaan ventolin untuk mengatasi serangan, perlu ada controller yang berfungsi sebagai pencegah. Setelah rutin pakai inflammide sehari 2x, ditambah berhenti total minum susu formula, hasilnya sekarang ini Wisam ga pernah batuk pilek lagi, tentunya si asma ga muncul lagi...

Yup...semenjak lebaran lalu Wisam hanya minum susu UHT dan ga minum botol lagi. Kami sama sekali ga menyesali keputusan itu karena kesehatan Wisam justru membaik, walaupun dia sama kecil mungilnya dengan Javas. Dulu, kami sangat menyesali saat Javas ga mau lagi minum susu botol (saat berumur 2,5 tahun) karena minum susunya jadi sangat kurang dan dengan pola makannya yang susah, Javas menjadi kecil mungil walaupun dia sudah hampir 6 tahun...sigh...

Eniwei....aku jadi bisa membayangkan betapa repot dan paniknya orang tuaku ketika di masa balitaku dulu harus menghadapi kambuhnya asmaku...seperti halnya betapa paniknya aku ketika Wisam berulang-ulang kali kena serangan asma...



Read More..

Senin, Februari 15, 2010

Sprei Hanimun

Beuh, ga kerasa udah nambah satu taun lagi pernikahanku ini. Berhubung aku ga punya refleksi apa-apa di tahun ke delapan ini (wow…sewindu ya?), aku mau cerita tentang sprei.

Yap…S P R E I….hehehe…cerita ga mutu tapi ingin kuingat-ingat terus…

Dulu, waktu lamaran, suamiku memberikan berbagai macam hal seperti layaknya hantaran untuk adat Jawa. Ada seperangkat perhiasan (yang sudah ilang dicuri orang), ada perlengkapan sholat, ada satu set make up, ada seperangkat pakaian untuk nikahan (seperangkat ya seperangkat ….outer and under maksudnya… hihihi), apalagi ya…arloji (yang sangat kuinginkan dan akhirnya ilang juga) dan juga ada sprei satu set.

Semua hantaran itu, kami beli bersama-sama, jadi pasti aku suka dan suamiku juga suka. Nah, untuk sprei itu, warnanya putih dengan gambar bunga kuning bersulur biru. Keliatan bersih dan sangat nyaman ditiduri. Berhubung dulu ga ada AC maka si bedcover ga pernah kepake.

Sprei ini hanya kami pakai setahun sekali, yaitu malam sebelum tanggal 16 dan dicopot setelah Februari berakhir. Jadi dalam setaun hanya kami pakai selama 2 minggu saja. Dipasang selama dua minggu saja sebenarnya sudah menyalahi aturan pakai spreiku. Aku hanya memasang sprei selama satu minggu untuk diganti setiap hari jumat. Selama dua minggu artinya ya selama itu ga ganti sprei, yang rentan sekali dengan penyakit asmaku. Tapi berhubung spreinya juga nyaman sekali buatku, maka sering-sering aja divacuum agar debunya ga nempel banget.

Jadi teman...malam ini aku akan membuka sprei yg tahun lalu udah dikemas plastik dan memasangnya sampai akhir Februari...Harapanku siy....dengan memasang sprei ini aku bisa mengingat-ingat perasaan yang dulu ada ketika pernikahanku terjadi (excited...gratefull...full of love...and happy of course).... Jadi kalau sekarang ini perasaan itu terasa menghilang...bisa tumbuh lagi untuk menyirami pernikahan kami setahun ke depan...

Hmmmmm......jadi wondering...kira-kira si sprei ini bakal bertahan sampai kapan ya?

Read More..

Rabu, Februari 10, 2010

Bintitan a.k.a Timbilan

Sudah lebih setahun ini Detya sering timbilan. Pertama-tama, dia cuma bisulan kecil ganti-ganti di beberapa anggota tubuh. Dia ga banyak mengeluh, tapi kalau sudah keluar 'matanya', dia ga mau dibantu membersihkannya. Takut sakit katanya, dia mau membersihkan sendiri 'mata' itu, tapi tentu saja ga tuntas sehingga bikin gemes kami yang melihatnya.

Lalu bisulan itu menghilang digantikan dengan bintitan....iya..bisulan yang di mata itu. Yang kiri sembuh, ganti yang kanan. Yang kanan hilang, muncul lagi di kiri tapi lain tempat. Begitu berulang samapi tiga kali sehingga dia sempat ga masuk sekolah ketika ada dua bintit di mata kanannya. Kami bawa ke dokter dan menurut dokter, karena berulang gini, biasanya karena alergi. Detya ga boleh makan telur dan ikan. Dokter juga memberi antibiotik dan penghilang nyeri.

Semenjak itu, kami menghindari memberi Detya telur dan ikan sesuai pesan dokter tersebut. Masalahnya, Detya sangaaaat suka telur. Ketika kami melarangnya makan telur, dia sangat merana (ih bahasanya...). Seringkali dia memaksa minta telur dan ketika kami perbolehkan, besoknya sang bintit keluar lagi dimatanya. Jadi ketika dia ingin makan telur selalu kami ingatkan tentang konsekwensinya, siap ga merasakan nyeri ketika bintitnya muncul? lalu dia minta telurnya sedikiit saja, untuk obat rasa inginnya.....dan sang bintitpun keluarnya kecil saja dengan bengkak yang ga seberapa. Sebandinglah antara banyaknya telur yang dia makan dengan besarnya bintit yang muncul di matanya.

Tiga minggu lalu, beberapa kali Detya makan telur dan sang bintit ga keluar. Jadi kupikir sudah aman baginya untuk makan telur. Ternyata seminggu kemudian, setelah 3-4 kali makan telur, si bintit keluar sekaligus dua di mata kanannya. Sungguh kasian ngeliat dia ga bisa membuka mata di pagi hari karena bengkaknya teramat besar, 'matanya' juga masih belum keluar.

Lalu aku pasang status di fesbuk, karena waktu dibilang bintitan ini karena alergi, aku menghindari pemakaian antibiotik. Ternyata beberapa teman menyarankan untuk pakai CENDO XITROL, karena manjur meredakan si bengkak. Dari browsing mas google tentang bintit ini, banyak yang menceritakan bahwa infeksi dari bakterilah yang menyebabkan bintit keluar. Sangat sedikit yang menyebutkan tentang alergi. Kalaupun ada yang menyebutkan, ga begitu dijelaskan bagaimana treatment-nya.

Maka ketika senin pagi kemarin Detya mulai bengkak lagi matanya (karena hari sabtu, dia pengen banget makan telur puyuh), langsung aku tetesi CENDO XITROL itu dan....voila.....si bintit ga jadi keluar, bengkaknya mereda dan siang ketika aku lihat lagi, matanya sudah ga bengkak lagi.

Jadi pada intinya, aku menyimpulkan bahwa bintit Detya karena alergi yang berujung pada peradangan sehingga treatment yang disarankan di artikel itu bisa juga diaplikasikan buat Detya.

Cuman...selalu saja ga tega ketika melihat mata Detya udah mulai bengkak...terbayang gimana senut-senutnya.....semoga dengan tetes mata ini...problem bintit ini bisa teratasi.
Read More..

Senin, Februari 08, 2010

Facts About Me...(2)

Ada satu hal tentangku, yang walaupun mungkin ga asyik, tapi....mmmmm...aku ga terlalu ingin merubahnya

Mandi Sore/Malam

Yup...bagiku mandi cukup sehari sekali...pagi hari pas mau berangkat kerja. OK, aku tau....kesannya jorok.....tapi......aku mau ikut gerakan mempergunakan air sesuai keperluan saja. Taukah Anda, luas Jawa ini 6.5% dari luas keseluruhan Indonesia dan didiami oleh 65% dari seluruh penduduk Indonesia sedangkan ketersediaan air tanahnya cuma 4,5%.....See, dengan mandi cukup sehari sekali...berarti aku juga ikut menanamkan gerakan hidup dengan air secukupnya.....

Muahahahaha....bo'ong ding....aku ga seribet itu mikirnya...iya, aku tau cadangan air kita terbatas. Tapi bukan karena itu aku cuman mandi sehari sekali. Aku ngerasa ga ada gunanya mandi sore. Semenjak tinggal di Jakarta (brarti sejak tahun 1999), aku ngerasa mandi sore sama sekali ga bikin badan kerasa segar. Air Jakarta yang sungguh-sungguh jauh dari 'terasa menyegarkan' membuat acara mandi soreku berakhir dengan badan masih keringatan. Jadi, ngapain aku susah-susah mandi kalau ternyata masih ga segar. Lebih baik aku menyimpan air mandi untuk besok pagi, yang setelah menginap semalaman, lebih terasa menyegarkan.

Sebenarnya, pas masih tinggal di Pasar Minggu dulu, airnya lumayan terasa segar. Tapi berhubung kebiasaan lama, maka sampai di Ciledug ini pun aku juga tidak pernah mandi sore. Air disini lumayan menyegarkan, tapi AC yang sudah menyejukkan sepanjang perjalanan di mobil dan disambut AC di rumah membuat aku merasa tetap nyaman tanpa keringatan. Jadi buat apa aku mandi malam?....

Suamiku sering mengingatkanku untuk mandi, dengan alasan biar ga gatal-gatal. Tapi aku kan ga pernah gatal-gatal. Tentu saja aku akan sukarela mandi jika malamnya niat beribadah. Memang lebih nyaman berdekatan jika sama-sama segar.

Temanku dulu juga sering menertawakanku ketika tau aku jarang-jarang mandi malam. Tapi sekarang dia menarik ketawanya itu karena setelah tinggal di rumah sendiri, dengan AC terpasang di kamar dan ruang tamunya, dia juga ngerasa ga perlu mandi.

Suamiku pun sekarang ga pernah menyinggung masalah mandi sore ini, karena kadang-kadang pun beliau ga mandi. Dan juga, setelah tau ada satu teman kantornya (perempuan), yang rapi jali kinclong plus cantik, ternyata juga ga pernah mandi malam... hahahah...ternyata ga mandi malam ini banyak juga dilakukan orang lain.

So..marilah kita sama-sama menghemat persediaan air tanah kita ini....

Hidup GERAKAN HEMAT AIR....

Read More..

Senin, Februari 01, 2010

Menjadi Trainer...Part 3

Ternyata benar kata Bang Nh18, bahwa menjadi trainer itu bisa mengasikkan asal kita paham bener materi yang mau kita tunjukkan.... dan mengingat materi tentang Hibah ini benar-benar aku kerjakan dan dua tahun ini kami diskusikan lebih detil lagi untuk bikin aturan yang sesuai..maka rasanya seperti berbagi apa yang aku ketahui kepada orang yang hanya tau sekilas...

Tentu saja, jika peserta ga merespon dengan baik, maka aku akan serasa bikin monolog di depan kelas...dan untungnya, peserta training itu cukup ngerti tentang hibah sehingga respon mereka membuat suasana di kelas tidak membosankan.

Aku teringat waktu training 6 minggu kemarin dengan berbagai macam karakter trainer dan tidak semua menyenangkan untuk disimak. Ada yang memakai gaya mengajar pancasila yang bikin aku ngantuk setengah mati dan giliran aku mempertanyakan pendapat beliau, beliau tidak menjawab dengan tuntas dan malah memintaku menghentikan diskusi sampai sekian saja. Ada yang kocak abis menceritakan jaman dia muda dulu, yang memang membuat kami segar bugar tanpa kantuk, tetapi apa yang seharusnya diajarkan malah ga tersampaikan. Ada yang guyonannya selalu menyerempet yang saru-saru sehingga selalu bisa gerrr suasana kelas, tapi karena beliau perempuan, aku jadi jengah sendiri. Ada juga yang selalu menceritakan siapa saja pejabat yang beliau kenal sehingga aku lebih memilih mainin fesbuk daripada denger beliau show off gitu.

Itulah yang membuat aku kawatir...bisakah materiku tersampaikan tanpa membuat peserta terkantuk-kantuk atau tertawa gerrr tanpa guyonan saru? Untungnya, kurikulum yang ditentukan penyelenggara (setelah diskusi dengan narasumber dari kami) cukup membantuku untuk menyusun materi presentasi. Dan dengan alokasi waktu yang sudah ditentukan, aku bisa mengira-ngira, sejauh mana materi akan aku sampaikan. Dan benar, kekawatiranku tentang 'apakah aku bisa menyampaikan materi dengan baik jika waktunya sebanyak itu' ternyata tidak beralasan. Dengan pengalaman yang telah kulalui selama hampir 5 tahun di bidang tugas ini, maka akan sangat banyak yang bisa aku bagi tentang real experience. Jadi aku bisa bercerita tentang banyak hal tanpa takut waktu belum habis tapi materiku udah selesai...

Pfuihhh....suamiku banyak men-encourage agar aku ga usah kawatir tentang hal-hal seperti itu. Dia ingat jaman kuliah dulu bahwa untuk materi yang bisa diberikan dalam satu hari justru diberikan dalam satu semester sendiri. Jadi dia pikir, dosennya dulu memanjang-manjangkan cerita agar bisa sampai satu semester. Maka aku ga usah kawatir kalau harus memberi materi dalam satu hari.

Setelah itu, aku dengar acara di talk show di radio bahwa agar kita sanggup menghadapi masalah maka jalani saja masalah itu. Jangan dihindari karena membuat kita jadi ga terlatih.

Dengan bekal itu, aku jalani permintaan jadi trainer itu dan hasilnya....tidak seseram yang aku bayangkan...semuanya mengalir lancar dan hmmm....meng-quote Bang NH18..."Jadi Trainer itu Fun lho...Sumpah"

Read More..