Senin, Agustus 30, 2010

Single Parent

Hari Jumat kemarin, aku dapat sms dari teman SDku, rupanya dia dapat nomer hpku dari sahabat masa SDku dulu, UKE. Yaaa...biasalah sms standar tanya kabar, tinggal dimana, kerja dimana dan seterusnya. Temanku itu cowok. Dari teman-teman SDku, hanya tiga orang yang pernah telpon/smsan denganku, ya UKE itu, satu temen cowok anak dari teman kerja Bapakku dan yang kemarin sms itu, sebut saja Bobby.

SDku dulu termasuk SD pinggiran yang muridnya banyak sekali dari suku Madura atau keturunan Arab. Nah, setelah SMP aku seperti putus hubungan dengan dunia SDku karena rumahku yang jauh dan ga banyak teman SDku yang melanjutkan sekolah ke SMP. Bahkan ada temanku pas kelas 4 harus berhenti sekolah karena dinikahkan oleh orangtuanya. Bayangkan...umur 9 tahun sudah dinikahkan....

Jaman SD dulu, Bobby ini pendiem sedangkan aku juga pendiem *sebentar...pendiem ga ya...ralat deh..termasuk rata-rata ding*. Untuk jaman SD dulu, Bobby termasuk good looking, tapi saking pendiamnya...bukan dia yang diolok-olokin dengan aku (biasalah..anak-anak SD..saling meledek temannya pasangan siapa..). Artinya, aku sudah bisa menilai dia menarik tapi yang lebih banyak kuajak bertengkar..ya orang itu yang diledekin sebagai pacarku..dan karena dia pendiam maka ga pernah bertengkar denganku dan ga ada ledekan apa-apa antara aku dengan Bobby.

Setelah sms standar siang itu, kupikir ga akan ada sms lagi sampai malam-malam Bobby sms lagi nanyain lagi santai ato engga. Karena kupikir pertanyaan ga penting, ya aku ga layani sms itu. Cuma keanehan mulai kurasakan.

Lalu Sabtu sore dia mulai sms lagi nanya aku masak apa. Dan karena kupikir pertanyaan itu cukup menarik maka aku jawab sms itu. Kuanggap menarik karena tidak biasanya aku memasak. Sore itu, asistenku ijin ga ke rumah karena kedatangan tamu dari kampung, jadi aku masak sendiri. Lalu sms berlanjut menjadi pertanyaan yang kuanggap bercanda dan aku jawab juga dengan becanda. Misalnya:
Q:"denger-denger kamu masih secantik jaman sd dulu ya"
A:"yaelah....bukannya sd dulu aku item dan kumal.....ya sekarang.....beda dooong...jauh lebih cantik" (terang aja beda..yang belum terawat dengan yang sudah terawat. aku jawab dengan maksud bercanda)
Q:"andeng-andengmu (tai lalat) masih ada kan..masih semanis dulu?"
A:"masih ada..tambah besar..sama anak-anakku sering dijadiin bel" (masih becanda kan?)

Nah, aku sudah mulai ga nyaman dan aku mulai nanya kenapa dia yang dulu pendiam sekarang jadi gombal gini. Terus aku tanya, apa istrinya ga marah dia muji-muji perempuan lain seperti ini. Dia ga kasih jawaban, jadi kupikir memang dalam konteks becanda. Aku sendiri cerita ke suamiku tentang sms dari teman sdku ini, walau aku ga cerita detil. Lagian ngapain juga becandaan kok diceritain...ntar malah dipikir aku kegeeran.

Lalu malam-malam sms ga penting lagi seperti sebelumnya dan ga aku jawab. Aku pikir euforia karena menemukan teman lama makanya dia intens sms.
Sampai minggu sore kemaren, setelah sms yang kuanggap hahahihi, dia tanya apakah ada yg marah kami smsan seperti ini. Dan kujawab "emang kita ngapain? ga ngapa-ngapain kan? lagian aku udah cerita kok ke suamiku" lalu dia merespon dengan kalimat yang bikin aku bete berat.
"Sebentar...menurut informasi yang aku dengar, kamu katanya jadi single parent sekarang ini. Jadi yang bener gimana ni?"

Waaaaa.....gubrak deh....aku langsung flashback ke sms-sms sebelumnya....dari awal sampai akhir rupanya dia emang niat flirting berdasarkan info awal yang dia dengar.


Sial..sial..sial...aku jadi menyesal menanggapi semua sms itu dengan bercanda. Seandainya saja sejak awal aku sudah pasang tembok, jaim ga usah canda-candaan. Padahal aku merasa sudah cerita tentang keluarga...tentang anakku yang tiga..tentang mencoba resep baru untuk keluargaku. Walaupun ga secara eksplisit aku sebut-sebut suamiku..kupikir sudah jelas bahwa aku saat ini sedang dengan keluarga lengkapku.

Tapi ya itu tadi, kami berangkat dengan info yang berbeda, dia dengan info bahwa aku single parent, aku dengan anggapan bahwa kalau udah punya anak ya brarti punya suami.

Aku ga marah sama temanku itu, karena kupikir semua kalimat-kalimatnya masih sopan dan bahkan dia menyebut single parent instead of "janda". Dan selanjutnya aku tau emang dia niat serius ketemuan sama aku nanti pas lebaran karena posisi yang sama..dia single parent demikian juga aku menurut anggapannya (untung dari awal aku sudah menghindar untuk ketemuan).

Yang membuatku jengkel adalah info darimana bahwa aku ini single parent. Aku ga pernah ketemu teman-teman SD, teman SMP pun jarang..teman SMA hanya melalui fesbuk...temen kuliah sudah tau pasti aku menikah.

Lalu aku bisa memahami perasaan temanku yang ditulis di status fesbuknya, ketika ada laki-laki yang sudah beristri, menyepelekan dia karena dia yang sudah janda (suaminya meninggal). Ckckckck, bagaimanapun mandiri dan perkasanya seorang single parent...pasti akan sakit hati jika mengalami hal seperti itu.

Jadi...mulai hari ini.....kalau dapat kabar dari teman lama seperti ini (kecuali teman yang mengenal dan kukenal dengan baik)..aku akan langsung pasang tembok..jaim dan ga sok becanda-becandaan. Atau dari awal sudah cerita tentang suamiku dan anak-anakku secara eksplisit..tidak dengan asumsi....(asumsi bahwa punya anak pasti punya suami)

Read More..

Jumat, Agustus 27, 2010

Iuran Sekolah

Aku sudah terbiasa dengan metode pembayaran sekolah yang ada di Istiqlal karena dua anak pertamaku sekolah disana. Iuran bulanan, seperti biasa, dibayarkan tiap awal bulan sampai paling lambat tanggal 10 bulan berjalan. Uang pangkal dibayarkan pada waktu pertama daftar sekolah dan bisa dibayarkan dengan mencicil... Selain itu ada yang namanya uang KBM (kegiatan belajar mengajar) yang dibayarkan setahun sekali *boleh dicicil :D* yang sudah mencakup semua biaya alat, buku dan kegiatan selama setahun *termasuk biaya kunjungan-kunjungan belajar dan outbond*.

Selain itu ga ada lagi permintaan iuran ini itu, sehingga aku hanya perlu mengingat-ingat iuran bulanan saja. Menurutku jadi ringkas dan aku hanya perlu menabung sendiri untuk ngumpulin uang KBM yang mesti dibayar tiap tahun ajaran baru.

Bedannya, anak bungsuku sekarang ini belajar di Kelompok Bermain di dekat rumah. Dengan berbagai pertimbangan, kami memutuskan bahwa untuk kelompok bermain, biar Wisam di dekat rumah saja. Nanti kalau sudah TK kami berniat menyekolahkannya di Istiqlal. Sama seperti kakak-kakaknya.

Biaya sekolahnya lebih murah daripada sekolah di istiqlal walau aku tidak bisa bilang bahwa biayanya cukup murah. Lebih murah iya, tapi tidak murah..:D. Nah bedanya, di KB bungsuku ini, biaya yang ditulis di brosur hanya untuk uang pangkal *yang bisa dicicil :D* dan iuran bulanan saja. Sekolahnya juga hanya seminggu 3x dari pukul 08.00 - 10.00. Ya sudahlah...yang penting Wisam ada kegiatan yang terarah dan fisiknya pun bisa tetep sehat.

Masalahnya, walau tidak ada uang KBM, ternyata biaya lain-lainnya banyak juga dan berulang-ulang. Diawali dengan surat pemberitahuan bahwa masing-masing anak mesti membawa berbagai macam peralatan yang nantinya ditinggal di sekolah, sehingga perlu sejumlah rupiah untuk memenuhinya. Kemudian datang lagi surat pemberitahuan bahwa si anak perlu membayar uang buku sejumlah sekian rupiah yang juga nantinya ditinggal di sekolah. Kemudian ada lagi permintaan uang susu.

Wedew....ini sekolah baru berjalan 2 bulan, sudah 3 pemberitahuan yang harus kami siapkan pendanaannya. Aku jadi merasa ribet karena mesti berulang-ulang gini. Apalagi aku pelupa gini, jadi mesti berulang kali telat bayar karena lupa mempersiapkan dananya.

Lalu bagaimana kalau nanti ada kunjungan belajar? pasti ntar ditarik iuran lagi. Dan tentunya kunjungan itu ga cuma sekali dua kali.

Wah..wah....aku merasa uang KBM jauuh lebih ringkas daripada permintaan satuan gini. Mengenai jumlahnya memang belum bisa dibandingkan apakah lebih mahal dijadikan satu begini seperti di Istiqlal atau diminta satu persatu seperti di KB Wisam, yang jelas dari segi efisien..aku rasa uang KBM lebih baik.

Aku percaya bahwa sekolah tidak sembarangan menentukan jumlah uang KBM. Setiap sekolah pasti punya kalender akademik tahunan yang sudah merancang semua kegiatan selama setahun dan biaya KBM tentu mencakup semua kegiatan-kegiatan itu.

Jadi, sebagai orang tua yang pelupa seperti aku ini...akan lebih baik jika sekolah menerapkan uang KBM...ringkas..dan bisa dicicil...
Read More..

Selasa, Agustus 24, 2010

Diane atau Yasmin?

Setelah kuperhatikan, ternyata hit tertinggi atas tulisan-tulisanku ini adalah mengenai Pil KB dan Kutu Rambut. Tiap hari selalu saja ada yang googling masalah 2 hal itu dan berakhir nyasar di blogku ini. Kata kunci untuk Pil KB itu biasanya Diane 35 dan Yasmin. Ya, dua merk pil KB yang manfaatnya lebih dari sekedar mengatur kehamilan.

Namanya juga pil KB, maka merknya pun dilabeli nama-nama perempuan, Diane 35 dan Yasmin. Banyak juga si pil KB yang lain, tapi pil KB yang lainnya adalah pil KB standar yang isinya hanya berbagai bentuk hormon estrogen, bisa juga campuran dengan progesteron sintetis. Efeknya adalah manipulasi hormon tubuh sehingga seakan-akan ovulasi sudah terjadi, artinya sel telur ga akan dilepaskan sampai waktunya pil habis.

Dulu aku ga bisa memilih mau pakai pengatur kehamilan yang mana sampai akhirnya anak kedua dan ketiga lahir tanpa perencanaan. Berhubung ngurus tiga anak saja sudah membuatku kelabakan, maka aku memutuskan untuk pakai pil KB Diane 35. Dengan berbagai keunggulannya aku bertahan memakai Diane 35 sampai bulan Mei lalu.

Mulai bulan Juni aku coba pake Yasmin, karena sepertinya berat badanku ga turun-turun dan cenderung naik. Aku merasa kok lemakku terasa makin tebal, jadinya ga nyaman. Terutama lemak perut, bikin ga nyaman kalau duduk. OK, aku tau diri bahwa aku sangat malas berolahraga, jadi jangan berharap punya perut kencang. Tapi rasa tebal ini bener-bener menganggu sehingga aku putuskan untuk ganti pil KB. Kali aja dengan Yasmin aku lebih bisa menjaga berat badanku.

Aku belum bisa membandingkan apa beda antara Diane dengan Yasmin karena ini baru bulan ketiga aku ganti Yasmin. Hmmm...yang jelas harganya beda 50 ribu sendiri. kalau diitung-itung si memang ini pengeluaran sebulan sekali. Tapi ketika beli tetap saja terasa mahal. Apalagi belinya bareng dengan kebutuhan vitamin dan obat untuk anak-anakku.

Tapi kalau aku boleh subyektif, rasa-rasanya semenjak pakai Yasmin, berat badanku memang stabil di satu angka saja. Beda dengan ketika memakai Diane, seringkali beratku lebih 2-3 kg dari satu angka itu, lalu kembali ke angka itu untuk kemudian naik lagi, begitu terus. Makanya aku merasa banyak penebalan lemak dimana-mana.

Jadi kupikir, aku akan terus memakai Yasmin untuk kontrasepsiku karena aku ingin berat badanku jadi lebih stabil. Untuk harga yang lebih mahal, anggap saja sebagai ongkos untuk menjaga berat badan. Daripada coba-coba prosedur lain yang ga jelas hasilnya. Setidak-tidaknya, aku dapat kontrasepsi...ya kan?
Read More..

Jumat, Agustus 13, 2010

Anak Pintar, Anak Soleh

Dulu biasanya jika sedang merayu anak-anak, aku akan bilang.."Detya cantik"..."Javas ganteng"... Lalu kupikir-pikir, apapun yang diucapkan orangtua terhadap anak-anaknya adalah doa, sehingga kupikir betapa dangkalnya doaku untuk anak-anakku. Cuman pengen mereka ganteng dan cantik. Ya sebenarnya cantik dan ganteng yang kumaksud ya secara keseluruhan, tapi pasti yang ditangkap oleh yang mendengar adalah masalah fisiknya saja.

Maka aku berusaha keras merubah rayuan itu jadi "Detya pinter"..."Javas pinter"..."Wisam pinter".... Aku merasa senang sekali karena bisa merubah ucapan yang sudah keluar otomatis itu menjadi lebih berkelas, bukan hanya masalah penampilan saja. Aku merasa doaku kali ini lebih advance yaitu berdoa agar mereka pintar dalam segala hal.

Namun ternyata.....

Doa yang selama ini kuanggap sudah berkelas dan lebih advance, jadi jatuh nilainya ketika suatu ketika aku mendengar temanku merayu anaknya dengan..."Fulan sholeh"...waaaaaaaaaa....aku jadi benar-benar malu. Bahwa apa yang selama ini kuanggap doa yang cukup berkelas ternyata masih saja hanya menggambarkan kemampuan fisik saja..ga ada nilai spiritualnya..

Maka mulai saat itu kami berusaha keras merubah rayuan kami dengan doa yang paling ultimate..."Detya sholehah"..."Javas sholeh"....."Wisam sholeh"

Apalagi sih yang diharapkan orangtua agar amal ibadah tetap berjalan, walaupun sudah meninggal, selain doa anak yang sholeh..?
Read More..