Kamis, Desember 31, 2009

Peran Sebagai Ibu

Selalu ada perbedaan pendapat ketika mulai bicara lebih baik mana working mom dibanding full time mom. Aku pribadi sangat menghormati dan salut kepada full time mom, karena aku tau beratnya menjadi full time mom. Sebagai working mom....aku masih sempat berhaha-hihi dengan teman-teman kantor, nyelip ke mall buat liat-liat doang saat jam istirahat kantor..baca buku sepuasnya ketika loading pekerjaan cukup ringan...(ditambah main game juga...).

Coba bayangkan jadwal full time mom, pagi mesti nyiapin sarapan dan bekal buat anak dan suami, terus anterin anak sekolah, memulai pekerjaan domestik di rumah, menyusun menu makan siang dan makan malam sekaligus belanja dan memasaknya. Setelah masak selesai, mesti jemput anak pulang sekolah...nganterin lagi mereka kursus ini itu, pekerjaan domestik lagi....siapin makan malam dan nunggu suami pulang sambil menemani anak-anak belajar. OK, mungkin ada asisten di rumah yang bantuin...tapi tetap saja kontrol utama ada pada sang ibu.

Maka tak sekalipun ada pikiran merendahkan terlintas di otakku tentang full time mom. Aku justru kawatir bahwa aku ga akan sanggup menjalaninya jika itu jadi pilihan utamaku....

Tapi bukan berarti walaupun aku bekerja, aku meletakkan prioritas peranku sebagai ibu dibawah pekerjaanku. Justru peran sebagai ibu adalah prioritas utamaku. Aku lebih suka menjawab pertanyaan tentang anak-anakku daripada pekerjaanku...aku lebih suka menjawab apa yang aku lakukan dengan pendidikan anak-anakku daripada pendidikanku sendiri.

Dan aku juga bisa menjawab dengan yakin bahwa walaupun aku berkerja dengan baik, anak-anakku tetap dibawah pengasuhanku...bukan pengasuhan asisten rumah tangga. Karena aku sendiri yang meyiapkan sarapan dan bekal mereka di pagi hari, karena aku dan suamiku sendiri yang mengantar jemput mereka sekolah, karena kami selalu berdiskusi tentang perasaan dan aktivitas harian kami selama perjalanan di mobil menuju rumah, karena aku sendiri juga yang menemani mereka belajar menjelang evaluasi sekolah. Aku menyediakan waktu yang cukup dan berkualitas untuk anak-anakku. Aku tidak percaya hanya dengan quality time akan cukup buat anak-anakku. Aku percaya quantity sama pentingnya dengan quality. Semakin banyak waktu yang berkualitas kita habiskan dengan anak-anak kita maka akan semakin baik hasil yang bisa kita harapkan dari anak-anak kita.

Jadi, prinsip ini juga melatarbelakangi proses pencarian rumah tinggal buat kami sekeluarga. Dimanapun nantinya kami tinggal, aku tetap menyekolahkan anak-anakku di Istiqlal agar aku tetap punya quantity dan quality time itu tadi....artinya nyari rumah ya jangan jauh-jauh dari tempat kerja dan sekolah anak-anak...

Banyak yang berprinsip seperti aku ini di kantorku...makanya kami jadi tergantung dengan taman penitipan anak (TPA) di kantor sebagai tempat anak-anak kami menghabiskan waktu setelah sekolah dan menunggu jam kerja kami selesai. Maka ketika ada kebijakan di TPA tentang tidak bolehnya anak berumur 5 tahun ke atas dititipkan di kantor di susul dengan surat resmi yang menyatakan bahwa kami hanya bisa menitipkan anak-anak kami sampai dengan 31 Desember 2009....kami jadi kelabakan dan benar-benar tidak tau apa yang harus kami lakukan untuk mengatasi masalah kami.

Apakah ini saatnya anak-anak harus pulang ke rumah dan menjadi anak asisten kami? iya bagi yang ada asisten di rumah, bagaimana dengan yang tidak punya? Apakah harus dibawa ke kantor dengan menahan perasaan sungkan pada teman-teman kantor lainnya karena tiap hari harus membawa anak-anak? OK, seminggu, dua minggu mungkin mereka masih bisa menahan dan mengajak bercanda anak-anak kami...bagaimana jika tiap hari begini. Karena suatu kali aku pernah pasang status FB tentang doa semoga esok harinya, asistenku benar-benar balik ke rumahku setelah cuti hampir 3 minggu dan ada satu temen yang komentar bahwa jika bertahun-tahun melihat ibu yang membawa anaknya ke kantor membuat dia eneg dan terganggu....aku kan ga mau seperti itu....dianggap menganggu oleh yang lain-lainnya....

Waktu yang diberikan TPA pun terasa terlalu mepet karena kami hanya punya kurang dari 4 minggu untuk menyiapkan pengganti TPA, apapun bentuknya...dan seminggu pertama berlalu tanpa ada ide apapun mampir ke otakku. Mengantar anak-anak pulang denga sopir sudah pernah aku lakukan ketika aku diklat 6 minggu dulu dan hasilnya..sungguh-sungguh berat di ongkos dan anak-anak menjadi tidak terkendali dalam bermain dan menonton TV.

Aku dan suami sempat berkeliling daerah cempaka putih dan utan kayu untuk cari rumah kontrakan...tapi tetap saja ga semudah itu mencari tempat tinggal yang sesuai dengan selera dan kantong kami.

Pada saat yang hampir sama, tiba-tiba aku terpikir tentang TK dan day care yang ada di masjid dekat kantor suamiku. Kuminta suamiku kesana untuk tanya-tanya dan ternyata, menurut pengurus masjid itu, walau TK dan day care yang dulu itu sudah ditutp, saat ini mereka sedang menyiapkan program kerja untuk 2010 dan day care bisa menjadi salah satunya. Maka suamiku meminta aku untuk menindaklanjuti diskusi itu dengan mengunjungi sendiri masjid itu dengan ibu-ibu lain yang berprinsip sama denganku. Singkat kata, setelah kami bertiga sempat sama-sama bingung tentang mau dikemanakan anak-anak kami ini, Day Care di Masjid At-Taibin yang akhirnya bernama Ina Day Care ini disetujui oleh BPPH Masjid untuk diselenggarakan mulai awal tahun depan yaitu senin depan...pas saat anak-anak kami tidak bisa dititipkan lagi di TPA kantor....

Oooow...senangnya...hari ini adalah keputusan final setelah kami berdiskusi tentang tarif yang mesti kami bayar untuk jasa day care ini. Sempat membuat kami berhitung-hitung dengan tawaran awal yang mereka ajukan, akhirnya tawaran akhir kami mereka terima dengan menaikkan uang pangkal untuk biaya mereka menyiapkan sarana buat anak-anak kami agar tetap terkesan homy...tapi dengan biaya bulanan yang sama dengan yang biasa kami bayarkan di TPA kantor.

Dengan demikian sampai saat ini, kami-kami ini tetap bisa jadi full time mom and worker at the same time....

Read More..

Senin, Desember 28, 2009

Little Woman

Minggu lalu Gramedia Grand Indonesia diskon 30% lagi…bahkan 35% untuk pemakai BNI. Susah sekali mencari waktu yang pas agar bisa memilih buku dengan leluasa, karena seperti biasa..penduduk Jakarta akan kalap kalau Gramedia diskon 30% begini. Ini bikin aku bingung, sebenarnya…penduduk Jakarta ini sebegitu sukanya membaca…atau sebegitu maniaknya ama diskon? Beberapa bulan lalu ada midnight sale di Puri Indah Mall, dan karena lokasinya yang dekat tempat tinggalku, aku pun ikutan datang….ternyata…semua orang juga berpikir demikian, sampai jalan-jalan di sekitar mall itu penuh dengan 2 lajur parkiran mobil… Malam itu, aku akhirnya ga beli apa-apa karena duluan pusing ngeliat sebegitu banyaknya orang yang ngantri di kasir. Kesimpulanku siy, orang Jakarta lebih menyukai diskonnya daripada baca bukunya…(hehehe..kesimpulan yang maksa….padahal kan mungkin saja, semua orang suka membaca dan memanfaatkan diskonan ini..)

Seharusnya, sebelum berangkat ke Gramedia, sudah harus punya list buku-buku apa saja yang akan dibeli, mengingat betapa ramainya situasi Gramed. Tapi tetep saja, walau list sudah ada di tangan, aku tetap saja kerepotan mencari buku di daftarku itu (sekali lagi, karena banyaknya orang itu) dan akhirnya menyambar buku apapun yang ada disitu dan terlihat menarik. Salah satunya adalah ‘Little Woman’, buku klasik karya Loisa May Alcott tahun 1868. Sudah pernah dengar tentang filmnya walau belum pernah nonton dan ternyata sudah ada 14 film yang mengadaptasi novel ini.

Buku ini memang benar-benar menyenangkan, baik dari segi ceritanya maupun cara bertuturnya. Dan sempat membuatku minder (dan bertekat untuk menjadi lebih baik) karena tokoh ibu dalam buku ini digambarkan dengan luar biasa manis dan sangat disayangi oleh 4 anak perempuannya…bahkan ada satu adegan yang digambarkan dengan sangat menarik sehingga membuatku ingin menangis…. Dan yang paling kusuka adalah kata-kata yang dipakai terasa pas dan tidak berlebihan.

Aku paling tidak bisa membaca deskripsi yang terlalu detil dalam menggambarkan lokasi suatu kejadian, menurutku jadi bertele-tele dan kehilangan maknanya. Jika ada bagian seperti itu, bisa dipastikan akan aku lewati tanpa membacanya sama sekali (kata temanku justru itulah keasyikan membaca...membayangkan apa yang dideskripsikan pengarangnya...walau sekali lagi...aku bilang berlebihan...). Nah..di buku Little Woman ini semua digambarkan seperlunya tapi tetap dapat memberikan gambaran tentang apa yang terjadi.

Tentang tokoh Ibu...dari awal digambarkan sebagai sosok yang tenang dan begitu dibangga-banggakan anaknya..tapi ternyata untuk menjadi seperti itu, perlu perjuangan ekstra keras seumur hidupnya karena sifat awal sang Ibu yang mudah marah dan meledak-ledak dan cenderung menyakiti dengan kata-katanya.... walau tidak pernah digambarkan satu kalipun sang Ibu sedang kehilangan kontrol emosi, ada satu kejadian ketika dia menasehati anak keduanya dan menceritakan perjuangan dirinya untuk menjadi orang yang lebih baik. Nah, ada satu paragraf yang bisa jadi peganganku untuk jadi ibu yang baik seperti tokoh Ibu itu....
”Ibu harus mencoba melatih semua kebaikan yang Ibu inginkan untuk dimiliki anak-anak Ibu, sebab Ibu adalah contoh bagi mereka. Lebih mudah bagi Ibu untuk mencoba demi kamu daripada demi Ibu sendiri; tatapan kaget atau heran dari salah seorang di antara kalian ketika Ibu berkata kasar lebih mengingatkan Ibu, daripada kata-kata apapun; dan kasih sayang, rasa hormat, dan kepercayaan dari anak-anak Ibu merupakan hadiah paling indah yang akan Ibu terima atas usaha Ibu untuk menjadi wanita yang Ibu inginkan untuk mereka jadi kan teladan..”

Sungguh...aku belum lagi menamatkan buku ini...tapi kepalaku sungguh pusing menahan air mata karena begitu tersentuh dengan ceritanya....


Read More..

Selasa, Desember 22, 2009

Detya Naziha Wikrama

Ehem...ehem...agar dimaklumi kalau sebagai ibu, akan sukaaa sekali membanggakan anak-anaknya..

Kali ini aku ingin membicarakan Detya, anak pertamaku...
Aku sudah lama bikin blog atas nama masing-masing anakku....yang jarang-jarang kuisi...link-nya ada di header halaman blog ini. Namun karena memelihara satu blog ini aja susahnya ampun-ampunan (dalam hal konsistensi posting...)...maka blog atas nama anak-anakku itu jarang terurus.

Hari sabtu kemarin, kami jalan-jalan setelah menghadiri evaluasi akhir semester untuk Javas...dan sepulang dari perjalanan itu, Detya menulis beberapa kalimat di bukunya sendiri. Dari situ aku berpikir, kenapa ga tulisan Detya sendiri yang mengisi blog atas namanya? Apalagi sekarang aku sudah punya modem dan PC butut di rumah sudah bisa digunakan lagi. Sekalian biar Detya melek IT...

Maka besok harinya (hari minggu), kami (aku dan Detya) memindah catatan di buku tulisnya itu ke blog dia sendiri. Detya cukup senang, walau pada saat proses penulisan itu, Detya sempat bersedih karena diingatkan oleh Ayahnya.

Sekarang sudah ada satu post yang asli tulisan Detya dan selanjutnya....blog itu biar Detya sendiri yang mengisinya....Memang agak susah memotivasi Detya untuk menuangkan pikirannya dalam bentuk tulisan...ataupun membaca buku yang agak tebal dan tanpa gambar....dia lebih suka bermain sepeda keliling kompleks....atau menemaniku di dapur....

Aaaahhh...walaupun salah satu obsesiku adalah anak-anakku suka membaca....tapi biarlah...kalau sekarang ini mereka masih belum bisa memulainya....toh...aku dulu mulai membaca buku apapun pas kelas tiga SD....

Tapi setidaknya mereka semua sungguh suka dibacain cerita..... Bukankah itu awal yang baik..?....

Jadi...perkenalkan...anak perempuanku yang mulai belajar menulis...Detya Naziha Wikrama....

Read More..

Selasa, Desember 15, 2009

Taukah Anda...




Bahwa pohon bambu menyerap CO2 dan menghasilkan O2 35% lebih banyak daripada pohon lainnya?

Bahwa satu pohon besar dapat menyediakan kebutuhan oksigen untuk 16 orang?


..............maka banyak-banyaklah bertanam pohon demi hidup kita sendiri....


DAUR ULANG


Daripada segala rupa plastik tutup botol, spidol, baterai bekas dibuang begitu saja dan merusak lingkungan, mending dijadikan mainan yang cantik....(hmmmm.... bisa dijadikan agenda liburan niy...bareng anak-anak)


Termasuk segala rupa kemasan pembungkus bengkas ini...bisa jadi barang berguna......TRASHION....

Kebaca ga siy? ini mind map tentang apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi global warming

PAMAN GERY DAN SUPER KIDS
Dari acara radio tiap pagi jam 06.00 - 07.00 di Radio Female ini, kami tau ada acara hebat ini.... FYI, acara ini favorit anak-anakku....(thanks to mba devi yang mengenalkan acara bermutu ini)

note:catatan yang tertinggal dari Green Festival 2009 di Parkir Timur Senayan tanggal 5-6 Desember 2009

tak lupa juga lagu D'Masiv yang dinyanyiin langsung di akhir acara...Jangan menyerah...Jangan menyerah...Jangan Menyeraaaaaahhh



Read More..

Jumat, Desember 11, 2009

Uang Saku Anak


Sudah beberapa minggu ini aku pusing dengan cara jajan Detya. Semenjak kecil, aku ga pernah membiasakan anak-anakku buat beli jajan di luaran. Aku selalu sedia stock jajanan untuk mereka, dengan begitu aku bisa mengontrol apa-apa yang mereka cemil. Aturan utama adalah no MSG dan no benzoat....makanya ga ada itu T**o atau C***i atau segala rupa kripik kentang. Juga ga ada permen-permen atau anything with benzoat sebagai pengawet....(kata dokter, bikin batuk...dan emang terbukti).

Ketika mulai masuk TK, aturan di sekolah mendukung upayaku untuk tidak membuat anak-anakku jajan di luar, karena sekolah mewajibkan anak membawa bekal sekolah sendiri. Walau bekal anakku ga sekreatif bekal anak-anak mba devi atau penggemar bekal bento lainnya...tapi lemayanlah...(menghibur diri sendiri mode : ON)...walau kadang-kadang (baca:seringkali)..masih snack bungkusan juga...

Nah...akhir-akhir ini ketika jemput detya sepulang sekolah, aku sering melihat dia mengulum permen lolipop...atau coklat stick... Agak kaget karena aku ga pernah ngasih dia uang jajan..lalu dapat darimana dia?...tanya punya tanya..dia bilang dibeliin teman. Sesering itu? apakah dia diberi atau meminta dibelikan? Dia juga cerita kalau dibelikan teh botol oleh temannya...wah...wah...wah...berapa siy uang saku teman-temannya itu sampai sukarela jajanin Detya? Aku hawatir jangan-jangan Detya yang minta-minta dibeliin dan berulang-ulang kutanya, jawaban Detya tetap keukeuh bahwa temannya yang beliin dia dan dia ga minta-minta.

Selanjutnya Detya juga mulai mencari-cari uang recehan dan bahkan mengambil uang yang ada di mobil untuk parkir dan bayar tol....Wedew...kami mulai agak cemas dan mulai memikirkan apakah perlu memberi uang jajan? Aku lebih memilih untuk mulai mengajari tentang uang, tapi mengingat dia masih memilih makanan yang dibeli hanya sesuai keinginannya sendiri, kami masih merasa perlu meyakinkan Detya agar bisa memilih jajanan yang sehat. Tentu saja aku ga mau, apa yang kuusahakan dari dia kecil dulu untuk memilih makanan sehat, jadi berantakan karena pemberian uang jajan ini.

Jadinya pagi ini langsung browsing sana-sini tentang perlu tidaknya pemberian uang jajan ini, dan ternyata semua artikel menyarankan ini namun ga ada yang menyebut angka pastinya berapa...hanya harus disesuaikan dengan kebutuhan anak...ada artikel yang sangat membantu untuk menentukan jumlah pastinya berapa dan tips-tips lainnya di artikel Perlukah Anak Diberi Uang Saku? atau artikel PEMBERIAN UANG SAKU: MENCEGAH ANAK UNTUK MENCURI atau Uang Saku : Pengetahuan Dasar Keuangan Anak.

Weits...ternyata pemberian uang saku/jajan ini cukup mendesak...karena suamiku sendiri ingat dulu dia juga begitu...cari-cari recehan ibunya buat jajan. Suamiku ga mau Detya juga mulai seperti itu tapi masih khawatir Detya ga bisa ngontrol apa yang dibeli.

So...pagi ini kami mulai memberi Detya uang jajan 5.000 saja dengan pertimbangan dia sudah bawa bekal sendiri dan uang segitu cukup buat beli jus buah atau teh botol dan permen kesukaannya....langkah selanjutnya adalah mengingatkan Detya untuk memilih jajanan sehat dan menyisihkan uang itu untuk tabungan...(wew....5000 sekalian buat nabung..?...waaaa...cukup ga siy..)

Eniwei...tanggapan Detya tadi pagi bikin BT juga karena dia cemberut dengan jumlah uang segitu. Dia membandingkan dengan uang jajan teman-temannya yang minimal 10.000. Lalu negosiasi sampai berbusa-busa kami lakukan sehingga dia bisa netral lagi buat masuk sekolah...(tanpa cemberut maksudnya...)

Ada saran ga, sebenarnya berapa besaran uang jajan yang pas untuk anak kelas 1 SD yang udah bawa bekal sendiri dan ga perlu uang tansport serta hanya ada satu toko kecil di sekitar sekolahnya?

Read More..

Selasa, Desember 08, 2009

Training Di Bali


Sehabis lebaran lalu, ada permintaan peserta training "Fundamental of Bonds Market" di Bali. Dengan semangat 45, aku mendaftarkan diri karena kuota untuk divisiku cuma 1 orang. Semangatku muncul karena judulnya yang ga nyangkut sama sekali dengan bidang kerjakku, jadi bener-bener bisa nambah pengetahuanku. Selain itu.....Ini BALI booow....sapa yang ga demen Bali.

Lalu, trainingnya sendiri dilaksanakan minggu lalu tanggal 3-5 Desember dengan jadwal yang padat...di Hard Rock Hotel..... Antara kesenengen dan bingung (banyak senengnya siy)...bagaimana mungkin training diadakan di hotel dugem diseberang Pantai Kuta.....well...yang ada, pasti para peserta sibuk sendiri buat senang-senang...

Ternyata engga juga...kami serombongan, termasuk orang-orang serius yang taat jadwal..(karena kami tau bahwa waktu buat seneng-seneng juga telah disediakan). Hari pertama berangkat dari Jakarta jam 8 pagi dan nyampe di Bali pas makan siang. Semua akomodasi telah diurus dan lembaga yang ngundang kami training, telah menyerahkan semua urusan perjalanan ini ke sebuah biro travel. Jadinya semenjak di Bandara Soeta, aku sudah dilayani dengan baik....bagasi diurus, kami dikasih kupon untuk bisa masuk ke salah satu lounge selama menunggu boarding. Turun dari pesawat juga udah ga mikirin bagasi karena si bagasi bakal langsung diantar ke kamar masing-masing. Nyampe Hard Rock Hotel kami langsung makan siang dan setelah sholat...training langsung dimulai dan berakhir jam 09.30 malam....(wuihhh....what a schedule...). Tentu saja pas break menuju sesi malam...tak lupa menikmati sunset di pantai Kuta yang tinggal nyebrang jalan aja...(wow..what a beautiful sunset...)

Berada di pantai Kuta, serasa bukan berada di Indonesia...turis bersliweran di depan mata dengan kostum seminim mungkin untuk menikmati matahari....dan tiba-tiba aku merasa salah kostum, karena walaupun sudah berusaha casual...tetep saja jins panjang dan batik se-siku tampak ga matching dengan orang-orang yang minimal berhot pants dan thank top bahkan bikini disana sini...semua bule cowoknya pun bertelanjang dada....bikin pandangan mataku otomatis menunduk karena risih.... Bukan...aku bukan terpesona...karena banyak bule berperut buncit yang santai aja bertelanjang dada...coba kalau si Taylor Laurtner yang main New Moon itu ada juga di Kuta....bisa jadi aku ngences dengan sukses....

Besoknya jadwal penuh sehari...tapi sesi training berakhir sore hari dengan diakhiri ujian..(hmmmppppttt....training dua hari...tetep pake ujian dengan itung-itungan yang bikin mumet). Malamnya kami dinner di Laka Leke restaurant di Ubud sambil menikmati Tarian Kecak. Laka Leke ini terkenal dengan bebek gorengnya yang cruncy...dan biasanya setiap Senin malam, mereka mengadakan pertunjukan Tarian Kecak. Tapi...trainingku ini emang spesial sehingga bisa memesan Kecak secara privat...(kabarnya kalau pertunjukan private gini, biayanya bisa sampai puluhan juta...)


Nonton Kecak secara langsung gini sensasinya emang luar biasa dibanding hanya nonton di TV.....saking seriusnya menikmati tarian ini...bebek sepiring habis ga kerasa...(dasarnya emang jago makan!!...tapi aku lebih suka bebek goreng pak slamet yang lembut dan gurih daripada bebek goreng yang kering gini). Aku pikir, untuk meningkatkan tingkat budaya kita, perlu untuk sesering mungkin menikmati pertunjukan-pertunjukan seni semacam ini. Sensitifitas perasaan bisa diasah dengan sering-sering menikmati keindahan gini. Aku termasuk orang yang ga pedulian...tapi menikmati Kecak kemaren membuatku ingin menikmati keindahan-keindahan yang lainnya.

Dulu waktu training di Singapura mengenai anggaran berbasis kinerja dan mencoba mengerti bagaimana Singapura mengukur KPI di bidang budaya dengan indikatornya adalah memperbanyak pertunjukan seni di gedung-gedung seni mereka. Aku heran apa hubungan banyaknya pertunjukan dengan pencapaian KPI budaya? Aku pikir...apa banyak yang akan mendatangi pertunjukan itu? Ternyata setelah menikmati sendiri efek nonton Kecak secara langsung dengan peningkatan apresiasiku terhadap seni, aku bisa memahami kenapa KPI singapura seperti itu. Seni emang membuat perasaan menjadi halus....dan jika sudah halus gini...selamat tinggal kekerasan...anarki dan teror...

Back to the training...
Hari sabtu pagi..(hari terakhir training)...diisi dengan jalan-jalan di laut.... Kami pergi ke Sanur di Puri Santrian yang mengadakan Seawalker....sungguh pengalaman yang tak terlupakan...dengan sejenis helm astronot...kami menyelam di pantai Sanur...kira-kira 200m dari pinggir pantai di sebuah ponton. Aku ga bisa renang...tapi itu ga jadi penghalang buat acara seawalk ini... Selanjutnya walau sedikit terganggu dengan perbedaan tekanan yang menyerang telinga, jalan-jalan di dasar laut ini menjadi sangat menyenangkan dengan ikan-ikan yang bersliweran disekelilingku.... Buat pengalaman pertama..lokasi Sanur ini cukup menarik walau airnya tidak terlalu jernih sehingga pemandangan airnya cukup berkabut... Sayangnya..waktu di bawah lautnya tidak terlalu lama...kira-kira 30 menit termasuk proses turun naik dan jalan ke lokasi terumbu karang.


Pulang dari Seawalker ini, kami langsung check out dan makan siang. Aku lebih memilih ketemu sama temen diklatpimku yang ada di bali daripada mengikuti acara bersama...dan ketemu lagi di sore hari di Joger buat beli buah tangan..untuk selanjutnya menuju ke Jimbaran buat makan malam di pinggir pantai.... Woaaaa...Jimbaran emang asyik..walaupun makan malamnya ga terlalu mengundang minat karena ga ada rasa lapar....sebenarnya menu makan malam serba seafood (yang merupakan favoritku...), dengan tiap orang dapat satu piring besar yang isinya lengkap...dari udang, kerang, cumi, kepiting dan ikan bakar....tapi karena perut ga merasa lapar jadi yaaa.....ga bisa sampe habis...


Lalu kamipun ke bandara menunggu jadwal kepulangan...dan enaknya lagi...semua bagasi sudah diurus dan turun dari pesawat dapat priority sehingga ga pake lama nunggunya....

Training kali ini benar-benar menyenangkan karena gabungan business and pleisure-nya pas banget....dan yang paling enak...FREE OF CHARGE....hehehehe...


sumber foto: donlot dari facebook teman...(hiks...gara-gara males bawa kamera sendiri)
Read More..