Minggu, Februari 24, 2019

Setahun Yang Lalu..

Semenjak awal masuk IGD sampai Sabtu pagi itu harus masuk ICU, tak pernah aku membayangkan bahwa beliau akan meninggalkan kami semua.

Sudah sejak akhir tahun lalu aku berusaha menekan ingatan biar tidak terasa sakit.  Tapi tetap saja di beberapa waktu, ingatan itu muncul tanpa bisa dibendung.

Hari minggu pagi, jenazah beliau dimakamkan, dari minggu dini hari ketika sampai kediri sampai minggu siang, aku hanya berdiam di dalam rumah dan tidak ikut mengantarkan ke pemakaman.

Aku tau kapasitas daya tahanku...

Siang itu ada teman yang menjenguk, dan akhirnya aku keluar rumah dan melihat ini semua terpajang di halaman rumah Kediri.

Dari Dirjen almarhum, yang waktu itu juga melayat di RS, mantan Dirjenku dan Dirjenku yang sekarang..



Teman-temanku dan teman-teman almarhum






 



Sampai Mitra Kerja almarhum







  





Sebelum ini, aku termasuk yang mempertanyakan kegunaan rangkaian bunga ucapan belasungkawa ini...

Tapi setelah mengalaminya sendiri dan merasakan betapa hatiku terhibur membaca ucapan-ucapan belasungkawa dan kesaksian-kesaksian tertulis teman-teman mengenai almarhum di Facebook maupun WA, aku tak lagi meragukan manfaat karangan bunga dan ucapan belasungkawa seperti ini.

Read More..

Rabu, Februari 13, 2019

Kilas Balik

Dari awal tahun kemarin terasa sesak di dada karena muncul kilas balik kejadian tahun lalu.  Saat-saat pertama gusi berdarah yang bikin demam dan tak bisa menikmati liburan akhir tahun.

Gusi berdarah yang ternyata adalah salah satu tanda leukimia.

Alhamdulillah akhir tahun 2018 sampai awal 2019, aku dan anak-anak fokus beribadah sehingga, ingatan-ingatan kilas balik itu bisa sedikit ditekan.

Balik dari ibadah, mulai kesulitan lagi menekan ingatan, karena tentu saja teringat kejadian-kejadian tertentu.
Misalnya saat pertama hasil medical check up keluar, betapa kami kebingungan bacanya.  Semua indikator yang ingin kami ketahui, tidak sesuai dengan rumusan yang kami tau.

Saat-saat ingatan itu muncul, benar-benar bikin baper.  Sampai ketika ada info viral via WA tentang kebutuhan donor trombosit seseorang yang didiagnosa ALL, bikin aku langsung ngojek ke Dharmais, bahkan ketika kondisi sedang gerimis.

Aku sama sekali ga konfirmasi dulu via telpon mengenai kedaruratan kebutuhan donornya.  Aku hanya teringat, bahkan sampai beliau meninggal, trombopheresis tidak tersedia karena susah nyari donornya.

Tapi aku tidak menyesali kabaperanku itu, karena walau ditolak, aku dapat info mengenai Apheresis Squad. Dan akhirnya cita-cita jadi pedonor apheresis bisa terlaksana 

Dan minggu lalu, kebaperan semakin memuncak karena sudah menjelang Pendak Pisan.  FYI, dari awal beliau meninggal dulu, pengajian buat beliau hanya dilakukan pas hari pemakaman saja.  Butuh mental yang kuat untuk tidak mengikuti tradisi 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, pendak pisan, pendak pindo dan 1000 hari.

Kami dulu sering diskusi mengenai hal-hal seperti ini.  Dan dari yang aku tangkap, beliau setuju jika kita tidak harus mengikuti tradisi itu, tapi kita tetap harus menghormati jika orang tua masih ingin seperti itu.  Maka aku, dan disetujui anak-anak, tidak mengikuti urutan itu.

Bagi kami, doa dari anak-anak adalah amalan penyambung yang paling utama dan kami fokus pada hal itu.

Tapi takbisa dipungkiri, bahwa aku masih memikirkan perasaan saudara-saudara almarhum.  Walaupun saudara sekandung menerima keputusan kami, ada saudara-saudara lain yang sempat secara khusus menyinggung hal ini.  Jadi ketika tiba waktunya pendak pisan, aku jadi semakin baper.

Untungnya Si Sulung sangat membantuku. Di kesibukan sekolah dan les, tapi masih sempat menanggapi kebaperan bundanya.

Aku hanya ingin Sulung meletakkan bunga favorit kami berdua di makam ayahnya.

Dulu, Februari ini bulan yang kami tunggu-tunggu.  Kami biasa memasang sprei kesayangan (yang hanya dipasang sekali setahun) dan meletakkan bunga favorit di kamar.  Dua tahun terakhir (2017 dan 2018), aku bikin hitungan mundur di medsos disertai foto-foto keluarga/berdua atau slideshow anak-anak.  Ya...bulan Februari adalah anniversary kami... dan sekarang adalah bulan duka kami.

Maka ketika Sulung kemarin bisa melaksanakan permintaanku itu, aku tidak dapat menahan kebaperanku.


Sedap Malam...iya..itu bunga favorit kami.
Read More..

Selasa, Juli 17, 2018

Hening

Aku butuh olah raga karena beberapa tahun ini tensiku selalu tinggi.  Yoga jadi pilihan utamaku karena intens tapi tidak membutuhkan banyak gerakan.

Saat yang paling bikin aku ga sanggup adalah ketika pendinginan setelah semua selesai.

Saat posisi tubuh rileks dalam keadaan terlentang dan kita diminta mengosongkan pikiran dan melemaskan seluruh tubuh.

HENING...TENANG...dan seharusnya DAMAI..

Masalahnya...saat-saat seperti itu, aku selalu teringat sekilas-sekilas seminggu terakhirmu...

Dan hatiku selalu merasa tersayat-sayat..

Read More..

Rabu, April 25, 2018

Peluk Cium Ayah

Hari kedua sekolah setelah pemakaman

"Bun, aku gamau salim doang  sebelum berangkat sekolah."

"Bukannya salim kita sudah khusus?"

"Tapi biasanya kan abis salim Bunda, dipeluk cium sama Ayah terus Ayah bilang bahasa korea itu.."

"Ooooo...oke deeeh"


#percakapandengansiSulung

Sampai saat ini aku gatau arti harfiah kalimat korea itu apa karena kalau aku browsing, ga pernah ketemu spelling-nya bagaimana.  
Duluuu pernah nanya, kata beliau itu kalimat mutiara yang artinya kamu pasti bisa melakukannya.

Sependengaranku kalimatnya " Yolsimi kumbuheyo".

Tapi kalau browsing nemunya ini:


sudaahlah...aku ikuti pengucapan beliau saja karena membuat Sulung lebih tenang..

Read More..

Selasa, April 24, 2018

Donor Darah ke 38

Hari ini aku memastikan bahwa bulan Oktober tahun lalu tepatnya tanggal 10 Oktober 2017, donor darah suamiku masih diterima dengan baik oleh PMI.  Tidak ada tanda-tanda kelainan darah yang membuat darah ditolak untuk jadi donor.

Satu-satunya tanda yang kelihatan dan muncul pertama kali adalah gusi berdarah tanggal 27 Desember 2017.

Jadi sistem imun itu drop, somewhere between 10 Oktober - 27 Desember 2017.


Read More..

Senin, April 16, 2018

Cry..Cry..Cry...



"Bun, pernah lihat Ayah menangis?"

"Iya, pernah.  Kenapa?"

"Kapan?"

"Waktu Mbahtri meninggal, pas Ayah selesai sholat.  Bunda cari Ayah di musholla, Ayah langsung menangis.  Kedua pas dapat kabar Mbahkung meninggal, Ayah sedih sekali karena dari pagi itu Ayah sudah pengen nelpon Mbahkung tapi ga sempet-sempet.  Jadi Ayah menyesal sekali, kenapa kok ga maksain nelpon.  Kenapa sih? Emang kamu pernah lihat Ayah nangis?"

"Iya, pas Ayah habis pergi keluar kota seminggu dan Bunda juga lagi pergi"

"Kenapa Ayah menangis? Apa karena merasa sakit? Waktu itu kan pertama kali Ayah demam dan dadanya sakit."

"Bukan karena sakit kok, Ayah menangis karena sedih dan terharu.  Ayah bilang, sudah lama ga ngajak kita jalan-jalan jauh bareng-bareng."

"Mungkin karena Ayah habis dari Labuhan Bajo urusan kerja jadi pengen ngajak kita kesana.  Kayaknya Ayah menangis karena merasa sedih sejak ngurus usaha di Kediri Ayah jadi  terlalu sibuk. Bagaimanapun Ayah tetap mikirin kita sampai merasa seperti itu."

Dan kita berdua pun tersedu-sedu.


#percakapandengansiTengah

Read More..