Rabu, Februari 25, 2015

Respect


Suatu pagi seseorang marah padaku karena aku dianggap membuat orang lain tidak hormat padanya...  Cara bicaraku yang nyenthe-nyenthe (aku ga tau apa bahasa indonesianya...mungkin setara dengan ketus) membuat orang lain jadi menyepelekannya.

Ooooow well....
Aku ingat sekali...biarpun sikap Ibukku ke Bapakku sering seenaknya sendiri....ga mengurangi rasa hormatku kepada Bapakku...justru cara Bapakku menanggapi Ibukku membuatku bertambah hormat dan sayang kepada Bapakku.

Atau
Bos pertamaku dulu yang sering dibilang pengkhianat oleh bos yang lan hanya karena dia pindah instansi, justru menasehatiku untuk selalu loyal dan bersikap baik kepada semua atasan kita, karena mereka-mereka itulah yang akan membuat hidup kita jadi baik atau tidak dengan perkataan mereka. Tak sekalipun beliau meyuburkan rasa sebalku pada bos lain yang kasar itu... Orang seperti itulah yang pantas mendapatkan rasa hormat...



Read More..

Selasa, Februari 24, 2015

Be Patient


Kamis minggu lalu (19 Februari 2015) adalah hari yang menyedihkan buat kami sekeluarga besar.  Sehari sebelumnya adikku melahirkan.  Harus operasi sesar karena lama pembukaan dan akhirnya si ibu kecapekan.  Ternyata sehari setelah dilahirkan, bayi cantik itu tidak dapat bertahan hidup karena keracunan air ketubannya sendiri.

Rana Widya Awahita...

Adikku baru bisa melihat bayi cantiknya setelah si cantik tidak bertahan lagi.  Maka yang bisa aku sampaikan adalah bersabarlah....apapun yang terjadi bersabarlah...

Tak ada gunanya menyalahkan bidan yang tak kunjung merujuk ke dokter ketika sudah berhari-hari pembukaan tak kunjung meningkat...ketika bidan selalu bilang tak apa-apa ketika adikku bertanya tentang kondisinya itu...ketika bidan baru benar-benar mendampingi adikku ketika pembukaan sudah cukup besar...ketika bidan baru merujuk ke dokter ketika adikku sudah tak kuat lagi...

Tapi apakah masalah akan selesai jika kita marah?  Bersabarlah...ikhlaslah....semua yang telah terjadi pasti atas kehendak Allah SWT dan tugas kita untuk mencari hikmahnya...
Read More..

Jumat, Februari 06, 2015

Ibu dan Hemodialisa

Ibuku sudah mengidap diabetes sejak tahun 2000 lalu.  Diawali dengan gula darah di atas 400 dan harus rawat inap, selanjutnya rutin dua kali setahun Ibu harus dirawat karena kadar gulanya tinggi.

Momen kadar darah meningkat itu bisa diprediksi, setiap selesai Hari Raya Idul Fitri dan setelah Maulid Nabi.  Pokoknya ga jauh-jauh dari dua hari besar itu.  Bisa dibayangkan kan kenapa? Karena saat itu, kami semua tidak bisa mengontrol asupan makan Ibu.  Di Banyuwangi, kalau Maulid Nabi tiba, ada perayaan yang cukup ramai, dan tiap masjid berbeda-beda waktu perayaannya.  Jadi makanan melimpah ruah dan akhirnya kadar gula Ibu meningkat....dan harus rawat inap.

Demikian rutin setiap tahun dengan pola yang sama. Itu untuk yang rawat inap, kalau kondisi lemas atau luka yang sulit sembuh, itu seringkali terjadi.  Ibuku bukan termasuk orang yang disiplin, seberapa keras kami berusaha mengingatkan dan mengontrol makanan Ibu, masih sering juga kami melihat bungkusan plastik Extr* Jo**, Marim*s, Nutr* Sari*, atau minuman-minuman lain sejenisnya ada di tas Ibu dalam keadaan yang sudah kosong.  Kami hanya bisa tarik nafas dalam-dalam jika sudah seperti itu.

Sampai tahun 2014...

Dari awal tahun, Ibu mengeluh tentang kakinya yang membengkak sehingga sulit untuk berjalan.  Kemudian, sesuai kebiasaan tahunan, setelah Idul Fitri Ibu rawat inap.  Sampai akhirnya pulang ke rumah setelah 10 hari rawat inap, tidak ada perkembangan yang berarti.  Maksudnya kadar gula sudah normal, tapi bengkak di kaki tidak berkurang.  Bahkan beberapa minggu kemudian bengkak itu sudah bertambah di perut, dada dan muka.  Rawat inap lagi, pulang lagi tapi tetap tidak ada perubahan.  Rupanya bagian tubuh yang bengkak itu disebabkan ginjal yang tidak dapat menyaring darah dengan sempurna.

Untuk  kesehatan, Bapakku mendapat asuransi dari pensiunan salah satu Bank BUMN dengan batasan hanya untuk rawat inap dan maksimal 25 hari. Nah, batasan itu sudah habis, lalu Bapak berinisiatif untuk mendaftarkan Ibu ke BPJS Kesehatan.  Bedanya, BPJS Kesehatan tidak membatasi jumlah hari, tapi membatasi rumah sakit yang bekerja sama.  RS tempat biasanya Ibu dirawat, tidak bekerja sama dengan BPJS Kesehatan sehingga akhirnya Ibu harus ke RSUD.

Nah, setelah pindah ke RSUD penanganan terhadap penumpukan cairan semakin intensif.  hanya saja, Ibuku bosan rawat inap terus menerus, sehingga jika kondisi lumayan baik. Ibu minta pulang.  Sebulan di rumah, ternyata harus rawat inap lagi dan berdasarkan rekomendasi teman, akhirnya ganti dokter.  Dan penanganan rawat inap itu cukup berbeda sehingga setelah 10 hari bisa pulang.  Tapi Ibu masih lemas dan ga punya tenaga sendiri untuk beraktifitas.  Sampai minggu kedua Desember kemarin, tiba-tiba Ibu ga sadar sama sekali dan langsung dibawa ke RSUD.  Ternyata kadar gula Ibu turun sampai 35 saja, sehingga setelah diinfus cairan gula Ibu bisa sadar lagi.  Setelah dua hari dan diskusi dengan tim dokter, disarankan agar Ibu melakukan prosedur Hemodialisa atau bahasa kerennya...Cuci Darah.

Okay, kami cukup banyak browsing tentang prosedur ini sampai akhirnya semua sepakat bahwa Ibu memang perlu cuci darah.

Okay, waktu itu dokter masih belum bisa memutuskan apakah HD ini permanen atau temporer saja.

Okay, akhirnya setelah 3x HD dengan selang masing-masing 3 hari, akhirnya Ibu boleh pulang.

Daaaan...okay bahwa ternyata Ibu harus rutin HD seminggu sekali sampai saat ini.

Sisi positifnya...Alhamdulillah Ibu sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya yang ga bisa beraktivitas sama sekali.  Bagi kami semua, dengan kondisi saat ini kami sudah sangat-sangat bersyukur.  Kami juga sangat bersyukur bahwa BPJS menanggung semua biaya untuk HD ini.

Sampai saat ini aku masih browsing kesana-kemari berkaca dari pengalaman orang lain yang harus HD atau merawat orang yang harus HD.

Semoga Allah senantiasa memberikan yang terbaik untuk kedua orang tua kami.


Read More..

Rabu, Januari 21, 2015

Tas Lukis

Okay....satu pengakuan baru.  Setelah sebelumnya selalu ngiler lihat arloji cantik, dua tahun ini kesukaanku berubah...ngiler lihat tas cantik...eh..koreksi....ngiler lihat tas diskonan yang cantik. 

Suatu ketika, pas cuci mata di Moozee Bags, ada diskonan tas kanvas warna putih.  Tanpa pikir panjang, langsung order dengan tujuan si tas ini bisa buat tempat baju olah raga.  Pas tas kanvas ini sampai, terlihat besar dan polos saja sehingga berpikir ulang, kira-kira dikasih apa ya biar unik dan menarik?

Lalu browsing lah kemana-mana tentang lukis kanvas.  Sebenarnya, ada satu ilustrator cat air yang aku suka desainnya yaitu Ayang Cempaka.  Salah satu desain tentang family, jadi inspirasiku untuk desain lukisan tasku.  Hanya saja, aku ragu, apakah Ayang Cempaka menerima order yang seperti itu, mengingat Mbak Ayang ini tinggal di Dubai walaupun sering pulang ke Indonesia.

Lalu coba browsing instagram dan nemu desain lukis cat air yang aku sukaaaaaaa banget, desainnya mbak Nadya Andri.  


Setelah tanya-tanya, dia bilang kakaknya menerima order lukis tas kanvas.  Hanya saja, sampai saat ini aku masih belum dapat respon dari email yang aku kirim.



Sambil menunggu balasan email itu, aku terus saja browsing di Instagram dan kecantol di Mimpi Nglukis Art Studio.  Ngobrol-ngobrol-ngobrol, beliau setuju untuk melukis tasku dengan konsep yang aku inginkan.  Tas kanvas tadi langsung aku kirim dan Mimpi Nglukis Art kirim sketsa.

Okay, setelah memberi tambahan informasi, Mimpi Nglukis Art kirim desain awal.

Dari lukisan itu, paling mirip adalah gambar Detya,  Javas nampak marah sehingga aku pengen dihalusin tampak mukanya.  Sedangkan gambarku sendiri, aku merasa agak aneh karena hidungku keliatan kepanjangan.  Hasil final menjadi seperti ini:

Anak-anakku bilang yang bikin aneh dari wajahku adalah bentuk alisnya yang melengkung, seharusnya lurus saja.  Hanya saja, sudah tidak bisa revisi karena cat sudah kering. Secara keseluruhan, aku cukup puas dengan tas kanvasku yang sekarang jadi unik dan tiada duanya.

Ahem....dan tasku dua hari ini adalah tas itu..


Read More..

Senin, Januari 05, 2015

2014

Ga percaya rasanya bahwa posting terakhir yang aku lakukan adalah bulan November 2013.

Aku masih suka blogwalking...jalan-jalan baca tulisan bloger yang lain.  Sambung menyambung jika ada tulisan lain yang juga menarik.  Tapi hati ini sama sekali tak tergerak untuk menulis sendiri.

Banyak yang terjadi, banyak yang ingin aku bagikan, tapi tak sekalipun aku tergerak menulis.

Dari banyak yang telah terjadi, satu saja yang ingin aku tuliskan. Aku Mutasi...alias pindah lokasi walaupun masih di level yang sama.

Di tempatku, mutasi itu hampir-hampir seperti sesuatu yang tak mungkin terjadi.
Jadi gini, dari satu unit kerja..ada beberapa direktorat.  Direktoratku yang awal,itu seperti direktorat yang terpinggirkan.  Kalaupun ada mutasi, yang paling mungkin adalah mutasi internal direktorat saja.  Ga mungkin mutasi pindah direktorat apalagi dari direktorat lain masuk ke tempatku. MUSTAHIL (pakai huruf kapital).

Hari Kamis terakhir bulan Maret 2014, aku mendengar kabar kasak-kusuk beredar bahwa akan ada dua orang dari direktoratku yang masuk bursa mutasi.  Satu orang promosi sedang satu orang lainnya dipindah ke lantai bawah.  Ruanganku ada di lantai 6 dan lantai bawah artinya tempat yang tidak terpinggirkan.

Sesorean kabar kasak-kusuk itu santer terdengar, tapi tak sekalipun aku turut membahas.  Aku bosan dengan istilah terpinggirkan dan tak terpinggirkan...anak kandung dan anak tiri (tempatku)...aaah..whatever...

Sampai besok paginya sekitar jam 10, seseorang datang ke ruanganku dan menyerahkan undangan untuk mutasi itu.  Rasanya aku tidak bisa berkata apa-apa....aku?....AKU?....yang akan dipindah ke bawah ke tempat anak kandung itu AKU?

Well, tanggal 2 April aku resmi pindah.  Jangan ditanya kehebohan yang terjadi di tempatku.  "Kok Dewi dipindah siiih? Dewi yang mumpuni kok dibuang ke bawah?"....Mumpuni? emang aku punya ilmu silat yang mumpuni yaaa...

Waktu aku pamitan ke Big Bossku, beliau berpesan:"Saya ga akan ngasih orang yang biasa-biasa aja untuk pekerjaan di bawah, jadi saya percaya Mbak Dewi bisa bekerja dengan baik disana"...

O well....either way...aku anggap dua-duanya pujian.

Dan memang adaptasi di tempat baru itu cukup menyita perasaan.  Aku bukan orang yang suka berpindah-pindah....aku menikmati comfort zone.  Tapi memang sudah 8,5 tahun aku berada di tempat yang sama.

Dan memang..tahun 2013 itu aku sudah resah ingin menikmati tantangan baru.  Tapi tetap saja aku tidak menyangka bahwa harapanku itu menjadi kenyataan.

Eniwei....bulan ini adalan bulan kesepuluh di tempat baru.  Selama waktu itu, aku tetap tidak bisa mencari jawaban kenapa tempat ini disebut anak kandung....kenapa tempat ini dianggap paling diidam-idamkan di antara direktorat yang lain.  Pekerjaan yang aku lakukan justru lebih ringan daripada tempat yang lama.  Semuanya sudah ada SOP dan jelas alurnya.  Ga ada konflik-konflik kepentingan yang mungkin terjadi.  Ga ada koordinasi lintas kementerian yang luar biasa alot yang dulu biasa aku lakukan.

Jadi, kalau menurutku pribadi, tunjangan tambahan yang aku terima di tempat baru...lebih karena prestise saja....bukan karena beban kerja yang lebih berat daripada di tempat lain.

Kesimpulannya...Jangan takut keluar dari comfort zone...bisa jadi tambahan penghasilan menantimu...



Read More..

Jumat, November 15, 2013

Kasih Sayang Bunda

Kasih Sayang Bunda

Pencipta:Detya Naziha Wikrama

Kok bisa kasih sayangmu membuatku gelisah tak menentu. Pagi,siang,sore,malam aku pasti rindu ungin bertemu Bunda.
Aku tak tau harus apa,rasa ini terlalu hebat
Kalau ingat kata-kata Bunda,anak kecil harus sayang bundanya
Cantiknya,aku tergila-gila
Baiknya,kau buat aku sayang
O Bunda o Bunda aku harus apa
untuk membalas kasih sayang Bunda itu

#pagi-pagi beberes rumah...nemu tulisan Detya di kolong kasur....
Langsung berhenti dan secepatnya mengabadikan tulisan ini di blog...

Dua malam lalu aku harus lembur sehingga pulang rumah jam 22.30. Sepanjang lembur beberapa kalo Detya telepon dan dia terdengar sangat gelisah....mungkin saat itu dia tulis ini.

Kalau dibaca-baca...sepertinya dia menggabungkan apa yang dirasakan dengan lagu yang dia dengarkan. Eniwei...selama ini aku sering meminggirkan dia karena harus mendahulukan adik-adiknya yang super handfull..karena berpikir dia sudah lebih besar..lebih mandiri...
Kalau baca ini jadi sadar bahwa Detya pun butuh perhatianku...

Detya...Bunda loves you too Sweetheart...

Read More..