Minggu lalu ada training wajib untuk level kerjaku, maksudnya semua levelku di kantor wajib ikut training ini. Berdasar assessment dua tahun lalu, kami-kami ini dinilai inovatif tapi ga ada continuous improvement, interpersonal skillnya juga kurang... Jadi dengan training softskill ini diharapkan interpersonal kami meningkat dan kami juga punya semangat untuk pengembangan diri dan juga sistem kerja...ga cuma apa adanya seperti sekarang. Kalau pembelaan kami siy...kami ini sudah cukup sibuk dengan kerjaan rutin sehingga ga sempet memikirkan bagaimana untuk memperbaiki sistem yang ada. Lah...lagian sistem yang ada sekarang udah bisa jadi dasar bagi kami untuk bekerja dengan baik dan inovatif...ngapain mesti ribet untuk mencari sistem lain lagi? (terbukti kan kalo improvement kami ga kontinyu? ...)

Kami juga dimotivasi untuk menjadi pribadi yang profesional dan diajarkan untuk bisa mengelola stress hingga ke level yang bisa mengoptimumkan hasil kerja kami..(kupikir...ngomong aja gampang...prakteknya niy...yang susah)

Eniwei...masalah improvement tadi bener-bener bakal butuh usaha yang keras dari kami sendiri untuk bisa menjalankannya. Beda dengan interpersonal skill, materi tentang ini sangat-sangat bermanfaat dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Tujuan utamanya siy untuk menjalin hubungan dengan bawahan. Tapi kupikir, apa yang disampaikan trainernya bisa diaplikasikan untuk semuanya...untuk anak, orang tua, suami, temen sekantor, atasan, bawahan, rekan kerja...semua orang bisa.

Pertama kita mesti mengenali diri sendiri dulu, baru mengenali orang lain. Selanjutnya jika kita sudah tau orang lain itu gimana maka perlakuan terhadap orang lain itu akan disesuaikan dengan karakter orang yang telah kita kenali.

Pas mengenali diri sendiri ini, trainer menanyakan warna favorit kita apa dan berdasar penelitian, warna favorit tersebut 85% sama dengan karakter pribadi kita.... memang ga 100%, tapi 85 dari 100 cukuplah untuk menebak karakter orang seperti apa (artinya kan 15 aja yang jawabannya bakal beda).

Ada namanya DISC Profiling yang mewakili 4 kuadran perilaku individu
  • D-Dominance : diwakili dengan warna biru, personifikasi adalah SINGA. Bisa dibayangkan kan, singa itu seperti apa? Pemimpin dan penguasa dengan keinginan dalam hati untuk jadi nomor satu. Dalam situasi nyaman orang Biru akan sangat suka bersaing, penuntut, teguh pendirian dan yakin akan dirinya dan keputusannya, dan punya tujuan tertentu. Tipe pemimpin lah.... Kalau dalam situasi yang menekan maka si Biru akan agresif, mengendalikabn, pemaksa dan bossy serta tidak bisa toleransi terhadap apapun yang menghyalangi tujuannya.
  • I-Influence : diwakili dengan warna merah dengan binatangnya adalah LUMBA-LUMBA. Lumba-lumba kan ramah, suka bermain-main dan suka berceloteh. Seperti itulah si Merah jika merasa nyaman, gaul, dinamis, terbuka, antusias dan persuasif. Jika tertekan, maka si Merah akan impulsif, gampang cemas, ceroboh, flamboyan dan terburu-buru.
  • S-Steadiness : diwakili warna kuning, dengan KOALA sebagai personifikasinya. Koala digambarkan bijak dengan pendirian yang tenang dan pasti, mudah didekati dan penuh kehangatan. Dalam keadaan nyaman si Kuning ini sangat peduli dan mendukung, gampang berbagi, sabar dan rileks. Tapi jika tertekan dia akan jadi pasif, hambar, sangat tergantung dan keras kepala.
  • C-Compliance : diwakili dengan warna hijau dengan hewannya adalah RUBAH karena banyak akal, cerdik, dan berhati-hati. Jika merasa nyaman, si hijau akan berhati-hati, precise, kritis dan formal. Jika tertekan, dia akan konvensional, tidak mantap, ga mudah percaya, dingin dan sangat-sangat menahan diri.

Ketika pertanyaan tentang warna favorit dari empat pilihan warna itu, dengan penuh pertimbangan aku memilih MERAH....maka semua hal yang disebutkan ketika si Merah tertekan....bener-bener..."aku banget"....tapi aku ga terlalu gaul...aku juga ga terlalu terbuka (temenku nyeletuk kalau aku lebih terbuka di blog-ku ini daripada di kehidupan nyata...tapi intinya dia bilang...aku ini terbuka), tapi aku memang dinamis, antusias terhadap hal-hal baru dan cukup persuasif... Jadi rasanya aku bisa dikategorikan sebagai hampir merah sempurna.... (huahahaha...maksa..!!)

Eniwei, bahasa tubuh masing-masing kuadran juga dijelaskan sehingga, kita bisa semakin mudah mengenali orang lain itu tipe yang mana. Nah jika kita sudah tau karakter lawan bicara kita seperti apa, maka topik-topik yang menarik untuk dibicarakan sesuai tipe adalah :
  • Dominance : Bisnis, pekerjaan/tugas, fakta, ekonomi
  • Influence : pribadi, pergaulan, hobi, cita-cita, inspirasi, ambisi dan gengsi...(engga aku deh....aku ga suka selfcenter seperti ini)
  • Steadiness : keluarga, rumah tangga, team spirit, sosial, humanisme, parental, dan service/pelayanan (aku lebih suka membicarakan hal-hal seperti ini...)
  • Compliance : ilmu, data/informasi, statistik, falsafah, teknologi, sistem, dan analisa.

Topik-topik itu bisa jadi awal yang baik untuk selanjutnya ngomongin kerjaan atau hal lain yang sebenarnya jadi tujuan utama kita. Artinya gini, jika kita ingin menuntut bawahan kita untuk perform dengan baik maka tentu saja kita mesti menjalin hubungan pribadi yang baik... Nah..topik-topik di atas bisa dijadikan permulaan untuk menjalin hubunngan...dengan siapa saja.

Kembali ke kenapa aku merasa ga merah sempurna, ya itu tadi..aku ga suka jadi pusat perhatian, beda dengan si Lumba-Lumba sejati yang cenderung ingin jadi pusat perhatian dan ga bisa distop kalo sudah ngomong. Aku ga suka gaul dalam hal dugem...nyobain tempat makan baru...(itu yg digambarkan trainernya). Aku juga ga suka ngomongin pribadi, pergaulan, hobi, cita-cita, inspirasi, ambisi dan gengsi....halah...apa pula itu...

So....Am red....almost pure red....I think I am red with a little yellow...


Read More ..
Bulan Juni lalu dapet cek kesehatan gratis dari Askes...dan hasilnya baru dua hari lalu aku terima....beuh...lama banget...apa proses birokrasinya ya yang bikin lama?
Karena ketika kulihat tanggal hasil lab-nya...sesuai dengan tanggal pelaksanaannya. Jadi apa yang bikin prosesnya butuh 5 bulan untuk sampai ke mejaku ya...?..Huh...bener-bener birokrasi itu menyebalkan..!! (dan aku salah satu pegawainya....shame on me...)

Eniwei..hasil cek darahnya cukup membuatku bersedih...kadar trigliseridaku tinggi sekali..hampir mencapai angka 300....juga asam uratku....inilah akibatnya bagi orang yang ga mengatur pola makan.... jerohan? ..ayooo....melinjo? ...asyik....seafood? ...sedaaap... Huaaaahhh...semua makanan yang bikin asam urat meningkat dan trigliserid naik adalah makanan favoritku.

Jadinya browsing sana-sini untuk nyari makanan apa aja siy..yang mesti dihindari agar 2 hal tersebut ga naik lagi..sebelum jadi penyakit yang parah.. Aku nemu artikel tentang cara alami menurunkan kolesterol dan trigliserida..

Untuk asam urat juga sama..makanan-makanan favoritku itu semuanya bikin kadar purin dan trigliserid juga naik...jadi jika menghindari jeroan dan sea food..maka dua hal itu juga ga akan mampir...

Duluuu..ketika memasuki umur 30..aku berjanji pada diriku sendiri untuk mengatur pola makan...ternyata sampai usia 34 ini aku belum melaksanakan janjiku sendiri itu. Sekarang, setelah hasil cek kesehatan itu keluar....baru aku teringat lagi akan janji mengatur pola makan itu....Beuh...ternyata butuh dipentung dulu baru bisa sadar.

Agenda hidupku ke depan..(Ya Allah....bantu aku untuk istiqomah melaksanakannya...amien):
  • mengatur pola makan (minimal tidak jeroan dan seafood secukupnya..)
  • olah raga (minimal jalan kaki rutin....ga kuat kalo disuruh lari...)
  • Banyak minum air putih...(kembung...kembung deh..yang penting aliran buangan zat tubuh lancar..)

Read More ..
Rabu sore lalu, ada Parenting Class lagi...cuman yang bikin bertanya-tanya..kok undangannya ditujukan untuk kelas A3 dan B3 bersama-sama? Eniwei...dengan semangat 45, aku datang, karena kupikir kita bakal sharing tentang apa yang telah terjadi ketika solusi awal dilaksanakan.

Sebelumnya, Javas cerita bahwa mulai minggu lalu dia mengalami perubahan kelas. Aku jadi bertanya-tanya, bagaimana dengan parenting class yang sebelumnya dilaksanakan? apakah berhenti begitu saja? apa bakal ada parenting class yang baru? apa alasan dibalik perubahan kelas ini? Bagaimana kelanjutan treatment Javas di sekolah? Banyak pertanyaan muter-muter di otakku tapi belum bisa terjawab. Sempat berpapasan dengan Bu Guru, dan beliau bilang akan dijelaskan kemudian..walau sedikit memberi clue bahwa sesuai kematangan emosi dan umur maka diadakan perubahan kelas.

Pertemuan rabu lalu itu menjawab semua pertanyaanku. Bahwa pertemuan ini dilakukan untuk penutup atas parenting class yang awal dan akan ada parenting class baru sesuai pembagian kelas yang sekarang.

Perubahan kelas dilakukan karena terdapat beberapa anak-anak kelompok B3 yang dinilai sudah lebih matang dibanding teman yang lain sehingga akan lebih baik jika dia bergabung dengan temannya yang lain. Guru Kelas yang baru sudah diserahi catatan khusus tentang si anak agar treatment sebelumnya tetap berlanjut untuk lebih memancing kreatifitas si anak. Beberapa anak yang masih dianggap perlu perhatian khusus tetap dibawah pengawasan Guru Kelas B3, sedangkan anak-anak lain yang bergabung di B3 merupakan anak-anak yang sudah sangat matang sehingga tidak akan terpengaruh dengan apa yang dilakukan anak-anak B3 awal. Intinya perombakan ini sudah melalui penilaian yang matang dari Tim Guru, sehingga dengan kondisi yang baru ini target pembelajaran bisa cepat tercapai..(you know lah...apa yang diinginkan orangtua TK B....termasuk aku juga... hehehehe...anaknya bisa membaca dan berhitung!!...terutama yang merencanakan untuk SD di luar Istiqlal)

Sigh...walau aku selalu membandingkan pencapaian anak-anakku dengan diriku sendiri di umur yang sama...tetap saja tuntutan lingkungan membuatku lebih menggenjot anak-anak agar jangan terlalu jauh dengan standar umum. OK..aku bisa baca pas akhir kelas satu dulu...tapi apa aku bakal tahan kalau semua orang tanya: 'Anakmu udah bisa baca belum?'...makanya sedapat mungkin melatih anak membaca..walaupun berusaha se-fun mungkin...jangan sampe anak merasa terpaksa dan tertekan.

Back to the topic. Dalam pertemuan itu Bu Guru juga menyampaikan bahwa ada sebagian orangtua yang khawatir ketika anaknya masuk ke kelompok yang diwalikelasi (idih bahasaku kok aneh gini) oleh Bu Guru karena di luaran dikenal bahwa kelompok yang ada 3-nya itu kelompoknya anak-anak nakal...Hah...APA?..anakku dianggap anak nakal....(iihh...itulah hasil ketidaksempurnaan informasi...bisa bikin salah ambil kesimpulan...bahkan yang sudah dapat informasi lengkap saja sering salah ambil kesimpulan...bagaimana dengan orang yang tau cuma sedikit sedikit tapi malah menyebarkan info berdasar interpretasinya sendiri...makanya daripada tanya ke orang lain yang belum tentu tau info yang lengkap mending konfirm langsung aja deh ama Bu Guru)

Makanya sekarang ini nama kelas diganti dengan nama-nama pejuang Islam jaman Rasulullah dulu untuk menghapus kesan itu. Dan perlu dijelaskan juga bahwa kelas A3 dan B3 dulu itu merupakan kumpulan anak-anak yang belum matang sosial emosinya...bukan karena nakal...ada yang super pendiem...(seperti anakku) dan super aktif (yang seringkali ga bisa mengontrol motoriknya sehingga dianggap tukang pukul). Jadi, kami sendiri memahami bahwa anak-anak kami bukan anak nakal...(jauuuh deh dari nakal)...tapi spesial....(ya...bisa disebut special need...walau bukan autis maupun hiperaktif).

OK..Javas dianggap sudah cukup matang, jadi bisa dilepas ke pengawasan guru yang lain dan sesuai selang umurnya (sudah lebih 5 tahun 6 bulan) maka dia masuk kelompok B Al Arqam...hmmmm...aku pribadi lebih memilih agar Javas tetap dalam pengawasan guru kelas yang awal...(karena beliau senior...pengalaman banyak...komunikatif....enak diajak ngobrol.....sekarang lagi kuliah dan ilmu-ilmu barunya banyak buat ngadepi anak-anak setipe Javas...wew...jadi ngiri ama ibu-ibu laen yang anaknya tetep dipegang Bu Guru ini...)

Eniwei...aku bersyukur anakku dinilai sudah cukup matang sosial emosinya dan sepanjang diskusiku dengan Javas dua minggu ini, dia tidak mengalami masalah apa-apa dengan perubahan kelompok ini. Beda dengan kelompok A3 yang anak-anaknya sampai ada yang mogok sekolah karena groupingnya sangat-sangat kuat dan mereka jadi resisten dengan kelas yang baru. Padahal mekanisme perubahannya sudah dilakukan bertahap dan kedekatan emosi antar teman juga dijadikan pertimbangan untuk mengatur kelompok. Jadi tinggal orangtua saja yang harus memotivasi anak agar bisa beradaptasi dengan lingkungan yang baru.

Perlu diingat bahwa dunia luar lebih beragam lagi, jadi dengan perubahan-perubahan seperti ini anak bisa belajar beradaptasi dengan lingkungan baru. Aku perlu menggarisbawahi hal ini, karena ada orangtua yang protes keras kenapa ada perubahan seperti ini saat anaknya sudah merasa nyaman dengan keadaan yang ada dan akibat perubahan ini dia mogok sekolah. Lingkungan RA Istiqlal sendiri lebih homogen dibanding TK di luaran sana, artinya...dengan guru-guru yang sangat kental mengajarkan nuansa keislaman di sekolah...lokasinya sendiri yang ada di masjid....ga ada murid non muslim....komunikasi orang tua & anak yang sudah seragam....komunikasi guru dengan orangtua yang terbuka...maka anak terbiasa dengan keadaan yang harmoni...

Bayangkan dengan kondisi yang homogen itu, tiba-tiba di SD nanti dia berhadapan dengan lingkungan yang heterogen...jauh berbeda dengan keadaan waktu RA.... Kalau tidak dari sekarang dibiasakan beradaptasi, bisa-bisa dia ga mau masuk SD...yang merupakan pendidikan formal...beda dengan TK yang masih dalam tahap bermain. Lalu harus bagaimana kalau sudah gitu...belum tentu juga sekolah terbuka dengan keluhan orangtua murid....apa terus pindah sekolah lagi?...

Waahh..malah ngomongin orang lain...intinya....apa yang kuomongin di atas ini juga kupikirkan buat anak-anakku. Sekarang aja aku masih menghadapi masalah Detya yang kurang istiqomah dengan pendapatnya sendiri...masih gampang ikut-ikutan temen. Padahal dia masih di lingkungan yang sama...gimana kalau dia sekolah di SD umum...bisa-bisa usahaku jadi lebih sulit untuk membuat dia jadi anak yang teguh pendirian.

Untung saja Javas sendiri merasa asik-asik saja dengan teman-teman barunya...(tapi aku perlu konfirm lagi dengan Guru kelasnya yang baru...).

Tetep, walau Javas dianggap cukup matang...aku sendiri merasa Javas masih perlu dukungan yang kuat untuk beraktivitas dengan benar sesuai umurnya... Jadi, hasil parenting class sebelumnya tetep akan dilanjutkan sampai kapanpun...karena lepas Javas...ada Wisam yang sekarang saja suka melipat tangan di dada kalau sudah mau sesuatu...(jadi pengen ketawa kalau dia sudah melakukan itu....karena lucu sekali gaya "ga mau diatur"-nya itu...)

Jadi orangtua artinya belajar seumur hidup....


Read More ..
Temuan 5 : Bullying (fisik/verbal)
seperti memukul atau mengata-ngatai..bahkan mengancam

temuan ini tentu saja temuan yang negatif...yang mungkin disebabkan oleh pengalaman negatif yang sebelumnya pernah dibullying atau mengalami bullying sendiri. Jadi si anak mempraktekkannya kepada anak lain yang dia anggap lebih lemah dari dia. Ini juga termasuk bagian dari imitasi..karena si anak meniru orang lain untuk melakukan bullying itu.

Cara mengatasinya adalah:
  • orang dewasa di lingkungan sekitar agar memberikan model yang baik sebagai contoh
  • action langsung dan katakan bahwa 'ini perbuatan tidak bail'
  • kurangi atau buat batasan dalam menonton TV
  • Disiplin with love (Bu Guru menyarankan untuk membaca buku ini)
  • tanyakan kepada anak kenapa mereka melakukan itu, apa yang sebaiknya dilakukan. Hal ini untuk membangun nilai tanggungjawab dan mengambil keputusan

Intinya gini..sebenarnya anak itu sudah bisa menalar apakah perilaku mereka itu baik atau benar. jadi kembalikan semua pertanyaan untuk di jawab anak sendiri.

Semua perbuatan yang tidak baik, pada dasarnya sudah bisa dinalar oleh anak sehingga tugas kita untuk menunjukkan bahwa itu salah dan tidak patut dilakukan.
Misalnya Javas suka sekali ngomong kasar (kalau Bu Guru bilang itu 'kata mutiara' misalnya bego, oon, toyol....) dan ternyata sebagian besar Ibu-Ibu juga mengeluhkan hal yang sama.

Pertama pastikan dulu apakah si anak mengerti arti dari perkataannya itu. Jika dia memang mengerti berarti dia kan memang memaksudkan kata-kata itu untuk siapapun yang dia sebut begitu. Lalu kembalikan kepada si anak bagaimana perasaannya jika ada orang lain yang menyebutkan hal itu pada si anak. hampir pasti jawabannya adalah si anak ga suka..lalu tanyakan kira-kira kita mesti gimana biar orang lain juga tidak merasa seperti itu.... Disitulah kita bisa menanamkan nilai tanggung jawab dan mengambil keputusan
Atau karena dia masih marah maka dia bisa saja menjawab 'ga papa kok..aku ga keberatan'..kalau dia menjawab begitu, sampaikan bahwa kalau kita pribadi diolok-olok begitu maka akan merasa sedih dan sampaikan bahwa membuat orang lain sedih dengan sengaja itu tidak sama dengan perilaku Nabi Muhammad dan sebagainya dan sebagainya...

Ada salah satu status mbak devi di FB setelah mendengar talkshow di radio tentang memotivasi anak agar tidak gampang ikut-ikutan teman-teman yang lain...kalau tidak salah begini kalimatnya:
Ibu : "Menurutmu kamu bisa tidak untuk tidak ikut-ikutan teman-temanmu melakukan itu"

intinya seperti itu deh...intinya tanyakan sendiri pada si anak tentang segala sesutu. Biarkan si anak sendiri yang menentukan jawabannya dan membuat keputusan tentang apa yang akan dilakukan si anak. Kita hanya bertugas mengarahkan agar keputusan itu muncul sendiri.... Kalau kita sendiri yang membuat keputusan banyak hal negatif yang akan terjadi, terutama anak tidak belajar untuk membuat keputusan dan bertanggung jawab terhadap keputusannya sendiri

Sebenarnya masih ada beberapa temuan lain yang memang masih belum dibahas ketika parenting class. Tapi ketika kubaca, intinya mirip dengan temuan-temuan sebelumnya sehingga pintar-pintar kita sendiri untuk terus mencoba berkomunikasi yang baik dengan anak-anak kita. Misalnya ketika anak suka teriak/marah-marah...merupakan hal yang mirip dengan bullying..jadi kita mesti memberi contoh untuk dapat ditiru ketika mengontrol emosi dan menerima emosi positif dan negatif dari orang lain. Atau tentang anak yang kurang inisiatif dapat diatasi seperti ketika ingin membuat anak kita bisa bekerja sama yaitu dengan menstimulasi anak dengan berbagai pilihan daripada kita sendiri yang sudah menentukan...

Ada satu temuan juga tentang aktif secara fisik yang merupakan karakter anak ketika menunjukkan energi yang tinggi, jarang terlihat lelah, mencari permainan dan lingkungan yang aktif dan sulit untuk diam.

Ada satu orang tua yang cerita bahwa anaknya banyak sekali makannya..lebih banyak dari si Ayah...baik dari frekwensi maupun jumlahnya...akibatnya si anak aktif sekali. Si Ayah tanya apakah perlu untuk membatasi makan si anak...
wohohoho....aku aja pengen Javas makan yang banyak dan ga pake disuruh...rasanya ngiri deh..ngeliat anak orang lain sampe mau disuruh menahan makan....

Jawaban Bu Guru (tentu saja jawaban ibu-ibu semua hampir sama)...yang perlu disalurkan itu energinya...bukan mengurangi makanannya..sehingga solusi yang tepat untuk keaktifan fisik itu adalah:
  • pastikan berimbang memberikan permainan/kegiatan yang aktif dan tenang. Misal: dalam ruangan berikan kegiatan yang membutuhkan banyak duduk di kursi agar anak dapat mengontrol fisiknya...
  • menyalurkan energi secara tepat, kapan diberikan waktu untuk bereksplorasi gerak dan kapan ia harus mengontrol diri.

OK...sudah semuanya niy....sekarang tinggal praktek terus setiap saat. Bukankan practice make perfect?
Semakin sering komunikasi yang baik ini dilaksanakan maka akan menjadi lebih mudah menemukan kata-kata positif yang bisa memotivasi anak-anak...dan jika sudah begitu...bukankan artinya kita sendiri menjadi pribadi yang lebih baik?

Apalagi siy yang kita inginkan selain menjadi orang tua yang sempurna buat anak-anak kita?...Kita ini hanya hidup sampai saat ini saja...sedangkan masa depan itu ya milik anak-anak kita....Lalu apakah kita mau masa depan itu menjadi gelap...? (halah...opo to iki..?)...

Intinya..aku ingin menjadi lebih baik untuk anak-anakku...titik...itu saja...



Read More ..
Temuan selanjutnya adalah Follower

Temuan 4 : Follower dengan Teman/Ketergantungan

Karakteristik ini termasuk temuan yang negatif, karena terkait dengan KETERGANTUNGAN artinya dia sangat tergantung dengan orang lain untuk merasa nyaman terhadap sesuatu. Penyebabnya bisa jadi :
  • Pengalaman masa lalu semasa bayi yang kurang membangun hubungan perpisahan yang baik
  • karekteristik perkembangan sosial anak usia 3 tahun yaitu anak tergantung pada pengalaman sebelumnya dengan teman sebaya, sampai ia merasa nyaman dengan anak-anak lainnya

Maksudnya gini fase umur 0-3 tahun adalah masa kita sebagai orang tua seharusnya mengenalkan perpisahan dengan benar. Jika orangtua akan berangkat kerja atau pokoknya mau berpisah sementara, selalu lakukan dengan benar, pamit dengan baik-baik, peluk cium dengan hangat dan yakinkan si anak bahwa walaupun orang tua sedang pergi, dia akan aman bersama dengan orang yang di rumah (entah pengasuh, nenek, saudara...). Jika si anak menangis, tenangkan saja dan yakinkan bahwa kita akan kembali nantinya. Jangan sekali-kali mengelabuhi anak setiap akan pergi dengan alasan agar dia tidak menangis..!! dengan begitu anak akan mempelajari bahwa orangtuanya bisa menghilang sewaktu-waktu dan dia akan merasa tidak yakin bahwa dia akan aman-aman saja selanjutnya.

Jika kita melakukan perpisahan dengan baik, walaupun pada saat itu dia menangis tapi dia jadi tau bahwa orangtuanya akan kembali lagi dan dia akan aman bersama orang rumah. Hubungan pemisahan yang baik ini harus dilakukan pada waktu umur 0-3 tahun jadi selanjutnya dia akan belajar walaupun nanti dia di lingkungan yang baru, dia akan baik-baik saja

untuk poin kedua tentang karakteristik pengalaman sebelumnya dengan teman sebaya...ada satu cerita tentang anak yang tanpa sengaja terkunci di ruang khusus oleh temannya dan baru ditemukan pengasuhnya setelah sore hari waktunya mandi...(pokoknya cukup lama dan si anak sudah berusaha teriak, menangis dan sebagainya). Akhirnya mulai saat itu, si anak jadi menjaga jarak dengan teman-teman sebayanya dan lebih menyukai bergaul dengan orang tua.

Akibat dari dua penyebab itu adalah....anak menjadi tipe pengamat dan hanya mengikuti saja apa yang teman-temannya lakukan....ga ada inisiatif atau ga mau gabung sama sekali dengan temannya (seperti yang kuceritakan sebelumnya...ada anak yang hanya jadi pengamat saja sampai acara selesai)

Teteeeep....ada solusi untuk hal-hal seperti itu...karena anak memang masih bisa belajar banyak hal asal kita bisa mengarahkannya dengan baik (ini solusi hasil penelitian Bu Guru ya...bukan hasilku sendiri...hihihihi).
  • Berikan pengalaman yang berhubungan dengan perpisahan : dengan salaman hangat, kecupan sebelum tidur, menerima ketakutan, kesedihan atau kemarahan bila muncul pada anak-anak kita.
  • Beri kesempatan anak mendapatkan pengalaman sosial yang beragam dengan berbagai teman di sekolah dan di rumah baik dari segi usia, lebih kecil, lebih besar, anak aktif, anak pendiam, anak agresif...jadi dia belajar bahwa banyak karakter orang yang harus dihadapi. Caranya bisa dengan diajak main ke tetangga..atau jika menolak minta dia untuk menemani kita arisan RT..atau main ke rumah sebelah...dan biarkan dia melihat bagaimana cara kita bergaul dengan orang lain. Bisa juga dengan bermain di tempat umum (yang pasti pesertanya sangat-sangat beragam) dan jika bertemu dengan anak lain yang cukup agresif jangan diminta untuk menghindar...tapi dihadapi saja dengan memberi pengertian bahwa mungkin si anak lain itu belum tau peraturan...dsb...
  • Dukung setiap keberhasilan yang mereka alami saat berteman dengan reward, misalnya : 'Hari ini ibu bangga sekali dengan kamu karena mau bermain dengan tetangga'

Untuk Javas sendiri...aku pikir dia lebih ke imitasi daripada follower apalagi yang sampai ke tahap ketergantungan karena seringkali dia bisa menentukan sendiri apa yang dia inginkan. Waktu Bu Guru coba memasukkan tamiya ke dalam tema bulan ini...hanya Javas yang bisa mengikuti alur Bu Guru dengan akhirnya menggambar tamiya besar yang bisa di bawa untuk mengantar ke sekolah (jadi dia menggambar tamiya besar di depan masjid sekolahku...).

Dari mereka bayi aku memang selalu melakukan perpisahan dengan baik-baik (pelum cium itu sudah pasti) sehingga ga ada lagi namanya uraian air mata setiap kali aku pamit pergi. Mereka juga biasa bermain dengan tetangga yang karakteristiknya beragam.

Masalah Javas lebih kepada kontrol emosi yang kurang ketika dia merasa terganggu..jadi diskusiku dengan Javas ketika dia sudah mulai mencakar dirinya sendiri atau memukul ketika keasyikannya terganggu adalah...."bicarakan pakai bahasa...memakai fisik hanya akan membuat orang lain sakit..jika orang lain sakit mereka akan menghindari berteman denganmu"

Mengenai reward, menurutku itu juga sangat penting....ingat selalu agar memberi reward sebelum memberi peringatan terhadap perilaku yang ingin kita perbaiki...misalnya ada ibu yang cerita bahwa anaknya seringkali terlambat karena ingin harus sholat dulu pas sesaat sebelum berangkat..maka si Ibu cerita ke anaknya saat selesai parenting class..."kata bu guru kamu hebat...kamu udah pinter..suka beramal....tapi karena datangnya seringkali telat maka jadi ga bisa ikut maen lama-lama deh..."..hasilnya besok paginya...bangun tanpa disuruh..langsung sholat subuh dan ga terlambat lagi deh... Itulah kekuatan pujian....

So...ibu-ibu...bapak-bapak...jangan pelit untuk memberi pujian terhadap semua hal yang dilakukan anak kita....

Read More ..
Pfuiiih...rasanya males banget akhir-akhir ini....males kerja...males nulis...mgantuuuks terus....ngopi bergelas-gelas ga mempan...tapi blogwalking kesini sanggup nelusuri arsipnya dari awwaaaal sekali dia nulis....(aku jadi ngerasa worthless banget...doing nothing but read this blog...).

Aku selalu saja terkagum-kagum sama anak muda yang punya pemikiran di luar mainstream....tapi tetep mengkedepankan kesopanan...seperti semua tulisan Margaritta ini...(dulu juga nelusuri semua tulisannya sejak awal..)...Kalau Diana Rikasari ini selera busananya yang menurutku di luar mainstream...and still look awesome on her...(gara-gara Diana juga aku jadi keinggris-inggrisan...maksudku....jadi nyelipin english di postingan atau status FB....lah gimana engga....dari minggu lalu aku sudah nelusuri arsip dia yang in english semua - hampir setiap waktu luang...yang rasanya sedang luang terus...jadi pikiranku juga kebawa in english...)

OK mau nerusin hasil parenting class kemaren...(beuh..kalo ga demi berbagi...rasa males ini masih melingkar-lingkar di otakku)

Temuan 3 : Banyak Bicara/Bertanya

Karakteristik ini termasuk temuan positif karena karakteristik anak secara umum adalah 'rasa ingin tahu yang besar' disamping itu perkembangan bahasa anak usia 5-6 tahun itu sudah bisa menggunakan 5000 - 8000 kata. Jadinya mereka ingin selalu mempraktekkan kemampuan mereka itu dengan mengajak diskusi setiap saat.

Ayo...apa pernah mereka berhenti bertanya setelah jawaban atas 'kenapa' yang pertama terjawab?

Bunda, kenapa traktor itu ada di sungai? karena akan dipakai untuk membersihkan dasar sungai.
Kenapa dasar sungai perlu dibersihkan? karena kalau hujan deras biar ga kena banjir
Kenapa hujan deras bisa bikin banjir? (sudah mulai capek jawab) karena kalau saluran air tidak lancar maka air hujan akan menggenang
Kenapa saluran air tidak lancar?....(bener-bener sudah capek)...hmmm...menurutmu kenapa?...muahahah....cara ini justru lebih sukses memancing mereka berpikir daripada kita hanya sekedar menjawab....mereka ternyata sudah bisa menalar apa yang terjadi....jadi respon pertama sekarang ketika ada pertanyaan 'kenapa' : menurutmu sendiri kenapa?.....nanti lama-lama mereka akan menjawab.."ah Bunda...aku kan tanya Bunda..."....hahahaha....lalu pertanyaan yang ga putus-putus itu akan terulang lagi...dan inilah yang membuat aku dan suamiku jarang bisa berdiskusi ketika sedang di mobil...

Back to the topic...
Solusi untuk menghadapi banyaknya pertanyaan ini adalah:
  1. Berikan jawaban yang kita yakin kebenarannya dengan pendukung (referensi:buku, Al-Qur'an, dll). Jika jawaban kita akan membuat mereka bingung (atau kita belum bisa menjawabnya) katakan bahwa kita belum bisa jawab saat ini, kita perlu cari dulu melalui ...... (buku, internet, ensiklopedia..dll). Tetapkan batas waktu kapan kita akan menjawabnya daaaaan...jangan lupa untuk tetap memberikan jawaban ini walau mereka sendiri sudah tidak mengingatnya lagi (ini ada hubungannya dengan memenuhi janji...jadi mereka belajar bahwa jika berjanji sesuatu harus ditepati...)
  2. Layani setiap pertanyaan atau pembicaraan anak ini dengan FOKUS dan 'EYE CONTACT' - jangan sambil ngobrol dengan orang lain atau sambil kerja. Ini penting untuk membangun dalam diri anak perasaan menghargai dan dihargai.

Kita juga bisa mengajarkan etika disini, maksudnya seringkali ketika kita sedang asik bicara dengan pasangan atau teman kerja (sesama orang dewasalah pokoknya), anak kita bertanya maka stop percakapan itu sebentar (tentu saja dengan ijin dulu - orang dewasa pasti akan lebih mengerti), eye contact dengan anak untuk menanyakan apa yang dia mau, jawab bahwa pertanyaan itu akan dijawab setelah pembicaraan orang dewasa selesai dan ingatkan bahwa lain kali jika ada orang lain sedang melakukan percakapan maka kita harus menunggu percakapan itu selesai baru bisa bertanya...

Jika semua itu konsisten dijalani (of course kita harus mengulang-ulang terus prosedur itu ) maka akhirnya tertanam dalam diri si anak bahwa dia harus menghargai orang lain maka dia pun akan dihargai...

OK...I have to admit that sometime (many time) I lost my patience when I remind my children that they sould wait before they start to ask something...all I say is : 'berapa kali siy bunda harus bilang kalau ada orang sedang bicara, kamu mesti nunggu dulu..jangan langsung menyela'...or...'Detya..masak setiap kali kamu makan bunda mesti ngingetin untuk menutup mulut ketika mengunyah..biar ga bunyi...'

I should say..'maaf Detya..Javas...jika bunda sedang bicara sama ayah...kamu boleh menunggu dulu sampai selesai baru bertanya'...or...'Detya jangan lupa menutup mulutmu ketika sedang makan'...just like that without adding...'berapa kali siy mesti diingetin.....'...beuh....they just kids that have short memory..so we have to keep on remind them.....patiently....

(awww......in english lagi)....




Read More ..