Rabu, April 30, 2008

Kecopetan

Tanggal 18 April kemarin, saya pulang kampung ke Kediri dan Banyuwangi. Ke Kediri untuk menghadiri pernikahan teman sekantor sekaligus mengunjungi mertua, ke Banyuwangi untuk menghadiri pernikahan adik saya. Saya berangkat bersama anak pertama dan kedua, sedangkan adik-adik saya yang lain menyusul kemudian bersama anak ketiga saya. Suami tidak bisa ikut karena kesibukan kantor yang tidak dapat ditinggalkan.

Mengingat dalam perjalanan ini saya membawa anak-anak, maka saya memutuskan untuk menggunakan angkutan kereta api, bukan pesawat karena disamping biayanya lebih murah juga pemberhentiannya langsung di Kediri sehingga tidak perlu transit lagi. Jika menggunakan pesawat maka harus transit dulu di Surabaya untuk kemudian naik bis atau travel selama 3-4 jam lagi menuju Kediri. Namun ternyata, keamanan di kereta menjadi lebih tidak terjamin. Sudah banyak kasus tentang kehilangan barang di kereta. Bahkan terakhir kali saya naik kereta api bulan Agustus 2007, orang yang duduk di seberang saya juga kehilangan tas yang berisi laptop. Untuk itu sejak masuk ke dalam kereta saya sudah berusaha sewaspada mungkin terhadap barang-barang bawaan saya terutama tas tangan saya yang berisi semua keperluan utama saya yaitu dompet beserta isinya, HP, peralatan make-up, obat asma dan obat anakku yang sedang batuk. Semuanya lengkap ada di tas tangan itu.

Kenyataan yang terjadi adalah semakin malam semakin berkurang kewaspadaan saya, apalagi sambil mengurus dua anak yang tidur tidak nyaman di kereta. Berulang kali saya harus bangun untuk mengurus anak-anak, termasuk saat saya tiba-tiba merasa sesak nafas sehingga harus menggunakan inhaler. Lewat jam dua dini hari, saya tertidur cukup lelap sampai tiba-tiba bangun pukul 03.20. Langsung saja saya mencari posisi tas tangan saya dan ternyata sudah tidak ada. Hati saya langsung terasa seperti bolong, saya hanya bisa melongo dan tidak tahu harus berbuat bagaimana. Saya lihat sekeliling dan semua orang sedang tidur dengan lelap. Saya langsung menuju pintu keluar, tapi tidak satu orangpun terlihat sedang bangun. Kemudian saya bangunkan orang yang duduk di kursi sebelah dan saya ceritakan keadaan saya. Dia hanya bisa prihatin dan tidak tahu juga harus bagaimana.

Hal utama yang saya ingat adalah saya harus memblokir semua rekening saya termasuk kartu kredit karena itu yang paling gampang diakses. Tinggal meniru tanda tangan saya yang ada di belakang kartu maka pencuri itu bisa memanfaatkan sampai limit kartu. Membayangkan saja saya sudah ngeri. Untung saja ada satu penumpang yang berbaik hati meminjamkan handphonenya sehingga saya bisa menghubungi suami untuk memblokir semua rekening. Kemudian Polsuska datang dan menanyai saya apakah perlu surat keterangan kehilangan. Tentu saja saya perlu itu untuk mengurus semuanya saat saya kembali ke Jakarta nanti.

Sebenarnya, untuk kereta api eksekutif, pihak KA sudah berusaha mengurangi akses pihak luar (terutama para pedagang asongan) untuk masuk ke dalam kereta ketika kereta sedang berhenti. Pintu selalu tertutup sehingga pedagang asongan hanya bisa berjualan dari luar kereta. Jadi yang ada di dalam kereta ya hanya para penumpang dengan tiket saja. Sehingga sangat mungkin para pencopet yang beraksi di kereta adalah komplotan yang menyamar sebagai penumpang yang beraksi dini hari saat penumpang lain dalam kondisi tidur lelap.

Kejadian kehilangan seperti ini bukan hanya sekali terjadi pada saya. Tahun 2004 ketika saya hamil anak kedua, kalung saya dijambret di KRL. Setahun berikutnya tas saya pernah sobek disilet pencopet di KRL juga dan barang yang hilang adalah HP. Setahun berikutnya lagi saya juga pernah kecopetan tas kerja saya ketika menunggu angkutan umum di pinggir jalan. Pencopetnya menggunakan sepeda motor berboncengan. Beberapa bulan kemudian, hp yang saya letakkan di saku celana juga jatuh tanpa terasa ketika saya naik bajaj.

Saya jadi berpikir, apakah ini memang kecerobohan saya? Suami saya selalu protes mengenai sifat saya yang kurang waspada terhadap lingkungan sekitar. Saya memang merasa bahwa perhatian saya terhadap keadaan sekeliling memang kurang, jika saya berjalan maka saya hanya bisa focus ke satu titik saja yaitu arah depan saya berjalan. Saya kurang melihat keadaan sekitar sehingga seringkali teman yang jalan salipan dengan saya, tidak saya kenali. Baru setelah mereka menepuk saya atau menyapa langsung di depan saya maka baru saat itu saya mengenali mereka. Kondisi inilah yang paling gampang menjadi sasaran para orang yang berniat jahat. Berulangkali suami selalu mengingatkan saya agar belajar waspada sehingga tidak gampang menjadi target pencopetan. Saya sudah berusaha belajar untuk semakin waspada. Siapa sih yang mau menjadi sasaran pencopetan? Tapi ternyata dengan kejadian terakhir ini, saya masih harus lebih kuat lagi berusaha untuk menjadi waspada.

Dari kejadian waktu berangkat itu dan maraknya pencopetan di kereta maka ketika kembali ke Jakarta saya putuskan untuk naik bis saja karena saya pikir akses di bis lebih terbatas lagi. Sekali lagi pertimbangan utama adalah biaya mengingat lebih banyak lagi orang yang ikut pulang bersama saya.

Menurut saya jika memang mau aman dan cepat maka bepergian menggunakan pesawat adalah pilihan terbaik.
Read More..

Senin, April 14, 2008

Artikel Pertama di KOKI

Kokihahahihi
Koki edisi 8 Februari 2008

Ada satu cerita lucu saat saya masih di SMA dulu. Tentu kokiers masih ingat tentang pelajaran PMP, pelajaran yang luar biasa membosankan. Saat saya masih kelas satu Pak guru yang mengajar PMP mempunyai kebiasaan untuk menggunakan kalimat “Sudah barang tentu…”. Setiap beberapa kalimat penjelasan, beliau selalu mengulang kata-kata itu, dan kami para murid mencatat berapa kali dalam dua jam pelajaran itu beliau mengucapkan “sudah barang tentu”. Lumayan buat menghilangkan kantuk. Rupanya lama-lama beliau menyadari bahwa ciri khasnya tersebut sudah menjadi olok-olok, sehingga pada saat saya kelas 2 beliau sudah tidak menggunakan lagi kata-kata “sudah barang tentu tersebut”.

Tapiiiii, sekarang yang beliau lakukan untuk menarik perhatian kami adalah penegasan bahwa kami mendengarkan apa yang beliau katakan, misalkan “Jadi ideology kita adalah Pancasila, pahaaam?” kalo kita tidak menjawab maka beliau tetap mendesak untuk bertanya lagi “Pahaaam?” maka kami pun menjawab “Pahaaaaam.” Begitu selalu, sehingga kami hanya cukup mendengarkan setiap beliau berkata “Pahaaam?” kami akan segera menjawab “Pahaaam.” Agar beliau tidak marah.

Suatu hari yang panas yang membuat kita luar biasa mengantuk beliau menjelaskan tentang ideology negara-negara lain, dan pada suatu kesempatan beliau bertanya, “Kalau rusia menganut pahaam?” karena kami hanya berkonsentrasi di kata “paham” saja maka serentak kami pun menjawab “Pahaaaam.” Maka meledaklah tawa Pak Guru dan beberapa teman kami yang memang konsentrasi mendengarkan.

Read More..

TPA Artha Wildan

Waktu itu bayiku baru berumur 3 bulan (anak pertama) dan sedang bingung cari orang buat ngasuh dia. Ya, setelah cuti bersalin 2 bulan, saya harus mulai kembali lagi ngantor. Dengan terpaksa menelepon ibuku untuk bisa datang menemani anakku di rumah. Pada saat itulah TPA Artha Wildan dibuka, taman penitipan anak untuk ibu bekerja yang ingin merawat sendiri anaknya. Konsep awal TPA Artha Wildhan adalah memfasilitasi ibu bekerja yang ingin memberi full ASI untuk anaknya.

Untuk dapat menyediakan TPA bagi pegawai di tempat kami, perjuangan telah dilakukan jauh sebelumnya. Bahkan semenjak saya masih single, kuisioner dan petisi telah diedarkan agar para petinggi di tempat kami menyadari pentingnya penyediaan TPA buat kami para pegawai perempuan. Walaupun saat itu saya masih single, saya pun turut serta berpartisipasi karena secara pribadi saya sangat mengerti pentingnya ASI untuk bayi, selama enam bulan pertama bahkan akan lebih baik jika ASI bisa diberikan sampai anak umur 2 tahun. Selanjutnya berbekal hasil kuisioner dan petisi tersebut, beberapa orang di tempat kami memperjuangkan pengadaan TPA tersebut kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Hasilnya pada bulan April 2003 TPA Artha Wildan dibuka secara resmi dan menempati ruang khusus di belakang klinik dan masjid di kompleks tempat kami bekerja. Pada waktu pembukaan tersebut, kondisi ruangan sudah sangat bagus walaupun belum tersedia AC sehingga ruangan terasa panas, hanya ada kipas besar di langit-langit tiap ruangan dan cooling fan portable yang tidak menimbulkan efek cool sama sekali.

Namanya saja pembukaan, jadi semua pegawai yang berencana menitipkan anaknya diharap untuk membawa anaknya saat itu untuk menunjukkan bahwa TPA ini benar-benar kami butuhkan. Namun saat itu hanya terkumpul 5 orang yang bersedia menitipkan anaknya ke TPA termasuk saya sendiri. Bagi saya hal ini adalah kebetulan yang sangat membahagiakan, karena seperti yang saya bilang di awal, sangat sulit bagi saya untuk mendapatkan orang yang dapat saya percaya untuk mengasuh anak dan saya pun tidak berniat untuk merepotkan ibu saya untuk terus merawat cucunya di rumah saya (ibu saya tinggal di Jawa Timur). Bagaimanapun ini anak saya, tanggung jawab saya, dan tugas saya sendiri untuk merawat dan membesarkan anak-anak saya. 

Dari acara pembukaan yang dilakukan oleh perkumpulan Dharma Wanita di tempat kami, maka banyak para ibu pejabat yang berkenan menyumbangkan sesuatu untuk TPA kami, misalnya AC, penutup jendela, kulkas, TV dan lain-lain sesuai kebutuhan sebuah TPA. Pada saat pembukaan tersebut, pengasuh anak di dapatkan dari salah satu lembaga pendidikan guru TK di Jalan Pramuka yang sedang melakukan kerja magang. Ada 4 guru pengasuh perempuan dan satu pramubakti yang menyiapkan makanan bagi anak-anak yang dititipkan. Sedangkan ruangan yang tersedia, terdapat 3 ruangan utama saat itu yaitu ruang tidur, ruang makan, ruang belajar dan tempat bermain di halaman TPA (tentu saja ada dapur dan 2 kamar mandi kecil). Fasilitas makan yang didapat yaitu buah/jus pukul 10.00, makan siang pukul 12.00 dan snack sore pukul 15.00. Menu yang disusun pun merupakan rekomendasi dari ahli gizi dari RSCM.

Ternyata saat itu saya hanya sempat menitipkan anak saya selama 3,5 bulan berikutnya karena pada awal Agustus 2003 saya mendapat tugas belajar full time sehingga tidak perlu ke kantor lagi. Dan terpaksalah saya mencari lagi orang untuk mengasuh anak saya dan untungnya saya mendapat seseorang yang cukup bagus dan bisa saya percayai. Saya baru kembali membutuhkan TPA itu empat tahun kemudian, tepatnya ketika anak ketiga saya berumur 2 bulan. Disamping karena saya ingin memberi full ASI paling tidak selama 6 bulan (sesuai program WHO), saya juga tidak punya lagi pengasuh untuk anak-anak saya.

Banyak perubahan yang terjadi di TPA Artha Wildan. Jika saat si sulung masuk, semua anak ada di satu ruang tidur, sekarang ini dipisahkan antara ruang untuk anak (di atas 1 tahun 2 bulan) dan ruang untuk bayi. Untuk bayi disediakan ruang tersendiri yang dulunya merupakan ruang makan. Ruang tidur masih tetap di ruangan yang sama dengan perbedaan tempat tidur atas untuk anak usia peralihan (1 th 2 bln – 2 tahun), sedangkan di bawah untuk anak-anak dengan satu anak mendapat satu kasur kecil portable. Ruang belajar dan tempat bermain masih sama dengan yang dulu sedangkan ruang makan menempati lorong penghubung antar ruangan. Jika acara makan akan dimulai maka meja dan kursi disiapkan dan jika sudah selesai maka meja dan kursi dipinggirkan sehingga lorong tersebut bisa menjadi tempat beraktifitas. Untuk pengasuh juga mengalami perubahan yaitu terdapat 3 pengasuh untuk bayi dan 3 pengasuh untuk anak-anak, sedangkan pramubakti menjadi 3 orang dengan tambahan pekerjaan yaitu membantu mengawasi anak usia peralihan dan melakukan aktifitas bersih-bersih untuk semua anak-anak (artinya bagian cebok jika anak BAK-BAB, membersihkan anak setelah makan menuju tidur siang, dan memandikan di sore hari untuk persiapan pulang). Tiga pengasuh untuk anak-anak masih merupakan orang yang sama pada saat pembukaan dulu, rupanya mereka cukup betah untuk tetap mengasuh anak-anak di tempat kami dan hanya satu orang yang mengundurkan diri tidak lama setelah dulu saya tidak menitipkan anak lagi. Dengan latar belakang pendidikan mereka sebagai guru TK ditambah beberapa kali penugasan untuk capacity building yang berhubungan dengan pendidikan anak usia dini (PAUD) maka walaupun sehari penuh anak-anak berada di tempat penitipan namun banyak aktifitas yang dapat mereka lakukan. Mainan pun juga mainan edukatif yang merupakan bantuan dari Depdiknas untuk PAUD. Jadi menitipkan anak di TPA ini sama saja dengan memasukkan anak ke kelompok bermain dengan biaya yang lebih murah. Mengenai biaya, karena TPA ini diadakan sebagai fasilitas kantor maka bagi pegawai internal biaya bulanan yang ditetapkan tidak setinggi jika ada pegawai luar yang menitipkan anaknya. Subsidi diberikan karena pada waktu pembukaan dulu terdapat dana sisa dari para donatur sehingga pengeluaran tidak tetap diambilkan dari dana tersebut sedangkan pengeluaran rutin bisa diupayakan dari iuran bulanan yang terkumpul.

FYI, di majalah Femina edisi bulan November 2007 (saya tidak tahu minggu ke berapa) ada artikel tentang usaha penitipan anak yang dikelola secara profesional (artinya komersil) dan ketika membandingkan dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk daycare tersebut…waduh… jauh sekali dengan yang saya keluarkan untuk TPA Artha Wildhan ini… Saya jadi tambah bersyukur dengan keputusan tempat kerja saya untuk menyediakan TPA ini. Saya juga baca di Kompas.com bahwa UI juga membuka taman pengembangan anak makara pada tanggal 15 Februari kemarin. Dengan fasilitas yaitu klinik pemeriksaan kesehatan, area aktivitas indoor dan outdoor, area tidur anak, dan kaca satu arah untuk mengamati aktivitas anak, biaya yang harus dibayar sebesar Rp500.000,- sebulan untuk dua kali pertemuan dalam seminggu. Jumlah peserta pun dibatasi sebanyak 15 anak per hari. Diharapkan TPAM ini akan menjadi proyek percontohan untuk TPA-TPA yang lain. ...Hmmm...menurut saya perlu digalang kerjasama dengan sponsor sehingga biaya-biaya bisa ditekan dan semua orang tua yang membutuhkan bisa memanfaatkan fasilitas ini.
Sebagian pegawai yang menitipkan anaknya di TPA ini, tidak mempunyai pembantu di rumahnya sehingga anak-anak harus ikut orang tuanya ke kantor. Umumnya kedua orang tua sama-sama bekerja di kantor tersebut, termasuk saya dan suami. Untuk yang punya pembantu/pengasuh di rumah tetap saja ada yang menitipkan anaknya dengan pertimbangan bahwa di TPA aktifitas yang dilakukan lebih terarah dan terjamin keamanannya. Kalau saya, si sulung sudah masuk TK A dan si tengah di kelompok bermain yang ada di masjid besar dekat kantor saya. Sekolah mereka termasuk fullday dan pukul 14.00 sudah selesai sehingga sambil menunggu jam pulang kantor mereka pun saya titipkan di TPA (ada beberapa teman saya yang melakukan hal ini juga). Sedangkan si kecil (saya tidak bisa bilang bahwa dia akan jadi si bungsu) dari pagi sudah saya titipkan di TPA. Walaupun sekarang si kecil sudah tidak ASI lagi (karena saya tinggal ke Manila 3 minggu, pemberian ASI terpaksa berhenti pada saat dia berumur 6,5 bulan) namun dengan berada di TPA dia menjadi lebih aktif dan mandiri, artinya perkembangan fisik dia termasuk cepat dibandingkan teman seumurannya. Ada teman saya yang baru 2 bulan ini menitipkan anaknya, saat masuk anaknya berumur 10 bulan tapi didudukkan saja dia belum bisa. Di rumah diasuh oleh neneknya dan tidak pernah lepas dari gendongan akhirnya malah perkembangan fisiknya lambat. Setelah 2 bulan dititipkan (minus 2 minggu, ga masuk karena sakit) si anak sudah sangat aktif, bisa merangkak walaupun masih lambat dan sedikit njungkel-njungkel dan bisa pegang botol susunya sendiri sehingga kalo minum susu malam hari, ibunya tidak perlu lagi begadang sambil memegang botol. Akhir-akhir ini bahkan sudah bisa mendorong kursi sehingga kedua orang tuanya dengan semangat merekam adegan ini di hpnya. Teman saya ini sungguh bersyukur telah memutuskan untuk menitipkan anaknya di TPA.

Entah sampai kapan saya akan menitipkan anak-anak saya, namun yang pasti dengan adanya TPA ini saya sangat-sangat terbantu dan merasa lega karena saya percaya akan keamanan dan perawatan anak-anak saya.
Untuk para pengurus TPA Artha Wildan, terima kasih atas segala upayanya sehingga bisa menjadi seperti ini.
Untuk para pengasuh terima kasih untuk semua perhatian dan perawatan terhadap anak-anak kami. Juga untuk kesabaran menghadapi semua anak-anak kecil tersebut karena saya sendiri hanya menghadapi 3 anak saja sudah membutuhkan kesabaran yang luar biasa…
Read More..

Kamis, April 10, 2008

Kutu Rambut

Rasa-rasanya semua orang sudah familier dengan jenis kutu yang satu ini. Kutu rambut, dalam artikel di kompas.com disebutkan bahwa kutu rambut ini telah ada sejak manusia modern bermigrasi. Dari rambut mumi berusia 1000 tahun yang ditemukan di Peru, para peneliti menemukan 900 ekor kutu rambut dari dua kepala mumi yang ditemukan tersebut. Jumlah yang luar biasa bukan? Di duga rambut mumi yang dikepang tersebut merupakan surga bagi kutu karena jarangnya rambut disisir.
Kutu rambut sendiri bentuknya sangat kecil berwarna coklat terang. Kutu-kutu tersebut akan bertelur berwarna abu-abu yang menempel di helai rambut sekitar 1-2 cm dari akar rambut. Jika telur kutu ada jauh dari akar rambut berarti sudah menetas atau telur mati. Kutu mulai meletakkan telur-telurnya setelah mereka berusia 2 minggu, seekor kutu dapat bertelur sebanyak 6-8 telur. Telur-telur tersebut dapat menetas setelah 1 minggu. Sehingga dalam waktu yang singkat saja seseorang telah memiliki ratusan kutu di kepalanya jika tidak ada tindakan apa-apa. Kutu rambut tidak dapat terbang dan melompat. Mereka pindah dari kepala satu ke kepala yang lain saat dua kepala tersebut berdekatan, misalnya saat berjalan bersama-sama dengan pembawa kutu rambut. Kutu rambut tersebut membutuhkan kondisi yang hangat dan darah untuk bertahan hidup. Dalam sehari kutu bisa menghisap darah 3-4 kali karena kutu akan dehidrasi jika dalam 6 jam tidak ada darah yang dihisap (iklim kering) dan 24 jam jika iklim basah/lembab. Kutu tidak pandang bulu dalam memilih kepala untuk hidup, yang penting hangat dan berdarah, jadi walaupun rambutnya tebal/tipis, bersih/kotor, warnyanya hitam/pirang/merah/coklat, panjang/pendek, tetap saja asal manusia hidup maka kutu akan dapat berkembang biak.


Saat saya masih kecil dulu, saya sangat jarang kena kutu karena ibu saya akan segera menyemprot rambut saya dengan baygon (ganas sekali ya). Ibu saya bilang obat kutu rambut yang biasa tidak akan mempan membasmi kutu rambut. Metode ini sangat popular di antara sepupu-sepupu saya. Jadi tiap kali ada yang berkutu maka semprotan Baygon akan beraksi, yang saya maksudkan disini bukan Baygon Spray, tapi Baygon cair yang disemprot manual. Bisa dibayangkan prosesnya seperti apa. Saat itu saya dan sepupu-sepupu tidak berpikir apakah rambut akan menjadi rontok atau rusak atau malah kita sendiri yang keracunan, yang penting gatal yang mengganggu itu bisa segera hilang. Biasanya jika saya iseng mandi di kali di seberang rumah yang memang digunakan untuk aktifitas bersih-bersih, maka kutu itu akan datang lagi. Sehingga kemudian saya menahan diri untuk tidak mandi di kali. Beranjak besar saya sudah tidak pernah tertular kutu lagi.


Sampai suatu ketika saat saya sudah lulus kuliah dan diterima kerja, saya ketularan kutu lagi. Bayangkan, saya hampir 24 tahun, dan sedang menunggu panggilan untuk mulai kerja. Saat itu saya dan saudara-saudara yang lain mencoba kolam renang baru yang sumber airnya asli dari mata air tanah. Pengunjungnya banyak sekali dan dari tingkatan sosial yang merata, maklum walaupun namanya kolam renang namun karena dari mata air ya kolam sungai juga namanya. Pulang dari sana, kepala saya langsung gatal-gatal, namun saya tidak berpikir kalau sudah ada kutu yang nyangkut. Betapa paniknya saya ketika sudah menyadari bahwa kutu sudah beranak pinak di kepala saya. Seribu jurus saya coba kecuali baygon (karena takut rontok) akhirnya tepat ketika saya mulai kerja, kutu-kutu itupun menghilang (bayangkan ketika mulai kerja masih ada telur kutu yang kelihatan menempel di rambut….malunya itu….)


Selanjutnya saya tidak mengalami problem kutu lagi bahkan ketika anak perempuan saya sudah pandai bergaul, tidak ada masalah kutu yang mengganggu. Sampai setahun yang lalu, akhir November 2006, ada pengasuh baru untuk anak-anak saya yang berasal dari suatu kampung di Jawa. Setelah sakit panas, anak perempuan saya tiba-tiba garuk-garuk kepala terus dan akhirnya setelah keramas di sore hari, tantenya menyisir rambut anak saya. Dari situ tampak beberapa ekor kutu yang nongol secara tidak sengaja. Dengan kehebohan yang luar biasa, adik saya langsung bergerilya mencari kutu di rambut anak saya dan ternyata sore itu puluhan ekor bisa dimusnahkan secara manual. Pengasuh baru itu bilang bahwa memang biasa anak yang habis sakit panas terkena kutu. Saya sendiri tidak percaya, karena setahu saya, kutu tidak mungkin muncul dengan sendirinya. Sedikitpun saya tidak berpikir bahwa pengasuh baru yang baru berumur belasan tahun itulah sumber kutu di rumah. Malam itu juga kami serumah terutama yang perempuan menggunakan obat kutu agar kutu musnah secara permanen dari rumah kami. Baru besoknya saya tahu bahwa ternyata di rambut pengasuh baru itu, telor-telor kutu tampak jelas menempel hampir diseluruh helai rambutnya…waaah dia ternyata lempar batu sembunyi tangan. Belum sempat saya mengingatkan pengasuh itu, sorenya dia pamit pulang, berhenti dari kerja. Ya..sudah, setidaknya sumber kutu sudah pergi.


Keadaan di rumah tenang kembali tanpa ada tanda-tanda kehadiran kutu rambut, sampai minggu lalu adik saya mengeluh rambutnya gatal-gatal. Kembali kami tidak berpikir bahwa mungkin kutu yang hinggap lagi yang membuat rambut terasa gatal. Kami pikir, mungkin ketombe atau kebersihan rambut yang kurang, sampai sabtu pagi kemaren tidak sengaja ada kutu yang nempel di kuku adik saya ketika dia menggaruk-garuk. Waaahh, bencana lagi karena saya juga merasakan terasa ada yang kemremet (apa ya bahasa indonesianya?) di kepala saya. Saya juga lihat anak perempuan saya berulang kali menggaruk-garuk kepalanya. Lalu pengobatan dimulai, dan saat mengobati itulah kembali rekor kutu terbanyak ada di kepala anak saya. Sampai sekarang saya masih tidak habis pikir, kali ini darimana kutu berasal? Dari sekolah anak saya? Dari penitipan anak? Atau dari mana? Yang jelas mulai saat ini kami harus lebih sering mengurusi rambut agar kutu-kutu itu tidak sempat beranak pinak. Senin kembali ke kantor langsung saya browsing mengenai kutu ini, karena kalau bisa saya tidak ingin menggunakan obat kimia lagi karena selain lama-lama si kutu bisa resisten, saya kawatir rambut yang sudah menipis ini semakin rontok saja. Dan mengingat asal kutu yang sekarang ini tidak terdeteksi maka perawatan dan pencegahan harus semaksimal mungkin di lakukan agar gatal-gatal yang mengganggu bisa dihindari.


Selanjutnya, saya bagi trik yang saya dapat dari browsing:
1. Sering-sering menyisir rambut dengan sisir yang giginya sangat rapat (bahasa jawa:serit/suri).
2. Gunakan kondisioner setelah keramas dan langsung disisir dengan serit/suri. Lakukan 2 hari sekali selama 10 hari berturut-turut sampai kutu tidak ditemukan lagi
3. untuk mengangkat telur yang menempel dan susah diambil, lumuri rambut dengan cuka dan selanjutnya disisir dengan serit/suri
4. Bisa juga menggunakan hairdryer dengan panas sedang, diarahkan ke akar rambut selama 30 menit. Sebenarnya cara ini akan terasa cukup panas buat anak, namun buat orang tua, bisa dicoba.
5. Jika rambut anak panjang, maka ikat/kuncir/kepang rambut untuk mengurangi kemungkinan si kutu berpindah-pindah.
6. Jika ingin tanpa obat kimia, bisa menggunakan air jeruk nipis yang dioleskan secara merata ke akar rambut satu jam sebelum keramas. Perlu dilakukan berulang kali untuk hasil maksimal.
7. Jika terpaksa menggunakan obat kimia, ulangi pemakaian setelah 7 hari untuk memutus siklus hidup kutu secara tuntas.
Semoga bermanfaat

Read More..

City Tour of Manila

Beberapa bulan lalu saya berkesempatan mengunjungi Manila, untuk mengikuti training dari suatu lembaga internasional di sana. Selama 3 minggu penuh saya di sana namun tidak banyak tempat yang saya kunjungi kecuali sekitar tempat training dan Greenhills, pusat mutiara dari Mindanao. Namun, pada hari Sabtu di minggu pertama training, kami di ajak untuk City Tour, keliling di obyek-obyek wisata seputar Manila termasuk mengunjungi Mall of Asia yang mereka klaim sebagai salah satu mall terbesar di dunia.
Tujuan pertama tour ini adalah menuju walled city of Intramuros, disini kami mengunjungi FortSantiago, Casa Manila Museum dan San Agustin Church and Museum. 

Pada awal keberangkatan kami telah diberikan tour itinerary yang memuat jam berapa dan kemana saja kami akan pergi. Satu hal yang saya kagumi adalah ketepatan jadwal yang tertera dengan kunjungan aslinya. Benar-benar tepat waktu, bahkan walaupun macet, namun jadwal yang tertulis tetap ditepati. Misalkan pukul 10.00 dijadwalkan tiba di Intramuros dan pukul 11.15 berangkat menuju Luneta Park. Benar-benar pukul 11.15 kami meninggalkan Fort Santiago. Dalam 1 jam 15 menit tersebut kami sudah puas melihat-lihat keseluruhan paket City of Intramuros. Pada dasarnya City of Intramuros ini merupakan kota tua di Manila seperti halnya kawasan kota tua Jakarta.


San Agustin Church


Fort Santiago


Melihat paket wisata ini sepertinya merupakan paket wajib ketika mengunjungi Manila, karena banyak sekali bis-bis membawa rombongan wisatawan parkir di daerah ini. Saya membayangkan jika ke Jakarta, apa ada paket wisata city tour seperti ini? Karena saya pikir kalau kawasan kota tua Jakarta dan beberapa museum di sekelilingnya dikelola sebagai paket wisata seperti ini maka akan sangat menguntungkan bagi Visit Indonesia 2008. Mungkin memang sudah ada, hanya saya saja yang kuper. Selama ini jika ada saudara yang berkunjung, saya hanya mengajak mereka ke mall-mall yang bertebaran di seluruh Jakarta, atau ke Ancol, atau paling banter ke TMII dan Monas.

Bulan Maret 2007 lalu ada temen suami saya dari Jepang yang berkunjung kesini, saya dan suami sudah setengah mati bingung merancang akan mengajak mereka kemana saja. Ternyata mereka sudah punya buku panduan yang sangat bagus dan detil mengenai seluruh tempat yang patut dikunjungi di Indonesia, termasuk jenis-jenis makanan apa saja yang patut di coba. Nah, mereka ternyata sudah melingkari tempat-tempat yang ingin mereka kunjungi dan makanan apa saja yang ingin mereka cicipi. Waaah, saya sangat terkejut dengan hal ini, karena saya sendiri belum pernah menemukan buku panduan sedetil itu tentang Negara tercinta ini (atau sekali lagi, saya saja yang kuper?).




Luneta Park

Kembali lagi ke city tour of Manila tadi, dari Fort Santiago kami mengunjungi Luneta Park namun hanya bagian depan saja karena 30 menit tidak akan cukup untuk mengelilingi keseluruhan taman. Dari sini kami pergi Sofitel Philippine Plaza untuk menikmati makan siang dan Live Entertainment dan Cultural Show. Hiburan yang diberikan cukup lengkap, yaitu selain tari-tarian juga nyanyian daerah. Ternyata kesenian yang ada di Filipina ada yang mirip dengan salah satu tarian dari yang ada di Indonesia, mungkin karena akar budaya yang sama. 

Nah, pada saat tari bambu ini ada sesi interaktif yaitu para penari mengundang kami untuk bergabung bersama mereka untuk mencoba ritme menari bersama bambu. Penari perempuan mengajak tamu lelaki dan sebaliknya. Beberapa teman yang tertarik maju ke depan dan mencoba gerakan-gerakan yang sederhana, walaupun sederhana ternyata tidak semua sukses mencobanya. Saya sendiri tidak berani ikutan mencoba karena kalau soal ritme saya paling tidak bisa mengkoordinasikan beberapa anggota badan sekaligus, takutnya malah njungkel sekalian.


Sesudah acara ini kami pun pergi ke Coconut Palace, istana yang dibangun untuk menerima kedatangan Paus John Paul II yang berkunjung ke Manila pada tahun 1981. Ternyata Paus malah menolak untuk mendiami Coconut Palace. Sebagian besar material untuk membangun istana ini terbuat dari pohon kelapa, termasuk perabotan bahkan chandlelight lamp yang tergantung di langit-langit juga terbuat dari material pohon kelapa. Saya paling suka perabotannya, detil dari batok kelapa bener-bener rumit. Ada ya orang yang telaten menyusun mozaik serumit itu. Rupanya sekarang ini Coconut Palace juga disewakan untuk menyelenggarakan perta perkawinan, karena pas saya di sana di halaman belakang sedang disiapkan untuk pesta perkawinan. Pemandangan di halaman belakang memang menawan karena langsung mengarah ke pantai.

Selepas dari Coconut Palace ini rasanya saya sudah ingin istirahat kembali ke tempat menginap, namun masih ada satu lokasi yang harus dikunjungi, Mall of Asia. Walaupun diklaim termasuk mall terbesar di dunia, saya sama sekali tidak tertarik. Di Jakarta sudah ada seabreg. Akhirnya setelah satu jam di Mall of Asia, kami kembali ke hotel dan menghadapi macet yang sama saja dengan Jakarta.
Sabtu kedua direncakan untuk tour ke Tagaytay, daerah pantai di Manila. Namun karena suatu hal yang saya sendiri tidak tahu akhirnya Tagaytay tour ini dibatalkan. Teman-teman semua menyesalkan pembatalan ini, tapi yaaah kami tetap harus menerimanya. Jika memang berminat kami diperbolehkan untuk berangkat sendiri. Peserta dari Filipina menerangkan bahwa jika kita berangkat pagi sekali maka dalam dua jam kami bisa sampai di Tagaytay, namun pulangnya pasti akan terhadang macet. Wah, membayangkan macet seperti itu, saya pun tidak berminat untuk ke Tagaytay.

Namun di pertengahan minggu kedua ini kami diajak mengunjungi salah satu proyek yang didanai lembaga internasional tersebut, yaitu Smokey Mountain Project dan Pasig River Program. Saya bertanya-tanya mau mengunjungi gunung apaan sih yang berasap. Lalu kalo tempat ini gunung kenapa kami justru menuju pelabuhan untuk melihatnya. Ternyata Smokey Mountain dulunya adalah tempat pembuangan sampah selama kurang lebih 40 tahun sehingga tumpukan sampah menggunung dan seringkali berasap karena adanya pembakaran sampah. Mungkin kalau di Jakarta adalah Bantar Gebang yang akhirnya di tutup itu. Pada tahun 1990 kawasan Smokey Mountain ini ditutup dan dirubah menjadi kawasan hunian sejenis rumah susun. Sedangkan TPSnya sendiri sudah diperbaharui menggunakan system yang ramah lingkungan. Sayangnya kami tidak mendapat cukup informasi mengenai bagaimana dulunya kawasan itu pada saat masih menjadi TPS. Kami hanya melihat kondisi sekarang, yang katanya sudah dibangun dengan baik, namun yang kami lihat masih saja kumuh dan tidak tertata rapi. Nampak satu bukit kecil yang sepertinya sengaja disisakan untuk dapat dilihat bahwa bukit itu sebenarnya merupakan tumpukan sampah yang menumpuk sampai menjadi bukit kecil. Dari dekat akan terlihat, bahwa dibalik rumput-rumput yang tumbuh ternyata masih banyak sisa sampai plastik sampai berwarna kehitam-hitaman dan mengeluarkan cairan kotor (mungkin ini yang disebut lindi). Saya bertanya-tanya apakah bukit ini sudah cukup padat sehingga tidak terancam longsor seperti bukit sampah yang ada di Bandung itu yang longsor sampai menimbulkan korban jiwa cukup banyak. Semoga memang sudah cukup aman.
Perjalanan menuju Smokey Mountain ini cukup menguras energi saya karena jalanan yang ditempuh tidak lepas dari kemacetan. Rasa-rasanya di Jakarta hanya jam-jam berangkat dan pulang kantor saja yang macetnya minta ampun. Namun di Manila ini anytime anywhere, maceeet terus. Jadinya sepanjang perjalanan kepala saya pusing tidak karuan yang akibatnya ketika tiba di lokasi saya malah tidak ikut mengunjungi tempat pengolahan sampah yang terbaru.

Dari Smokey Mountain, kami melanjutkan perjalanan menuju Pasig River yang dibangun untuk menjadi waterway sejenis yang ada di Ciliwung. Namun mengingat Pasig River merupakan sungai utama yang membelah Manila, maka waterway disini, sangat jauh bedanya dibanding Ciliwung (yang rasa-rasanya ga ada gunanya sama sekali). Sebenarnya Pasig River Program ini tidak melulu mengenai angkutan sungai dalam kota, namun termasuk pembangunan lingkungan dan sistem sungai termasuk sanitasi, kontrol dalam limbah rumah tangga dan peningkatan kualitas air. Saat kami mencoba angkutan fery, Pimpinan Proyek mendampingi kami untuk menjelaskan program ini lebih lanjut. Kami mulai perjalanan dari Guadalupe Ferry Station, halte fery di seberang gedung pos Manila. Saat itu cuaca cukup mendung sehingga saya dapat menikmati suasana di anjungan fery dengan leluasa tanpa kepanasan. Semua pusing-pusing selama naik bis langsung hilang disapu angin di anjungan. Pimpinan proyek menceritakan seluk beluk pembangunan Pasig River ini. Dia juga menjelaskan bahwa waktu kunjungan kami sangat pas, karena seandainya pada musim kemarau maka sepanjang perjalanan penumpang tidak akan sanggup menikmati hawa luar karena bau sungai yang sangat tajam. 





Saya jadi berpikir, sepertinya keadaan di negara-negara berkembang rata-rata hampir sama. Artinya walaupun semua negara berkembang ingin menjadi lebih baik namun kendala-kendalanya juga sama. Pasti sungai menjadi begitu karena kesadaran masyarakat masih kurang, limbah dan sampah masih dibuang langsung ke sungai. Tapi setidak-tidaknya saat saya menikmati Pasig River suasananya cukup nyaman, dibandingkan Ciliwung yang kapan pun itu tetap saja tidak layak untuk dinikmati. Sang Pimpro juga mengingatkan bahwa jika nanti akan melewati Istana Malacanang maka kita semua harus masuk ke dalam fery dan tidak boleh mengambil gambar sama sekali. Maka ketika kami melewati Istana Malacanang tersebut, kami hanya terdiam memandangi suasana istana. Seperti saat saya melewati Istana Merdeka, perasaan syahdu itu juga muncul..entah kenapa. Bangunan yang bercat putih tulang…rumput hijau di lapangan yang terpangkas rapi…bendera yang berkibar-kibar….mungkin itu yang menimbulkan kesyahduan. Akhirnya setelah satu jam perjalanan dengan fery, kami pun sampai di Escolta Ferry Station, halte yang terdekat dengan tempat menginap. Dengan persaan puas saya pun kembali masuk ke bis untuk melanjutkan perjalanan. Naaah setelah masuk bis lagi, pusing saya yang tadi sempat hilang ternyata hadir kembali. Untung saja jarak ke hotel tidak terlalu jauh sehingga saya masih bisa menahan siksaan sakit ini.

Pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa Manila ternyata ga beda jauh dengan Jakarta…di samping gedung tinggi dan mall yang bertebaran disana sini, macet dan slump area pun juga ga beda jauh.
Read More..

16 Februari 2002

Oktober 2001 itulah pertama kali saya berkenalan dengan suami saya. Saat itu saya masih bersedih karena tunangan saya memutuskan hubungan karena salah satu anggota keluarganya tidak menyetujui hubungan kami. Sedih terutama karena saya tidak tega melihat orang tua yang sudah sangat mengharapkan saya untuk segera menikah, ternyata malah batal begitu saja. Saya masih bisa menahan sakit di dada karena hubungan yang gagal, tapi mengecewakan orang tua sungguh-sungguh membuat saya sedih. Mungkin orang tua cemas karena saya sudah 26 tahun tapi belum nikah juga. Maklum mereka orang daerah yang merasa bahwa seorang perempuan pada umur segitu sudah sepatutnya berumah tangga dan mempunyai anak.

Ketika teman-teman sekantor mengetahui bahwa saya sudah putus dengan tunangan saya itu, mereka langsung berusaha mencarikan jodoh buat saya. Ada yang mengenalkan saya dengan teman sekantor suaminya, juga dengan pegawai yang baru pulang dari S-2 luar negeri dan ingin segera mencari istri. Dua-duanya ini tidak menimbulkan “klik” di hati saya (rasanya ada lagu baru yang judulnya ini..?). Ada juga yang ingin mengenalkan dengan temannya namun tak kunjung dilakukan. Dia bilang dalam waktu dekat saya akan mengenalnya sendiri. Pikir saya, bagaimana saya mengenalnya kalau sampai sekarang saya tidak tahu siapa dia. Namun hal ini justru membuat saya semakin penasaran. Teman saya (sebut saja A) bilang bahwa lelaki itu kerja juga di kantor kami, bahkan mau dipindah di divisi kami, berasal dari propinsi yang sama dengan saya, pendidikan juga seimbang sehingga tidak akan terasa njomplang. Saya betul-betul ingin tahu, disamping itu ada teman saya yang lain (sebut saja B) juga cerita bahwa ada lelaki yang dari pertama saya masuk kerja dia sudah memperhatikan saya dan selalu menanyakan apakah saya masih sendiri atau sudah ada calon. Saya hubung-hubungkan antara cerita A dan B sepertinya lelaki tersebut orang yang sama. Rasa penasaran saya semakin memuncak sehingga saya pun mulai mencari tahu siapakah gerangan pria ini. Karena waktu itu saya ada di divisi kepegawaian maka saya pun mendapat akses yang mudah untuk tahu siapa lelaki itu. Dan benar, setelah saya tahu CVnya termasuk foto, saya pun merasa mungkin ada kans di antara kami berdua.

Saat saya pertama kali melihat dia sekitar akhir awal September 2001, kami masih belum berkenalan karena waktu itu divisi dia dilikuidasi sehingga seluruh pegawainya disebar di divisi yang lainnya. Banyak yang masuk ke divisi tempat saya, termasuk dia. Namun karena dia sedang menjalani pelatihan, dia hanya datang dihari pertama untuk lapor ke kepala divisi dan baru aktif bekerja sebulan kemudian. Saat saya melihatnya, saya tahu bahwa saya bisa untuk jatuh cinta padanya. Wajahnya bersih, penuh senyum, dengan tinggi secukupnya yang jelas lebih tinggi sedikit dari saya, dan tidak banyak bicara. Saya hanya bisa curi-curi pandang karena rombongan yang akan lapor banyak sekali, dan tidak sekalipun kami bertatap muka. Setelah itu saya hanya bisa senyum-senyum sendiri setiap mengingat dia dan tidak sabar menunggu satu bulan berlalu agar dia segera bekerja kembali dan kebetulan lagi, dia ditempatkan di ruangan yang sama dengan saya.

Ketika akhirnya dia mulai kerja di ruangan kami, saya setengah mati berusaha menahan salah tingkah. Bagaimana pun saya sudah sebulan lebih mencari tahu tentang dia dan saya mulai menyukainya. Selanjutnya kami berkenalan secara resmi dan tiga hari kemudian kami sudah keluar makan dan nonton bersama. Saya ingat sekali filmnya (The Fast and The Furius), sampai sekarang kalau film itu di putar di tivi, kami selalu tersenyum dan mengingat proses perkenalan kami yang cukup kilat.

Kemudian kami pun selalu pulang bersama karena tempat kos kami searah. Tanpa ada ucapan suka atau jadian secara resmi, kami pun jalan bersama. Di hati kami masing-masing sudah saling mengerti bahwa kali ini tidak ada main-main, iya atau tidak. Dan rasa-rasanya saat itu saya sudah jatuh cinta setengah mati. Saya panggil dia “Honey” karena rasa bibirnya yang manis seperti tebu dan baunya pun segar seperti tebu (masak saya panggil dia tebu, ya udah yang mirip tebu saja…Honey).

Menuju hari raya Idul Fitri, dia menanyakan kejelasan hubungan saya dengan mantan tunangan dan saya pastikan bahwa diantara kami sudah tidak ada apa-apa lagi dan dulunyapun kami cuma bertunangan. Karena ternyata ada teman saya yang lain (sebut saja C), yang juga menyukai saya sejak lama, ternyata menceritakan hal yang tidak-tidak kepada dia bahkan menceritakan bahwa saya sudah nikah siri. Sebenarnya saya sendiri yang dulu bohong kepada C bahwa dengan mantan tunangan tersebut kami nikah siri. Ini saya lakukan agar C berhenti mengganggu dan menggoda saya. Rupa-rupanya C ini benar-benar terobsesi dengan saya dan berharap ketika saya putus dengan tunangan tersebut saya akan berpaling padanya. Lalu ketika saya dekat dengan Honey dia sakit hati dan berusaha membuat hubungan kami berantakan. Untung saja Honey menanyakan kepada saya setiap detilnya sehingga saya dapat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Akhirnya pada waktu pulang kampung lebaran (sekitar awal Desember 2001), Honey menjemput saya di tengah perjalanan dan mengantarkan saya pulang sekaligus berkenalan dengan ibu saya (waktu itu Bapak saya sedang ke Kalimantan dalam waktu yang cukup lama). Dia meminta ijin agar di hari kedua Lebaran saya diijinkan untuk pergi ke rumahnya. Lebaran kedua pun saya pergi kesana dan dijemput ditengah perjalanan (jarak antara rumah saya dengannya sekitar 7 jam, jadi dia menjemput di kota transit). Ibunya menyambut saya dengan sukacita karena sudah sangat berharap bahwa anak kesayangannya ini segera menikah dan tidak didului oleh adiknya. Kebetulan waktu itu keluarga Honey sedang merencanakan untuk melamar pacar adiknya, saya pun mengikuti prosesi itu. Dan diputuskan sambil mengantar saya pulang kembali ke kota saya, keluarga Honey juga akan melamar saya. Saya sangat senang sekaligus sedih karena Bapak saya sedang tidak di rumah. Namun cukup dengan kehadiran Keluarga Pakdhe saya maka lamaran itu pun dilaksanakan.
Mengingat adiknya juga sudah lamaran, maka proses pernikahan kami harus dilaksanakan lebih dahulu. Menurut ibu mertua saya, dalam satu keluarga tidak boleh mengadakan pernikahan di tahun yang sama (tahun Jawa) sehingga mau tidak mau pernikahan kami harus dilaksanakan sebelum bulan suro dan akhirnya diputuskan kami akan menikah pada 16 Februari 2002. Bayangkan, kami berkenalan pada pertengahan Oktober 2001 dan menikah bulan Februari 2002.

Tahun ini kami sudah 6 tahun menikah. Banyak hal yang telah terjadi, yang menyenangkan, membahagiakan, menyusahkan, menyedihkan, pertengkaran yang selalu saja ada, maupun perdebatan yang tidak habis-habisnya. Namun selalu saja ingatan akan proses pertama kami bersama membuat semua perdebatan dan pertengkaran itu tidak ada artinya.
Yaaaah, wajarlah jika dua pribadi yang berbeda akan terus berdebat tapi buat saya yang terpenting adalah saling memahami bukan saling merubah pasangan menjadi apa yang kita inginkan sendiri. Tidak bakalan tercapai jika kita ingin merubah, tapi jika menerima dan mencari jalan untuk dapat mengerti dan memahami maka semua hal akan dapat dilalui. Saat ini bonus yang saya dapat adalah 3 mutiara kecil yang membuat hidup saya lebih berwarna, dan kadang-kadang jika saya ingin menyerah untuk menjadi istri, saya cukup melihat 3 mutiara tersebut dan perasaan egois itu akan lumer dengan sendirinya.

Honey, sudah 6 tahun kita bersama…..lihatlah buah hati kita…mereka sungguh indah dan penuh semangat…. Semoga semangat mereka menular ke kita dan menjadi panduan buat kita untuk menjadi yang lebih baik….
Read More..