Kamis, April 28, 2011

Kupon Buat Javas

Setelah melihat Laporan Tengah Semester Javas kemarin...aku rupanya harus bersiap-siap dengan semua kemungkinan yang ada tentang sekolah Javas. Dari awal tahun ajaran, pertama kali Javas masuk SD aku sudah siap dengan semua kemungkinan.

Waktu itu kami memutuskan daripada dia mengulang TKnya, lebih baik dia mengulang kelas satunya. Dan walaupun kami memang dari awal sudah bersiap-siap, tetap saja berusaha semaksimal mungkin membuat Javas bisa mengikuti suasana MI. Tapi rupanya hanya wali kelasnya yang bisa membuat Javas fokus walau dengan hati yang gondok. Dengan aku, dia bisa berargumen segala macam agar bisa berhenti setelah 10 menit fokus baca atau nulis. Apalagi dengan pengasuh daycare-nya....Javas akan dengan mudah menolak ajakan untuk berlatih baca.

Jadi Laporan Tengah Semester Javas masih ga beda jauh dengan Laporan Akhir Semester walau wali kelasnya menekankan bahwa Javas sekarang sudah bisa membaca dan mengerti sendiri soal-soal ujiannya. Tapi karena pengetahuannya kurang maka dia tidak tau jawabannya. Intinya Javas harus banyak membaca buku paketnya agar bisa menjawab pertanyaan ujiannya.....sigh....

Ah sudahlah....mau bagaimana lagi....aku ga sempat menemani dia lebih banyak baca....aku juga menghindari argueing sama Javas kalau dia sudah mulai bete baca. Kasian Javas kalau gara-gara eyel-eyelan itu dia jadi kena nada tinggiku...

Maka minggu lalu saat dia libur, kami (aku dan Javas), bikin perjanjian bahwa ketika dia menggambar harus disertai dengan tulisan yang menjelaskan gambarannya itu ditambah mewarnai dengan rapi agar tidak keluar garis, aku akan memberi kupon. Kupon ini banyaknya tergantung kelengkapan dia menggambar dan menulis. Jika mewarnainya rapi akan ada tambahan kupon. Wali kelasnya menyampaikan agar Javas berlatih melemaskan tangannya sehingga tulisannya bisa lebih rapi. Salah satu caranya adalah dengan mewarnai dengan rapi itu. Javas memang suka sekali menggambar mobil, jadi latihan melemaskan tangannya ya pakai kesukaan dia sendiri.

Balik lagi ke kupon, kupon ini akan Javas kumpulkan sampai jumlah tertentu yang bisa ditukarkan dengan mainan. Kupon juga bisa dia dapat jika dia membaca, satu paragraf satu kupon. Karena dia ingin sekali punya hotwheels lagi maka dia semangat mengumpulkan 40 kupon. Walau dengan dahi berkerut menahan kebeteannya ditambah teriakan-teriakan ga jelasnya, dia berusaha mendapatkan kupon-kupon itu. Menggambar, menulis, mewarnai, membaca..semua dia lakukan karena ingin mengumpulkan kupon.

Ah..sebenarnya konsep hadiah seperti itu tidak begitu aku setujui...tapi bagaimana lagi...dengan metode itu Javas jadi sukarela melakukan kegiatan menulis dan membaca walau masih dengan amarah tertahan saat dia frustasi.

Kupon terakhir yang dikumpulkannya adalah menulis di buku tulis dan hasilnya.....bisa rapi dalam garis....ga ada tekanan pensil berlebihan dan huruf s,e,d,b yang sering kebalik-balik, bisa tertulis dengan bagus...ya ada sih yang masih kebalik...tapi jauh berkurang dibandingkan dulu....

Jadi KUPON...demi Javas aku masih akan tetap memerlukanmu...
Read More..

Rabu, April 27, 2011

Permata Bintang

Haduuh sepertinya aku bisa dinyatakan secara resmi sebagai korban iklan. Gimana tidak, gara-gara lihat iklan Tabungan Permata Bintang, aku jadi membuatkan tabungan baru untuk anak-anakku. Padahal mereka sudah dibuatkan Tabungan BRI Junio oleh ayahnya.

BRI Junio gambar buku tabungan dan ATM adalah Superman, Tweety dan Tom & Jerry. Javas memilih Superman, Detya memilih Tom & Jerry, sedang Wisam aku pilihkan Tweety agar berbeda.

Nah, Permata Bintang ini pilihan gambarnya adalah Princess dan Cars....hadoooh..gambarnya kan bagus.... Maka hanya karena alasan itu aku buat tabungan baru.


Benar-benar alasan yang mutu :(
Read More..

Selasa, April 26, 2011

Baca Ulang Harry Potter

Mulai minggu lalu aku membaca ulang Harry Potter, dan tadi malam sudah mulai buku keempat. Sensasinya masih sama menyenangkan seperti saat pertama baca dulu, ketika tahun 2000an. Ada buku kedua, Harry Potter dan Kamar Rahasia, di rumah temanku dan sebagai pembaca buku, iseng-iseng saja selama nginep di rumah teman itu aku membacanya. Dan aku langsung terpesona, cari buku pertamanya dan ga bisa lepas dari menunggu-nunggu seri selanjutnya terbit.


Zaman masih bujang dulu, dengan penghasilan pas-pasan, beli buku adalah suatu kemewahan sehingga akhirnya kami, dua gadis dan satu ibu di kantor yang juga keranjingan Harry Potter, sepakat untuk iuran beli buku 1-3. Kemudian akhirnya buku itu kami bagi satu-satu. Dan aku, karena ingin mengenalkan pada adikku-adikku kegemaran membaca buku (bukan komik) berupaya keras melengkapi seri 1-3 itu. Akhirnya dari dua adikku yg masih sekolah, dua-duanya suka membaca buku ini, namun hanya satu yang benar-benar suka membaca novel sepertiku.

Nah dari senin minggu lalu, aku sudah menyelesaikan 3 buku pertama. Sambil berusaha membuat Detya tertarik, kami baca bersama. Hanya saja, Detya rupanya belum berminat membaca novel seperti itu dan berakhir di halaman 24 buku pertama. Capek bacanya dia bilang dan ga ngerti juga. Ah sudahlah...aku sendiri memulai baca buku tebal saat kelas tiga dan aku juga tidak mengharapkan anak kelas dua membaca lebih banyak dari novel KKPK.

Untuk buku keempat ini aku dapat tahun 2001 dan waktu itu aku selesaikan dalam dua malam dan tidur hanya sejam-dua jam. Sudah kubaca berulang-ulang tapi sejak Harry Potter terakhir tahun 2007..aku seperti kehilangan detil cerita Harry Potter. Ya wajarlah, sudah hampir 4 tahun dari buku terakhir dan hampir sebelas tahun dari buku pertama. tentu saja detil cerita sudah menguap dan dengan membaca ulang begini, seakan-akan membaca cerita baru dan memang ternyata sensasinya masih sama seperti saat pertama baca dulu.

Novel-novel baru rasanya kurang nendang jadi lebih baik baca ulang koleksi novel yang ada di kardus.

Mari membaca....
Read More..

Selasa, April 19, 2011

Wisam's Birthday

Ga kerasa Wisam sudah 4 tahun. Serasa kemarin saja dia masih bayi...terus toddler... Dan ketika sadar bahwa dia sudah 4 tahun dan tidak seharusnya dibantu terus untuk semua aktivitasnya, tetap saja ga sanggup untuk memperlakukan dia seperti kakak-kakaknya di umur yang sama.
Sindrom anak bungsu....ga sadar kalau sebenarnya dia sudah cukup besar, tapi perlakuan orang tua ke si bungsu serasa si anak masih belum bisa apa-apa.


Eniwei..sudahlah....bagaimanapun sampai saat ini Wisam masih jadi yang terkecil. Setidak-tidaknya Wisam bisa melakukan banyak hal sendiri saja..hanya saja orang tua dan kakak-kakaknya ga keberatan membantu Wisam. Jadi...ya sudahlah...mungkin memang itu keuntungan jadi anak terkecil.

Kalau misalnya orang tua masih saja ingin membantu si anak, sedangkan disisi lain ga ingin membuat si bungsu jadi over protected...ya.....kasih adik lagi..jadi orang tua bisa tegas sama si bungsu gagal dan mengganti keinginan membantu-bantu tadi sama anak yang paling kecil lainnya...

Hadapilah kenyataan bahwa karena keinginan orang tua untuk selalu berperan dalam kehidupan anak-anaknya, itulah yang membuat si bungsu jadi over protected...lebih manja..dan lebih tergantung. Kakak-kakaknya sudah ga mau lagi dibantu-bantu orang tua..jadi orang tua melimpahkan seluruh keinginan melayani pada si bungsu.

Hey...walaupun aku menikmati melayani anak-anakku, tapi aku juga suka melakukan kegiatanku sendiri...membaca....merawat diri....dan akhir-akhir ini sangat ingin punya mesin jahit... Jadi bagaimanapun, jika nanti anak-anak sudah sama sekali ga perlu bantuanku...aku punya banyak kegiatan lain.

PR bagiku agar Wisam tidak mengalami Sindrom Anak Bungsu....(ngg...ada ga sih sindrom anak bungsu....keknya aku ngarang aja ni)

Balik lagi ke ulang tahun Wisam....Sejak ikutan Deal Keren..maka andalanku untuk bisa makan enak dengan harga diskon ya voucher-voucher dari deal Keren. Setelah pas ulang tahunku dan ultah Javas kemarin, aku masih punya 3 voucher New Zealand Natural untuk bisa kami nikmati hari libur nanti... aku juga masih punya voucher Toast House Gandaria City yang memang kubeli untuk Ultah Wisam. Dan tadi malam aku menggunakan voucher Le Soho Cupcakes untuk kue ultah Wisam



Cupcake-nya bisa dibungkus satuan maupun kotak isi setengah lusin. Rasanya?...hmmm...yummy..manisnya pas (secara aku ga suka yang manis-manis)

Sebenarnya bisa juga pesan yg edisi ulang tahun tapi karena Wisam di rumah saja...ya beli satuan aja.

Jadi long weekend kali ini akan kami nikmati dengan menghabiskan voucher yang telah aku beli...dan mulai memperlakukan Wisam sebagaimana kami memperlakukan kakak-kakaknya....(ending yang ga nyambung)

Read More..

Selasa, April 12, 2011

Ketakutan dan Jaminan Perlindungan

Minggu lalu dua orang yang kukenal mengalami musibah. Satu meninggal setelah dua hari koma karena gagal ginjal dan sudah setahun ini menjalani cuci darah seminggu tiga kali. Satunya sampai saat ini masih koma setelah mengalami kecelakaan motor di daerah Senen.

Setiap kali mendengar kabar seseorang yang masih dalam usia produktif (seumurku atau suamiku) mengalami musibah, dengan tanggungan anak-anak yang masih dalam usia pendidikan dasar, aku menjadi merasa miris dan rasa hatiku seperti teriris-iris. Lalu insting utamaku yang otomatis terpikir adalah asuransi, rasanya aku jadi ingin menambah premi asuransiku.

Jaman dulu jika orangtua meninggal sedang anak-anak masih harus sekolah, maka jalan yang paling mungkin adalah menitipkan anak-anak itu ke saudara-saudaranya yang lebih mampu. Harapannya paling engga bisa melanjutkan sekolah. Tapi jika saudara itu sendiri masih punya anak-anak yang juga sekolah, maka sampai berapa tinggi si akhirnya anak yang dititipkan itu bisa disekolahkan?

Dulu, pada awal menikah dan punya anak, aku sama sekali tidak berminat mengikuti asuransi tertentu. Suamiku si sudah punya asuransi saat kami belum menikah, jadi kalau sudah ada seperti itu ya tinggal melanjutkan saja iuran preminya. Untuk anak-anak, aku lebih memilih cara menabung sendiri rutin setiap bulan. Jika sudah terkumpul maka aku belikan satu aset khusus atau beli ORI atau reksa dana dan mengelolanya sendiri. Intinya waktu itu aku berpikir bahwa uang tabungan itu akan lebih mengnhasilkan jika kukelola sendiri.

Sampai suatu ketika sekitar pertengahan 2007, sahabat baikku saat kuliah sengaja berkunjung ke rumah saat aku masih cuti melahirkan Wisam dan menjelaskan tentang satu produk asuransi tertentu. Saat itulah aku baru terpesona dengan mekanisme asuransi yang ditawarkan. Mekanisme itu memenuhi semua aspek yang aku inginkan dari menabung untuk pendidikan anak (yang sudah kulakukan semenjak Detya lahir). Disamping ada aspek perlindungan, juga ada aspek investasi disitu. Setelah berdiskusi dengan suami, akhirnya kami sepakat menggunakan asuransi itu untuk anak-anakku (Javas dan Wisam, Detya sudah ada asuransi dengan skema yang mirip tapi perusahaan asuransi yang lain).

Dengan asuransi ini aku sedikit lebih tenang karena jika ada apa-apa dengan kami, asuransi ini tetap melanjutkan pembayaran premi sampai jangka waktu tertentu. Walaupun pada akhirnya kami harus menyisihkan cukup banyak rupiah untuk membayar premi asuransi, aku tidak mengeluh karena aku mendapat ketenangan. Kalau ada apa-apa dengan kami, anak-anak tidak akan terlantar dan harus dititip-titipkan ke orang lain.

Ah..pagi ini aku mempertanyakan kepada suamiku apakah wajar pikiran takutku yang selalu saja ingin nambah asuransi saat ada rekan yang meninggal? Apakah aku berlebihan sehingga jadi paranoid? Aku sadar bahwa umur itu Allah yang punya, dan bukan itu yang jadi sumber paranoidku.

Paranoidku adalah bahwa anak-anak menjadi terlantar (secara pendidikan)....dan aku sangat tidak ingin itu terjadi...

Update 13 April 2011 08.30
Teman yang sedang koma itu, tadi malam akhirnya meninggal...semoga Almarhum mendapat tempat terbaik disisi_nya...
Read More..

Kamis, April 07, 2011

Home Made Chicken Nugget

Namanya ibu bekerja ya begini ini, stok di kulkas ga pernah kosong dari nugget ayam, sosis, french fries, spicy wings, ..yang semuanya instan...dan telor tentu saja.

Sebenarnya sadar diri si bahwa makanan yang instan itu kalau dimakan terus menerus dalam waktu yang lama akan banyak efek sampingnya...makanya sebisa mungkin cari yang ga pake pengawet atau bahan tambahan lainnya.

Kalau akhirnya terpaksa yang ada pengawetnya, sebisa mungkin bukan berbahan benzoat karena suatu ketika saat Javas batuk, dokter menyarankan agar menghindari semua yang mengandung benzoat. Lagipula setelah browsing memang penggunaan natrium benzoat dan kalium sorbat sangat tidak disarankan

Nah ketika ngobrol dengan teman, disarankan agar bikin nugget sendiri. Disamping kandungan ayamnya jelas, lagipula pasti tidak memakai pengawet dan MSG. Saat itu aku hanya berpikir..kapan sempat bikinnya...jadi aku ga minat untuk bikin sendiri.

Tapi entah kenapa, minggu ini aku tiba-tiba ingin bikin sendiri. Setelah browsing lewat HP yang memang ga nyaman, aku nemu resep yang paling gampang dan semua bahan sudah ada semua. Selasa malam nyampe rumah sudah jam sembilan tapi karena daging ayam giling itu harus segera dimasak maka malam itu juga harus selesai, paling engga, sampe ngukusnya selesai. Sambil nyambi nguras bak mandi, nugget itu akhirnya selesai dikukus. Berhubung ngantuk dan capek maka abis matiin kompor, langsung aja tidur.

Ee...rabu paginya bangun kesiangan jadinya ga sempat ngegoreng dan baru pagi ini bisa menggorengnya. Dan ini penampakannya ;


Lumayan si menurutku dan yang penting anak-anak sukaaa banget.

Ah, kalau saja rela tidur lebih malam lagi dan bangun lebih pagi lagi...bisa kok menyediakan sendiri makanan sehat untuk anak-anak ...

BTW anak-anak sangat suka kecap dan saos tomat, padahal agak susah nyari yang ga pake natrium benzoat, terutama saos tomat.
Nah. sampai saat ini yang kubaca ingridient-nya ga pake pengawet itu adalah Kecap Bango dan Saos Tomat Heinz dan Del Monte yang All Natural (Heinz harganya lebih murah).

Jadi kalau anak-anak mulai colak colek saos tomat itu, aku ga melarang.

Next project adalah bikin saus spaghetti Bolognese sendiri...semoga ga malas.

Read More..

Selasa, April 05, 2011

Mengisi Waktu Libur

Minggu lalu dan minggu ini, hari senin sampai rabu, anak-anak libur karena ada try out UN siswa kelas 6 di MI Istiqlal.

Mengingat kalau ditinggal di rumah juga ga ada yang jaga, maka mau ga mau anak-anak full time di TPA. Ah TPA yang sekarang ini adalah TPA baru dan dadakan. Sebenarnya sekarang ini sudah masuk tahun kedua si..jadi mestinya sudah lebih terencana dengan baik. Kan sudah bisa belajar dari apa yang terjadi setahun yang lalu.

Tapi tetap saja tidak ada agenda tambahan ketika anak-anak seharian penuh menghabiskan waktu di TPA. Untung saja anak-anak sudah terbiasa aktif dan melakukan kegiatan kreatif, dari membaca, menggambar, menggunting dan menempel. Tapi dari sehari penuh gitu, berapa lama si mereka tahan mengutak atik kertas? Pasti banyak kegiatan lain yang ga jelas.

Aku jadi bingung sendiri bagaimana agar anak-anak tidak hanya bermain ga jelas. Maka minggu lalu hari senin diselingi dengan membuat cupcake sekaligus menghiasnya. Senin pagi sudah menggotong-gotong oven listrik dan mixer ke TPA. Beli bahan cupcake yang sudah siap, tinggal mengocok dengan telur dan air kemudian diaduk dengan minyak sayur. Masukin ke cetakan dan dihias kalau sudah jadi. Bahan hiasan, buttercream, coklat dan sprinkle candy, beli di Toko Ani di Senin, dekat dengan TPA. Sayang aku ga ikutan menemani bikin kue ini jadi ga ada dokumentasinya. Ah yang penting mereka ada kegiatan lah.



Hari Selasa aku ga nyiapin apa-apa buat TPA tapi mengajak Detya saja ke Pasar Baru untuk Girls Time....wuhuuu....berhubung aku sedang ga sholat maka langsung saja french pedicure dan Detya memilih art pedicure. Tetaap..ga ada dokumentasi, yang penting seneng ngeliat kuku kaki tampak cantik dengan harga murah. Oiya..aku biasa melakukan perawatan di Johnny Andrean Training karena harganya murah tapi bahan-bahannya berkualitas. Kalau puas dengan pelayanan pegawainya, kasih aja tips lebih.

Hari Rabu minggu lalu tentu saja Melukis Kaos.

Nah, minggu ini lagi-lagi aku ga punya agenda. Senin kemarin si, aku bawakan stok kain flanel yang ada di rumah karena Detya berulang-ulang minta bikin boneka jari. Minggu lalu (hasil ngobrol dengan Mba Riri)  sempat browsing tentang Lap Book, tapi Detya sepertinya tidak berminat. Cuman, kemarin sore dia sudah melipat-lipat kertas dan tinggal mengisi lapbook-nya itu. Dia mau menulis tentang fauna dengan menempel hasil membuat boneka jari kemarin.

Karena masih ada selasa dan rabu, maka senin kemarin juga aku belanja bahan tepung kue instan lagi...hahahah....yaitu tadi karena mudah dan oven + mixer masih ada di TPA...sekalian saja. Kali ini aku beli tepung nastar dan Sponge Vanilla. Buttercream, coklat dan sprinkle candy masih ada. Jadi biar dihias sekalian de..





Tanggal 18-21 April nanti juga libur lagi, tapi karena minggu ini Bapakku akan ke jakarta maka anak-anak biar kutinggal aja di rumah.... kalau ada Bapak gini aku jadi lebih tenang...

Dirumah mereka bisa bersepeda..main ke taman atau hanya sekedar main di depan rumah. Aku merasa lebih nyaman kalau anak-anak bisa bermain outdoor...bukan hanya terkungkung di sekolah ataupun di TPA.  Tinggal nyiapin agenda lain apa ya buat mereka di rumah dan hanya ditemani Bapakku.... yang jelas ga mungkin bikin kue lagi.

Mungkin explore lebih lanjut tentang lapbook...

catatan:
gambar haan dari sini
gambar pondan dari sini

Update 17.30
Kue yang jadi ternyata enak...wuhuu..ntar nyoba sendiri de di rumah...
Read More..

Belajar Menyetir

Aku tidak bisa menyetir. Benar-benar tidak punya nyali untuk mulai belajar. Entahlah, kenapa aku sepenakut ini ketika berurusan dengan menyetir.

Dulu sekali,ketika belum punya anak, aku masih punya keinginan untuk bisa nyetir. Suamiku juga mau mengajari aku, hanya saja setelah dua kali coba, ga berlanjut lagi. Pertama nyoba nyalain mobil dan kedua mulai nginjak gas. Nah pas nginjek gas ini karena ragu-ragu akhirnya selalu saja mesinnya jadi mati.

Intinya waktu itu masih punya nyali tapi gabisa-bisa jadi mungkin suamiku udah bete aja jadinya ga berlanjut lagi.

Suamiku berkali-kali memintaku untuk mulai belajar,tapi aku selalu saja bisa ngeles. Sampai akhirnya aku minta agar suamiku tidak lagi menyinggung-nyinggung masalah belajar nyetir ini.

Permintaan suamiku itu karena dari dulu bercita-cita punya istri yang independen. Kriteria utama independen itu adalah bisa nyetir. Jadi saat aku merasa aku cukup independen, tetap saja bagi suamiku itu belum cukup. Cukup membuatku sedih, karena aku tidak bisa memenuhi kriteria itu.

Lah gimana mau punya nyali..saban kali ngeliat cara suamiku nyetir, rasanya semakin ciut saja nyaliku ini. Mana lalu lintas di Jakarta semrawut seperti ini..bisa-bisa aku hanya bisa duduk kaku ga bergerak di kursi sopir karena ketakutan.

Kupikir, aku akan mencoba belajar nyetir kalau aku sudah berani naik motor keluar kompleks... Tapi saban kali naik motor keluar kompleks, aku ga berani belok kanan. Mendingan muter jauh terus masuk gang kecil asal belok kiri terus...*hahah..bayangin aja ga brani belok kanan

Dulu, aku sendiri heran kenapa bisa berani B2W dari Karang Tengah ke Lapangan Banteng dan sebaliknya. Iya sih...pake deg-degan setengah mati dan sempat sepedanya dituntun kek nyebrang jalan gitu karena ga berani belok kanan :D

Eniwei..kalau taun lalu aku kawatir bin ga pede ketika mau jadi trainer dan ternyata semuanya baik-baik saja...maka taun ini aku mau memberanikan diri untuk mulai belajar nyetir lagi....

Ingat ya...memberanikan diri untuk MULAI BELAJAR NYETIR....bukan nyetirnya...


Read More..

Senin, April 04, 2011

Recommended Online Store

Selain beli buku/novel online di Inibuku.com atau belanja batik di Rumah Batik Madura dan Batik Jelita Cirebon, sebelumnya aku belum pernah mencoba belanja online barang-barang lainnya. Beda dengan teman samping mejaku yang rupanya cukup rajin belanja online.

Lalu mulai awal tahun ini, aku menjadi penyuka belanja online....ga perlu repot-repot pergi ke Mangga Dua atau Cempaka Mas..cukup browsing sana sini..maka belanjaku menjadi dipermudah.

Tips belanja online versiku adalah berikut:

  • Cari rekomendasi dari teman terdekat yang biasa belanja online (kasusku adalah teman sebelah mejaku itu)
  • perhatikan testimoni dari pembeli yang sudah pernah belanja
  • browsing ke berbagai blog yang posting tentang online store mana yang bagus.
  • coba belanja kecil-kecilan dulu (kalau benar-benar ga ada rekomendasi).

Jadi ini adalah daftar tempatku belanja dan aku puas dengan barang dan pelayanannya:
Inibuku.com
Rumah Batik Madura
Batik Jelita
Blue Purple Room atau FB Blue Purple Room
Little Zara
Grosir Kaos Polos
Belanja Sepatu
Deal Keren
Up Shoes
Pompa Galon Elektrik
Gulalie Shop atau FB juga ada..
ForgetMeNot
Babyshop Q Qalesya
Baju Anak Branded
Toko Piyama

Athalladhiya

Toko Online di atas yang benar-benar sudah terbukti bagus barang-barangnya. Sesuai lah dengan foto yang dipasang. Kalaupun beda biasanya warnanya saja karena efek pencahayaan, biasanya warna asli sedikit lebih gelap. Untuk batik aku menghindari warna dasar hitam karena biasanya aslinya jadi jauh lebih gelap (kecuali kalau memang suka warna gelap..aku kan penggemar warna terang :D)

Pengiriman barang juga cepat, sekarang order dan transfer uangnya maka barang besok sudah sampai (asal transfernya jangan malam ya..kalau seperti itu ya butuh 2 hari lagi). Kecuali online store yang sudah pro banget, biasanya kalau hari ini tranfer maka 2 hari kemudian barang sampai (sepertinya mereka harus cek n recek dulu).

Sebenarnya sampai saat ini baru satu online store yang kuanggap mengecewakan, kecewanya adalah barang yang dipajang di foto beda banget dengan yang kuterima. Kalau urusan pelayanan dan pengiriman si, baik-baik saja. Cuman kan jadi males banget kalau seperti itu. Saran temanku, kalau tas dan sepatu akan lebih baik nyari sendiri langsung ke toko, jangan online seperti itu karena faktor selera sangat berperan disini.

Bagiku, dua kali nyoba beli sepatu, dua-duanya memuaskan. Terutama untuk Up Shoes...bagus banget.. Kalau ga mikiri kantong si..pengen beli satu lagi :D



Mari belanja...


kalau ada info online store lain yang bagus..silahkan share ya..
Read More..

Jumat, April 01, 2011

Pengaruh Novel Fiksi

Akhir-akhir ini aku menjadi terganggu ketika membaca cerita fiksi yang berisikan hal-hal negatif seperti perselingkuhan...backstabbing..hubungan cinta yang digambarkan berlebihan.... Huwaaaa...membawa aura negatif jadinya...

Dulu jaman masih suka-sukanya baca segala macam dan ga punya bacaan favorit....aku bisa khusuk diam tak bergerak, menunduk dengan posisi buku di tangan...apapun yang terjadi..aku akan tenggelam dalam bacaanku. Sampai sekarang masih sih....tapi masih bisa menyadari lingkungan walaupun terlambat seperti saat mengalami turbulence di Bali dulu.

Jaman pertama kali tenggelam dalam buku adalah saat kelas 3 SD ketika Bapakku punya biografi Sultan Hamengkubuwono IX. Buku segede bantal itu benar-benar membuatku tenggelam dengan semua isinya yang memotivasi. Di kelas 3 SD itu juga aku pertama kali kenal dengan buku stensil Nick Carter saat mencari-cari bacaan di rumah Budeku (yang anak-anaknya sudah SMA). Jadi aku tidak heran dengan buku-buku sejenis itu. Seingatku saat itu aku tidak terlalu mempermasalahkan bagian yang begitu-begitu karena pada dasarnya cerita NC adalah tentang detektif sebangsa James Bond gitu. Bagian yang begitu-begitu toh hanya beberapa halaman dan aku bisa skip bagian itu menuju langsung ke bagian normal.

Kelas 2 SMP dari teman laki-laki yang suka membagikan sobekan-sobekan stensilan ke anak-anak perempuan..aku pun mengenal cerita Enny Arrow... Aku heran saja kenapa ada cerita jorok seperti itu yang membuat anak laki-laki sangat suka. Jadi ketika teman-teman laki-lakiku menyebut beragam istilah tentang remaja laki-laki yang sedang baliq, aku mengerti dan ikut tertawa. Tidak semua anak perempuan mengerti apa yang sedang laki-laki bicarakan dan ketika aku ikut ketawa...mereka pun selalu menanyaiku tentang maksud perkataan itu.

Intinya..ketika kelas 2 SMP efek cerita stensilan itu sudah berbeda dibanding saat kelas 3 SD dulu. Lalu mulai beredar juga novel remaja karangan Fredy S yang isinya melulu tentang cinta-cintaan... Seperti yang aku bilang tadi...segala macam bacaan kulahap begitu saja. Dari Fredy S sampai Trio Detektif dan Lima Sekawan..menemaniku saat masih SMP.

Namun untungnya, kebanyakan membaca cerita-cerita macam gitu membuatku tau bahwa kebanyakan anak laki-laki berpacaran karena ingin mencoba-coba segala yang mereka baca sehingga aku pun sukses sampai lulus SMA menghindari berpacaran karena aku tidak ingin dijadikan ajang coba-coba.

Bedanya, ada teman perempuanku yang menjadi sangat terpengaruh dengan cerita stensilan itu sehingga akhirnya dia hamil saat menjelang EBTANAS kelas 3 SMA. Poinku adalah...walaupun semua berpulang pada pribadi masing-masing tetap saja persentase 'tulisan yang kita baca akan sangat mempengaruhi perilaku kita' menjadi sangat besar.

Makanya berhati-hatilah dengan apa yang kamu baca....dan aku juga sangat berharap...orang-orang yang punya daya imajinasi tinggi dan bisa menulis fiksi, juga berhati-hati dengan tulisannya..karena apapun yang mereka tulis akan sangat mungkin mempengaruhi gaya hidup orang.

Seperti saat lagu-lagu tentang perselingkungan sangat marak beberapa tahun lalu (atau sampai sekarang ya), aku tau beberapa orang yang berselingkuh menjadikan lagu-lagu itu sebagai alasan mereka selingkuh. 'Ah.....kalau sampai dilaguin gitu kan artinya banyak yang selingkuh...kenapa aku ga bisa selingkuh juga...', itu alasan mereka.

Saat ini aku mulai merapikan koleksi bukuku karena kulihat Detya mulai menikmati membaca KKPK dalam waktu yang cepat. Aku harus bersiap-siap, jangan sampai pengalamanku ketika kelas 3 SD dulu terjadi pada Detya. Untungnya hampir semua bukuku yang sekarang adalah novel-novel normal yang melatih imajinasi, namun tetap saja aku punya koleksi Harlequin (yang dijual obral) sehingga buku-buku macam itu harus keluar dari rak bukuku demi Detya.

Wahai para pembaca....cernalah buku-bukumu dengan sempurna...agar kau mendapat manfaat yang sebaik-baiknya...
Dan wahai para pnulis...menulislah dengan imajinasi yang tinggi dan berharap membangun bangsa dengan tulisanmu itu....

Ingin mengulang lagi tulisan yang aku quote untuk bannerku di atas:

"Beberapa buku harus kita coba,
beberapa bisa ditelan,
namun hanya sedikit yang bisa kita kunyah lalu cerna dengan sempurna"

Cornelia Funke - Tintenherz
Read More..