Senin, Mei 31, 2010

Cabut Gigi

Dulu, waktu masih kecil, acara cabut gigi adalah acara uji nyali dengan Bapakku. Aku tau bahwa gigi yang goyang harus dicabut kalau tidak mau tumbuh gigi baru di belakangnya alias gingsul. Walau waktu itu banyak yang bilang bahwa gingsul itu manis (apanya?), aku tetap menganggap bahwa gingsul itu jelek dan jorok. Maka acara cabut gigi itu menjadi acara yang ribet penuh tarik ulur dengan Bapakku. Gimana ga tarik ulur, wong nyabutnya pakai benang yang diikat di gigi untuk kemudian di cabut.

Benang sudah terpasang dengan rapi, tapi karena takut sakit maka masih lari-lari menolak dicabut. Demikian sampai akhirnya punya nyali untuk duduk manis dan benang ditarik. Sebenarnya rasanya tidak terlalu sakit, tapi perasaan ngeri itu selalu saja muncul ketika benang terpasang. Pada akhirnya, hanya satu kali saja aku ke dokter gigi untuk cabut gigi, karena si gigi sudah terlanjur mengeras kembali, sedangkan gigi dewasa sudah muncul di belakangnya. Tidak berani memaksa pakai benang, karena yang bermasalah ini gigi atas, yang berdasar teori sangat berhubungan dengan syaraf-syaraf halus di otak.

Nah, Detya juga mulai tumbuh gigi dewasanya. Dari tujuh gigi yang sudah tanggal, enam yang pertama selalu ke dokter gigi di klinik kantor, jadi ga ada acara tarik ulur benang seperti jamanku dulu. Tinggal merayu Detya untuk ke dokter dengan iming-iming beli jus setelah cabut gigi, maka silahkan Bu Dokter yang mencabutnya. Aku sendiri ga punya nyali untuk mencabut gigi Detya sendiri.

Sudah seminggu kemarin, gigi taring Detya yang atas goyang dan tampak 'njengil'...apa ya bahasa Indonesia-nya?...tonggos? tapi cuma 1 gigi yang goyang itu. Tapi karena belum terlalu lunak, maka aku belum mengajaknya ke klinik. Minggu kemarin, sepulang PERSADA (perkemahan sabtu ahad), gigi Detya itu tampak semakin 'njengil' sehingga Ayahnya merayu untuk mencabut gigi itu sendiri saja, ga usah ke dokter. Dibujuk-bujuk dengan es krim, Detya malah berurai air mata sampai akhirnya tertidur di mobil sepanjang perjalanan pulang.

Sampai di rumah, sambil menunggu air panas untuk mandi berendam (karena pagi itu dia ga mandi, sedangkan sabtu sore hanya mandi seadanya karena dia jijik dengan kondisi kamar mandi di perkemahan), ayahnya merayu untuk merasakan saja seberapa goyang gigi Detya. Ternyata...sambil merasakan goyangan gigi, rupanya Ayah langsung mencabut si gigi itu tanpa aba-aba. Jadinya Detya langsung menjerit dan meledak tangisnya...dibalik isakan tangis itu Detya berkata:
"Huwaaaa....Ayah....rasanya ga gitu sakit...tapi aku kaget banget...Ayah ga bilang-bilang.." dan Ayahpun terbahak-bahak...

Selepas mandi, Detya ga henti-hentinya menagih es krim yang kujanjikan tadi. Giliran aku yang ga tahan rengekan Detya minta beli es krim. Bahkan rasa capek sepulang Persada ga dihiraukannya demi es krim itu..

Next time...ga usah janjiin apa-apa untuk acara cabut gigi. Kalau mau memberi reward, beri aja tanpa menjanjikan terlebih dahulu....susah bener ketika ditagih-tagih seperti itu.
Read More..

Selasa, Mei 25, 2010

My Role Model

Duh..sudah lama aku ingin menulis tentang ini, tapi kok ya terlalu personal dan belum tentu semua sependapat tentang hal ini.

OK, diawali dengan kursus bahasa inggris minggu lalu (ya, aku ikutan kursus inggris tiap senin dan rabu, bareng ama anak-anak baru yang baru aja setaun lebih kerja ditempatku) yang membicarakan tentang hero, baik yang sudah lalu, saat ini ataupun personal hero.

Past Hero, kelompok kami sepakat membicarakan Sukarno-Hatta karena siapalah yang meragukan peran mereka dalam kemerdekaan RI. Walaupun banyak pahlawan nasional lainnya, membicarakan dua orang itu lebih netral dan diterima semua audience. Giliran present hero, kelompok lain menyebutkan Cris John sebagai hero di bidang olahraga. Nah, pas personal hero, benar-benar sangat beragam, dan kelompok yang harus presentasi menunjuk satu orang yang menyebut My hero is my father.

Untukku sendiri, tentu saja my father is my hero, but my personal hero yang juga adalah role modelku adalah Sri Mulyani Indrawati. Iya..beliau...yang menuai kontroversi akhir-akhir ini....yang banyak dihujat sekaligus dikagumi. Nah aku termasuk kelompok yang mengagumi.

Aku ga akan bicara berbelit-belit tentang kebijakan-kebijakan beliau selama jadi Menteri Keuangan. Aku akan bicara tentang kekagumanku terhadap personality beliau.

Aku ga ingat sama sekali siapa Menteri Keuangan ketika aku pertama kali kerja dulu. Kalau ga googling, manalah aku inget. Entah dulu karena posisiku yang masih kroco banget, maka ngomongin Menteri itu ketinggian buatku. Ketemu eselon II aja sesuatu yang luar biasa. Bisa lihat eselon I lewat aja udah bikin terbirit-birit. Manalah aku ingin tau tentang sepak terjang Menteri waktu itu. Sampai diajak omong ama eselon III aja itu sudah luar biasa. Apalagi jamanku baru kerja dulu, birokrasi masih seperti kerajaan, semakin tinggi eselon...semakin tak tersentuh.

Nah, setelah 2 tahun kuliah, balik-balik Menteriku sudah SMI dan ga lama kemudian aku masuk ke level eselon terbawah. Departemen Keuangan sudah reorganisasi dan mulai menata diri. Tapi belum ada reformasi birokrasi. Berada di level terbawah eselon itu merubah lingkunganku. Dan ngomongin Menteri bukan lagi sesuatu yang di awang-awang buatku. Dengan begitu, berkali-kali aku menghadiri forum-forum yang beliau menjadi keynote speaker-nya, dan aku dibuat ternganga setiap kali mendengarkan beliau bicara. Ternganga karena betapa lancar dan detilnya beliau bercerita...ga cuma di kulit saja.. tapi pengetahuannya dalam atas materi yang dibicarakan...dan forum yang kuhadiri itu berbeda-beda pokok bahasannya dan beliau itu bisa bicara detil untuk semuanya....(Sigh...betapa jauh dengan diriku yang serba cetek ini...)

Belum lagi cerita-cerita di balik layar tentang bagaimana peran beliau sebagai ibu. Suatu kali, si bungsu sedang ujian dan si ibu masih harus memimpin rapat pimpinan. Jadi beliau menjanjikan, selepas rapim ini beliau akan menemani si bungsu belajar...di kantor saja..karena sorenya ada rapat yang lain. Dan...voila...rapat bubar dan beliau langsung ganti kostum pake DASTER dan duduk manis di meja menemani si bungsu belajar. Dan ketika ada bawahannya (eselon I) yang lima menit kemudian balik lagi karena ada pertanyaan tambahan, dengan cueknya sang Ibu dengan daster menjawab pertanyaan si pejabat..(si pejabat cukup shock..karena ga ada lima menit dari rapat ditutup tadi dan sang Ibu sudah ganti kostum).

Betapa sang Ibu memikirkan psikologis si anak dengan berganti kostum...bayangin saja jika duduk manis di meja tetep dengan baju kerja dan tampang serius...manalah si bungsu bisa konsentrasi belajar...yang ada adalah intimidasi seorang Menteri Keuangan. Mendengarkan cerita-cerita di balik layar dan membandingkan dengan tampilan beliau di muka umum, benar-benar membuatku terkagum-kagum.

Ketika menjadi panitia sidang tahunan ADB dulu, beliau juga penuh afeksi menyampaikan terima kasihnya kepada kami-kami yang jungkir balik di bawah, dengan menyalami kami satu per satu. Rasanya semua capek, bete dan sebagainya hilang...disapu oleh jabat tangan beliau.

Jadi dengan berbagai personality beliau yang tampak bagiku...berita-berita miring seputar beliau tentang semua kebijakan ekonomi....ga satupun bisa masuk ke telingaku. Lagian aku juga punya argumen sendiri kenapa bail out, yang dulu didukung Anggota Dewan Yang terhormat, harus dilakukan.

Dan ketika pada akhirnya beliau memilih untuk bekerja di Bank Dunia, aku pun mengerti (walau aku kecewa) bahwa itu adalah pilihan pribadi beliau, bahwa beliau sudah merasa cukup. Dan membaca transkrip kuliah umum beliau tentang Kebijakan Publik dan Etika Politik, membenarkan semua dugaanku selama ini. Transkrip itu juga membuka mata dan pikiranku betapa dunia politik itu adalah miniatur panggung sandiwara.. Walaupun ketika melihat dagelan pansus Bank Century sudah membuatku memikirkan kemungkinan untuk jadi GOLPUT untuk pemilu mendatang....(sigh,,,jadi ingat betapa aku menggebu-gebu agar jangan ada golput pas pemilu..). Apalagi dengan membaca transkrip itu....kapan..etika berpolitik jalan di negeriku tercinta ini?....

Jadi Bu Sri......apapun pilihanmu..kau adalah panutanku untuk menjadi Ibu yang penuh kasih sayang... pegawai yang berdedikasi...dan warga negara yang mengabdi kepada bangsanya...

I love you full..Bu Sri

Read More..

Rabu, Mei 19, 2010

Tiga Kata Ajaib

Tiga Kata Ajaib

Ada tiga kata yang sangat ajaib

yang dapat mengubah hidup kita
Caranya mudah saja
Dengarkanlah dan ikuti aku

Yang pertama, katakan tolong
Setiap kau minta bantuan
Yang kedua, terima kasih
Saat ada yang datang membantu
Lalu ketiga, ucapkanlah maaf
Jika kau sakiti siapa pun

Katakan semua setulus hati
Dan keajaiban akan terjadi


Lagu di atas adalah salah satu lagu yang jadi favorit anak-anakku (dan kami, orang tuanya). Pertama kali dengar lagu ini di acara Paman Gery dan Superkids, Female radio pukul 05.45 - 07.00. Penyanyinya adalah Dara, yang diawal-awal dengar lagu ini, suaranya terdengar aneh di telingaku. Sama anehnya dengan suara Gita Gutawa pertama kali aku mendengarnya. Tapi lama-lama terdengar indah, dan seperti halnya Gita Gutawa, aku juga jadi sukaaaa sama lagu-lagu Dara.

Untuk Tiga Kata Ajaib ini, syairnya benar-benar mengena dan selalu kami jadikan contoh jika mengingatkan anak-anak untuk selalu tau kapan harus mengucapkan Tolong, Terima Kasih dan Maaf.

Nah..untuk kata yang terakhir itu... sungguh susah untuk membuat anak-anakku mengucapkannya secara sukarela. Jangankan yang sengaja menyakiti, yang ga sengaja nyakiti saja, mereka amat pelit untuk meminta maaf, terutama Javas. Detya, karena sudah besar, lebih mudah diberi pengertian. Wisam, karena lebih kecil, mudah sekali menirukan dan dia sudah tau kapan harus meminta maaf..tidak cuma sekedar menirukan .

Nah, Javas ini yang sangat susah dimotivasi untuk meminta maaf. Kalimat yang agak-agak mempan memotivasi dia adalah..."Bagaimana perasaanmu ketika ada yang meminta maaf padamu?"...

Karena aku sendiri merasa bahagia..ketika ada yang meminta maaf karena, entah sengaja atau tidak, telah menyakiti perasaanku...

"Tidak inginkah kamu membuat orang lain merasa bahagia dengan meminta maaf padanya?"..itu yang kukatakan pada Javas dan akhirnya membuat dia ikhlas meminta maaf.

Jadi menurutku, dari tiga kata ajaib di atas....maaf-lah yang paling membahagiakan....(dan tentu saja suamiku punya pendapat yang beda...artinya...orang lain pun bakal punya pendapat yang beda)

Mana dari tiga kata ajaib itu yang paling kamu sukai...?

===============================================================

Jadi punya ide untuk fikmin yang lain...

Maaf

Masih saja terasa sakit membaca anjing dan bangsatmu. Tapi tawaku meledak ketika kau bilang..."Maafkan aku...auufff....auuff....".


===============================================================

Read More..

Fiksi Miniku

Missed calls

Maaf aku tak bisa segera mengangkat telpon-telponmu. Tapi aku sungguh sakit membaca anjing dan bangsatmu.

==================================================================

Akhirnya tertulis juga fiksi mini yang kemarin hanya tertulis di hp setelah membaca fikmin Bang Trainer untuk mengikuti Kontes Fiksi Mini dari wi3nda.

Dari kemarin ga ada keberanian untuk memposting fiksi mini ini, tapi setelah membaca fikmin mba Devi, jadi pengen nekat juga



Read More..

Selasa, Mei 18, 2010

Menerima Apa Adanya

Pernah nonton serial Friends ga? Jaman aku kuliah dulu, betapa aku tidak ingin terlewat episode-episode Friends. Apalagi jaman itu aku juga punya teman-teman dekat yang seakan-akan jadi replika Friend buatku.

Dulu aku melihat serial itu karena suka sama jalan ceritanya, sama bintang-bintangnya, sama kekompakannya, pokoknya baru suka pada kulit luarnya saja. Aku ga memperhatikan detil cerita yang justru bisa menjadi contoh pertemanan atau relationship yang baik.

Akhir-akhir ini ketika bisa/sempat nonton episode ulangan di TV kabel, aku justru mendapatkan makna yang lebih dalam ketika menontonnya. Aku jadi mengerti maksud 'menerima orang lain apa adanya' ketika menonton ulang Friends. Dulu aku ga habis pikir kenapa pada mau berteman sama Phoebe yang agak-agak tulalit dan seleranya aneh, atau Monica yang super duper perfectionist sampai bikin teman-temannya puyeng, atau Rachel yang di awal-awal adalah perempuan manja yang ga tau apa-apa, atau Ross yang gila banget sama dinosaurus dan sukanya kawin cerai, atau Joey yang shallow yang sukanya cewek melulu, atau Chandler...Chandler kenapa ya...sepertinya karakter yang normal-normal saja ya si Chandler ini........eh engga ding..dia suka bikin lelucon ga jelas yang tidak pada tempatnya...

Intinya, seaneh apapun pribadi karakter Friends itu, teman-temannya tetap menerima apa adanya. Dulu aku berpikir, kok mau ya tetep temenan ama Monica yang seperti itu, bahkan Chandler sampe cinta berat begitu... Sekarang aku menyadari bahwa apa salahnya dengan seorang yang perfectionist...biar saja dia begitu karena disamping keperfeksionisan tersebut, Monica adalam teman yang hangat, yang selalu peduli kepada teman-temannya yang lain. Atau Phoebe yang super weird..tetap saja adalah teman yang sempurna karena rela menjadi surrogate mother untuk sahabat baiknya..

Jadi, saat ini..aku akan mendengarkan dengan baik ketika seorang temanku yang sangat-sangat talkative jadi menguasai pembicaraan karena memang begitulah dia....toh dia teman yang peduli ketika ada yang membutuhkan bantuannya. Aku akan bersikap terbuka untuk menerima semua orang apa adanya....karena mana ada siy orang yang sengaja menjadi jelek. Kalaupun terlihat jelek itu karena sudut pandang pribadi kita terhadap orang lain. Coba saja berpikir dari sudut pandang yang lain sehingga apa yang sebelumnya terpikir jelek..akan jadi berubah.

Masalahnya, apakah orang lain akan berpikir sama sepertiku? Maukah mereka menerima aku apa adanya? Aku bukanlah seorang pemarah, tapi nada bicaraku yang seringkali meninggi membuat orang salah sangka bahwa aku sedang marah-marah. Aku ga menyalahkan situasi yang membuatku terbiasa bicara nada tinggi ini, aku berusaha mengontrol nada bicaraku agar orang tidak salah sangka. Tapi tetap saja, apa yang sudah nempel seumur hidupmu akan otomatis muncul jika tidak ada kontrol diri. Misalnya saat dengan adikku, tentu saja kontrol diriku jadi kurang sehingga nada tinggi itu muncul. Untung saja adikku sudah paham sehingga tidak menjadikannya sakit hati. Atau situasi tiba-tiba, yang membuat otomatisku keluar....aku sangat-sangat berharap agar orang lain tidak beranggapan yang negatif dulu terhadap apa yang kubicarakan.

Saat ini aku sedang sedih..karena saat aku sudah berusaha menerima seseorang apa adanya, orang itu masih saja salah sangka kepadaku....

Whateverlah.... memang dalam hubungan pertemanan...untuk mendapatkan timbal balik itu sangatlah susah.... malah jadi tendensius, ga ada keikhlasan... Jika pakai kondisi : I'll love you if you love me too...jadi susah kalo gitu....

Ya sudahlah..kalau tidak bisa menerimaku apa adanya..aku akan tetap menerimamu apa adanya



Read More..

Rabu, Mei 12, 2010

Anak Ayah


Aku udah agak-agak nyerah mengkondisikan Detya agar jadi Daddy's Little Girl...karena Detya jarang banget seiya sekata ama Ayahnya...demikian juga Ayahnya...teramat susah mengerti perilaku anak perempuan yang....bagaimanapun juga memang berbeda dengan anak laki-laki.

Ya sudahlah...pada akhirnya Detya dan Javas memang lebih ingin dipedulikan Bundanya. Jadi dua anak pertama adalah anak Bunda... nah si bungsu inilah yang jadi pengecualian yang menguntungkan buatku.

Wisam adalah anak Ayah. Semua hal harus dilakukan dengan Ayah dulu. Bunda adalah pilihan ketika Ayah sama sekali tidak ditempat. Bangun tidur yang dipanggil pertama kali adalah Ayah, kalau libur harus mandi sama Ayah, minum susu harus Ayah yang siapin, baca cerita maunya sama Ayah, tidur maunya dipeluk Ayah, kalau Bunda mendekat langsung disingkir-singkirin biar menjauh....ayah, ayah, ayah terus untuk semua hal...


Tanggapanku?..hohohoho..entah aku ibu yang ga beres atau apa..yang jelas aku asik-asik aja...malah menikmati keadaan itu karena sudah ada dua anak yang maunya bunda, bunda, bunda terus...

Suatu ketika suamiku menyarankan agar aku lebih sering lagi telpon ke rumah, agar Wisam tidak kehilangan hubungan denganku. Menurutku sendiri, Wisam bukannya ga mau sama sekali denganku, toh ketika suamiku ga ada..dia sangat-sangat menginginkanku untuk melakukan semuanya. Tapi jika Ayah ada...maka dia ga butuh Bunda...so..ga ada yang salah dengan itu kan. Tentu saja ga masalah buatku untuk sering nelpon Wisam, masalahnya...setiap kali aku telpon, kalimat pertama Wisam adalah: "Ayah mana? Aku mau bicara sama Ayah.."..gubraks deh...bener-bener anak ayah...

Sayangnya, suamiku agak-agak resisten nelpon ke rumah karena di rumah ga ada telpon rumah. Disediain hp fleksi, ga pernah diangkat sama yang ngasuh Wisam, baru kalo nelpon hp pengasuhnya sendiri, segera diangkat. Nah, suamiku rupanya ga nyaman kalo harus nelpon asistenku itu. Selalu saja aku yang diminta nelpon Wisam, padahal kan yang dibutuhkan Wisam adalah bicara dengan ayahnya.

Dua hari yang lalu, Wisam panas dan agak-agak lemes. Tapi dia tidak menangis ketika kami tinggal berangkat di pagi hari. Siangnya ibuku sms cerita tentang Wisam. Ibu nelpon adikku dan Wisam rupanya juga ingin bicara.
Wisam:"Mbah..aku sakit.."
Mbauti: "Sakit apa Nak..?"
Wisam:"Sakit bingung..Mbah..."
Mbauti:??????? "Bingung apa to Le....?"
Wisam:"iya..bingung sama Ayah..."...

Ibuku sudah terlanjur ketawa kenceng sebelum menanyakan apa maksud kata-kata Wisam tersebut..

Oalah anak Ayah.....kok ya sakit bingung sama Ayah....

Makanya aku selalu memotivasi suamiku untuk selalu menelpon Wisam...Beruntunglah ada salah satu anaknya yang sangat mengidolakan dan membutuhkan Ayahnya..jadi peliharalah kekaguman itu karena anak sayang ibunya..itu sudah biasa...jika anak sayang ayahnya..itu perlu dipupuk terus.... Jadilah Ayah yang hangat yang mampu membuat anak-anaknya merasa nyaman....



Read More..