Senin, September 22, 2008

Tegangan Tinggi

Rasa-rasanya aku harus lebih dalam lagi memikirkan permintaan suamiku untuk ngatur suara dan emosiku. Minggu lalu yang merupakan tekanan tinggi buatku adalah buktinya. Ada 3 hal yang kulakukan yang membuatku menyesal banget karena ketidakmampuanku menjaga emosi. Itu yang benar-benar kusadari bahwa aku memang sedang marah, belum lagi yang karena tekanan suaraku yang ga terkontrol (tentu saja ini ga tercatat olehku tapi terasakan oleh yang dengar kalimatku, artinya aku ga marah tapi orang lain bisa menganggap aku demikian). Heeehhhhh, what a week...

Awal minggu sudah kujalani dengan tekanan tinggi, acara yang kusiapkan pukul 13.30 tidak bisa kudatangi tepat waktu karena peralatan yang tidak segera disiapkan, untungnya para undangan juga datang terlambat sehingga keterlambatanku tidak bermasalah. Hari selasa kucoba sepagi mungkin datang ke kantor dan ternyata file yang sudah kuminta untuk disiapkan dari minggu sebelumnya, masih belum ada sama sekali, jadi langsung aku kerjakan sendiri, sedangkan staf2ku baru datang jam 10an. BT banget deh, selalu begitu kalau ada surat tugas atas nama mereka, berangkat ke kantor semau mereka aja. So, ketika aku nyiapin surat tugas untuk hari jumat, aku secara spesifik minta satu nama agar dikeluarkan mengingat dia yang paling parah kalau ada surat tugas, ga muncul sama sekali. Aku pun secara terus terang bilang ke dia kalau tugas mendatang ga melibatkan dia. Mungkin nada bicaraku terlalu tajam sehingga dia malah ngambek ga mau tanda tangan untuk acara hari senin itu. Wuih...malah ngerepotin.

Hari rabu ada instruksi bahwa untuk percepatan penarikan dana, maka diusahakan untuk melibatkan pegawai sebanyak mungkin, jadi terpaksa kemasukkan kembali nama dia dan beberapa orang lainnya. Tapi aku menegaskan bahwa aku tidak ingin kalau semua orang memanfaatkan surat tugas itu untuk datang ke kantor sesiang mungkin. Paling engga, aku minta sedikit kontribusi dalam menyiapkan pekerjaanku.

Hari kamis, jam 9 pagi aku harus rapat untuk kegiatan ekskul-ku itu. Tapi karena keteledoran entah siapa, aku malah berebut ruang rapat. Staf di tempat Big Bosku kusemprot dengan nada tinggi karena dia malah ga ngakuin apa yang kami bicarakan beberapa hari sebelumnya. Rasanya jengkel sampai ke ubun-ubun. Untung aja secara sukarela yang lainnya pindah ruang rapat.

Nah..hari jumat terjadi lagi keterlambatan datang ditempat acara. Dan kali ini terasa memalukan karena para undangan yang selevel Big Bosku sudah pada datang. Maluuuu sekali. Yang bikin aku lebih malu lagi adalah pada saat diskusi berlangsung. Aku mengingatkan kepada peserta rapat mengenai poin-poin yang cukup menyusahkan berdasarkan pengalamanku menghandle masalah program ini sejak tahun 2006. Tapi ada satu peserta yang ngeyel dan tidak mengindahkan peringatanku tadi dan membuatku ngeyel juga (yang rasa-rasanya juga dengan nada tajam) karena pengalamanku yang lalu-lalu itu. Dan memang aku bisa membuktikan kebenaran kalimatku tadi. Yang aku sesali dan bikin malu itu adalah nada tajamku tadi..

Rasanya aku pengen nangis, mereview diriku sendiri seminggu ini... Betapa aku ga pantas untuk duduk di jabatanku sekarang kalau aku masih tidak bisa mengontrol emosiku. Lalu bagaimana dengan para Bos-Bos atasanku yang tentunya loading pekerjaan jauh lebih banyak dari aku, tapi mereka masih bisa menjaga ritme kerja mereka dan tidak mempengaruhi emosi mereka.

Aku benar-benar merasa merana. Belum lagi urusan rumah dan anak-anak... semakin terbengkalai. Aku benar-benar ibu yang ga bermutu.. dan gitu aku masih semangat berangkat ke Singapur.. huwa....what kind a mom I am...
Read More..

Jumat, September 19, 2008

Hikmah Ikhlas

Ternyata pedoman:"Terima saja apa adanya, maku kamu akan bahagia" berlaku juga dalam bidang pekerjaan. Kalimat itu kan intinya ikhlas. Kalau kita ikhlas maka semuanya akan dimudahkan ya karena hati kita ga nggrengsengi (apa ya...rusuh kali ya indonesianya) maka melakukan semua hal jadi tenang. Apapun yang terjadi.

Hal ini berlaku padaku selasa kemaren ketika aku ngerjain ekskul-ku. Pas aku sedang nyusun laporan dan surat undangan, orang dari instansi lain itu nelpon dan menuntut macem-macem. Biasanya aku akan merespon dengan entah berkelit, entah ngeyel..entah menolak (ekstrimnya) tapi siang itu aku pasrah saja. Kuputuskan sejak minggu lalu bahwa aku akan menerima ekskul ini sebagai bagian dari pekerjaanku sehingga aku ga gondok lagi. Aku pikir, ketika memutuskan untuk menerima suamiku apa adanya, hatiku merasa tenang maka kerjaan ini pasti akan begitu. Jadi aku hanya jawab iya-iya saja ketika orang itu nelpon. Agak lama dikit, aku minta teman sebelahku untuk menghubungi seseorang karena aku fokus ngerjain surat tadi dan dia keberatan karena harus nelpon lewat HP dengan alasan sinyal di tempatku jelek. Iya sih...makanya aku harap dia mau nelpon lewat kantor aja. Tapi karena dia ga langsung iya dan keberatan maka responku juga bisa santai...aku cuma bilang.."Ya udah..gapapa". Padahal biasanya aku akan bilang, "Kan bisa nelpon lewat kantor..masak segitu aja jauh sih..kan tinggal keluar jalan 10 meter aja. Kalau aku sempat, pasti kukerjakan sendiri".

Aku sendiri heran..kok responku bisa santai-santai aja ketika ada dua orang yang berbicara tentang ekskul yang biasanya bikin aku gondok malah sekarang fine-fine aja buatku. Waaah...itulah kekuatan IKHLAS...membuat hati kita lebih tenang dalam bekerja. Padahal hari itu banyak sekali yang harus kukerjakan. Dan akhirnya kutelpon sendiri orang itu lewat telpon kantor walaupun akhirnya ga terjawab.
Read More..

Kamis, September 18, 2008

Singapura...Here I Come...

Ditengah-tengah nego bulan Agustus kemarin ada tawaran training ke Singapura...langsung aja ngiler deh. Ngiler ama materinya dan terutama lokasinya. Tapi di surat permintaannya minta nominasinya dari institusi perencana jadi aku ga ikutan ngusulin diriku sendiri. Mereka minta 5 orang dan lima-limanya kuusulkan dari luar divisiku. Sampai akhirnya Bosku kembali dari cuti, beliau bilang seharusnya divisi kita juga ikut mengirimkan satu wakil karena materi itu penting juga buat kita semua. Langsung aja aku nyengir kayak kuda, tapi mo gimana lagi, usulan sudah masuk untuk 5 orang...ga ada tempat lagi kan.

Kemudian Bosku pergi ke Manila, dan iseng2 kutanya ke yang minta nama, apa mungkin kami bisa ngirim satu nama lagi..dan jawabannya bikin semangat 45. "Dicoba aja, ntar kan ada review". Langsung deh besok paginya nanya ke Big Bos (berhubung Bosku ga ada), dan beliau sih OK-OK aja sepanjang Bosku mengijinkan. Terus gimana ya ngubungi Bosku, HP pasti pake nomor sana. OK, kucoba email tapi sampai hari berikutnya ga ada balesan. Malamnya nanya ke istri Bos, karena pasti Bos nelpon/sms istrinya dong... dan malam itu juga dapat jawaban bahwa aku boleh ikutan. Dengan semangat disela-sela kerjaan yang datang bertubi-tubi, aku proses usulanku dan akhir minggu lalu kepastiannya udah ada. Tapi satu masalah menghadang, passportku mana ya..? Kucari-cari kemana-mana kok ga ketemu, sampe pengen nangis karena ga brani crita ke suamiku. Kalau ketauan ga ada, bisa-bisa pin RATU TELEDOR bisa langsung dipasang ke dadaku ama suamiku sayang itu.

Aku sudah nyerah dan mo ngurus permintaan pengganti paspor dan surat juga udah ditandatangani Big Bosku. Tinggal nyari surat kehilangan di polisi aja, tapi kutunda dan selasa malam aku bongkar semua kardus, tumpukan kertas, tas-tas yang numpuk dan alhamdulillah...pasporku ketemu.

Tapi dari bongkar-bongkar itu aku jadi nemu bahwa buku vocabeelary buat anaku yang kubeli nyicil tiap bulan, hancur kena tetesan air hujan. Masalahnya, anak-anaku kularang buka-buka buku itu karena mereka masih belum bisa juga membaca. Cuma sedikit majalah aja yang kubolehin untuk dibaca. Hiks...hiks...kesian anaku deh...akhirnya buku hancur bukan karena mereka tapi karena Bundanya kepelitan makanya sama Allah dibalas seperti ini...buat ngingetin Bunda bahwa kalau emang mo beli buku buat anaknya ya langsung kasih aja, jangan dieman-eman nunggu mereka bisa merawat dengan baik. Kalo gitu ya nanti aja belinya..jangan keburu-buru.

OK, kembali ke masalah training, ternyata pas senin kemaren ngadep ke Bos masalah keberangkatanku ini, beliau agak keberatan khawatir jadwal pas aku berangkat merupakan masa-sibuk-sibuknya nyiapin nego. Bahkan beliau bilang kalau Big Bosku sebenarnya ingin Bosku melarang pengusulanklu...yaaaa...gimana sih..bukannya beliau waktu itu sudah OK? Maka aku tawarkan ke beliau, mumpung undangan rsmi ke ybs belum ada gimana jika kubatalkan keikutsertaanku ini. Tapi Bosku bilang dicoba aja dulu deh...ntar kalau emang sibuk ya ga usah brangkat...(ga mau deh kalo gitu, mending dari awal aja kecewanya). Dan pagi ini aku sudah terima undangan resmi dan tinggal ngurus ijin passportnya aja...semoga minggu depan beres, jadi Bos kan ga sempat ngelarang lagi, wong brangkatnya tanggal 5 Oktober...kan abis lebaran langsung tuh..ga sempat lagi ngantor..

Oooiiii...Singapur...aku dataaaaang...
Read More..

Senin, September 15, 2008

Puyeng Berat

Rasanya bingung ngatur waktu, kerjaan numpuk banget. Padahal aku punya dua staf dan dua-duanya sudah kumanfaatkan sebaik mungkin. Seperti biasa jika akhir tahun begini semua kerjaan terutama yang program numpuk puk, bikin aku puyeng.

Sejak tahun 2006 aku sudah pegang program (waktu itu cuma satu) jadi setelah itu orang-orang pada puas dengan cara kerjaku dan akhirnya taun-taun berikutnya semua program di limpahkan ke mejaku. Tahun 2007 ada 3 program yang kuhandel (walo satu akhirnya pas nego aku ga ikutan karena ke Manila). Dan semuanya numpuk di akhir tahun. Tahun ini ada 3 program lagi dan proyeknya ada 2 (kemungkinan besar malah 3). Pertengahan Agustus kemarin sudah nego 1 proyek, one down four more to go. Belum lagi yang kerjaan rutin, yang entah mengapa dari pertengahan Agustus lalu sampai sekarang tumpah ruah bikin masalah semua.

Aku selalu bekerja sebaik mungkin dan secepat mungkin sehingga jika stafku ga bisa mengimbangi kecepatanku ya langsung aja kuambil alih. Akibatnya ya itu tadi...puyeng berat. Belum lagi ada ekstrakurikuler yang harus kuurus. Entah mengapa ekskul satu ini kok ya tumpleknya ke aku, padahal aku sudah berusaha segala macam cara untuk juga melibatkan sekan sebelah mejaku. Tapi akhirnya kami sepakat bahwa mulai hari ini dan selanjutnya akan pindah ke rekanku itu (kesepakatan kami berdua aja, habis Bos ga bilang apa-apa ketika aku tanya).

Ekskul ini emang spesial, karena sebenarnya core pekerjaan sama sekali bukan di tempatku. Hanya karena Big Bosku jadi Ketua Tim maka aku kebawa-bawa, ga mungkin kan Big Bosku ngerjain yang remeh temeh...jadi mau ga mau aku ikutan deh. Padahal yang diomongin disitu sama sekali bukan expertise-ku. Jadi aku cuma sebagi notulis, nyiapin hal remeh temeh itu tadi tapi bikin aku kelabakan. Awal-awalnya aku sering protes ama yang asli punya kerjaan, sering debat juga walau akhirnya debat kusir karena cuman saling melimpahkan ga mau megang. Dan proses itu bikin gondok membesar di leherku. Temen sebelahku juga gondok berat makanya kalau bisa dia ga mau ikutan (makanya aku jadi kayak kerja sendiri). Tapi ya itu tadi dengan segala daya dan upaya temanku itu tetap kulibatkan sampai akhirnya dia mau menerima limpahan ekskul ini secara menyeluruh (iya ga sih...ikhlas ga ya...). Mungkin dia kesian juga ngeliat aku kayak ayam nelen karet gelang...kebanyakan kerjaan.

Akibat sampingannya apa coba? Sudah berminggu-minggu ini aku menelantarkan anak-anakku. Artinya, ga anter jemput mereka, ga cerita sebelum tidur, ga banyak menanggapi cerita mereka (karena fisikku udah kepayahan, maunya moloor terus pas nyampe mobil/rumah). Aduuuh...anak-anakku sayang maapin Bunda ya...kali ini yang ada di otak Bunda cuman kerjaan aja...kalian agak terpinggirkan...Doain ya..kalau nanti nomenklatur yang baru udah resmi dan yang kerja udah dilantik, kerjaan Bunda jadi banyak berkurang. Sabar ya..

Read More..

Jawaban Atas Nikah Ulang

Semalem ngobrol lagi ama suami tentang kemungkinan nganyari nikah... dan ternyata ada dua jawaban kenapa beliau ga mau melakukan ijab kabul lagi. Ada jawaban becanda dan jawaban serius.

Jawaban becandanya ya itu... bikin boros aja..masak mesti ngasih mas kawin lagi...yang pertama dulu kan udah..perkara akhirnya ilang ya ditanggung seniri duonk..!.. Jawaban serius ternyata emang bener...beliau belum ikhlas sama aku... hiks...hiks...belum bisa menerima aku apa adanya... Dan beliau ga mau kalau aku berlindung dibalik kata-kata bahwa inilah aku...ga ada lagi yang bisa diubah dari diriku ini..menurut beliau masih ada yang bisa diubah jika aku mau berusaha lebih keras lagi...

Rasanya hatiku langsung sedih banget. Menurutku ini hanya masalah cara berbicaraku..cara aku bereaksi atas suatu kejadian dan ini sudah bawaan orok.. Jika aku nyadar maka aku bisa mengatur cara bicaraku sehingga orang lain tidak merasa bahwa aku seakan-akan marah. Weits..kayaknya perlu dijelaskan dulu deh.. Dari kecil keluargaku (ibuku) dan rata-rata orang Banyuwangi kalau ngomong selalu dengan high tone dan keras sehingga kesannya kayak orang marah-marah padahal biasa aja..ga ada niatan marah-marah. Ya tentu saja nada bicaraku ikutan demikian. Tapi semenjak keluar dari Banyuwangi, aku menyadari bahwa orang bisa saja salah paham jika bicara denganku sehingga aku brusaha menahan diri..tapi ya itu tadi..namanya bawaan orok..kalau merespon langsung mana sempat berhati-hati. Dan dengan suami tentu saja respon langsung yang sering keluar.

Teman sebelah mejaku juga pernah bilang bahwa karena dia tau siapa dan giaman aku maka dia ga merasa bermasalah dengan gaya bicaraku tapi bagi orang yang ga kenal maka kemungkinan besar orang itu akan salah mengerti. Brarti emang cara bicaraku bisa membuat orang salah paham dan tersinggung.

Tapi kan teman sebelahku saja bisa ngerti aku masa suamiku sendiri ga bisa memahami gaya bicaraku. Menurutku..kapan aku bisa menjadi diriku sendiri jika dirumah saja aku masih harus berhati-hati. Tau kan rasanya menjaga bicara setiap saat? Capek kan?

Eniwei..sepanjang suamiku belum ikhlas denganku dan belum bisa menerimaku apa adanya..yo wis kenapa harus nganyari nikah? Kalau kedua belah pihak merasa memang perlu untuk memulai komitmen baru dengan dasar yang baru maka nikah ulang itu baru bisa dilakukan.


Read More..

Rabu, September 10, 2008

Sekali lagi tentang Menara Salemba Batavia

Aduuh...ternyata itung-itungan pembayaran uang muka dan surcharge tidak sama dengan waktu yang diceritakan dulu...Betapa membingungkan...Pertama dibilang kalau biaya tambahan itu tergantung lokasi unit dan range-nya antara 38 - 45 juta, ternyata dipukul rata 43,2 juta. Dan nyicilnya juga beda.. Kemaarin dapat fax dari marketingnya dan hari ini dapat deadline tanggalnya...Hiks...Hiks...ternyata benar-benar ga mampu beli 2 unit...terpaksa hanya satu saja deh...

Jadi DP dibayarkan 4 kali:
(i) 5 juta Booking fee (BF) paling lambat tanggal 13 September
(ii) 9 juta DP I sebulan setelah BF
(iii) 9 juta DP II sebulan setelah DP I
(iv) 5.8 juta DP III sebulan setelah DP II

Sedangkan surcharge (SC) sebesar 43,2 juta dibayarkan 6 kali:
(i) 10 juta SC I dibayar bersamaan dengan pembayaran BF paling lambat 25 September
(ii) 8 juta SC II dibayar sebulan setelah SC I
(iii) 7 juta SC III dibayar sebulan setelah SC II
(iv) 7 juta SC IV dibayar sebulan setelah SC III
(v) 7 juta SC V dibayar sebulan setelah SC IV
(vi) 4,2 juta SC VI dibayar sebulan setelah SC V

Gitu deh, jadi sampai bulan Februari nanti totalnya sebesar 72 juta. Makanya mampunya cuma beli satu.
Eniwei, biarpun nanti terasa seperti RSSSSS yang penting ada rumah singgah ketika pulang kerja atau ketika anak-anak pulang sekolah. Kalau nanti suatu hari di masa yang akan datang, kami mampu beli rumah di tanah di sekitar Jakarta Pusat, maka apartemen ini tinggal disewakan aja deh...(mimpi kaleeee...^_^)

O ya... marketingnya tadi bilang, kalau kami melunasi BF hari ini juga maka unit yang kami pilih akan langsung diblock...jadi ga perlu nunggu undian lagi deh...
Read More..

Selasa, September 09, 2008

Nikah Ulang

OK..setelah aku bisa menerima suamiku apa adanya, maka aku ingin tahun ketujuh pernikahan kami nanti menjadi momentum bagi awal yang baru untuk masa depan pernikahan kami. Maksudku, jika 16 Februari 2002 itu pernikahan resmi kami yang menyatukan dua individu yang sebelumnya barely know each others maka aku ingin 16 Februari 2009 nanti merupakan awal untuk aku yang telah menerima suamiku apa adanya.

Beda kaaan, antara dulu masih penuh idealisme tentang rumah tangga ideal dengan kenyataan sekarang bahwa ikhlas itu jauh lebih penting dibanding apa pun...Naah, aku sudah ikhlas (ga tau ya suamiku) maka aku ingin tahun depan kami menikah ulang. Kalau keluarga besarku bilang tuh...Nganyari Nikah... Hal ini sudah kuutarakan kepada suamiku tapi dia ga pernah tau ada nikah ulang gitu jadi sementara ini jawabannya masih ga mau. Dia pikir untuk apa toh ga ada masalah serius di antara kami lalu kenapa harus menikah lagi..

Memang sih..ga ada yang parah banget sampai forbidden word itu keluar. Tapi kan rasa di hatiku ini sudah berbeda. Kalau dulu pasrah karena ada kekhawatiran dan ketakutan tapi sekarang ini aku pasrah karena benar-benar ikhlas dan aku bahagia karenanya.. Maka pantas kan jika aku ingin merayakannya dengan memperbaharuhi komitmen...mengucapkan ijab kabul lagi dengan hati yang ikhlas... Oi..oi...betapa indahnya...

Tapi tau ga kecurigaan suamiku apa? Wehehehe...masalahnya semua mas kawin yang diberikan waktu nikah dulu kan udah pada ilang. Waktu itu mas kawinnya gelang ma cincin kawin. Gelang udah ilang duluan pas baru 1,5 tahun menikah. Ada yang nyuri isi laci lemariku sampai habis bis ya termasuk gelang itu (ya termasuk catatan utang gitu..hihihi..malingnya ga tanggung-tanggung). Terus cincinnya, karena kerasa sempit maka kupakai sebagai pendant dan termasuk dari salah satu yang ilang ketika kejambret tahun 2006. Ngenes banget semua tanda pengingat pas merit dulu udah pada ilang semua. Naaaah...suamiku pikir aku pengen dapet mas kawin baru...hehehehe...Kalau menurutku itu hasil sampingan saja, yang utama kan pengen memperbaharui komitmen dengan isi hati yang baru..^_^

OK, masih ada 5 bulan lagi...cukup waktu untuk menjelaskan ke suamiku apa mauku...semoga dia mengerti dan merasa sama...
Barusan kepikir nih...jangan-jangan dia ga mau karena masih belum iklas sama aku niy...? :-(
Read More..

Terima Saja Apa Adanya...Maka Kamu Akan Bahagia...

Tahun depan adalah tahun ketujuh pernikahan kami. Kata orang tahun ketujuh itu tahun gatal-gatalnya...Seven Years Itchy. Pasti ini sudah jadi pengetahuan umum sampai ada istilah khusus seperti itu. Katanya tahun ketujuh itu tahun ego mulai sangat dominan sehingga kalau ada masalah sedikit aja bisa bikin pasangan memutuskan untuk berpisah.

Naah, kalau aku sendiri tidak memandang tujuh tahun perkawinanku itu seperti istilah itu. Aku memandang justru di tahun ketujuh itulah seluruh egoku padam dan berganti menjadi kepasrahan dan penerimaan. FYI, aku hanya kenal 4 bulan dengan suamiku ketika pada bulan keempatnya kami menikah. Tentu saja 4 bulan itu ga ada artinya dalam hal pengenalan diri antara dua individu yang sebelumnya ga kenal sama sekali. Kami memutuskan menikah karena sama-sama berniat baik...lalu kenapa harus menunda lagi demi alasan klise "saling mengenal dahulu". Ntar aja deh pas nikah aja saling kenalnya.

Maka tahun pertama pernikahan kami seperti orang yang baru pacaran dan kebetulan waktu itu aku yang lebih banyak berusaha menyesuaikan diri dengan kemauan suamiku. Suamiku ingin istri itu yang begini, begitu dan akupun melakukan yang begini, begitu. Rasa-rasanya aku sudah berusaha keras kok masih saja dianggap kurang sampai puncaknya ketika anak pertamaku lahir bulan Januari 2003. Pemberontakanku mulai muncul karena dari semua buku-buku, majalah dan artikel-artikel yang kubaca semuanya tentang kesetaraan gender. Bahwa yang penting bagi suami istri adalah ada rasa saling, saling memberi dan menerima. Juga bahwa jaman sekarang ini bukan lagi istri yang melayani suami atau istilahnya konco wingking tapi sebagai partner hidup yang sejajar. Jika istri masak maka suami yang cuci piring, jika istri menyusui anak suami yang gantiin popoknya...Pokoknya yang begitulah...kesetaraan itulah...

Namun tetap saja semua hal tentang kesetaraan itu cuma ada di buku. Suamiku seperti halnya laki-laki lain yang dibesarkan dalam kultur Jawa, masih menganggap bahwa suami sebagai kepala keluarga itu posisinya lebih tinggi..ga setara. memang sih, karena semua saudara-saudaranya laki-laki maka dia sudah terbiasa dengan pekerjaan domestik. Jadi suamiku ga keberatan harus mencuci baju sedangkan aku yang setrika. Harus nyapu rumah dan ngepel sedangkan aku masak dan cuci piring. Pokoknya pekerjaan domestik ga masalah lah..

Yang menjadi masalah adalah suamiku itu perfeksionis dan detil oriented. Bisa dibayangkan kan seorang perfeksionis itu seperti apa, ditambah lagi detil oriented. Maka rasanya masuk akal jika semakin lama aku semakin puyeng ngadepin suamiku yang demanding. Waktu aku masih kuliah S2 dulu, ada 3 cewek yang sekolah bareng sehingga kami sering diskusi berbagai hal, biasalah Girls talk. Termasuk diskusi tentang suami masing-masing dan cara kami mengelola keluarga. Satu temanku hampir sama masalahnya denganku tapi dia sudah duluan menikah dan dia bilang sudah dalam tahap menerima suaminya apa adanya, ya begitu itulah suaminya jadi ga usah dipikir lagi sehingga ga perlu sakit hati. Waktu itu aku masih dalam tahap menginginkan kesetaraan itu sehingga aku berpikir bahwa hidup itu sekali lalu jika tidak bahagia buat apa bersusah-susah. Aku perempuan mandiri yang dapat mencukupi hidupku sendiri bahkan dengan dua anak bersamaku. Bener-bener pikiranku waktu itu lebih untuk kebahagiaanku sendiri.

Sampai kemudian lahir anak ketigaku tahun 2007. Hmmmm...sudah tiga anak...apakah aku masih mau selfish hanya mementingkan kebahagiaanku sendiri.. Aku mulai berusaha memahami bahwa inilah suamiku apa adanya..dan mencoba berpikir seperti temanku itu. Tapi kejadian di akhir tahun 2007 membuatku hampir bulat untuk menyerah. Aku bahkan menelepon istri kakak iparku dan orang tuaku sambil menangis menceritakan permasalahanku. Sampai beberapa waktu pikiranku masih buntu sampai tiba-tiba menjelang perayaan 6 tahun pernikahan kami, aku mengerti apa yang dibicarakan temanku itu tentang menerima suami apa adanya. Jika merasa jengkel tentu saja masih wajar..tapi ya itu...that's it..begitu aja...ga ada perasaan ga terima. Hal itu malah membuat pikiran sendiri menjadi lebih lapang dan ga ada sakit hati. Aku benar-benar takjub dengan taktik menerima apa adanya ini. Aku ga inget apa pemicunya sehingga tiba-tiba saja aku bisa melakukan itu. Ga ada lagi prinsip kesetaraan dan rasa "saling" itu, yang ada hanyalah penerimaan. Dan bahkan aku ga peduli apakah suamiku menerima aku apa adanya juga..yang penting aku melakukan yang terbaik yang aku bisa untuk melakukan semua permintaan suamiku. Kalau masih saja dianggap ga sempurna..ya aku coba lagi sesuai kemauannya...kalau masih saja salah..ya udah gimana lagi..itulah suamiku..pendamping hidupku...ayah dari anak-anakku.

OK, semenjak itu jika ada temenku yang curhat tentang bagaimana jengkelnya dia ketika ada perilaku suaminya yang tidak berkenan maka saranku hanya satu: Terima Saja Suamimu Apa Adanya...Maka Kamu Akan Bahagia...
Read More..

Senin, September 08, 2008

Pilihan Yang Buruk

Jumat kemarin Wisam panas tinggi lagi, padahal dari malam sebelumnya aku ga ikut pulang (ada kerjaan kantor yang perlu dibahas sampai malam). Malam itu aku lebih memilih ngerjain tugasku sebagai pekerja. Aku menyerahkan urusan anak-anak ke suamiku dan persiapan sahur ke adikku dan asistenku. OK....urusan kerja:urusan anak-anak = 1:0

Pagi itu langsung kuminta asistenku ke puskesmas untuk minta surat pengantar periksa darah, dan aku sendiri ngantar Javas cek ke Harapan Kita. Sepulang dari sana langsung ke rumah, maksudku jika ada pengantar periksa darah maka langsung ngantar Wisam ke Bakti Asih, tapi ternyata dokter puskesmas tidak bisa memberi surat pengantar dan menyarankan untuk langsung ke dokter yang menangani.

Wisam masih panas tinggi dan aku bingung mesti ngapain. Semua barang-barangku masih di kantor karena rencanaku setelah meriksain Wisam aku balik lagi ke kantor untuk nerusin kerjaan yang perlu dibahas sampai malam. Mau ke Harapan Kita, dokter yang meriksa Wisam ga praktek hari Jumat, ke Bakti Asih hanya untuk periksa darah, aku males ngadapin dokter-dokter disana (dari 2 dokter yang udah pernah ketemu, dua-duanya ga mutu banget...wis pokoke emoh ke Bakti Asih. Soo..karena ga ada lagi yang bisa kulakukan (atau aku yang terlalu panik sampai ga bisa mikir?) maka aku langsung memutuskan balik ke kantor (taxi juga udah nungguin dari tadi).

OK...tunggu...ketika di dalam taxi aku berpikir...sebenarnya apa sih yang aku lakukan?..apa yang aku cari..?...masak skor mau jadi 2:0 untuk pekerjaan? Bagaimana dengan Wisam yang masih panas tinggi dan ketika kutinggal tadi dia nangis kenceng..? Dan tololnya..aku masih memerlukan waktu lama sampai taxi udah melewati Metro Permata dan hampir ke arah Meruya, dan juga butuh telpon ke suami untuk akhirnya memutuskan bahwa aku harus kembali ke rumah.

Aku benar-benar tidak habis pikir dengan diriku sendiri, masak aku lebih mementingkan pekerjaan dibanding anakku yang sedang sakit? Dalam perjalanan balik ke rumah, aku hanya bisa menyesali pilihanku tadi yang luar biasa buruk...Maafkan Bunda, Wisamku sayang...
Read More..

Launching Menara Salemba Batavia

Tadi suamiku cerita bahwa marketing Century 21, Pak Yananto telah ngasih kabar launching Menara Salemba Batavia. Tepatnya akan di adakan hari Sabtu 13 September 2008 di Citraland. Semua pihak yang telah menyatakan memesan diharuskan hadir hari itu untuk undian nomor unitnya.

Wiih...padahal dari waktu itu kami masih itung-itungan uang apakah cukup atau engga. Sampai sekarang belum ada keputusan. Kalau hanya satu sih kayaknya bisa..tapi kalau dua yaaaa...beraaaat banget. Padahal kan waktu itu sudah booking untuk 2 unit jadi sudah bayar dua juta. Kalau udah diundi nanti unitnya dapat yang mana maka mesti langsung bayar sisa kekurangan booking fee, masing-masing 4 juta. Jadi nanti pas tanggal 13 September harus bawa uang 8 juta dooong...

Mana mau lebaran lagii....kan mesti pulkam dan sangunya ga tanggung-tanggung. Kemaren udah itung-itungan sangu lebaran yang mesti disiapin termasuk ongkos perbaikan mobil dan bayar pajak mobil udah bikin jantung kebat-kebit karena jelas jumlah yang kepotong dari tabungan totalnya berapa. Hiks...hiks....jadi engga ya beli apartemen ini dua unit..? Kalo cuman satu dengan 3 anak + dua adik yang ikutan gabung ya mana muat..? Ntar malah jadi rumah sangat sederhana selonjorpun sempit sekali...

Heeeeehhhhhh...susah amat sih mau seneng...
Read More..

Selasa, September 02, 2008

Hari Pertama Puasa, Kok Malah BT

Rupanya aku tidak bisa ikut mengawali bulan Ramadhan ini. Biasaaa....urusan perempuan. Tapi tetep, sebagai perempuan paling tua di rumah, maka aku yang kebagian menyiapkan sahur pertama (tentu saja dengan bantuan asisten ). Adikku bangun ketika makanan sudah hampir siap. Sepagian perasaanku baik-baik saja, hanya terasa mengantuk dan akhirnya tidur sepanjang perjalanan berangkat.

Pukul 09.30 aku sudah janjian dengan adikku untuk ketemu langsung di RSAB Harapan Kita, periksa lanjutan untuk Wisam. Naaah keBTanku dimulai dari sini, ternyata dr. Edy Widodo yang minggu lalu meriksa Wisam, benar-benar dokter senior yang suka ngecilin pertanyaan pasiennya. Aku sudah berusaha ga peduli dengan cara dia menjawab dengan terus menerus bertanya apa yang ingin kuketahui. Dan payahnya dia pun terus menerus menjawab dengan sekenanya sehingga aku nyerah duluan. Aaaarghh...dokter senior emang begitu..dan kulihat titelnya udah Doktor..mungkin ahli di bidang paru dan pernapasan...makanya ga komunikatif blas...

Pulang dari RSAB aku ingin langsung pergi ke Pasar Baru untuk beli vitamin dan obat2an, tapi jawaban sms dari suamiku bener-bener bikin tambah BT. Biasa...masalah klasik...DUIT..!! Akhirnya kubatalkan ke Pasar Baru dan langsung kembali ke kantor.

Sorenya, sekitar 14.30 aku sudah niatin untuk pergi ke Pasar baru dan keluar mo naik ojek (kendaraan andalanku, cepet dan bebas macet tapi helmnya bau banget..)..eee.. tiba-tiba suami nelpon ngajak bareng. Kupikir mo nganterin ke Pasar Baru tapi ternyata dia minta di antar ke Pramita Lab dengan janji sepulangn dari sana maka langsung ke tujuanku. Ternyata proses cek up nya cukup lama sehingga suami minta absen dulu terus jemput anak-anak baru ke Pasar Baru.

Akhirnya karena pas jemput anak-anak sudah pukul 17.00 maka aku putuskan untuk tidak jadi beli obat. Rasanya jengkel banget bahwa aku sama sekali ga ngapa-ngapain ketika di Pramita. Daripada gitu kan mending aku pergi sendiri ke tujuanku. Jadi ga harus runtang runtung tapi berbagi pekerjaan. Dan karena rasa jengkelku itu maka aku balik ke kantor dan kubiarkan anak-anak dan suami menunggu di mobil sampai 17.30. Aku merasa egois banget tapi perasaanku masih belum netral. Rasa BT yang terpupuk dari pagi (sebenarnya dari hari sabtu sih..) sampai sore membuat energi negatif mengumpul di tubuhku. Aku jadi gampang naik ketika anak-anak rewel dan kuputuskan lebih baik diam saja selama perjalanan.

Sampai di rumah, aku langsung masuk kamar berusaha menetralkan diri, suamiku sempat masuk dan nanya, maka kujawab aku ingin sendiri dan minta dia keluar. Setelah benar-benar sendiri, maka keBTanku kutumpahkan dengan menangis diam-diam. Setelah semua airmata tercurah, perasaanku menjadi lebih lega. Menangis memang obat stress yang paling manjur.

Selanjutnya rutinitas kembali lagi kujalani dengan netral...
Untuk sumber BT ku kemarin, sampai saat ini belum kudiskusikan dengan suamiku...Kapan ya..?
Read More..

Prejudice

Aku selalu menghindari untuk menilai orang sebelum aku tahu benar bagaimana dia sebenarnya. Artinya apapun yang kudengar tentang seseorang, tidak akan mempengaruhi penilaianku sebelum aku benar-benar mengenalnya.

Nah, beberapa waktu lalau aku dan teman temanku ngerumpi kanan kiri…segala hal diomongin sampai tiba omongan tentang rekan kerja masing-masing. Aku komplain tentang rekanku yang ga capable, dia pun juga begitu. Segitu aja omongannya bahwa ketidakmampuan orang-orang itu justru membuat kami bersemangat untuk mengkhayal tentang apa yang akan kami lakukan jika kami berada dalam posisi dia, yang jelas kami akan melakukan yang terbaik. Jika kita sudah berusaha sebaik mungkin melayani orang lain maka penghormatan akan datang sendiri.

Sampai selesai kita ngerumpi, aku tetap membuka pikiran tentang orang yang dibicarakan temenku itu, karena toh aku tidak/belum kenal dia. Sampai minggu lalu aku harus melakukan pekerjaan bersama dia. Pertama kali berbicara aku hanya berhati-hati tapi sama sekali ga berprasangka buruk, sampai ngobrol tidak begitu lama ada tanggapan-tanggapan dia yang benar-benar menunjukkan bagaimana kualitas dia dalam bekerja. Langsung saja ada rasa gondok di leher ini…jengkel banget…ternyata apa yang dibilang temanku benar…! OK, aku masih berusaha berpikir positif.

Tapi 2 hari bekerjasama membuatku benar-benar menarik kesimpulan pasti. He is not capable at what he’s doing.. Karena beberapa kali dia menyinggung-nyinggung tentang suamiku maka ketika ketemu suamiku maka langsung saja aku Tanya tentang what kind a man he is. Suamiku hanya diam dang a langsung menjawab. Setelah kudesak-desak maka dia hanya menjawab..”Ya gitu deh…model orang generasi lama…yang kerja tujuannya cuma untuk bagaimana agar aku mendapat bagian sebanyak mungkin…mengumpulkan uang sebanyak mungkin”… Pantesssssss

Lalu apakah aku termasuk orang yang suka berburuk sangka? Karena pada akhirnya aku toh sependapat dengan komentar temanku itu…

Read More..

Senin, September 01, 2008

Ikan Laut

Setelah kamis pagi kami rapat dengan orang-orang bappeda, kami lanjutkan perjalanan menuju Garut, hanya sekitar 1 jam 15 menit menuju kesana. Sepanjang perjalanan kembali lagi rekan-rekanku ngobrol ga tentu arah. Aku hanya diam berusaha ga ikut menimpali sampai kemudian ada yang ngobrolin tentang seorang pejabat yang terkenal agak-agak aneh. Kalau menurutku bukan aneh sih hanya beliau termasuk orang yang “sulit”.

Menurut temanku itu, dia adalah pahlawan karena beliaulah yang menyekolahkan S1 dengan biaya hampir 90% adalah atas kebaikan sang pejabat. Karena temanku itu sekpri-nya maka sebagai imbalan adalah sekolah itu. Suatu ketika beliau dimutasi ke unit yang lain dan di unit itupun divisi beliau terkenal sebagai divisi yang sulit menghasilkan keputusan. Temanku bilang bahwa penyebab beliau dimutasi adalah bahwa beliau orang yang hanya percaya pada keberadaan Tuhan tapi tidak mempunyai agama.

Wah…kok sejauh itu ya…akhirnya akupun ikut menimpali bahwa karena beliau “sulit”-lah maka pasti banyak desakan di sana-sini agar beliau diganti. Sebagai pejabat publik maka keluwesan kita dalam menghadapi orang adalah yang utama. Menolak boleh tapi harus elegan, bukan hanya melakukan jargon “kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah”. Nah beliau ini termasuk penganut jargon itu. Tentu saja banyaknya kepentingan akan lebih diperhatikan oleh para petinggi-petinggi yang lebih tinggi makanya beliau dipindah. Buktinya pejabat yang sekarang juga sering menolak-nolak suatu permintaan tapi caranya elegan jadi ga bikin sakit hati.

Naaaah…sebelum beliau itu pindah, dia berpesan pada temanku untuk jadi “ikan laut, walaupun seumur hidup berada di lingkungan yang asin tapi ikan tidaklah menjadi asin”. Wuiihhh..dalem banget, jangan-jangan karena prinsip itu makanya beliau menjadi orang yang sulit gitu… Aku jadi bingung dalam mengartikan kalimat itu sampai-sampai kepikiran terus dalam kepalaku..

Anyone….ada yang bisa ngartiin kalimat itu?...
Read More..

Munggahan ala Tasikmalaya

Rabu sampai Jumat kemarin , aku dinas ke Tasikmalaya dan Garut dengan tiga rekanku dari divisi yang lain. Kami naik bis umum menuju kesana dan di sepanjang perjalanan berangkat aku lebih memilih hanya diam dan membaca. Bukan apa-apa..aku malas ngobrol ga tentu arah dan malah-malah bisa jadi debat kusir yang ga ada kesimpulannya. Mending diem ataupun jika ngobrol ya ngobrolin buku yang sedang kubaca…EDENSOR..(Andrea Hirata..aku benar-benar jatuh cinta ama tulisanmu..)

Sampai di Tasik pukul 4 sore kami langsung menuju hotel untuk segera istirahat. Berangkat dari kantor sekitar 10.30 maka perjalanan hampir 6 jam membuat badanku pegal semua. Pukul 19.30 kami dijemput oleh konsultan untuk makan malam bersama dengan pejabat Bappeda.

Di Tasik ada tradisi “munggahan” yaitu makan bersama di rumah makan menjelang bulan puasa. Dan memang sampai besok siangnya, kulihat di semua rumah makan penuh dengan rombongan yang makan bersama, ada rombongan pegawai pemda yang perempuan semua (kelihatan dari seragamnya), ada ibu-ibu muda enam orang diiringi anak-anaknya (mungkin kelompok arisan), ada yang kelihatan satu rombongan keluarga (karena laki dan perempuan dan berbagai golongan usia), yang jelas saking banyaknya sampai ada yang ngantri di depan restoran menunggu giliran.

Sebenarnya apa sih hakikatnya…bersyukur menjelang puasa? memuaskan makan siang karena ntar sebulan penuh ga bisa makan siang? Apa ya? Karena sudah mulai Rabu itu kulihat prosesi munggahan ini di mana-mana. Sampai kapan berlangsungnya? Apa sampai hari minggu pas sehari sebelum puasa? Aku kok melihatnya ga ada manfaatnya sama sekali…eh…kecuali manfaat ekonomi ya bagi para penjual makanan..
Kenapa nafsu konsumerisme begitu ga disalurkan dengan banyak shodaqoh di bulan puasa, misalnya dengan memberi makanan untuk berbuka puasa di mesjid-mesjid..itu kan lebih nyata faedahnya… Pahala…dapet..seneng-seneng ikut makan juga iya..

Tapi kuingat-ingat, dulu waktu baru masuk kerja..teman-teman seruangan juga pasti ngajak makan siang bersama di luar menjelang bulan puasa. Kegiatan ini lewat mulai tahun lalu saja sejak kerja di divisi ini, karena ga sempet aja..mungkin kalau sempat ya masih kami lakukan…buktinya pas 2006 kami sempat keluar lunch bersama.

Jadi apa bedanya dengan munggahan di Tasik itu ya…

Weiiihhh…dari kejadian di Tasik itu malah membuka pikiranku untuk berbuat sesuatu yang lain..selain kelihatan kalap menjelang puasa… Moga-moga sukses deh apa yang kupikirkan semalem.

Read More..