Rabu, Maret 31, 2010

Antara Jake Sully dan Kumbakarna

Hmmm....bener-bener judul yang ga nyambung....tapi mau bagaimana lagi?... Setelah menonton Avatar, yang terlintas kuat dipikiranku adalah Kumbakarna, tokoh dalam Ramayana....bukannya Wibisana, yang setipe dengan Jake Sully.

Sebelum lebih bingung lagi, perlu diperjelas lagi latar belakangnya. Setelah nonton film Avatar, yang sungguh bagus visualisasinya sehingga anak-anakku pun ga bosen-bosennya berulang-ulang nonton film ini, aku jadi membandingkan inti cerita Avatar dengan cerita epik Ramayana. Keduanya satu tipe cerita, dengan masing-masing tokoh di Ramayana, bisa dianalogikan dalam film Avatar.

Misalnya si Kolonel, itu Rahwana-nya.
Rama dan kawan-kawan, itu para alien Navi,
Shinta, itu tanah tempat tinggal para Navi yang mengandum logam penting untuk manusia.
Wibisana, ya si Jake Sully itu
Nah Kumbakarnya siapa?..menurutku si Administrator Parker itu cocok disamakan dengan Kumbakarna.

Kalau di Ramayana, Sinta diculik sama Rahwana yang akhirnya gara-gara itu Alengka berperang besar dengan Ayodya yang dipimpin Rama. Lalu Kumbakarna dan Wibisana,
yang dua-duanya adik Rahwana, memilih sikap yang bertolak belakang. Kumbakarna memilih untuk bersikap membela negara tanah tumpah darahnya, walaupun tau bahwa sikap Rahwana salah, sedangkan Wibisana membelot membela Rama karena ingin bersikap dharma, selalu berada di jalan kebenaran.

Nah kalau di Avatar, si Administrator berusaha cari jalan diplomatis untuk mendapat logam itu tanpa banyak pertumpahan darah walaupun pada akhirnya perintah penyerbuan dia juga yang menentukan, sedang si Kolonel bersikap superior dengan hantam kromo menghancurkan pemukinan alien Navi biar segera bisa menambang logam itu, sedang si Jake Sully akhirnya lebih memilih bergabung dengan alien Navi bertempur melawan ras-nya sendiri.

Tentu saja, akhir ceritanya sama...Rama bisa mendapatkan kembali Shinta, sedangkan alien Navi, bisa mempertahankan pemukiman mereka.

Yang menjadi poinku disini adalah: akankah Anda menjadi Kumbakarna yang bersikap ksatria dan terikat kewajiban bela negara walaupun tau pemimpinnya sedang melakukan kesalahan? atau bersikap seperti Jake Sully membela yang benar, walau harus melawan ras-nya sendiri yang bersikap sewenang-wenang terhadap pihak lain?

Sungguh aku salut dengan Kumbakarna karena loyalitas terhadap bangsanya sangat tinggi, diapun sudah berusaha mengingatkan Rahwana mengenai kesalahannya. Dan ketika akhirnya harus berperang, mati-matian dia membela negaranya, bahkan ketika dua tangannya putus oleh panah Rama dia masih menggunakan kakinya untuk berperang, bahkan ketika kakinya juga putus dia masih menggunakan badannya untuk berguling-guling melawan penyerangnya dan akhirnya harus gugur ketika Rama memisahkan kepala dari badannya. Walaupun aku menyetarakan administrator Parker tadi dengan Kumbakarna, tetep menurutku Kumbakarna ini ga dapat dibandingkan. Dia memilih jalan ksatrianya sendiri walau tau konsekuensi apa yang harus dia ambil.

Aku juga tidak bisa menalar, bagaimana perasaan Jake Sully ketika harus baku tembak langsung dengan kawan-kawannya sendiri. Bagaimana dia bisa menembaki langsung kumpulan teman-temannya yang dalam posisi tidak terlindung walaupun juga sedang menembaki lawan mereka. Aku juga tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Wibisana yang meminta kepada Rama untuk berbicara terlebih dahulu dengan Kumbakarna sebelum pertempuran dimulai. Wibisana meminta maaf pada kakaknya atas situasi yang mungkin terjadi dan Kumbakarna-pun dapat memahami pilihan adiknya untuk selalu berada di jalan kebenaran.

Aduh...kenapa sih harus perang? Apa ga ada jalan untuk win-win situation? Kenapa selalu saja memilih sudut ekstrim, ya atau tidak, kanan atau kiri, atas atau bawah? Kenapa ga tengah-tengah saja?

Kenapa Rahwana ga mengembalikan apa yang bukan menjadi hak-nya? Kenapa juga Sinta ga mau diajak pulang Hanoman ketika Hanoman yang memang diutus menjemput Sinta, datang ke Alengka. Kalau saat itu Sinta ga sok-sokan tentu perang bisa dihindari, dan Kumbakarna ga perlu mati dan Wibisana ga perlu membelot....*halah...kok malah nyalahin Sinta*

Kenapa juga adminitrator Parker tadi ga minta baik-baik satu lahan tertentu untuk nambang logam tadi...kok ya rakus maunya semuanya...huwa....ribet banget ya dunia ini.

Yang jelas, aku ga mau dihadapkan pada situasi seperti Kumbakarna dan Wibisana....aku maunya tetep berada di jalan kebenaran tapi tetap loyal terhadap agama dan negaraku............


My note:
Aku yakin, bagi yang ga tau cerita Ramayana dan belum melihat Avatar, akan kebingungan baca postinganku ini.....bener-bener tulisan ini hanya tumpahan pikiran yang menggayuti otakku sejak nonton avatar.

Read More..

Kamis, Maret 25, 2010

Tuberkolosis Anak

Kemarin aku baca artikel kesehatan di Kompas halaman 14 untuk memperingati hari tuberkolosis sedunia. Artikel ini benar-benar menyemangatiku karena membahas tentang salah kaprahnya tuberkolosis pada anak.

Tahun 2008 lalu, Wisam, anak bungsuku, sempat didiagnosis kena flek paru-paru yang kata sebenarnya adalah tuberkolosis. Walau sempat panic, aku tidak serta merta menuruti diagnosis dokter, dengan mencari pendapat kedua di RS Harapan Kita. Dan setelah 2 kali tes mantoux dan berkali-kali kunjungan, ternyata batuk berulang yang diderita Wisam adalah karena asma. Jadi kami fokus menangani asmanya, dan hasilnya sekarang…dia bebas batuk pilek dan doyan makan….

Nah, artikel tadi menjelaskan salah kaprahnya flek paru-paru tadi. Kenyataannya, sangat sulit mendiagnosis TB pada anak tadi jika hanya dibandingkan gejala-gejalanya pada orang dewasa

Batuk
Gejala utama TB pada paru paru adalah batuk yang berlangsung lama (kronis) dan kadang bercampur darah karena ada pembuluh darah di paru-paru yang pecah. Gejala ini tampak nyata pada pasien dewasa sedangkan pasien anak infeksi TB justru jarang menyebabkan batuk. Batuk lama dan berulang pada anak justru lebih sering disebabkan oleh asma (ini terbukti pada Wisam)

Badan berkeringat
Pada orang dewasa, keringat berlebihan di malam hari pada saat tidur nyenyak biasanya disebabkan oleh peningkatan mekanisme basal tubuh. Infeksi TB pada dewasa menyebabkan mekanisme basal tadi meningkat. Jadi keringat berlebihan tadi bisa dianggap sebagai salah satu gejala TB pada dewasa. Namun, peningkatan mekanisme basal pada anak, lebih sering disebabkan karena dikeluarkannya dan berfungsinya hormone pertumbuhan pada malam hari. Itulah sebabnya anak sering berkeringat bahkan pada saat tidur di ruang AC. (wew…pantesan…anak-anakku semua ga pada doyan pake selimut..malah berkeringat sampai basah kuyup..walo AC udah kenceng….malah emak bapaknya yag bergelung dalam selimut)

Nafsu makan
Ini keluhan umum orang tua ketika nafsu makan anak yg tidak baik. Orangtua kawatir kurangnya nafsu makan ini karena flek paru-paru. Padahal banyak sekali penyebab nafsu makan anak menurun, misalnya variasi, rasa dan tampilan makanan, suasana rumah, hubungan antar anggota keluarga dan masalah sosial lainnya. Bisa juga karena penyakit saluran cerna, sariawan, sakit gigi, gangguan pencernaan atau bahkan cacingan. Jadi harus dilacak sebab-sebab yang itu dulu sebelum melacak TB. (ternyata sekarang setelah batuk pilek Wisam sudah beres, nafsu makan Wisam meningkat drastis, sedang untuk Javas...sulit makannya karena giginya yang ancur..tapi sekarang sudah mendingan kok...asal makannya disuapin dan disayang-sayang...heheheheh)

Demam Ringan Lama
Demam ringan (Semlenget) bisa disebabkan oleh infeksi di organ manapun. Bukan hanya karena flek paru-paru. Penyakit lain yang umum terjadi pada anak bisa menyebabkan demam misalnya:tifus, amandel, congek, sinusitis, ataupun infeksi saluran kencing (ISK). So, teliti dulu kemungkinan penyakit-penyakit itu sebelum berpikir tentang flek paru-paru. (kebanyakan sakit panas Wisam waktu itu ya karena batuknya, pernah karena gejala pneumonia----infeksi tenggorokan yg sudah nyampe paru-paru---pernah juga karena ISK)

Benjolan di leher
Pembesaran kelenjar limfa di leher sering disamakan sebagai tanda flek paru. Disebut membesar jika diameternya lebih dari 1 cm, sedang jika dibawah itu harus dianggap sebagai teraba, yang biasanya karena batuk pilek berulang atau alergi, dan sering disertai pembesaran amandel. Benjolan karena TB akan khas sekali yaitu teraba besar, bergerombol, tidak nyeri saat ditekan dan saling melekat. (kalau yang ini ga pernah kucek..)

Bukan hanya gejala-gejala itu saja yg mesti diliat ulang apa sebab sebenarnya sebelum memutuskan seorang anak kena TB atau bukan, tapi pemeriksaan penunjang harus dilaksanakan secara lengkap misalnya rontgen dada, uji tuberkolin atau mantoux, laju endap darah, limfositosi dan serologi. semakin lengkap tes, maka akan mengecilkan kemungkinan salah diagnosis. Pada anak-anak, gejala-gejala yang muncul yang dianggap sama dengan TB dewasa, hampir tidak khas karena dapat dipengaruhi oleh aspek nonmedis sehingga bisa menyebabkan salah interpretasi.

Jadi jika suatu ketika ada dokter anak yang memvonis anak Anda kena flek paru-paru, yakinkan dulu apakah tes penunjang sudah dilakukan dan carilah second opinion atau third ataupun fourth opinion sebelum benar-benar melakukan pengobatan yang kontinyu dan konsisten selama 6 bulan penuh itu.

Sungguh aku beruntung karena walaupun sempat panik, tapi aku ga serta merta menuruti dokter anak yg memvonis Wisam kena flek paru-paru...dan Wisam-pun baik-baik saja tanpa terpapar antibiotik 6 bulanan itu....

My note:
Artikel ini disadur dari Kompas, Rabu, 24 Maret 2010 halaman 14.

Read More..

Jumat, Maret 19, 2010

Teman Baikku…Dari Masa ke Masa

Dari jaman SD dulu sampe udah punya tiga anak sekarang ini, aku punya teman dekat yang dekat banget. Sehati lah pokoknya.

Ketika pertama kali masuk SD dulu, saat pertama kali namaku dipanggil dan aku masuk kelas, aku langsung duduk dengan anak perempuan yang saat itu masih duduk sendiri. Namanya Uke, cantik, anggun (begitu anggapanku dulu yang merasa diri sendiri sangat kucel). Maka jadilah kami sebangku sampai kelas 4. Berangkat dan pulang sekolah selalu bareng. Karena rumah dia yang lebih dekat ke sekolah (sampe kelas 3), maka aku selalu menjemputnya terlebih dahulu untuk kemudian bersama-sama berangkat ke sekolah. Kakak-kakak kelas selalu rebutan untuk menyeberangkan kami, karena depan sekolahku adalah jalan besar dan termasuk jalan utama sehingga sangat berbahaya untuk anak-anak menyeberang sendiri. Kupikir karena kami berdua adalah adik-adik kecil yang imut, mereka jadi berebutan menyeberangkan kami. Selanjutnya aku menyadari bahwa kakak-kakak itu berebutan nyeberangin Uke, dan karena aku selalu bersama dia, maka aku dapat manfaatnya juga.

Dari Uke, aku tau bahwa di Palembang ada makanan namanya empek-empek (yang baru kuketahui bentuk dan rasanya seperti apa, saat aku kuliah di Bogor). Dari Uke juga aku bisa mendengarkan cerita dari kaset yang dulu sangat populer...apa ya namanya...sanggar cerita atau apa gitu, karena koleksi dia sangat banyak. Dari Uke juga aku belajar lebih bersih dan rapi karena keluarga Uke sangat-sangat teratur dan menjaga kebersihan. Beda denganku yang sangat suka mandi di sungai kecil dekat rumah dan kurang terampil menjaga barang-barang sendiri.

Persahabatanku dengan Uke memudar ketika kelas 5 aku berbeda kelas dengan dia dan di kelas 5 dan 6 ini aku menemukan sahabat baru, tiga orang lainnya:Rosdiana, Nurul dan Fitri. Dan dengan Fitri adalah yang paling dekat karena kami sama-sama bandelnya dan cenderung kelaki-lakian.

Ketika masuk SMP, aku terpisah dari teman-teman SDku karena SMP yang kupilih bukan pilihan teman-teman SDku. Tapi aku menemukan teman-teman baru yang juga sehati dengan proses yang sama seperti waktu SD dulu. Bedanya aku yang duluan duduk dan temanku yang memilih duduk disampingku yang masih kosong. Namanya Iin, cantik dan anggun.....gosh..kenapa aku selalu ketemu dengan perempuan-perempuan cantik dan anggun yang sangat bertolak belakang dengan aku yang pecicilan ini. Tapi walau pecicilan, aku sangat-sangat pemalu dan kuper. Hanya dengan teman-teman dekatku aku bisa menjadi diriku sendiri. Selanjutnya kami bikin kelompok 4 orang dengan dua teman lainnya Ari dan Erna. Sampai kelas dua, kami selalu bersama-sama dengan bikin kelompok dengan nama VIQUPICTA, singkatan dari nama-nama bintang kami. Jaman segitu kan baru kenal bintang dan dijadikan identitas khusus. Kelas tiga kami berpisah tapi masih sering maen bareng, walau ga sesering dulu. Di kelas tiga ini aku sungguh tersiksa karena bertemu teman-teman baru yang membuatku jadi tambah pemalu. Kebetulan kelasku ini biangnya cowok-cowok cakep sedangkan jumlah ceweknya sangat sedikit sehingga kelas 3B adalah kelas cowok cakep. Ceweknya ga ada yang bisa diomongin....Belum lagi pas kelas tiga ini aku salah potong rambut sehingga aku jadi semakin pendiam dan pemalu. Cuma satu yang bisa dianggap kelebihan, disaat tiga temanku yang lain, tingginya hanya nambah sedikit dibanding ketika baru masuk SMP (3-4 cm), aku sudah nambah lebih dari 10 cm sehingga tinggiku sudah mulai keliatan menonjol.

Ketika SMA kelas dua dan tiga bagiku adalah saat yang menyenangkan dalam masa remajaku. Kelas satupun sudah mulai menyenangkan dan sifat pemalu yang nempel ketat ketika SMP, mulai memudar dan PDku muncul. Terutama karena teman-temanku yang paling pinter waktu SMP dulu, memilih SMA sebelah sehingga prestasi akademikku mulai keliatan lagi. Di kelas dua, bikin kelompok 4 orang lagi dengan Nuning, Imelda dan Yusi. Aku paling dekat dengan Nuning walaupun duduk sebangku dengan Imelda. Nuning bisa dikatakan sama persis kesukaannya denganku, kami satu selera dalam segala hal sehingga ngomong apapun dengan Nuning, bakal nyambung tanpa perlu banyak kata.

Ketika aku akhirnya kuliah di Bogor, tingkat dua membentuk kelompok lagi dengan jumlah....lagi-lagi 4 orang. Ida, Ade dan Eni...jadinya DewIdAdEni...hahahaha... sambungan nama-nama depan kami. Sungguh-sungguh masa yang menyenangkan dan penuh petualangan. Dengan Eni, aku sangat dekat terutama di akhir2 kuliah ketika aku sering numpang tidur di tempat Eni.

Dari teman-temanku dari berbagai masa itu, hanya beberapa yang ga terputus oleh waktu, Ari, Ade dan Ida. Artinya gini, setelah masa SD itu karena perbedaan tempat tinggal dan sekolah yang cukup jauh, kami ga berhubungan lagi. Demikian juga waktu SMP ke SMA, Iin pindah ke Jember, Erna ke SMA sebelah. Hanya Ari aja yang satu SMA walo ga sekelas. Dengan Ari, sampai sekarang pun masih selalu ketemuan jika aku pulang kampung dan masih bisa berhaha-hihi seperti dulu. Dengan Ade dan Ida juga masih nyambung karena setelah lulus kuliah, yang nyempet-nyempetin ketemuan ya hanya dengan Ade dan Ida sedangkan Eni menghilang tak tentu kabarnya.

Bagaimana dengan yang lainnya? Thanks to Facebook, aku bisa kontak lagi dengan Iin, ketemu lagi dengan Eni, masih bisa say hello to Ida walo dia nun jauh di Bahrain sana dan baru tadi pagi aku jadi tau kalo Nuning sekarang tinggal di Bandung.... Belum lagi dengan teman-teman lainnya....woaaaaa....... bagaimana jadinya ya jika nanti ikutan fesbuk mesti bayar iuran dulu?...hiks...hiks.... ketika ingat manfaatnya gini, aku beneran rela ikut iuran, tapi belum tentu dengan yang lainnya. Nah kalo gitu, bagaimana bisa kita menemukan teman-teman lama lagi karena belum tentu mereka tetep ikutan fesbuk kalo harus bayar....?


Oh fesbuk...plis...plis...pliiiis...jangan narik iuran keanggotaan doong...biarkan kami reunian lewat dunia maya untuk dilanjutkan di rela world.....

Read More..

Kamis, Maret 18, 2010

Birthday Present From Detya

Dari awal bulan, Detya sudah kasak kusuk minta dibeliin bunga tapi tanggal 11 maret aja. Mintanya kepadaku dan tentu saja aku jadi tau bahwa bunga itu pasti mau diberikan untuk ulang tahunku. Jadi kugiring dia agar merencanakan kado ultahku dengan ayahnya saja...jangan denganku.

Hasilnya? tanggal 12 malam sepulang kerja, dia baru beli bunga itu dengan ayahnya sedangkan aku disuruh menunggu saja di mobil. Inilah bunga itu, yang sekarang kutaruh dimeja kantorku...untuk kepeloloti setiap hari dan kubaca terus ucapannya agar merasuk dalam hatiku...kali aja doa anakku yang perasa ini bisa manjur dan membuka hatiku.





In case ga kebaca gini ucapan ulang tahunnya:

"Selamat ulang tahun semoga panjang umur

semoga tidak marah-marah dan selalu sukses bekerja

juga pakai kerudung"


perhatikan kalimat terakhir.....

Ooo..anak-anakku yang hebat.....kenapa kalimat terakhir itu tidak menyentuhku sama sekali ya......betapa seringnya mereka minta hal itu agar segera kulakukan...tapi selalu saja was-was menyelimuti hatiku.......I'm not good enough to wear jilbab.....huwaaaaaaaaaa...

My note:
maaf ya tentang foto berduanya...habis nyari background yang bagus buat bunga itu kok ga nemu...jadinya maksa disandingin dengan foto hanimun dulu....

Read More..

Senin, Maret 08, 2010

My First Java Jazz

Sudah sejak tahun 2008 aku ingin sekali ikutan menikmati Java Jazz Festifal ini. Kalau tau siy, rasa-rasanya sejak pertama kali ada, aku sudah tau beritanya. Tapi keinginan untuk ikut serta menikmati, baru-baru ini saja muncul. Terutama karena kartu kreditku menawarkan beli 1 dapat 2, sehingga kupikir kalau dengan penawaran seperti itu maka aku bakal bisa menyisihkan sedikit tabunganku.

Taun lalu, keinginanku semakin kuat karena ada Jason Mraz dan juga aku semakin suka sama lagu-lagu Tompi. Duluuuu sekali, aku berpikir bahwa musik jazz itu musik yang berat, kalau ada live music jazz, lebih ke permainan improvisasi alat music. Jarang ada lagu jazz yang ringan didengarkan, jadi kubayangkan bahwa Java Jazz bakal berisi lagu-lagu yang seperti itu (maklum yang biasa kudengarkan adalah musik pop biasa aja). Tapi semenjak mendengarkan lagu-lagu Jamie Cullum, Jason Mraz, dan terutama Tompi, maka keinginan nonton Java Jazz muncul semakin kuat.

Taun lalu ga jadi karena suamiku ga terlalu mendukung. Lah gimana aku bisa nonton kalau suami ga menemani. Disamping itu, aku juga masih sayang mengeluarkan sejumlah uang untuk tiketnya. Kalau beli CD kan bisa dapat lebih banyak dan didengar berulang-ulang. Walau aku juga tau bahwa efek nonton langsung dengan mendengarkan melalui CD sungguh-sungguh sangat berbeda.

Taun ini, aku sungguh bersemangat karena ada Toni Braxton dan Babyface sebagai spesial shownya...penyanyi R & B favoritku jaman kuliah dulu. Sungguh sayang, dua orang itu tidak show dihari yang sama, sehingga aku memilih menonton Toni Braxton saja. Dan untungnya, dia show pas malam minggu sehingga aku ga perlu kepikiran dengan waktu.

Karena ini adalah Java Jazz pertamaku, maka aku ga bisa membandingkan bagaimana yang dulu dengan yang sekarang. Artinya gini, dari segi lokasi saja, taun ini adalah pertama kalinya Java Jazz diadakan di PRJ Kemayoran, sedang sebelumnya selalu di JCC. Pernah ke PRJ? Nah, situasinya ya sama dengan situasi saat PRJ, bedanya ya...kalo PRJ disana-sini hanya ada booth orang jualan dan pameran, sedang Java Jazz disana-sini isinya adalah panggung music.

Ruang terbuka ditengah-tengah itu diisi dengan booth para sponsor dan foodcourt, ada juga 2 open stage yang diisi bergantian. Hall-hall yang ada digunakan sebagai panggung music. Jadi jika kesana pake high heels...dijamin kaki langsung gempor. Berhubung aku pake heels kalo sedang rapat dan kondangan saja, maka aku bebas dari resiko gempor..eh..engga ding, gimanapun jalan dari satu hall ke hall yang lain disertai berdiri selama pertunjukan berlangsung ya...tetep gempor. Apalagi, ketika menunggu mba Toni maen harus ngantri yang mengular....tetep besoknya butuh pijat betis.

Akhirnya, dari sekian banyak pertunjukan music di saat yang berbarengan, aku hanya bisa nonton penuh Maliq & The Essentials dan Toni Braxton saja, lainnya kutonton sedikit-sedikit saja untuk ganti ke panggung yang lain. Diane Warren yang sebenarnya juga ingin kutonton, tapi kelewatan karena asyik isi perut dulu, jadinya pintu terlanjur ditutup karena Presiden SBY rupanya juga ingin nonton mba Diane ini. Bisa dibayangkan kalau ada presiden kan...pengamanan jadi berlapis-lapis.

Di jadwal awal yang kudonlot dari situs Java Jazz, seharusnya ada Tompi, tapi entah kenapa jadwal hari Sabtu itu, Mas Tompi ga ada...hiks..hiks...padahal pengen banget liat Mas Tompi nyanyi live.

Pelajaran yang bisa kudapat, disamping masalah high heels tadi, laen kali kalau mau nonton Java Jazz, mesti fokus memilih panggung mana yang akan serius ditonton dan fokus aja disitu menikmati musiknya. Kalau emang mau nonton semuanya ya...siap-siap aja kaki yang kuat buat jalan kesana kemari dan siap-siap dapat sedikit-sedikit saja...atau malah ga dapet sama sekali karena pas nyampe di panggung tertentu pertunjukan sudah selesai dan ketika pindah ke panggung yang lain..pertunjukan juga udah selesai...(hehehe..jadi inget cerita daerah waktu kecil dulu..itu tu...yang pengen kondangan di dua tempat yang berlawanan arah...malah ga dapat makan di dua-duanya..)


Read More..

Kamis, Maret 04, 2010

Facts About Me...(4)

Sungguh deh, olahraga adalah hal yang membuatku ciut. Aku sama sekali ga bisa olahraga. Sebut deh cabang olahraga apa, voli? basket? bulutangkis? tenis? NOL BESAR. Jangankan olahraga permainan seperti itu, olahraga yang tidak memerlukan lawan main aja aku ga bisa. Maksudnya gini, olahraga yang kusebut tadi kan selalu harus berpasangan atau tim jika dimainkan, nah olahraga yang hanya butuh diri sendiri saja aku juga ga bisa. atletik, sebangsa lompat jauh, lompat tinggi, lempar lembing? renang?.....berendam iya...lari-lari kecil iyalah....jalan sehat siy cukup jago....

Waktu kecil dulu, kakakku sering meledek bahwa badan tinggiku ini ga guna sama sekali. Kaki panjangku ga bisa membuatku jadi pelari. Tunggu....jangan dibayangkan bahwa aku ini tinggi sekali ya. Untuk teman-teman sebayaku yang sama-sama dari Banyuwangi, aku memang lebih tinggi dari mereka. Tapi dengan perbandingan, orang-orang dengan masa kecil yang gizinya seadanya maka tinggiku ini cukuplah.. Gizi seadanya ini misalkan telur sebutir dibagi empat...ayam seekor dibagi 16 (itupun hanya pas slametan..)...makan daging cukup kaldunya saja yang semangkuk...tapi dengan nasi sepiring penuh dan selalu nambah. Maka bisa dibayangkan, protein sebanyak itu akan membentuk manusia setinggi apa.

Tapi, memang aku lebih tinggi dari kakak dan orang tuaku dengan penampakan yang cukup signifikan. Di keluargaku, yang pada akhirnya lebih tinggi dari aku adalah adik laki-laki yang paling kecil.

Balik lagi ke masalah olah raga. Memang kebiasaan berolahraga mesti dibiasakan sedari kecil. Dengan Bapak yang sibuk dan ibu yang juga tidak peduli olahraga, maka olahraga bagiku adalah pelajaran di sekolah saja. Sepanjang nilai olahragaku baik-baik saja maka aku juga ga peduli dengan olahraga. Ditambah si bengek yang kadang-kadang muncul di usia kecil dan remajaku maka olahraga bukanlah favorit buatku.

Sekarang ini akibatnya, argueing dengan suamiku masalah keolahragaan ini. Suamiku yang olahragawan sejati, adalah kebalikan dari diriku ini. Bola? luar biasa jago, sampai gara-gara bola ini pula, suamiku hanya 3 tahun mengalami tugas kerja di luar Jawa karena langsung ditarik ke kantor pusat untuk ikut tim inti sepak bola. Padahal temen-teman lainnya minimal harus menunggu 5 tahun untuk bisa rolling tempat kerja...itupun belum tentu ke kantor pusat. Bisa jadi malah ke ujung Indonesia di kota yang terdiri dari dua kata kembar....(ini candaan kami karena sistem mutasi yang asal..maksudnya kota Fak-Fak, Toli-Toli..mmm..apalagi ya?).

Belum lagi olah raga lainnya. Tenis? Basket? Bulutangkis? pokoknya olahragawan asli deh.. Jadi ketika kami berdiskusi tentang bagaimana cara membuat anak bisa sportif dan menerima kekalahan dan kemenangan dengan baik tanpa berlebihan, maka menurut suamiku cara satu-satunya adalah mengenalkan olahraga pada mereka. Terutama olahraga permainan, jadi kami (aku dan suamiku) harus rajin-rajin ngajak anakku buat iseng-iseng main bulutangkis di depan rumah...terus nendang bola berpasangan...dan dibuat suasana kompetisi untuk bisa mendapatkan yang menang dan yang kalah.

Tanggapanku?...oo..tidak....aku akan mempermalukan diriku sndiri jika pegang raket di depan anak-anakku. Jadinya, aku malah berargumen bahwa tetap saja olahraga tidak selalu bisa mangajarkan anak untuk menerima kekalahan. Buktinya banyak yang melakukan doping agar bisa menang...steroid atau apalah...yang jelas semua hal dilakukan agar bisa MENANG. Sepak bola Itali malah diatur mafia skornya..sehingga jadi skandal memalukan... Jadi olahraga hanya mengajarkan anak untuk mencapai kemenangan saja...

Hey...disamping itu alasanku untuk menghindar dari kewajiban berolahraga oleh suamiku, kupikir memang benar demikian adanya. Kita cenderung hanya mengajarkan bagaimana mencapai kemenangan kepada anak kita...bagaimana agar bisa jadi yang terbaik...bagaimana bangganya kita jika sang anak BISA mencapai sesuatu. Jadinya sang anak pun akan berusaha membuat orangtuanya bangga dan tidak bisa mengatasi rasa kecewa ketika kalah.

Aku masih belum tau bagaimana membuat mereka bisa menerima kekalahan. Saat ini yang bisa kulakukan hanya menerima perasaan kecewa mereka, bukan malah cari kesalahan atau menasehati mereka. Mereka sedang kecewa, paling engga, akuilah kekecewaan mereka..mendengarkan apa yang mereka ceritakan dan menanggapi cerita mereka dengan cara sedemikian rupa sehingga mereka bisa mencari tau sendiri apa yang seharusnya mereka lakukan. Bukan kita yang memberitau apa yang harus mereka lakukan. Itu yang terbaik yang bisa kulakukan. Jika ada yang punya saran lain...feel free to tell me here...

Aku juga sadar, aku ga bisa melarikan diri dari olah raga ini demi anak-anakku. Tentu saja aku ga mau mereka menjadi aku yang ga bisa olahraga. Disamping itu, hasil cek up waktu itu dengan berbagai hal yang sudah melampaui ambang batas aman, aku memang harus berolahraga. Maka, aku menyetujui jadwal renang yang ditetapkan suamiku setiap jumat pulang kerja di Pasar Festival Kuningan. Walaupun aku sangat-sangat rikuh melihat cowok-cowok cantik sliweran disana...bahkan dengan memakai celana renang ala bikini.... Tapi mengingat disana kolamnya bersih dan tidak terlalu ramai, maka OK-OK saja bagiku mengajak anak-anak renang disana.

Juga tiap suamiku futsal senin dan rabu sore hari, aku juga melakukan olahraga yang cukup jago kulakukan yaitu jalan sehat. Kalau olahraga permainan, setidaknya aku bisa tendang-tendang bola sedikit sehingga 2 tim bisa terbentuk, walau ini masih jarang kami lakukan.

Pokoknya...untuk anak-anak yang lebih baik...apapun akan aku lakukan.....

Read More..

Selasa, Maret 02, 2010

Mimpi Detya

Semalam ada kejadian lucu yang bikin aku dan adikku terbahak-bahak. Detya ngelindur dan yang dia bicarakan adalah soal matematika....

Jadi gini, sudah sebulan ini Detya ikutan ekskul APIQ di sekolah. APIQ mengemas pelajaran matematika dalam bentuk fun dan melalui permainan. Misalnya 'permainan hompimpa' tapi dengan yang kalah memilih tema pertanyaan untuk selanjutnya si teman-teman yang lain mengajukan pertanyaan agar dijawab yg kalah tadi.

Contoh nyata, Detya kalah hompimpa dan dia memilih tema perkalian lima..dan si teman-teman akan mengajukan berbagai perkalian lima untuk dijawab Detya. Itu hanya satu permainan, dan permainannya banyak sekali sehingga acara hapalan yang terasa membosankan jadi menarik untuk dilakukan.

Tadi malam itu, dalam tidurnya Detya berteriak:

"Aku tau jawabannya, 45 dibagi 5 sama dengan 9, ayo berapa lagi".....

OMG.....segitu kepikirannya anakku ini sampai kebawa mimpi. Adikku cerita bahwa sore harinya Detya memang dapat pertanyaan tentang pembagian 5. Ketika 15 dibagi lima, dia bisa menjawab 3. Sampai 30 dibagi 5 dia masih bisa menjawab 6. Sampai ke pertanyaan 45 dibagi 5, dia ga bisa-bisa menjawabnya. Dan pertanyaan itu dipending untuk main yang lainnya.

Nah..malam itu Detya sampai termimpi-mimpi dengan jawaban pertanyaan itu.

Herannya, ketika tadi pagi aku tanyakan lagi ke Detya, dia ga ingat sama sekali mimpinya dan tetap ga tau jawabannya ketika kutanya berapa 45 dibagi 5....

So...apakah dalam kondisi setengah sadar, justru otak bekerja lebih maksimal?

Tanya kenapa...?

Read More..