Selasa, Mei 06, 2008

Tetralogi Pulau Buru

Pertama kali saya mengenal karya Pramoedya Ananta Toer adalah pada bulan Juni 2001 melalui buku berjudul Gadis Pantai. Saya yang punya nafsu baca besar tapi modal seadanya, mendapat pinjaman buku ini dari teman se-kost. Dia juga meminjami 3 buku pertama dari Tetralogi Pulau Buru: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa dan Jejak Langkah (pada akhirnya buku ini menjadi milik saya). Dari membaca buku-buku tersebut, saya langsung jatuh cinta setengah mati terhadap semua karya Pramoedya Ananta Toer. Selanjutnya saya buru semua karya Pramoedya Ananta Toer setiap kali saya punya rizki berlebih.

Tetralogi Pulau Buru menceritakan tentang biografi (?) dr salah satu toko kebangkitan nasional yg tidak tercatat dalam sejarah, RM Tirto Adhi Soerjo. Dalam buku tersebut RM TAS dinyatakan dalam tokoh yang bernama Minke. Bumi Manusia menceritakan masa saat Minke menjalani HBS di Surabaya. Saat itulah Minke mengenal Nyai Ontosoroh, melalui anak perempuannya, Annelis. Nyai ini banyak sekali mempengaruhi kehidupan dan jalan pikiran Minke sehingga menjadi pribadi yg berpikiran jauh lebih maju dari generasi lain seusianya. Annelis yg merupakan keturunan indo dari Nyai Ontosoroh dan seorang belanda bernama Robert Mellema, akhirnya menikah dgn Minke secara Islam. Pernikahan ini tidak diakui Pemerintah Belanda. Dan karena perebutan warisan antara Nyai dengan anak sah Robert Mellema, Annelis terpaksa berpisah dengan Minke untuk dibawa ke Belanda. Dalam buku ini lebih banyak menceritakan proses pembelajaran Minke yang merupakan anak sekolahan yang mendasarkan semua pemikirannya pada buku dan ajaran guru sekolahnya. Wujud dari pembelajaran itu adalah mulainya Minke menulis artikel dalam bahasa belanda pada sebuah surat kabar lokal.

Nyai Ontosoroh diceritakan sebagai perempuan pribumi yang berotak cemerlang, yang menjadi istri simpanan dan mendapat pembelajaran dari Robert Mellema dan membaca koleksi buku-bukunya sehingga berpikiran sangat modern dan mandiri. Nyai Ontosoroh menjadi sangat spesial jika dibandingkan dengan kondisi umumnya saat itu, dia adalah seorang otodidak yang terlalu independen. Satu hal yang dapat saya tangkap dari buku ini yaitu belajar, belajar dan belajar akan dapat membuka wawasan dan cara berpikir kita. Artinya adalah open minded terhadap semua hal, sedangkan belajar sendiri dapat dilakukan dengan membaca, baik dari buku maupun kejadian nyata yang ada di sekitar kita, sehingga kita dapat mengambil hikmahnya. Saat saya membaca tetralogi ini, saya juga mengandaikan jika saya hidup di jaman Minke maka saya akan menjadi orang biasa yang hanya bisa mengikuti arus yang ada, bukan seorang Minke yang sanggup melawan arus dan menjadi pionir. Hmmmm….membaca buku ini membuat saya berpikir ulang terhadap semua tokoh-tokoh pembaharu, baik dari jaman kebangkitan nasional dulu atau tokoh-tokoh masa kini yang kelihatannya menantang arus. Salut untuk mereka semua

Buku kedua Anak Semua Bangsa, pada bagian awal menceritakan tentang perjalanan Annelis ke Belanda dan penderitaanya sampai kemudian meninggal. Selanjutnya Minke sendiri tidak berlarut-larut dalam kesedihan, dia tetap melanjutkan menulis. Ibunda Minke menginginkan agar Minke mencoba menulis dalam bahasa Jawa, akar budaya Minke, sedangkan teman-teman Minke yang lain menginginkannya menulis dalam bahasa Melayu, yang pada saat itu merupakan bahasa sehari-hari yang paling banyak digunakan di Hindia. Namun Minke menolak dengan alasan bahwa bahwa koran berbahasa Melayu merupakan bacaan bagi orang yang berpendidikan rendah. Menurut Minke tulisannya akan lebih berarti apabila dalam bahasa Belanda. Namun perkenalannya dengan salah seorang angkatan muda Tiongkok, dan juga diskusinya dengan Nyai Ontosoroh, mulai membuka pikiran Minke tentang kebangkitan suatu bangsa.

Selanjutnya, Minke mulai membuat tulisan dengan perspektif yang baru setelah berlibur bersama Nayi Ontosoroh di perkebunan tebu Sidoarjo. Dengan kepercayaan diri yang tinggi, dia berharap tulisan ini akan terbit dan dapat mempengaruhi pembaca. Namun ternyata pihak penerbit yang biasanya menunggu karya-karyanya malah menolak mentah-mentah karena ternyata hal-hal yang berhubungan dengan gula sudah menjadi semacam mafia yang menyangkut hajat hidup para penguasa. Dengan rasa sakit hati Minke menghancurkan tulisan kebanggaannya itu. Namun ternyata penerbit yang sudah pernah membacanya bergerak lebih maju dan akhirnya terjadi keributan besar di perkebunan tebu itu sehingga diputuskan agar Minke segera berangkat ke Betawi untuk melanjutkan pendidikannya di STOVIA sekaligus melupakan semua kejadian yang telah lalu.

Dalam perjalanan ke Betawi menggunakan kapal laut, Minke berkenalan dengan penulis belanda yang pindah bekerja ke surat kabar Semarang. Dari penulis itu Minke semakin mengetahui mafia seperti apa yang berhubungan dengan gula. Dalam pemberhentiannya di Semarang, Minke dijemput oleh petugas sekaut untuk kembali lagi ke Surabaya dalam rangka sidang lanjutan kasus keluarga Annelis. Di akhir buku diceritakan tentang kedatangan anak kandung Robert Mellema yang datang untuk mengklaim harta warisan ayahnya. Inti dari buku kedua ini adalah pengenalan Minke terhadap lingkungan sekitar yang lebih nyata yang ternyata berbeda jauh dengan apa yang selama ini diketahui dan dipelajarinya dari buku dan sekolah.

Buku ketiga Jejak Langkah, merupakan buku favorit saya diantara tetralogi pulau buru. Buku ini menceritakan perjalanan Minke dalam menyelesaikan sekolahnya di sekolah kedokteran STOVIA di Batavia. Pada masa inilah, rasa kebangsaan Minke muncul. Dia banyak berinteraksi dengan tokoh-tokoh nasional saat itu, misalnya dr Wahidin, dr Sutomo & RA Kartini. Minke juga berkenalan dan akhirnya menikah dengan Ang San Mei, wanita tionghoa yang merupakan aktivis pergerakan revolusi China yang melarikan diri ke Hindia Belanda. Namun pernikahan ini tidak berumur lama karena Ang San Mei akhirnya meninggal. Karena merawat Mei ini, Minke dikeluarkan dari STOVIA dan harus membayar biaya sekolah selama ini. Dengan bantuan dari Nyai Ontosoroh, Minke dapat menyelesaikan masalah dan mulai menjajagi untuk mendirikan organisasi. Walaupun belum sesuai harapan, organisasi itu bisa berdiri. Buku ini menceritakan detil tentang sepak terjang Minke dalam berorganisasi maupun menjadi penulis bahkan sampai memiliki surat kabar sendiri. Juga pernikahan selanjutnya dengan Princess dari kerajaan di Maluku yang juga berpendidikan tinggi sehingga bisa bahu membahu dengan Minke dalam mengurusi surat kabarnya. Karena suatu kesalahan dalam menulis yang dilakukan oleh anak buahnya, Minke akhirnya ditangkap polisi dan diasingkan ke luar Jawa.

Membaca buku ketiga ini benar-benar membangkitkan perasaan nasionalisme saya. Bukan rasa yang muncul ketika mendengar dan membaca pelajaran IPS jaman SD dulu, namun rasa cinta tanah air yang tumbuh dari pemahaman yang mendalam dari penjelasan Pramudya yang detil dalam buku ini. Sekali lagi, cara bertutur Pramudya yang sungguh sangat luar biasa, membuat saya lebih mengerti daripada saat membaca buku-buku sejarah jaman sekolah dulu. Saya selalu memotivasi adik-adik saya untuk membaca tetralogi ini untuk menggugah rasa kebangsaan mereka. Namun mungkin cara bertutur Pram yang unik masih terlalu berat buat adik-adik saya sehingga mereka lebih memilih untuk membaca Harry Potter atau yang lebih tinggi sedikit, Tetralogi-nya Andrea Hirata (yang keempat belum terbit dan membuat saya sangat penasaran) dan karya-karya Habiburrahman el Shirazy.

Buku terakhir Rumah Kaca, merupakan cerita dari sudut pandang seorang polisi Belanda bernama Jaques Pangemanann. Bagaimana Pangemanann yang merupakan intel Belanda mengawasi seluruh aktivitas pergerakan yang ada di Hindia Belanda, terutama pengamatannya terhadap sepak terjang Minke sampai akhirnya Minke diasingkan di luar Jawa. Setelah itu juga diceritakan apa yang terjadi terhadap organisasi dan surat kabar yang dimiliki Minke yang semuanya dibredel dan dikuasai pemerintah Belanda. Bahkan harta benda Minke juga dikuasai oleh Pangemanann. Setelah selesai menjalani pengasingan, Minke menjadi terlunta-lunta dan akhirnya mati mengenaskan karena semua akses kepada harta dan teman-temannya telah terputus. Bahkan Minke tidak bisa menghubungi Nyai Ontosoroh, yang sekarang tinggal di Perancis, untuk meminta pertolongan seperti biasanya.

Pangemanann sendiri akhirnya dijerat oleh perasaan bersalahnya sendiri dan kekuasaan yang semakin menurun seiring bertambahnya usia. Di akhir buku diceritakan tentang kedatangan Nyai Ontosoroh, yang sekarang dipanggil Madame Le Boucq yang berusaha mencari tahu tentang Minke namun hanya menemukan makamnya saja. Pangemanann mengembalikan semua naskah-naskah karya Minke kepada Madame Le Boucq diiringi penyesalan yang mendalam dan penyakit yang menggerogoti kesehatannya.

Demikian ulasan saya …semoga bisa menimbulkan keinginan membaca bagi yang belum membacanya…

2 komentar:

  1. buku itu memang keren sekali, layak dibaca seluruh anak muda indonesia supaya lbh tau bagimana sebetulny sejarah bangsa ini lahir dgn segala dinamikanya...

    BalasHapus