Kamis, April 10, 2008

City Tour of Manila

Beberapa bulan lalu saya berkesempatan mengunjungi Manila, untuk mengikuti training dari suatu lembaga internasional di sana. Selama 3 minggu penuh saya di sana namun tidak banyak tempat yang saya kunjungi kecuali sekitar tempat training dan Greenhills, pusat mutiara dari Mindanao. Namun, pada hari Sabtu di minggu pertama training, kami di ajak untuk City Tour, keliling di obyek-obyek wisata seputar Manila termasuk mengunjungi Mall of Asia yang mereka klaim sebagai salah satu mall terbesar di dunia.
Tujuan pertama tour ini adalah menuju walled city of Intramuros, disini kami mengunjungi FortSantiago, Casa Manila Museum dan San Agustin Church and Museum. 

Pada awal keberangkatan kami telah diberikan tour itinerary yang memuat jam berapa dan kemana saja kami akan pergi. Satu hal yang saya kagumi adalah ketepatan jadwal yang tertera dengan kunjungan aslinya. Benar-benar tepat waktu, bahkan walaupun macet, namun jadwal yang tertulis tetap ditepati. Misalkan pukul 10.00 dijadwalkan tiba di Intramuros dan pukul 11.15 berangkat menuju Luneta Park. Benar-benar pukul 11.15 kami meninggalkan Fort Santiago. Dalam 1 jam 15 menit tersebut kami sudah puas melihat-lihat keseluruhan paket City of Intramuros. Pada dasarnya City of Intramuros ini merupakan kota tua di Manila seperti halnya kawasan kota tua Jakarta.


San Agustin Church


Fort Santiago


Melihat paket wisata ini sepertinya merupakan paket wajib ketika mengunjungi Manila, karena banyak sekali bis-bis membawa rombongan wisatawan parkir di daerah ini. Saya membayangkan jika ke Jakarta, apa ada paket wisata city tour seperti ini? Karena saya pikir kalau kawasan kota tua Jakarta dan beberapa museum di sekelilingnya dikelola sebagai paket wisata seperti ini maka akan sangat menguntungkan bagi Visit Indonesia 2008. Mungkin memang sudah ada, hanya saya saja yang kuper. Selama ini jika ada saudara yang berkunjung, saya hanya mengajak mereka ke mall-mall yang bertebaran di seluruh Jakarta, atau ke Ancol, atau paling banter ke TMII dan Monas.

Bulan Maret 2007 lalu ada temen suami saya dari Jepang yang berkunjung kesini, saya dan suami sudah setengah mati bingung merancang akan mengajak mereka kemana saja. Ternyata mereka sudah punya buku panduan yang sangat bagus dan detil mengenai seluruh tempat yang patut dikunjungi di Indonesia, termasuk jenis-jenis makanan apa saja yang patut di coba. Nah, mereka ternyata sudah melingkari tempat-tempat yang ingin mereka kunjungi dan makanan apa saja yang ingin mereka cicipi. Waaah, saya sangat terkejut dengan hal ini, karena saya sendiri belum pernah menemukan buku panduan sedetil itu tentang Negara tercinta ini (atau sekali lagi, saya saja yang kuper?).




Luneta Park

Kembali lagi ke city tour of Manila tadi, dari Fort Santiago kami mengunjungi Luneta Park namun hanya bagian depan saja karena 30 menit tidak akan cukup untuk mengelilingi keseluruhan taman. Dari sini kami pergi Sofitel Philippine Plaza untuk menikmati makan siang dan Live Entertainment dan Cultural Show. Hiburan yang diberikan cukup lengkap, yaitu selain tari-tarian juga nyanyian daerah. Ternyata kesenian yang ada di Filipina ada yang mirip dengan salah satu tarian dari yang ada di Indonesia, mungkin karena akar budaya yang sama. 

Nah, pada saat tari bambu ini ada sesi interaktif yaitu para penari mengundang kami untuk bergabung bersama mereka untuk mencoba ritme menari bersama bambu. Penari perempuan mengajak tamu lelaki dan sebaliknya. Beberapa teman yang tertarik maju ke depan dan mencoba gerakan-gerakan yang sederhana, walaupun sederhana ternyata tidak semua sukses mencobanya. Saya sendiri tidak berani ikutan mencoba karena kalau soal ritme saya paling tidak bisa mengkoordinasikan beberapa anggota badan sekaligus, takutnya malah njungkel sekalian.


Sesudah acara ini kami pun pergi ke Coconut Palace, istana yang dibangun untuk menerima kedatangan Paus John Paul II yang berkunjung ke Manila pada tahun 1981. Ternyata Paus malah menolak untuk mendiami Coconut Palace. Sebagian besar material untuk membangun istana ini terbuat dari pohon kelapa, termasuk perabotan bahkan chandlelight lamp yang tergantung di langit-langit juga terbuat dari material pohon kelapa. Saya paling suka perabotannya, detil dari batok kelapa bener-bener rumit. Ada ya orang yang telaten menyusun mozaik serumit itu. Rupanya sekarang ini Coconut Palace juga disewakan untuk menyelenggarakan perta perkawinan, karena pas saya di sana di halaman belakang sedang disiapkan untuk pesta perkawinan. Pemandangan di halaman belakang memang menawan karena langsung mengarah ke pantai.

Selepas dari Coconut Palace ini rasanya saya sudah ingin istirahat kembali ke tempat menginap, namun masih ada satu lokasi yang harus dikunjungi, Mall of Asia. Walaupun diklaim termasuk mall terbesar di dunia, saya sama sekali tidak tertarik. Di Jakarta sudah ada seabreg. Akhirnya setelah satu jam di Mall of Asia, kami kembali ke hotel dan menghadapi macet yang sama saja dengan Jakarta.
Sabtu kedua direncakan untuk tour ke Tagaytay, daerah pantai di Manila. Namun karena suatu hal yang saya sendiri tidak tahu akhirnya Tagaytay tour ini dibatalkan. Teman-teman semua menyesalkan pembatalan ini, tapi yaaah kami tetap harus menerimanya. Jika memang berminat kami diperbolehkan untuk berangkat sendiri. Peserta dari Filipina menerangkan bahwa jika kita berangkat pagi sekali maka dalam dua jam kami bisa sampai di Tagaytay, namun pulangnya pasti akan terhadang macet. Wah, membayangkan macet seperti itu, saya pun tidak berminat untuk ke Tagaytay.

Namun di pertengahan minggu kedua ini kami diajak mengunjungi salah satu proyek yang didanai lembaga internasional tersebut, yaitu Smokey Mountain Project dan Pasig River Program. Saya bertanya-tanya mau mengunjungi gunung apaan sih yang berasap. Lalu kalo tempat ini gunung kenapa kami justru menuju pelabuhan untuk melihatnya. Ternyata Smokey Mountain dulunya adalah tempat pembuangan sampah selama kurang lebih 40 tahun sehingga tumpukan sampah menggunung dan seringkali berasap karena adanya pembakaran sampah. Mungkin kalau di Jakarta adalah Bantar Gebang yang akhirnya di tutup itu. Pada tahun 1990 kawasan Smokey Mountain ini ditutup dan dirubah menjadi kawasan hunian sejenis rumah susun. Sedangkan TPSnya sendiri sudah diperbaharui menggunakan system yang ramah lingkungan. Sayangnya kami tidak mendapat cukup informasi mengenai bagaimana dulunya kawasan itu pada saat masih menjadi TPS. Kami hanya melihat kondisi sekarang, yang katanya sudah dibangun dengan baik, namun yang kami lihat masih saja kumuh dan tidak tertata rapi. Nampak satu bukit kecil yang sepertinya sengaja disisakan untuk dapat dilihat bahwa bukit itu sebenarnya merupakan tumpukan sampah yang menumpuk sampai menjadi bukit kecil. Dari dekat akan terlihat, bahwa dibalik rumput-rumput yang tumbuh ternyata masih banyak sisa sampai plastik sampai berwarna kehitam-hitaman dan mengeluarkan cairan kotor (mungkin ini yang disebut lindi). Saya bertanya-tanya apakah bukit ini sudah cukup padat sehingga tidak terancam longsor seperti bukit sampah yang ada di Bandung itu yang longsor sampai menimbulkan korban jiwa cukup banyak. Semoga memang sudah cukup aman.
Perjalanan menuju Smokey Mountain ini cukup menguras energi saya karena jalanan yang ditempuh tidak lepas dari kemacetan. Rasa-rasanya di Jakarta hanya jam-jam berangkat dan pulang kantor saja yang macetnya minta ampun. Namun di Manila ini anytime anywhere, maceeet terus. Jadinya sepanjang perjalanan kepala saya pusing tidak karuan yang akibatnya ketika tiba di lokasi saya malah tidak ikut mengunjungi tempat pengolahan sampah yang terbaru.

Dari Smokey Mountain, kami melanjutkan perjalanan menuju Pasig River yang dibangun untuk menjadi waterway sejenis yang ada di Ciliwung. Namun mengingat Pasig River merupakan sungai utama yang membelah Manila, maka waterway disini, sangat jauh bedanya dibanding Ciliwung (yang rasa-rasanya ga ada gunanya sama sekali). Sebenarnya Pasig River Program ini tidak melulu mengenai angkutan sungai dalam kota, namun termasuk pembangunan lingkungan dan sistem sungai termasuk sanitasi, kontrol dalam limbah rumah tangga dan peningkatan kualitas air. Saat kami mencoba angkutan fery, Pimpinan Proyek mendampingi kami untuk menjelaskan program ini lebih lanjut. Kami mulai perjalanan dari Guadalupe Ferry Station, halte fery di seberang gedung pos Manila. Saat itu cuaca cukup mendung sehingga saya dapat menikmati suasana di anjungan fery dengan leluasa tanpa kepanasan. Semua pusing-pusing selama naik bis langsung hilang disapu angin di anjungan. Pimpinan proyek menceritakan seluk beluk pembangunan Pasig River ini. Dia juga menjelaskan bahwa waktu kunjungan kami sangat pas, karena seandainya pada musim kemarau maka sepanjang perjalanan penumpang tidak akan sanggup menikmati hawa luar karena bau sungai yang sangat tajam. 





Saya jadi berpikir, sepertinya keadaan di negara-negara berkembang rata-rata hampir sama. Artinya walaupun semua negara berkembang ingin menjadi lebih baik namun kendala-kendalanya juga sama. Pasti sungai menjadi begitu karena kesadaran masyarakat masih kurang, limbah dan sampah masih dibuang langsung ke sungai. Tapi setidak-tidaknya saat saya menikmati Pasig River suasananya cukup nyaman, dibandingkan Ciliwung yang kapan pun itu tetap saja tidak layak untuk dinikmati. Sang Pimpro juga mengingatkan bahwa jika nanti akan melewati Istana Malacanang maka kita semua harus masuk ke dalam fery dan tidak boleh mengambil gambar sama sekali. Maka ketika kami melewati Istana Malacanang tersebut, kami hanya terdiam memandangi suasana istana. Seperti saat saya melewati Istana Merdeka, perasaan syahdu itu juga muncul..entah kenapa. Bangunan yang bercat putih tulang…rumput hijau di lapangan yang terpangkas rapi…bendera yang berkibar-kibar….mungkin itu yang menimbulkan kesyahduan. Akhirnya setelah satu jam perjalanan dengan fery, kami pun sampai di Escolta Ferry Station, halte yang terdekat dengan tempat menginap. Dengan persaan puas saya pun kembali masuk ke bis untuk melanjutkan perjalanan. Naaah setelah masuk bis lagi, pusing saya yang tadi sempat hilang ternyata hadir kembali. Untung saja jarak ke hotel tidak terlalu jauh sehingga saya masih bisa menahan siksaan sakit ini.

Pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa Manila ternyata ga beda jauh dengan Jakarta…di samping gedung tinggi dan mall yang bertebaran disana sini, macet dan slump area pun juga ga beda jauh.

1 komentar:

  1. hmmm...gitu ya... tapi yaaa lumayanlah masukannya setelah baca corat coret ini, setidaknya ada gambaran sedikitlah ttg manila, sbb mmg ada rencana mau trip kesana juga. kebetulan referensinya sedikit sekali, malah buku ttg jalan2 ke filipina, ga ada. ga kayak malaysia, singapura dan thailand, banyak banget buku2 yg mengulas kawasan wisatanya

    BalasHapus