Rabu, April 30, 2008

Kecopetan

Tanggal 18 April kemarin, saya pulang kampung ke Kediri dan Banyuwangi. Ke Kediri untuk menghadiri pernikahan teman sekantor sekaligus mengunjungi mertua, ke Banyuwangi untuk menghadiri pernikahan adik saya. Saya berangkat bersama anak pertama dan kedua, sedangkan adik-adik saya yang lain menyusul kemudian bersama anak ketiga saya. Suami tidak bisa ikut karena kesibukan kantor yang tidak dapat ditinggalkan.

Mengingat dalam perjalanan ini saya membawa anak-anak, maka saya memutuskan untuk menggunakan angkutan kereta api, bukan pesawat karena disamping biayanya lebih murah juga pemberhentiannya langsung di Kediri sehingga tidak perlu transit lagi. Jika menggunakan pesawat maka harus transit dulu di Surabaya untuk kemudian naik bis atau travel selama 3-4 jam lagi menuju Kediri. Namun ternyata, keamanan di kereta menjadi lebih tidak terjamin. Sudah banyak kasus tentang kehilangan barang di kereta. Bahkan terakhir kali saya naik kereta api bulan Agustus 2007, orang yang duduk di seberang saya juga kehilangan tas yang berisi laptop. Untuk itu sejak masuk ke dalam kereta saya sudah berusaha sewaspada mungkin terhadap barang-barang bawaan saya terutama tas tangan saya yang berisi semua keperluan utama saya yaitu dompet beserta isinya, HP, peralatan make-up, obat asma dan obat anakku yang sedang batuk. Semuanya lengkap ada di tas tangan itu.

Kenyataan yang terjadi adalah semakin malam semakin berkurang kewaspadaan saya, apalagi sambil mengurus dua anak yang tidur tidak nyaman di kereta. Berulang kali saya harus bangun untuk mengurus anak-anak, termasuk saat saya tiba-tiba merasa sesak nafas sehingga harus menggunakan inhaler. Lewat jam dua dini hari, saya tertidur cukup lelap sampai tiba-tiba bangun pukul 03.20. Langsung saja saya mencari posisi tas tangan saya dan ternyata sudah tidak ada. Hati saya langsung terasa seperti bolong, saya hanya bisa melongo dan tidak tahu harus berbuat bagaimana. Saya lihat sekeliling dan semua orang sedang tidur dengan lelap. Saya langsung menuju pintu keluar, tapi tidak satu orangpun terlihat sedang bangun. Kemudian saya bangunkan orang yang duduk di kursi sebelah dan saya ceritakan keadaan saya. Dia hanya bisa prihatin dan tidak tahu juga harus bagaimana.

Hal utama yang saya ingat adalah saya harus memblokir semua rekening saya termasuk kartu kredit karena itu yang paling gampang diakses. Tinggal meniru tanda tangan saya yang ada di belakang kartu maka pencuri itu bisa memanfaatkan sampai limit kartu. Membayangkan saja saya sudah ngeri. Untung saja ada satu penumpang yang berbaik hati meminjamkan handphonenya sehingga saya bisa menghubungi suami untuk memblokir semua rekening. Kemudian Polsuska datang dan menanyai saya apakah perlu surat keterangan kehilangan. Tentu saja saya perlu itu untuk mengurus semuanya saat saya kembali ke Jakarta nanti.

Sebenarnya, untuk kereta api eksekutif, pihak KA sudah berusaha mengurangi akses pihak luar (terutama para pedagang asongan) untuk masuk ke dalam kereta ketika kereta sedang berhenti. Pintu selalu tertutup sehingga pedagang asongan hanya bisa berjualan dari luar kereta. Jadi yang ada di dalam kereta ya hanya para penumpang dengan tiket saja. Sehingga sangat mungkin para pencopet yang beraksi di kereta adalah komplotan yang menyamar sebagai penumpang yang beraksi dini hari saat penumpang lain dalam kondisi tidur lelap.

Kejadian kehilangan seperti ini bukan hanya sekali terjadi pada saya. Tahun 2004 ketika saya hamil anak kedua, kalung saya dijambret di KRL. Setahun berikutnya tas saya pernah sobek disilet pencopet di KRL juga dan barang yang hilang adalah HP. Setahun berikutnya lagi saya juga pernah kecopetan tas kerja saya ketika menunggu angkutan umum di pinggir jalan. Pencopetnya menggunakan sepeda motor berboncengan. Beberapa bulan kemudian, hp yang saya letakkan di saku celana juga jatuh tanpa terasa ketika saya naik bajaj.

Saya jadi berpikir, apakah ini memang kecerobohan saya? Suami saya selalu protes mengenai sifat saya yang kurang waspada terhadap lingkungan sekitar. Saya memang merasa bahwa perhatian saya terhadap keadaan sekeliling memang kurang, jika saya berjalan maka saya hanya bisa focus ke satu titik saja yaitu arah depan saya berjalan. Saya kurang melihat keadaan sekitar sehingga seringkali teman yang jalan salipan dengan saya, tidak saya kenali. Baru setelah mereka menepuk saya atau menyapa langsung di depan saya maka baru saat itu saya mengenali mereka. Kondisi inilah yang paling gampang menjadi sasaran para orang yang berniat jahat. Berulangkali suami selalu mengingatkan saya agar belajar waspada sehingga tidak gampang menjadi target pencopetan. Saya sudah berusaha belajar untuk semakin waspada. Siapa sih yang mau menjadi sasaran pencopetan? Tapi ternyata dengan kejadian terakhir ini, saya masih harus lebih kuat lagi berusaha untuk menjadi waspada.

Dari kejadian waktu berangkat itu dan maraknya pencopetan di kereta maka ketika kembali ke Jakarta saya putuskan untuk naik bis saja karena saya pikir akses di bis lebih terbatas lagi. Sekali lagi pertimbangan utama adalah biaya mengingat lebih banyak lagi orang yang ikut pulang bersama saya.

Menurut saya jika memang mau aman dan cepat maka bepergian menggunakan pesawat adalah pilihan terbaik.

1 komentar: