Kamis, April 10, 2008

16 Februari 2002

Oktober 2001 itulah pertama kali saya berkenalan dengan suami saya. Saat itu saya masih bersedih karena tunangan saya memutuskan hubungan karena salah satu anggota keluarganya tidak menyetujui hubungan kami. Sedih terutama karena saya tidak tega melihat orang tua yang sudah sangat mengharapkan saya untuk segera menikah, ternyata malah batal begitu saja. Saya masih bisa menahan sakit di dada karena hubungan yang gagal, tapi mengecewakan orang tua sungguh-sungguh membuat saya sedih. Mungkin orang tua cemas karena saya sudah 26 tahun tapi belum nikah juga. Maklum mereka orang daerah yang merasa bahwa seorang perempuan pada umur segitu sudah sepatutnya berumah tangga dan mempunyai anak.

Ketika teman-teman sekantor mengetahui bahwa saya sudah putus dengan tunangan saya itu, mereka langsung berusaha mencarikan jodoh buat saya. Ada yang mengenalkan saya dengan teman sekantor suaminya, juga dengan pegawai yang baru pulang dari S-2 luar negeri dan ingin segera mencari istri. Dua-duanya ini tidak menimbulkan “klik” di hati saya (rasanya ada lagu baru yang judulnya ini..?). Ada juga yang ingin mengenalkan dengan temannya namun tak kunjung dilakukan. Dia bilang dalam waktu dekat saya akan mengenalnya sendiri. Pikir saya, bagaimana saya mengenalnya kalau sampai sekarang saya tidak tahu siapa dia. Namun hal ini justru membuat saya semakin penasaran. Teman saya (sebut saja A) bilang bahwa lelaki itu kerja juga di kantor kami, bahkan mau dipindah di divisi kami, berasal dari propinsi yang sama dengan saya, pendidikan juga seimbang sehingga tidak akan terasa njomplang. Saya betul-betul ingin tahu, disamping itu ada teman saya yang lain (sebut saja B) juga cerita bahwa ada lelaki yang dari pertama saya masuk kerja dia sudah memperhatikan saya dan selalu menanyakan apakah saya masih sendiri atau sudah ada calon. Saya hubung-hubungkan antara cerita A dan B sepertinya lelaki tersebut orang yang sama. Rasa penasaran saya semakin memuncak sehingga saya pun mulai mencari tahu siapakah gerangan pria ini. Karena waktu itu saya ada di divisi kepegawaian maka saya pun mendapat akses yang mudah untuk tahu siapa lelaki itu. Dan benar, setelah saya tahu CVnya termasuk foto, saya pun merasa mungkin ada kans di antara kami berdua.

Saat saya pertama kali melihat dia sekitar akhir awal September 2001, kami masih belum berkenalan karena waktu itu divisi dia dilikuidasi sehingga seluruh pegawainya disebar di divisi yang lainnya. Banyak yang masuk ke divisi tempat saya, termasuk dia. Namun karena dia sedang menjalani pelatihan, dia hanya datang dihari pertama untuk lapor ke kepala divisi dan baru aktif bekerja sebulan kemudian. Saat saya melihatnya, saya tahu bahwa saya bisa untuk jatuh cinta padanya. Wajahnya bersih, penuh senyum, dengan tinggi secukupnya yang jelas lebih tinggi sedikit dari saya, dan tidak banyak bicara. Saya hanya bisa curi-curi pandang karena rombongan yang akan lapor banyak sekali, dan tidak sekalipun kami bertatap muka. Setelah itu saya hanya bisa senyum-senyum sendiri setiap mengingat dia dan tidak sabar menunggu satu bulan berlalu agar dia segera bekerja kembali dan kebetulan lagi, dia ditempatkan di ruangan yang sama dengan saya.

Ketika akhirnya dia mulai kerja di ruangan kami, saya setengah mati berusaha menahan salah tingkah. Bagaimana pun saya sudah sebulan lebih mencari tahu tentang dia dan saya mulai menyukainya. Selanjutnya kami berkenalan secara resmi dan tiga hari kemudian kami sudah keluar makan dan nonton bersama. Saya ingat sekali filmnya (The Fast and The Furius), sampai sekarang kalau film itu di putar di tivi, kami selalu tersenyum dan mengingat proses perkenalan kami yang cukup kilat.

Kemudian kami pun selalu pulang bersama karena tempat kos kami searah. Tanpa ada ucapan suka atau jadian secara resmi, kami pun jalan bersama. Di hati kami masing-masing sudah saling mengerti bahwa kali ini tidak ada main-main, iya atau tidak. Dan rasa-rasanya saat itu saya sudah jatuh cinta setengah mati. Saya panggil dia “Honey” karena rasa bibirnya yang manis seperti tebu dan baunya pun segar seperti tebu (masak saya panggil dia tebu, ya udah yang mirip tebu saja…Honey).

Menuju hari raya Idul Fitri, dia menanyakan kejelasan hubungan saya dengan mantan tunangan dan saya pastikan bahwa diantara kami sudah tidak ada apa-apa lagi dan dulunyapun kami cuma bertunangan. Karena ternyata ada teman saya yang lain (sebut saja C), yang juga menyukai saya sejak lama, ternyata menceritakan hal yang tidak-tidak kepada dia bahkan menceritakan bahwa saya sudah nikah siri. Sebenarnya saya sendiri yang dulu bohong kepada C bahwa dengan mantan tunangan tersebut kami nikah siri. Ini saya lakukan agar C berhenti mengganggu dan menggoda saya. Rupa-rupanya C ini benar-benar terobsesi dengan saya dan berharap ketika saya putus dengan tunangan tersebut saya akan berpaling padanya. Lalu ketika saya dekat dengan Honey dia sakit hati dan berusaha membuat hubungan kami berantakan. Untung saja Honey menanyakan kepada saya setiap detilnya sehingga saya dapat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Akhirnya pada waktu pulang kampung lebaran (sekitar awal Desember 2001), Honey menjemput saya di tengah perjalanan dan mengantarkan saya pulang sekaligus berkenalan dengan ibu saya (waktu itu Bapak saya sedang ke Kalimantan dalam waktu yang cukup lama). Dia meminta ijin agar di hari kedua Lebaran saya diijinkan untuk pergi ke rumahnya. Lebaran kedua pun saya pergi kesana dan dijemput ditengah perjalanan (jarak antara rumah saya dengannya sekitar 7 jam, jadi dia menjemput di kota transit). Ibunya menyambut saya dengan sukacita karena sudah sangat berharap bahwa anak kesayangannya ini segera menikah dan tidak didului oleh adiknya. Kebetulan waktu itu keluarga Honey sedang merencanakan untuk melamar pacar adiknya, saya pun mengikuti prosesi itu. Dan diputuskan sambil mengantar saya pulang kembali ke kota saya, keluarga Honey juga akan melamar saya. Saya sangat senang sekaligus sedih karena Bapak saya sedang tidak di rumah. Namun cukup dengan kehadiran Keluarga Pakdhe saya maka lamaran itu pun dilaksanakan.
Mengingat adiknya juga sudah lamaran, maka proses pernikahan kami harus dilaksanakan lebih dahulu. Menurut ibu mertua saya, dalam satu keluarga tidak boleh mengadakan pernikahan di tahun yang sama (tahun Jawa) sehingga mau tidak mau pernikahan kami harus dilaksanakan sebelum bulan suro dan akhirnya diputuskan kami akan menikah pada 16 Februari 2002. Bayangkan, kami berkenalan pada pertengahan Oktober 2001 dan menikah bulan Februari 2002.

Tahun ini kami sudah 6 tahun menikah. Banyak hal yang telah terjadi, yang menyenangkan, membahagiakan, menyusahkan, menyedihkan, pertengkaran yang selalu saja ada, maupun perdebatan yang tidak habis-habisnya. Namun selalu saja ingatan akan proses pertama kami bersama membuat semua perdebatan dan pertengkaran itu tidak ada artinya.
Yaaaah, wajarlah jika dua pribadi yang berbeda akan terus berdebat tapi buat saya yang terpenting adalah saling memahami bukan saling merubah pasangan menjadi apa yang kita inginkan sendiri. Tidak bakalan tercapai jika kita ingin merubah, tapi jika menerima dan mencari jalan untuk dapat mengerti dan memahami maka semua hal akan dapat dilalui. Saat ini bonus yang saya dapat adalah 3 mutiara kecil yang membuat hidup saya lebih berwarna, dan kadang-kadang jika saya ingin menyerah untuk menjadi istri, saya cukup melihat 3 mutiara tersebut dan perasaan egois itu akan lumer dengan sendirinya.

Honey, sudah 6 tahun kita bersama…..lihatlah buah hati kita…mereka sungguh indah dan penuh semangat…. Semoga semangat mereka menular ke kita dan menjadi panduan buat kita untuk menjadi yang lebih baik….

1 komentar:

  1. Very Nice ...
    Very Nice indeed ...

    Sebuah cerita yang penuh liku
    Seubah kisah cinta yang penuh kematangan dan kedewasaaan ...

    semoga langgeng ya BU ...
    Salam saya

    BalasHapus