Kamis, Juli 31, 2008

Mutasi

Waktu baru masuk kerja dulu, unit kerjaku terkenal karena kebijakan mutasinya yang luar biasa menyebar ke seluruh pelosok Nusantara. Kalau di tempat lain mungkin ada sistem zoning atau hanya di dalam satu provinsi yang sama, tapi di tempatku ini bisa sangat menyebar dari ujung timur ke ujung barat. Misalkan saya sekarang ditempatkan di Jakarta, tiga tahun lagi bisa saja saya dipindahkan ke Toli-Toli, atau jika sekarang ada di Biak bisa saja empat tahun lagi pindah ke Meulaboh. Benar-benar perpindahan yang tidak beraturan. Tidak ada yang bisa menduga kapan kita kena mutasi atau dimana kita akan dimutasi.
Dengan sistem yang demikian, setiap ada SK mutasi maka kehebohan akan melanda semua pegawai di unit kerjaku. Bahkan berita tentang kenaikan gaji masih tidak seberapa dibandingkan isu adanya SK mutasi yang baru. Saya sendiri juga menyadari bahwa kemungkinan yang sama akan terjadi mungkin di tahun keempat atau kelima dari masa kerjaku. Secara pribadi, kesempatan untuk mutasi saya tanggapi dengan berpikir positif, bahwa inilah kesempatan saya untuk menjelajahi bumi Nusantara dengan biaya dari kantor. Toh, tidak seterusnya saya akan berada di satu tempat tersebut. Paling lama mungkin 5 tahun kalau saya masih berstatus staf biasa. Jika posisi saya lebih tinggi sedikit maka paling lama 3 tahun saya akan pindah ke lingkungan yang baru. Saat itu saya masih single sehingga belum ada yang menjadi beban pikiran saya, cukup diri sendiri saja yang dipikirkan.
Namun memperhatikan kehebohan di antara teman-teman kerja yang lain saya mulai berpikir lebih jauh. Mencoba berpikir dari sudut pandang mereka yang telah berkeluarga. Bagi yang telah berkeluarga dengan anak-anak yang masih sekolah SD atau SMP, maka mutasi ini akan menyebabkan kepanikan yang amat sangat. Bagaimana orang tua harus menyiapkan perpindahan sekolah anak-anaknya, menyiapkan mental anaknya yang merasa sudah cocok dan punya teman akrab di tempat asal, menyiapkan angkutan pindah barang-barang rumah, menyiapkan rumah yang bisa disewa ditempat baru, dan sebagainya. Betapa repotnya…dan kejadian tersebut akan berulang setiap 3-4 tahun. Waah, tidak terbayang apa yang akan terjadi.
Ada satu cerita yang membuat hati saya miris jika memikirkannya. Suatu ketika ada pengumuman bahwa anak salah satu pejabat telah meninggal dunia. Dari bisik-bisik diketahui bahwa si anak yang sudah gadis melakukan bunuh diri karena tidak diijinkan ayahnya untuk berpacaran. Saya jadi kepikiran terus, apa yang menyebabkan si gadis untuk memutuskan mengakhiri hidupnya sendiri? Apa yang membuat hatinya menjadi lemah dan mengambil jalan nekat itu? Apakah karena terlalu seringnya dia berpindah tempat sehingga tidak pernah sempat menjalani pertemanan yang serius? Apakah karena selalu saja beradaptasi sehingga tidak bisa memantapkan pikiran? Sehingga kemudian ketika dia menemukan teman bicara yang pas di hati dan ternyata itupun dilarang oleh orang tua, menjadikan pikirannya buntu dan memutuskan untuk berhenti hidup daripada nanti harus beradaptasi lagi. Semua pertanyaan itu berputar terus di pikiran saya tanpa saya tahu jawabannya (membuat saya semakin pusing dan paranoid).
Cerita lain lagi tentang mutasi dialami kenalan dekat saya yang bekerja di tempat lain. Pada tahun 2001, dia dimutasi dari pemimpin cabang sebuah bank di daerah Biak untuk pindah ke kantor pusat di Jakarta. Anak terbesarnya saat itu kelas 1 SMP semester 2 yang baru saja merasa betah karena menemukan teman-teman yang cocok. Karena culture shock, maka si sulung stress sampai sering tidak sadarkan diri. Bukan pingsan tapi tidak menyadari apa yang sedang dirinya sendiri lakukan (seringkali bahkan sampai ngompol di kelas). Momen tidak sadar diri ini bisa berlangsung sampai satu jam. Orang tuanya sudah melakukan berbagai cara dan pengobatan untuk menyembuhkan penyakit anaknya ini. Salah satunya yaitu dengan memutuskan bahwa ibu dan semua anak akhirnya tinggal di kota asal sang ibu yang dianggap lebih familiar, sedangkan si bapak tetap di Jakarta sendirian. Tiap akhir pekan atau 2 minggu sekali, si Bapak mengunjungi keluarganya. Terakhir kabar yang saya dengar yaitu si sulung tadi menjalani operasi otak bulan Desember 2007. Beberapa inci bagian otak kirinya dibuang karena sudah rusak. Hmmm, betapa dahsyat akibat mutasi yang harus dijalani.
Pilihan berpisah seperti ini banyak dilakukan oleh teman-teman kantor saya. Sampai ada istilah BULOK, bujang lokal, artinya ya single di tempat kerja. Anak dan istri tidak menemani namun tetap tinggal di kota asal. Saya sendiri tidak membayangkan apa jadinya jika sebuah keluarga harus hidup terpisah seperti itu. Bukankan tujuan berumah tangga adalah untuk hidup bersama berbagi peran dalam keluarga?
Dari memikirkan kejadian yang menimpa orang lain ini saya mulai berpikir ulang tentang pendapat pribadi saya bahwa mutasi berarti keliling Nusantara gratis. Apalagi ketika saya sudah berkeluarga dengan anak yang berturut-turut lahir. Saya sudah tidak bisa lagi berpikir untuk keliling Nusantara lagi. Suami saya sudah pernah ditempatkan di luar Jawa selama 3 tahun. Dia sudah merasakan repotnya mengurusi perpindahan tempat kerja. Padahal saat itu dia masih single. Tapi kami tidak bisa lepas dari kebijakan mutasi selama kami masih kerja di unit yang sama. Jadi kami mulai menyiapkan mental untuk siap dimutasi. Apalagi waktu baru menikah dulu sudah merupakan tahun keempat buat saya dan tahun kelima buat suami di Jakarta. Untungnya pada tahun 2003, saya mendapat kesempatan tugas belajar sehingga minimal 2 tahun ke depannya, saya tidak akan terkena giliran mutasi. Ketika tahun kedua tugas belajar, giliran suami yang mendapat penugasan belajar ke luar negeri, sehingga nambah setahun lagi bakal bebas mutasi. Sampai ketika tahun 2005 saya kembali bekerja dan tetap ditempatkan di kantor pusat Jakarta maka saya cukup tenang karena dengan posisi saya sekarang minimal 3 tahun saya tidak akan kena giliran mutasi.
Namun ketika bulan Maret tahun 2006 suami saya juga kembali bekerja maka kami mulai lagi cemas akan mutasi yang mungkin menimpa suami saya, karena apapun yang terjadi saya memutuskan bahwa akan mengikuti kemana saja suami ditempatkan. Saya sudah bertekad untuk melepaskan posisi saya yang sekarang, jika nanti suami dimutasi keluar Jakarta. Dan untungnya, suami hanya dipindah di kantor daerah yang masih ada di Jakarta sehingga kami mulai menata lagi rencana masa depan, paling tidak sampai 3 tahun kedepan.
Nah, di akhir 2006 ini ada reorganisasi total di tempat saya bekerja sehingga saya bergabung di unit kerja baru yang kantornya hanya ada di Jakarta saja. Saya senaaang sekali bahwa sudah tidak ada kemungkinan mutasi keliling Nusantara lagi, namun tetap cemas memikirkan masa depan suami yang masih bekerja di unit yang lama. Artinya saya masih harus menyiapkan mental untuk pindah lagi karena prinsip saya yang tidak ingin hidup berpisah dengan suami. Sampai akhirnya pada pertengahan 2007, suami mendapat tawaran dari mantan bosnya untuk bergabung di unit yang lain yang juga hanya ada di kantor pusat Jakarta. Tanpa pikir panjang kami memutuskan untuk menerima tawaran itu dan sekarang kami berdua sudah pindah dari unit asal dan ada di unit baru yang tetap di Jakarta. Betapa leganya….

Sebenarnya, di hati saya yang paliiing dalam..saya masih memikirkan kemungkinan berkeliling Nusantara atas biaya kantor. Hehehe..bukan masalah gratisnya sih yang menjadi penekanan saya..tapi kesempatan untuk menikmati keberagaman Indonesia inilah yang masih menggelitik hati sanubari saya. Beberapa waktu yang lalu ada teman sekantor yang sudah mutasi ke Serui pada Oktober 2006 dan sekarang ditarik ke unit kerja saya. Dia menceritakan pengalamannya selama 1,5 tahun berada di Serui, walaupun berpisah dengan keluarganya dia berusaha menikmati Serui dengan segala pemandangannya yang menawan. Dia mengatakan bahwa Serui akan terasa indah jika kita hanya 3 hari disana, namun jika 3 tahun harus disana maka siksaan yang akan terasa. Dia merasa sangat kesepian disana karena jauh dari keluarga. Jika membawa keluarga pun belum tentu akan menyenangkan karena bahaya malaria yang mengancam setiap saat.
Namun melihat foto-foto pemandangan Serui yang diambilnya, diam-diam saya membayangkan apa yang akan saya lakukan dengan keluarga jika kami pindah ke daerah seperti itu. Akhir pekan akan kami isi dengan kamping sekeluarga di tempat-tempat special yang menawan. Bukan seperti sekarang ini, akhir pekan adalah saat beristirahat total di rumah saja setelah lima hari menghadapi jalanan ibukota yang luar biasa macet dan bikin capek lahir dan batin. Saya hanya bisa membayangkan momen ini dalam hati saja karena dengan intensitas kerja seperti sekarang, rasanya berlibur lama sekeluarga tidak akan bisa terjadi.
Awal Februari 2008 ada kabar yang berhembus kencang di tempat suami saya bahwa akan ada pembukaan kantor daerah untuk unit kerja suami. What?!?!... Kami berdua hanya bisa tersenyum lemah menanggapi kabar tersebut. Apakah ini jawaban dari isi hati terdalam saya? Setelah usaha keras menghindari mutasi…. akhirnya kemungkinan itu masih tetap harus kami pikirkan kembali…
Mutasi…mutasi….dikau akan tetap menghantui kami…
Tapi untungnya...sampai saat ini kabar itu hanya berhembus saja dan tidak sampai menjadi badai yang menghempas semua orang... O untungnya....untungnya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar