Kamis, Juli 17, 2008

Semangat Kerja yang menurun

Sudah beberapa hari ini, terasa sekali bahwa tiap pagi badan terasa lemas dan ngantuk sekali. Memang sih, bangun tidurku pagi sekali..jam 4 an, walau melek bener itu pas 4.30. Aktivitas selanjutnya adalah preparation untuk bekal anak-anak, jus untuk suami dan mandiin anak-anak. Untuk urusan detil (aku selalu bilang urusan naknik-naknik) ada asisten yang bantuin misalnya ngangetin nasi dan lauk, masak air untuk mandi anak-anak, cuci piring dan sebagainya. Tetap saja kontrol utama ada padaku, sehingga selalu saja heboh di pagi hari terutama jika waktu sudah menunjuk 05.00. Semua hal harus beres sebelum 05.45 agar kami tidak telat berangkat. Telat lima menit saja akibatnya bisa setengah jam lebih lambat sampai di kantor.
Memang sih, dengan berangkat pukul 05.45 kami sampai di kantor terlalu pagi, 06.30. Namun banyak hal yang sempat kami lakukan untuk mengisi waktu. Jadi kami pun tidak terburu-buru mengantar anak-anak sekolah. Anak-anak bisa ikutan ayahnya untuk absen sidik jari, masih ada waktu untuk minum vitamin dan madu buat anak-anak (kalau sarapin sih, kami lakukan di mobil sepanjang perjalanan), juga masih cukup waktu untuk nguncir rambut si sulung dan ngasih minyak rambut buat si tengah yang rambutnya selalu saja berdiri tegak dan merah seperti terbakar matahari. Jam 07.05 sampai di sekolah dan langsung nganter mereka

Tapi akibat dari semua itu, badanku terasa lemas dan mata masih terasa ngantuk. Akibat lanjutannya ya...semangat kerja jadi menurun. Aku tahu masih ada beberapa kerjaan yang belum beres, tapi pagi-pagi dengan aktifitas seperti itu, begitu sampai di kantorku pukul 07.20 aku hanya bisa nyalain komputer untuk mantengin internet. Untuk langsung fokus ke pekerjaan, rasanya maleeees sekali. Dan akhirnya tiba-tiba lihat jam sudah pukul 09.00. Aaaaargh, kok waktu berjalan cepat sedangkan ga ada output yang dihasilkan sama-sekali.
Kondisi ini sudah sejak senin kemarin kualami, sejak anak-anak mulai sekolah lagi.
Sepertinya aku harus punya trik agar perasaan seperti ini ga berkelanjutan...Bisa-bisa kinerja semakin turun dan stereotype bahwa ibu yang bekerja ga akan bisa optimal dalam bekerja karena terlalu sibuk ngurus rumah tangga bisa benar-benar kualami.
OK...wish me luck. Aku mau jadi ibu yang hebat di rumah dan sukses di kantor.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar