Kamis, Agustus 07, 2008

Handphone itu ya di tangan..

Selasa siang kemarin ada 2 rapat berturut turut di Bappenas jam 14.00 dan 16.00 sehingga aku baru kembali ke kantor pukul 18.00. Anak-anak dan adikku menunggu di mejaku sehingga pas nyampe tentu saja berhaha-hihi dulu dengan mereka baru kemudian aku laporan sama Bos karena kulihat beliau masih di ruangannya.

Handphone baruku masih kustel ke mode getar karena namanya juga sedang rapat dan lupa untuk balikin ke mode normal..Jadinya aku sama sekali ga denger ketika suamiku nelpon sampai 3 kali untuk jemput aku dan anak-anak, lagipula aku kan sedang laporan dulu sama si Bos biar hasil rapat ga basi nunggu besok laporannya.
Pas selesai laporan, Detya bilang kalau ayah sudah nunggu di bawah. Yaa..tentu saja sebelum ke bawah, beres-beres meja dulu dsb baru 5 menit kemudian nyampe mobil. Kulihat wajah suamiku kok tanpa ekspresi sama sekali...

Sampai kemudian di pertengahan perjalanan dia bertanya kenapa HP kok ga diangkat. Aku menjelaskan permasalahan dengan tanpa merasa apa-apa..karena kupikir wajar-wajar saja habis rapat aku laporan dulu sama bos, apalagi pas berangkat rapat tadi suamiku sendiri yang nganterin sekalian jemput anak-anak. Tapi tiba-tiba suaranya mengeras pas dia bilang "Yang namanya Handphone itu ya untuk di bawa pakai hand biar anytime dihubungi bisa.."

Ya ampun...ga pangerten banget sih...aku sudah jelasin dengan sabar kok masih ga terima aja padahal baru 3 kali misscall..langsung aja suaraku juga ikutan meninggi mengingatkan bahwa pada hari aku kehilangan handphoneku aku juga miscall dia dari jam 17.00 sampe 18.00 tanpa ada jawaban sama sekali..perasaanku dari panik sampai jengkel hingga kemudian marah sudah kuutarakan lewat sms. Tapi jawaban suamiku adalah bahwa ada panggilan mendadak dari bosnya sehingga dia ga bisa ngabari aku sama sekali dan ga sempet bawa handphonenya..saat itu aku bisa ngerti dan ga kuperpanjang masalahnya. ya tentu saja waktu itu sepanjang perjalanan aku ga banyak bicara untuk mengendapkan jengkelku. waktu itu aku sama sekali ga ngingetin ucapan dia bahwa handphone itu ya untuk dibawa di tangan kemana aja..sama sekali ga kusinggung itu..karena kau tau bagaimana kalau ada panggilan mendadak dan kita ga sempat berpikir apa-apa.

Lalu kenapa ketika giliranku melakukan hal yang sama..kok ga ada sedikitpun empati..?
Akhirnya sepanjang perjalanan pulang itu kami sama-sama diam ga bicara sama sekali...
Duuuuuh...kenapa ya kalau aku yang melakukan jadinya It's a big deal tapi kalau suamiku sendiri yang melakukan maka..It's nothing at all....
Paayaaaah...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar