Jumat, Agustus 15, 2008

Pengakuan dan Kepuasan

Ada Diklat dari kantor yang kuikuti 2 hari ini. Materinya sih tentang urjab yang ada di divisi lain, jadi in-case ada rolling antar divisi, paling engga kita sudah tau apa aja kerjaan mereka. Ada beberapa angkatan dan dipisahkan antara level pelaksana dengan level struktural. Materinya sih sama aja, cuman karena pesertanya beda level gitu jadinya tanggapannya beda-beda.

Sebelum berangkat kemarin pagi, stafku cerita kalau ada pengajar dari divisi lain yang ngomongkan ga enak di hati karena terkesan menyepelekan divisiku. Para peserta sih diem aja dan ga ada yang komentar, cuman pas di kantor pada ngeluh dan ngomel-ngomel. Aku bilang mestinya kalau ada yang ga kena di nalar kita ya harus ada yang counter biar yang lainnya ga berpikiran yang sama.

Eniwei, materi tadi membicarakan mengenai kepatuhan dan kode etik. Bagaimana kita mengelola diri sendiri agar mencapai tahap kepuasan yang advance, bukan lagi terpaku pada pemenuhan sandang pangan dan papan. Dan pengukuran kepuasan bukan lagi dari segi materi sehingga apa yang kita kerjakan pun lebih merupakan pencarian pengakuan kemampuan kita oleh orang lain.

Naaah...aku menyinggung masalah bahwa ada yang beranggapan bahwa "BEBAN KERJA KITA TINGGI LHO MAKANYA KITA DAPAT TUNJANGAN TAMBAHAN" kalo dari logika matematika: Jika A maka B, kebalikannya jika tidak B maka tidak A. Artinya kalimat itu sama dengan "jika tidak dapat tunjangan tambahan maka beban kerjanya tidak berat". Ketika ada kalimat itu pikiranku langsung menghubungkan dengan kondisi balikannya dan itu bikin aku geemmeeez banget. Divisiku kan ga dapat tambahan tunjangan...sooo...artikan sendirilah....

Makanya pas disampaikan masalah pengakuan tadi maka aku katakan bahwa jika rekan kerja internal sendiri tidak mengakui kita maka akan wajar jika semangat menjadi menurun yang akibatnya kinerja menjadi rendah. Apakah hal-hal ini ga jadi perhatian? Aku pribadi sudah dalam tahap "peduli amat internalku menganggap divisiku seperti apa yang penting stakehoder yang biasa kerja denganku merasa puas". Tapi tetep saja jika ada omongan kecil-kecil yang bikin aku panas, perasaan ga puas itu muncul lagi.

Aaaaargh...aku ingin internalku juga mengakui kualitas kerja dan divisiku...!! Itu akan membuat level kepuasanku lebih advance lagi..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar