Senin, September 15, 2008

Jawaban Atas Nikah Ulang

Semalem ngobrol lagi ama suami tentang kemungkinan nganyari nikah... dan ternyata ada dua jawaban kenapa beliau ga mau melakukan ijab kabul lagi. Ada jawaban becanda dan jawaban serius.

Jawaban becandanya ya itu... bikin boros aja..masak mesti ngasih mas kawin lagi...yang pertama dulu kan udah..perkara akhirnya ilang ya ditanggung seniri duonk..!.. Jawaban serius ternyata emang bener...beliau belum ikhlas sama aku... hiks...hiks...belum bisa menerima aku apa adanya... Dan beliau ga mau kalau aku berlindung dibalik kata-kata bahwa inilah aku...ga ada lagi yang bisa diubah dari diriku ini..menurut beliau masih ada yang bisa diubah jika aku mau berusaha lebih keras lagi...

Rasanya hatiku langsung sedih banget. Menurutku ini hanya masalah cara berbicaraku..cara aku bereaksi atas suatu kejadian dan ini sudah bawaan orok.. Jika aku nyadar maka aku bisa mengatur cara bicaraku sehingga orang lain tidak merasa bahwa aku seakan-akan marah. Weits..kayaknya perlu dijelaskan dulu deh.. Dari kecil keluargaku (ibuku) dan rata-rata orang Banyuwangi kalau ngomong selalu dengan high tone dan keras sehingga kesannya kayak orang marah-marah padahal biasa aja..ga ada niatan marah-marah. Ya tentu saja nada bicaraku ikutan demikian. Tapi semenjak keluar dari Banyuwangi, aku menyadari bahwa orang bisa saja salah paham jika bicara denganku sehingga aku brusaha menahan diri..tapi ya itu tadi..namanya bawaan orok..kalau merespon langsung mana sempat berhati-hati. Dan dengan suami tentu saja respon langsung yang sering keluar.

Teman sebelah mejaku juga pernah bilang bahwa karena dia tau siapa dan giaman aku maka dia ga merasa bermasalah dengan gaya bicaraku tapi bagi orang yang ga kenal maka kemungkinan besar orang itu akan salah mengerti. Brarti emang cara bicaraku bisa membuat orang salah paham dan tersinggung.

Tapi kan teman sebelahku saja bisa ngerti aku masa suamiku sendiri ga bisa memahami gaya bicaraku. Menurutku..kapan aku bisa menjadi diriku sendiri jika dirumah saja aku masih harus berhati-hati. Tau kan rasanya menjaga bicara setiap saat? Capek kan?

Eniwei..sepanjang suamiku belum ikhlas denganku dan belum bisa menerimaku apa adanya..yo wis kenapa harus nganyari nikah? Kalau kedua belah pihak merasa memang perlu untuk memulai komitmen baru dengan dasar yang baru maka nikah ulang itu baru bisa dilakukan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar