Selasa, September 02, 2008

Prejudice

Aku selalu menghindari untuk menilai orang sebelum aku tahu benar bagaimana dia sebenarnya. Artinya apapun yang kudengar tentang seseorang, tidak akan mempengaruhi penilaianku sebelum aku benar-benar mengenalnya.

Nah, beberapa waktu lalau aku dan teman temanku ngerumpi kanan kiri…segala hal diomongin sampai tiba omongan tentang rekan kerja masing-masing. Aku komplain tentang rekanku yang ga capable, dia pun juga begitu. Segitu aja omongannya bahwa ketidakmampuan orang-orang itu justru membuat kami bersemangat untuk mengkhayal tentang apa yang akan kami lakukan jika kami berada dalam posisi dia, yang jelas kami akan melakukan yang terbaik. Jika kita sudah berusaha sebaik mungkin melayani orang lain maka penghormatan akan datang sendiri.

Sampai selesai kita ngerumpi, aku tetap membuka pikiran tentang orang yang dibicarakan temenku itu, karena toh aku tidak/belum kenal dia. Sampai minggu lalu aku harus melakukan pekerjaan bersama dia. Pertama kali berbicara aku hanya berhati-hati tapi sama sekali ga berprasangka buruk, sampai ngobrol tidak begitu lama ada tanggapan-tanggapan dia yang benar-benar menunjukkan bagaimana kualitas dia dalam bekerja. Langsung saja ada rasa gondok di leher ini…jengkel banget…ternyata apa yang dibilang temanku benar…! OK, aku masih berusaha berpikir positif.

Tapi 2 hari bekerjasama membuatku benar-benar menarik kesimpulan pasti. He is not capable at what he’s doing.. Karena beberapa kali dia menyinggung-nyinggung tentang suamiku maka ketika ketemu suamiku maka langsung saja aku Tanya tentang what kind a man he is. Suamiku hanya diam dang a langsung menjawab. Setelah kudesak-desak maka dia hanya menjawab..”Ya gitu deh…model orang generasi lama…yang kerja tujuannya cuma untuk bagaimana agar aku mendapat bagian sebanyak mungkin…mengumpulkan uang sebanyak mungkin”… Pantesssssss

Lalu apakah aku termasuk orang yang suka berburuk sangka? Karena pada akhirnya aku toh sependapat dengan komentar temanku itu…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar