Senin, September 22, 2008

Tegangan Tinggi

Rasa-rasanya aku harus lebih dalam lagi memikirkan permintaan suamiku untuk ngatur suara dan emosiku. Minggu lalu yang merupakan tekanan tinggi buatku adalah buktinya. Ada 3 hal yang kulakukan yang membuatku menyesal banget karena ketidakmampuanku menjaga emosi. Itu yang benar-benar kusadari bahwa aku memang sedang marah, belum lagi yang karena tekanan suaraku yang ga terkontrol (tentu saja ini ga tercatat olehku tapi terasakan oleh yang dengar kalimatku, artinya aku ga marah tapi orang lain bisa menganggap aku demikian). Heeehhhhh, what a week...

Awal minggu sudah kujalani dengan tekanan tinggi, acara yang kusiapkan pukul 13.30 tidak bisa kudatangi tepat waktu karena peralatan yang tidak segera disiapkan, untungnya para undangan juga datang terlambat sehingga keterlambatanku tidak bermasalah. Hari selasa kucoba sepagi mungkin datang ke kantor dan ternyata file yang sudah kuminta untuk disiapkan dari minggu sebelumnya, masih belum ada sama sekali, jadi langsung aku kerjakan sendiri, sedangkan staf2ku baru datang jam 10an. BT banget deh, selalu begitu kalau ada surat tugas atas nama mereka, berangkat ke kantor semau mereka aja. So, ketika aku nyiapin surat tugas untuk hari jumat, aku secara spesifik minta satu nama agar dikeluarkan mengingat dia yang paling parah kalau ada surat tugas, ga muncul sama sekali. Aku pun secara terus terang bilang ke dia kalau tugas mendatang ga melibatkan dia. Mungkin nada bicaraku terlalu tajam sehingga dia malah ngambek ga mau tanda tangan untuk acara hari senin itu. Wuih...malah ngerepotin.

Hari rabu ada instruksi bahwa untuk percepatan penarikan dana, maka diusahakan untuk melibatkan pegawai sebanyak mungkin, jadi terpaksa kemasukkan kembali nama dia dan beberapa orang lainnya. Tapi aku menegaskan bahwa aku tidak ingin kalau semua orang memanfaatkan surat tugas itu untuk datang ke kantor sesiang mungkin. Paling engga, aku minta sedikit kontribusi dalam menyiapkan pekerjaanku.

Hari kamis, jam 9 pagi aku harus rapat untuk kegiatan ekskul-ku itu. Tapi karena keteledoran entah siapa, aku malah berebut ruang rapat. Staf di tempat Big Bosku kusemprot dengan nada tinggi karena dia malah ga ngakuin apa yang kami bicarakan beberapa hari sebelumnya. Rasanya jengkel sampai ke ubun-ubun. Untung aja secara sukarela yang lainnya pindah ruang rapat.

Nah..hari jumat terjadi lagi keterlambatan datang ditempat acara. Dan kali ini terasa memalukan karena para undangan yang selevel Big Bosku sudah pada datang. Maluuuu sekali. Yang bikin aku lebih malu lagi adalah pada saat diskusi berlangsung. Aku mengingatkan kepada peserta rapat mengenai poin-poin yang cukup menyusahkan berdasarkan pengalamanku menghandle masalah program ini sejak tahun 2006. Tapi ada satu peserta yang ngeyel dan tidak mengindahkan peringatanku tadi dan membuatku ngeyel juga (yang rasa-rasanya juga dengan nada tajam) karena pengalamanku yang lalu-lalu itu. Dan memang aku bisa membuktikan kebenaran kalimatku tadi. Yang aku sesali dan bikin malu itu adalah nada tajamku tadi..

Rasanya aku pengen nangis, mereview diriku sendiri seminggu ini... Betapa aku ga pantas untuk duduk di jabatanku sekarang kalau aku masih tidak bisa mengontrol emosiku. Lalu bagaimana dengan para Bos-Bos atasanku yang tentunya loading pekerjaan jauh lebih banyak dari aku, tapi mereka masih bisa menjaga ritme kerja mereka dan tidak mempengaruhi emosi mereka.

Aku benar-benar merasa merana. Belum lagi urusan rumah dan anak-anak... semakin terbengkalai. Aku benar-benar ibu yang ga bermutu.. dan gitu aku masih semangat berangkat ke Singapur.. huwa....what kind a mom I am...

1 komentar:

  1. waduh mbak...sabar..sabar...bulan puasa, kesabaran lagi diuji. Momen yang bagus buat sebuah perenungan diri mbak,mumpung anak-anak dah mudik...semua ibu pasti berusaa menjadi yang terbaik buat anak-anak dan teman yang baik buat suami. Sabar ya jeng...aku juga lagi tegangan tinggi sama Rahma nih...bahkan sering menggunakan ancaman..huahuahua...

    BalasHapus