Rabu, Oktober 22, 2008

Nasihat Teman Masa Remajaku

Pas reuni kemarin ketemu lagi ama temen deket pas SMP. SMA kita bareng tapi ga pernah sekelas. Temen pecicilanku, jadi kami cukup dekatlah walau ga sekelas. Bahkan ketika aku kuliah, dia sempat mengunjungiku dan aku sempat mengunjunginya karena dia menikah dengan orang Jabar.

Kalau pulang kampung, aku berusaha menghubunginya walo udah dua tahun terakhir ini ga ketemu sama sekali. Pas aku mau menikah, dia sudah cerai dengan suaminya setelah punya satu anak dan terakhir ketemu dia sudah punya dua anak lagi dari suami keduanya. Kulihat hidupnya waktu itu sudah mapan sedangkan aku sendiri masih dalam tahap prihatin. Aku ikut senang bahwa dia sudah lepas dari bayang-bayang perceraiannya dulu dan bahagia dengan suami dan anak-anaknya

Pas reuni itu, aku baru tau bahwa sekarang dia sudah sendiri lagi...belum cerai resmi...hanya sudah ditinggal suaminya 1,5 tahun ini tanpa nafkah sama sekali. Aku syok banget dan ga percaya mengingat dia cerita itu sambil nyantai dengan gaya pecicilannya yang biasa. Maka sebelum berangkat ke Singapur aku sempatin untuk maen ke rumahnya...want to know the truth..

Dan ternyata dia hanya menikah siri dengan suaminya ini dan merupakan istri kedua (dia cerita tetap dengan gaya santainya). Saat ini ekonomi suaminya sedang jeblok dan agar bisa memulai lagi dari awal, temenku itu setuju ketika suaminya harus kembali ke Lampung, kota tempat istri pertamanya berada. Pertama-tama masih balik setelah 2 bulan di Lampung namun terakhir setahun yang lalu suaminya sama sekali ga pulang dan ga ada khabar sama sekali. Bahkan ongkos pulang pergi selama bolak balik Lampung Banyuwangi mesti nyedot tabungan temanku itu bahkan sampai utang-utang. Dan selama setahun ini temanku mesti berjuang dengan setumpuk utang-utang dan kewajiban memelihara anak tanpa pekerjaan sama sekali dan suami yang hilang tanpa khabar..

Rasanya aku speechless banget..ga tau mesti ngomong apa.. ternyata dua tahun lalu ketika aku melihatnya bahagia hidup mapan dengan suami dan anak-anaknya, suaminya mulai bertingkah aneh dengan memiliki WIL. Temanku masih mau nerima tapi dengan cara menuntut dan menghabiskan uang suaminya dengan sengaja. Walaupun diam-diam dia menabung uang itu tapi pada akhirnya ga mencukupi ketika dia harus menanggung utang dan menghidupi anak-anaknya sendiri.

Namun ada satu pesannya yang dia ucapkan berkali-kali penuh penekanan..(dan ini membuatku ngeri). Dia bilang kalau semua laki-laki itu pasti akan cari celah untuk tidak mengatakan yang sebenarnya ...istilahnya mereka itu pada dasarnya ya buaya...entah ntar cari perempuan lain...entah tidak terus terang masalah penghasilan, entah punya aset sendiri yang istrinya ga tau..dan entah..entah yang lain. Untuk itu sebagai seorang istri kudu lebih pinter mengakali suami. untuk keamanan diri..dia bilang.. Dia menyarankan agar aku punya aset/tabungan sendiri yang tidak diketahui suamiku...untuk berjaga-jaga bila sesuatu yang tidak diinginkan terjadi...

Huwaaaa....ngeri...aku ga mau membayangkan yang tidak-tidak...aku ga mau memikirkan apa yang dikatakan temenku itu...apalagi sekarang saat aku sudah 100% ikhlas terhadap suamiku...saat yang kupedulikan adalah bagaimana memberi tanpa harap tuk kembali...

Lalu kenapa kata-katanya terngiang-ngiang di telingaku terus menerus?..lalu kenapa sempat terlintas untuk menyimpan uang sendiri...walo kubantah lagi sendiri, untuk apa? Bukankan milikku adalah milikmu juga dan milikmu...wait a minute... ini mungkin yang membuatku sempat terlintas...aku selalu sensitif masalah uang..sangat ingin tidak tergantung pada siapa-siapa. aku sangat menjaga agar aku tidak merepotkan suamiku dalam hal keuangan, sehingga aku ga pernah minta-minta uang ke suamiku. Dulu semua rekening aku yang pegang tapi semenjak ada cicilan mobil maka dipegang sendiri sendiri dengan pembagian bahwa semua urusan mobil (cicilan, bensin dan perawatan) suamiku yang bayar. Selain itu semuanya aku yang handel. Temanku tadi heran setengah mati kenapa bisa begitu? cuman urusan mobil? bagaimana dengan uang sekolah anak-anak? bagaimana dengan belanja sehari-hari? bagaimana dengan susu dan makanan anak? bagaimana dengan asuransi? ...Mana bisa begitu sih? lalu buatmu sendiri apa yang kamu lakukan dengan penghasilanmu?

Yaaa...tentu saja dengan semua lainnya ada padaku..aku ga melakukan apa-apa untuk diriku... Tapi bagiku ga masalah kok...kan pada akhirnya semua untuk anak-anakku...aset masa depanku...

Sampai sekarang kata-kata temanku itu terngiang-ngiang dan aku khawatir bisa tertanam dalam pikiranku untuk kemudian menjadi racun keikhlasanku..
Aku belum diskusi dengan suamiku mengenai hal ini...wiets..kalo niatnya harus disembunyikan..kok malah pengen diskusi?

Eniwei...sepertinya aku ga akan bisa melakukan pesan temanku itu...aku hanya ingin keterbukaan...dan jangan sampai hanya karena masalah materi...semuanya malah berantakan..
Waaah...jangan-jangan karena temanku itu sembunyi-sembunyi seperti itu maka hasil yang didapatkan jadi seperti ini....(maaf teman, bukan aku berpikir negatif...tapi berusaha cari hikmahnya saja)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar