Kamis, November 06, 2008

Daddy's Little Girl

Barusan baca ulang Sang Pemimpi dari Andrea Hirata dan air mataku menetes lagi ketika sampai di Mozaik 12 Sungai Lenggang. Di awal buku, Andrea mendedikasikan buku ini untuk ayahnya.."Ayah juara satu seluruh dunia" dan di bab itu cerita tentang semangat belajar Ikal yang menurun dan mengakibatkan rangkingnya turun dari 3 menjadi 75 dan hal yang sangat disesali Ikal adalah membuat ayahnya kecewa (walau sang ayah tidak pernah menunjukkan ekspresi apapun).

Jadi ingat dengan bapakku sendiri dan betapa sayangku pada beliau. Rasanya bahwa anak perempuan itu selalu jadi anak kesayangan ayah itu berlaku padaku. Makanya ketika anak pertamaku perempuan aku sangat berharap dia bisa dekat dengan ayahnya. Tapi harapanku sepertinya susah menjadi kenyataan. Detya dan ayahnya rasa-rasanya ga akan bisa dekat. Mereka seperti berbeda arah... Suamiku sangat demanding bahkan terhadap anak-anaknya dan seringkali Detya tidak memenuhi harapan beliau sehingga suamiku lebih sering bermain dengan anak-anak lelakinya. Dan Detya sendiri karena sering tidak memenuhi harapan ayahnya lebih memilih dekat padaku karena aku selalu bisa menerima apapun pencapaian dia.

Rasanya sedih sekali bahwa kekaguman yang kurasakan pada bapakku dan penghormatan yang bapak berikan padaku tidak terjadi pada Detya dan ayahnya. Ingin aku memperbaiki keadaan ini dengan memberi masukan pada suamiku mengenai bagaimana berhubungan dengan anak perempuan. Maklum saja, suamiku adalah 3 bersaudara yang semuanya cowok dan hubungan beliau dengan ayahnya biasa saja. Suamiku cenderung sebagai anak ibu daripada anak bapak. Dan yang beliau tau tentang ibunya adalah perempuan mandiri yang bisa melakukan apa saja. Sehingga harapan ideal tentang seorang perempuan ya sosok ibunya itu.

Ah..aku sendiri yang sudah hampir tujuh tahun menikah masih belum memenuhi kriteria itu apalagi anak perempuannya yang baru akan berumur 6 tahun. Harapan yang terlalu tinggi untuk dibebankan ke anak seumur itu.

Lebaran kemarin, Bapakku memperhatikan ketidakdekatan Detya dengan ayahnya dengan menanyakan kondisi sehari-hari kepada adikku...tanggapan bapakku sungguh jawanisme sekali..."mungkin weton lahir mereka sama, jadinya seperti itu..ga akan pernah akur". Sebagai bukti adalah ibuku dan adikku pas, mereka punya weton yang sama dan mereka ga pernah akur..tiap hari ada aja yang diperdebatkan dan dua-duanya ga ada yang mau ngalah..tapi mereka berdua saling memikirkan satu sama lain jika tidak sedang bersama.

Lalu aku tanyakan ke suamiku apa wetonnya dan apa weton detya..tapi dia ga tau..dan kuceritakan juga tentang dugaan ayahku itu dan beliau hanya ketawa.. dan tetap ga mau mengakui ketidakdekatannya dengan detya..beliau beralasan karena Detya yang ga mau dekat dengan ayah dan lebih suka ke bunda...jadinya kayak ayam ma telur..siapa yang duluan merasa ga dekat..

Gimana ya biar Detya bisa merasakan gimana enaknya jadi Daddy's Lil Girl..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar