Senin, Desember 01, 2008

Kepanikanku

Tadi malam terjadi hal yang luar biasa dan bikin aku panik setengah mati. Kalau sudah panik gini..sama sekali otakku blank ga bisa mikir mesti gimana.

Dimulai dari tangisan Detya yang tiba-tiba bikin aku kaget. Dia sedang di kamar bersama ayah dan lain-lainnya, sedang aku sendiri asyik baca buku di depan TV. Aku tanya suamiku apa yang terjadi dan ceritanya bikin jantungku bolong. Detya tadi berdiri di atas kursi mancing lipat dan karena berat tubuhnya maka kursi itu terlipat dan Detya terjatuh. Jatuhnya dengan posisi daerah kemaluan menimpa ujung kursi tersebut. Detya masih menangis meraung-raung dengan posisi tengkurap dan bilang bahwa dia kesakitan. Hampir 20 menit kami membujuk Detya untuk mau dilihat bagian mana yang sakit tapi dia sama sekali ga bergerak dan bilang pipisnya sakit dan dia merasa keluar pipisnya.

Sampai kemudian kuperhatikan bahwa dibagian pantat bawah bcelana Detya nambah ada bercak darah segar. Melihat ini jantungku benar-benar bolong.. apa yang terjadi..? Setelah cerita sana-sini untuk memotivasi Detya agar mau dilihat maka akupun menurunkan celananya dan apa yang kulihat membuatku semakin panik. Celana dalam Detya benar-benar belepotan darah..bukan cuma bercak darah. Ketika akhirnya berhasil membersihkan bagian luar kelamin Detya...tidak nampak satupun luka disitu..dan aku menjadi semakin panik lagi...

Akhirnya kami langsung menuju UGD RSIA Harapan Kita dengan anggapan..bukankah disitu pasti ada dokter kandungan ataupun dokter anak yang bisa dimintai pendapatnya. Sampai disana, ternyata hanya ada dokter umum dan mau ga mau ya tetep aja harus diperiksa. Dokter mencoba untuk melihat lokasi tepatnya luka yang menyebabkan darah itu (saat itu kira-kira 1,5 jam setelah kejadian) dan diamerasa menemukan luka tipis itu yang terlihat seperti bekas tekanan kuku di bagian dalam labia mayora. Mengingat daerah situ merupakan daerah yang banyak pembuluh darahnya maka darah yang keluar terlihat cukup banyak. Kami harus menunggu sekitar 15 menit untuk melihat apakah pendarahan masih berlangsung.

Pada saat pemeriksaan itu aku bertugas menenangkan Detya karena dia menangis kesakitan dan hanya mau dipeluk bunda. Jadi aku ga tau dimana luka yang ditunjukkan itu. Tapi melihat reaksi Detya yang semakin meraung dan menjerit kesakitan ketika diperiksa, maka aku bisa membayangkan apa yang dilakukan dokter itu. Hiks..hiks..jadi inget pengalaman melahirkan dan rasa tidak nyaman ketika diperiksa bawah.

Setelah 15 menit berlalu, Dokter kembali memeriksa dan proses tangisan dan teriakan berulang lagi. Dokter bilang bahwa lokasi tadi bukan asal luka dan karena luka masih merembes maka dokter jaga pun harus meminta pendapat dokter bedah yang lebih mengerti hal ini. Singkat kata setelah di rontgen dan hasilnya ada, dokter bedah mengatakan bahwa tidak ada injury pada tulang kemaluannya dan hymen Detya masih utuh karena perlukaan yang terjadi adalah pada jaringan di luar hymen sebelah bawah. Perlukaannya hanya tipis ditandai dengan darah yang hanya merembes sehingga dokter bedah menyarankan agar penyembuhannya alami karena umur Detya yang baru lewat balita. Tapi jika memang orangtua memerlukan, luka itu bisa dijahit dengan si anak dibius total..

What..? Bius total..? Dijahit bagian dalamnya...? Langsung saja pikiran semakin kalut... Aku hanya bisa bengong tanpa bisa berpikir.
Sampai sekarang pun aku tetap tidak bisa berpikir. Dari pagi kulihat darah masih merembes walaupun berkurang jauh dibanding saat pertama, hanya bercak sedikit, tapi tetap membuatku cemas. Suamiku menghendaki untuk mebiarkan alami saja karena dia tidak bisa menerima jika dibius total. Aku sendiri tetap tidak bisa berpikir.

Maka aku menelpon mertuaku untuk minta pendapat dan beliau mendukung untuk alami saja dengan bantuan sirih (seperti halnya perlukaan ketika melahirkan). Proses penjahitan luka dianggap justru memperumit keadaan.

Sama sekali aku belum menelpon orang tuaku karena ibuku yang selalu histeris jika dengar kabar ga enak sedikit saja. Kalo sudah histeris gitu ibuku jadi kepikiran dan akhirnya kadar gulanya naik...

Eniwei..akhirnya kami memutuskan untuk penyembuhan alami saja dan untuk sirih itu..tentu saja jadi prioritas utama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar