Kamis, Januari 22, 2009

Belajar Dari Kedelai

Satu lagi dari milis angkatanku, rasa-rasanya cocok dengan suasana hatiku seminggu ini...

BELAJAR DARI KEDELAI

Di sebuah desa, seorang petani kehilangan keledainya. Capek mencari, tak dia temukan juga keledai itu. Tapi, ketika dia lelah mencari dan duduk di bagian belakang rumah, samar telinganya mendengar ringkik memelas dari keledainya. Suara itu lirih, sedih. Tapi di mana? Dan kenapa suara itu bergema?

Beringsut, petani itu mencari sumber suara. Dan, jauh di belakang rumah, di dalam sumur kering yang tak terpakai, dia temukan keledainya, bergerak gelisah, memekik. Petani tua itu tak tahu harus berbuat apa. Menarik keledai ke atas, tentu dia tidak kuat. Juga bagaimana menariknya? Lama berpikir, akhirnya dia pun pasrah. "Keledai itu telah tua, dan sumur itu terlalu berbahaya jika dibiarkan saja," batinnya.

Ia pun memutuskan untuk mengubur si keledai di sumur itu. Dengan mengajak beberapa tetangga, dia mulai mengayuh sekop dan melemparkan timbunan tanah ke dalam sumur. Ditutupinya telinga, agar tak mendengar pekikan keledai yang seperti kehilangan harapan, dan dia meminta tetangga mempercepat menimbun tanah ke sumur. "Kian cepat, makin lekas tangisan keledai itu hilang," pikirnya.

Dan benarlah. Tak lama, tak terdengar lagi suara keledai dari dalam sumur. Karena menyangka sudah tertimbun, dia dan tetangga melongok ke dalam sumur. Tapi, pemandangan di bawah begitu mengagetkan mereka. Takjub. Terpukau. Ternyata, keledai itu masih segar-bugar, dan sibuk menggoyang-goyangka n badannya. Setiap satu sekop tanah jatuh menimpa tubuhnya, keledai itu akan menggoyangkan punggunya, menggugurkan timbunan tanah itu. Dan setelah tanah turun, keledai akan memijaknya, menjadikan titik tumpu. Menyadari hal itu, kian bersemangat petani dan para tetangga menimbunkan tanah. Keledai terus saja mengibaskan tubuhnya, dan bergerak naik seiring tanah yang kian banyak memenuhi sumur. Dan tak sampai setengah hari, sumur itu pun mulai penuh tanah, dan keledai itu meringkik, meloncati bibir sumur, dan berlari. Pergi.

Kehidupan, akan terus menuangkan tanah dan kotoran kepadamu. Hanya ada satu cara untuk keluar dari kotoran --kesedihan, masalah, cobaan, dan lainnya-- itu, yakni dengan menggerakkan tubuhmu, membuang segala kotoran itu dari pikiran dan hatimu. Dengan cara itulah, kamu dapat menjadikan semua masalah sebagai pijakan, melompati sumur kesengsaraan. Keledai itu memberi contoh terbaik. Dan tak ada salahnya, kita belajar dari keledai.


My note:
Rasanya susah sekali menggerakkan badan dan membuang kotoran itu. Aku tau, berkubang dalam kesedihan sama sekali ga menyelesaikan masalah, tetap berpikir negatif malah membuat tindakanku menjadi ikut negatif, jangan pedulikan sikap dan tindakan orang lain, yang penting mulai dari diri sendiri...Ah..aku tau semua itu...tapi berat sekali untuk menjalankannya..

  • Rasanya nyaman ketika berlarut-larut menyendiri, bersedih-sedih sendiri sehingga melupakan pergaulan,
  • rasanya ketika hanya menyalahkan orang lain atas apa yang salah membuat pikiran lebih ringan,
Tapi semua itu ga menyelesaikan masalah, yang ada malah benar-benar tertimbun tumpukan tanah dan kotoran itu dan malah benar-benar terkubur di dasar sumur.

AYO BERGERAK DAN BUANG KOTORAN-KOTORAN ITU...DAN MANFAATKAN UNTUK KELUAR DARI LUBANG SUMUR....

TETAP SEMANGAT..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar