Rabu, Januari 14, 2009

Menunggu atau Telat

Siapa sih yang suka menunggu?...kalau menunggu sesuatu yang pasti sih..asyik-asyik aja, misalnya nunggu gaji tiap tanggal satu, nunggu uang saku konsinyering, nunggu buku maryamah karpov, nunggu breaking dawn edisi indonesia keluar, bahkan nunggu tagihan kartu kredit atau kartu halo pun terasa menyenangkan karena tanggalnya jelas... jadi ga pakai bingung, sebel, BT, panik, jengkel, akhirnya naik darah..

Aku benar-benar ga tahan menunggu tanpa ada kejelasan. Tapi aku juga ga suka telat. Aku tau tipikal orang indonesia itu pasti jam karet...tapi aku juga ga sanggup untuk ngaret. Aku bisa panik setengah mati jika sudah lebih 5 menit dari jadwal undangan. Rasa panik itu benar-benar mencengkeram sehingga membuatku ga bisa berpikir..dan aku ga suka jika ga bisa berpikir. Rasanya seperti makhluk lemah...yang ga dikaruniai otak..

Balik lagi ke masalah menunggu, ketika tahap menunggu itu telah membuatku naik darah, aku jadi sama sekali ga bisa ngontrol emosiku, rasanya mo marah. Seseorang bilang aku jadi meledak-ledak sehingga menulari orang sekitarnya untuk meledak-ledak juga. Aku jadi ingat ucapan Jamil Azzaini (pas acara beliau di radio) tentang energi negatif yang menular. Seseorang itu menyarankan aku untuk mencari bantuan ke profesional untuk menangani temperamenku itu biar ga menulari orang lain.

Hmmmmm, aku ga menyangka bahwa sebegitu parahkah aku? Rasanya seperti jatuh di lubang yang tanpa dasar (jadi kayak kutipan kata-kata di novel aja)..sedih sekali... kenapa sedih, bukannya takut? Ya buatku terasa menyedihkan karena kita ga tau kapan nih nyampe dasarnya..cuman meluncur turun tanpa tau kapan menghantam tanah... nah kalau jelas dasarnya, memang akan terasa takut karena hantamannya pasti menyakitkan..semakin dalam, semakin menyakitkan. Sampai hari ini aku masih dililit-lilit rasa sedih itu, karena aku masih belum nemu dasarnya.

Apa yang harus kulakukan untuk mendapatkan dasar lubang itu? sehingga aku bisa merubah rasa sedih ini menjadi persiapan menghadapi rasa sakit ketika menghantam dasar.
Apakah memang mencari profesional bisa menjadi dasarku untuk mengolah temperamenku?

Lalu aku merasa bahwa hidup ini terasa ga adil...kenapa aku yang harus berubah..kenapa ga orang lain saja yang menyesuaikan diri sehingga ga membuatku menunggu? atau berusaha datang tepat waktu dan ga ngaret lagi? Kenapa? ...kenapa? ...oh kenapa? (kwakwakwakwa..kayak main drama aja nih)

Tapi sekali lagi, Jamil Azzaini juga pernah bilang, bahwa perubahan itu dimulai dari diri sendiri...jangan minta orang lain untuk berubah. Hmmmm, sepertinya harus kembali lagi ke konsep IKHLAS nih... (BTW ada tulisan tentang ikhlas nih dari JA)

Kenapa untuk IKHLAS terasa berat sekali...kalimat "Kenapa?. ..kenapa? ...oh kenapa?" kok masih mengiang-ngiang di telingaku?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar