Senin, Februari 02, 2009

Dilema Memilih Sekolah Untuk Detya

Minggu lalu jika ada yang nanya aku akan menyekolahkan Detya kemana maka aku 100% yakin akan menjawab bahwa aku ingin menyekolahkan Detya di MI Istiqlal. Walaupun aku belum sepenuhnya yakin akan kualitas MI Istiqlal, karena belum menghasilkan lulusan sama sekali (tahun ini murid tersenior adalah kelas 5). Tapi aku ingin memberi dasar yang cukup untuk pendidikan agama dan akhlak, makanya aku ingin Detya melanjutnya SDnya ke MI Istiqlal. Aku sudah bersiap-siap dengan planning selanjutnya jika harapanku atas kualitas lulusan MI ini ternyata tidak terpenuhi. Tahun ketiga di MI (artinya sudah ada 2 lulusan MI), maka aku bisa mengevaluasi apakah Detya bisa lanjut tetep di MI atau perlu segera nyari sekolah lain. Makanya aku ga nyari pilihan sekolah yang laen untuk Detya.

Aku juga bilang ke suamiku bahwa aku ga punya pilihan lain selain Istiqlal, jadi kalau memang beliau ga berkenan dengan Istiqlal maka harus secepatnya nyari alternatif lain karena sekolah bagus mulai buka pendaftaran Februari ini. OK, beliau ga berkenan karena lingkungan sekolah yang dalam gedung di lantai bawah sehingga sirkulasi udara kurang sehingga terasa ga sehat. Sudah berkali-kali aku ingetin, tapi sampai tadi siang ga ada respon sama sekali. Mungkin terlalu percaya dengan alternatif pilihanku itu.

Taaappppiiiii....minggu ini aku ga bisa 100% yakin lagi. Gara-garanya, jumat minggu lalu aku ikutan acara observasi untuk Detya. Artinya aku bisa mengikuti agenda harian Detya, sehari penuh, dari materi pagi sampe makan siang...(OMG...betapa banyak yang bisa kupelajari sehari itu, khususnya dalam menghadapi anak-anak..aku sama sekali ga ada seujung kukunya para guru Istiqlal itu...). Dan tentu saja aku ngobrol dengan para ibu yang ikutan observasi (ada 4 ibu termasuk aku). Ada seorang ibu yang gaya bicaranya bener-bener persuasif sehingga yang lain mau-ga mau jadi terpengaruh (termasuk aku...hihihihi...). Maka 100%ku tadi jadi agak-agak goyah.

Lalu aku berpikir untuk menghubungi temanku yang anaknya sekolah disitu dan merupakan angkatan pelopor, jadi sekarang anaknya sudah kelas 5. Aku ga tau nomor hp-nya, ato gimana cara menghubunginya..jadi aku hanya memendam keinginan saja dengan harapan minggu ini aku akan berusaha nyari tau. La, ndilalah...siang tadi aku berpapasan di jalan (what a coincident..). Padahal dia udah ga kerja di tempatku lagi. Jadi aku anggap, ini jawaban atas keragu-raguanku.

Dan dari obrolan itu aku jadi semakin ga 100% yakin lagi.. gimana niy..? Dan setelah sharing pengetahuan baruku ini dengan suami, beliau malah lebih bingung lagi... Sebenarnya skenario awal masih bisa dijalankan. Temenku tadi bilang. Dasar MI Istiqlal sudah bagus apalagi setelah ada assessment dari Lembaganya Arif Rahman. Sudah ada perbaikan mendasar sehingga tinggal dipicu sedikit saja Istiqlal akan meledak bagus.

Sebenarnya ada temanku yang lain juga menyekolahkan anaknya di MI Istiqlal. Ada yang udah kelas dua dan ada yang masih kelas satu. Tapi aku yakin bahwa mereka menyekolahkan anaknya di sana karena ingin memberi pondasi agama yang bagus dan kalau di Istiqlal ga perlu dipertanyakan lagi. Masalah kurikulum, mereka berusaha sendiri untuk menambah pembelajaran anak di rumah (dan aku yakin mereka komit luar biasa terhadap anak-anaknya, beda denganku yang masih ingin mendapat dua-duanya..kerja dan keluarga...).

Jadi sekarang ini aku puyeng berat mikirin gimana nyari sekolah buat anak-anak, karena pasti kalau di sekolah unggulan persaingan masuknya ketat sekali dan detya tidak pernah dipersiapkan untuk itu..

Puyeng...deh..

2 komentar:

  1. mbak, boleh tau keraguannya apa? soalnya saya juga berminat dg MI Istiqlal.

    BalasHapus
  2. Salam kenal mbak. Nama saya endang. Saya ada rencana menyekolahkan anak saya di situ. Akhirnya Detya sekolah di mana mbak?

    BalasHapus