Selasa, Mei 12, 2009

Lembaga Pemeringkat

Sudah lama aku agak-agak bingung dengan peringkat yang diberikan oleh Rating Agency seperti Moody, OECD atau Standar & Poor.. Mungkin karena cara berpikirku yang sempit atau emang aslina ga ngerti, aku selalu heran kenapa S&P ngasih peringkat Indonesia itu BB-, atau OECD ngasih peringkat 4 (atau 5 ya...kok aku lupa). Padahal kan Pemerintah ga pernah ngemplang utang..bahkan jaman orde baru dulu Indonesia dibilang Golden Boy...ya itu tadi karena ga pernah telat bayar utangnya.

Kemudian aku baru tau bahwa bukan hanya utang pemerintah saja yang dijadikan bahan penilaian tapi termasuk utang swasta. Selain itu kondisi sosial ekonomi juga diperhitungkan. Nah..petinggi-petinggi di instansiku gencar banget roadshow di berbagai negara untuk menunjukkan bahwa ekonomi kita ini stabil dan bond kita juga bagus pasarnya sehingga layak untuk dapat dinaikkan peringkatnya. Tapi ternyata utang Garuda yang default itu bikin noda hitam rating kita sehingga, sepanjang Garuda ga bisa nyelesein defaultnya..rating Indonesia yang tetep segitu-gitunya...

Pas sidang tahunan ADB kemaren, salah satu seminar yang kami selenggarakan bertujuan untuk mengkritisi lembaga pemeringkat ini. Judul seminarnya "Oversight Rating Agencies: A Developing Country Perspective". BTW, The Jakarta Post menurunkan beritanya tentang seminar ini. Sebenarnya aku ga terlalu mengikuti seminar ini karena di awal seminar, sebagai organizer, tentu saja aku sibuk di belakang layar..sampai pas sesi kedua, ketika pembicara dari Citi Group Singapura, memberikan presentasinya... Benar-benar menarik apa yang dia bicarakan, terutama double standard lembaga pemeringkat ketika memberi peringkat pada negara maju dan negara berkembang. China yang punya cadangan devisa US$2 trilliun akan dengan mudah membayar semua utangnya tapi tetap rating China hanya "A", padahal Lehman Brothers yang akhirnya collapse dapet grade tertinggi "AAA".

Masalah rating ini bener-bener penting buat unitku karena berhubungan dengan biaya pinjaman. Jika rating RI bagus maka biaya akan semakin kecil...dan beban APBN pun untuk bayar ini itu bisa mengecil. Makana, tiap mau launching international bond...seluruh jajaran petinggi di tempatku, pada roadshow kemana-mana, terutama negara-negara penentu kebijakan di OECD, untuk menunjukkan kemajuan perekonomian Indonesia....(padahal dalam hatiku juga mikirin...berapa biaya yang udah dikeluarkan untuk itu ya..).

Selain untuk memperkecil yield bond, rating yang baik juga akan mengurangi insurance premium yang harus dibayar jika kita pinjam uang untuk beli barang dari luar negeri (yang kebayakan untuk kebutuhan militer..).

Balik lagi ke masalah rating tadi...walau pembicara dari S&P ngasih penjelasan bahwa pemeringkatan ini juga mempertimbangkan bagaimana kemampuan untuk mengelola utang biar tetap sustain...tapi tetep aja kan...bukti sekarang menunjukkan bahwa banyak lembaga keuangan yang dikasih rating triple A ternyata collapse juga....

Padahal saban dengerin Menteri Keuangan ngomong di banyak forum, lokal maupun internasional, selalu menonjolkan ekonomi kita yang stabil dan reformasi kebijakan dimana-mana untuk menunjang iklim investasi. Dan dengan kondisi ekonomi yang parah sekarang ini, negara-negara yang masih mampu bertumbuh positif..itu merupakan outlier sehingga semestinya hal-hal kayak gini juga dipertimbangkan...

Eniwei, Biggest Boss-ku juga nyampein pandangan di seminar itu bahwa mestinya ada peringkat juga bagi rating agencies itu, sehingga bisa diliat...peringkat yang dikeluarkan oleh rating agencies mana yang layak dipercaya....(halah..kok malah ruwet siy...)..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar