Jumat, Mei 29, 2009

Robinson Crusoe

Aku sedang ngecek daftar buku baru di inibuku.com yang mereview tentang buku baru Stephanie Meyer, The Host, ketika aku melihat ada link menuju budget book alias buku diskonan. Wedew...aku kan paling ga tahan kalau lihat ada diskonan, terutama diskonan buku. FYI, mulai tanggal 25 - 31 Mei ini, Gramedia Grand Indonesia kembali memberikan diskon 30% all item (kecuali elektronik) dalam rangka pembukaan Grand Indonesia... Silahkan..silahkan...bagi penggemar diskonan..eh maaf..penggemar buku, silahkan memuaskan belanja buku disana...(gosh...aku ngiler banget ama buku Arok Dedes dari Pramoedya....ada yang mau beramal buatku?).

Balik lagi ke link budget book di inibuku tadi. Ada beberapa judul yang merangsangku untuk memesan buku. Pertama karena diskonnya lebih dari 50%, kedua karena pengarangnya sepertinya bagus (such as Seno Gumira Ajidarma), ketiga karena ada satu judul cerita klasik yang membuatku tertarik untuk membaca,...Robinson Crusoe..

Aku tau judul ini dulu sekali ketika SD. Bapakku membelikan kami paket belajar bahasa inggris sekoper penuh yang salah satu isinya adalah kumpulan dongeng-dongeng klasik dalam bentuk komik seperti Mark Twain, Frankenstain, dan Robinson Crusoe ini..(seharusnya ada 10 judul..tapi yang melekat di otakku kok cuma 3 ini ya..). Waktu itu bentuk ceritanya adalah cerita bergambar dalam bahasa inggris, sehingga tentu saja sangat menarik. Dengan bahasa yang ringan dan gambar yang memvisualkan cerita, membuatku terkesan dengan cerita ini.

Kesan utama yang kutangkap waktu kecil dulu tentang Robinson Crusoe adalah perjuangan hidup setelah terdampar dari pelayaran ke tanah asing. Dia bisa beradaptasi dengan sempurna, dengan hidup sendiri dia bisa swasembada misalnya bikin tempat tinggal sendiri, bercocok tanam sehingga makan dari kebun sendiri. Jadi waktu itu aku berangan-angan untuk bisa sesempurna itu ketika hidup sendiri.

Maka ketika aku melihat ada judul itu di budget book maka aku penasaran, apakah ketika membaca kisah klasik ini pemahaman masa kecilku terhadap komik itu dulu apakah sama dengan cerita narasi yang asli? Sebenarnya aku agak ragu karena pengalamanku membaca buku klasik tidaklah menyenangkan.... Namanya juga buku jaman tahun 1700, tentu gaya bahasa dan lingkungan kala itu sangat jauh berbeda dengan saat ini. Aku kawatir ga bisa membawa diriku pada kondisi saat itu sehingga membaca narasi cerita, agak-agak bertentangan dengan logikaku. Seperti ketika aku membaca Lady Chatterley's Lover, review orang-orang tentang buku tahun 1928 ini cukup bagus, bahkan perancis juga sudah memfilmkannya. Tapi ternyata aku ga gitu memahami gaya bahasanya (atau terjemahannya) dan aku juga ga bisa masuk ke setting ceritanya sehingga aku hanya sanggup membaca separo buku dan berhenti begitu saja..

Belum lagi pendapat temanku, sesama penggila novel, dia sengaja membuka satu halaman acak di tengah dan membacanya keras-keras. Betapa bagian yang dibaca sungguh menonjolkan keakuan saja sehingga membuatku agak goyah untuk terus membacanya. Di bagian kata pengantar, baik dari penerbit asli maupun penerbit Indonesia, juga meresensi masalah gaya bahasa pengarang yang seadanya dan sering salah tulis, jadi membuatku tambah gentar saja. Tapi untungnya aku tetap memulai membaca buku ini karena rasa penasaran masa kecil itu lebih besar daripada kegentaran untuk berhenti di tengah buku. Lagipula, harga bukunya cukup murah sehingga jika ternyata aku ga suka toh...ga mahal-mahal amat (bukan seperti lima buku gajah mada yang nyesel banget kubeli semuanya...).

Nyatanya, setelah membaca halaman-halaman awal, aku bisa memahami kenapa gaya aku sangat menonjol. Karena buku ini bergaya sejenis jurnal atau buku harian sehingga tentu saja semua dilihat dari sudut pandang aku. Yaaa...seperti aku menulis blogku ini, tentu saja semuanya serba tentang aku dan lingkunganku dengan sudut pandangku sendiri...(dan ternyata ada juga yang baca...). Atau seperti jurnalnya Lea, yang menceritakan semua hal dengan sudut pandangnya yang cerdas dengan gaya cerita yang asyik, melebar kemana-mana tapi tetap berhubungan dan kembali ke fokus masalah..(gosh...aku ingin sekali bisa bercerita secerdas itu...). Aku ga pernah memperdulikan gaya bahasa gaul yang menurut sebagian orang bikin pusing, karena aku membaca bukan sebagai tulisan tapi sebagai lambang... Misalnya nama tokoh, aku ga pernah menghapal nama-nama tokoh dalam novel apapun, tapi kuanggap nama-nama itu sebagai lambang. jadi aku tidak kesulitan, ketika membaca Karenina-nya Leo Tolstoi yang nama-nama tokohnya super sulit dieja. Jadi ketika Lea menuliskan akyu, kamyu, ampyuuuuun atau kata-kata lain dengan banyak pengulangan huruf, tetap saja aku membacanya sebagai lambang...so...ga masalah...

Balik lagi ke Robinson Crusoe....swear deh...bukunya bagus..aku baru nyampe halaman 57 dari 385 halaman buku, tapi rasanya aku ga bisa berhenti dan terus saja membayangkan semua kejadian yang dituliskan.

Cerita diawali dengan penuturan Robinson Crusoe tentang latar belakang dia dan keluarganya dan keinginannya untuk pergi melaut. Bagaimana ayahnya berusaha melarang dia untuk melaut dan tetap saja berada dalam kehidupan kalangan menengah. Menurut Sang ayah, kehidupan di tengah-tengah inilah yang paling baik, paling sesuai dengan kebahagiaan manusia. Tidak menghadapi penderitaan dan kerja keras tanpa hasil yang dilakukan kalangan bawah dan tidak dipermalukan oleh kebanggaan, kemewahan, ambisi dan iri hati manusia kelas atas. Penjelasan tentang konsep kelas menengah ini cukup menarik perhatianku karena kupikir memang benar adanya.

Tapi penjelasan Sang ayah itu tidak menyurutkan keinginan Robinson untuk melaut. Maka tanpa restu orang tua, akhirnya dia bisa berangkat memulai pelayarannya yang pertama. Setelah perjuangan di laut menghadapi badai yang membuat dia memikirkan kembali nasehat ayahnya, Robinson kembali lagi pada keputusannya bahwa mengarungi dunia dan mengetahui dunia luas adalah lebih membahagiakan daripada kehidupan kelas menengah. Kemudian dia mengalami kapal karam pertama kali dan sempat menjadi budak orang lain walaupun akhirnya dia bisa melarikan diri dan selanjutnya memulai hidup di Brazil sebagai pekebun tembakau. Bertemu dengan orang-orang yang baik dan berhati lurus, Robinson akhirnya kembali melaut setelah 4 tahun menetap di Brazil dan cukup sukses.

Saat ini aku tiba di bagian Robinson terdampar lagi di suatu daratan antah berantah setelah kapalnya karam..dan kupikir cerita selanjutnya akan semakin menarik.

Intinya...tidak selamanya novel klasik membosankan...yang utama adalah bagaimana penulis menyampaikan ceritanya dengan menarik sehingga pembaca betah membacanya sampai tuntas. Seperti Leo Tolstoi yang piawai meramu cerita, nama-nama yang susah dieja dan setting cerita jaman dulu kala yang sulit dibayangkan menjadi tidak masalah lagi....sekali lagi..kekuatan cerita yang utama....

Bagi yang belum membaca Robinson Crusoe ini, aku rekomendasikan buat di baca, sambil membayangkan Cast Away-nya Tom Hanks...(BTW..aku belum pernah nonton Cast Away...tapi bisa dibayangkan situasinya serupa lah...)

3 komentar:

  1. waaaaaaaaaah... suka buku juga yaaah.. salam kenal...

    BalasHapus
  2. aku g komen, cuma mau bilang selamatttt pagiii,he...
    btw bnrn yah di gramed ada diskon??? d sby kira2 diskon juga ndak yahh. belanja ahh..mau ikut??

    BalasHapus
  3. ah! udah lama banget saya ga beli buku :(

    lagimiskinmiskinnya

    kalo robinson crusoe udah pernah denger dari dlu tapi blum ada juga keinginan buat baca hehe

    BalasHapus