Jumat, Juli 03, 2009

Outbound

Aku sudah dengar istilah ini cukup lama, dan dari denger cerita-cerita, aku bisa membayangkan, kegiatannya seperti apa. Tapi baru di diklat ini saja, aku mengalaminya sendiri.

Semua permainan dirancang untuk mewakili kondisi di tempat kerja, misalnya bagaimana mengatasi masalah dengan mengutamakan koordinasi, kerjasama tim, pembagian tugas dan sebagainya. Mengapa dalam bentuk permainan? Ya tentu saja agar menyenangkan sehingga membuat yang melakukan menjadi bersemangat.

Tiap kali permainan usai, kita harus mendiskusikan poin apa yang bisa dipelajari untuk bisa diterapkan di tempat kerja. Tentu saja harapannya, peserta dapat mengambil poin-poin positifnya…

Lalu kenapa aku kok selalu saja memikirkan poin ga enaknya ya? Misalnya waktu melakukan waterbomb, tim yang terdiri dari 1 manajer, 6 supervisi dan 6 operator diminta mengangkat air di ember dengan menggunakan karet ban yang ditarik oleh 6 operator. Pada akhirnya agar ember bisa diangkat hanya 2 operator yang kerja keras dan 1 operator yang menarik ember agar tumpah ke ember besar….3 operator lainnya ga berperan apa-apa, masing-masing supervisor mengarahkan masing-masing operator dan manajer memberikan instruksi utama. Teman-teman yang lain menyampaikan kesan-kesan positif misalnya, kerjasama, kepercayaan (karena mata operator ditutup dan dia sepenuhnya mengandalkan instruksi supervisi), bimbingan bagi newcomer (ketika mata ditutup, dianggap belum tau apa-apa sehingga harus dibimbing), empati (karena operator yang ga ngapa-ngapain ga egois ikut narik juga) dan nilai positif lainnya. Sedangkan tanggapanku? Aku menyamakan dengan kasusku ketika mengerjakan ekskulku kemarin…dari sebanyak itu orang yang ada di tim..pada akhirnya, hanya 3 orang saja yang kerja lebih keras untuk mencapai tujuan. Sama denganku, dari 20 orang yang masuk namanya di timku, hanya 3 orang saja yang jungkir balik nyiapin hampir semuanya. Untung saja ada penanggung jawab untuk setiap detil acara sehingga kerjaan jadi lebih ringan. Tapi tetep….penanggungjawab itu bukan orang-orang dalam timku….jadi bagiku… kerjasama itu cuma ada di buku petunjuk…kenyataannya…yang ada cuma kerja sendiri…!!
Ngomongin kerjasama lagi….aku sudah agak lama berhati-hati dalam bekerjasama sebagi tim atau rekan kerja di hirarki kantor. Awal dulu, aku berpikir bahwa dalam suatu tim, mestinya kita melepaskan atribut hirarki…artinya kalo di kantor kita selevel maka ga mungkin saling mengarahkan atau menyuruh…karena “siapa lo nyuruh-nyuruh gue…bukan bos ini…” Tapi kalau di tim, kita benar-benar satu tim yang bisa saling memberi petunjuk dan siapa yang sedang idle bisa membantu teman lain yang sibuk. Kenyataannya walau di tim, atribut hirarki itu masih kuat menempel sehingga ga terima ketika teman yang sibuk itu minta dibantu….masih tetep bunyinya “siapa lo nyuruh-nyuruh gue…bukan bos ini…”. Maka akhirnya aku sangat berhati-hati masalah beginian…tetep aja akhirnya kerja sendiri..bukan kerjasama.

Lalu senin kemarin aku juga sempat berurai air mata gara-gara kerjasama ini (I blamed it on the PMS….tsaaah…PMS bikin aku jadi sensi banget….). Pagi-pagi saat sibuk mendengarkan arahan program selama diklat ini, temanku sms menyatakan diri ga mau nangani kerjaanku selama belum ada surat tugas resmi….dasar akunya sedang PMS…..rasanya langsung sedih banget kenapa kok temanku ini perhitungan banget….mana yang dibilang kerjasama. Saat itu juga airmataku sudah hampir menetes, hanya karena malu saja aku tahan agar ga netes. Aku mencoba menjawab sms itu senetral mungkin, sambil tetap meminta bantuannya untuk tugas-tugas yang super urgent (ga banyak siy…Cuma satu kok), sambil terus menghubungi beberapa orang lainnya yang menangani masalah penyiapan surat tugas dan meminta staf-stafku untuk mandiri selama aku ga ada.

Lalu pas jam istirahat, aku baca lagi balasan sms dari temanku itu dan akhirnya tanggul airmataku jebol…. Sebenarnya, ketika pmsku udah menghilang..aku baca-baca lagi sms itu….ternyata ga sesensi saat baca pertama…dia ga ada maksud apa-apa kecuali mengingatkan seharusnya aku mengurus sendiri masalah surat tugas ini dan tidak menyerahkan kepada orang lain….aku benar-benar menyalahkan PMS atas jebolnya tanggul airmataku itu…..(untung saja suamiku mau jadi pendengar yang baik selama tanggul itu jebol…walaupun cerita sambil terisak-isak ga jelas).

Sudah deh masalah kerjasama ini…aku tetep lebih mengandalkan kerja sendiri…kerjasama cuma teori… Hmmmm mungkin memang ada kerja sama..maksudnya kerja sendiri-sendiri dulu lalu dikumpulkan sama-sama (maksa ya...?)

Satu lagi pas acara outbound…waktu acara trust fall…sumpah deh…aku memahami kenapa Lea pernah cerita dia ga pernah bisa melakukan trust fall ini…karena aku juga ga bisa!!....rasanya kayak menggantung leher sendiri saja ketika mau menjatuhkan diri tanpa tau apa yang akan terjadi di belakang punggung ini….bagaimana bisa aku menjatuhkan diri tanpa menyiapkan pengaman sendiri lebih dahulu. Mungkiiiin…orang-orang di bawah sana memang dapat dipercaya dan pasti akan menerima kejatuhanku….tapi aku tidak dapat melakukannya tanpa persiapan pengamanan sendiri. …. Atau memang aku yang ga punya nyali?...aku memang bukan risk taker…

Bagiku….yang narrow minded ini (aku menekankan ini karena mungkin bagi orang lain ga seperti itu)….outbound ini cuma permainan saja…maunya untuk bisa implementasi di dunia nyata….tapi tetep saja susah….

3 komentar:

  1. luar biasa setuju! pada akhirnya aku berkesimpulan yg namanya outbond itu ya cuma buat have fun, n sukur2 bisa bikin kita lbh nge-bonding (bersatu)... minimal selama outbond berlangsung, hehehe...

    kompak or enggaknya team work bener2 tgantung karakter masing2, & kemampuan atasan mempersatukan anak buahnya

    BalasHapus
  2. hahahahah emang... umumnya outbond cuma buat have fun ajah... itu juga kalo yang ikutan niat... nah kalo ngga? males2an main apa apanya...

    nambah ga akan memperkuat bonding apa apa :D

    yang penting seneng ajah dulu deh :D

    BalasHapus
  3. HAHA ...
    Outbond juga akhirnya ...

    asik kan bu ?

    BalasHapus